Anda di halaman 1dari 3

P4JM MAGISTER PSIKOLOGI

PASCA SARJANA UPI-YAI


RINGKASAN
Laporan Pemeriksaan Psikologis Kasus I
Siswa Kelas 2 Yang Memiliki Motivasi Belajar Rendah
Karena Pola Asuh Orangtua Yang Mengabaikan di SD Sumbangsih Jakarta Selatan
I.

II.

IDENTITAS
Identitas Subjek
Nama

: FA atau disebut S

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Tempat/Tanggal Lahir

: Jakarta, 19 Maret 2002

Hobi

: Bermain Game

Anak ke

: 1 dari 2 bersaudara

Alamat

: Jakarta Selatan

Rujukan

: Wali kelas dan kepala Sekolah

Pendidikan

: SD kelas 2

Tanggal Pemeriksaan

05 April 2010 12 Mei 2010

Latar Belakang (Masalah) dan Tujuan Pemeriksaan

Adanya informasi dari walikelas 2A SD Sumbangsih dan Kepala Sekolah , perihal seorang siswa lakilaki yang bernama FA (dipanggil S / Subyek). Siswa ini dipandang sebagai siswa yang sangat pasif , pendiam,
pemalu, kurang bersemangat dan cenderung enggan dalam belajar. Siswa kurang memiliki minat dalam
belajar. S kurang tertarik dengan pelajaran-pelajaran yang diterimanya di sekolah dan tidak mau
mempelajarinya kembali. S mudah putus asa ketika menghadapi kesulitan dan kegagalan dalam proses
belajarnya . Ia tidak memiliki ketekunan dalam belajar. S memiliki prestasi rendah.
III.

Psikodinamika
Dari hasil anamnesa, observasi dan hasil pemeriksaan psikologi, S adalah siswa yang memiliki
keterbatasan dalam proses belajar. S memiliki hambatan dalam hal berkonsentrasi , lambat , tertinggal dari
teman-teman sekelasnya dan kurang bersemangat. Motivasi belajarnya sangat rendah. Enggan mengerjakan
tugas, mengabaikan perintah guru dan akhirnya tidak menyelesaikan tugas tersebut pada waktu yang
ditetapkan.
S yang seharusnya mengumpulkan tugas bahasa Indonesia saat bel istirahat, namun karena lambat
menulis dan tidak fokus pada tugas maka S tidak bisa menyelesaikannya. Sehingga guru meminta S untuk
menyelesaikan tugas tersebut hingga selesai. Sebenarnya guru tidak ingin menghukum S demikian, apabila S
merasa jera dengan teguran pertama. Namun teguran demi teguran tidak mengubahnya menjadi lebih baik,
akhirnya S harus menerima konsekuensi tersebut.
Saat bel berbunyi dan teman-teman berhamburan pulangpun, S masih harus menyelesaikan tugas. S
sangat lambat dan kurang greget untuk segera menyelesaikan tugas seperti yang dilakukan teman-temannya.
Saat guru menjelaskan, S tidak fokus pada penjelasan guru, melainkan melamun. Sementara teman-temannya
berlomba-lomba menjawab pertanyaan guru.
S adalah siswa yang sehat secara fisik/jasmani hal ini juga mendukung keterampilan motorik S.
Namun S kurang dalam menerapkan logika dan penalarannya untuk menyelesaikan suatu masalah. S
cenderung pasif dan tidak punya gejolak/motivasi. Potensi kecerdasan S berada pada taraf low average / di

P4JM MAGISTER PSIKOLOGI


PASCA SARJANA UPI-YAI
bawah rata-rata. Ia lebih mampu mengembangkan kapasitas intelektual performa dari pada verbal, yang
mengindikasikan bahwa Y kemungkinan akan lebih berhasil bila berada dalam situasi konkrit daripada bekerja
dalam menggunakan simbol-simbol abstrak .
IV.

Diagnosis

Sebagaimana hasil pemeriksaan di atas, sehingga dapat didiagnosis bahwa S memiliki motivasi belajar
rendah yang sangat mempengaruhi prestasi belajarnya. S memiliki pola sikap dan perilaku yang sangat lamban
dan selalu tertinggal dalam mengerjakan tugas, tidak mengumpulkan PR. Tidak bisa menjawab pertanyaan
guru, melamun saat di dalam kelas sehingga sangat mengganggu kelancaran belajar di kelasnya. S juga sulit
dalam membangun sebuah hubungan pertemanan, walaupun pada dasarnya S adalah siswa yang baik, namun
bagi S tidak mudah membangun hubungan pertemanan. S lebih sering melewatkan jam istirahatnya seorang
diri.
Potensi kecerdasan S berada pada taraf low average / di bawah rata-rata (Full IQ = 85). S kurang
memiliki kemampuan memahami suatu hal dalam kaitan dengan lingkungan sehari-hari. S tidak mampu
menjabarkan hal yang paling sederhana sekalipun. Pemahaman logika berpikirnya kurang. S kurang mampu
berkonsentrasi, atensi, dan tanggap terhadap realitas. Ingatan jangka pendek S yang juga kurang baik membuat
S tidak cukup mampu untuk belajar dan merespon terhadap hal-hal baru.
Ada beberapa Cara Meningkatkan Motivasi Belajar Anak dalam kegiatan belajar di sekolah,
misalnya
saja
seperti
yang
diungkapkan
A.M.
Sardiman
(2005:92-94),
yaitu
:
1. Memberi angka (nilai kegiatan belajarnya). 2. Hadiah, dapat menjadi motivasi belajar yang kuat bila
siswa tertarik pada bidang tertentu yang akan diberikan hadiah. 3. Kompetisi (persaingan )yang positif,
dapat menjadi sarana untuk meningkatkan semangat belajar/motivasi belajar. 4. Ego-involvement :
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai
tantangan sehingga bekerja keras adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Bentuk
kerja keras siswa dapat terlibat secara kognitif yaitu dengan mencari cara untuk dapat meningkatkan
motivasi belajar. 5. Memberi Ulangan. Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan diadakan
ulangan. Tetapi ulangan jangan terlalu sering dilakukan karena akan membosankan dan akan jadi rutinitas
belaka. 6. Mengetahui Hasil. Dengan mengetahui hasil belajarnya, siswa akan terdorong untuk belajar lebih
giat. Apalagi jika hasil belajar itu mengalami kemajuan, siswa pasti akan berusaha mempertahankannya atau
bahkan termotivasi untuk dapat meningkatkannya. 7. Pujian. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif
dan memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Pujian yang benar dan pada waktu yang tepat sekaligus akan
membangkitkan harga diri. 8. Hukuman Hukuman adalah bentuk reinforcement yang negatif, tetapi jika
diberikan secara tepat dan bijaksana, bisa menjadi alat motivasi belajar anak. Oleh karena itu, guru harus
memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman tersebut.
S memiliki sifat yang sangat tertutup, pasif dan suka menyendiri, membuat ia semakin tidak berminat
untuk bersosialisasi. Pola asuh orangtua (ibu) yang cenderung mengabaikan membuat S semakin merasa tidak
berguna. S merasa kurang didukung ibunya yang selalu sibuk dengan kariernya. Semakin membuat S tidak
termotivasi untuk belajar. S pun ingin diperhatikan, sebagai wujud perhatian dan kasih sayang serta
penerimaan diri orangtua terhadap S, karena walaupun ada komunikasi antara S dengan ibunya itu hanya
komunikasi yang satu arah dan tidak terbuka. Sehingga S tidak bisa mengungkapkan apa yang ingin ia
sampaikan.
Untuk itu hal terpenting yang CP tekankan kepada S adalah : menumbuhkan kesadaran kepada siswa
agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan
mempertaruhkan harga diri. Bagi siswa yang berprestasi akan diberikan penghargaan / pujian yang sifatnya
membangun. Memberikan perhatian maksimal pada anak didik, serta membentuk kebiasaan belajar yaang
baik. Hal tersebut merupakan bentuk penguatan positif.

P4JM MAGISTER PSIKOLOGI


PASCA SARJANA UPI-YAI
V.

Intervensi

Dalam memberikan intervensi CP menggunakan teknik konseling directive, yaitu konselor yang
berperan menentukan penyelesaian atas masalah. Dan memberikan reinforcement atau penguat positif.
Dalam proses intervensi , CP menegaskan kepada S perihal Ego-Involvement yaitu Menumbuhkan kesadaran
kepada S agar S menganggap pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras
adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Bentuk kerja keras siswa dapat terlibat secara
kognitif yaitu dengan mencari cara untuk dapat meningkatkan motivasi belajar. Setiap pertemuan
mengandung maksud untuk membimbing perilaku S dengan mengenalkan S akan tanggung jawab dan
kewajiban sebagai siswa di lingkungan sekolah, sehingga S menyadari apa yang sepatutnya ia harus lakukan.
Konseling yang CP berikan kepada S yaitu pada hari ke 4,5,6 dan ke 8.
VI.

Evaluasi Intervensi

Dari pertemuan pertama hingga pertemuan berikutnya, S menunjukkan perubahan ke arah


positif. Ia mulai memiliki pemahaman akan tanggung jawab belajar. Bahwa belajar harus dilakukan
sendiri bukan karena orang lain. Hasil dari intervensi ini S belum mengalami perubahan perilaku secara
optimal. Namun S mulai memahami apa yang menjadi kewajibannya selaku pelajar setelah CP intervensi.
VII. Kesimpulan

Berdasarkan anamnesa, observasi, hasil tes psikologi serta kajian teoritis, dapat disimpulkan
bahwa S memiliki motivasi belajar yang rendah.
VIII.

Saran

CP memberikan saran kepada orangtua S bahwa S membutuhkan dukungan / motivasi dari


keluarganya untuk mengatasi kesulitan belajarnya. Melibatkan S dalam diskusi keluarga sangat berguna dalam
upaya agar S mengeluarkan pendapat dan argumentasinya, sedangkan orangtua menjadi lebih tau apa yang
sebenarnya anak rasakan dan inginkan. Sehingga akan terjalin komunikasi yang baik antara orangtua dan anak.
Dan anak pun akan menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab.
Sedangkan saran untuk guru dan wali kelas S adalah agar dapat membimbing S mengatasi kesulitan
belajarnya, yaitu : berikan Pujian yang benar.sebagai bentuk reinforcement yang positif dan memberikan
motivasi yang baik bagi siswa. dan Hukuman yang tepat dan bijaksana sebagai bentuk reinforcement yang
negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijaksana, bisa menjadi alat motivasi belajar anak.
Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian pujian dan hukuman tersebut.