Anda di halaman 1dari 13

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Sejarah Singkat ESP


Pada tahun 1911, seorang kelahiran Rusia bernama Armais Arutunoff
menemukan teknologi motor listrik yang ditenggelamkan di dalam cairan air
sebagai penggerak pompa air (sentifugal) untuk kepentingan militer setelah
peperangan selesai, Arutunoff membuat single stage centrifugal pump yang
digerakkan oleh motor listrik untuk kepentingan pertambangan, tidak lama
kemudian, dibuat multi stage pump (pompa bertingkat banyak) dimana motor
listriknya ikut ditenggelamkan di dalam cairan. Sejak saat itu muncul
teknologi pengangkatan buatan untuk memompakan cairan dari dalam sumur
ke permukaan dengan pompa sentrifugal bertingkat banyak (multi stage)
dengan nama REDA Pump.
REDA singkatan dari Russian Electro Dynamo of Arutonoff. Setelah
lebih dari 90 tahun sejak pertama kali Armais Arutunoff menemukan metode
ESP ini, sekarang ESP dipergunakan hampir diseluruh dunia dengan hasil
yang sangat memuaskan. Selama kurun waktu tersebut telah banyak
berkembang perusahaan-perusahaan yang membuat ESP dan dilakukan upayaupaya penyempurnaan serta pengembangan baik dalam hal pemilihan dan
penggunaan material, metalurgi, teknologi, daya tahan serta kemampuan
produksinya. Semua itu dilakukan dalam usaha untuk mencapai kinerja
optimal dari system operasional ESP.
3.2 Pengertian Umum Pompa ESP
Electric Submersible Pump adalah pompa yang dibuat atas dasar pompa
sentrifugal bertingkat (stage) banyak dimana setiap tingkat mempunyai
impeller, bagian berputar yang fungsinya memberikan kecepatan terhadap
cairan yang dipompakan dan diffuser adalah bagian yang diam berfungsi
mengubah tenaga yang berupa kecepatan tinggi menjadi kecepatan rendah
tetapi memiliki tenaga tinggi. Pompa ESP secara keseluruhan dari pompa dan
motornya ditenggelamkan ke dalam cairan, pompa ini digerakkan dengan
motor listrik melalui suatu poros motor (shaft) yang memutar sudu-sudu

impeller pompa. Perputaran sudu-sudu itu menimbulkan gaya sentrifugal yang


digunakan untuk mendorong fluida ke permukaan.
3.3 Syarat-syarat Pemilihan Pompa ESP
1. Tekanan formasi rendah
2. Laju produksi antara 200 - 60.000 STB/day
3. Produktivity index masih tinggi
4. Sumur tidak mempunyai problem kepasiran
5. Tersedia peralatan ESP
3.4 Keuntungan dan Kerugian penggunaan pompa ESP
3.4.1 Keuntungan
1. Dapat beroperasi pada kecepatan tinggi.
2. Mampu memompa fluida dalam jumlah besar.
3. Dapat

memisahkan

gas

yang

mungkin

mengganggu

proses

pengisapan.
4. Sesuai dipergunakan pada sumur-sumur yang mempunyai PI tinggi.
5. Sesuai dipasang pada sumur-sumur miring karena tidak ada bagianbagian yang bergerak baik di permukaan maupun di dalam sumur.
6. Panas yang ditimbulkan oleh putaran motor akan mengatasi masalah
paraffin dan fluida yang viscositasnya tinggi pada temperatur yang
rendah.
7. Biaya peralatan relatif kecil jika dibandingkan dengan laju produksi
yang diperoleh.
3.4.2 Kerugian
1. Biaya Pertama pemasangan ESP relatif lebih mahal dibanding dengan
system artificial lift yang lain
2. Kurang baik pada sumur yang memiliki masalah kepasiran
3. Pada sumur produksi dengan reservoir yang tidak kompak dimana
akibat dari pemompaan dengan rate dan kecepatan yang tinggi, bisa
menyebabkan pasir terlepas dari sedimennya dan masuk ke dalam
pompa sehingga pompa mengalami abrasi.
III-2

4. Pada sumur yang satu rated reservoir (reservoir jenuh) dengan tekanan
lapisan di bawah tekanan saturasi maka gas dalam cairan yang
dipompakan bisa menurunkan efisiensi pompa dan bisa terjadi gas
locking.
5. Menimbulkan emulsi yang diakibatkan dari perputaran impeller
pompa yang tinggi.
6. Mempercepat terjadinya water conning. Akibat dari pemompaan
dengan rate yang tinggi maka akan memacu terjadinya water conning.
terutama pada perforasi yang dekat dengan water oil contact.
3.5 Peralatan di Atas Permukaan
3.5.1 Wellhead
Wellhead atau kepala sumur adalah tempat duduk menggantungnya
tubing di dalam sumur. Wellhead yang digunakan untuk instalasi ESP tidak
sama dengan Wellhead untuk sumur sembur alam ataupun sumur yang
menggunakan artificial lift lainnya tetapi disesuaikan dengan keperluan.
Wellhead dilengkapi dengan tubing hanger khusus yang mempunyai
lubang untuk kabel pack off, Wellhead juga dilengkapi dengan seal agar
gas tidak bocor ke permukaan.
3.5.2 Junction Box
Junction

Box berfungsi

sebagai

pengaman

terhadap

bahaya

kebakaran dan peledakan. Alat ini dipasang di permukaan di antara kepala


sumur dan switchboard untuk alasan keamanan. Junction Box di buat
tahan terhadap cuaca dengan bahan pelat baja, serta mempunyai kawat
grounding. Prosedur letak pemasangan terhadap well head dan switch
board juga diatur dalam recomended best practice.
3.5.3 Switchboard / Motor Controller
Switchboard adalah panel kontrol kerja di permukaan saat pompa
bekerja yang dilengkapi dengan motor controller, overload dan underload
protection juga ammeter chart yang berfungsi mencatat arus motor

III-3

bekerja. Ampere chart ini merupakan bagian yang sangat penting untuk
memberikan informasi tentang kejadian pada motor dalam sumur.
Fungsi utama dari Switchboard adalah:
1. Untuk mengontrol kemungkinan terjadinya downhole problem
seperti: overload atau underload current.
2. Auto restart underload pada kondisi intermittent well.
3.5.4 Transformer
ESP motor mempunyai kapasitas horse power, ampere dan voltage
yang beragam. Tegangan yang dibutuhkan untuk mengoperasikan ESP
motor berkisar antara 7.200 13.800 volt. Alasan pemberian tegangan
input tinggi adalah untuk mendapatkan ampere yang rendah pada jalur
transmisi sehingga tidak diperlukan kabel yang besar, karena selain
harganya mahal juga tidak praktis. Tegangan input yang tinggi akan
diturunkan dengan menggunakan step-down tranformer sampai dengan
tegangan yang dibutuhkan oleh motor.
3.6 Peralatan Bawah Permukaan
3.6.1 Pompa
Pompa dipasang menggantung pada tubing dengan menggunakan
tubing hanger. Pompa yang dipakai adalah jenis pompa centrifugal multi
stage, satu stage terdiri dari satu impeller dan satu diffuser. Impeller
terkunci pada sumbu pompa (shaft), sedangkan diffuser dipress pada
housing pompa dengan compression sub jumlah stage yang dipasang pada
setiap pompa akan berkorelasi langsung dengan kapasitas head (head
capacity) dari pompa tersebut.

Dalam pemasangan di lapangan dapat menggunakan lebih dari satu


pompa yang biasanya disebut tandem. Sedangkan banyaknya pompa yang
dipasang akan bervariasi dua atau tiga tergantung dari head capacity yang
dibutuhkan untuk menaikan fluida dari dasar sumur ke permukaan.
III-4

Untuk mengoptimalkan kerja pompa, pompa diletakkan 300 ft


dibawah tinggi cairan. Pompa sangat sensitif terhadap rate fluida yang
masuk, jika beban cairan yang masuk ke pompa berkurang maka akan
menyebabkan arus listrik menurun, kondisi ini disebut underload dan
pompa akan mati. Penyebab underload adalah masuknya gas yang
berlebihan sehingga beban pompa menjadi lebih ringan (gas locking). Dan
sebaliknya apabila beban pompa menjadi lebih berat dari keadaan awal
maka akan menyebabkan arus meningkat (overload). Overload ini
biasanya disebabkan oleh naiknya laju produksi atau juga karena scale
yang terbawa ke pompa.
3.6.2 Intake (Gas Separator)
Dipasang di bawah pompa dimana cara menyambung sumbunya
memakai coupling. Intake dirancang untuk mengurangi volume gas yang
masuk ke dalam pompa gas separator.
Hasil yang berupa gas akan dialirkan menuju annulus dan dialirkan
ke flow line lewat casing valve, sedangkan cairan akan mengalir ke pompa
melalui tubing ke permukaan. Cairan yang telah mengalami proses
pemisahan tidak 100% murni cairan tetapi masih mengandung gas
tergantung dari kemampuan gas separator tersebut.
Bila sumur tidak banyak mengandung gas cukup menggunakan
standar Intake. Intake

merupakan saluran masuknya fluida dari dasar

sumur ke pompa menuju ke permukaan.

1. Standar Intake
Digunakan untuk sumur produksi dengan GRL rendah. Jumlah gas
yang masuk ke Intake harus kecil dari 10 15 % dari total volume fluida.
Intake mempunyai lubang untuk tempat masuknya fluida ke pompa, dan di
III-5

bagian luarnya dipasang selubung (screen) yang berguna untuk menyaring


partikel masuk ke Intake sebelum masuk ke pompa.
2. Rotary Gas Separator
Dapat memisahkan gas sampai 90% dan dipasang untuk sumursumur
dengan GRL tinggi, tidak direkomendasikan untuk sumursumur yang
abrasive.
Cara pemisahan gas dari fluida berlansung dimana fluida memasuki
gas separator langsung menuju bagian bawah inducer yang berbentuk ulir.
Dibagian ini fluida akan mengalami kenaikan tekanan dan mendorong ke
atas memasuki sudu pemutar (centrifuge) dan akibat adanya gaya
centrifugal maka gas akan memisahkan diri dari cairan. Akibat dari
terpisahnya gas, maka cairan akan mempunyai masa jenis yang lebih besar
dan akan terlempar ke dinding, sedangkan gas yang lebih ringan akan
bergerak ke atas sepanjang sudu pemutar menuju pemisah aliran.
3. Static Gas Separator
Static Gas Separator atau sering disebut Reverse Gas Separator,
mampu memisahkan gas hingga 20% dari fluidanya. Fluida yang masuk
melalui screen akan mengalami proses pencekikan (throting), sehingga
fluida tersebut akan mengalami penurunan tekanan.
Pada tahap pertama ini sebagian gas yang terlarut dalam cairan akan
terlepas dan selanjutnya akan mengalami pembalikan arah aliran ke bawah
menuju ke pick up impeller yang ada pada gas separator tersebut. Impeller
ini berfungsi sebagai pemutar dan sekaligus pengangkatan fluida ke atas.
Putaran impeller akan menimbulkan proses turbulensi pada fluida dan
proses centrifugal, dimana cairan akan terlempar ke luar sedangkan gasnya
akan tetap berada di pusaran sekitar sumbu, bersamasama gas dan cairan
bergerak ke atas.
Cairan diarahkan masuk ke pompa sedangkan gas yang diarahkan
keluar menuju annulus melalui lubang yang berada di bagian atas
separator. Dengan demikian diharapkan pada saat fluida memasuki stage

III-6

pompa, fluida mempunyai masa jenis yang relatif lebih tinggi dengan
kondisi sebelum mengalami pemisahan.
3.6.3 Protector
Protector (reda) sering disebut juga dengan seal section (centrilif)
atau equalizer. Protector diisi dengan oil yang memiliki nilai tahanan
tinggi karena jika nilai tahanan rendah maka akan mengantarkan arus
listrik dan akan menyebabkan terhubungannya antara phase dengan
ground (body), sehingga akan menyebabkan motor terbakar. Secara prinsip
Protector mempunyai empat fungsi utama, yaitu:
1. Untuk melindungi tekanan dalam motor dari tekanan di annulus.
2. Menyekat masuknya fluida sumur ke dalam motor.
3. Tempat duduknya thrust bearing yang mempunyai bantalan axial
dari jenis marine type untuk meredam gaya axial yang
ditimbulkan oleh pompa.
4. Memberikan ruang pada pengembangan dan penyusutan minyak
motor sebagai akibat perubahan temperature dari motor pada saat
bekerja dan saat dimatikan.
3.6.4 Motor
Jenis motor pompa ESP adalah motor listrik dua kutub, tiga fasa
yang diisi minyak pelumas khusus yang mempunyai tahanan listrik
(elektrik strength). Motor dipasang paling bawah pada rangkaian dan
motor digerakan oleh arus listrik yang dikirim melalui kabel dari
permukaan.
Motor berfungsi untuk menggerakan pompa dengan mengubah
tenaga listrik menjadi tenaga kinetik. Motor dibagi menjadi dua bagian
pokok, yaitu:

1. Rotor

III-7

Rotor adalah gulungan kabel haltist yang berputar. Yang sering


dipergunkan adalah motor induksi, dimana rotor dibuat dari besi pejal
silindris 1 feet panjangnya yang dipasang di shaft menggunakan key.
2. Stator
Stator adalah gulungan kabel halus yang stasioner dan menempel
pada badan motor. Stator menginduksi aliran listrik dan mengubah
menjadi tenaga putaran pada rotor, dengan berputarnya rotor maka
poros (shaft) yang berada di tengahnya akan ikut berputar, sehingga
poros yang saling berhubungan akan ikut berputar pula (poros pompa,
Intake dan Protector).
3.6.5 Electric Cable
Kabel listrik yang digunakan adalah jenis 3 konduktor. Dilihat dari
jenisnya ada 2 jenis, yaitu flat cable dan round cable type. Kabel berfungsi
sebagai media penghantar arus listrik dari switchboard sampai motor ESP
dalam sumur.
3.6.6 Pressure Sensing Instrument Unit
Pressure sensing Instrument Unit atau PSI mempunyai dua
komponen utama, yaitu:
1. PSI Down Hole Unit
Dipasang di bawah motor type upper atau center tandem karena
alat ini dihubungkan pada sambungan WYE dari electric motor yang
seolah olah bagian dari motor.
2. PSI Surface Hole Unit
Merupakan bagian dari system yang mengontrol kerja down hole
unit serta mengambil informasi dari down hole unit.
3.7 Prinsip Kerja Electric Submersible Pump (ESP)
Berdasarkan prinsip kerja pompa sentrifugal dengan sumbu putar tegak
lurus. Pompa sentrifugal adalah mesin hidroulis dengan jalan memutar cairan
melalui Impeller pompa, Impeller akan mendorongnya masuk, sebagai akibat
proses sentrifugal maka fluida tersebut akan terlempar ke luar dan diterima
III-8

oleh diffuser, oleh diffuser tenaga kinetic akan diubah menjadi tenaga
potensial (tekanan), maka dengan demikian terjadilah proses pengisapan.
3.8 Sistem
Sistem berkaitan dengan isu kompleksitas dari hal-hal yang sulit
dipahamioleh manusia. Sistem adalah keadaan-keadaan yang dipersepsikan
oleh manusia, yang menyatakan bahwa keadaan yang paling konkret dapat
disajikan dari beragam sudut pandang. Konsep persepsi menyangkut cara
membangun model-model dalam pikiran kita, yang mana bertalian dengan
konsep ide yang menyatakan

ide sebagai pemahamanatau opini manusia

terhadap model yang dikonstruksikan dalam pikirannya. Kedua konsep ini


berhubungan dengan kepentingan dan kemampuan individual manusia.
(Flood & Carson,1988)
Sistem merupakan koleksi dari satu objek atau lebih yang saling terkait
dimana objek tersebut dinyatakan sebagai suatu entitas secara fisik dengan
karakteristik atau atribut yang spesifik dan atribut dari objek digambarkan
dalam bentuk parameter dan variabel (Murthy et al., 1990). Daellenbach
(1994) menguraikan konsep sistem sebagai berikut:
1. Sistem merupakan pengaturan pemasangan suatu komponen. Pengaturan
berarti ada hubungan khusus yang terjadi antara komponen-komponen
tersebut.
2. Sistem mengerjakan sesuatu menunjukan karakter yang unik dari suatu
sistem
3. Setiap sifat komponen memberikan konstribusi kepada sistem dan
mempengaruhinya. Tidak ada komponenyang memberikan sifat tersendiri
dalam sistem. Sifat sistem dapat berubah bila ada komponen yang dilepas/
dipisahkan
4. Kelompok komponen dari sistem dapat mempunyai sifat tersendiri,
yang dapat membentuk sub sistem.
5. Sistem mempunyai suatu lingkungan yang menyediakan input kepada
sistem dan menerima outputdari sistem.
6. Sistem diidentifikaski oleh seseorang, yang dimulai dari suatu kepentingan
yang spesifik.

III-9

Dengan demikian sistem memiliki sejumlah elemen penting yaitu komponen,


relasi antar komponennya, perilaku atau aktivitas atau proses transformasi,
lingkungan, masukan dan keluaran, serta kepentingan khusus dari pengamat
yang mendiskripsikan sistem itu serta mengarahkan berbagai proses
yangberlangsung dalam sistem tersebut, sehingga penetapan suatu sistem
bersifat subjektif.
Checkland (1981, dalam Khisty, 1995) menyajikan tipologi sistem yang
terdiri atas 3 jenis sistem yaitu natural system, physical system, dan human
activity system. Kedua jenis sistem yang pertama dikenal dengan hard system
dimana metodologi sistemnya terus dikembangkan secara berkelanjutan dan
sukses dalam aplikasinya. Sistem yang ketiga, umumnya sangat kacau, tidak
terdefinisikan, dan tidak dapat digambarkan dengan jelas sehingga analisis
harus berdasarkan aktivitas yang ditetapkan, penilaian manusia,dan hubunganhubungan non fisik. Hal ini dikarenakan sistem aktivitas manusia hanya dapat
dinyatakan sebagai persepsi dari orang yang mengaitkan maksud terhadap apa
yang mereka harapkan.
3.9 Pemodelan Sistem
Model,
didefinisikan

menurut

Websters

Ninth

New

Collegiate

Dictionary,

sebagai sebuah deskripsi atau analogi yang digunakan untuk

membantu menggambarkan sesuatu yang tidak dapat diamati secara langsung


(Daellenbach, 1994), yang disajikan dalam bahasa tertentu (yang disepakati)
dari suatu sistem nyata (Simatupang, 1994) dan dapat disajikan dalam
bentuk ikonik, simbolik, ataupun analogi (Murthy et al., 1990).
Pemodelan sebuah sistem harus memenuhi beberapa kriteria yakni (i)
model harus mewakili (merepresentasikan) sistem nyata dan (ii) model
merupakan

penyederhanaan dari kompleksnya sistem. Pendekatan sistem

mencoba menggali elemen-elemen terpenting yang memiliki kontribusi yang


signifikan terhadap tujuan sistem, dan membantu untuk memahami masalah
yang ditetapkan terkait dengan sifat, lingkungan, gejala pembangkit dan
gejala respons. (Simatupang, 1994).

III-10

Pendekatan

sistem

menitikberatkan

pada

pengukuran

tujuan,

kuantifikasi, reductionist thinking dan mechanistic synthesis, atau dengan kata


lain pengamat tidak mempengaruhi keteraturan yang ada (clockwork) tetapi ia
mengetahui apa yang terjadi dimanapun jika salah satu bagian sistem dirubah
dan si pengamat menjadi bagian dari sistem dalam hal pemilihan parameter
dan pembangunan

metode (Schiere et al., 2004). Pendekatan

sistem

menyajikan pola pikir yang sistematis dalam merekonstruksikan suatu situasi


permasalahan yang dikemas
Beragam

metode

dalam suatu metodologi berbasis sistem.

dikembangkan

dalam

metodologi

sistem

dengan

karakteristik permasalahaan yang berbeda namun secara umum dapat


dikelompokkan dalam dua kategori yaitu,soft system methodology (SSM) dan
hard system methodology (HSM).
SSM merupakan pendekatan yang berkaitan dengan situasi-situasi
permasalahan yang kompleks karena kacau balau, tidak terstruktur, tidak
terdefinisikan, tidak bebas dari manusia, atau dengan kata lain stakeholder
yang berbeda dengan sudut pandang yang berbeda memiliki persepsi yang
berbeda tentang situasi permasalahan dan isu-isu utamanya dan kemungkinan
tidak ada

kesesuaian dalam tujuan. Sejumlah metodologi dikembangkan

dalam kategori SSM seperti the strategic assumption surfacing and tasting
method, the viable systems model, Checklands soft systems methodology,
the social system science, robustness analysis, strategic choice approach,
strategic option development and analysis dan the total system intervention.
(Daellenbach, 1994).
SSM difokuskan pada proses pembelajaran dan penyelidikan dan
memuat

elemen-elemen dari struktur situasi, elemen-elemen proses dan

hubungan antara keduanya disamping menguji peran penting dari setiap aktor
dalam situasi, perilaku yang diharapkan dalam peran (norma) dan nilai
(value) yang menilai kinerja sistem (Khisty, 1995). Stakeholder adalah orangorang yang memiliki kepentingan pribadi dalam situasi permasalahan dan
solusinya (Churchman, 1961,

dalam Reisman& Oral, 2003). Daellenbach

(1994) mengelompokkanstakeholder ini menjadi problem owner, problem


III-11

user, problem customer, dan problem solver, dimana para stakeholder ini tidak
mengacu pada orang secara aktual tetapi pada peran dari berbagai orang yang
terlibat.
HSM ditujukan untuk masalah-masalah yang telah terdefinisikan guna
mencari solusi yang optimal. Pendekatan hard system menetapkan tujuan yang
ingin dicapai dan merancang sistem untuk mencapai tujuan itu (Khisty,1995).
Hasil penelusuran Flood dan Carson (1988) menemukan beberapa metode
yang digunakan dalam metodologi ini yaitu analisis sistem, rekayasa sistem,
dan riset operasi. Analisis sistem merupakan suatu penaksiran yang sistematik
terhadap biaya dan implikasi-implikasi yang lainnya untuk memenuhi
kebutuhan yang ditetapkan dalam berbagai cara. Rekayasa sistem mencakup
sejumlah aktivitas yang diarahkan secara bersamaan untuk penciptaan entitas
komplek buatan manusia dan atau prosedur dan aliran-aliran informasi yang
berkaitan dengan operasi-operasinya. Rekayasa sistem lebih ditujukan untuk
mendesian kembali sistem yang ada kedalam sistem yang baru. Riset operasi
dibandingkan

dengan

rekayasa

sistem

lebih

ditujukan

untuk

mengoperasionalkan sistem. Riset operasi mencakup konstruksi formal model


matematika yang terdiri atas fungsi, persamaan dan ketidaksamaan serta
teknik-teknik yang tersedia untuk mencari solusi-solusi optimal bagi model
tersebut.
HSM mengabaikan faktor manusia dengan latar belakang pemikiran
berbasis padapaham reduksionisme yang menitikberatkan pada aspek
permasalahan dan visi dari keseluruhan keteraturan yang mekanistik. HSM,
dengan memfokuskan pada kegunaan dan output yang terukur, cenderung
mengabaikan aspek-aspek pikiran (mind) dan pengaruh waste. Selain itu,
dengan membakukan suatu sistem ke dalam suatu batasan yang didefinisikan
dengan baik, HSM cenderung mengabaikan variabilitas dan perubahan dalam
waktu dan ruang. (Schiere et al., 2004).

3.10 Metodologi OR/MS


III-12

Metodologi OR/MS, sebagai salah satu HSM, meliputi 3 tahap utama


yaitu formulasi permasalahan, pemodelan matematika dan implementasi
rekomendasi. Ketiga tahap ini dijabarkan kembali dalam 11 tahapan rinci
yang menyatakan proses abstraksi permasalahan sampai tindak lanjut hasil
yang diberikan oleh model yang telah diimplementasikan.

Gambar 3.1 Metodologi OR/MS (Daellenbach, 1994, hal. 90)

III-13