Anda di halaman 1dari 9

PRAKTIKUM TEKNIK TENAGA LISTRIK

TRANSFORMATOR TANPA BEBAN

Kelas LT-2D
KELOMPOK

1:

Almira Haedy

Aris Setyawan

(01)
(02)

Binti Latifatul

Dhimas Rizky F

(03)
(04)

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
2015
I.

TUJUAN
Setelah melaksanakan praktek ini, mahasiswa dapat :
a. Menentukan besarnya rugi inti / rugi besi.
b. Menjelaskan rugi besi dan rugi histeris dan rugi arus pusar (eddy current).
c. Menentukan konstanta Ro dan Xo.

II. PENDAHULUAN

Transformator dalam keadaan tidak berbeban (beban nol) akan mengambil arus dari jala-jala.
Arus itu terdiri atas arus yang bersifat resistif berupa rugi inti dan arus yang bersifat induktif
untuk membangkitkan fluksi magnet.
Rugi inti trafo dapat dibedakan atas rugi histerisis dan rugi arus pusar. Rugi histerisis
disebabkan oleh terjadinya gesekan antara molekul-molekul logam inti dalam usaha
menyesuaikan diri dengan perubahan arah fluksi magnet.
Ph = Kh . f . Bm . X
Keterangan :

Ph

= rugi histerisis (watt)

Kh

= konstanta yang tergantung bahan dan dimensi inti

Bm

= kerapatan fluksi maksimum

= frekuensi (hertz)

= faktor steinmetz tergantung macam bahan (1,6 s/d 2,0)

Rugi arus pusar disebabkan oleh adanya aliran arus induksi dalam logam inti.
Pe = Ke .f 2. Bm2
Keterangan :

Pe

= rugi arus pusar (watt)

Ke

= konstanta yang tergantung bahan dan dimensi inti

Bm

= kerapatan fluksi maksimum

= frekuensi (hertz)

Dengan melaksanakan percobaan 2 frekuensi yang berlainan , dapat diperoleh pemisahan


rugi inti menjadi rugi histeresis dan rugi arus pusar.

Gambar 6.1. Konstanta Transformator Ro dan Xo


Rangkaian pengganti transformator tanpa beban adalah sebagai berikut :

Gambar 6.2. Rangkaian Percobaan Trafo Tanpa Beban

Daya masuk : P = V1 . Io . cos

Arus resistif berupa rugi inti

: Ihe = Io cos

Arus induktif pembangkit fluksi : Ix = Io sin


Ro = V1 / Ihe
Xo = V1/ Ix
III.

ALAT DAN BAHAN


Tabel 3.1 Alat Dan Bahan
1. VACPS 220V
2. Transformator 1 fasa
3. Multimeter analog
4. Multimeter digital
5. Wattmeter
6. Kabel Jumper

IV.

1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
20 buah

GAMBAR RANGKAIAN

VACPS

Trafo 1 fasa
Gambar 6.3. Trafo 2 belitan tanpa beban

Gambar 6.4. Trafo Auto trafo tanpa beban

Gambar 6.5 Foto percobaan Trafo tanpa beban

V.

LANGKAH KERJA

a. Percobaan Trafo 2 belitan tanpa beban.


1) Memastikan alat dan bahan yang digunakan dalam keadaan baik dan tidak rusak, lalu
merangkai peralatan seperti pada gambar rangkaian.
2) Mengatur ACPS sebesar 220 V.
3) Mengukur besarnya arus I dan daya P.
4) Mencatat hasil pengamatan dalam tabel.
b. Percobaan Trafo Auto tanpa beban.
1) Memastikan alat dan bahan yang digunakan dalam keadaan baik dan tidak rusak;
2) Mengetes kutub (pole) auto trafo untuk menentukan kutub positif + dan negatif- pada
keluaran trafo (TR) dengan cara sbb :

Gambar 6.5. Tes Kutub /Pole 1


Tabel 6.1. Polaritas 1
V1

V2

V3

Ket

100

25

125

V3 = V1 + V2

Gambar 6.6. Tes Kutub/ Pole 2


Tabel 6.2. Polaritas 2
V1
100

V2
25

V3
75

Ket
V3 = V1 V2

3). Setelah melaksanakan tes pole, lalu memilih posisi pole seperti tes pole ke-2, tanda +
berada diatas dan - dibawah, sehingga rangkaian trafo auto seperti pada gambar
rangkaian untuk percobaan trafo auto.
4). Mengatur ACPS sebesar 220 V.
5). Mengukur besarnya daya dan arus.
6). Mencatat hasil pengamatan pada tabel.

VI.

VII.

LEMBAR KERJA

Tabel 6.3 Trafo 2 Belitan tanpa beban


Trafo
Frekuensi
2000VA 220V/48V
50 Hz
50VA 220/48V
50 Hz

Tegangan
220V
220V

Daya
75 W
25 W

Arus
0,7 A
37,8 mA

Tabel 6.4 Trafo Auto tanpa beban


Trafo
Frekuensi
50VA 220V/48V
50 Hz

Tegangan
220V

Daya
35 W

Arus
122 mA

ANALISA

Berdasarkan percobaan di atas dapat diketahui bahwa pada suatu transformator


terdapat rugi-rugi inti trafo . Rugi inti trafo merupakan rugi-rugi yang terjadi pada inti
trafo inti besi yang disebut dengan iron losses yang terdiri dari rugi histerisis dan rugi
arus pusar
Rugi histerisis diakibatkan oleh terjadinya gesekan antara molekul-molekul logam
inti dalam usaha menyesuaikan diri dengan perubahan arah fluksi magnet sedangkan rugi
arus pusar disebabkan oleh adanya aliran arus induksi dalam logam inti.
Dan dari hasil tabel diketahui bahwa, arus tabel 6.4 lebih besar daripada tabel 6.3
dikarenakan karena perbedaan penggunaan trafo yang dipakai selama praktik. Dalam
praktik tabel 6.3 menggunakan trafo dengan spesifikasi 2000VA 220 V/48 V sedangkan
pada tabel 6.4 menggunakan trafo dengan spesifikasi 50VA 220 V/ 48 V dan juga pada
gambar rangkaian autotrafo tanpa beban dan trafo 2 belitan tanpa beban konfigurasinya
masing masing berbeda yang mengakibatkan nilai dari daya dan arus kedua rangkaian
tersebut berbeda. Pada percobaan trafo 2 belitan 50VA 220 V/ 48 V rugi dayanya kecil
dikarenakan rugi yang terdapat pada trafo tersebut lebih kecil dibandingkan trafo 2000VA
220 V/48V. Untuk percobaan auto trafo, sebelum praktikum, harus dicari terlebih dahulu
polaritasnya dengan uji test pole sesuai gambar 6.5 dan 6.6.
VIII. PERTANYAAN DAN TUGAS
1) Tentukan dan jelaskan rugi inti, rugi histerisis, dan rugi arus pusar.
2) Tentukan dan jelaskan konstanta Ro dan Xo.
3) Jelaskan hubungan rugi inti dengan volume inti trafo dan daya VA trafo.
4) Jelaskan perbedaan rugi inti dari trafo 2 belitan dengan auto trafo.
5) Berikan kesimpulan.
JAWABAN
1. Rugi inti pada trafo dibedakan menjadi dua yaitu
a). rugi histerisis yaitu disebabkan oleh terjadinya gesekan antara molekul molekul
logam inti dalam usaha menyesuaikan diri dengan perubahan arah fluksi magnet.

b). rugi arus pusar adalah aliran arus induksi dalam logam inti yang dipengaruhi oleh
factor konstanta bahan dimensi inti ( Ke) , kerapatan fluksi maksimum ( Bm ) dan
frekuensi (Hz).
2. R0 adalah ketika tegangan primer per arus resistif yang berupa rugi inti X0 adalah
ketika tegangan yang mengalir pada trafo primer per arus induktif pembangkit fluksi
3.

Ihe = Io cos q
Ihe = 18,76 x 0.85
= 15.945
Ro

= V1/Ihe
= 220/15.95
=13,79

4. Arus yang mengalir pada rangkaian trafo auto tanpa beban jauh lebih besar daripada
yang dihasilkan pada rangkaian trafo 2 belitan.
IX.

KESIMPULAN
Arus yang mengalir sebelum melalui trafo pada rangkaian trafo tanpa beban lebih
kecil daripada arus pada trafo yang berbeban.
Pada rangkaian trafo tanpa beban daya yang terukur adalah rugi besi trafo
Semakin kecil kapasitas trafo, arus yang dihasilkan lebih besar.
Arus yang dihasilkan pada rangkaian trafo auto tanpa beban lebih besar daripada
yang dihasilkan pada rangkaian trafo 2 belitan untuk kapasitas trafo yang sama.
Transformator dalam keadaan tidak berbeban (beban =0) akan mengambil arus dari
jala-jala.
Arus jala-jala terdiri dari arus resistif dan induktif.
Uji polaritas digunakan untuk menentukan arah belitan dari belitan sekunder
terhadap primer. Hasil tersebut dignakan untuk membuat rangkaian ototrafo dengan
menghubungkan belitan primer dan sekunder sesuai polaritas