Anda di halaman 1dari 11

PROFILE KOSTRAD

Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (KOSTRAD) yang semula


dilahirkan dengan nama Korps Tentara Ke-1 / Cadangan Umum Angakatan Darat
( KORRA I / CADUAD) pada 44 tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 6 Maret 1961
dengan segala keterbatasannya namun telah mampu turut serta menentukan
sejarah perjuangan bangsa Indonesia, kini telah tumbuh dan berkembang menjadi
satuan Pemukul Strategis yang dihandalkan dalam jajaran TNI serta siap menjaga
dan mempertahankan integritas bangsa dan negara Indonesia yang bersendikan
Pancasila dan UUD-1945.

Kostrad dilahirkan dalam situasi dimana bangsa Indonesia sedang memperjuangkan


kembalinya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi Republik Indonesia. Korra I / Caduad
lahir dengan surat keputusan Men/Pangad Nomor : Mk / KPTS 54 / 3 / 1961 tanggal 6
Maret 1961. Korra I / Caduad merupakan wujud nyata dari rencana dan harapan
pimpinan TNI / TNI-AD dalam upaya membentuk Satuan Cadangan Strategis TNI /
TNI-AD yang bersifat mobile dan memiliki kemampuan operasional lintas udara
serta sewaktu-waktu siap ditugaskan ke seluruh Wilayah nusantara dalam rangka
menjaga dan menjamin pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Kekuatan inti Korra l / Caduad pada waktu itu terdiri dari Divisi infanteri-1 Korra I /
Caduad dibawah pimpinan Brigadir Jenderal TNI Soeharto mendapat kepercayaan
dari pimpinan TNI / TNI Angkatan Darat sebagai kekuatan inti Komando Mandala
dalam tugas operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat.

Pada saat mendapat perintah untuk melaksanakun operasi Trikora, kekuatan Korra
l / Caduad baru mencapai sekitar 60% dari kekuatan yang ditentukan, namun
keadaan tersebut tidak menjadi hambatan yang berarti dalam melaksanakan tugas.
Setiap prajurit Korra l / Caduad merasa mendapat kehormatan untuk melaksanakan
tugas operasi Trikora. Panglima Korra l/Caduad ditetapkan oleh Pimpinan TNI / TNIAD, sebagai Panglima Mandala merangkap Panglima Angkatan Darat Mandala
( ADLA ). Tugas ADLA dalam operasi Trikora antara lain mengembangkan pasukan
dan pangkalan, mempertahankan Kawasan Darat serta menghadapi penyerahan
Irian Barat secara damai. Disamping itu bertugas pula melaksanakan infiltrasi dan

exploitasi serta membantu pengembangan pangkalan angkatan lain seperti


menyiapkan dan memperbaiki landasan pesawat terbang di Kendari, Amahae dan
Letfuan.

Seiring dengan kegiatan-kegiatan penyiapan penyerbuan umum ke daratan Irian


Barat, kegiatan dalam bidang diplomasi politik terus ditingkatkan. Upayu-upaya
tersebut memaksa Belanda menuju meja perundingan di PBB, Tekad para prajurit
TNI yang pantang mundur dan didukung semangat bangsa Indonesia yang tangguh
dalam melaksanakan perjuangan, Trikora memberi pengaruh besar terhadap
jalannya perundingan antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Belanda di
PBB, yang akhirnya menghasilkan persetujuan
" Usul Bunker " dimana
pemerintah Belanda harus menyerahkan kekuasaan atas wilayah Irian Barat kepada
UNTEA dan selanjutnya kepada Pemerintah Indonesia. Karena perundingan berhasil
maka operasi Trikora secara resmi dibatalkan pada tanggal 29 Agustus 1962,
namun Divisi-2 Korra l / Caduad tetap berada di sekitar Gorontalo untuk
menghadapi berbagai kemungkinan apabila Belanda melahggar perjanjian seperti
yang pernah dialami pada perjanjian Linggarjati, Renville dan KMB dan pasukan
yang lain dikembalikan kepada induk pasukannya masing-masing.

TUGAS KOSTRAD

MEMBINA KESIAPAN OPERASIONAL SEGENAP JAJARAN KOMANDONYA DAN


MENYELENGGARAKAN OPERASI PERTAHANAN TINGKAT STRATEGIS SESUAI DENGAN
KEBIJAKSANAAN PANGLIMA TNI.

TUGAS POKOK KOSTRAD

1. MENEGAKKAN KEDAULATAN NEGARA.

2. MEMPERTAHANKAN KEUTUHAN WILAYAH NKRI YANG BERJUMLAH LEBIH

DARI 17 RIBU PULAU.

3. MELINDUNGI SEGENAP BANGSA INDONESIA DARI ANCAMAN DAN

GANGGUAN TERHADAP KEUTUHAN BANGSA DAN NEGARA.

Divisi Infanteri 1 Kostrad


1

Yonif-321 Kostrad-Galuh Taruna

Yonif-303 Kostrad-Setia Sampai Mati

Yonif Linud-305 Kostrad-Tengkorak

Yonif Linud-433 Kostrad-Julu Siri

Yonif Linud-432 Kostrad-Waspada Setia Jaya

Yonif Linud-431 Kostrad-Satria Setia Perkasa

Brigif Linud-3 Kostrad-Tri Budi Sakti

Yonif-323 Raider Kostrad-Buaya Putih

Divisi Infanteri 2 Kostrad


1

Yobif Linud-503 Kostrad-Mayangkara

Yonif Linud-501 Kostrad-Bajra Yudha

Yonif-411 Kostrad-Naga Ananta Boga

Yonif-413 Kostrad-Bremoro

Yonif-515 Kostrad-Ugra Tapa Yudha

Yonzipur-10 Kostrad-Jaladri Palaka

Yonkav-8 Kostrad-Nara Singa Wira Tama

Yonbekang-2 kostrad-Mawwat Wastwan Jaya

Yonarmed-12 Kostrad-Angicipi Yudha

10

Yonarmed-11 Kostrad-Guntur Geni Yudha

11

Yonarmed-8 Kostrad-Uddhata Yudha

12

Yonif-514 Raider Kostrad-Dharaka Yudha

13

Yonif-412 Raider Kostrad- Bharata Eka Sakti

Sejarah Divif-2
Ditulis oleh penkostrad
Jumat, 05 Juni 2009 02:15

SEJARAH SINGKAT DIVIF-2 KOSTRAD

Dari pengalaman periode Agresi I Belanda, para pemimpin TNI Angkatan Darat
sadar bahwa perlu dibentuk lagi sebuah organisasi TNI yang dapat menjadi Tentara
Mobil dan Tentara Teritorial. Secara kuantitas TNI AD dan laskar saat itu sudah cukup
besar namun dari segi kualitas terutama mengenai latihan dan perlengkapan militernya
masih sangat kurang dan hal itu tidak hanya pada satuan infanteri tetapi lebih pada
kemampuan senjata lengkung.

Dengan UU No.Stahun 1948tentang Susunan Kementerian Pertahanan


diputuskan perlu dibentuk Satuan Teritorial (Satter) dan Korps Reserve Umum (KRU)
atau cadangan strategis yang langsung dibawah Markas Besar Tentara (MET). Dari
pengalaman merebut kota Ambon yang membuat terbentuknya Resimen Para

Komando Angkatan Darat (RPKAD) dimana sifatnya sebagai kesatuan tempur khusus
dan langsung berada dibawah komando Kepala Staf Angkatan Darat. Sayangnya
kesatuan ini setingkat resimen dan tidak dapat digerakkan dalam satu kesatuan
setingkat brigade ke atas.

Sedangkan dari pengalaman operas! menumpas pemberontakan DI/ Til di Jawa


Tengah lahir pula pasukan tempur berkualifikasi raiders setingkat batalyon yang
kemudian dikembangkan di seluruh Komando Daerah Militer (Kodam). Masing-masing
Kodam dapat membentuk resimen Tim Pertempuran sendiri sebagai tenaga pemukul
untuk wilayah tersebut dan pada umumnya kesatuan-kesatuan ini masih bersifat
teritorial.

Untuk menghadapi tugas-tugas nasional masih perlu dikembangkan


kemampuannya dan melaksanakan tugas dan mudah digerakan . Ketika perjanjian
pembebasan Irian Barat gagal, maka yang ada hanyalah konflik senjata. Di sinilah TNI
AD dituntut untuk memiliki kesatuan cadangan yang siap tempur (combat ready) dan
mampu melaksanakan operasi gabungan.

Bertolak dari pemikiran tersebut maka Kasad mengeluarkan Surat Keputusan


Nomor KPTS-1067/12/1960 tanggal 27 Desember 1960, tentang Pembentukan
Cadangan Umum Angkatan Darat (Caduad). Dalam keputusan tersebut tercantum
target untuk menyelesaikan kesatuan ini menjadi kekuatan siap tempur pada akhir
tahun 1961, dan ini menjadi prioritas utama. Untuk pembentukannya dibuatlah
kelompok kerja yang bekerja selama kurang lebih dua bulan dan terbentuk Caduad
dengan Surat Keputusan MenPangad Nomor MK/KPTS-54/4/1961, tanggal 6 Maret,
tentang Pengesahan Korps Tentara I/ Caduad (Kora l/Caduad).

Pengesahan ini didasarkan pertimbangan-pertimbangan seperti ada perkiraan


tugas keamanan di dalam negeri sebagian besar akan selesai di akhir tahun 1962.
Pada saat yang sama, satuan-satuan TNI AD harus diorganisasikan untuk mengadakan
tugas-tugas pertahanan. Mengingatfaktor waktu, maka mulailah diambil langkahlangkah tertentu ke organisasi yang mengandung unsur-unsur modernisasi.

Pada awalnya Pangkorra l/Caduad mengajukan rancangan Organisasi Caduad


yang dibutuhkan sesuai dengan rencana tugas yang akan datang. Berdasar pada

Keputusan Kasad Nomor KTPS-295/4/1961 tanggal 10 April 1961, maka pengesahan


Organisasi dan Kekuatan Korra l/Caduad dilakukan termasuk susunan Organisasi
Personel Markas Korps Tentara l/Caduad yang dipimpin Brigjend TNI Soeharto dengan
dibantu Kepala Staf dan Asisten I sampai V. Susunan personalia ini terusmengalami
perubahan dan dalam perkembangan selanjutnya Korra l/Caduad terus ditingkatkan
hingga akhirnya menjadi besar dan kuat seperti saat ini dengan nama Komando
Cadangan Startegis Angkatan Darat (Kostrad).

Dalam rancangan organisasi Caduad memang Pangkorra l/Caduad


mengusulkan adanya dua Divisi Infantri, namun karena sukarnya mendapat personel
serta atas dasar beberapa pertimbangan lainnya maka Kasad hanya memutuskan 1
Divisi Infanteri. Nama Divisi Infanteri yang dibentuk waktu itu adalah Divisi 2 Korra
l/Caduad. Selain dari segi politis, sebutan ini juga menguntungkan bagi perkembangan
organisasi TNI AD terutama jika dilihat dari segi luar.

Akhirnya berdasarkan Surat Keputusan Kasad Nomor KPTS 342/4/1961 tanggal


27 April 1961 ditetapkan Divisi 2 dalam Korra l/Caduad dan mulai saat itulah tanggal 27
April ditetapkan sebagai Hari Jadi Divif 2 /Kostrad yang pada saat itu bernama Divisi 2
Korra 1/Caduad dengan dipimpin Panglima Divisi 2, Kolonel Inf.Umar Rukman.

Dalam perkembangannya, pengisian personelnya sebagian besar diambilkan


dari perwira dan bintara yang baru lulus latihan Suski, Suston dan Secaba dari Kodamkodam terutama yang berada di Jawa, yaitu Kodam VI Siliwangi, Kodam Vll/
Diponegoro dan Kodam VIII Brawijaya. Sedangkan untuk tamtamanya diisi dari
anggota-anggota yang baru lulus pendidikan Secatam Proyek Caduad. Sementara
untuk Satuan Bantuan Tempur (Satbanpur) dan Satuan Bantuan Administrasi
(Satbanmin) diambilkan dari Dinas/Jawatan dan kesenjataan yang bersangkutan.

DIVISI & KORRA I/CADUAD BERUBAH JADI KOPUR ll/ KOSTRAD

Di tahun awal berdirinya Divisi 2 Korra l/Caduad tetap mengalami perkembangan


yang pesat. Terlebih ketika Pangkorra l/Caduad mengusulkan penyusunan Cadangan
Umum Angkatan Darat kepada Menpangad tentang tahapan organisasi. Salah satunya
divisi 2 dinilai merupakan Kopur yang pada waktu damai tugasnya dititikberatkan pada
latihan-latihan , sedangkan pada waktu perang ditugaskan untuk memimpin brigade-

brigade itu sendiri merupakan kesatuan yang dapat berdiri sendiri. Di tahap selanjutnya
diarahkan pada kebutuhan minimal yang meliputi dua brigade Para dan dua Divisi
Infanteri.

Tidak lama setelah Telahan Staf Pangkorra l/Caduad , akhirnya keluar Surat
Keputusan dari Men/Pangad Nomor KPTS-178/1963 tanggal 19 Februari 1963 tentang
Penghapusan Korra l/Caduad menjadi Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat
(Kostrad). Di samping itu, Divisi 2 Korra l/Caduad diubah menjadi Komando Tempur
Il/Kostrad ( Kopur ll/ Kostrad, sesuai dengan Surat Keputusan Menpangad Nomor
KPTS-1427/11/1963,
tanggal
25
November
1963.
Namun
pembentukaninitidakotomatisorganisasi langsung eksis dan baru awal tahun 1964,
Kopur Il/Kostrad terbentuk dengan susunan personal dengan pimpinannya atau
Panglima Kolonel. Inf. A.Kemal Idris yang didampingi Kepala Staf dan Asisten I-V.

Dalam perjalanan waktu Kopur II ini secara resmi ditugaskan untuk


melaksanakan Operas! Dwikora dengan Komando Mandala Siaga (Kolaga), dengan
keadaan staf dan personel yang masih tetap sama seperti pada waktu Kopur baru lahir.
Kopur II ini berubah nama beberapa kali sesuai dengan tugas pada saat itu. Mulai
Januari 1965 Kopur Il/Kostrad berubah nama menjadi Kopur l/Siaga lalu tanggal 12
Juni 1965, berubah nama lagi namanya menjadi Kopur Il/Rencong.

Lalu dengan adanya perubahan organisasiKolagamaka Kopur Il/Rencong


berubah lagi namanya menjadi Kosatgas Rencong/Kopur, disingkat Kosatgas R/ll.
Barulah di Februari tahun 1967 setelah Kosatgas R/ll kembali berada di pangkalannya
lagi, namanya pun diganti dengan nama semula yakni Kopur ll/ Kostrad. Meski sudah
melakukan tugas di berbagai tempat ternyata mereka belum memiliki Pataka Kopur
Il/Kostrad. Lalu untuk membangkitkan motivasi dan semangat juang serta jiwa para
anggota akhirnya diputuskan untuk merumuskannya setelah mereka kembali ke
pangkalan di bulan Mei 1966. Dengan pimpinan letkol Inf. RS Dawoed dan dibantu
Pamen dan Pama Kopur II merumuskan Pataka dan mengajukan beberapa semboyan
dan motto sebagai lambang yaitu, Vira Sakti Yudha, Yudha Raya, Satria Yudha Jaya,
Triyudha Jaya, Prayudha Jaya dan Pancayudha Jaya.

Dari keenam motto dipilihlah dan mendapat persetujuan Panglima adalah VIRA
SAKTI YUDHA yang artinya Ksatria yang tangguh di medan laga. Akhirnya bertepatan
dengan HUT Kostrad yang ke-5 yaitu tanggal 15 Agustus 1966 dilaksanakan peresmian
Pataka Kopur Il/Kostrad dalam suatu upacara militer di Lapangan Parkir Timur Senayan

Jakarta dan yang bertindak selaku Inspektur Upacara adalah Men/Pangad Jenderal
TNI Soeharto. Dan di waktu yang sama dilakukan upacara peresmian berdirinya Kopur
Lintas Udara (Linud) Kostrad.

Sesuai dengan perkembanganjaman dan selaras dengan perkembangan


organisasi ABRI, di tahun 1978 (Surat Keputusan Kasad Nomor Kep/9/V/1978 tentang
Pokok-pokok Organisasi dan Tugas Kostrad ), Kopur II berada pada tingkat
komando/satuan pelaksana. Sebagai konsekuensinya Kopur II diberi delegasi
wewenang pembinaan terhadap satuan Infanteri. Sejak tanggal 8 Maret 1979 satuan
Brigif 6,9 dan 13 beserta jajarannya berada di bawah komando pengendalian serta
pembinaan Pangkopur II sesuai dengan Surat Perintah Pangkostras Nomor Sprin /
347/III/1979 tanggal 8 Maret 1979. Kopur II ini terus berkembang dan di tahun 1985,
terjadi reorganisasi ABRI yang berpangkal pada konsepABRI yang kecil yang efektif
dan efisien dengan cadangan yang mempunyai kemampuan reaksi cepat. Untuk itu
dibentuklah suatu Komando Tugas Gabungan ABRI yang terdiri atas unsur TNI AD, AL
dan TNI AU dalam wujud PPRC ABRI. Pengerahan pasukan ini atas perintah langsung
dari Pangab. PPRC ABRI merupakan suatu Komando Gabungan Khusus yang tugas
pokoknya melaksanakan operas! tempur untuk penindakan awal terhadap serangan
atau ancaman secara cepat di suatu wilayah Rl dalam rangka pertahanan keamanan
negara. PPRC ABRI ini intikekuatannya terdiri atas satu Brigade Infanteri Lintas Udara
(Brigif Linud) yang diperkuat dibantu oleh Satuan Tugas Udara dan Satuan Tugas
Ampibi (Laut). PPRC ABRI ini merupakan satu Komando Tugas Operasional ABRI yang
langsung di bawah komando dan kendali Pangab.

PERUBAHAN KOPUR ll/ KOSTRAD MENJADI DIVISI INFANTERI-2/KOSTRAD

Pembentukan Divisi Infanteri-2 Kostrad dilatarbelakangi kesadaran untuk


meningkatkan kemampuan pembinaan pembangunan dan penggunaan kekuatan
secara berdayaguna. Sesuai dengan Prinops Pangkostrad Nomor 01 tanggal 31
Desember 1984 terurai paparan konsep operasi yaitu Kostrad yang disusun dalam dua
Divisi Infanteri yang masing-masing terdiri dari Brigif Linud satu atau dua Brigif, serta
unsur pendukung lainnya seperti Satbanpur dan Satbanmin.

Selain itu Kostrad harus menyusun kembali staf umum, staf khusus dan badan
pelaksana staf hingga dapat mendukung tugas pokok Kostrad di bidang pembinaan
dan operasi. Disebutkan pula bahwa Kopur Linud menjadi Divif 1/Kostrad, dan Kopur II
menjadi Divif 2/Kostrad, masing-masing beserta unsur Banpurdan Banminnya.

Akhirnya setelah disarankan kepada Kasad, terjadilah likuidasi di April 1985


sampai dengan Juni 1985 serta ada pembentukan di waktu yang sama untuk Divif 1
dan Divif 2 dan Bekang Kostrad. Sementara satuan organik Divif 2, mulai April sampai
dengan Juni 1985 yaitu: Brigif Linud 18, Brigif 6 dan 9, men Armed 1, Yon Kav 8/Tank,
Yon Zipur 10, Yon Bekang, ki Pal, Ki Hubpurdam KiAjen. Sampai dengan Maret 1986
reorganisasi terus mengalami pergeseran waktu, namun Prinops tetap dapat
dilaksanakan sesuai dengan jadwal. Dan diharapkan mulai April 1986 seluruh jajaran
Kostrad telah operasional sesuai dengan TP/DAF/DSPP yang baru.

Tak mengherankan berdasarkan Surat Perintah Pangkostrad Nomor


Sprin/253/lll/1985 tanggal 18 Maret 1985, Makopur II pindah pangkalan secara utuh
dari Cijantung Jakarta ke Singosari-Malang, menempati bekas pangkalan Brigif 2 Dam
V Brawijaya. Sedangkan upacara likuidasi regorganisasi, alih status dan pembentukan
organisasi baru di lingkungan Kostrad dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan
Kasad Nomor/Skep/535/VI/1985 tanggal 11 Januari 1985 yang direalisasi dengan Surat
Perintah Pangkostrad Nomor Sprin/463/VI/1985 tanggal 25 Juni 1985. Maka sesuai
dengan Surat Perintah tersebut tanggal 9 Agustus 1985 di Makostrad Jakarta, Kasad
Jenderal TNI Rudini menetapkan bahwa Kopur Il/Kostrad beralih status menjadi Divisi
Infanteri 2/Kostrad. Dan di saat yang sama diadakan upacara penyimpanan Pataka
Kopur II dan penyerahan Pataka Divif 2 VIRA CAKTI YUDHA kepada Pangdivif
2/Kostrad.

Memang berubahnya Kopur Linud menjadi Divif 1 /Kostrad dan Kopur Il/Kostrad
menjadi Divif 2/Kostrad merupakan salah satu realisasi dari reorganisasi di jajaran TNI
AD pada umumnya dan Kostrad pada khususnya. Jika dilihat dari komposisi dan
kekuatannya terdapat perbedaan dua divisi tersebut. Di saat itu Pimpinan TNI AD
menyadari perubahan itu jika ditinjau dari segi pembinaan satuan akan lebih tepat
apabila perubahan itu menjadi Divif Linud dan Divisi Infanteri. Akan tetapi mengingat
terbatasnya dana yang tersedia pada saat itu, maka satuan yang ada disusun
sedemikian rupa sehingga tugas pokoknya tetap dapat terlaksana dengan baik.

Komposisi dan kekuatan Divif 21 Kostrad pada saat baru dibentuk melalui alih
status dari Kopur II terdiri atas; Ma & Dema Divif 2; Brigif Linud 18;Brigif 6 dan Brigif 9;
Men Armed 1; Yon Kav 8/Tank; Yon Zipur 10, Ki-Hub,Ki Bengharlap; dan Ki Pom Divif 2
serta Ajen Divif 2. Demikianlah pertumbuhan dan perkembangan Kopur 2/Kostrad
hingga menjadi Divif 2/Kostrad yang semakin lama semakin dewasa dan mantap
sesuai dengan perkembangan jaman.

PEJABAT DIVIF-2 KOSTRAD

1.

Brigjen TNI U.Rukmana 1962-1964

2.

Brigjen TNI A.Kemal Idris 1964-1965

3.

Brigjen TNI R.M Sarsono 1965 - 1966

4.

Brigjen TNI Darsono P 1966-1968

5.

Brigjen TNI Jasir Hadibroto 1968-1971

6.

Brigjen TNI Amir Yudowinarno 1971 - 1973

7.

Brigjen TNI Kusworo 1973-1975

8.

Brigjen TNI Koeslam Miaji 1975 - 1976

9.

Brigjen TNI M.Sanip 1976-1977

10.

Brigjen TNI R.M Subagio 1977-1979

11.

Brigjen TNI Sarwono 1979-1981

12.

Brigjen TNI Soetejo 1981 - 1983

13.

Brigjen TNI Soegito 1983-1983

14.

Brigjen TNI Soeparman Ahmad 1983 - 1985

15.

Brigjen TNI Muslim Masewa 1985 - 1988

16.

Brigjen TNI Moelyadi 1988-1990

17.

Brigjen TNI Muzani Syukur 1990-1991

18.

Brigjen TNI I Ketut Mudana 1991-1993

19.

Brigjen TNI H.A Rivai 1993 - 1995

20.

Brigjen TNI Sumardi 1995 - 1995

21.

Mayjen TNI Djamari Chaniago 1995 - 1997

22.

Mayjen TNI Kivlan Zein 1997-1998

23.

Mayjen TNI Ryamizard Rc 1998 - 1998

24.

Mayjen TNI William T Dacosta 1998 - 2000

25.

Mayjen TNI Songko Purnomo 2000 - 2001

26.

Mayjen TNI Mahidin Simbolon 2001 - 2001

27.

Mayjen TNI Ad Zikki 2001 - 2001

28.

Mayjen TNI Djoko Santoso 2001 - 2002

29.

Mayjen TNI Agustadi Sasongko 2002 - 2003

30.

Mayjen TNI Erwin Sudjono, Sh 2003 - 2004

31.

Mayjen TNI Liliek. A. Sumaryo 2004 - 2005

32.

Mayjen TNI Djoko Susilo Utomo 2005 - 2008

33.

Mayjen TNI AY. Nasution 2008-2009

34.

Mayjen TNI Zahari Siregar 2009 -2010

34.

Mayjen TNI Geerhan Lantara 2010- sekarang