Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ergonomi
Untuk dapat menghasilkan rancangan sistem kerja yang baik perlu
dikenal sifat-sifat, keterbatasan, serta kemampuan yang dimiliki manusia.
Dalam

sistem kerja,

manusia berperan sentral yaitu sebagai perencana,

perancang, pelaksana,

dan pengevaluasi sistem kerja yang bekerja secara

keseluruhan agar diperoleh hasil kerja yang baik atau memuaskan. Ilmu yang
mempelajari

manusia

beserta

perilakunya didalam sistem kerja disebut

ergonomi (Sutalaksana, 1979).


Ergonomi ialah ilmu yang sistematis dalam memanfaatkan informasi
mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan

manusia untuk merancang

sistem kerja. Dengan Ergonomi diharapkan penggunaan proyek fisik dan


fasilitas dapat lebih efektif serta memberikan

kepuasan kerja (Sutalaksana

1979). Salah satu definisi ergonomi yang menitikberatkan pada penyesuaian


desain terhadap manusia adalah dikemukakan oleh Annis & Mc Conville
(1996) dan menerapkan informasi menurut karakter manusia, kapasitas dan
keterbatasannya terhadap desain pekerjaan, mesin dan sistemnya, ruangan
kerja dan lingkungan sehingga manusia dapat hidup dan bekerja secara sehat,
aman, nyaman dan efisien. Sedangkan Pulat (1992) menawarkan konsep
desain

produk

untuk

mendukung

efisiensi

dan

keselamatan

dalam

penggunaan desain produk. Konsep tersebut adalah desain untuk reliabilitas,


kenyamanan, lamanya waktu pemakaian, kemudahan dalam pemakaian, dan
efisien dalam pemakaian.
Antropometri merupakan

salah

satu

tool

ilmu

yang

digunakan

untuk menciptakan kondisi kerja yang ergonomis. Ergonomi merupakan ilmu


perancangan berbasis
diterapkannya

manusia

(Human

Centered

Design).

Dengan

ergonomi, sistem kerja menjadi lebih produktif dan efisien.

Menurut (Sutalaksana 1979), dilihat dari sisi rekayasa, informasi hasil


penelitian Ergonomi dapat dikelompokkan dalam 4 bidang penelitian, yaitu :

II-2

1.

Penelitian tentang Display.


Display adalah alat yang menyajikan informasi tentang lingkungan
yang dikomunikasikan
lambang.

dalam

bentuk

tanda-tanda

atau

lambang-

Display terbagi menjadi 2 bagian, yaitu Display Statis dan

Display Dinamis. Display Statis adalah display yang memberikan informasi


tanpa dipengaruhi oleh variabel waktu, misalnya peta. Sedangkan Display
Dinamis adalah display yang dipengaruhi

oleh

variabel

waktu,

misalnya spidometer yang memberikan informasi kecepatan kendaraan


bermotor dalam setiap kondisi.
2. Penelitian tentang Kekuatan Fisik Manusia
Penelitian
manusia

ini

mencakup

kekuatan/daya

fisik

ketika bekerja dan mempelajari bagaimana cara kerja serta

peralatan harus dirancang agar


manusia

mengukur

ketika

melakukan

sesuai

dengan

kemampuan

fisik

aktivitas tersebut. Penelitian ini merupakan

bagian dari biomekanik.


3. Penelitian tentang Ukuran/Dimensi dari Tempat Kerja.
Penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan ukuran tempat kerja
yang sesuai dengan ukuran tubuh manusia, dipelajari dalam Antropometri.
4. Penelitian tentang Lingkungan Fisik
Penelitian

ini

berkenaan

dengan

perancangan

lingkungan fisik dari ruangan dan fasilitas-fasilitas


bekerja.

Hal

temperatur,

ini

meliputi perancangan

kelembaban,

bau-bauan

cahaya,

kondisi

dimana manusia
suara,

warna,

dan getaran pada suatu fasilitas

kerja. Masalah ini akan dibahas lebih jelas pada praktikum Lingkungan
Kerja Fisik.

II-3

2.2 Antropometri
Istilah anthropometry berasal dari kata anthropos (man) yang berarti
manusia dan metron (measure) yang berarti ukuran (Bridger, 1995). Secara
definitif antropometri
berkaitan

dapat

dinyatakan

sebagai

suatu

studi

yang

dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Antropometri secara

luas digunakan untuk pertimbangan ergonomis dalam suatu perancangan


(desain) produk

maupun sistem kerja yang akan memerlukan interaksi

manusia. Aspek-aspek ergonomi dalam suatu proses rancang bangun fasilitas


marupakan faktor yang penting dalam menunjang peningkatan pelayanan jasa
produksi.
produk

Setiap desain produk, baik produk yang sederhana


yang sangat

maupun

komplek, harus berpedoman kepada antropometri

pemakainya. Menurut Sanders & Mc Cormick (1987); Pheasant (1988), dan


Pulat

(1992),

antropometri

adalah

pengukuran

dimensi

tubuh

atau

karakteristik fisik tubuh lainnya yang relevan dengan desain tentang sesuatu
yang dipakai orang.
Ada 3 filosofi dasar untuk suatu desain yang digunakan oleh ahli-ahli
ergonomi sebagai data antropometri yang diaplikasikan (Sutalaksana, 1979 dan
Sritomo, 1995), yaitu:
1. Perancangan produk bagi individu dengan ukuran yang ekstrim.
Contoh: penetapan ukuran minimal dari lebar dan tinggi dari pintu
darurat.
2. Perancangan
rentang

produk

yang

bisa

dioperasikan

di

antara

ukuran tertentu.

Contoh: perancangan kursi mobil yang letaknya bisa


digeser maju atau mundur, dan sudut sandarannyapun bisa
dirubah-rubah.
3. Perancangan produk dengan ukuran rata-rata.
Contoh: desain fasilitas umum seperti toilet umum, kursi tunggu,
dan lain- lain.
Untuk mendapatkan suatu perancangan yang optimum dari suatu ruang

II-4

dan fasilitas akomodasi, maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah


faktor-faktor seperti panjang dari suatu dimensi tubuh baik dalam posisi
statis maupun dinamis. Hal lain yang perlu diamati adalah seperti Berat dan
pusat massa (centre of gravity) dari suatu segmen/bagian tubuh,

bentuk

tubuh, jarak untuk pergerakan melingkar (angular motion) dari tangan dan
kaki, dan lain-lain.
Selain itu, harus didapatkan pula data-data yang sesuai dengan
tubuh manusia. Pengukuran tersebut adalah relatif mudah untuk didapat jika
diaplikasikan pada data perseorangan. Akan tetapi semakin banyak jumlah
manusia yang diukur dimensi tubuhnya maka akan semakin kelihatan betapa
besar variasinya antara satu tubuh dengan tubuh lainnya baik secara
keseluruhan tubuh maupun persegmen-nya (Nurmianto, 1996).
Data antropometri yang diperoleh akan diaplikasikan secara luas
antara lain dalam hal :
1. Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dll).
2. Perancangan peralatan kerja (perkakas, mesin, dll).
3. Perancangan produk-produk konsumtif (pakaian, kursi, meja, dll).
4. Perancangan lingkungan kerja fisik.
Antropometri

adalah

pengetahuan

yang

menyangkut

pengukuran

tubuh manusia khususnya dimensi tubuh. Antropometri dibagi atas dua bagian,
yaitu:
1) Antropometri statis, dimana pengukuran dilakukan pada tubuh
manusia yang berada
pada

Anthropometri

dilakukan

pada

dalam posisi diam. Dimensi yang diukur


statis diambil secara linier (lurus) dan

permukaan

tubuh.

Agar

hasil

pengukuran

representatif, maka pengukuran harus dilakukan dengan metode


tertentu terhadap berbagai individu, dan tubuh harus dalam keadaan
diam.
2)

Antropometri dinamis, dimana dimensi tubuh diukur dalam


berbagai posisi tubuh yang sedang bergerak, sehingga lebih kompleks
dan lebih sulit diukur. Terdapat tiga kelas pengukuran dinamis, yaitu:

II-5

a) Pengukuran tingkat ketrampilan sebagai pendekatan untuk


mengerti keadaan mekanis dari suatu aktivitas.
Contoh: dalam mempelajari performa atlet.
b) Pengukuran jangkauan ruangan yang dibutuhkan saat kerja.
Contoh: Jangkauan dari gerakan tangan dan kaki efektif saat
bekerja yang dilakukan dengan berdiri atau duduk.
c) Pengukuran variabilitas kerja.
Contoh: Analisis kinematika dan kemampuan jari-jari tangan
dari seorang juru ketik atau operator komputer.
Terdapat berbagai macam faktor yang mempengaruhi dimensi tubuh
manusia, diantaranya:
1) Umur
Ukuran

tubuh

manusia

akan

berkembang

dari

saat

lahir

sampai

kira- kira berumur 20 tahun untuk pria dan 17 tahun

untuk wanita. Kemudian manusia akan berkurang ukuran tubuhnya


saat manusia berumur 60 tahun.
2) Jenis Kelamin
Pada umumnya pria memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali
dada dan pinggul.
3) Suku Bangsa (Etnis)
Variasi dimensi akan terjadi, karena pengaruh etnis.
4) Pekerjaan
Aktivitas kerja sehari-hari juga menyebabkan perbedaan
ukuran tubuh manusia.
Selain faktor-faktor di atas, masih ada beberapa kondisi tertentu (khusus)
yang dapat mempengaruhi variabilitas ukuran dimensi tubuh manusia yang
juga perlu mendapat perhatian, seperti:
a) Cacat tubuh
Data antropometri akan diperlukan untuk perancangan produk

II-6

bagi orang- orang cacat.


b) Tebal/tipisnya pakaian yang harus dikenakan,
Faktor iklim yang berbeda akan memberikan variasi yang berbeda
pula dalam bentuk rancangan dan spesifikasi pakaian. Artinya,
dimensi orang pun akan berbeda dalam satu tempat dengan tempat
yang lain.
c) Kehamilan (pregnancy),
Kondisi

semacam ini jelas akan

ukuran dimensi tubuh


memerlukan

(untuk

perhatian

mempengaruhi bentuk

perempuan)

dan

tentu

dan
saja

khusus terhadap produk-produk yang

dirancang bagi segmentasi seperti itu.


2.3

Pengukuran Bentuk Tubuh


Pengukuran

ini

bertujuan

untuk

mengetahui

bentuk

tubuh

manusia,sehingga dirasakan nyaman dan menyenangkan. Terdapat 5 tingkat


kenyamanan, yaitu:
5 - ketidaknyamanan/sakit yang tidak tertahankan
4 - sakit yang masih bisa ditahan
3 - sakit
2 - kematian rasa
1 - sensasi yang dirasakan
0 - tidak ada sensasi
Misalnya kita akan mengukur tingkat kenyamanan suatu kursi, maka untuk
menentukan terjadinya sensasi tersebut, terdapat 9 titik penting pertemuan
antara badan dengan kursi yang menentukan kenyamanan, yaitu:
A- daun pundak (bagian yang paling menonjol dari tulang belikat)
B- dasar pundak
C- daerah punggung yang melengkung
D- daerah lengkungan pinggang
E- pantat
F- pantat paling bawah

II-7

G- pangkal paha
H- pertengahan paha
I - ujung paha
2.4

Posisi Tubuh Dalam Bekerja


Kerja dengan sikap duduk terlalu lama dapat menyebabkan otot

perut melembek dan tulang belakang akan melengkung sehingga cepat lelah.
Clark (1996), menyatakan bahwa desain stasiun kerja dengan posisi duduk
mempunyai derajat stabilitas tubuh yang tinggi; mengurangi kelelaan dan
keluhan subjektif bila bekerja lebih dari 2 jam. Di samping itu tenaga kerja
juga dapat mengendalikan kaki untuk melakukan gerakan
Mengingat posisi duduk mempunyai keutungan maupun kerugian,
maka untuk mendapatkan hasil kerja yang lebih baik tanpa pengaruh buruk
pada tubuh, perlu dipertimbangkan pada jenis pekerjaan apa saja yang sesuai
dilakukan dengan posisi duduk. Untuk maksud tersebut,

Pulat (1992)

memberikan pertimbangan tentang pekerjaan yang paling baik dilakukan


dengan posisi duduk adalah sebagai berikut :
1. Pekerjaan yang memerlukan kontrol dengan teliti pada kaki;
2. Pekerjaan utama adalah menulis atau memerlukan ketelitian pada
tangan;
3. Tidak diperlukan tenaga dorong yang besar;
4. Objek yang dipegang tidak memerlukan tangan bekerja

pada

ketinggian lebih dari 15 cm dari landasan kerja;


5. Diperlukan tingkat kestabilan tubuh yang tinggi;
6. Pekerjaan dilakukan pada waktu yang lama; dan
7. Seluruh

objek

yang

dikerjakan

atau

disuplai

masih

dalam

jangkauan dengan posisi duduk.


Pada pekerjaan yang dilakukan dengan posisi duduk, tempat duduk
yang dipakai harus memungkinkan untuk melakukan variasi perubahan
posisi.

Ukuran tempat

antropometri

duduk

disesuaikan

dengan

dimensi

pemakaiannya. Fleksi lutut membentuk sudut 900

ukuran
dengan

II-8

telapak kaki bertumpu pada lantai atau injakan kaki (Pheasant, 1988). Jika
landasan kerja terlalu rendah, tulang belakang akan membungkuk ke depan,
dan jika terlalu tinggi bahu akan terangkat dari posisi rileks, sehingga
menyebabkan bahu dan leher menjadi tidak nyaman. Sanders & Mc Cormick
(1987) memberikan pedoman untuk mengatur ketinggian landasan kerja
pada posisi duduk sebagai berikut:
1. Jika memungkinkan menyediakan meja yang dapat diatur turun dan
naik;
2. Landasan kerja harus memungkinkan lengan menggantung pada posisi
rileks dari bahu, dengan lengan bahwa mendekati posisi horizontal
atau sedikit menurun (sloping down slightly); dan
3.

Ketinggian

landasan

kerja

tidak

memerlukan

fleksi

tulang

belakang yang berlebihan.


Selain
ditemukan

posisi

kerja

duduk,

posisi

berdiri

juga

banyak

di perusahaan. Seperti halnya posisi duduk, posisi kerja berdiri

juga mempunyai keuntungan maupun kerugian. Menurut Sutalaksana (2000),


bahwa sikap berdiri merupakan sikap siaga baik fisik maupun mental,
sehingga aktivitas kerja yang dilakukan lebih cepat, kuat dan teliti. Namun
demikian mengubah posisi duduk ke berdiri dengan masih menggunakan
alat kerja yang sama akan melelahkan. Pada dasarnya berdiri itu sendiri
lebih melelahkan daripada duduk dan energi yang dikeluarkan untuk berdiri
lebih banyak 10-15% dibandingkan dengan duduk.
Pada desain stasiun kerja berdiri, apabila tenaga kerja harus bekerja
untuk periode yang lama, maka faktor kelelahan menjadi utama. Untuk
meminimalkan pengaruh kelelahan dan keluhan subjektif maka pekerjaan
harus didesain agar tidak terlalu banyak menjangkau, membungkuk, atau
melakukan

gerakan

dengan

posisi kepala yang

tidak

alamiah. Untuk

maksud tersebut Pulat (1992) dan Clark (1996) memberikan pertimbangan


tentang pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi berdiri adalah
sebagai berikut:
1. Tidak tersedia tempat untuk kaki dan lutut;

II-9

2. Harus memegang objek yang berat (lebih dari 4,5 kg);


3. Sering menjangkau ke atas, ke bawah, dan ke samping;
4. Sering dilakukan pekerjaan dengan menekan ke bawah; dan diperlukan
mobilitas tinggi.
Dalam mendesain ketinggian landasan kerja untuk posisi berdiri,
secara prinsip hampir sama dengan desain ketinggian landasan kerja
posisi dudukan. Manuaba (1986); Sanders & Mc Cormick (1987); Grandjean
(1993) memberikan rekomendasi ergonomis

tentang ketinggian landasan

kerja posisi berdiri didasarkan pada ketinggian siku berdiri sebagai tersebut
berikut ini.
1. Untuk pekerjaan memerlukan ketelitian dengan maksud untuk
mengurangi pembebasan statis pada otot bagian belakang, tinggi
landasan kerja adalah 5-10 cm di atas tinggi siku berdiri.
2. Selama kerja manual, di mana pekerjaan sering memerlukan
ruangan untuk peralatan; material dan kontainer dengan berbagai
jenis, tinggi landasan kerja adalah 10-15 cm di bawah tinggi suku
berdiri.
3. Untuk pekerjaan yang memerlukan penekanan dengan kuat, tinggi
landasan kerja adalah 15-40 cm di bawah tinggi siku berdiri.

B.5 Desain Stasiun Kerja dan Sikap Kerja Dinamis


Desain stasiun kerja sangat ditentukan oleh jenis dan sifat pekerjaan yang
dilakukan. Baik desain stasiun kerja untuk posisi duduk maupun berdiri
keduanya mempunyai keuntungan dan kerugian. Clark (1996) mencoba
mengambil keuntungan dari kedua

posisi tersebut dan mengkombinasikan

desain stasiun kerja untuk posisi duduk dan berdiri menjadi satu desain dengan
batasan sebagai berikut :
Sedangkan Das (1991) dan Pulat (1992) menyatakan bahwa posisi
duduk- berdiri merupakan posisi terbaik dan lebih dikehendaki daripada hanya
posisi duduk saja atau

berdiri saja.

Hal

tersebut

disebabkan karena

II-10

memungkinkan pekerja berganti posisi kerja untuk mengurangi kelelahan otot


karena sikap paksa dalam satu posisi kerja.
Helender

(1995)

dan

Tarwaka

(1995),

memberikan

batasan

ukuran ketinggian landasan kerja untuk pekerjaan yang memerlukan sedikit


penekanan yaitu 15 cm di bawah tinggi siku untuk kedua posisi kerja.
Selanjutnya dibuat kursi tinggi yang

menyesuaikan

ketinggian

landasan

kerja posisi berdiri dengan dilengkapi sandaran kaki agar posisi kaki tidak
menggantung. Mengingat dimensi ukuran tubuh manusia berbeda-beda, maka
desain stasiun kerja harus selalu mempertimbangkan antropometri pemakainya
(user oriented). Sedangkan pemilihan posisi kerja harus sesuai dengan jenis
pekerjaan yang dilakukan, seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.1 Pemilihan Sikap Kerja terhadap Jenis Pekerjaan yang Berbeda beda
Sikap Kerja yang Dipilih
Jenis Pekerjaan
Pilihan pertama
Pilihan kedua
Duduk-berdiri
Berdiri
Mengangkat > 5 kg
Duduk-berdiri
Berdiri
Bekerja dibawah tinggi siku

Berdiri

Menjangkau horizontal di luar daerah


jangkauan optimum

Duduk

Pekerjaan ringan dengan pergerakan berulang

Duduk

Duduk-berdiri
Duduk-berdiri
Duduk-berdiri

Pekerjaan perlu ketelitian


Duduk
Berdiri
Sumber : Helander (1995:60). A Guide to the Ergonomics of Manufacturing.

Masih menurut Helender (1995),


banyak dicobakan di industri,

ternyata

posisi duduk-berdiri yang telah


mempunyai keuntungan

secara

biomekanis di mana tekanan pada tulang belakang dan pinggang 30% lebih
rendah dibandingkan dengan posisi duduk maupun berdiri terus menerus.
Hal tersebut tentunya dapat dipakai sebagai pertimbangan dalam intervensi
ergonomi, sexhingga penerapan posisi kerja duduk-berdiri dapat memberikan
keuntungan-keuntungan bagi sebagian besar tenaga kerja.
Dari uraian tersebut di atas dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa
suatu desain produk harus berpusat pada pemakainya (human centered).
Untuk mendapatkan sikap kerja menyetrika yang lebih dinamis diperlukan

II-11

desain stasiun kerja setrika yang memungkinkan pekerjaan dapat dilakukan


dengan sikap duduk di suatu saat dan sikap berdiri atau duduk-berdiri di saat
lainnya.
Data antropometri jelas diperlukan agar suatu rancangan produk bisa
sesuai dengan orang yang akan mengoperasikannya. Dalam kaitan ini
maka perancang produk harus mampu mengakomodasikan dimensi tubuh
yang

dapat

dipakai oleh sejumlah

populasi

yang

besar.

Sekurang-

kurangnya 90-95% dari populasi yang menjadi target dalam kelompok


pemakai produk harus dapat menggunakan dengan selayaknya.
kepentingan

itulah

maka

data

anthropometri

Untuk

diharapkan mengikuti

distribusi normal. Dalam statistik, distribusi normal dapat diformulasikan


berdasarkan

harga

rata-rata

(mean, X )

dan

simpangan

standarnya

(standard deviatio, X ) dari data yang ada. Dari data tersebut kemudian
dapat ditetapkan percentile. Percentile adalah suatu nilai yang menunjukkan
presentase tertentu dari orang-orang yang memiliki ukuran di bawah atau pada
nilai tersebut. Sebagai contoh, 95-th percentile akan menunjukkan 95%
populasi akan berada pada atau di bawah nilai dari suatu data yang diambil.
Untuk penetapan data antropometri

digunakan

distribusi

normal

dimana distribusi ini dapat diformulasikan berdasarkan harga rata-rata (mean)


dan simpangan bakunya (standar deviasi) dari data yang diperoleh. Dari
nilai yang ada tersebut, dapat ditentukan nilai persentil sesuai dengan
tabel probabilitas distribusi normal yang ada.
2.6

Metode Perancangan dengan Antropometri

Tahapan

perancangan

sistem

kerja

work

space

design

dengan

memperhatikan faktor antropometri secara umum adalah sebagai berikut


(Roevuck, 1995):
1. Menentukan

kebutuhan

perancangan dan

kebutuhannya

(establish requirement)
2.

Mendefinisikan dan mendeskripsikan populasi pemakai

3. Pemilihan sampel yang akan diambil datanya

II-12

4. Penentuan kebutuhan data (dimensi tubuh yang akan diambil)


5. Penentuan sumber data (dimensi tubuh yang akan diambil) dan
pemilihan persentil yang akan dipakai
6. Penyiapan alat ukur yang akan dipakai
7. Pengambilan data
8. Pengolahan data
a. Uji kecukupan data
b. Uji kenormalan data \Uji keseragaman data
d. Perhitungan persentil data
9. Visualisasi rancangan dengan memperhatikan
a. Posisi tubuh secara normal
b. Kelonggaran (pakaian dan ruang)
c. Variasi gerak
10. Analisis hasil rancangan.