Anda di halaman 1dari 4

MODUL 04

MODULUS PUNTIR DAN TORSI MAGNETIK


Elisabeth Medina, Isna Rizkydianita, Sandy Jaka, Irfan Abdurrahman, Muhamad Hilmi
10212028, 10212035, 10212040, 10212052, 10212057, 10212059
Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung, Indonesia
Email : elisabethmedina@students.itb.ac.id.com
Asisten : Fitri A. P. / 10211087
Tanggal Praktikum : 17 Maret 2015
Abstrak
Setiap material mempunyai karakteristiknya masing-masing yang bisa dicari dengan mengujinya menggunakan
suatupengganggu yang akan menyebabkan perubahan pada parameter tertentu dan perubahan itulah yang
akan kita ukur. Pada praktikum kali ini kita akan mencari nilai modulus puntir (shear stress) dari 3 jenis
material yang berbeda-beda. Parameter yang diukur disini adalah torsi magnetik.Percobaan dilakukan dengan
perangkat sederhanayang terdiri dari 3 batang yang berbeda jenis materialnya, katrol, dan alat pengolah data
sederhana yang terdiri dari sensor magnetik, mikrokontroller dan display. Dari hasil yang didapat, bisa
disimpulkan bahwa nilai modulus puntir relatif konstan dan berada pada orde GPa, begitu pula dengan nilai
torsi magnetik yang didapat.

Kata Kunci : GPa, modulus puntir, sensor magnetik, torsi magnetik


I. Pendahuluan
Pada praktikum kali ini, praktikan akan
melakukan percobaan untuk mencari modulus
puntir dan torsi magnetik dari suatu material
yang tidak diketahui jenisnya. Dari nilai
modulus puntir tersebut, praktikan akan bisa
menentukan sifat elastisitas bahan dan
perubahan torsi magnetik yang terjadi, serta
dapat memprediksi jenis material apakah bahan
tersebut itu.
Suatu material dapat dikarakterisasi
dengan cara diberikan suatu gaya dan
kemudian ditentukan ketahananannya terhadap
gaya tersebut. Gaya yang diberikan dapat
menekan benda, menarik benda ataupun
memuntir benda. Jika benda dikenai gaya yang
arahnya sejajar dengan permukaan benda dan
arah gaya searah permukaan, maka akan
didapatkan tahanan regangan. Kemudian ketika
suatu gaya yang diberikan tegak lurus terhadap
garis normal permukaan benda, maka akan
didapatkan tahanan puntiran.

Gambar 1. (a) tegangan merenggang (b) tegangan


menekan (c) tegangan memuntir[1]

Modulus puntir merupakan suatu


besaran yang menentukan kelebaman benda.
Semakin besar modulus puntirnya, maka benda
akan semakin sulit berdeformasi apabila diberi
tegangan memuntir. Untuk menentukan
modulus puntir dari suatu benda, dapat
digunakan persamaan :
G=
Keterangan :
G = Modulus puntir (Pa)
F = Gaya yang diberikan (N)
Lo = Panjang awal benda (m)
A = Luas permukaan (m2)
L = Perubahan panjang benda (m)

(1)

Pada praktikum kali ini akan


digunakan flat coil sensor untuk menentukan
besar perubahan panjang. Flat coil sensor ini
bekerja dengan cara menangkap pengaruh
magnetik yang dibentuk terhadap elemen
pengganggu (sumber magnet) di sekitar tempat
batang di puntir. Pengaruh tersebutlah yang
akan
dijadikan
sebagai
error
yang
diperhitungkan kemudian di bagian pengolahan
data.
II. Metode Percobaan
Percobaan dilakukan dengan mengeset
alat yang terdiri dari batang, katrol, sensor
magnetik serta alat pengolah data. Terdapat 3
batang yang tidak diketahui jenis bahannya.
Untuk menentukan modulus puntir bahan,
batang diberi torsi dengan variasi massa dari
500 gram sampai 3000 gram (per 500 gram).
Kemudian
dihitung
modulus puntirnya.
Modulus puntir dihitung otomatis oleh
mikrokontroller, praktikan hanya perlu
menginput data-data seperti massa, panjang
batang dan massa batang yang telah diukur
terlebih dahulu sebelumnya.
Untuk menentukan torsi magnetik
yang diberikan pada batang, gunakan data
modulus puntir pada percobaan
sebelumnya
dan kemudian batang diberi massa 1 kg,
kemudian
divariasikan
jarak
antara
pengganggu dan sensor magnetiknya sebanyak
5 kali. Dari metode ini, kemudian dapat
ditentukan nilai torsi magnetiknya. Torsi
magnetik ini juga dihitung otomatis oleh
mikrokontroller, praktikan hanya perlu
memasukkan data seperti panjang batang, jarijari dan modulus puntir yang didapat dari
percobaan sebelumnya.
Hipotesisnya adalah akan didapat nilai
modulus puntir modulus yang cukup
besar (orde
GPa) karena
batang
yang
digunakan terbuat dari logam (rata-rata
modulus puntir logam berorde GPa). Selain
itu,diduga nilai torsi magnetik yang didapatkan

akan bernilai relatif konstan untuk variasi nilai


jarak antara gangguan dan sensor.
III. Data dan Pengolahan
1. Dimensi Bahan
Tabel 1. Dimensi Batang

Panjang (cm)
Diameter (mm)
Jari-Jari (mm)

Batang
1
51
4.31
2.155

Batang
2
51.2
4.4
2.2

Batang
3
50.7
5.43
2.715

2. Modulus Puntir
Tabel 2. Modulus Puntir

Massa /
Modulus Puntir (GPa)
Beban
Batang
(kg)
Batang 1
2
Batang 3
0.5
96.4253 96.7016 97.2542
1
96.7016 96.5635 97.2542
1.5
96.7016 96.9779 97.2542
2
96.5635 96.7016 97.1161
2.5
96.5635 96.8398 96.8319
3
96.1491 96.8398 96.9779
Rata-Rata 96.51743 96.7707 97.11475

Grafik 1. Modulus Puntir


Tabel 3. Persamaan dan R-Square Modulus

Batang
1
2
3

Puntir
Persamaan
f(x) = -0.1105x + 96.71
f(x) = 0.07106x + 96.65
f(x) = -0.1592x + 97.39

3. Torsi Magnetik
Tabel 4. Tabel Torsi Magnetik

R-Square
0.247
0.2105
0.7062

Batang

Jarak
Jarak
Torsi
Sensor Pengganggu x Magnetik
(cm)
(cm)
(Nm)
10
30
20 0.028565
15
30
15 0.029192
20
30
10 0.029192
25
30
5 0.029402
30
30
0 0.025512
10
30
20 0.028773
15
30
15 0.029192
20
30
10 0.029402
25
30
5 0.029192
30
30
0 0.027328
10
30
20 0.148846
15
30
15 0.147782
20
30
10 0.147782
25
30
5 0.145665
30
30
0 0.131178

IV. Pembahasan
Pada teorinya, penambahan beban
yang dilakukan tidak akan mempengaruhi nilai
dari modulus puntir. Data yang telah kami
peroleh terlihat sudah sesuai dengan teori
tersebut, hanya terdapat perubahan kecil dari
setiap penambahan beban. Hal ini dikarenakan
nilai modulus puntir sebanding dengan gaya
yang bekerja pada batang dan berbanding
terbalik dengan deformasi logam (dalam
praktikum ini dinyatakan dengan sudut puntir).
Modulus puntir adalah karakteristik intrinsik
dari suatu bahan jadi seharusnya tidak bisa
dipengaruhi oleh suatu variabel tertentu. Ini
berarti meskipun gaya yang diberikan besar, di
saat yang bersamaan deformasi logam pun ikut
membesar sehingga nilai modulus puntir pada
batang cenderung konstan. Jika merujuk pada
rumus (1), maka konstanta A (konstanta pada
gradien) merepresentasikan panjang batang
mula-mula per volume, secara singkat bisa
diartikan konstanta A adalah besarnya
perubahan panjang ketika bahan diberi
tegangan merenggang. Konstanta A yang kami

dapat yang bernilai menuju 0 menunjukkan


bahwa grafik datar yang berarti bahwa nilai
modulus puntir konstan.
Material batang uji sangat berpengaruh
terhadap nilai modulus puntir. Secara umum,
semakin besar rapat jenis dari suatu benda
maka modulus puntir yang dihasilkan juga
semakin besar. Elastisitas dari suatu benda juga
sangat berpengaruh terhadap nilai modulus
puntir. Dari data yang didapat, ketiga batang
mempunya modulus puntir kurang lebih 90
GPa. Menurut referensi[2], material yang
mempunyai GPa sebesar 90-100 adalah
berilium (110 GPa). Ini tidak sesuai dengan
kenyataannya dimana batang tersebut adalah
batang besi, kuningan dan stainless steel.
Idealnya, radius yang semakin besar
akan membuat modulusnya semakin kecil,
sedangkan panjang batang akan berdampak
pada semakin besarnya modulus puntir, sesuai
dengan rumus (1). Namun sayangnya,
mikrokontroller yang digunakan tidak dapat
diinput nilai pecahan (harus bilangan bulat)
yang menyebabkan galat hasilnya besar dan
seolah-olah modulus puntir antar batang yang
berdiameter beda hampir sama.
Pengaruh jarak antara sensor dan elemen
pengganggu memepengaruhi nilai torsi yang diperoleh.
Secara umum seharusnya ketika jarak antarsensor dan
elemen pengganggu semakin jauh,maka torsi yang
terukur akan semakin besar.Hal ini disebabkan karena
semakin besar jarak,akan menyebabkan semakin
besarnya momen dan mengakibatkan torsi semakin
besar.
Proses penerimaan sinyal dari sensor
didapatkan dengan mengubah jarak antara
elemen pengganggu dengan sensor. Apabila
didapat torsi yang lebih besar, maka
elemen pengganggu dan torsi akan semakin
terpisah. Hal ini menyebabkan semakin
sedikitnya medan magnet yang terukur dan
menyebabkan tegangan yang terukur semakin
kecil. Dari sini,sinyal kemudian masuk ke
dalam mikrokontroller dan diolah dengan ADC

untuk kemudian ditampilkan pada display yang


ada. Pada rangkaian antar pengganggu dengan
sensor diatur jaraknya berbeda 10 cm. Ini
merupakan jarak optimal dimana mereka tidak
terlalu
dekat
sehingga
mengganggu
pengukuran dan tidak terlalu jauh sehingga
errornya besar.
Cara kerja sensor adalah
dengan
menggunakan
2
buah
permukaan.
Permukaan pertama adalah lilitan kawat dan per
mukaan kedua adalah plat konduktor. Pada koil
kemudian dialiri arus dan menyebabkan medan magnet.
Kemudian elemen penganggu (plat konduktor) dibuat
berubah-ubah jaraknya terhadap permukaan pertama.
Hal ini menyebabkan adanya perbedaan induktansi
medan magnet yang kemudian tertangkap oleh sensor.
Hasil yang didapat berbeda jauh dengan
referensi. Bedanya bisa berkisar sekitar 20 GPa. Hal ini
bisa dikarenakan keadaan alat yang sudah tidak optimal.
Sebelum kami melakukan praktikum ini, sudah
dilakukan beberapa kali praktikum yang sama.
Praktikum sebelum-sebelumnya ini bisa menyebabkan
batang yang terpuntir berada pada keadaan plastis
dimana batang sudah tidak pada keadaan elastis lagi
(tidak bisa kembali ke bentuk asal) sebelum akhirnya
mencapai breakdown. Inilah yang menyebabkan nilai
modulus puntirnya berbeda, selain karena
ketidakakuratan mikrokontroller yang inputnya harus
pembulatan.
Pada proses input data parameter pada
alat, digunakan keypad. Input angka pada
keypad ini diatur oleh mikrokontroller. Pada
prinsipnya, mikrokontroller dapat mengatur
input serta output. Pembacaan keypad dapat
dilakukan dengan cara scanning, artinya pada
kolom dibuat seluruhnya high dan kemudian
pada kolom dibuat low secara bergantian dan
cepat. Ketika tombol pada keypad ditekan,
maka baris akan menjadi low. Perubahan low
ini yang kemudian dideteksi berapa pada
kolom dan baris keberapa. Oleh karena satu
karakter pada keypad memiliki letak kolom
dan baris yang spesifik, maka dapat ditentukan
tombol mana yang ditekan. Kemudian setelah

mikrokontroller mengetahui tombol mana yang


ditekan, display akan menampilkan tombol
yang
ditekan
atas
perintah
dari
mikrokontroller.
Jika pada proses pengukuran terdapat
hasil yang fluktuatif, ada baiknya seluruh data
yang fluktuatif tersebut diambil dan dihitung
mean ataupun distribusinya sehingga akan
terlihat nilai mana yang dominan dan akurat
untuk diambil sebagai nilai sesungguhnya.
V. Kesimpulan
Dari percobaan yang sudah dilakukan
dapat disimpulkan bahwa modulus puntir
menyatakan nilai ketahanan suatu material
terhadap puntiran yang nilainya konstan (tidak
dipengaruhi massa) karena merupakan
karakteristik intrinsic bahan tetapi dipengaruhi
oleh panjang dan jari-jari bahan tersebut. Pada
prosesnya hasil yang didapat bisa saja tidaqk
akurat karena bahan sudah tidak pada kondisi
elastis.
VI. Pustaka
[1]http://www.unhas.ac.id/mkufisika/bab5/md5
a.html
[2]http://ocw.mit.edu/courses/materialsscience-and-engineering/3-11-mechanics-ofmaterials-fall-1999/modules/props.pdf