Anda di halaman 1dari 10

GANGGUAN KULIT

1. KULIT KERING
A. Definisi
Kulit Kering (Xerosis, Asteatosis) adalah suatu keadaan dimana kulit kehilangan
kelembabannya sehingga tampak pecah-pecah. Kulit kering sering terjadi, terutama pada
usia diatas setengah baya.
B. Penyebab
Faktor keturunan
Kadang kulit kering yang parah (iktlosis) merupakan akibat dar penyakit
keturunan, seperti iktiosis vulgaris atau hiperkeratosis epidermo/itik.
Faktor metabolisme
Kulit kering lebih banyak ditemukan pada tiroid yang kurang aktif atau
penurunan berat badan yang berlebihan.
Penuaan
Penambahan umur menyebabkan berkurangnya pelumasan kulit secara
alami.
Cuaca dingin dengan tingkat kelembaban yang rendah
Penyejuk ruangan, pemanas ruangan atau duduk dekat perapian atau kipas
pemanas
Terlalu sering mandi atau berenang (terutamajika airnya terlalu banyak
mengandung k/or/n)
Kontak dengan sabun, deterjen atau bahan pelarut
Gesekan yang menyebabkan iritasi atau kulit pecah-pecah.
Iktiosis juga bisa merupakan akibat dan kelainan yang tidak diturunkan, yaitu :
o
o
o
o
o

Lepra
Tiroid yang kurang aktif
Limfoma
AIDS
Sarkoidos/s.

C. GEJALA
Kulit kering bisa mengalami iritasi dan sering menimbulkan gatal, kadang kulit
terkelupas dalam serpihan-serpihan kecli dan sisik-sisik kecil. Pembentukan sisik paling
serang terjadi pada tungkai bawah. Pendenta iktiosis vulgaris kulitnya bersisik tanpa
disertai lepuhan. Penderita hiperkeratosis epidermolitik memiliki lepuhan yang tebal dan
berbau busuk, dengan kutil yang bersisik dan terasa nyeri. Menggosok atau menggaruk
kulit yang kering bisa menyebabkan infeksl dan pembentukan jaringan parut. Kulit kering
juga bisa menyebabkan dermatitis, dimana kulit tampak merah dan gatal.

2. ACNE
A. Definisi

Acne adalah penyakit kulit yang terjadi akibat peradangan menahun folikel pilosebasea
yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pustul, nodus, dan kista pada tempat
predileksinya. (Sjarif M. Wasiaatmadja).
Acne merupakan gangguan dari suatu kelenjar yang dinamakan kelenjar talg yang
terutama terdapat di kulit muka dan juga punggung dan dada (Drs.Kirana Admaja, dkk)
B. Etiologi
Belum diketahui dengan jelas. Diduga karena sumbatan kelenjar minyak oleh keratin
dan peningkatan sekresi sebum yang dirangsang hormon androgen pada kulit, bila terkena
infeksi bisa menjadi bisul dan bernanah. Acne tampaknya berasal dari interaksi faktor
genetik, hormonal, dan bakterial. Pada sebagian kasus terdapat riwayat acne dalam
keluarga. Acne juga disebabkan oleh kosmestik dan pelembab yang bahan dasarnya dari
minyak dan menimbulakan komedo. Faktor-faktor mekanik, seperti mengusap,
menggesek, tekanan, dan meregangkan kulit yang kaya akan kelenjar sebasea dapat
memperburuk acne yang sudah ada. Agen komedogenik seperti petrolatum dan komestik
yang mengandung minyak juga dapat meransang acne.
C. Manifestasi klinis
Bentuk lesi akne vulgaris adalah polimorf. Lesi yang khas adalah komedo. Bila terjadi
peradangan akan terbentuk papula, pustula, nodul, dan kista. Dan bila sembuh lesi dapat
meninggalkan eritema dan hiperpigmentasi pascainflamasi, bahkan dapat terbentuk
sikatrik seperti cetakan es yang atrofik dan keloid. Lesi terutama timbul di daerah yang
banyak mempunyai kelenjar palit, seperti muka, punggung, dan dada.
3. KULIT KEMERAHAN
4. DEMATITIS KONTAK
A. Definisi
Dermatitis kontak iritan adalah efek sitotosik lokal langsung dari bahan iritan pada selsel epidermis, dengan respon peradangan pada dermis. Daerah yang paling sering terkena
adalah tangan dan pada individu atopi menderita lebih berat. Secara definisi bahan iritan
kulit adalah bahan yang menyebabkan kerusakan secara langsung pada kulit tanpa
diketahui oleh sensitisasi. Mekanisme dari dermatis kontak iritan hanya sedikit diketahui,
tapi sudah jelas terjadi kerusakan pada membran lipid keratisonit.
Dermatitis kontak iritan merupakan reaksi peradangan setempat yang non-imunologik
pada kulit sesudah mendapat paparan iritan baik satu kali maupun berulang. Paparan
sekali (tidak disengaja atau kecelakaan) biasanya dari iritan asam, basa dan sebagainya.
Sedangkan paparan berulang yang merusak kulit secara kumulatif misalnya iritan yang
lebih kecil dosisnya.
B. Etiologi
Penyebab timbulnya dermatitis kontak iritan cukup rumit dan biasanya melibatkan
gabungan berbagai iritan. Iritan adalah substansi yang akan menginduksi dermatitis pada
setiap orang jika terpapar pada kulit dalam konsentrasi, waktu dan frekuensi yang cukup.
Iritasi pada kulit merupakan sebab terbanyak dari dermatitis kontak. Beberapa contoh iritan
akibat kerja yang lazim dijumpai adalah sebagai berikut :
a. Sabun, detergen, dan pembersih lainnya.
b. Bahan-bahan industri, seperti petroleum, klorinat hidrokarbon, etil, eter, dan lain-lain.

Faktor predisposisinya mencakup keadaan panas dan dingin yang ekstrim, kontak
yang frekuen dengan sabun serta air, dan penyakit kulit yang sudah ada sebelumnya.
Penggunaan berulang dari sabun basa kuat dan produk industri dapat merusak struktur
lunak pada sel. Asam dapat larut pada air dan menyebabkan dehidrasi pada kulit. Ketika
kulit telah mengalami gangguan, pajanan dari bahan iritan lemah pun dapat menyebabkan
inflamasi pada kulit. Besar intensitas dari inflamasi bergantung pada konsentrasi dari iritan
dan lamanya terpajan dari bahan iritan tersebut. Iritan yang lembut dapat menyebabkan
kulit kering, fissura, dan eritema. A mild eczematous reaction dapat timbul pada eksposure
yang berkelanjutan. Pajanan yang berkelanjutan pada daerah seperti tangan, area diaper,
atau pada sekeliling kulit yang terkadang menyebabkan eczematous inflamatour. Zat kimia
kuat dapat menyebabkan reaksi yang berat.
Masing-masing individu memiliki predisposisi yang berbeda terhadap berbagai iritan,
tetapi jumlah yang rendah dari iritan menurunkan dan secara bertahap mencegah
kecenderungan untuk menginduksi dermatitis. Fungsi pertahanan dari kulit akan rusak baik
dengan peningkatan hidrasi dari stratum korneum (oklusi, suhu dan kelembaban tinggi,
bilasan air yang sering dan lama) dan penurunan hidrasi (suhu dan kelembaban rendah).
Tidak semua pekerja di area yang sama akan terkena. Siapa yang terkena tergantung
pada predisposisi individu (riwayat atopi misalnya), personal higiene dan luas dari paparan.
Iritan biasanya mengenai tangan atau lengan.
C. Patofisiologis
Pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang
disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan merusak
lapisan tanduk, dalam beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan iritan tersebut
akan berdifusi melalui membran untuk merusak lisosom, mitokondria dan komponenkomponen inti sel. Dengan rusaknya membran lipid keratinosit maka fosfolipase akan
diaktifkan dan membebaskan asam arakidonik akan membebaskan prostaglandin dan
leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan transudasi dari faktor
sirkulasi dari komplemen dan sistem kinin. Juga akan menarik neutrofil dan limfosit serta
mengaktifkan sel mast yang akan membebaskan histamin, prostaglandin dan leukotrin.
PAF akan mengaktivasi platelets yang akan menyebabkan perubahan vaskuler. Diacil
gliserida akan merangsang ekspresi gen dan sintesis protein. Pada dermatitis kontak iritan
terjadi kerusakan keratinosit dan keluarnya mediator- mediator. Sehingga perbedaan
mekanismenya dengan dermatis kontak alergik sangat tipis yaitu dermatitis. Kontak iritan
tidak melalui fase sensitisasi.
Ada dua jenis bahan iritan yaitu : iritan kuat dan iritan lemah. Iritan kuat akan
menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang, sedang
iritan lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak berulangulang. Faktor kontribusi, misalnya kelembaban udara, tekanan, gesekan dan oklusi,
mempunyai andil pada terjadinya kerusakan tersebut. (Hetharia, Rospa. Halaman 95-96)
D. Manifestasi Klinis
Dua jenis bahan iritan, maka dermatitis kontak iritan juga ada dua macam yaitu
dermatitis kontak iritan akut dan dermatitis kontak iritan kronis. Dermatititis kontak iritan

akut. Penyebabnya iritan kuat, biasanya karena kecelakaan. Kulit terasa pedih atau panas,
eritema, vesikel, atau bula. Luas kelainan umumnya sebatas daerah yang terkena,
berbatas tegas.
Pada umumnya kelainan kulit muncul segera, tetapi ada segera, tetapi ada sejumlah
bahan kimia yang menimbulkan reaksi akut lambat misalnya podofilin, antralin, asam
fluorohidrogenat, sehingga dermatitis kontak iritan akut lambat. Kelainan kulit baru terlihat
setelah 12-24 jam atau lebih. Contohnya ialah dermatitis yang disebabkan oleh bulu
serangga yang terbang pada malam hari (dermatitis venenata); penderita baru merasa
pedih setelah esok harinya, pada awalnya terlihat eritema dan sorenya sudah menjadi
vesikel atau bahkan nekrosis.
Dermatitis kontak iritan kronis atau dermatitis iritan kumulatif, disebabkan oleh kontak
dengan iritan lembah yang berulang-ulang (oleh faktor fisik, misalnya gesekan, trauma
mikro, kelembaban rendah, panas atau dingin; juga bahan contohnya detergen, sabun,
pelarut, tanah, bahkan juga air). Dermatitis kontak iritan kronis mungkin terjadi oleh karena
kerjasama berbagai faktor. Bisa jadi suatu bahan secara sendiri tidak cukup kuat
menyebabkan dermatitis iritan, tetapi bila bergabung dengan faktor lain baru mampu.
Kelainan baru nyata setelah berhari-hari, berminggu atau bulan, bahkan bisa bertahuntahun kemudian. Sehingga waktu dan rentetan kontak merupakan faktor paling penting.
Dermatitis iritan kumulatif ini merupakan dermatitis kontak iritan yang paling sering
ditemukan.
Gejala klasik berupa kulit kering, eritema, skuama, lambat laun kulit tebal
(hiperkeratosis) dan likenifikasi, batas kelainan tidak tegas. Bila kontak terus berlangsung
akhirnya kulit dapat retak seperti luka iris (fisur), misalnya pada kulit tumit tukang cuci yang
mengalami kontak terus menerus dengan deterjen. Ada kalanya kelainan hanya berupa
kulit kering atau skuama tanpa eritema, sehingga diabaikan oleh penderita. Setelah
kelainan dirasakan mengganggu, baru mendapat perhatian. Banyak pekerjaan yang
beresiko tinggi yang memungkinkan terjadinya dermatitis kontak iritan kumulatif, misalnya :
mencuci, memasak, membersihkan lantai, kerja bangunan, kerja di bengkel dan berkebun.

5. ABRASI
GANGGUAN KUKU KAKI
1. CALLUS
Kalus merupakan respon fisiologis dari tekanan atau gesekan kronis dan berulang
pada kulit, sehingga terjadi hiperkeratinisasi yang mengakibatkan penebalan stratum korneum.
Kalus dapat terjadi pada kaki, tangan, maupun bagian lain pada kulit. Kalus pada umumnya
asimptomatik, namun akan menimbulkan keluhan nyeri apabila sangat tebal atau terjadi
fissura. Adanya fissura dapat menjadi tempat masuknya kuman, sehingga terjadi infeksi dan

ulserasi. Hal ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, terganggunya aktivitas pekerjaan serta
gangguan kosmestik.
Kulit mempunyai kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan,
trauma mekanis, dan pekerjaan. Kemampuan ini berbeda pada setiap individu tergantung pada
waktu dan jenis trauma. Tekanan atau gesekan berulang dengan intensitas yang rendah
mampu menimbulkan hiperkeratosis dan akantosis tergantung pada tebalnya epidermis.
Hiperkeratosis terjadi akibat meningkatnya kohesi antar sel-sel di lapisan korneum dan
berkurangnya kemampuan untuk melepaskan lapisan tersebut, sehingga menyebabkan kalus.
Kalus menyebabkan kulit terasa kasar dan menebal, biasanya tidak nyeri ataupun terasa
sedikit nyeri dan sensasi seperti terbakar. Kadang-kadang kelainan ini dapat menghilang
dengan sendirinya apabila faktor tekanannya dihilangkan. Tetapi apabila kalus terus terbentuk,
tanpa ada usaha untuk mengurangi dengan menggosoknya, kalus dapat menjadi sangat tebal,
keras dan dapat terjadi fissura. Adanya fissura dapat menjadi tempat masuknya kuman
sehingga terjadi infeksi dan ulserasi yang mengakibatkan rasa nyeri dan terganggunya
aktivitas
2.
3.
4.
5.

CORNS
PLANTAR WARTS
ATHLETES FOOT (TINEA PEDIS)
INGROWN NAILS
Ingrown nail atau onychoryptosis (berasal dari bahasa Yunani onyx berarti kuku dan
krypstos berarti tersembunyi) adalah kelainan kuku yang sering dijumpai pada remaja dan
dewasa muda usia decade kedua atau ketiga. Ingrown nail terjadi akibat kompresi lipatan
kuku lateral pada lempengan kuku. Kuku yang tersering terkena yaitu ibu jari kaki.
Morbiditas sangat signifikan karena dapat mempengaruhi aktivitas olahraga, sekolah dan
bekerja. Gambaran ingrown nail atipikal jarang ditemukan sehingga pengobatan yang tepat
masih menjadi suatu tantangan. Banyak faktor yang mempengaruhi angka kejadian dan
perburukan ingrown nail. Diagnosis dilakukan dengan melihat gambaran klinis ingrown
nail. Perkembangan ingrown nail terbagi menjadi 3 stadium yaitu stadium 1 ditandai
dengan eritema, edema ringan dan nyeri pada lipatan kuku lateral. Derajat 2 ditemukan
krusta dan cairan purulen banyak pada lipatan kuku dan jembatan lempeng kuku.
Sedangkan derajat 3, infeksi kronik dengan jaringan granulasi menutupi seluruh lempeng
kuku.

6. FOOT ODOR
GANGGUAN KEPALA
1. DANDRUFF
A. Definisi
Ketombe adalah kelainan kulit kepala, dimana terjadi perubahan pada sel stratum
korneum epidermis dengan ditemukannya hiperproliferasi, lipid interseluler dan intraseluler
yang berlebihan, serta parakeratosis yang menimbulkan skuama halus, kering, berlapislapis, sering mengelupas sendiri, serta rasa gatal.2,3,4 (Ervianti, 2006).
Ketombe biasanya dianggap sebagai bentuk ringan dari dermatitis seboroika, ditandai
dengan skuama yang berwarna putih kekuningan. Brahmono mendefinisikan ketombe
sebagai kelainan kulit kepala beramut (scalp) yang ditandai dengan skuama abu-abu
keperakan berjumlah banyak, kadang disertai rasa gatal, walaupun tidak ada atau hanya
sedikit disertai tanda radang.(Brahmono, 2002) Kulit kepala berambut tempat skuama

tersebut menjadi mudah rontok, berbau, dan rasa gatal yang sangat hebat pada kulit
kepala. (Adhi Djuanda, 2002)
B. Etiologi
Etiologi dari dermatitis seboroik kulit kepala atau ketombe ini belum diketahui secara
pasti, sekalipun diperlihatkan adanya jamur lipofilik ( misalnya, Malassezia furfur) pada
preparat anti fungal. Tumpukan parakeratosis yang bercampur dengan sel-sel radang akut
berkumpul di sekitar folikel rambut dengan infiltrat sel-sel neutrofil dan limfosit di seluruh
daerah perivaskular superfisial. (Malassezia sp. merupakan flora normal kulit dan
berjumlah 46% dari populasi, sedangkan pada penderita ketombe jumlah tersebut
meningkat menjadi 74%. (KA Arndt, 2002). Pityrosporum ovale, termasuk golongan jamur,
sebenarnya adalah flora normal di rambut. Akan tetapi berbagai keadaan seperti suhu,
kelembaban, kadar minyak yang tinggi, dan penurunan imunitas (daya tahan) tubuh dapat
memicu pertumbuhan berlebihan dari jamur ini. Sebenarnya ketombe disebabkan oleh
faktor-faktor tertentu yang meningkatkan minyak kulit dan meningkatkan flora normal
dalam kulit, seperti :
1. Ras tertentu memiliki sifat kulit berminyak
2. Genetik
3. Diet makanan berlemak tinggi
4. Iklim dan cuaca yang merangsang kegiatan kelenjar minyak kulit
5. Stres psikis yang menyebabkan peningkatan aktivitas kelenjar
6. Umur tertentu yang menyebabkan kelenjar minyak berproduksi maksimal
7. Obat-obatan tertentu menyebabkan stimulasi kelenjar minyak
8. Higiene (kesehatan/kebersihan) kulit buruk
9. Penyakit sistemik kronik
10. Obat-obatan penurun daya tahan kulit dan tubuh
C. Manifestasi Klinis
Gejala ketombe yang sering timbul adalah
1. Rasa gatal di kulit kepala pada siang hari, terutama bila panas dan berkeringat.
2. Terjadi pelepasan lapisan keratin epidermal pada saat digaruk yang kemudian
menempel di batang rambut atau jatuh ke baju.
3. Timbul perlukaan pada kulit yang menyebabkan timbulnya infeksi sekunder oleh
mikroba lain.
4. Garukan karena rasa gatal juga dapat menyebabkan rontoknya rambut terutama di
daerah verteks (puncak kepala).

2. TICKS
3. PEDICULOSIS

A. Definisi
Infestasi Kutu (Pedikulosis) adalah serbuan kutu yang menyebabkan rasa gatal hebat
dan bisa menyerang hampir setlap kulit tubuh. Tiga tipe kutu yang umum di Amerika
Serikat yaitu: (i) kutu kepala (pediculosis capitis), (ii) kutu badan (pediculosis corporis), dan
(iii) kutu pubis (pediculosis pubis). Setiap jenis kutu ditemukan pada area tubuhnya sendiri,
tetapi kutu pubis dapat pula ditemukan pada area-area berambut lainnya, seperti ketiak
dan bulu mata.
B. Etiologi
Kutu hampir tak dapat dilihat, merupakan serangga tak bersayap yang mudah menular
dan onang ke orang melalui kontak badan dan pemakaian bersama baju atau barang lain
nya. Faktor-faktor resiko untuk infestasi yang disebarkan kutu meliputi :
Berbagi sisir, topi, dan sikat yang terinfestasi, sebagaimana juga setiap kontak antar
kepala (kutu kepala).
Pakaian atau tempat tidur yang terinfestasi (kutu badan, kutu kepala jika terjadi kontak
dengan kepala).
Kontak fisik yang dekat, terutama seksual (kutu pubis, kutu kepala jika terjadi kontak
dengan kepala).
Kutu badan bisa membawa penyakit tifus, demam pant dan demam kambuhan. Kutu
kemaluan menyerang daerah kemaluan, di tularkan pada saat melakukan hubungan
seksual.
C. Manifestasi Klinis
Gatal adalah gejala yang paling umum dari pedikulosis. Bila kutu umumnya tidak
terlihat; larva atau telur seringkali ditemukan menempel pada batang rambut. Pakaian
harus dicuci dengan air panas dan dikeringkan dengan panas atau dry-clean. Tempatkan
apa saja yang tidak bisa dicuci dalam kantung plastik dan tutup rapat selama 14 hari untuk
memastikan bahwa semua kutu dan telur telah mati. Perawatan obat meliputi lindane
topikal (1%), pyrethrin dengan piperonyl butoxide, permethrin, dan malathion (0.5%)
Infestasi kutu menyebabkan gatal-gatal hebat. Penggarukan seringkali menyebabkan
kulit terluka, yang bisa menyebabkan terjadinya infeksi bakteri. Kadang terjadi
pembengkakan kelanjar getah bening di leher belakang akibat adanya infeksi kulit kepala.
Anak-anak hampir tidak menyadari adanya kutu kepala atau hanya merasakan iritasi kulit
kepala yang samar-samar. Rasa gatal akibat kutu badan biasanya Iebih hebat dirasakan di
bahu, bokong dan perut. Kutu kemaluan menyebabkan rasa gatal di sekitar penis, vagina
dan anus.
4. ALOPECIA
A. Definisi
Kebotakan (alopesia) adalah hilangnya sebagian atau seluruh rambut. Sejalan dengan
pertambahan usia, pada pria dan wanita akan terjadi penurunan kepadatan rambut. Pria
memiliki pola kebotakan khusus yang berhubungan dengan hormon testosteron. Jika
seorang pria tidak menghasilkan testosteron (akibat kelainan genetik atau dikebiri), maka
dia tidak akan memiliki pola kebotakan tersebut. Wanita juga memiliki pola kebotakan yang
khusus. Alopesia paling sering terjadi pada kulit kepala, biasanya terjadi secara bertahap
dan bisa seluruh kulit kepala kehilangan rambutnya (alopesia totalis) atau hanya berupa

bercak-bercak di kulit kepala. Sekitar 25% pria mulai mengalami kebotakan pada usia 30
tahun dan sekitar duapertiga pria menjadi botak pada usia 60 tahun. Rata-rata kulit kepala
mengandung 100.000 helai rambut dan setiap harinya, rata-rata sebanyak 100 helai
rambut hilang dari kepala. Setiap helai rambut berumur 4,5 tahun, dengan pertumbuhan
sekitar 1 cm/bulan. Biasanya pada tahun ke 5 rambut akan rontok dan dalam waktu 6
bulan akan diganti oleh rambut yang baru. Kebotakan yang diturunkan terjadi akibat
kegagalan tubuh untuk membentuk rambut yang baru, bukan karena kehilangan rambut
yang berlebihan.
B. Etiologi
1. Keturunan
2. Penuaan
3. Perubahan hormon
4. Demam
5. Keadaan kulit lokal
6. Penyakit sistemik
7. Obat-obat tertentu, misalnya yang digunakan untuk mengobati kanker atau vitamin A
yang berlebihan
8. Pemakaian sampo dan pengering rambut yang berlebihan
9. Stres emosional atau stres fisik
10. Perilaku cemas (kebiasaan menarik-narik rambut atau menggaruk-garuk kulit kepala)
11. Luka bakar
12. Terapi penyinaran
13. Tinea kapitis
14. Trikotilomania.

C. Manifestasi Klinis
Kebotakan pola pria adalah suatu pola khusus dari kebotakan pada pria, yang
disebabkan oleh perubahan hormon dan faktor keturunan. Kebotakan terjadi karena
adanya penciutan akar rambut yang menghasilkan rambut yang lebih pendek dan lebih
halus. Hasil akhir dari keadaan ini adalah akar rambut yang sangat kecil, yang tidak
memiliki rambut. Penyebab gagalnya pertumbuhan rambut baru belum sepenuhnya
dimengerti, tetapi hal ini berhubungan dengan faktor keturunan dan hormon androgen,
terutama dihidrotestosteron yang berasal dari testosteron. Kebotakan pola pria dimulai
pada garis rambut; secara bertahap, garis rambut mundur membentuk huruf M. Rambut
menjadi lebih halus dan tidak tumbuh sepanjang sebelumnya. Rambut di ubun-ubun juga
mulai menipis dan pada akhirnya ujung atas dari garis rambut yang berbentuk M bertemu
dengan ubun-ubun yang menipis, membentuk kebotakan yang menyerupai tapal kuda.

Kebotakan pola wanita adalah kehilangan rambut pada wanita akibat perubahan
hormon, penuaan dan faktor keturunan. Kebotakan terjadi karena adanya kegagalan
pertumbuhan rambut yang baru. Penyebab dari kegagalan tersebut belum sepenuhnya

dimengerti, tetapi diduga berhubungan dengan faktor keturunan, penuaan dan kadar
hormon androgen.
Perubahan kadar hormon androgen bisa mempengaruhi pertumbuhan rambut. Setelah
menopause, banyak wanita yang merasakan rambutnya menipis, sedangkan rambut
wajahnya menjadi lebih kasar. Pola kebotakan pada wanita berbeda dengan kebotakan
pada pria. Rambut di garis rambut (dahi) tetap, sedangkan rambut di bagian kepala
lainnya menipis. Mungkin terdapat kehilangan rambut yang lebih di ubun-ubun, tetapi
jarang berkembang menjadi kebotakan total seperti yang terjadi pada pria.
Kebotakan pada wanita juga bisa disebabkan oleh:
1. Kerontokan rambut yang bersifat sementara (effluvium telogen)
2. Kerusakan rambut akibat penataan rambut, pengeritingan atau penarikan
rambut
3. Alopesia areata
4. Obat-obatan
5. Penyakit kulit tertentu.

Alopesia toksika atau alopesia karena keracunan bisa terjadi akibat :


1.
Penyakit berat yang disertai demam tinggi.
2.
Dosis yang berlebihan dari beberapa obat (terutama talium, vitamin A
dan retinoid)
3.
Obat kanker
4.
Kelenjar tiroid atau kelenjar hipofisa yang kurang aktif
5.
Kehamilan.
Kerontokan rambut bisa terjadi selama 3-4 bulan setelah penyakit atau keadaan lainnya .
Biasanya kerontokan bersifat sementara dan rambut akan tumbuh kembali. Alopesia
areata adalah suatu keadaan dimana secara tiba-tiba terjadi kerontokan rambut di daerah
tertentu, biasanya pada kulit kepala atau janggut. Pada alopesia universalis terjadi
kerontokan pada semua rambut tubuh; sedangkan pada alopesia totalis terjadi kebotakan
total pada rambut kepala. Pola kebotakan yang terjadi adalah khas, yaitu berupa bercak
berbentuk bundar. Penyebabnya tidak diketahui, tetapi kadang dihubungkan dengan
penyakit autoimun.

Trikotilomania adalah hilangnya rambut sebagai akibat dari dorongan yang kuat untuk
menarik-narik rambut. Hilangnya rambut bisa membentuk suatu bercak bundar atau
tersebar di kulit kepala. Trikotilomania merupakan suatu perilaku kompulsif, yang mungkin
berasal dari adanya stres emosional maupun stres fisik. Paling sering ditemukan pada

anak-anak, tetapi kebiasaan ini bisa menetap sepanjang hidup penderita.

Alopesia karena jaringan parut. Kebotakan terjadi di daerah jaringan parut. Jaringan parut
mungkin berasal dari luka bakar, cedera berat atau terapi penyinaran.Penyebab lain dari
alopesia karena jaringan parut adalah :
1. lupus eritematosus
2. liken planus
3. infeksi bakteri atau jamur yang bersifat menetap
4. sarkoidosis
5. tuberkulosis
6. kanker kulit.

GANGGUAN PADA ORGAN LAIN


1. INFEKSI
DAFTAR PUSTAKA
Hetharia, Rospa. 2009. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta:Trans Info Median
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan:Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian perawatan Pasien. Jakarta:EGC
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:EGC
http://medicastore.com/penyakit/74/Dermatitis_Kontak.html
http://www.irwanashari.com/2009/09/dermatitis-kontak-iritan.html
http://medicastore.com/penyakit/794/Kulit_Kering.html