Anda di halaman 1dari 107

Veruka Vulgaris

Verruca

Epidemiolog
i

Tersebar secara
Hiperplasi
kosmopolit
epidermis
disebabkan oleh Transmisinya
melalui kontak
human papilloma
virus tipe tertentu kulit, maupun
autoinokulasi
Sinonim :
Tergantung jenis
Veruka vulgaris =
kutilnya
kutil atau
terdapat pada
common wart
terutama pada
usia anak atau
usia dewasa

Klasifikasi
Veruka vulgaris dengan varian
veruka filiformis
Veruka plana juvenilis
Veruka plantaris
Veruka akuminatum (kondiloma
akuminatum)

Gejala Klinis
Veruka vulgaris
Terutama terdapat pada anak, tapi ada juga
pada dewasa dan orang tua
Tempat predileksi utama : ekstremitas bagian
ekstensor
Termasuk : mukosa mulut dan hidung
Kutil berbentuk bulat warna abu-abu, besarnya
lentikular atau kalau berkonfluensi berbentuk
plakat, permukaan kasar (veruka), bila digores
inokulasi sepanjang goresan (fenomena
Kobner), ada induk kutil dengan anak2 kutil
Veruka filiformis varian veruka vulgaris
terdapat di daerah muka dan kulit kepala
berbentuk sebagai penonjolan yang tegak
lurus pada permukaan kulit dan permukaannya
verukosa

Gejala Klinis
Veruka plana juvenilis
Kutil besarnya miliar atau lentikular,
permukaan licin dan rata, bewarna sama
dengan warna kulit atau agak kecoklatan
Penyebaran : daerah muka dan leher,
dorsum manus dan pedis, pergelangan
tangan, serta lutut
Terdapat fenomena kobner dan dapat
sembuh sendiri tanpa pengobatan
Terutama pada anak dan usia muda, bisa
juga orang tua

Gejala Klinis
Veruka plantaris
Kutil terdapat di telapak kaki terutama yang
mendapat tekanan
Bentuknya berupa cincin yang keras dengan
di tengah agak lunak dan bewarna kekuningkuningan
Permukaannya licin karena gesekan dan
menimbulkan rasa nyeri pada waktu berjalan
karena penekanan oleh massa yang terdapat
di daerah tengah cincin
Apabila beberapa veruka bersatu dapat
timbul gambaran seperti mosaik

Pengobatan
Terapi topikal :
Bahan kaustik
Larutan AgNO3 25%, asam triklorosetat 50%,
dan fenol likuifaktum

Bedah beku
CO2, N2, dan N2O

Bedah skalpel
Bedah listrik
Bedah laser
Prognosis :
Sering residif meskipun diberikan pengobatan
adekuat

Kondiloma
Akuminatum

DEFINISI
Kondilomata Akuminata (KA) adalah infeksi
menular seksual yang disebabkan oleh
virus papiloma humanus (VPH) dengan
kelainan berupa fibroepiteloma pada kulit
dan mukosa
Sinonim:
Genital warts
Kutil kelamin
Penyakit jengger ayam

ETIOLOGI : Virus Papiloma


Humanus (VPH)
VPH adalah virus DNA yang merupakan virus
epiteliotropik (menginfeksi epitel) dan
tergolong dalam famili Papoviridae
VPH belum dapat dibiak dalam kultur sel (in
vitro) sehingga penelitian terhadap virus
sangat terbatas
Berdasarkan kemungkinan terjadinya displasia
epitel dan keganasan, VPH dibagi 2:
virus papiloma humanus rendah (low risk)
virus papiloma humanus tinggi (high risk) VPH
tipe 16 & 18

MANIFESTASI KLINIS
Masa inkubasi : 1-8 bulan
VPH masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi
pada kulit, sehingga KA sering timbul di daerah
yang mudah mengalami trauma saat hubungan
seksual
: glans penis, sulkus koronarius, frenulum, batang
penis
: fourchette posterior, vestibulum

KA dibagi dalam 3 bentuk:


Bentuk akuminata
Bentuk papul
Bentuk datar (flat)

Bentuk
akuminata

Terutama pada daerah lipatan dan lembab


Terlihat vegetasi bertangkai dengan permukaan
yang berjonjot-jonjot seperti jari
Beberapa kutil dapat bersatu membentuk lesi yang
lebih besar (seperti kembang kol)
Sering dijumpai pada wanita yang mengalami fluor
albus, wanita hamil, keadaan komunitas terganggu

Bentuk papul

Didaerah dengan keratinisasi sempurna (batang


penis, vulva bagian lateral, daerah perianal,
perineum)
Kelainan berupa papul dengan permukaan yang
halus dan licin, multipel dan tersebar secara diskret

Bentuk datar

Terlihat sebagai makula atau bahkan sama sekali


tidak tampak dengan mata telanjang (infeksi
subklinis), dan baru terlihat setelah dilakukan tes
asam asetat
Penggunaan kolposkopi sangat membantu

Bentuk Klinis KA yang Berhubungan dengan


Keganasan pada Genitalia
Giant
condyloma
BuschkeLowenstein

Diklasifikasikan sebagai karsinoma sel skuamosa dengan keganasan


derajat rendah
Hubungan KA dengan giant condyloma diketahui dengan
ditemukannya VPH tipe 6 dan 11
Lokasi lesi tersering: penis; kadang vulva dan anus
Tampak sebagai kondiloma yang besar, bersifat invasif lokal dan
tidak bermetastasis
Secara histologis giant condyloma tidak berbeda dengan KA
Giant condyloma umumnya refrakter terhadappengobatan

Papulosis
Bowenoid

Berupa papul likenoid berwarna coklat kemerahan dan dapat


berkonfluens menjadi plakat
Adapula lesi yang berbentuk makula eritematosa dan lesi yang mirip
leukoplakia atau lesi subklinis
Umumnya lesi multiplen dan kadang berpigmentasi
Berbeda dengan KA, permukaan lesi papulosis Bowenoid biasanya
halus atau hanya sedikit papilomatosa
Gambaran histologik mirip penyakit Bowen dengan inti yang
berkelompok, sel raksasa diskeratotik dan sebagian mitotik atipik
Papulosis Bowenoid jarang menjadi ganas dan cenderung regresi
spontan

DIAGNOSIS
TES ASAM ASETAT
Bubuhkan asam asetat 5% dengan lidi kapas pada
lesi yang dicurigai. Dalam beberapa menit lesi akan
berubah warna menjadi putih (acetowhite).
Perubahan warna pada lesi di daerah perianal perlu
waktu lebih lama (+15 menit)

KOLPOSKOPI
Tindakan yang rutin dilakukan di bagian kebidanan,
namun belum digunakan secara luas di bagian
penyakit kulit. Pemeriksaan ini berguna untuk
melihat lesi KA subklinis, dan kadang-kadang
dilakukan bersama dengan tes asam asetat

PEMERIKSAAN HISTOPATOLOGI
Pada KA yang eksofitik, pemeriksaan dengan
mikroskop cahaya akan memperlihatkan
gambaran papilomatosis, akantosis, rete ridges
yang memanjang dan menebal, parakeratosis
dan vakuolisasi pada sitoplasma (koilositosis)

DIAGNOSIS BANDING
Pearly penile papules
Secara klinis tampak sebagai papul berwarna sama seperti
kulit atau putih kekuningan, berukuran 1-2 mm, tersebar
diskret, mengelilingi sulkus koronarius dan memberi gambaran
seperti cobblestone. Papul-papul ini merupakan varian anatomi
normal dari kelenjar sebasea, sehingga tidak memerlukan
pengobatan

Kondiloma lata
merupakan salah 1 bentuk sifilis stadium II. Lesi berupa papulpapul dengan permukaan yang lebih halus dan bentuknya
lebih bulat daripada kondilomata akuminata, terdapat di
daerah lipatan lembab seperti anus dan vulva

Karsinoma sel skuamosa


kadang-kadang sulit dibedakan dengan kondilomata
akuminata. Pada lesi yang tidak memberikan respon pada
pengobatan perlu dilakukan pemeriksaan histopatologi

PENATALAKSANAAN
Kemoterapi
Tinktura podofilin
Setelah melindungi kulit di sekitar lesi dengan
vaselin agar tidak iritasi, oleskan tinktura podofilin
pada lesi dan biarkan selama 4-6 jam, kemudian cuci
Pemberian obat dilakukan seminggu 2x sampai lesi
hilang
Pada lesi hiperkeratotik, pemberian podofilin tidak
memberi ahsil yang memuaskan
Setiap kali pemberian jangan melebihi 0,5 cc karena
akan diabsorpsi dan bersifat toksik
KI: wanita hamil

Podofilotoksin (podofiloks)
Merupakan zat aktif yang terdapat dalam podofilin
Setelah pemakaian, dalam beberapa hari akan
terjadi destruksi pada jaringan KA
Reaksi iritasi pada pemakaian podofiloks lebih
jarang terjadi dibanding dengan podofilin; reaksi
sistmeik belum pernah dilaporkan
Obat ini dapat dioleskan sendiri oleh penderita
sebanyak 2x sehari selama 3 hari berturut-turut

Asam trikloroasetat
Pemberiannya seminggu sekali dan harus hati-hati
karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam
Dapat diberikan pada wanita hamil

Krim 5-fuorourasil
Obat ini terutama untuk KA yang terletak di
atas meatus uretra
Pemberiannya setiap hari sampai lesi hilang
Sebaiknya penderita tidak miksi selama 2
jam setelah pengobatan

Tindakan bedah
Bedah skalpel
Bedah listrik
Bedah beku (N2 cair, N2O cair)
Bedah laser (CO2 laser)

Interferon
Pemberiannya dalam bentuk suntikan (intramuskular atau
intralesi) atau bentuk krim, dan dapat diberikan bersama
pengobatan yang lain
Secara klinis terbukti bahwa interferon alfa, beta, gama
bermanfaat dalam pengobatan infeksi VPH
Interferon alfa : 4-6x10 mega IU intramuskular, 3x seminggu
selama 6 minggu
Interferon beta: 2x10 mega IU intramuskular selama 10 hari
berturut-turut

Immunoterapi
Pada penderita dengan lesi yang luas dan resisten terhadap
pengobatan dapat diberikan pengobatan bersama
imunomodulator
Salah satu obat yang sering dipakai adalah imiquimod
Imiquimod dalam bentuk krem, dioleskan 3x seminggu, paling
lama 16 minggu. Dicuci setelah 6-8 jam pemakaian

Moluskum
Kontangiosum

Definisi : Suatu penyakit infeksi kulit dan


membran mukosa yg bersifat ringan dan
jinak atau benigna yg disebabkan oleh
virus DNA dari kelompok Poxvirus.
Etiologi : Molluscum Contangiosum Virus
Pada org dewasa, penularan biasanya
melalui hubungan sex
Penularan langsung dengan adanya lesi di
tangan dan anak2 yg mandi bersama,
handuk, peralatan senam dan tempat
duduk.

Epidemiologi :
- Terdapat di seluruh dunia, frekuensi bervariasi
- Laki2 : perempuan = 1 : 1
- Sering menyerang anak-anak, orang dewasa
dengan seksual aktif, penderita
immunocompromise
Faktor resiko :
- Berenang
- Hubungan seksual
- Immunocompromised
- Kontak langsung/ benda
- Penderita AIDS

Luka

Virus berkembang dalam epidermis

Partikel disintesis di sitoplasma di


stratum
malphigi dan stratum granulosum

hiperproliferasi

Manifestasi klinis:
- Terbentuknya papula yg membesar sampai 3-6mm,
dan pd keadaan yg jarang sampai 3cm
- Lesi tersebar, permukaan halus, berwarna
keperakan sampai kemerahan, berbentuk seperti
kubah, sering didapatkan adanya umbilikasi sentral
(isi putih dan mudah dikeluarkan) . Lesi dapat
tumbuh pada semua lokasi pd kulit maupun
membran mukosa
- Terkadang lesi berkelompok, 1-2 kelompok, dpt jg
tersebar luas. Biasanya <20 lesi, ada jg yg ratusan
- Pada iklim sedang, virus lebih sering mengenai
kepala, kelopak mata, badan, dan genitalia. Pd iklim
tropis, lesi pada ekstremitas
- Lesi pd orang dewasa biasanya pada genitalia

- Lesi dapat sembuh spontan dengan atau tanpa


inflamasi
- Sel imunokompeten sering tidak didapatkan pada
epidermis yg terinfeksi, meskipun mereka berada pada
dermis yg terkena

Pada penderita dewasa dengan AIDS :


- Sering pada daerah ekstragenital, bbrp terbatas pada
area genital
- Lesi dapat berukuran sangat besar dan menyerupai
tumor kutaneus
- Biasanya asimtomatis, namun pruritus dapat dikeluhkan
dan reaksi eksematosa dapat timbul di sekeliling lesi
- Komplikasi di kelopak mata : Kongjungtivitis dan
keratitis

Histopatologi :
- Hipertrofi
- Hiperplasia epidermis
- Pd stratum korneum, molluscum bodies akan larut
dalam lesi bagian sentral membentuk central core
- Lesi acanthotic dan cup shaped
- Di dalam sitoplasma pada prickle cells tdpt eosinofil
yg kecil dan basophillic inclusion bodies
Handerson Paterson bodies
- Sel akan dilingkari jaringan fibrosa yg terpisah pada
bagian tengah lesi membentuk inti sentralnya

Tatalaksana & Prognosis


Prognosis: apabila lesi hilang semua
tidak atau jarang residif
Tatalaksana:
Mengeluarkan massa
Cara : elektrokauterisasi, atau bedah
beku (dg CO2, N2)
Dewasa lakukan th terhadap
pasangan juga

Varisela

Varisela
Definisi: infeksi akut oleh virus
varisela zoster yang menyerang kulit
dan mukosa, klinis terdapat gejala
konstitusi, kelainan kulit polimorf,
terutama berlokasi di bagian sentral
tubuh.

Epidemiologi
Tersebar kosmopolit, menyerang
terutama anak-anak, tapi dapat juga
dewasa. Transmisi penyakit ini
secara aerogen. Masa penularannya
lebih kurang 7 hari dihitung dari
timbulnya gejala kulit.
Sinonim: Cacar air, chicken pox
Etiologi: virus varisela zoster

Gambaran klinis
Dimulai gejala prodromal, yakni
demam yang tidak terlalu
tinggi,malese, dan sakit kepala, disusul
timbulnya erupsi kulit berupa papul
eritematosa yang dalam waktu
beberapa jam berubah menjadi vesikel.
Bentuk vesikel khas berupa tetesan
embun (tear drops)
Vesikel berubah menjadi pustul
kemudian krusta

Penyebarannya
Utama daerah badan kemudian
menyebar secara sentrifugal kemuka
dan ekstremitas, serta dapat
menyerang selaput lendir mata, mulut,
dan saluran napas bagian atas.
Jika ada infeksi sekunder pembesaran
kelenjar getah bening regional.
Biasanya ada rasa gatal.

Pembantu diagnosis
Membuat sediaan hapus yang
diwarnai dengan Giemsa. Bahan
diambil dari kerokan dasar vesikel
dan akan di dapatkan sel datia
berinti banyak.
DD: Variola

Pencegahan : Vaksin
Varisela

Berasal dari galur yg dilemahkan


Serokonversi 97-99%
Diberikan pada anak umur 12bln / >
Lama proteksi belum diketahui pasti
Vaksin ulang setelah 4-6 th
Cara pemberian : subkutan
Usia 12bl -12 thn 0,5 ml
Usia > 12thn Tambahan 0,5 ml stlah 48mg

Komplikasi
Anak-anak: jarang timbul
Dewasa: ensefalitis, pneumonia,
glomerulonefritis, karditis, hepatitis,
keratitis, konjungtivitis, otitis,
arteritis, dan kelainan darah.
Infeksi trimester pertama dan
menjelang kelahiran kelainan
kongenital.

Prognosis
Dengan perawatan teliti dan
memperhatikan higiene memberi
prognosis yang baik dan jaringan
parut yang timbul sedikit.

Herpes Zoster

Herpes Zoster
Penyakit yang disebabkan okeh
infeksi virus varisela-zoster yang
menyerang kulit dan mukosa, infeksi
ini merupakan reaktivasi virus yang
terjadi setelah infeksi primer.

Epidemiologi
Penyebarannya sama seperti varisela.
Kadang varisela bersifat subklinis.
Kemungkinan transmisi virus secara
aerogen dari pasien yang sedang
menderita varisela atau herpes zoster.
Frekuensi pada pria sama dengan wanita.
Lebih sering mengenai orang dewasa.

Patogenesis
Virus ini berdiam di ganglion
posterior SST dan ganglion kranialis.
Kelainan kulit yang timbul
lokasinya setingkat dengan daerah
persarafan ganglion.
Kadang virus ini juga menyerang
ganglion anterior, bagian motorik
kranialis gejala gangguan motorik.

Gejala Klinis
Daerah yang paling sering terkena torakal
Sebelum timbul gejala kulit, terdapat gejala
prodromal sistemik (demam, pusing, malaise)
dan lokal (nyeri otot-tulang, gatal, pegal,).
Timbul eritema yang dalam waktu singkat menjadi
vesikel yang berkelompok dengan dasar kulit yang
eritematosa dan edema.
Vesikel berisi cairan yang jernih menjadi keruh
(abu-abu) dapat menjadi pustul dan krusta.
Kadang-kadang vesikel mengandung darah :
Herpes Zoster Hemoragik
Dapat pula timbul infeksi sekunder menimbulkan
ulkus dengan penyembuhan berupa sikatriks .

Masa tunasnya : 7 12 hari


Masa aktif penyakit berupa lesi-lesi baru yang
tetap timbul berlangsung kira-kira seminggu,
sedangkan masa resolusi berlangsung kira-kira
1 2 minggu.
Selain gejala kulit pembesaran KGB regional
Lokalisasi penyakit : unilateral dan bersifat
dermatomal sesuai dengan tempat persarafan.
Hiperestesi pada daerah yang terkena khas
Kelainan pada muka ggn pada n.trigeminus
(dengan ganglion gaseri) atau n.fasialis dan
otikus (dari ganglion genikulatum).

Herpes zoster oftalmikus


Disebabkan oleh infeksi cabang pertama
nervus trigeminus menimbulkan
kelainan mata; cabang kedua dan ketiga
kelainan kulit pada daerah
persarafannya

Sindrom Ramsay Hunt


Gangguan nervus fasialis dan otikus
paralisis otot muka (paralisis Bell),
kelainan kulit sesuai dengan tingkat
persarafan, tinitus, vertigo, ggn
pendengaran, nistagmus, nausea, ggn
pengecapan

Herpes zoster abortif


Berlangsung dalam waktu yang singkat
dan kelainan kulitnya hanya berupa
beberapa vesikel dan eritem.

Herpes zoster generalisata


Kelainan kulitnya unilateral dan segmental
ditambah kelainan kulit yang menyebar
secara generalisata berupa vesikel yang
solitar dan ada umbilikasi.
Terjadi pada orang tua atau pada orang
yang kondisi fisiknya sangat lemah
misalnya pada penderita limfoma
malignum.

Neuralgia pascaherpetik
Rasa nyeri yang timbul pada daerah
bekas penyembuhan lebih dari sebulan
setelah penyakitnya sembuh.
Nyeri dapat berlangsung sampai
beberapa bulan bahkan bertahun-tahun
dengan gradasi nyeri bervariasi dalam
kehidupan sehari-hari.
Kecenderungan dijumpai pada orang
yang mendapat herpes zoster di atas
usia 40 tahun.

Pembantu Diagnosis
Pemeriksaan percobaan Tzanck
dapat ditemukan sel datia berinti
banyak.

Pengobatan

Terapi sistemik simtomatik


Nyeri analgetik
Disertai infeksi sekunder antibiotik
Obat antiviral:
I/: herpes zoster oftalmikus, pasien dengan
defisiensi imunitas mengingat komplikasinya
Obat yang biasa digunakan asiklovir dan
modifikasinya (valasiklovir)
Obat yang lebih baru: famsiklovir dan
pensiklovir waktu paruh eliminasi lebih lama
sehingga cukup diberikan 3 x 250 mg sehari
Diberikan 3 hari pertama sejak lesi muncul

Dosis asiklovir yang dianjurkan: 5 x 800 mg


sehari, biasanya diberikan selama 7 hari.
Valaksilovir cukup 3 x 1000 mg sehari
Jika lesi tetap timbul obat-obat tersebut
masih diteruskan dan dihentikan sesudah 2
hari sejak lesi baru tidak timbul lagi.

Nyeri neuropatik pada neuropati perifer


diabetik dan neuralgia pascaherpetik
obat pertama: pregabalin (ES: dizziness
dan somnolen)
Antidepresi trisiklik (nortriptilin dan
amitriptilin) menghilangkan rasa nyeri
(ES: gangguan jantung, sedasi, hipotensi)

Kortikosteroid
I/: sindrom Ramsay Hunt
Pemberian sedini mungkin mencegah
paralisis
Prednison dosis 3 x 20 mg/hari (mencegah
fibrosis ganglion) digabung dengan antiviral

Pengobatan topikal bergantung pada


stadium:
Jika masih vesikel : berikan bedak tujuan
protektif (mencegah pecahnya vesikel agar
tidak terjadi infeksi sekunder)
Ulserasi salap antibiotik

Komplikasi
Neuralgia pascaherpetik usia > 40 tahun
Penderita tanpa defisiensi imunitas tanpa
komplikasi
Pasien yang disertai defisiensi imunitas
(infeksi HIV, keganasan, usia lanjut) dapat
disertai komplikasi: vesikel sering berubah
menjadi ulkus dengan jaringan nekrotik.
Pada herpes zoster oftalmikus ptosis
paralitik, keratitis, skleritis, korioretinitis,
neuritis optik.

Paralisis motorik (muka, diafragma,


batang tubuh, ekstremitas, vesika
urinaria, anus) akan sembuh
spontan.
Infeksi dapat menjalar ke alat dalam
paru, hepar, otak

Impetigo Bulosa

TUBERKULOSIS KUTIS

TuberkulosisKutis
penyakit infeksi granulomatosa
kronis yang disebabkan oleh basil
mikobakterium tuberkulosis.
Jalan masuk kedalam tubuh biasanya
melalui inhalasi, atau yang pada
umumnya adalah dengan meminum
susu sapi yang tidak dipasteurisasi.

KLASIFIKASI
menurut PILLSBURRY:
Tuberkulosis kutis sejati
A. Tuberkulosis kutis primer
Inokulasi tuberkulosis primer (tuberkulosis chancre)
B. Tuberkulosis kutis sekunder
Tuberkulosis kutis miliaris
Skrofuloderma
Tuberkulosis kutis verukosa
Tuberkulosis kutis gumosa
Tuberkulosis kutis orifisialis
Lupus vulgaris

Tuberkulid
A. Bentuk papul
Lupus miliaris diseminatus fasiei
Tuberkuloid papulonekrotika
Liken skrofulosorum
B. Bentuk granuloma dan ulseronodulus
Eritema nodusum
Eritema induratum

Etiologi
Tuberkulosis kutis merupakan
penyakit kulit yang di sebabkan oelh
mycobakterium tuberkulosis, M bovis
dan bisa juga akibat vaksin bacillus
calme guerin

Patofisiologi
Tb.kutis terjadi akibat perjalaran
langsung dari organ di bawahnya yang
terlah di kenai tb, hematogen,
limfogen, dapat juga autoinoklusi atau
melalui kulit yang telah menurun
resistensinya
Tb kutis verosa merupakan infeksi
sekunder yang terjadi akibat inoklusi
eksogen atau autoinoklusi dari sputum
penderita tb paru aktif yang terkena
trauma

Gambaran Klinis
Bentuk bulan sabit akibat penjalaran
secara serpiginosa yang berarti penyakit
menjalar ke 1 jurusan diikuti
penyembuhan di jurusan lain
Ruam terdiri dari papul-papul lentikuler di
atas kulit yang eritomatosa
Pada bagian cekung terdapat sikatriks,
kecuali menjalar secara serpiginosa juga
dapat menjalar ke perifer sehingga
sikatriks terdapat di tengah

Penatalaksanaan
Pengobatan Tb kutis prinsipnya sama
dengan tb paru

Rifampisin
INH(H)
Pyrasinamid(Z)
Streptomisin(S)
Etambutol(E)

Di anjurkan oleh who 1997 & internasional


union agains tuberkulosa and lung disease
(IUATLD) dengan pemberian 2RHZ untuk
tahap intensif dan 4RH/4R3H3/6HE untuk
tahap lanjutan

Cutaneus Larva
Migran

Definisi
Digunakan pada kelainan kulit yang
merupakan peradangan yang
berbentuk linear atau berkelok-kelok,
menimbul dan progresif, disebabkan
oleh invasi larva cacing tambang
yang berasal dari anjing dan kucing.

Epidemiologi
Sering pada anak-anak terutama
yang sering berjalan tanpa alas kaki
atau yang sering berhubungan
dengan tanah atau pasir.
Daerah tropis dan subtropis seperti
indonesia.

Etiopatogenesis
Etiologi:
umumnya: Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum.
beberapa kasus lain: Echinococcus, Strongyloides stercoralis,
Dermatobia maxiales, dan Lucilia caesar. Beberapa jenis lalat:
Chastrophillus (the horse bot fly) dan cattle fly.
Larva stadium ketiga hidupnya.
Nematoda hidup pada hospes
Ovum terdapat pada kotoran binatang lembab
larvapenetrasi ke kulit.
Larva ini tinggal dikulit berjalan-jalan tanpa tujuan sepanjang
dermoepidermal, setelah beberapa jam atau hari akan timbul
gejala di kulit.

Manifestasi Klinis
Gatal dan panas
Mula-mula timbul papul, diikuti bentuk
yang khas, yakni lesi berbentuk linear dan
berkelok-kelok, menimbul dengan diameter
2-3mm, dan berwarna kemerahan.
Perkembangan selanjutnya papul merah ini
menjalar seperti benang berkelok-kelok,
polosiklik, serpiginosa, menimbul, dan
membentuk terowongan (burrow),
mencapai beberapa meter, rasa gatal lebih
berat pada malam hari.

Tempat predileksi
Tungkai, plantar, tangan, anus,
bokong, dan paha.
Juga di bagian tubuh dimana saja
yang sering berkontak dengan
tempat larva berada.

Diagnosis
Berdasarkan bentuk khas, yakni
terdapatnya kelainan seperti benang
yang lurus dan berbelok-belok,
menimbul, dan terdapat papul atau
vesikel di atasnya.

DD

Dermatofitosis
Herper zoster stadium permulaan

Pengobatan
Tiabendazol
Dosisnya 50 mg/ kg BB/hari,sehari 2 kali
selama 2 hari. Dosis maksimum 3 gram
sehari.
Efek samping: mual, pusing, muntah.

Albendazol
Dosis sehari 400mgdosis tunggal, di berikan 3
hari berturut-turut.

Cryotherapy, yakni menggunakan CO2


snow (dry es) dengan penekanan selama
45 sampai 1 dua hari berturut-turut.

Pedikulosis

DEFINISI
infeksi kulit/rambut ok Pediculus
(tergolong famili Pediculidae).
Pediculus humanus &Pediculus animalis.
obligat Harus menghisap darah manusia u/
hidup TIPE
PENYEBAB
Pediculus humanus var. capitis

Pedikulosis kapitis

Pediculus humanus var.


corporis

Pedikulosis korporis

Phthirus pubis (Nama dahulu:


Pediculus pubis)

Pedikulosis pubis

PEDIKULOSIS KAPITIS
Definisi:
Infeksi kulit dan rambut kepala ok Pediculus humanus var.
capitis

Epidemiologi:
T.u anak usia muda, cepat meluas dalam lingkungan padat
Fk. Risiko: higiene yg < baik c/ jarang keramas

Cara penularannya biasanya melalui perantara/benda,


cth:
Sisir, Bantal, Kasur, Topi
Karakteristik Etiologi:
Kutu 2mata + 3 pasang kaki, betina > panjang dari jantan
Warna abu2 kemerahan (pasca hisap darah)
Siklus hidup: telur larva nimfa - dewasa

PEDIKULOSIS KAPITIS
Patogenesis:
Kelainan kulit ok garukan ok gatal
Gatal ok liur & ekskret kutu yg masuk ke kulit ketika
kutu menghisap darah

Gambaran klinis:
Awal: dominan gatal t.u oksiput & temporal meluas
Garukan erosi, ekskoriasi, infeksi sekunder (pus,
krusta)
Infeksi sekunder berat rambut bergumpal ok banyak
pus & krusta (plikapelonika) & pembesaran KGB
(oksiput, retroaurikular semua ini kepala berbau
busuk

Diagnosis, DD, Prognosis


Cara yang paling diagnostik:
Menemukan kutu atau telur, terutama
dicari di daerah oksiput dan temporal.
Telur berwarna abu-abu dan berkilat

Diagnosa banding:
Tinea kapitis, pioderma (impetigo
krustosa), dermatitis seboroik

Prognosis: baik jika higiene


diperhatikan

PENGOBATAN
Pengobatan bertujuan memusnahkan semua kutu dan
telur serta mengobati infeksi sekunder.
Menurut kepustakaan pengobatan yang dianggap terbaik:
Secara topikal Malathion 0,5% atau 1% dalam bentuk losio
atau spray.
(Obat tersebut sukar didapat)
Di Indonesia obat yang mudah didapat dan cukup efektif:
Krim gama benzen heksaklorida (gameksan =
gammexane) 1%
Obat lain: emulsi benzil benzoat 25%
Pada keadaan infeksi sekunder yang berat sebaiknya rambut
dicukur, infeksi sekunder diobati dulu dengan antibiotika
sistemik dan topikal.
Lalu disusul dengan obat di atas dalam bentuk sampo.
Higiene merupakan syarat supaya tidak terjadi residif.

PEDIKULOSIS PUBIS
Definisi, Etiologi, Epidemiologi:

Infeksi rambut di daerah pubis dan sekitarnya.


Sinonim: Phthritus pubis, pediculus pubis.
Etiologi: Phthrirus pubis
Epidemiologi: org dewasa, anak2 (alis, bulu mata)
dan tergolong penyakit hub sex, jenggot, kumis.

Penularan:kontak langsung
Gejala klinis:
Gatal pubis meluas ke daerah abdomen dan dada
bercak abu2 atau kebiruan (makula serulae)
Black dot, Pembesaran KGB

PEDIKULOSIS PUBIS
Patogenesis:
Kelainan kulit yg timbulkan disebabkan oleh garukan
untuk menghilangkan rasa gatal.
Gatal tersebut timbul akibat pengaruh liur dan ekskreta
dari kutu yg dimasuksan ke dalam kulit waktu
menghisap darah.

Diagnosa: untuk mencari telur atau bentuk dewasa.


DD: Dermatitis seboroik, Dermatomikosis
Pengobatan:
Gameksan 1% atau emulsi benzil benzoat 25% yg
dioleskan dan didiamkan selama 24 jam.
Pengobatan diulangi 4 hari kemudian jika blm sembuh
Rambut krlamin di cukur

Prognosis: baik

Skabies

SKABIES
Definisi:
The itch, gudik, budukan, gatal agogo.
Def : penyakit kulit yang ok infestasi dan sensitisasi
terhadap Sarcoptes scabei var. Hominis dan
produknya.

Cara penularan: skin-to-skin, atau melalui benda


o/ s.scabei betina yg sudah dibuahi atau bentuk larva

Fx penunjang :

Sosio ekonomi rendah


Higiene buruk
sering berganti pasangan seksual
Kesalahan diagnosis
Perkembangan demografis dan ekologik

ETIOLOGI
S. Scabiei var. hominis
Tungau kecil, oval, punggung cembung
dan perut rata.
Stadium: Telur larva nimfa dewasa
(8-12 hr)
Tungau betina membuat terowongan
pada stratum korneum 2-3 mm / hari
sambil bertelur 40-50

Patogenesis & Gambaran


Klinis
Kelainan kulit disebabkan tungau skabies dan
garukan gatal akibat sensitisasi terhadap
sekret dan ekskret tungau 1 bln setelah
infestasi.
Lesi seperti dermatitis papul, vesikel, urtika
Dengan garukan erosi, ekskoria, krusta, dan
inf. Sekunder.

Tempat predileksi kanalikulus :


Daerah s.korneum tipis (sela2 jari tangan,
pergelangan tangan volar, siku, lipat ketiak bag.
depan, areola mammae, lipat gluteus, umbilikus,
bokong, genitalia eksterna, perut bawah)
Bayi : telapak tangan dan telapak kaki, bahkan seluruh
permukaan kulit
Dws, remaja : kulit kepala dan wajah

Gambaran Klinis &


Kriteria
Infeksi sekunder ruam kulit menjadi
polimorf
Diagnosis dari 2 dari 4 tanda kardinal :
Pruritus nokturna (gatal pada malam hari) krn
aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang
lebih lembab dan panas.
Ditemukan pada sekelompok manusia.
Adanya terowongan (kunikulus) di tempat
predileksi, berwarna putih atau keabu-abuan,
berbentuk garis lurus atau berkelok, rata2
panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu
ditemukan papul atau vesikel.
Menemukan tungau.

Tatalaksana & Prognosis


Syarat: seluruh keluarga
ditx (termasuk yg tanpa
gejala)
Prognosis: baik (atasi fk
predisposisi)

Reaksi Gigitan
Serangga

Gigitan Serangga
Definisi

Adalah kelainan akibat gigitan atau tusukan serangga


yang disebabkan teaksi terhadap toksin atau alergen
yang dikeluarkan artropoda penyerang

Etiologi

Toksin atau alergen dalam cairan gigitan serangga


tersebut

Gejala

Gatal dan nyeri pada tempat gigitan, timbul edem pada


kulit, berupa eritema morbiliformis atau bula yang
dikelilingi eritema dan iskemia nekrosis luas dan
gangren
Gejala sistemik : mual, pusing syok dapat timbul akibat
toksin yang berat seperti karena gigitan laba-laba hitam

Histopatologi

edema antara sel sel epidermis, spongiosis, serta


sebukan sel polimorfonuklear
Pada dermis ditemukan pelebaran ujung pd dan sebukan
sel radang akut

Gigitan Serangga
Pemeriksaan
1.
pembantu/laborato 2.
rium

Ditemukan eosinofilia
Tes tusuk dan goresan dengan alergen serangga
yang dicurigai.

Diagnosis Banding Prurigo, Urtikaria, dan dermatitis kontak


Pengobatan

Topikal : kompres lar.as.borat 3% atau KS


(hidrokortison)
Sistemik : antihistamin IM (klorfeniramin, difenhidramin),
adrenalin 1% 0.3 0.5 ml subkutan, KS

Prognosis

Baik

AKIBAT KONTAK
Alergi yg disebabkan
kupu2
Stad. Dewasa btk mulut
utk menghisap (siphoning).
Stad. Larva btk mulut
utk menggigit.
Larva kupu2 mempunyai
bulu yg mengandung toksin
erusisme / dermatitis
ulat (urtikaria, nyeri, gatal
& rasa panas)
Bulu ulat mengenai mata
konjungtivitis / ulkus
kornea.
Kupu2 dewasa dpt
menyebabkan kelainan bila
manusia kontak dgn bulu
yg ada di bag ventral
abdomen.
Epidemiologi: petani /
pekerja kebun.

Alergi yg disebabkan
tungau
Dermatophagoides
pteronyssinus
Tungau debu ditemukan pd
debu rumah terutama di
tmpt tidur (sprei, kasur,
bantal), karpet, lantai, di
luar rumah (sarang burung,
permukaan kulit mamalia &
binatang lainnya).
Salah satu penyebab
penyakit asma atopik
(asma alergi, asma
ekstrinsik).
Epidemiologi: bergantung
byknya tungau debu di dlm
rumah.

Lytta & Paederus

Kontak kumbang dgn kulit


manusia dikeluarkan
sekret lepuh (blister).

AKIBAT SENGATAN
Lebah

Kalajengking

Mulut lebah menggigit &


menjilat.
Ujung abdomen lebah betina
alat penyengat yg mengeluarkan
toksin.
Ringan rasa nyeri, gatal2,
kemerahan & edema pd tmpt yg
disengat.
Berat multiple stinging mual,
muntah, demam, sesak napas,
hipotensi & kolaps.
Kematian biasanya terjadi krn syok
anafilaktik.
Pengobatan: analgesik oral &
anestetikum lokal. Utk syok
adrenalin, KS & antihistamin.

Ruas terakhir abdomen terdpt alat


penyengat (telson) yg mengandung
kelenjar racun.
Racunnya berupa toksalbumin yg
mengandung neurotoksin &
hemotoksin (dpt menimbulkan
perdarahan & nekrosis).
Tmpt sengatan terasa sgt nyeri &
pedih yg menjalar ke bag
sekitarnya.
Dpt timbul keracunan sistemik yg
berakhir dgn kematian krn syok &
paralisis pernapasan.
Pengobatan: barbiturat, KS &
antihistamin. Pemberian anti racun
sgt bermanfaat.

AKIBAT GIGITAN
Kelabang

Ruas pertama
badan terdpt
sepasang kuku
beracun (poison
claw) kelenjar
racun.
Toksinnya
mengandung
antikoagulan & 5
hidroksi triptamin.
Menimbulkan
rasa nyeri &
eritema.
Pengobatan:
barbiturat, KS &
antihistamin.

Laba-laba

Sefalotoraks
terdpt kelenjar
toksin.
Toksin
dikeluarkan
melalui mulut.
Gigitannya
menyebabkan
araknidisme.

Semut api
(solenopsis
geminata)

Cimex (kutu
busuk)

Epidemiologi: AS Kelainan berupa


bag selatan.
dermatitis pd org
Menimbulkan
yg rentan.
vesikula & pustula
di bag badan yg
disengat.

Toxic Epidermal
Necrolysis

Definisi
Merupakan penyakit berat, gejala kulit
terpenting ialah epidermolisis
generalisata, dapat disertai kelainan pd
selaput lendir di orifisium dan mata.

Sinonim sindrom Lyell


Epidemiologi
Dibandingkan dg S.S.J peyakit ini lebih
jarang.
Hanya 2-3 kasus setiap tahun
Umumnya pd org dewasa

Etiologi
Sama dg S.S.J penyebab utama juga alergi
obat: derivat penisilin (24%), parasetamol
(17%) dan karbamazepin (14%). Contoh
Obat lain analgetik/antipiretik,
kortimoksazol, dilantin, klorokuin,
seftriakson, jamu dan aditif

Patogenesis
Merupakan bentuk parah S.S.J
Sebagian kasus S.S.J berkembang menjadi
N.E.T
Merupakan reaksi tipe II jadi gambaran
klinisnya bergantung pd sel target

Gejala klinis
Sering menyebabkan kematian ggg keseimbangan
cairan /elektrolit atau karena sepsis
Penyakit mulai secara akut dg gejala prodromal
Tampak sakit berat dg demam tinggi, kesadaran
menurun, kelainan kulit mulai dg edema generalisata
kemudian timbul banyak vesikal dan bula, dpt disertai
purpura.
Lesi pd kulit, disertai lesi pd bibir & selaput lendir
mulut berupa erosi, ekskoriasi, dan perdarahan
terbentuk krusta berwarna merah hitam pd bibir
Kelaianan semacam itu dpt terjadi di orifisium
generalisata eksterna. Juga dpt disertai kelaianan
mata
Pd NET yg terpenting epidermolisis. Gambaran
klinisnya menyerupai kombustio,
Epdermiolisis tanda Nikolskiy positif pd kulit yg
eritematosa.

Komplikasi
Pd ginjal nekrosis tubular akut akibat
terjadinya ketidakseimbangan cairan
bersama2 dg glomerulonefritis.

Histopatologi
Stadium dini vaskuolisasi dan nekrosis
sel2 basal sepanjang perbatasan dermalepidermal
sel radang di dermis hanya sedikit terdiri
atas limfohistiosit
Pd lesi lanjut nekrosisi eosinofilik sel
epidermis dg pembentukan lepuh subepidermal

DD
SSJ perbedaannya pd SSJ tdk terdapat
epidermolisis, dan keadaan NET lebih
parah
Dermatitis kontak iritan karena baygon
karena dpt menyebabkan epidermolisis
Staphylococcus Scaleded Skin Syndrome
terdapat epidermolisis, tetapi selaput
lendir jrg dikenai

Tabel 3. Perbedaan antara SSJ dengan NET


SSJ
Usia
Anak sp dewasa
KU
Ringan sp berat
Kesadaran
Kompos mentis
Tanda Nikolsky
(-)
Epidermolisis
(-)
Nekrosis epidermis (-)
Prognosis
Lebih baik

NET
Dewasa
Berat
Sering menurun
(+)
(+)
(+)
Buruk

Tabel 4. Perbedaan NET dengan SSSS


NET

SSSS

Usia pasien

> tua

> muda

Lesi target

Sering ditemukan

Tidak ada

Nyeri kulit

Ringan sp sedang

Sangat nyeri

Lesi oral

Umumnya ada

Jarang

Tanda Nikolsky

(+) hanya di daerah lesi

(+) pada lesi & klt (N)

Derajat eksudasi

4+ (tampak dermis)

1+ (tampak epdermis
superfisial)

Penyembuhan

> lama

10 14 hari

Jaringan parut

Srg ditemukan, dpt disertai


hiper / hipopigmentasi

Jarang

Mortalitas

Tinggi (20 50 %)

Rendah, umumnya sembuh


spontan

Pengobatan
Obat yg dpt menyebabkan alergi dihentikan
Menggunakan kortikosteroid (deksametason
40mg sehari iv dosis terbagi)
Sebagai obat topikal Sulfadzin perak
(krim dermazin, silvadene)

Prognosis
Jika penyebabnya infeksi prognosis lebih
baik drpd alergi obat
Kelainan kulit luas meliputi 50-70%
prognosis buruk

Sindrom StevensJohnson

Sindrom Stevens
Johnson
Definisi:
Sindrom yg mengenai kulit, selaput lendir orifisium, dan mata
dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat
Prognosis: Tindakan cepat daan tepat baik
Pada keadaan umum buruk + bronkopneumonia kematian.

Patogenesis:

Reaksi hipersensitivitas tipe II (sitolitik)


aktivasi sel T (CD4, CD8), sitokin (cth: IL-5)
Dermis (CD4), epidermis (CD8, TNF juga )
Keratosit epidermal ekspresi ICAM-1,ICAM-2, dan MHC II.

Komplikasi:
Bronkopneumonia, Kehilangan cairan / darah, Ggn
keseimbangan elektrolit, Syok

Etiologi & Pemeriksaan


ETIOLOGI
Alergi obat 50%
Analgetik/antipiretik
45%
Karbamazepin 20%
Jamu 13.3%

Sebagian kecil karna

Infeksi
Vaksinasi
Neoplasma
Radiasi

PEMERIKSAAN
Hasil pemeriksaan lab
tidak khas.
Jika ditemukan
Leukositosis krn
bakteri
Jika ditemukan
Eosinofilis krn alergi
Jika karena infeksi
dapar dilakukan kultur
darah.

Gejala Klinis
Trias kelainan : selain trias dapat ada nefritis dan
onikolisis.
Kelainan Mata
Paling sering konjungtivitis kataralis.
Konjuntivitis purulen, perdarahan, simblefaron, ulkus
kornea, iritis, iridosiklitis.

Kelainan Kulit
Eritema, vesikel, bula.
Vesikel, bula pecah erosi luas
Purpura

Kelainan selaput lendir orifisium


Vesikel, bula pecah erosi, ekskoriasi, krusta
kehitaman
Pseudomembran di mukosa mulut, di bibir krusta
berwarna hitaam tebal.
Pseudomembran di faring meenyebabkan sukar berafas.

Histopatologi &
Tatalaksana
HISTOPATOLOGI

TATALAKSANA

Infiltrat sel MN sekitar PD


dermis superfisial
Edema & ekstravasasi
Sdmerah di dermis
papilar
Degenerasi hidropik lap.
basal sampai terbentuk
vesikel subepidermal
Nekrosis sel epidermal
dan kadang adneksa
Spongiosis dan edema
intrasel di epidermis

Hentikan obat kausa


Prednison 30-40 mg/hari
SSJ berat
deksametason 6x5 mg iv
Antibiotik ( tdk
berspektrum luas, jarang
menyebabkan alergi)
siprofoksasin
Diet tinggi protein dan
rendah garam
Mengatur keseimbangan
elektrolit dan nutrisi