Anda di halaman 1dari 13

KESEHATAN LINGKUNGAN

Pengertian Kesehatan Lingkungan


Kesehatan lingkungan adalah kesehatan yang sangat penting bagi kelancaran
kehidupan dibumi, karena lingkungan adalah tempat dimana pribadi itu tinggal. Lingkungan
yang sehat dapat dikatakan sehat bila sudah memenuhi syarat-syarat lingkungan yang sehat.
Kesehatan lingkungnan yaitu bagian integral ilmu kesehatan masyarakat yang khusus
menangani dan mempelajari hubungan manusia dengan lingkungan dalam keseimbangan
ekologis.
Jadi kesehatan lingkungan merupakan bagian dari ilmu kesehatan mayarakat.
Tujuan Pemeliharaan Kesehatan Lingkungan
Menjaga Kebersihan Lingkungan dengan lingkungan yang sehat maka kita harus
menjaga kebersihannya, karena lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang bersih dari
segala penyakit dan sampah.Sampah adalah mush kebersihan yang paling utama Sampah
dapat membawa dampak yang buruk pada kondisi kesehatan manusia. Bila sampah dibuang
secara sembarangan atau ditumpuk tanpa ada pengelolaan yang baik, maka akan
menimbulkan berbagai dampak kesehatan yang serius. Tumpukan sampah yang dibiarkan
begitu saja akan mendatangkan serangga yang membawa kuman penyakit. Namun hal ini
tidaklah akan terjadi lama jika setiap orang sadar akan masalah sampah dan setiap orang
mengerti akan dampak yang ditimbulkan dari sampah ini. Jika sampah dikelola dengan cara
yang baik dan benar, maka sampah bukanlah masalah.
Mengelola sampah sebenarnya tidaklah sulit. Sampah bahkan dapat menghasilkan
sesuatu yang dapat kita manfaatkan.Melalui suatu pembiasaan menjadi suatu kebiasaan dan
budaya. Untuk menciptakan kebiasaan hidup bersih dan sehat memang harus kita awali sejak
dini, dimana dari kebiasaan itu akan terciptalah budaya untuk bersih dan sehat. Maka dari itu
dalam pengelolaan sampah dibutuhkan kesadaran dari masyarakat untuk menciptakan suatu
lingkungan yang sehat dan bersih dari sampah yang berserakan.

Berdasarkan komposisinya, sampah dibedakan menjadi dua, yaitu:


1. Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran,
daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos;
2.

Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah
pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu,
dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku
dijual untuk dijadikan produk lainnya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual
adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng,
kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton;

Di negara-negara berkembang komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik, sebesar


60 70%, dan sampah anorganik sebesar 30%.

Dampak Lingkungan Yang Ditimbulkan Akibat Sampah

Sumber Gambar : TPA Batu Layang, Pontianak Utara


Sampah merupakan hasil sampingan dari kegiatan manusia sehari-hari. Jumlah
sampah yang semakin besar memerlukan pengelolaan yang harus dilakukan

secara

bertanggung jawab.Selama tahapan penanganan sampah banyak kegiatan dan fasilitas yang
bila tidak dilakukan / disediakan dengan benar akan menimbulkan dampak yang berpotensi
mengganggu lingkungan.
1.

Perkembangan Vektor Penyakit


Wadah sampah merupakan tempat yang sangat ideal bagi pertumbuhan vektor

penyakit terutama lalat dan tikus. Hal ini disebabkan dalam wadah sampah tersedia sisa
makanan dalam jumlah yang besar. Tempat Penampungan Sementara / Container juga
merupakan tempat berkembangnya vektor tersebut karena alasan yang sama. Sudah barang
tentu akan menurunkan kualitas kesehatan lingkungan sekitarnya.
Vektor penyakit terutama lalat sangat potensial berkembangbiak di lokasi TPA. Hal ini
terutama disebabkan oleh frekwensi penutupan sampah yang tidak dilakukan sesuai ketentuan

sehingga siklus hidup lalat dari telur menjadi larva telah berlangsung sebelum penutupan
dilaksanakan. Gangguan akibat lalat umumnya dapat ditemui sampai radius 1-2 km dari
lokasi TPA
2.

Pencemaran Udara
Sampah yang menumpuk dan tidak segera terangkut merupakan sumber bau tidak

sedap yang memberikan efek buruk bagi daerah sensitif sekitarnya seperti permukiman,
perbelanjaan, rekreasi, dan lain-lain. Pembakaran sampah seringkali terjadi pada sumber dan
lokasi pengumpulan terutama bila terjadi penundaan proses pengangkutan sehingga
menyebabkan kapasitas tempat terlampaui. Asap yang timbul sangat potensial menimbulkan
gangguan bagi lingkungan sekitarnya.
Sarana pengangkutan yang tidak tertutup dengan baik juga sangat berpotensi
menimbulkan masalah bau di sepanjang jalur yang dilalui, terutama akibat bercecerannya air
lindi dari bak kendaraan.Pada instalasi pengolahan terjadi berupa pelepasan zat pencemar ke
udara dari hasil pembuangan sampah yang tidak sempurna; diantaranya berupa : partikulat,
SO x, NO x, hidrokarbon, HCl, dioksin, dan lain-lain. Proses dekomposisi sampah di TPA
secara kontinu akan berlangsung dan dalam hal ini akan dihasilkan berbagai gas seperti CO,
CO2, CH4, H2S, dan lain-lain yang secara langsung akan mengganggu komposisi gas
alamiah di udara, mendorong terjadinya pemanasan global, disamping efek yang merugikan
terhadap kesehatan manusia di sekitarnya.
Pembongkaran sampah dengan volume yang besar dalam lokasi pengolahan
berpotensi menimbulkan gangguan bau. Disamping itu juga sangat mungkin terjadi
pencemaran berupa asap bila sampah dibakar pada instalasi yang tidak memenuhi syarat
teknis.
Seperti halnya perkembangan populasi lalat, bau tak sedap di TPA juga timbul akibat
penutupan sampah yang tidak dilaksanakan dengan baik. Asap juga seringkali timbul di TPA
akibat terbakarnya tumpukan sampah baik secara sengaja maupun tidak. Produksi gas metan
yang cukup besar dalam tumpukan sampah menyebabkan api sulit dipadamkan sehingga asap
yang dihasilkan akan sangat mengganggu daerah sekitarnya.
3.

Pencemaran Air
Prasarana dan sarana pengumpulan yang terbuka sangat potensial menghasilkan lindi

terutama pada saat turun hujan. Aliran lindi ke saluran atau tanah sekitarnya akan

menyebabkan terjadinya pencemaran.Instalasi pengolahan berskala besar menampung


sampah dalam jumlah yang cukup besar pula sehingga potensi lindi yang dihasilkan di
instalasi juga cukup potensial untuk menimbulkan pencemaran air dan tanah di
sekitarnya.Lindi yang timbul di TPA sangat mungkin mencemari lingkungan sekitarnya baik
berupa rembesan dari dasar TPA yang mencemari air tanah di bawahnya. Pada lahan yang
terletak di kemiringan, kecepatan aliran air tanah akan cukup tinggi sehingga dimungkinkan
terjadi cemaran terhadap sumur penduduk yang trerletak pada elevasi yang lebih rendah.
Pencemaran lindi juga dapat terjadi akibat efluen pengolahan yang belum memenuhi
syarat untuk dibuang ke badan air penerima. Karakteristik pencemar lindi yang sangat besar
akan sangat mempengaruhi kondisi badan air penerima terutama air permukaan yang dengan
mudah mengalami kekurangan oksigen terlarut sehingga mematikan biota yang ada.
4.

Pencemaran Tanah
Pembuangan sampah yang tidak dilakukan dengan baik misalnya di lahan kosong atau

TPA yang dioperasikan secara sembarangan akan menyebabkan lahan setempat mengalami
pencemaran akibat tertumpuknya sampah organik dan mungkin juga mengandung Bahan
Buangan Berbahaya (B3). Bila hal ini terjadi maka akan diperlukan waktu yang sangat lama
sampai sampah terdegradasi atau larut dari lokasi tersebut. Selama waktu itu lahan setempat
berpotensi menimbulkan pengaruh buruk terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya.
5.

Gangguan Estetika
Lahan yang terisi sampah secara terbuka akan menimbulkan kesan pandangan yang

sangat buruk sehingga mempengaruhi estetika lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat terjadi
baik di lingkungan permukiman atau juga lahan pembuangan sampah lainnya. Proses
pembongkaran dan pemuatan sampah di sekitar lokasi pengumpulan sangat mungkin
menimbulkan tumpahan sampah yang bila tidak segera diatasi akan menyebabkan gangguan
lingkungan. Demikian pula dengan ceceran sampah dari kendaraan pengangkut sering terjadi
bila kendaraan tidak dilengkapi dengan penutup yang memadai.
Di TPA ceceran sampah terutama berasal dari kegiatan pembongkaran yang tertiup
angin atau ceceran dari kendaraan pengangkut. Pembongkaran sampah di dalam area
pengolahan maupun ceceran sampah dari truk pengangkut akan mengurangi estetika
lingkungan sekitarnya. Sarana pengumpulan dan pengangkutan yang tidak terawat dengan
baik merupakan sumber pandangan yang tidak baik bagi daerah yang dilalui.

Lokasi TPA umumnya didominasi oleh ceceran sampah baik akibat pengangkutan
yang kurang baik, aktivitas pemulung maupun tiupan angin pada lokasi yang sedang
dioperasikan. Hal ini menimbulkan pandangan yang tidak menyenangkan bagi masyarakat
yang melintasi / tinggal berdekatan dengan lokasi tersebut.

PENANGGULANGAN SAMPAH
1.

Penumpukan
Dengan metode ini, sebenarnya sampah tidak dimusnahkan secara langsung, namun

dibiarkan membusuk menjadi bahan organik. Metode penumpukan bersifat murah, sederhana,
tetapi menimbulkan resiko karena berjnagkitnya penyakit menular, menyebabkan
pencemaran, terutama bau, kotoran dan sumber penyakit dana badan-badan air.

2.

Pengkomposan
Cara pengkomposan merupakan cara sederhana dan dapat menghasilkan pupuk yang

mempunyai nilai ekonomi.


3.

Pembakaran
Metode ini dapat dilakuakn hanya untuk sampah yang dapat dibakar habis. Harus

diusahakan jauh dari pemukiman untuk menhindari pencemarn asap, bau dan kebakaran.
4.

Sanitary Landfill
Metode ini hampir sama dengan pemupukan, tetapi cekungan yang telah penuh terisi

sampah ditutupi tanah, namun cara ini memerlukan areal khusus yang sangat luas.

PEMANFAATAN SAMPAH
1. Sampah basah : Kompos dan makanan ternak
2. Sampah kering : Dipakai kembali dan daur ulang
3. Sampah kertas : Daur Ulang
Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas
kegiatan

pemilahan,

pengumpulan

pemrosesan,

pendistribusian

dan

pembuatan

produk/material bekas pakai.


a.

Material yang dapat didaur ulang :

1. Botol Bekas wadah kecap, saos, sirup, creamer dll baik yang putih bening maupun yang
berwarna terutama gelas atau kaca yang tebal.
2. Kertas, terutama kertas bekas di kantor, koran, majalah, kardus kecualai kertas yang
berlapis minyak.
3. Aluminium bekas wadah minuman ringan, bekas kemasan kue dll.
4. Besi bekas rangka meja, besi rangka beton dll
5. Plastik bekas wadah shampoo, air mineral, jerigen, ember dll
6. Sampah basah dapat diolah menjadi kompos.

b.

Manfaat pengelolaan sampah

1. Mengehemat sumber daya alam


2. Mengehemat Energi
3. Mengurangi uang belanja
4. Menghemat lahan TPA
5. Lingkungan asri (bersih,sehat,nyaman)
Faktor-Faktor penumpukan Sampah.
1.

Tempat sampah
Tempat sampah merupakan hal yang penting dalam menangani merebaknya sampah

di setiap tempat. Kurangnya tempat sampah sering menjadi kendala menumpuknya sampah di
berbagai tempat. Minimnya tempat sampah, telah menjadi kendala yang nampak dalam

mengatasi masalah sampah.

Selain minimnya tempat sampah faktor lain yang menjadi

penyebab adalah kurang layaknya tempat sampah yang sudah ada. Tempat-tempat sampah
tampak tidak terawat dan rusak.
2.

Kesadaran masyarakat
Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan

Lingkungan dan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.
Pembuang sampah ke sungai akan dikenakan sanksi pidana 10 hingga 60 hari kurungan atau
denda dari Rp100 ribu hingga Rp20 juta. Namun yang terjadi, peraturan pemerintah tersebut
seperti tidak dipedulikan oleh masyarakat. Entah ketidaktahuan tentang peraturan tersebut
atau memang tidak peduli terhadap lingkungan hidup. Jadi, kesadaran kita untuk membuang
sampah pda tempatnya, harus digalakan mulai dini. Meski langkah kecil, namun, bila
dilakukan bersama, alam yang indah dan bersih dari sampah, bukanlah impian semata.
Sosialisasi buang sampah pada tempatnya, dirasa kurang maksimal karena biasanya
menggunakan spanduk dan pamflet saja. Seharusnya kesadaran masyarakat dalam membuang
sampah pada tempatnya disosialisasikan secara preventif dan melalui komunikasi tatap muka
oleh pemerintah sehingga menimbulkan memori dan tersimpan dalam mindset masyarakat.
Jika perlu, ada tindakan tegas kepada pelaku yang membuang sampah sembarangan namun
bukan berarti mengenakan sanksi denda karena hal itu akan berbuntut masalah baru, yaitu
korupsi. Yang dimaksud tindakan tegas adalah hukum kurungan langsung atau sanksi moral.
Pembentukan satuan aparat pun dirasa perlu, agar fokus menangani masalah tersebut.

Informasi :
Berdasarkan data sementara hasil sensus 2010 yang diperoleh dari Badan
PusatStaitistik (BPS) Pontianak, jumlah penduduk kota Pontianak kini mencapai 550.304
jiwa(Efliza, 2010). Dari jumlah penduduk yang mencapai 550.304 jiwa tersebut berpotensi
menghasilkan sampah yang cukup besar. Bila penduduk Pontianak berjumlah 500.000 jiwa saja dengan
asumsi tiap penduduk menghasilkan sampah 1,5 liter sampah/ haridengan komposisi sampah
organik sebanyak 85 % (622.500 liter/ hari) sampah nonorganik dan 15 % (127.500 liter/ hari), maka volume
sampah yang ada di kota Pontianak adalah 750 m3/ hari (Anonim, 2008). Jika dihitung pertahun
maka jumlah sampah di kotaPontianak mencapai 273.750 m3/ tahun atau 5 kali lebih besar dari
volume candi Borobudur yang hanya 55.000 m3. Dari metode yang telah kami terapkan
kami mendapatkan hasil sebagai berikut :

1. Masyarakat merasa sedikit terganggu dengan adanya TPA sampah Batu Layang di
kawasan tersebut.
2. Adanya keluan dari masyarakat mengenai penurunan kualitas tanah di kawasan
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Batu Layang.
3. Adanya investor yang berfungsi untuk mengolah gas metan (CH4)
TPA sampah Batu Layang Kota Pontianak yang dibangun pada tahun 1997 ternyata
memberikan perubahan yang besar. Diantaranya wilayah TPA sampah tersebut. Dulunya
merupakan daerah hutan yang lebat dan juga merupakan tanah garapan. Sejak dijadikan TPA,
wilayah tersebut yang dulunya penuh dengan macam-macam tumbuhan serta menjadi habitat hewan,
sekarang berubah menjadi gunung-gunung sampah yang dapat mencemari tanah di wilayah
tersebut. Sangat di sayangkan wilayah yang dipakai untuk pembuatan TPA adalah lahan yang
masih produktif, padahal masih banyak wilayah yang sudah tidak terpakai lagi. Misalnya
wilayah bekas pertambangan.Masyarakat

merasa

terganggu

sejak

adanya

Tempat

Pembuangan Akhir (TPA) Batu Layang yang berada di sekitar pemukiman penduduk
dikarenakan adanya perubahan dari aspek kenyamanan, lingkungan maupun aspek kesehatan.
Dari

aspek

kenyamanan, masyarakat merasa

terganggu

dengan

adanya

hirik mudik truk pengangkut sampah yang walaupun sudah ditutup terpal, namun
masihmenyebarkan bau yang tidak sedap saat lewat. Selain itu, jalan-jalan yang menjadi jalan
umum untuk warga juga menjadi rusak karena setiap hari dilewati truk pengangkut sampah.
Jalan tersebut berlubang-lubang dan becek saat turunnya hujan.Dari aspek lingkungan
masyarakat merasa adanya penurunan fungsi tanah disekitar kawasan TPA Batu Layang. Hal
itu dapat di ketahui melalui beberapa kasusyaitu beceknya jalanan di sekitar TPA Batu Layang
ketika hujan turun. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya kemampuan tanah untuk
menyerap air.
Keberadaan sampah plastik di TPA Batu Layang menjadi faktor utama
penyebab penurunan fungi tanah. Plastik bukan berasal dari senyawa biologis, plastik
memilikisifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan
waktu100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna. Racun-racun dari
partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh hewan-hewan pengurai di dalam tanah
seperti cacing. Jadi secara tidak langsung plastik merupakan limbah yang menyebakan

terjadinya penurunan fungsi tanah.Dari hasil pengamatan kami, tidak adanya pemisahan
antara sampah organik dan sampah non organik pada TPA tersebut. Sampah hanya dipisahkan
oleh pemulungdan di padatkan hanya dengan menggunakan satu mesin pemadat sampah.
Pembuangan sampah yang tercampur merusak dan mengurangi nilai dari material
yangmungkin masih bisa dimanfaatkan lagi. Bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi
atau mencemari bahan-bahan yang mungkin masih bisa di daur-ulang dan racun dapatmenghancurkan
kegunaan dari keduanya. Dari aspek kesehatan, masyarakat mengalami gangguan kesehatan.
Salah satunya masyarakat mengalami gatal-gatal. Gatal- gatal tersebut diyakini masyarakat
timbul karena air sumur yang tercemar. Air sumur merupakan salah satu bentuk dari air tanah
yang sumbernya berasal dari dalam tanah. Karena pemukiman penduduk berada tidak jauh dari
lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Batu Layang makatanah di pemukian penduduk juga
tercemar. Jika tanah sudah tercemar maka secaratidak langsung air yang dihasilkan dari
dalam tanah( air sumur) juga ikut tercemar.Hal ini dapat di amati dari warna air sumur yang
hitam.

Untuk mengatasi hal ini pemerintah melakukan berbagai cara untuk mengurangi
dampak negatif dari keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah BatuLayang
antara lain :
1. Pemerintah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak asing maupun lokaldalam menangani
kasus sampah di TPA Batu Layang. Pemerintah Daerah telah bekerja sama dengan
perusahaan asing PT. Gikoko Kogyo Indonesia.
2. Pemerintah mencanangkan program penambah luas areal Tempat Penampungan Akhir
(TPA) Batu Layang, perluasan areal ini juga di ikuti oleh kematangan pihak- pihak terkait dalam
mengelola sampah baik organik maupun anorganik sertameminimalisir dampak
negatif terhadap tanah.
Adapun teknik yang dapat digunakan untuk mengurangi produksi sampahanorganik
yang dihasilkan dari kegiatan manusia adalah sebagai berikut :

Reduce (Mengurangi)

: Sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau

material yang kita pergunakan.Semakin banyak kita menggunakan material, semakin


banyak sampah yang dihasilkan.
Reuse (Memakai kembali)

; Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa

dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai,


buang). Hal ini dapatmemperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi
sampah.
Recycle (Mendaur ulang)

: Sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak

berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah
banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah
menjadi barang lain.
Replace ( Mengganti) Teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barangbarang yang hanya bisadipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. Juga
telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan,
Misalnya, ganti kantong kresek kita dengan keranjang bila berbelanja, dan jangan
pergunakan Styrofoam karena kedua bahan ini tidak bisa didegradasi secara alami.

Kesimpulan
Sampah di TPA sampah Batu Layang Kota Pontianak terdiri atas sampah organik dan
sampah non organik. Pengelolahan sampah di TPA tersebut tergolong kurang baik, hal ini dapat di
lihat dari banyaknya dampak negatif yang ditimbulkan dari TPAtersebut.

Hasil kunjungan kami di lokasi TPA Batu Layang Pontianak Utara :

Kunjungan : Jumat, 28 November 2014