Anda di halaman 1dari 5

1. Kenapa pada percobaan ini menggunakan cobalt, radium dan ameresium?

Karena cobalt memancarkan radiasi gamma, radium dan ameresium memancarkan


radiasi alpha. Kita ketahui bahwa detektor geiger muller yang hanya dapat mendeteksi
radiasi alpha dan beta, namun pada kondisi tertentu dapat digunakan mengukur radiasi
gamma sehingga hal tersebutlah yang mendasari praktikan menggunakan bahan
tersebut dan juga di Laboraturium MIPA UNSRI hanya terdapat bahan tersebut.
2. Apa manfaat melakukan percobaan statistik cacahan radiasi ini?
Seperti halnya telah dirumus kan pada rumusan masalah dalam percobaan ini bahwa
ada 3 hal yang mendasari peneliti untuk melakukan percobaan ini yaitu, untuk
mengetahui ada tidaknya cacahan radiasi pada bahan tersebut, kemudian
menggambarkan daerah plateau dan menentukan tegangan kerja detektor agar
mengetahui seberapa baik detektor tersebut dan juga menentukan statistik cacahan
radiasi untuk melihat bagaimana sebaran data cacahan yang diperolah dan mengikuti
pola distribusi apa serta resolving time dengan menggunakan detektor Geiger Muller
diperuntukan menentukan koreksi laju cacahan pada saat detektor mencacah 2 zarah
radiasi yang berdekatan.
3. Mengapa menggunakan detektor Geiger Muller?
Karena detektor geiger muller merupakan jenis detektor isian gas
tegangan akan mengakibatkan proses ionisasi yang terjadi
dalam detektor menjadi jenuh. Pulsa yang dihasilkan tidak lagi
bergantung pada ionisasi mula-mula maupun jenis radiasi. Jadi, radiasi jenis apapun
akan menghasilkan keluaran sama.
Detektor GM hanya dipakai untuk mengetahui ada tidaknya radiasi.
Keuntungan dalam pengoprasian GM ini adalah denyut out put sangat tinggi,
sehingga tidak diperlukan penguat (amplifier) atau cukup digunakan penguat yang
biasa saja.
4. Bisakah radiasi alpha, beta dan gamma terjadi secara bersamaan?
Menurut saya bisa karena kebanyakan bahan Radioaktif tidak langsung berubah ke
bentuk stabilnya, namun secara bertahap meluruh ke bentuk isotop lain yang
mengikuti rantai peluruhan tertentu. Misalnya saja Radium.
Radium 226 meluruh ke bentuk isotopnya Radon 222, dilanjutkan ke Polonium 218,
ke Timah 214 dan begitu seterusnya sampai ke bentuk isotop-isotop stabil lain,
dimana setiap kali terjadi proses peluruhan, isotop memancarkan energi radiasi sesuai
dengan mode peluruhan yang terjadi. Mode peluruhan tersebut dapat berupa radiasi
Alpha (), Beta () ataupun Gamma ().
5. Apa tujuan orang membuat bahan radioaktif buatan?
6. Mengapa perlu mempelajari fisika inti atau radiasi?
Dengan banyaknya pertanyaan mengenai inti bukan berarti manusia tidak bisa
memanfaatkan potensi inti tersebut. Sudah berpuluh tahun manusia memanfaat
potensi energi yang dihasilkan dari reaksi fissi (pembelahan) inti uranium dan
plutonium. Penemuan ini juga berasal dari coba-cobanya para ilmuan menembakkan
neutron ke inti untuk mendapatkan inti baru, namun pada bebarapa inti berat hal itu

menyebabkan inti menjadi pecah (terbagi) sekaligus melepaskan neutron lain yang
konsekuensinya menimbulkan panas disekitarnya. panas ini kemudian di ambil
dengan menempatkan reaksi tersebut didalam air , air yang panas tadi dimanfaatkan
untuk menggerakkan turbin. untuk bagian turbinnya hampir sama dengan pembangkit
listrik tenaga uap. Namun selain panasnya yang diambil, neutron yang lepas ini juga
dimanfaatkan untuk banyak hal, seperti untuk mengukur dimensi dari suatu zat, untuk
memutasikan tumbuhan agar didapatkan bibit unggul dan lain sebagainya.
Beberapa jenis radiasi memiliki energi yang cukup untuk mengionisasi partikel.
Secara umum, hal ini melibatkan sebuah elektron yang 'terlempar' dari cangkang atom
elektron, yang akan memberikan muatan (positif). Hal ini sering mengganggu dalam
sistem biologi, dan dapat menyebabkan mutasi dan kanker.
Jenis radiasi umumnya terjadi di limbah radioaktif peluruhan radioaktif dan sampah.
Tiga jenis utama radiasi ditemukan oleh Ernest Rutherford, Alfa, Beta, dan sinar
gamma. radiasi tersebut ditemukan melalui percobaan sederhana, Rutherford
menggunakan sumber radioaktif dan menemukan bahwa sinar menghasilkan
memukul tiga daerah yang berbeda. Salah satu dari mereka menjadi positif, salah satu
dari mereka bersikap netral, dan salah satu dari mereka yang negatif. Dengan data ini,
Rutherford menyimpulkan radiasi yang terdiri dari tiga sinar. Beliau memberi nama
yang diambil dari tiga huruf pertama dari abjad Yunani yaitu alfa, beta, dan gamma.
7. Apa yang membedakan detektor geiger muller dengan detektor lain?
Detektor isian gas
Detektor terdiri dari sebuah tabung berdinding logam sebagai katode yang
diisi gas dan mempunyai kawat di tengahnya sebagai anode.

Detektor sintilasi
Detektor zat padat

Radiasi
Dalam fisika, radiasi mendeskripsikan setiap proses di mana energi bergerak melalui
media atau melalui ruang, dan akhirnya diserap oleh benda lain. Orang awam sering
menghubungkan kata radiasi ionisasi (misalnya, sebagaimana terjadi pada senjata
nuklir, reaktor nuklir, dan zat radioaktif), tetapi juga dapat merujuk kepada radiasi
elektromagnetik (yaitu, gelombang radio, cahaya inframerah, cahaya tampak, sinar
ultra violet, dan X-ray), radiasi akustik, atau untuk proses lain yang lebih jelas. Apa
yang membuat radiasi adalah bahwa energi memancarkan (yaitu, bergerak ke luar
dalam garis lurus ke segala arah) dari suatu sumber. geometri ini secara alami
mengarah pada sistem pengukuran dan unit fisik yang sama berlaku untuk semua jenis
radiasi. Beberapa radiasi dapat berbahaya.

Gambar1. Radiasi alpha, beta, dan Gamma


Radiasi Ionisasi
Beberapa jenis radiasi memiliki energi yang cukup untuk mengionisasi partikel.
Secara umum, hal ini melibatkan sebuah elektron yang 'terlempar' dari cangkang atom
elektron, yang akan memberikan muatan (positif). Hal ini sering mengganggu dalam
sistem biologi, dan dapat menyebabkan mutasi dan kanker.
Jenis radiasi umumnya terjadi di limbah radioaktif peluruhan radioaktif dan sampah.
Tiga jenis utama radiasi ditemukan oleh Ernest Rutherford, Alfa, Beta, dan sinar
gamma. radiasi tersebut ditemukan melalui percobaan sederhana, Rutherford
menggunakan sumber radioaktif dan menemukan bahwa sinar menghasilkan
memukul tiga daerah yang berbeda. Salah satu dari mereka menjadi positif, salah satu
dari mereka bersikap netral, dan salah satu dari mereka yang negatif. Dengan data ini,
Rutherford menyimpulkan radiasi yang terdiri dari tiga sinar. Beliau memberi nama
yang diambil dari tiga huruf pertama dari abjad Yunani yaitu alfa, beta, dan gamma.
peluruhan alfa
1. Radiasi alpha ()
Peluruhan Alpha adalah jenis peluruhan radioaktif di mana inti atom memancarkan
partikel alpha, dan dengan demikian mengubah (atau 'meluruh') menjadi atom dengan
nomor massa 4 kurang dan nomor atom 2 kurang.
Namun, karena massa partikel yang tinggi sehingga memiliki sedikit energi dan jarak
yang rendah, partikel alfa dapat dihentikan dengan selembar kertas (atau kulit).
2. Radiasi beta ()
peluruhan beta adalah jenis peluruhan radioaktif di mana partikel beta (elektron atau
positron) dipancarkan. Radiasi beta-minus ()terdiri dari sebuah elektron yang penuh
energi. radiasi ini kurang terionisasi daripada alfa, tetapi lebih daripada sinar gamma.
Elektron seringkali dapat dihentikan dengan beberapa sentimeter logam. radiasi ini
terjadi ketika peluruhan neutron menjadi proton dalam nukleus, melepaskan partikel
beta dan sebuah antineutrino.
Radiasi beta plus (+) adalah emisi positron. Jadi, tidak seperti , peluruhan + tidak
dapat terjadi dalam isolasi, karena memerlukan energi, massa neutron lebih besar
daripada massa proton. peluruhan + hanya dapat terjadi di dalam nukleus ketika nilai
energi yang mengikat dari nukleus induk lebih kecil dari nukleus. Perbedaan antara
energi ini masuk ke dalam reaksi konversi proton menjadi neutron, positron dan
antineutrino, dan ke energi kinetik dari partikel-partikel
3. Radiasi gamma ()

Radiasi gamma atau sinar gamma adalah sebuah bentuk berenergi dari radiasi
elektromagnetik yang diproduksi oleh radioaktivitas atau proses nuklir atau subatomik
lainnya seperti penghancuran elektron-positron. Radiasi gamma terdiri dari foton
dengan frekuensi lebih besar dari 1019 Hz. Radiasi gamma bukan elektron atau
neutron sehingga tidak dapat dihentikan hanya dengan kertas atau udara, penyerapan
sinar gamma lebih efektif pada materi dengan nomor atom dan kepadatan yang tinggi.
Bila sinar gamma bergerak melewati sebuah materi maka penyerapan radiasi gamma
proporsional sesuai dengan ketebalan permukaan materi tersebut.
Detektor Geiger-Muller
Pencacah Geiger, atau disebut juga Pencacah Geiger-Mller adalah sebuah alat
pengukur radiasi ionisasi. Pencacah Geiger bisa digunakan untuk mendeteksi radiasi
alpha dan beta. Sensornya adalah sebuah tabung Geiger-Mller, sebuah tabung yang
diisi oleh gas yang akan bersifat konduktor ketika partikel atau foton radiasi
menyebabkan gas (umumnya Argon) menjadi konduktif. Alat tersebut akan
membesarkan sinyal dan menampilkan pada indikatornya yang bisa berupa jarum
penunjuk, lampu atau bunyi klik dimana satu bunyi menandakan satu partikel. Pada
kondisi tertentu, pencacah Geiger dapat digunakan untuk mendeteksi radiasi gamma,
walaupun tingkat reliabilitasnya kurang. Pencacah geiger tidak bisa digunakan untuk
mendeteksi neutron.
1. Katoda yaitu dinding tabung logam yang merupakan elektroda negatif. Jika tabung
terbuat dari gelas maka dinding tabung harus dilapisi logam tipis.
2. Anoda yaitu kawat tipis atau wolfram yang terbentang di tengah - tengah tabung. Anoda
sebagai elektroda positif.
3. Isi tabung yaitu gas bertekanan rendah, biasanya gas beratom tunggal dicampur gas
poliatom (gas yang banyak digunakan Ar dan He).

Prinsip Kerja Detektor Geiger Muller


Detektor Geiger Muller meupakan salah satu detektor yang berisi gas. Selain Geiger
muller masih ada detektor lain yang merupakan detektor isiann gas yaitu detektor
ionisasi dann detektor proporsional. Ketiga macam detektor tersebut secara garis
besar prinsip kerjanya sama, yaitu sama-sama menggunakan medium gas.
Perbedaannya hanya terletak pada tegangan yang diberikan pada masing-masing
detektor tersebut.
Apabila ke dalam tabung masuk zarah radiasi maka radiasi akan mengionisasi gas
isian. Banyaknya pasangan eleklron-ion yang lerjadi pada deleklor Geiger-Muller
tidak sebanding dengan tenaga zarah radiasi yang datang. Hasil ionisasi ini disebul
elektron primer. Karena antara anode dan katode diberikan beda tegangan maka akan
timbul medan listrik di antara kedua eleklrode tersebut. Ion positif akan bergerak
kearah dinding tabung (katoda) dengan kecepatan yang relative lebih lambat bila
dibandingkan dengan elektron-elektron yang bergerak kea rah anoda (+) dengan
cepat. Kecepatan geraknya tergantung pada besarnya tegangan V. sedangkan besarnya

tenaga yang diperlukan untuk membentukelektron dan ion tergantung pada macam
gas yang digunakan. Dengan tenaga yang relatif tinggi maka elektron akan mampu
mengionisasi atom-atom sekitarnya. sehingga menimbulkan pasangan elektron-ion
sekunder. Pasangan elektron-ion sekunder inipun masih dapat menimbulkan pasangan
elektron-ion tersier dan seterusnya. sehingga akan terjadi lucutan yang terus-menerus
(avalence).
Kalau tegangan V dinaikkan lebih tinggi lagi maka peristiwa pelucutan elektron
sekunder atau avalanche makin besar dan elektron sekunder yang terbentuk makin
banyak. Akibatnya, anoda diselubungi serta dilindungi oleh muatan negative elektron,
sehingga peristiwa ionisasi akan terhenti. Karena gerak ion positif ke dinding tabung
(katoda) lambat, maka ion-ion ini dapat membentuk semacam lapisan pelindung
positif pada permukaan dinding tabung. Keadaan yang demikian tersebut dinamakan
efek muatan ruang atau space charge effect.
Tegangan yang menimbulkan efek muatan ruang adalah tegangan maksimum yang
membatasi berkumpulnya elektron-elektron pada anoda. Dalam keadaan seperti ini
detektor tidak peka lagi terhadap datangnya zarah radiasi. Oleh karena itu efek muata
ruang harus dihindari dengan menambah tegangan V. penambahan tegangan V
dimaksudkan supaya terjadi pelepasan muatan pada anoda sehingga detektor dapat
bekerja normal kembali. Pelepasan muatan dapat terjadi karena elektron mendapat
tambahan tenaga kinetic akibat penambahan tegangan V.
Apabila tegangan dinaikkan terus menerus, pelucutan alektron yang terjadi semakin
banyak. Pada suatu tegangan tertentu peristiwa avalanche elektron sekunder tidak
bergantung lagi oleh jenis radiasi maupun energi (tenaga) radiasi yang datang. Maka
dari itu pulsa yang dihasilkan mempunyai tinggi yang sama. Sehingga detektor Geiger
muller tidak bisa digunakan untuk mengitung energi dari zarah radiasi yang datang.