Anda di halaman 1dari 24

ILEUS OBSTRUKSI ET CAUSA ADHESI POST OP KISTEKTOMI

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan


Pendidikan Program Profesi Dokter Stase Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pembimbing :
dr. Haryono, Sp. B

Diajukan Oleh:
Hasmeinda Marindratama, S.Ked

J 500100005

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014

CASE REPORT
ILEUS OBSTRUKSI ET CAUSA ADHESI POST OP KISTEKTOMI

Diajukan Oleh :
Hasmeinda Marindratama, S.ked J500100005

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari, 16 Januari 2015
Pembimbing :
dr. Haryono, Sp. B

(.................................)

Disahkan Ketua Program Profesi :


dr. Dona Dewi Nirlawati

(.................................)

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
Nama

: Ny. SR

Umur

: 35 th

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Karanganyar

Agama

: Islam

Status Perkawinan

: Belum menikah

Tanggal MRS

: 21 Desember 2014

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama : pasien mengeluh nyeri pada perut bagian bawah
Riwayat Penyakit Sekarang
HMRS
Pasien datang ke RSUD Karanganyar Minggu, 21 Desember 2014, pasien
mengeluh nyeri pada perut bawah. Nyeri dirasakan sejak 1 minggu yang lalu.
Pasien juga mengeluh badan panas dingin. Pasien sudah berobat sebelumnya di
klinik dengan diagnosis demam tipoid selama 3 hari. Setelah di USG hasilnya
menunjukkan terdapat mioma uteri dan dirujuk ke RSUD Karanganyar. Pasien
tidak mengeluhkan adanya pembesaran atau benjolan pada perut. Hari ke 2 di
rumah sakit pasien mengeluh terdapat perdarahan pervagina sedikit lalu
berhenti. Saat menstruasi pasien mengeluh sakit namun tidak hebat dan masih
bisa melakukan aktifitas seperti biasa. Siklus menstruasi teratur. Keluhan yang
lain seperti keputihan berlebihan (-), pasien merasakan mual, muntah (-),
kembung (-), BAK dan BAB dalam batas normal. Pasien belum pernah
mengalami kehamilan.

Riwayat penyakit dahulu


Riwayat DM

: disangkal

Riwayat Hipertensi

: disangkal

Riwayat Asma/alergi: disangkal


Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat Keputihan

: diakui (tidak banyak, tidak berbau, warna

putih kekuningan)

Riwayat Menstruasi
Menarche

: 13 tahun

Siklus haid

: 28 hari

Lama haid

: 6-7 hari

Riwayat Perkawinan
Belum menikah

Riwayat Kehamilan
P0A0

Penyakit dan operasi yang pernah dialami : (-)

Riwayat Keluarga berencana sebelum kehamilan ini : (-)

Anamnesis Sistem
-

Sistem Cerebrospinal

: Sensasi nyeri baik, gemetaran (-), sulit tidur

(-), mengantuk yang berlebihan(-), nyeri kepala(-), kejang (-)


-

Sistem Cardiovascular

: Nyeri dada (-), dada berdebar-debar (-)

Sistem Respirasi

: Sesak nafas (-), batuk (-), pilek (-)

Sistem Gastrointestinal : Nyeri perut (+), Kembung (+), mual (+),


muntah (+), kentut (+), BAB(+).

Sistem Urogenital

: Pancaran miksi terputus-putus (-), Kencing

mengedan kuat (-), Pancaran miksi melemah (-), Frekuensi miksi


meningkat (-), terbangun untuk kencing pada saat tidur malam hari (-).
-

Sistem reproduksi

: nyeri perut bawah (+)

Sistem Integumen

: Gatal-gatal (-), ruam (-)

Sistem Muskuloskeletal : Kelemahan anggota gerak bawah (-), nyeri otot


(-), nyeri tulang (-).

C. RESUME ANAMNESIS
Seorang wanita, usia 35 tahun, P0A0, mengeluh nyeri perut bagian bawah.
Pasien kiriman dari klinik dengan hasil usg mioma uteri. Perut terasa nyeri
disertai mual. Pasien mengeluh hari ke 2 dirumah sakit terdapat perdarahan
pervagina sedikit dan langsung berhenti. Saat menstruasi pasien merasakan
nyeri ringan.
D. PEMERIKSAAN FISIK
A Status Presens :
1 Tinggi Badan: 165 cm, Berat badan : 80 kg
2 Vital sign :

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 90 x/mnt

Respirasi

: 20 x/mnt

Suhu (per axillar)

: 36,5C

3 Keadaan umum

: Baik

4 Kesadaran

: Compos Mentis (E4V5M6)

B Status Generalis
1

Kepala

: Bentuk dan ukuran normal, simetris

Kulit

: Warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-), petekie (-),

venectasi (-), spider naevi (-), hiperpigmentasi (-), hipopigmentasi (-),


scar operasi (-).
3

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks

cahaya (+/+), isokor, eye movement (+/+).


4

Hidung

: Nafas cuping hidung (-/-), deformitas (-/-), darah (-/-),

sekret (-)
5

Telinga

: Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-).

Mulut

: Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-), lidah


simetris (+), lidah tremor (-), stomatitis (-), mukosa
pucat (-), gusi berdarah (-).

Leher

: Bentuk normal, kelenjar thyroid tidak membesar,


kelenjar limfe tidak membesar, nyeri tekan (-).

Dada
Jantung :
-

Inspeksi

: Ictus cordis tak terlihat

Palpasi

: Teraba di SIC V linea midclavicularis sinistra,

kuat angkat (-).


-

Perkusi

: Redup kesan tak tampak kardiomegali.

Auskultasi

: BJ I-II murni reguler, Bising (-), gallop (-),


murmur (-).

Paru :
-

Inspeksi

: Simetris, retraksi (-)

Palpasi

: Ketinggalan gerak (-), fremitus kanan kiri


sama

Perkusi

: Sonor diseluruh lapang paru

Auskultasi

: Vesikuler (+/+), wheezing (-), ronki basah (-),

ronki kering (-)


Abdomen :

Inspeksi

: Distensi (-), darm contour (-), darm steifung(-),

Scar bekas operasi (-), penonjolan abnormal (-)


-

Auskultasi

: Peristaltik dbn

Perkusi

: Timpani (+), pekak beralih (-)

Palpasi

: teraba massa pada regio suprapubik sampai

setinggi pusat, teraba keras, permukaan halus, nyeri tekan


suprapubik (+)
Ekstremitas :
-

Superior : akral dingin (-), capillary refill time < 2 detik,


deformitas (-/-), edema (-/-).

Inferior

: akral dingin (-), capillary refill time < 2 detik

deformitas (-/-), edema (-/-).


E. PEMERIKSAAN LABORATORIUM (21 Desember 2014)
No.

Pemeriksaan

1.
2.

Leukosit
Eritrosit

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Hemoglobin
Platelet
HBsAg
SGOT
SGPT
Ureum
Kreatinin
Golongan Darah

Hasil

Nilai Rujukan
3

21,38 x 10
3.270.000
9,6
416.000
99
67
16
0,81
A

Normal
5000-11.000
4.000.0005.000.000
12 18
150.000-400.000
0-46
0-42
10-50
0,5 0,9

F. DAFTAR MASALAH
1

ANAMNESIS:
a

Nyeri perut dibagian atas suprapubik

Dismenorea (ringan)

Terdapat massa di atas suprapubik sampai pusat

Keluar darah dari jalan lahir

PEMERIKSAAN FISIK
a

Vital sign didapatkan Tekanan Darah 120/80 mmHg, nadi 90 x/menit,


respirasi 20 x/menit suhu 36,5oC.

b Abdomen : teraba massa pada regio suprapubik sampai setinggi pusat,


teraba keras, permukaan halus, nyeri tekan suprapubik (+)
3

PEMERIKSAAN GINEKOLOGI
-

Vaginal Toucher : Portio mencucu, nyeri goyang portio (-), STD (+)

Inspekulo : vulva uretra tenang, dinding vagina licin, serviks utuh


mencucu, OUE tertutup, tampak darah dari OUE, jaringan (-).

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium : Haemoglobin menurun, leukosit meningkat, trombosit
meningkat

USG

: myoma uteri

PP test

:-

LAPAROTOMI
Terdapat perlengketan endometrium dengan intestinum

G. DIAGNOSIS KERJA
Pre Operasi : Myoma Uteri pada P0A0
Post Operasi : Endometriosis dengan adhesi pada intestinum
H. PENATALAKSANAAN
-

USG

Observasi perdarahan

Laparotomi

Pasca Operasi : Atibiotik, anti nyeri.

I. PROGNOSIS
Dubia ad malam

TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Appendiks
Appendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kirakira 10 cm dan berpangkal pada sekum. Appendiks pertama kali tampak saat

perkembangan embriologi minggu ke delapan yaitu bagian ujung dari


protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal, pertumbuhan dari sekum
yang berlebih akan menjadi appendiks yang akan berpindah dari medial menuju
katup ileocaecal.
Pada bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkal dan
menyempit kearah ujung. Keadaan ini menjadi sebab rendahnya insidens
appendicitis pada usia tersebut. Appendiks memiliki lumen sempit di bagian
proksimal dan melebar pada bagian distal. Pada appendiks terdapat tiga tanea
coli yang menyatu dipersambungan sekum dan berguna untuk mendeteksi posisi
appendiks. Gejala klinik appendicitis ditentukan oleh letak appendiks. Posisi
appendiks adalah retrocaecal (di belakang sekum) 65,28%, pelvic (panggul)
31,01%, subcaecal (di bawah sekum) 2,26%, preileal (di depan usus halus) 1%,
dan postileal (di belakang usus halus) 0,4%.
Gambar 1.1. Appendiks pada saluran pencernaan

Gambar 1.2 Posisi apendiks

Appendiks disebut tonsil abdomen karena banyak ditemukan jaringan


limfoid. Jaringan limfoid pertama kali muncul pada appendiks sekitar dua minggu
setelah lahir, jumlahnya meningkat selama pubertas sampai puncaknya berjumlah
sekitar 200 folikel antara usia 12-20 tahun dan menetap saat dewasa. Setelah itu,
mengalami atropi dan menghilang pada usia 60 tahun. Persarafan parasimpatis
berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dari
arteri appendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus torakalis
X. Oleh karena itu, nyeri viseral pada appendicitis bermula di sekitar umbilikus.
Appendiks didarahi oleh arteri apendikularis yang merupakan cabang dari bagian
bawah arteri ileocolica. Arteri appendiks termasuk end arteri. Bila terjadi
penyumbatan pada arteri ini, maka appendiks mengalami ganggren.
B. Fisiologi Appendiks
Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir itu secara normal
dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran
lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendicitis.
Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh Gut Associated Lymphoid Tissue
(GALT) yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks ialah
Imunoglobulin A (Ig-A). Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai pelindung
terhadap infeksi yaitu mengontrol proliferasi bakteri, netralisasi virus, serta

mencegah penetrasi enterotoksin dan antigen intestinal lainnya. Namun,


pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh sebab jumlah
jaringan sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna dan
seluruh tubuh.
C. Definisi Appendicitis
Appendicitis adalah infeksi pada appendiks karena tersumbatnya lumen
oleh fekalith (batu feces), hiperplasi jaringan limfoid, dan cacing usus. Obstruksi
lumen merupakan penyebab utama appendicitis. Erosi membran mukosa
appendiks dapat terjadi karena parasit seperti Entamoeba histolytica, Trichuris
trichiura, dan Enterobius vermikularis. Penelitian Collin (1990) di Amerika Serikat
pada 3.400 kasus, 50% ditemukan adanya faktor obstruksi. Obstruksi yang
disebabkan hiperplasi jaringan limfoid submukosa 60%, fekalith 35%, benda asing
4%, dan sebab lainnya 1%.
D. Patofisiologi Appendicitis
Appendicitis merupakan peradangan appendiks yang mengenai semua
lapisan dinding organ tersebut. Tanda patogenetik primer diduga karena obstruksi
lumen dan ulserasi mukosa menjadi langkah awal terjadinya appendicitis.
Obstruksi intraluminal appendiks menghambat keluarnya sekresi mukosa dan
menimbulkan distensi dinding appendiks. Sirkulasi darah pada dinding appendiks
akan terganggu. Adanya kongesti vena dan iskemia arteri menimbulkan luka pada
dinding appendiks. Kondisi ini mengundang invasi mikroorganisme yang ada di
usus besar memasuki luka dan menyebabkan proses radang akut, kemudian terjadi
proses irreversibel meskipun faktor obstruksi telah dihilangkan. Appendicitis
dimulai dengan proses eksudasi pada mukosa, sub mukosa, dan muskularis propia.
Pembuluh darah pada serosa kongesti disertai dengan infiltrasi sel radang neutrofil
dan edema, warnanya menjadi kemerah-merahan dan ditutupi granular membran.

Pada perkembangan selanjutnya, lapisan serosa ditutupi oleh fibrinoid supuratif


disertai nekrosis lokal disebut appendicitis akut supuratif. Edema dinding
appendiks

menimbulkan

gangguan

sirkulasi

darah

sehingga

terjadi

ganggren,warnanya menjadi hitam kehijauan yang sangat potensial ruptur. Pada


semua dinding appendiks tampak infiltrasi radang neutrofil, dinding menebal
karena edema dan pembuluh darah kongesti. Appendiks yang pernah meradang
tidak akan sembuh dengan sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut.
Jaringan ini menyebabkan terjadinya perlengketan dengan jaringan sekitarnya.
Perlengketan tersebut dapat kembali menimbulkan keluhan pada perut kanan
bawah. Pada suatu saat organ ini dapat mengalami peradangan kembali dan
dinyatakan mengalami eksaserbasi.
E. Epidemiologi Appendicitis
E. 1 . Distribusi Appendicitis Berdasarkan umur
Penelitian Omran et al (2003) di Kanada pada 65.675 penderita
appendicitis didapat 38.143 orang (58%) laki-laki dan 27.532 orang (42%)
perempuan. Penelitian Khanal (2004) di Rumah Sakit Tribhuvan Nepal pada 99
penderita appendicitis didapat 76 orang (76,8%) laki-laki dan 23 orang (23,2%)
perempuan, serta kelompok umur 15-24 tahun 41 orang (41,4%), 25-34 tahun 38
orang (38,4%), 35-44 tahun 15 orang (15,2%), 45-54 tahun 3 orang (3,0%), 55-64
tahun 1 orang (1,0%), dan 65-74 tahun 1 orang (1,0%). Appendicitis dapat terjadi
pada semua usia dan paling sering pada dewasa muda. Penelitian Addins (1996) di
Amerika Serikat, appendicitis tertinggi pada usia 10-19 tahun dengan Age Specific
Morbidity Rate (ASMR) 23,3 per 10.000 penduduk. Hal ini berhubungan dengan
hiperplasi jaringan limfoid karena jaringan limfoid mencapai puncak pada usia
pubertas.

E. 2 . Distribusi Appendicitis Berdasarkan Tempat (Place)

Penelitian Richardson et al (2004) di Afrika Selatan, IR appendicitis 5 per


1.000 penduduk di pedesaan, 9 per 1.000 penduduk di periurban, dan 18 per 1.000
penduduk di perkotaan. Penelitian Penfold et al (2008) di Amerika Serikat pada
anak umur 2-20 tahun didapat bahwa perforasi appendicitis lebih cenderung di
pedesaan (69,6%) daripada perkotaan (30,4%) (p=0,042).
E. 3 . Distribusi Appendicitis Berdasarkan Waktu (Time)
Penelitian Dombal (1994) di Amerika Serikat terjadi penurunan kasus
appendicitis dari 100 menjadi 52 per 100.000 penduduk periode tahun 1975-1991.
Penelitian Walker (1995) di Afrika Selatan terjadi peningkatan kasus appendicitis
dari 8,2 menjadi 9,5 per 100.000 penduduk periode tahun 1987-1994. Penelitian
Bisset (1997) di Skotlandia terjadi penurunan kasus appendicitis 19,7 menjadi 9,6
per 10.000 penduduk periode tahun 1973-1993. Penelitian Ballester et al (2003) di
Spanyol terjadi peningkatan kasus appendicitis dari 11,7 menjadi 13,2 per 10.000
penduduk periode tahun 1998-2003.
.
E. 4 . Distribusi Appendicitis Berdasarkan Jenis Kelamin
Penelitian Omran et al (2003) di Kanada, Sex Specific Morbidity Rate
(SSMR) pria : wanita yaitu 8,8 : 6,2 per 10.000 penduduk dengan rasio 1,4 : 1.
Penelitian Gunerhan (2008) di Turki didapat SSMR pria : wanita yaitu 154,7 :
144,6 per 100.000 penduduk dengan rasio 1,07: 1.17 Kesalahan diagnosa
appendicitis15-20% terjadi pada perempuan karena munculnya gangguan yang
sama dengan appendicitis seperti pecahnya folikel ovarium, salpingitis akut,
kehamilan ektopik, kista ovarium, dan penyakit ginekologi lain.
E. 5 . Distribusi Appendicitis Berdasarkan Faktor Agent
Proses radang akut disebabkan invasi mikroorganisme yang ada di usus
besar.

Pada

kultur

ditemukan

kombinasi

antara

Bacteriodes

fragililis

danEschericia coli, Splanchicus sp, Lactobacilus sp, Pseudomonas sp, dan

Bacteriodes splanicus. Bakteri penyebab perforasi yaitu bakteri anaerob 96%.

E. 6 . Distribusi Appendicitis Berdasarkan Faktor Faktor Environment


Urbanisasi mempengaruhi transisi demografi dan
terjadi perubahan pola makan dalam masyarakat seiring
dengan peningkatan penghasilan yaitu konsumsi tinggi
lemak

dan

rendah

serat.

Penelitian

epidemiologi

menunjukkan peran konsumsi rendah serat dan pengaruh


konstipasi terhadap timbulnya appendicitis.Kebiasaan
konsumsi rendah serat mempengaruhi defekasi dan
fekalith menyebabkan obstruksi lumen sehingga memiliki
risiko appendicitis yang lebih tinggi.
F. Klasifikasi Appendicitis
Adapun klasifikasi appendicitis berdasarkan klinikopatologis adalah sebagai berikut:
1. Appendicitis Akut
a. Appendicitis Akut Sederhana (Cataral Appendicitis)
Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub
mukosa

disebabkan

obstruksi.

Sekresi

mukosa

menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadi


peningkatan tekanan dalam lumen yang mengganggu
aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema,
dan kemerahan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di
daerah umbilikus, mual, muntah, anoreksia, malaise,
dan demam ringan. Pada appendicitis kataral terjadi
leukositosis dan appendiks terlihat normal, hiperemia,
edema dan tidak ada eksudat serosa

b.

Appendicitis Akut Purulenta (Supurative Appendicitis)


Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema
menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan
menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada
apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding
appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena
dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema,
hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai
dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik
Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan
defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda
peritonitis umum.
c. Appendicitis Akut Gangrenosa
Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai
terganggu sehingga terjadi infrak dan ganggren. Selain didapatkan tandatanda supuratif, appendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. Dinding
appendiks berwarna ungu, hijau keabuan atau merah kehitaman. Pada
appendicitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan
peritoneal yang purulen.
a. Appendicitis Infiltrat
Appendicitis

infiltrat

adalah

proses

radang

appendiks

yang

penyebarannya dapat dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan
peritoneum sehingga membentuk gumpalan massa flegmon yang melekat erat
satu dengan yang lainnya.
b. Appendicitis Abses
Appendicitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah
(pus), biasanya di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal,
subcaecal, dan pelvic.

c. Appendicitis Perforasi
Appendicitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah ganggren
yang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi
peritonitis umum. Pada dinding appendiks tampak daerah perforasi dikelilingi
oleh jaringan nekrotik.
2. Appendicitis Kronis
Appendicitis kronis merupakan lanjutan appendicitis akut supuratif
sebagai proses radang yang persisten akibat infeksi mikroorganisme dengan
virulensi rendah, khususnya obstruksi parsial terhadap lumen. Diagnosa appendicitis
kronis baru dapat ditegakkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan
bawah lebih dari dua minggu, radang kronik appendiks secara makroskopik dan
mikroskopik. Secara histologis, dinding appendiks menebal, sub mukosa dan
muskularis propia mengalami fibrosis. Terdapat infiltrasi sel radang limfosit dan
eosinofil pada submukosa, muskularis propia, dan serosa. Pembuluh darah serosa
tampak dilatasi.

G. Gejala Appendicitis
Beberapa gejala yang sering terjadi yaitu:

Rasa sakit di daerah epigastrum, daerah periumbilikus, di seluruh abdomen atau


dikuadran kanan bawah merupakan gejala-gejala pertama. Rasa sakit ini samarsamar, ringan sampai moderat, dan kadang-kadang berupa kejang. Sesudah
empat jam biasanya rasa nyeri itu sedikit demi sedikit menghilang kemudian
beralih ke kuadran bawah kanan. Rasa nyeri menetap dan secara progesif

bertambah hebat apabila pasien bergerak.


Anoreksia, mual, dan muntah yang timbul selang beberapa jam dan merupakan

kelanjutan dari rasa sakit yang timbul permulaan.


Demam tidak tinggi (kurang dari 380C), kekakuan otot, dan konstipasi.
Appendicitis pada bayi ditandai dengan rasa gelisah, mengantuk, dan terdapat
nyeri lokal. Pada usia lanjut, rasa nyeri tidak nyata. Pada wanita hamil rasa nyeri
terasa lebih tinggi di daerah abdomen dibandingkan dengan biasanya. Nyeri
tekan didaerah kuadran kanan bawah. Nyeri tekan mungkin ditemukan juga di
daerah panggul sebelah kanan jika appendiks terletak retrocaecal. Rasa nyeri

ditemukan di daerah rektum pada pemeriksaan rektum apabila posisi appendiks


di pelvic. Letak appendiks mempengaruhi letak rasa nyeri.
D. Diagnosis Banding Appendicitis
Banyak masalah yang dihadapi saat menegakkan diagnosis appendicitis karena
penyakit

lain

yang

memberikan

gambaran

klinis

yang

hampir

sama

denganappendicitis, diantaranya:

Gastroenteritis ditandai dengan terjadi mual, muntah, dan diare mendahului rasa
sakit. Sakit perut lebih ringan, hiperperistaltis sering ditemukan, panas dan

leukositosis kurang menonjol dibandingkan appendicitis akut.


Limfadenitis Mesenterika, biasasnya didahului oleh enteritis atau gastronteritis.
Ditandai dengan nyeri perut kanan disertai dengan perasaan mual dan nyeri

tekan perut.
Demam dengue, dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis dan diperoleh hasil

positif untuk Rumple Leed, trombositopeni, dan hematokrit yang meningkat.


Infeksi Panggul, salpingitis akut kanan sulit dibedakan dengan appendicitis
akut. Suhu biasanya lebih tinggi daripada appendicitis dan nyeri perut bagian
bawah lebih difus. Infeksi panggul pada wanita biasanya disertai keputihan dan

infeksi urin.
Gangguan alat reproduksi perempuan, folikel ovarium yang pecah dapat
memberikan nyeri perut kanan bawah pada pertengahan siklus menstruasi. Tidak

ada tanda radang dan nyeri biasa hilang dalam waktu 24 jam.
Kehamilan ektopik, hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan
yang tidak jelas seperti ruptur tuba dan abortus. Kehamilan di luar rahim disertai
pendarahan menimbulkan nyeri mendadak difus di pelvic dan bisa terjadi syok

hipovolemik
Ulkus peptikum perforasi, sangat mirip dengan appendicitis jika isi

gastroduodenum mengendap turun ke daerah usus bagian kanan sekum.


Batu ureter, jika diperkirakan mengendap dekat appendiks dan menyerupai
appendicitis retrocaecal. Nyeri menjalar ke labia, skrotum, penis, hematuri, dan
terjadi demam atau leukositosis.

E. Diagnosa Appendicitis
Diagnosa yang dilakukan antara lain:
1. Pemeriksaan Fisik

Inspeksi pada appendicitis akut tidak ditemukan gambaran yang spesifik dan terlihat

distensi perut.
Palpasi pada daerah perut kanan bawah, apabila ditekan akan terasa nyeri dan bila
tekanan dilepas juga akan terasa nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan
kunci diagnosa appendicitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri
pada perut kanan bawah yang disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). Apabila
tekanan di perut kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan

bawah yang disebut tanda Blumberg (Blumberg Sign).


Pemeriksaan rektum, pemeriksaan ini dilakukan pada appendicitis untuk
menentukan letak appendiks apabila letaknya sulit diketahui. Jika saat dilakukan
pemeriksaan ini terasa nyeri, maka kemungkinan appendiks yang meradang terletak

di daerah pelvic.
Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator, pemeriksaan ini dilakukan untuk
mengetahui letak appendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan
otot psoas lewat hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul
kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks yang meradang menempel di
m. psoas mayor, maka tindakan tersebut akanmenimbulkan nyeri. Pada uji obturator
dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila
appendiks yang meradang kontak dengan obturator internus yang merupakan
dinding panggul kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri.

2. Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium, terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan C-reactive protein (CRP).
Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.00018.000/mm3 (leukositosis) dan neutrofil diatas 75%, sedangkan pada CRP
ditemukan jumlah serum yang meningkat. CRP adalah salah satu komponen protein
fase akut yang akan meningkat 4-6 jam setelah terjadinya proses inflamasi, dapat
dilihat melalui proses elektroforesis serum protein.Angka sensitivitas dan spesifisitas

CRP yaitu 80% dan 90%.


Radiologi, terdiri dari

pemeriksaan

ultrasonografi

(USG)

dan

Computed

Tomography Scanning (CT-scan). Pada pemeriksaan USG ditemukan bagian


memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks, sedangkan pada
pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan fekalith dan
perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum.

Tingkat akurasi USG 90-94% dengan angka sensitivitas dan spesifisitas yaitu 85%
dan 92%, sedangkan CT-Scan mempunyai tingkat akurasi 94-100% dengan

sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi yaitu 90-100% dan 96-97%.


Analisa urin bertujuan untuk mendiagnosa batu ureter dan kemungkinan infeksi
saluran kemih sebagai akibat dari nyeri perut bawah. Pengukuran enzim hati dan

tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan hati, dan kandung empedu


Serum Beta Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk memeriksa adanya

kemungkinan kehamilan.
Barium enema dan Colonoscopy merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan

karsinoma colon.
Pemeriksaan foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti appendicitis, tetapi
mempunyai arti penting dalam membedakan appendicitis dengan obstruksi usus
halus atau batu ureter kanan.

F. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penderita appendicitis meliputi
penanggulangan konservatif dan operasi.
1. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak
mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. Pemberian
antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada penderita appendicitis perforasi,
sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian
antibiotik sistemik.
2. Operasi
Bila diagnosa sudah tepat dan jelas ditemukan appendicitis maka tindakan
yang dilakukan adalah operasi membuang appendiks (appendektomi). Penundaan
appendektomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan
perforasi.mPada abses appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan nanah).
G. Komplikasi
Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan appendicitis. Faktor
keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis. Faktor penderita
meliputi pengetahuan dan biaya, sedangkan tenaga medis meliputi kesalahan
diagnosa, menunda diagnosa, terlambat merujuk ke rumah sakit, dan terlambat
melakukan penanggulangan. Kondisi ini menyebabkan peningkatan angka morbiditas
dan mortalitas. Proporsi komplikasi appendicitis 10-32%, paling sering pada anak
kecil dan orang tua. Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun dan 40-

75% pada orang tua. CFR komplikasi 2-5%, 10-15% terjadi pada anak-anak dan orang
tua. Anak-anak memiliki dinding appendiks yang masih tipis, omentum lebih pendek
dan belum berkembang sempurna memudahkan terjadinya perforasi,sedangkan pada
orang tua terjadi gangguan pembuluh darah. Adapun jenis komplikasi diantaranya:
1. Abses
Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa
lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa
flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila
appendicitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum.
2. Perforasi
Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri
menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal
sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. 19 Perforasi dapat diketahui praoperatif
pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit,
panas lebih dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis
terutama polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi bebas
maupunmikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.
3. Peritonitis
Peritonitis

adalah peradangan peritoneum,

merupakan

komplikasi

berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar
luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas
peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya
cairan elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria.
Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri abdomen,
demam, dan leukositosis.
H. Prognosis
Prognosis mortalitas adalah 0,1 % jika appendicitis tidak pecah, dan 15% jika
pecah pada orang tua. Kematian biasanya akibat adanya sepsis, emboli paru, atau
aspirasi. Prognosis membaik dengan diagnosis dini sebelum ruptur dan antibiotik.

I. Pencegahan Appendicitis
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer bertujuan untuk menghilangkan faktor risiko terhadap
kejadian appendicitis. Upaya pencegahan primer dilakukan secara menyeluruh
kepada masyarakat. Upaya yang dilakukan antara lain:
a. Diet tinggi serat
Berbagai penelitian telah melaporkan hubungan antara konsumsi serat dan
insidens timbulnya berbagai macam penyakit. Hasil penelitian membuktikan bahwa
diet tinggi serat mempunyai efek proteksi untuk kejadian penyakit saluran
pencernaan. Serat dalam makanan mempunyai kemampuan mengikat air, selulosa,
dan pektin yang membantu mempercepat sisi-sisa makanan untuk diekskresikan
keluar sehingga tidak terjadi konstipasi yang mengakibatkan penekanan pada
dinding kolon.
b. Defekasi yang teratur
Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi pengeluaran feces.
Makanan yang mengandung serat penting untuk memperbesar volume feces dan
makan yang teratur mempengaruhi defekasi. Individu yang makan pada waktu
yang sama setiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu, respon fisiologi pada
pemasukan makanan dan keteraturan pola aktivitas peristaltik di kolon. Frekuensi
defekasi yang jarang akan mempengaruhi konsistensi feces yang lebih padat
sehingga terjadi konstipasi. Konstipasi menaikkan tekanan intracaecal sehingga
terjadi sumbatan fungsional appendiks dan meningkatnya pertumbuhan flora
normal kolon. Pengerasan feces memungkinkan adanya bagian yang terselip masuk
ke saluran appendiks dan menjadi media kuman/bakteri berkembang biak sebagai
infeksi yang menimbulkan peradangan pada appendiks.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder meliputi diagnosa dini dan pengobatan yang tepat
untuk mencegah timbulnya komplikasi.
3. Pencegahan Tersier
Tujuan utama dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi

yang lebih berat seperti komplikasi intra-abdomen. Komplikasi utama adalah


infeksi luka dan abses intraperitonium. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka
abdomen dicuci dengan garam fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi
diperlukan perawatan intensif dan pemberian antibiotik dengan lama terapi
disesuaikan dengan besar infeksi intra-abdomen.

DAFTAR PUSTAKA
Birnbaum and Wilson S. Appendicitis At the Millenium. 2006. Available from:
http://radiology.rsnajnls.org/cgi/content/full/215/2/337 [Accessed on May 2th, 2014].
Craig, S., 2010. Acute Appendicitis. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/773895-overview [Accessed on Mays, 2th 2014].

Hartman, G. E., 2000. Apendisitis Akut. In: Nelson, W.E., Behrman, R.E., Kliegman, R.M.,
and Arvin, A.M., ed. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol. 2. Edisi 15. Jakarta: EGC, 13641366.
Itskowits, M. S., and Jones, S. M., 2010. Appendicitis. Available from:
http://www.emedmag.com/html/pre/gic/consults/101504.asp [Accessed on May, 5th 2014].
Kartono. D., 1995. Apendisitis Akuta. In: Reksoprodjo, S., dkk., ed. Kumpulan Kuliah Ilmu
Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara, 109-113.
Katz,

M.

S.,

dkk.,

2009.

Appendicitis.

Medscape.

Available

from:

http://emedicine.medscape.com/article/926795-overview [Accessed on May, 4th 2014].


Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, W. I., and Setiowulan, W., 2000. Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius.
Mazziotti, M. V., dkk., 2008. Appendicitis: Surgery Perspective. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/773896-overview [Accessed on May, 4th 2014].
Pieter, J., 2005. Usus Halus, Apendiks, Kolon, dan Anorektum. In: Sjamsuhidajat, R. and De
Jong, W., ed. Buku-Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC, 639-645.