Anda di halaman 1dari 20

Soal USKP A PPh OP dan SPT OP JUNI 2011

Multiple Choice

1. Daniel Sianturi,status kawin,tanggungan penuh 2 anak kandung, anak ke 2


dilahirkan tanggal 3 Januari 2010 memperoleh penghasilan neto dalam negeri
selama tahun 2010 sebesar Rp 250.000.000,- dan bulan Agustus menerima
penghasilan neto dari Singapura berupa Dividen sebesar SGD.5000,- pajak yang
telah dipotong bulan Agustus 2010 di Singapura sebesar 15%. Dalam
melaksanakan kegiatan usahanya, Wajib Pajak menyelenggarakan pembukuan.
Kurs : Agustus 2010
Desember 2010

SGD.1
SGD.1

= Rp 6.615,= Rp 6.880,-

PPh Pasal 24 yang boleh dikreditkan dalam SPT Tahunan PPh Daniel Sianturi
Tahun 2010 adalah sebesar .
a.

Rp 4.518.679

b.

Rp 4.528.291

c.

Rp 4.719.133

d.

Rp 4.703.328

Jawaban ( A )
Perhitungan PPh Terhutang
Penghasilan Neto dalam negeri

Rp 250.000.000

Penghasilan Neto luar negeri (SGD.5000 X 6.615 )

Rp 33.075.000 (+)

Total Penghasilan Neto

Rp 283.075.000

PTKP ( K / 1 )

Rp 18.480.000 (-)

Penghasilan Kena Pajak

Rp 264.595.000

PPh Terhutang

5%

X Rp 50.000.000

Rp 2.500.000

15%

X Rp 200.000.000

Rp 30.000.000

25%

X Rp 14.595.000

Rp 3.648.750 ( + )

Rp 36.148.750

Perhitungan PPh Pasal 24


Penghasilan neto luar negeri (dividen dari Singapura) Rp 33.075.000
PPh yg telah dipotong / terhutang di luar negeri

Rp 4.961.250

( 15% X SGD.5000 X Rp 6.615 )

Kredit Pajak Luar Negeri

Rp 4.518.679

( (Rp 33.075.000 : Rp 264.595.000) X Rp 36.148.750)

Dasar hukum
Sesuai dengan KMK No.164/KMK.03/2002

Pasal 2 ayat 1, bahwa apabila dalam penghasilan kena pajak terdapat


penghasilan yang berasal dari luar negeri, maka PPh yang dibayar atau
terhutang di luar negeri atas penghasilan tersebut dapat dikreditkan terhadap
PPh yang terhutang di Indonesia.

Pasal 2 ayat 2, bahwa pengkreditan pajak sebagaimana dimaksud ayat 1


dilakukan dalam tahun pajak digabungkanya penghasilan dari luar negeri
tersebut dengan penghasilan di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
ayat2

Pasal 2 ayat 3, bahwa jumlah kredit pajak sebagaimana dimaksud ayat 1


paling tinggi sama dengan jumlah pajak yang dibayar atau terhutang diluar
negeri, tetapi tidak boleh melebihi jumlah tertentu.

Passal 2 ayat 4, bahwa jumlah tertentu dihitung menurut perbandingan antara


penghasilan dari luar negeri terhadap penghasilan kena pajak dikalikan dengan
pajak yang terhutang atas penghasilan kena pajak,paling tinggi sama dengan
pajak yang terhutang atas penghasilan kena pajak dalam hal penghasilan kena
pajak lebih kecil dari penghasilan luar negeri.

2. Kurniawan usaha dagan elektronik merek usaha Toko Sinar , status kawin,
istri karyawati PT.Cerah, tanggungan penuh 1 anak kandung, umur 15 tahun

.Penghasilan Neto Fiskal Usaha Dagang Kurniawan tahun 2010 sebesar Rp


450.000.000,-. Penghasilan Neto Istri berdasarkan bukti potong 1721 A1 dari
pemberi kerja sebesar Rp 60.000.000,-. Dalam tahun 2010 anaknya menerima
Hadiah sebagai pemenang lomba lukis senilai Rp 10.000.000.
Jumlah PPh terhutang Tahun Pajak 2010 Kurniawan
adalah.
a.

Rp 80.710.000

b.

Rp 91.420.000

c.

Rp 80.380.000

d.

Rp 91.750.000

Jawaban ( C )
Penghitungan PPh terhutang
Penghasilan Neto Kurniawan

Rp 450.000.000

Penghasilan anak belum dewasa

Rp 10.000.000 (+)

Total penghasilan Neto

Rp 460.000.000

PTKP ( K / 1 )
Penghasilan Kena Pajak

Rp 18.480.000 (-)
Rp 441.520.000

PPh Terhutang

5%

X Rp 50.000.000

Rp 2.500.000

15% X Rp 200.000.000

Rp 30.000.000

25% X Rp 191.520.000

Rp 47.880.000 (+)

Jumlah

Rp 80.380.000

Dasar Hukum

Sesuai dengan Pasal 8 ayat 1 dan ayat 4 UU PPh

3. Aryo Kusuma, status kawin , tanggungan 1 anak kandung yang dilahirkan


pada tanggal 15 April 2010. Aryo kusuma Karyawan UNICEF (United Nationsn
Childrens Fun ) suatu organisasi International, yang dikecualikan sebagai
pemotong pajak. Penghasilan Aryo Kusuma dari UNICEF dalam tahun 2010
adalah Rp 180.000.000,- Yanti , istri Aryo Kusuma , karyawati PT Perdana ,
perusahaan yang bergerak dibidang industry kertas. Penghasilan neto Yanti
berdasarkan bukti potong 1721 A1 tahun 2010 yang dibuat oleh PT Perdana
adalah sebesar Rp 96.000.000,-. Berdasarkan data diatas besarnya Penghasilan
kena pajak Aryo Kusuma untuk tahun pajak 2010 adalah ..
a.

Rp 162.840.000

b.

Rp 156.840.000

c.

Rp 155.520.000

d.

Rp 243.000.000

Jawaban ( B )
Penghasilan Bruto
Biaya Jabatan ( 5% X Rp 180.000.000 )

Rp 180.000.000
Rp

6.000.000 (-)

Max Rp 6.000.000
Penghasilan Neto

PTKP ( K/0 )
Penghasilan Kena Pajak

Rp 174.000.000

Rp 17.160.000 (-)
Rp 156.840.000

Dasar Hukum

Sesuai dengan Pasal 8 ayat 1 UU PPh, bahwa penghasilan yang diterima


Yanti (istri) sebesar Rp 96.000.000 termasuk penghasilan yang bersifat Final,
sehingga tidak dilakukan penggabungan dengan penghasilan suaminya.

Sesuai dengan Pasal 7 ayat 2 UU PPh, Bahwa penerapan ketentuan PTKP


ditentukan pada keadaan awal tahun pajak , sehingga anak kandung Aryo
Kusuma yang lahir pada tanggal 15 April 2010 belum menjadi tanggungan Aryo
Kusuma untuk tahun pajak 2010.

4. Gunawan,status kawin, adalah seorang pedagang besar alat tulis


kantor/sekolah, yang dalam tahun 2010 memperoleh penghasilan neto dari
usaha dagangnya sebesar Rp 257.890.000. Farida, istri Gunawan, adalah
seorang anggota Fa.FAXY. Dalama tahun 2010 memperoleh gaji sebagai anggota
Fa.FAXY sebesar Rp 75.000.000, anggota keluarga yang menjadi tanggungan
Gunawan adalah sebagai berikut :

Ali, anak kandung , lahir tanggal 23 Oktober 1998

Dewi, anak kandung, lahir tanggal 10 Januari 2010

Budi, seorang adik kandung yang masih kuliah di Universitas GN

Fatimah, ibu mertua, janda pensiunan pegawai Departemen Dalam Negeri.

Besarnya PTKP yang dapat dikurangkan dalam menghitung Penghasilan Kena


Pajak Gunawan adalah
a.

Rp 18.480.000

b.

Rp 34.320.000

c.

Rp 19.800.000

d.

Rp 35.640.000

Jawaban ( A )

Besarnya PTKP Gunawan adalah :

Wajib Pajak sendiri

Rp 15.840.000

Kawin

Rp 1.320.000

Tanggunan 1 orang

Jumlah

Rp 1.320.000 ( + )
Rp 18.480.000

Dasar Hukum

Pasal 7 ayat 1 UU PPh, mengenai Besarnya PTKP

Pasal 7 ayat 2 UU PPh, mengenai Keadaan awal tahun dalam menentukan


PTKP
Pasal 8 ayat 1 UU PPh, mengenai penghasilan istri yang bersifat final dan tidak
digabungkan dengan penghasilan suami.

5. Data penghasilan kena pajak tahun pajak 2010 Tuan Harmanto yang bergerak
dibidang industry makanan dari tepung , untuk pengisian SPT Tahunannya
adalah sebagai berikut :
Penghasilan neto tahun 2010

Rp 488.722.000

PTKP ( K/1 )

Rp 18.480.000 (-)

Penghasilan Kena Pajak

Rp 470.242.000

PPh Terhutang

Rp 87.560.500

Kredit Pajak :

PPh 21

Rp

7.462.100

PPh 22

Rp 22.000.000

PPh 23

Rp

PPh 25

Rp 110.000.000

STP PPh 25

1.500.000

Rp 10.000.000 (+)

Jumlah

Rp 150.962.100 (-)

PPh yang lebih bayar

Rp 63.401.000

Besarnya PPh Pasal 25 tahun 2011 adalah .


a.

Rp N I H I L

b.

Rp 7.296.708

c.

Rp 4.716.533

d.

Rp 3.883.200

Jawaban ( C )
Penghasilan neto tahun 2010
PTKP ( K/1 )
Penghasilan Kena Pajak

Rp 488.722.000
Rp 18.480.000 (-)
Rp 470.242.000

PPh Terhutang

Rp 87.560.500

Kredit Pajak :

PPh 21

Rp

PPh 22

Rp 22.000.000

PPh 23

Rp

Jumlah

7.462.100

1.500.000(+)
Rp 30.962.100 (-)

PPh terhutang sebagai dasar penghitungan PPh pasal 25


Angsuran PPh Pasal 25 ( Rp 56.598.400 : 12 )

Rp 56.598.400
Rp

4.716.533

Dasar Hukum

Sesuai dengan Pasal 25 ayat 1 UU PPh, bahwa besarnya angsuran pajak


dalam tahun pajak berjalan yang harus dibayar sendiri oleh wajib pajak untuk
setiap bulannya adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terhutang menurut SPT
Tahunan yang dikurangi dengan :
Pajak Penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud dalam pasal 21 dan
pasal 23 serta Pajak Penghasilan yang dipungut sebagaimana dimaksud pasal 22
dan Pajak Penghasilan yang dibayar atau terhutang di luar negeri yang boleh
dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam pasal 24.
Dibagi 12 ( dua belas ) atau banyaknya bulan dalam tahun pajak.

Latihan Soal PPh Orang Pribadi yang Mempunyai


Penghasilan dari Kegiatan Usaha dan atau Pekerjaan
Bebas
Shinta adalah seorang pengusaha batik di kota
pekalongan,omset usaha tahun 2010 Rp.2.400.000.000,-. Selain
itu shinta juga mempunyai penghasilan dari usaha salon
kecantikan netto pada tahun 2010 Rp.300.000.000,-. Suaminya
Muh Yamin adalah pengacara terkenal dengan penghasilan bruto
Rp.2.00.00.000,-,memiliki 2 orang anak,anak kedua lahir
tanggal 12 Desember 2010. Selama tahun 2010 PPh pasal 25 yang
telah dibayarkan ke negara adalah Rp.20.000.000,-. Apabila
shinta memiliki NPWP sendiri bagaimana konsekuensi dari
perhitungan pajaknya?Bagaimana PPh terutang shinta untuk tahun
pajak 2010,angsuran PPh pasal 25 tahun pajak berikutnya,apakah
terjadi lebih bayar atau kurang bayar?
Jawaban :
1.

Usaha Batik Ph Netto : 2.4000.000.000 x 20% = 480.000.000

Usaha Salon Ph
= 300.000.000
+
780.000.000
PTKP
=
15.840.000
= 764.160.000

Netto
(TK/-)
PKP
PPh Terutang
5% x Rp. 50.000.000,15% x Rp. 200.000.000,25% x Rp. 250.000.000,30% x Rp. 264.160.000,-

Rp. 2.500.000,Rp. 30.000.000.= Rp. 62.500.000,= Rp. 79.248.000,=

Rp 174.248.000,Angsuran PPh pasal 25 th pajak berikutnya adalah


= 174.248.000/12 = Rp.14.520.666,67
PPh KB /LB = PPh terutang kredit PPh th 2010
= Rp. 174.248.000 Rp. 20.000.000
= Rp. 154.248.000 (Kurang Bayar/KB)
Kumpulan Soal dan Jawaban USKP A PPh Orang Pribadi dan SPT PPh Orang
Pribadi

1.

Tuan Dian adalah seorang pengusaha yang sangat sukses. Dia memiliki seorang
istri, dan seorang ibu yang tidak bekerja, ayah seorang pegawai swasta, adik
kandung yang masih duduk dibangku SMU kelas 3. Pada tahun 2007 Tuan Dian
Memperoleh penghasilan bruto sebesar Rp. 650.000.000 disertai dengan biaya
usaha sebesar Rp. 120.000.000,-. Perlu diinformasikan bahwa Tuan Dian
Menyelenggarakan pembukuan dan merupakan wajib pajak yang sangat taat
membayar pajak. Tuan Dian juga seorang Pengusaha yang suka memberikan
kontribusi berupa zakat kepada BAZIZ yang ada pengesahaan dari Mentri Keuangan.
Pada tahun 2007 Tuan Dian memberikan kontribusi sebesar 2,5% dari Penghasilan
Netto kepada BAZIZ. Sejak Tahun 2007 Tuan Dian ingin memggunakan Jasa
Konsultan Pajak Bpk. Dian Arief Wahyudi untuk menghitung jumlah pajak yang
terhutang ditahun 2007. Berapakah jumlah pajak yang terhutang ditahun 2007
menurut perhitungan Bpk. Dian Arief Wahyudi?

2.

Tuan Arief seorang pengusaha yang baru menjalankan bisnisnya diawal tahun
2006. Tuan Arief sudah memiliki NPWP. Tuan Arief memiliki seorang istri yang tidak
bekerja dan 2 anak yang masing masing berumur 6 tahun dan 7 tahun. Tuan Arief
juga menanggung Ibunya yang sudah janda. Selama Tahun 2007 Tuan Arief
memperoleh penghasilan netto dari usaha sebesar Rp. 400.000.000,- setelah
dikurangkan biaya usaha sebesar Rp.100.000.000,-. Tuan Arief masih memiliki
kompensasi kerugian dari tahun 2006 sebesar Rp.20.000.000,-. Selain itu Tuan Arief
memberikan kontribusi berupa Zakat sebesar 2,5% dari penghasilan netto usah
kepada Badan Zakat yang tidak memiliki izin dari Mentri Keuangan. Tuan Arief
menjalankan bisnisnya dengan menggunakan pembukuan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku. Berapakah Pajak yang terhutang Tuan Arief Pada Akhir Tahun 2007?

3.

Tuan Wahyudi seseorang yang tidak bekerja tetapi memperoleh penghasilan dari
berdagang. Tuan Wahyudi memiliki NPWP dan terdaftar di kantor pelayana pajak
tempat tuan wahyudi berdomisili. Selama Tahun 2007 tuan wahyudi memperoleh
penghasilan dari usaha sebesar Rp.300.000.000,- dengan biaya usaha sebesar
Rp.120.000.000,-. Tuan Wahyudi selalu memberikan kontribusi zakat sebesar 2,5%
dari penghasilan nettonya setiap tahun kepada BAZIZ dengan pengesahan Mentri
Keuangan. Tuan Wahyudi berstatus menikah dengan anak kandung dua orang
dengan masing masing berumur 21 tahun dan 22 tahun. Tuan Wahyudi juga
memiliki anak asuh dengan seluruh biaya hidup ditanggung sepenuhnya oleh tuan
wahyudi. Selain itu tuan wahyudi juga menanggung biaya hidup bapak dan ibunya
dimana bapaknya adalah pensiunan PNS. Tuan wahyudi masih memiliki kompensasi
kerugian yang berasal dari kerugian tahun lalu sebesar Rp.10.000.000,-. Tuan
Wahyudi menyelenggarakan pembukuan dengan baik sesuai dengan ketentuan
yang berlaku. Berapakah Pajak yang terhutang pada akhir tahun 2007?

4.

Berapakah besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak dengan Status (K/3) untuk
tahun 2007?

Untuk Wajib Pajak = Rp.13.200.000,Untuk Istri = Rp.1.200.000,Tanggungan Maksimal 3 Orang = Rp.3.600.000,-

5.

Tuan Ahmad seorang pengusaha dan memiliki Istri yang bekerja disuatu
perusahaan asing di daerah jakarta selatan. Istri tuan Ahmad bekerja dengan
penghasilan sebulan sebesar Rp.5.000.000,- dan telah dipotong pajak oleh pemberi
kerja sesuai dengan peraturan pajak yang berlaku. Bagaimana Perlakuan
Penghasilan Istri Tuan Ahmad di akhir tahun 2007?

Sesuai dengan Pasal 8 ayat 4 UU PPh mengatur bahwa:


Seluruh penghasilan istri atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada awal
tahun pajak atau awal bagian tahun pajak, begitu pula kerugiannya yang berasal
dari tahun tahun sebelumnya yang belum dikompensasikan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 6 ayat (2) dianggap sebagai penghasilan atau kerugian
suaminya, kecuali penghasilan tersebut semata mata diterima atau diperoleh dari
1 (satu) pemberi kerja yang telah dipotong pajak berdasarkan ketentuan pasal 21
dan pekerja tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas
suami atau anggota keluarga lainnya. Jadi sesuai dengan pasa tersebut diatas maka
dapat kita simpulkan bahwa penghasilan istri yang berasal dari satu pemberi kerja,
maka penghasilan istri tidak digabung.

6.

Anggota Keluarga yang boleh menjadi tanggungan PTKP?

Pasal 7 UU PPh mengatur bahwa:

Anggota Keluarga yang boleh menjadi tanggungan PTKP adalah anggota Keluarga
sedarah dan atau semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang
menjadi tanggungan sepenuhnya.

1.

Berapakah besarnya Zakat yang diperbolehkan dikurangkan dari penghasilan


kena pajak?

Berdasarkan KEP-163/PJ./2003 yang mengatur bahwa besarnya zakat yang dapat


dikurangkan dari penghasian kena pajak adalah sebesar 2,5% dari jumlah
penghasilan yang merupakan objek pajak yang dikenakan pajak penghasilan yang
tidak bersifat final berdasarkan ketentuan pasal 16 ayat (1) atau ayat (2) UU Pajak
penghasilan. Sedangkan yang dimaksud dengan penghasilan dalam pasal 16 ayat 1
UU PPh adalah Penghasilan Netto.

1.

Apakah yang
perpajakan?

dimaksud

dengan

penghasilan

teratur

menurut

peraturan

Adalah Penghasilan yang lazimnya diterima atau diperoleh secara berkala sekurang
kurangnya sekali dalam setiap tahun pajak, yang bersumber dari kegiatan usaha,
pekerjaan bebas, pekerjaan, harta dan atau modal, kecuali penghasilan yang telah
dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final.

2.

Apakah yang dimaksud dengan Peraturan tidak teratur menurut peraturan


perpajakan?

Adalah penghasilan yang lazimnya diterima atau diperoleh secara tidak berkala dan
seperti keuntungan selisih kurs dari hutang/ piutang dalam mata uang asing,
keuntungan dari pengalihan harta (Capital Gain) sepanjang bukan merupakan
penghasilan dari kegiatan usaha pokok serta penghasilan lainnya yang bersifat
insidential.

1.

Kapan menentukan Keadaan PTKP?

Keadaan menentukan PTKP adalah awal tahun

1.

Berdasarkan Soal No.1, Hitunglah besarnya Angusuran PPh 25 untuk tahun pajak
2008?

2.

Berdasarkan Soal No.2, Hitunglah Besarnya Angsuran PPh 25 untuk tahun pajak
2008?

3.

Berdasarkan Soal No.3, Hitunglah besarnya Angsuran PPh 25 untuk tahun pajak
2008?

4.

Sdri Dita mendapatkan hadian sebesar Rp.10.000.000,- dari perlombaan cerdas


cermat perpajakan. Atas hadiah yang diperoleh oleh Sdri. Dita maka harus dipotong
pajak atau tidak?jika ya mohon berikan penjelasan, serta sifat pajak (Final atau tidak
final)?

Dipotong PPh 21 bersifat tidak final dengan tarif Progresif.

1.

Sdri. Filia mendapatkan hadiah undian berupa kendaraan bermotor senilai


Rp.12.000.000 sebelum PPN. Bagaimana perlakuan dan sifat pemotongan pajak atas
hadiah undian tersebut?

Dikenakan PPh Pasal 4 ayat 2 dan bersifat final sebesar 25% dari penghasilan bruto.

2.

Sdr. Jovin mendapatkan hadiah langsung dari CV. Oneway Smartax Indonesia
berupa Televisi 14. Bagaimana Perlakuan Pajak atas hadiah langsung yang diterima
oleh Sdr. Jovin?
Tidak dikenakan PPh karena hadiah langsung tanpa diundi.

1.

Apa yang dimaksud dengan subjek pajak luar negeri menurut peraturan
perpajakan?

Pasal 2 ayat 4 UU PPh mengatur tentang subjek pajak luar negeri:

Yang dimaksud dengan Subjek Pajak Luar Negeri adalah:

Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia
tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan usaha yang
tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia;

Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia
tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau
memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.

1.

Apakah Badan Perwakilan Negara Asing termasuk subjek pajak?

Tidak termasuk subjek pajak

Berdasarkan Pasal 3 UU PPh diatur tentang pihak yang tidak termasuk sebagai
subjek pajak, yaitu:
Badan Perwakilan Negara Asing;
Pejabat Perwakilan Negara Asing dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing;
Organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Mentri Keuangan;
Pejabat Organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

2.

Apakah Pejabat Perwakilan Diplomatik atau Konsulat termasuk Subjek Pajak

Tidak termasuk subjek pajak

Berdasarkan Pasal 3 UU PPh diatur tentang pihak yang tidak termasuk sebagai
subjek pajak, yaitu:
Badan Perwakilan Negara Asing;
Pejabat Perwakilan Negara Asing dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing;
Organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Mentri Keuangan;
Pejabat Organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

3.

Apakah Organisasi Internasional berdasarkan PERMENKEU No.87/PMK.03/ 87


tertanggal 30 Agustus 2007 termasuk subjek pajak?

Tidak termasuk subjek pajak

Berdasarkan Pasal 3 UU PPh diatur tentang pihak yang tidak termasuk sebagai
subjek pajak, yaitu:
Badan Perwakilan Negara Asing;
Pejabat Perwakilan Negara Asing dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing;
Organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Mentri Keuangan;
Pejabat Organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

1.

Jumlah Penghasilan tidak Kena Pajak Tahun 2009 (Wajib pajak dan seluruh
tanggungan maksimal)?

Wajib pajak Rp.15.840.000 pertahun


Istri Rp.1.320.000,- pertahun
Tanggungan Ke 1 Rp.1.320.000 pertahun
Tanggungan Ke 2 Rp.1.320.000 pertahun
Tanggungan Ke 3 Rp.1.320.000 pertahun

2.

Jumlah Penghasilan tidak kena pajak tahun 2008?

Wajib pajak Rp.13.200.000 pertahun


Istri Rp.1.200.000,- pertahun
Tanggungan Ke 1 Rp.1.200.000 pertahun
Tanggungan Ke 2 Rp.1.200.000 pertahun
Tanggungan Ke 3 Rp.1.200.000 pertahun

3.

Jumlah Penghasilan tidak kena pajak tahun 2007?

Wajib pajak Rp.13.200.000 pertahun


Istri Rp.1.200.000,- pertahun
Tanggungan Ke 1 Rp.1.200.000 pertahun
Tanggungan Ke 2 Rp.1.200.000 pertahun

Tanggungan Ke 3 Rp.1.200.000 pertahun

4.

Jumlah Penghasilan tidak kena pajak tahun 2006?

Wajib pajak Rp.12.000.000 pertahun


Istri Rp.1.200.000,- pertahun
Tanggungan Ke 1 Rp.1.200.000 pertahun
Tanggungan Ke 2 Rp.1.200.000 pertahun
Tanggungan Ke 3 Rp.1.200.000 pertahun

5.

Jumlah penghasilan tidak kena pajak kena pajak tahun 2001?

Wajib pajak Rp.2.880.000 pertahun


Istri Rp.1.440.000,- pertahun
Tanggungan Ke 1 Rp. 1.440.000 pertahun
Tanggungan Ke 2 Rp. 1.440.000 pertahun
Tanggungan Ke 3 Rp. 1.440.000 pertahun

6.

Jumlah biaya jabatan yang maksimal diperbolehkan tahun 2006 pertahun?

Rp.1.290.000

7.

Jumlah biaya jabatan yang masksimal diperbolehkan tahun 2007 pertahun?

Rp.1.290.000

8.

Jumlah biaya jabatan yang maksimal diperbolehkan tahun 2008 pertahun?

Rp.1.290.000

1.

Jumlah biaya jabatan yang maksimal diperbolehkan tahun 2009 pertahun?

Rp.6.000.000

1.

Bpk. Ari memiliki seorang anak kandung dengan pernikahannya dengan Sdri.
Triana. Sekarang anak Bpk. Ari sudah berumur 24 tahun tetapi belum bekerja.
Dalam kondisi seperti ini, maka apakah Bpk. Ari dapat menjadikan anaknya sebagai
tanggungan dalam yang dapat diperhitungkan dalam kewajiban perpajakan Bpk.
Ari?

2.

Bpk. Darwo memiliki seorang adik kandung bernama Dafa. Dalam hal ini apakah
Dafa selaku adik kandung Bpk. Darwo dapat dijadikan sebagai tanggungan Bpk.
Darwo?

1.

Bpk. Andhie memiliki seorang ibu mertua yang sebatang kara. Suaminya sudah
meninggal dunia. Ibu mertua Bpk. Andhie sekarang sudah tinggal bersama Bpk.
Andhie. Apakah Ibu mertua Andhie bisa dijadikan sebagai tanggungan pajak?

1.

Tuan Anwar mendapatkan penghasilan bunga pinjaman dari PT. SEDANG


BERHASIL sebesar Rp.10.000.000,-. Maka atas penghasilan bunga yang diperoleh
oleh Tuan Anwar dipotong PPh Pasal berapa? Berapa besar tarifnya? Apakah Tuan
Anwar dapat menjadikan bukti pemotongan atas PPh tersebut sebagai kredit pajak
Tuan Anwar?

1.

Ibu Petty memiliki sejumlah saham pada PT. SEDANG SIBUK dan atas kepemilikan
saham tersebut Ibu memperoleh penghasilan berupa Dividen pada tahun 2007
sebesar Rp.19.000.000,-. Maka atas penghasilan dividen yang diterima oleh ibu, PPh
apa yang menjadi dasar acuan pemotongan? Berapah besarnya tarif PPh yang
digunakan? Besarnya PPh yang dipotong?

1.

Besarnya Fiskal Luar Negri yang dilakukan melalui jalur udara Tahun 2006?

Jalur Udara = Rp.1.000.000

Jalur Laut = Rp.500.000

2.

Besarnya Fiskal Luar Negri yang dilakukan melalui jalur laut tahun 2007?

Jalur Udara = Rp.1.000.000

Jalur Laut = Rp.500.000

1.

Besarnya Fiskal Luar Negri yang dilakukan melalui Jalur udara tahun 2008?

Jalur Udara = Rp.1.000.000

Jalur Laut = Rp.500.000

2.

Besarnya Fiskal Luar Negri yang dilakukan melalui jalur laut tahun 2009?

Jalur Udara = Rp.2.500.000

Jalur Laut = Rp.1.000.000

3.

Berikut ini adalah beberapa nama akun yang biasa digunakan dalam pencatatan
dan pembukuan wajib pajak:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.

Gaji karyawan; Tidak dikoreksi


Upah; Tidak dikoreksi
Tunjangan Kerajinan; Tidak dikoreksi
Tunjangan Makan; Tidak dikoreksi
Tunjangan Hari Raya; Tidak dikoreksi
Uang Lembur; Tidak dikoreksi
Rekreasi karyawan; dikoreksi 100%
Biaya Entertainment (Tanpa Daftar Nominative); dikoreksi 100%
Premi Asuransi kebakaran bangunan kantor; Tidak dikoreksi
Premi Asuransi Jiwa Keluarga Direktur; dikoreksi 100%
Perjalanan Dinas Dalam Negeri; Tidak dikoreksi
Perjalanan Dinas Luar Negeri; Tidak dikoreksi
PBB Perusahaan; Tidak dikoreksi
PBB Rimah Tinggal Pribadi; dikoreksi 100%
Kerugian Piutang Tak Tertagih sesuai dengan ketentuan perpajakan; Tidak
dikoreksi
Sumbangan PMI; Tidak dikoreksi
Sumbangan Korban Gempa Jogja; Tidak dikoreksi
Sumbangan Korban Tsunami Aceh; Tidak dikoreksi
Biaya Bunga Pinjaman Usaha; Tidak dikoreksi
Biaya Lain Lain (Tidak ada perincian); dikoreksi 100%
Makan Siang Karyawan; Tidak dikoreksi
Penggantian Pengobatan; Tidak dikoreksi
Biaya Lisrik dan Biaya Air Perusahaan; Tidak dikoreksi
Biaya Listrik dan Biaya Air Rumah Direktur; dikoreksi 100%

25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.

Biaya Telphone; Tidak dikoreksi


Biaya Handphone;dikoreksi 50%
Biaya Voucher Telphone; dikoreksi 50%
Biaya Rekresai Keluarga; dikoreksi 100%
Fiskal luar Negri; dikoreksi 100%
Biaya Perawatan Perusahaan; Tidak dikoreksi
Biaya Perawatan Rumah Direktur; dikoreksi 100%
Sumbangan Kelurahan; dikoreksi 100%
Biaya Sewa Apartemen Pribadi Bapak Direkur; dikoreksi 100%
Biaya Sewa Kantor; Tidak dikoreksi
Biaya Sewa Ruko; Tidak dikoreksi
Biaya Sewa Kendaraan Kantor; Tidak dikoreksi
Biaya Internet. Tidak dikoreksi