Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum KI2241

Energetika Kimia
Percobaan E-3
DIAGRAM TERNER : Sistem Zat Cair Tiga Komponen

Nama

: Lutvia Putri Septiane

NIM

: 10513029

Kelompok

: III

Tanggal Percobaan

: 25 Maret 2015

Tanggal Pengumpulan

: 01 April 2015

Asisten

: Afiq Fikri / 101513083


Anton / 201511011

LABORATORIUM KIMIA FISIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

I. JUDUL PERCOBAAN
Diagram Terner : Sistem Zat Cair Tiga Komponen
II. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan kelarutan dan membuat kurva kelarutan suatu cairan yang terdapat dalam
campuran dua cairan tertentu
III.DASAR TEORI
Berdasarkan hukum fasa Gibbs, jumlah terkecil variabel bebas (varian) yang
diperlukan untuk menyatakan suatu sistem dengan tepat pada kesetimbangan diungkapkan
sebagai V= C P + 2. Dalam ungkapan tersebut, kesetimbangan fasa dipengaruhi oleh suhu,
tekann, dan komposisi sistem. Jika sistem hanya terdapat satu fasa, maka V= 2, jadi untuk
menyatakan keadaan sistem dengan tepat, hanya perlu menyatakan konsentrasi dua
komponennya, karena konsentrasi komponen ketiga menjadi tertentu oleh hubungan (x1 + x2 +
x3 = 1). Bila dalam sistem terdapat dua fasa dalam keadaan kesetimbangan, V= 1, berarti
hanya satu komponen yang harus ditentukan konsentrasinya dan konsentrasi komponen yang
lain sudah tertentu berdasarkan diagram fasa untuk sistem tersebut.
Oleh karena itu, untuk sistem tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap mempunyai
derajat kebebasan maksimum= 2, maka diagram fasa sistem ini dapat digambrakan dalm satu
bhidang datar berupa suatu segitiga sama sisi yang disebut diagram terner. Diagram terner
merupakan suatu diagram fasa berbentuk segitiga sama sisi dalam satu bidang datar yang
dapat menggambarkan sistem tiga komponen zat dalam berbagai fasa. Diagram fasa yang
digambarkan sebagai segitiga sama sisi menjamin dipenuhinya sifat ini secara otomatis sebab
jumlah jarak ke sebuah titik didalam segitiga sama sisi yang diukur sejajar dengan sisi-sisinya
sama dengan panjang sisi segitiga itu yang dapat diambil sebagai satuan panjang. Tiap sudut
segitiga tersebut menyatakan masing-masing komponen dalam keadaan murni. Jumlah fasa
dalam sistem zat cair tiga komponen bergantung pada daya saling larut antara zat cair
tersebut dan suhu percobaan.

IV. ALAT DAN BAHAN


A. Alat

1. Labu Erlenmeyer 250 mL (13 buah)


2. Buret 50 mL
3. Klem + statif
4. Pipet volume 25 mL, 50 mL
5. Pipet ukur 25 mL
6. Botol semprot
7. Piknometer
8. Gelas ukur
9. Gelas kimia
10. Pipet tetes
11. Batang pengaduk kaca
B.

Bahan
1. Metanol
2. Klorometana
3. Toluena
4. Aseton
5. Air atau aqua dm
6. Kertas isap atau tissue
7. Asam asetat glasial
V. CARA KERJA
A. Penentuan Volume Piknometer dan

Larutan

Pertama, disiapkan piknometer, tissue atau kertas isap dan aqua dm. Piknometer
dibersihkan dan dikeringkan terlebih dahulu. Piknometer yang akan digunakan harus benarbenar bersih dan kering, serta tidak boleh langsung terkena oleh tangan, sehingga piknometer
harus dipegang menggunakan tisuue atau kertas isap. Setelah piknometer bersih dan kering,
massa piknometer yang kosong ditimbang.
Setelah itu, piknometer diisi dengan air sampai penuh. Dan ketika tutup piknometer
dimasukkan, tutup piknometer jangan ditekan dan dibiarkan jatuh dan menutupi piknometer.
Dengan hati-hati dan tetap memegang piknometer dengan menggunakan tissue atau kertas
isap. Piknometer yang berisi air tersebut ditimbang dan dicatat massanya. Dilakukan
pengerjaan yang sama dengan larutan metanol, klroform dan toluena. Suhu pada saat
pengerjaan juga harus dicatat.
B. Diagram Terner Sistem Zat Cair Tiga Komponen
Pada percobaan ini, digunakan labu Erlenmeyer yang bersih, kering dan tertutup.
Untuk memastikan setiap labu Erlenmeyer bersih dan kering dari air, maka labu Erlenmeyer
dibilas terlebih dahulu dengan sedikit aseton, sedangkan untuk penutupnya, digunakan
aluminium foil. Ke dalam Erlenmeyer yang bersih, kering dimasukkan campuran larutan A
dan C dengan komposisi sebagai berikut:
Labu
mL A
mL C

1
2
18

2
4
16

3
6
14

4
8
12

5
10
10

6
12
8

7
14
6

8
16
4

9
18
2

Larutan A merupakan metanol, sedangkan larutan C merupakan toluena atau kloroform


(dipilih salah satu). Semua larutan yang diisi, pengukurannya dapat menggunakan buret atau
pipet volume. Setelah labu Erlenmeyer berisi masing-masing campuran, maka tiap labu
Erlenmeyer harus ditutup dengan aluminium foil.
Selanjutnya tiap campuran dalam labu 1 sampai 9 dititrasi dengan menggunakan
larutan B, dalam percobaan ini adalah air sampai tepat timbul keruh. Volume air yang
digunakan untuk titrasi dicatat. Titrasi dilakukan dengan perlahan-lahan.
Pada percobaan ini, suhu awal dan akhir percobaan juga dicatat.
VI. DATA PENGAMATAN

A. Penentuan Volume Piknometer dan

Larutan

1) Hasil Pengukuran Piknometer


Piknometer
Piknometer kosong
Piknometer + air
Piknometer + metanol
Piknometer + toluena
Piknometer + kloroform

Massa (gram)
1
2
19,14 19,30
45,04 44,98
39,65 39,76
41,29
57,23

2) Suhu Percobaan
Keadaan

Suhu (
)

Sebelum percobaan
Sesudah percobaan

25
25

B. Diagram Sistem Zat Cair Tiga Komponen


Hasil titrasi yang diperoleh adalah:
1) Sistem Metanol Kloroform Air
Labu
Metanol (mL)
Kloroform (mL)
Air (mL)

1
2
18
1

2
4
16
0,7

3
6
14
1,3

4
8
12
2,2

5
10
10
3,5

6
12
8
4,1

7
14
6
7

8
16
4
10,5

9
18
2
15,4

8
16
4

9
18
2

2) Sistem Metanol Toluena Air


Labu
Metanol (mL)
Toluena (mL)

1
2
18

2
4
16

3
6
14

4
8
12

5
10
10

6
12
8

7
14
6

Air (mL)

0,1

0,3

0,5

0,6

0,9

1,4

1,9

3,3

5,4

VII.
PENGOLAHAN DATA
Data yang diolah adalah percobaan pada sistem metanol kloroform air
A. Penentuan Volume Piknometer
kg
air pada suhu 26,27
26,3 = 997,0480
3
1.
(diperoleh
m
dari literatur)
= 0,9970480

gram
3
cm

= 0,9970480

gram
mL

massa air
(25 )

2. Vpiknometer =
Vpiknometer =

m piknometer + air m piknometer kosong


(25 )

Vpiknometer =

45,04 gram 19,14 gram


gram
0,9970480
mL

Vpiknometer = 25,97668317 mL
B. Penentuan

Larutan

Dengan menggunakan persamaan berikut ini, dapat ditentukan

masing-masing larutan:
W ( piknometer + zat)W ( piknometer kosong)
larutan
=
V piknometer
1. Larutan Metanol
massa Metanol
Metanol
=
V piknometer
Metanol

W ( piknometer + zat)W ( piknometer kosong)


V piknometer

Metanol

39,65 gram 19,14 gram


25,97668317 mL

2. Larutan Kloroform

= 0,789554227

gram
mL

(massa jenis) dari

Kloroform

massa Metanol
V piknometer

W ( piknometer + zat)W ( piknometer kosong)

Kloroform

Kloroform

V piknometer
57,23 gram 19,14 gram
25,97668317 mL

Piknometer

gram
mL

= 1,466314993

Massa (gram)

gram
mL

(
)

Piknometer kosong
Piknometer + metanol
Piknometer + kloroform

19,14
39,65
57,23

0,789554227
1,466314993

C. Penentuan Mol Larutan


Dengan menggunakan persamaan berikut, maka dapat ditentukan mol dari masingmasing larutan:
larutan x V larutan
Mollarutan =
Mr larutan
1) Larutan Air
larutan x V larutan
MolAir =
Mr larutan
MolAir =

Air x V Air
Mr Air
gram
x 1 mL
mL
gram
18,015
mol

0,9970480
MolAir =

MolAir = 0,05534543436 mol

Labu
Air (mL)
Mol Air
(mol)

1
1
0,055345

2
0,7
0,03874
2

3
1,3
0,071949

4
2,2
0,1217
6

5
3,5
0,193709

6
4,1
0,22691
6

7
7

8
10,5

9
15,4

0,387418 0,581127 0,85232

2) Larutan Metanol
larutan x V larutan
Mollarutan =
Mr larutan
Metanol x V Metanol
Mr Metanol

MolMetanol =

gram
x 2 mL
mL
gram
32,042
mol

0,789554227
MolMetanol =

MolMetanol = 0,04928245596 mol

Labu
Metanol (mL)
Mol Metanol
(mol)

1
2

2
4

3
6

4
8
0,1971
3

0,049282 0,098565 0,147847

5
10

6
12

7
14

0,246412 0,295695 0,344977

8
16
0,3942
6

9
18
0,443542

3) Larutan Kloroform
larutan x V larutan
Mollarutan =
Mr larutan
MolKloroform =

Kloroform x V Kloroform
Mr Kloroform
gram
x 18 mL
mL
gram
119,378
mol

1,466314993
MolKloroform =

MolKloroform = 0,221093249 mol

Labu
Klorofor
m (mL)
Mol
Klorofor
m (mol)

18

16

14

12

10

0,22109
3

0,19652
7

0,17196
1

0,14739
5

0,1228
3

0,09826
4

0,07369
8

0,04913
2

0,024566

D. Penentuan Fraksi Mol Larutan (Xlarutan)


Dengan menggunakan persamaan berikut, maka dapat ditentukan mol dari masingmasing larutan:

mollarutan
moltotal

Fraksi Mol larutan =


Fraksi Mol larutan =

mol larutan
mollarutan1 +mol larutan2 +mollarutan 3

1) Fraksi Mol Air


(i)
Moltotal = MolAir + MolMetanol + Molkloroform
Moltotal = 0,055345 + 0,049282 + 0,221093
Moltotal = 0,32572 mol
mol Air
(ii)
Fraksi mol Air = moltotal
Fraksi mol Air =

0,055345
0,055345

= 0,169916

2) Fraksi Mol Metanol


(i)
Moltotal = MolAir + MolMetanol + Molkloroform
Moltotal = 0,055345 + 0,049282 + 0,221093
Moltotal = 0,32572 mol
mol Metanol
(ii)
Fraksi mol Metanol =
moltotal
Fraksi mol Metanol =

0,049282
0,055345

= 0,151302

3) Fraksi Mol Kloroform


(i)
Moltotal = MolAir + MolMetanol + Molkloroform
Moltotal = 0,055345 + 0,049282 + 0,221093
Moltotal = 0,32572 mol
mol Kloroform
(ii)
Fraksi mol Kloroform =
moltotal
Fraksi mol Kloroform =

Labu
Mol Air
(mol)
Mol Metanol
(mol)
Mol

1
0,05534
5
0,04928
2
0,22109

2
0,03874
2
0,09856
5
0,19652

3
0,07194
9
0,14784
7
0,17196

0,221093
0,055345

4
0,12176
0,19713
0,14739

= 0,678782

5
0,19370
9
0,24641
2
0,12283

6
0,22691
6
0,29569
5
0,09826

7
0,38741
8
0,34497
7
0,07369

8
0,58112
7
0,39426
0,04913

9
0,85232
0,44354
2
0,02456

Kloroform
(mol)
Mol Total
(mol)
Fraksi mol
Air
Fraksi mol
Metanol
Fraksi mol
Kloroform

3
0,32572
0,16991
6
0,15130
2
0,67878
2

0,33383
4
0,11605
2
0,29525
2
0,58869
7

0,39175
7
0,18365
7
0,37739
5
0,43894
8

0,46628
5
0,26112
8
0,42276
7
0,31610
5

0,56295
1
0,34409
6
0,43771
5
0,21819

0,62087
5
0,36547
8
0,47625
5
0,15826
7

0,80609
3
0,48061
2
0,42796
2
0,09142
6

1,02451
9
0,56721
9
0,38482
4
0,04795
6

1,32042
8
0,64548
8
0,33590
8
0,01860
5

E. Diagram Terner
(terlampir di lampiran)

VIII.
PEMBAHASAN
(terlampir, ditulis tangan)
IX. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dapat dihasilkan
diagram terner dari sistem metanol air kloroform dan sistem metanol air toluene yang
telah dilampirkan dalam laporan ini. Serta hubungan kelarutan pada sistem metanol air
kloroform adalah jika metanol dan air dicampur, maka akan tercampur atau membentuk satu
fasa, tapi ketika dititrasi dengan kloroform ataupun toluena akan membentuk campuran dua
fasa. Semakin sedikit jumalh kloroform atau toluena yang ditmabhkan dalam campuran, maka
akan semakin banyak volume air yang digunakan untuk mentitrasi campuran.
X. SARAN

XI. DAFTAR PUSTAKA


Atkins, Petter, dan Julio de Paula, Physical Chemistry, 8 th Ed, W. H. Freeman and
Company, New York. 2006, hlm. 112-124
David R. Lide, ed., CRC Press/Taylor and Francis, Boca Raton, FL CRC Handbook of
Chemistry and Physics, 89th Edition (Internet Version 2009).
R. J. Stead dan K. Stead, 1990. Phase Diagram for Ternery Liquid System, J. Chem. Educ.
67:385
Selvaduray, Guna, San Joe University, One Washington, San Joe, USA,
www.sjsu.educ/faculty/selvaduray/page/phase/ternary_p_d.pdf

LAMPIRAN
1. Data Pengamatan
2. Diagram Terner Sistem Metanol Kloroform Air
3. Diagram Terner Sistem Metanol Toluena - Air
air
4. Data
dalam berbagai suhu, Mr air, Metanol, Kloroform, dan Toluena
5. Gambar sebelum campuran dititrasi dan sesudah dititrasi (Sistem Metanol Kloroform
Air)

Sebelum titrasi

Sesudah titrasi