Anda di halaman 1dari 28

PERCOBAAN I

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI ALKALOID PIPERIN DARI FRUCTUS


PIPERIS ALBI
I. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa diharapkan dapat memahami
prinsip dan melakukan isolasi piperin dari fructus piperis albi beserta analisis
kualitatif hasil isolasi dengan metode kromatografi lapis tipis.
II.

Tinjauan Pustaka
Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang melimpah,
hampir segalah jenis tumbuhan dapat tumbuh di negara ini. Sebagian besar
sudah dimanfaatkan oleh nenek moyang kita untuk mengobati berbagai
penyakit. Wilayah hutan tropika Indonesia memiliki keanekaragaman hayati
tertinggi ke dua di dunia setelah Brazilia. Indonesia dikenal lebih dari 20.000
jenis tumbuhan obat. Namun baru 1.000 jenis saja yang sudah didata,
sedangkan baru sekitar 300 jenis yang sudah dimanfaatkan untuk pengobatan
tradisional (Aksara et al, 2013).
Obat tradisional dalam kimia bahan alam mengandung senyawasenyawa yang dikenal dengan metabolit sekunder. Metabolit sekunder
merupakan senyawa kimia yang terbentuk dalam tanaman. Senyawa-senyawa
yang tergolong ke dalam kelompok metabolit sekunder ini antara lain alkaloid,
flavonoid, steroid, terpenoid, saponin, dan lain-lain. Senyawa metabolit
sekunder merupakan senyawa kimia yang umumnya mempunyai kemampuan
biokaktifitas dan berfungsi sebagai pelindung tumbuhan (Aksara et al, 2013).
Salah satu dari tumbuhan metabolit sekunder yang biasa digunakan
sebagai tumbuhan obat adalah tanaman lada, baik lada hitam, maupun lada
putih. Lada adalah rempah-rempah berwujud bijian yang dihasilkan tanaman
Piper nigrum L. Lada sangat penting dalam komponen masakan dunia dan
dikenal

luas

sebagai

komoditi

perdagangan

penting

di dunia. Piperin

merupakan suatu senyawa yang sangat bermanfaat dalam kesehatan, misalnya


piperin berkhasiat sebagai obat cacing, anti asma, dan anti nyeri. Piperin
banyak ditemukan pada simplisia yang termasuk dalam keluarga piperaceae,
yaitu pada piperis nigrii fructus, piperis albi fructus, piperis retrofracti fructus,

dan lain-lain. Tanaman yang termasuk dalam keluarga piperaceae sangat


banyak ditemukan hampir seluruh dataran rendah di Indonesia, karena tanaman
ini tidak tahan dengan genangan air. Piperis nigri sangatlah mudah ditemukan
di seluruh daerah di Indonesia dengan harga yang relatif rendah. Pada
umumnya kandungan piperin dalam Piperis nigri sebanyak 1,7-7,4%
(Septiatin, 2008).
Nama latin dari lada adalah Piper nigrum. Dikenal sebagai penyedap
makanan, mengatasi bau dan rasa makanan yang beraroma tak sedap, serta
pengawet daging. Ada dua macam lada yang menjadi komoditi perdagangan
yaitu lada hitam dan lada putih. Lada hitam diperoleh dengan memetik buah
yang masih hijau, mengupasnya, difermentasi untuk menambah rasa lada,
kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari, dan rasanya lebih pedas.
Sedangkan lada putih diperoleh dengan memetik biji masak merah, diremas
perlahan-lahan dan direndam dalam air, kulit, dan daging buah dibuang
sebelum dikeringkan di bawah sinar matahari (Septiatin, 2008).
Lada mengandung minyak atsiri, pinena, kariofilena, lionena, filandrena
alkaloid piperina, kavisina, piperitina, piperidina, zat pahit dan minyak lemak.
Rasa pedas disebabkan oleh resin yang disebut kavisin. Kandungan piperine
dapat merangsang cairan lambung dan air ludah. Selain itu lada bersifat pedas,
menghangatkan dan melancarkan peredaran darah. (Septiatin, 2008). Lada
hitam memiliki kandungan kimia berupa saponin, flavonoida, minyak atsiri,
felandren, dipenten, kariopilen, limonen, alkaloid, piperina, kavisin, karvakrol,
kalamin, dan minyak lemak. Bau khas aromatik, rasa pedas, hangat dan sedikit
pahit dari lada hitam bermanfaat sebagai penyegar, penghangat badan,
merangsang semangat dan meningkatkan sekresi keringat. Seduhan serbuk lada
hitam sebesar 305,76 mg/kg bb yang diberikan bersama parasetamol 250
mg/kg bb dapat menghambat proses hepatotoksis pada mencit (Sumarny et al,
2013).
Zaman dahulu sebagian besar sumber alkaloid adalah pada tanaman
berbunga, angiospermae. Pada tahun-tahun berikutnya penemuan sejumlah
besar alkaloid terdapat pada hewan, serangga, organisme laut, mikroorganisme
dan tanaman rendah. Beberapa contoh yang terdapat pada berbagai sumber

adalah isolasi muskopiridin dari sebangsa rusa; kastoramin dari sejenis musang
Kanada; turunan Pirrol, feromon seks serangga; saksitosin, neurotoksik
konstituen dari Gonyaulax catenella; pirosiamin dari bakterium Pseudomonas
aeruginosa; khanoklavin-I dari sebangsa cendawan, Claviceps purpurea; dan
likopodin dari genus lumut Lycopodium (Sastrohamodjojo, 1996).
Prosedur Wall banyak digunakan untuk mengambil alkaloid, meliputi
ekstraksi sekitar 20 gram bahan tanaman kering yang di refluks dengan 80%
etanol. Setelah dingin dan disaring, residu dicuci dengan 80% etanol dan
kumpulan filtrat diuapkan. Residu yang tertinggal dilarutkan dalam air,
disaring, diasamkan dengan asam klorida 1% dan alkaloid diendapkan baik
dengan pereaksi Mayer atau dengan siklotungstat. Bila hasil tes positif, maka
konformasi tes dilakukan dengan cara larutan yang bersifat asam tersebut
dibasakan, alkaloid diekstrak ke dalam pelarut organik, dan kemudian alkaloid
diekstrak kembali ke dalam larutan asam. Jika larutan asam ini menghasilkan
endapan dengan pereaksi tersebut di atas, ini berarti tanaman mengandung
alkaloid. Fasa basa berair juga harus diteliti untuk menentukan adanya alkaloid
quartener (Sastrohamodjojo, 1996).
Kromatografi lapis tipis dapat digunakan untuk memisahkan berbagai
senyawa seperti ion-ion anorganik, kompleks senyawa senyawa organik dengan
anorganik, dan senyawa senyawa organik baik yang terdapat di alam dan
senyawa senyawa organik sintetik. Kelebihan penggunaan kromatografi lapis
tipis

dibandingkan

dengan

kromatografi

kertas

ialah

karena

dapat

dihasilkannya pemisahan yang lebih sempurna, kepekaan yang lebih tinggi, dan
dapat dilaksanakan dengan lebih cepat. Banyak pemisahan yang memakan
waktu berjam-jam bila dikerjakan dengan kromatografi kertas, tetapi dapat
dilaksanakan hanya beberapa menit saja bila dikerjakan dengan KLT. Empat
macam adsorben yang umum dipakai ialah silika gel, alumina, kieselguhr, dan
selulosa. Sampel yang merupakan campuran senyawa yang akan dipisahkan,
dilarutkan dalam zat pelarut yang mudah menguap, misalnya kloroform atau
zat pelarut lain yang serupa, yang mempunyai titik didih antara 50-1000C.
Tetesan sampel harus di usahakan sekecil mungkin dengan meneteskan
berulang kali, dengan di biarkan mengering sebelum tetesan berikutnya

dikerjakan. Pemilihan sistem pelarut yang dipakai didasarkan atas prinsip like
dissolves like, tetapi akan lebih cepat. Pemilihan sistem pelarut atas dasar like
dissolves like berarti untuk memisahkan sampel yang bersifat nonpolar
digunakan sistem pelarut yang bersifat non polar juga. Dengan menempatkan
plat yang telah dikeringkan dalam ruangan yang mengandung uap iodium,
komponen penyusun dalam bentuk bercak (spot) akan berwarna coklat dengan
dasar putih. Penggunaan sinar ultraviolet dapat memberikan fluoresensi pada
plat yang mengandung unsur fosfor (Adnan, 1997).

Gambar 1. Kromatogram Standar Piperin


(Zarkani et al, 2009).
III.

Metode Praktikum
3.1.
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah batang
pengaduk, batu didih, botol penampung ekstrak, cawan porselin, corong,
gelas beker 1000 mL, gunting, kompor dengan penangas air atau heating
mantel, neraca analitik, perangkat KLT, perangkat penyari soxhlet (volume
ekstraktor 100 mL), dan vial.
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini diantaranya
adalah dragendorf (pereaksi semprot), es batu, etanol 96%, fase gerak
(toluena : etil asetat = 7 : 3), kertas saring, KOH etanolik 10 %, lanolin,
serbuk buah piper album dan silika gel GF254.
3.2.
Cara Kerja
3.2.1. Minggu pertama (Jumat, 27 Februari 2015)
40 gram serbuk merica

Ditimbang
Dibungkus
saring

dengan

kertas

Dimasukkan ke perangkat
soxlet bagian tabung tempat
serbuk diletakkan

Dioleskan pada bagian ujung


tabung simplisia dan ujung
labu alas bulat

Lanolin

400 ml Etanol 96%

Ditambahkan dalam tabung


tempat serbuk diletakkan

3 biji batu didih

Ditambahkan dalam labu alas


bulat yang berisi etanol 96%
tadi

Serbuk merica

Diekstraksi selama beberapa


jam hingga sampai terjadi 5
siklus pada suhu 78oC

Disaring dengan kertas saring

Hasil

3ml filtrat

Dimasukkan dalam
vial
Disimpan

Sisa filtrat

Diuapkan di atas penangas air


sampai konsistensi kental

10 mL KOH-etanolik 10%

Hasil

Ditambahkan sambil diaduk


sampai terbentuk endapan

Hasil campuran

Disaring dengan kertas saring

Dimasukkan dalam vial


Diberi etiket pada vial
Didiamkan dalam lemari es
sampai 1 minggu atau sampai
terbentuk kristal

Filtrat

Hasil

3.2.2. Minggu Kedua


Hasil berupa kristal

Filtrat

Disimpan dalam vial


untuk uji KLT

Dipisahkan dari cairan dengan


kertas saring yang ditetesi
etanol

Kristal+kertas
saring

Dikeringkan dalam desikator


selama 15 menit

Ditetesi etanol secukupnya

Hasil
Hasil

Filtratnya

Diuji KLT

Hasil

3.2.3. Minggu ketiga


Hasil bukan berupa kristal yakni cairan

Digunakan untuk
kromatografi

Hasil
IV.

Hasil Percobaan
No.
Perlakuan
Hasil
1 Menimbang
serbuk Berat serbuk =
merica

40 gram

Membungkus

serbuk Serbuk siap di

dalam kertas saring

Mengoleskan
pada
tabung

bagian

soxletasi

lanolin Ujung

tabung

ujung dan labu alas

diletakkannya bulat

menjadi

serbuk dan ujung labu licin

dan

alas bulat

mudah

untuk

dilepaskan
4

Memasukkan

serbuk Serbuk siap di

Dokumentasi

sampel

yang sudah dibungkus ekstraksi


dalam

kertas

saring

dalam tabung tempat


diletakkannya sampel
5

Mengalirkan

pelarut Pelarut

sudah

etanol 96% dari tabung berada di labu


sampel hingga masuk alas bulat dan
dalam labu alas bulat siap

untuk

yang sudah berisi batu diuapkan


didih

Merangkai

peralatan Soxlet

soxlet

sudah

bisa digunakan
untuk ekstraksi

Menyalakan waterbath Pelarut

sudah

pada suhu 90oC untuk mulai menguap


meninggikan

suhu

pelarut
8

Mengatur

suhu Suhu

waterbath

menjadi dengan

78oC

didih

sesuai
titik
etanol

96%
9

Mengekstraksi sampel Hasilnya


sampai
arm

pada

terlihat

shifon siklus eksraksi


larutan

jernih
10

Menyaring

hasil Diperoleh

ekstraksi dengan kertas ekstrak

cair

saring

dari

bebas

partikel

tida

larut
11

Memipet ekstrak cair 3 ml ekstrak


dengan pipet volume cair siap untuk
dan

memasukkannya uji KLT

dalam vial berwarna


gelap

dan

dilapisi

aluminium foil
13

Menimbang

cawan Berat = 160, 41

porselin kosong

14

Memasukkan

gram

ekstrak

cair ke dalam cawan


porselin

15

Menimbang

cawan Berat = 416,29

berisi ekstrak cair

16

Menguapkan

ekstrak Ekstrak kental

cair hingga menjadi


eksrak kental

gram

17

Menimbang
yang

cawan Berat= 163,83

berisi

ekstrak gram

kental

18

Membuat 10 ml KOH 10

ml

KOH

etanolik 10 % dengan etanolik 10 %


cara mencampurkan 1
ml KOH dengan 9 mL
etanol 96%
19

Menambahkan 10 ml Menghasilkan
KOH
ekstrak

etanolik
kental

pada endapan
yang

ada di cawan porselin


dan diaduk
20

Menyaring

endapan Filtrat

dengan kertas saring

yang

berupa ekstrak
bebas
partikel

dari

tidak

larut
21

Memasukkan

filtrat

dalam vial berwarna


gelap

dan

dilapisi

aluminium foil

22

Memasukkan

vial Terbentuk

dalam lemari es dan kristal


menunggu selama 1

minggu
23

Menimbang

kertas Berat = 0,80

saring kosong
24

Menyaring

gram
kristal Dihasilkan

dengan kertas saring filtrat


yang

ditetesi

dan

etanol kristal

96%

yang

tertahan

di

kertas saring
25.

Memasukkan

filtrat Filtrat

dalam vial

26

Menimbang

siap

diuji KLT

kertas Berat

kertas

saring+kristal dimana saring+kristal+


berat

kertas cawan porselin

saring+kristal+cawan

= 162,20 g

porselin berat cawan


porselin kosong

Berat

cawan

porselin
kosong

160,40 g
Sehingga, berat
kertas
saring+kristal=
162, 20160,40
27

Memasukkan

= 1,8 g
kertas Kertas

saring

saring+kristal ke dalam menjadi kering


desikator selama 15 dan
menit

kristal

terlihat
yang

jelas
28

Menimbang
saring

setelah

kertas Berat

kertas

di saring+kristal

desikator

29

= 1,38 gram

Kristal

dilarutkan Semua

dengan etanol 96%

ikut
dalam

kristal
terlarut
etanol

96 %
30

Mengaduk

filtrat Krital

dengan

terlarut

batang sempurna

pengaduk

dalam

etanol

96%
31

Memasukkan

filtrat Filtrat

dalam vial

32

siap

diuji KLT

Silika gel sebagai fase Silika gel telah


diam diaktifkan dalam aktif dan siap
oven

dengan

suhu ditotolkan

105oC selama 30 menit


33

Sementara menunggu, Eluen


dibuat

eluen

etil

etil asetat : toluena

asetat : toluena dengan 7:3


perbandingan 7:3
34

Memasukkan eluen ke Eluen


dalam chamber

35

dijenuhkan

Eluen ditunggu dengan Eluen


menutup
chamber

yang

siap

naik

rapat hingga

kertas

telah saring

bagian

dimasukkan

kertas atas

saring ke dalamnya
36

Untuk

penotolan,

dibuat

design

membentuk

ukuran

7,8 cm

silika gel dan diberi

a
4 cm

batas atas dan batas


bawah untuk penotolan

a = 1 cm
b = 0,2

37

Ekstrak 1, ekstrak 2, Ada 3 totolan


dan

ekstrak

3 di silika gel

ditotolkan pada garis


batas bawah silika gel
38

Silika

gel

dielusi Semua bagain

dalam chamber hingga silika gel telah


batas atas

39

Silika

gel

terelusi

diangkat Silika

pada bagian sisi silika

masih

gel
basah

oleh eluen

40

Silika

gel

anginkan

41

Silika

diangin- Silika gel yang


kering

gel

diamati Nampak

plat

dibawah sinar UV 254 berflorouresennm

42

Silika

si

gel

diamati Nampak

plat

dibawah sinar UV 366 berwarna gelap

nm

43

Plat

silika

disemprot

gel Nampak warna


dengan kuning

pereaksi dragendorf

a. Hasil % Rendeman
% Rendeman ekstrak =
=

pada

noda

Berat ekstrak
Berat simplisia awal x 100%
8,42 g
40 g x 100%

= 21,05 %
Berat kristal
% Rendeman kristal = Berat ekstrak x 100%
=

1,38 g
8,42 g x 100%

= 16,3895 %
b. Gambar dan nilai Rf silika gel pada sinar UV 254 nm
b
5,1 cm

4 cm

3 ml ekstrak cair hasil ekstraksi soxlet

Filtrat hasil penyaringan


7,8 cm
kristal
2 cm
Larutan etanol yang
1 cm
a =mengandung
1 cm
kristal
a
b = 0,2 cm
3 ml ekstrak cair hasil ekstraksi soxlet
4 cm
4 cm
=0,61
Rf = 6,6 cm
4,6 cm

Filtrat hasil penyaringan kristal


1cm
=0,15
Rf = 6,6 cm
Rf =

2cm
=0,30
6,6 cm

Rf =

4 cm
=0,61
6,6 cm

Rf =

4,6 cm
=0,70
6,6 cm

Rf =

5,1cm
=0,77
6,6 cm

Larutan etanol yang mengandung kristal


4 cm
=0,61
Rf = 6,6 cm

c. Gambar dan nilai Rf silika gel pada sinar UV 366 nm

7,8 cm

3 ml Filtrat hasil ekstraksi soxlet


Filtrat hasil penyaringan
kristal
Larutan etanol yang
mengandung kristal

4 cm

2 cm

a
4 cm

a = 1 cm
b = 0,2 cm

3 ml ekstrak cair hasil ekstraksi soxlet


2cm
=0,30
Rf = 6,6 cm
Rf =

4 cm
=0,61
6,6 cm

Filtrat hasil penyaringan kristal


Rf =

2cm
=0,30
6,6 cm

Rf =

4 cm
=0,61
6,6 cm

Larutan etanol yang mengandung kristal


2cm
=0,30
Rf = 6,6 cm

Rf =

V.

4 cm
=0,61
6,6 cm

Pembahasan
Praktikum ini berjudul isolasi dan identifikasi alkaloid
piperin dari fructus piperis albi. Tujuan dari percobaan ini
adalah mahasiswa diharapkan dapat memahami prinsip dan
melakukan isolasi piperin dari fructus piperis albi beserta
analisis kualitatif hasil isolasi dengan metode kromatografi
lapis tipis. Praktikum ini menggunakan sampel tanaman Piperis
albi, karena pada umumnya kandungan piperin banyak ditemukan pada
simplisia yang termasuk dalam keluarga piperaceae, yaitu pada piperis nigri
fructus, piperis albi fructus, piperis retrofracti fructus, dan lain-lain. Selain itu,
tanaman yang termasuk dalam keluarga piperaceae sangat banyak ditemukan
hampir seluruh dataran rendah di Indonesia, karena tanaman ini tahan terhadap
genangan air. Piperis albi maupun Piperis nigri sangatlah mudah ditemukan di
seluruh daerah di Indonesia dengan harga yang relatif rendah. Lada hitam
(Piperis nigri) diperoleh dengan memetik buah yang masih hijau,
mengupasnya, difermentasi untuk menambah rasa lada, kemudian dikeringkan
di bawah sinar matahari, dan rasanya lebih pedas. Sedangkan lada putih
(Piperis albi) diperoleh dengan memetik biji masak merah, diremas perlahanlahan dan direndam dalam air, kulit, dan daging buah dibuang sebelum
dikeringkan di bawah sinar matahari. Menurut Septian, pada umumnya Piperis
albi memiliki kandungan piperin sebanyak 1,7-7,4% (Septiatin, 2008).
Piperin merupakan senyawa amida berupa kristal berbentuk jarum,
berwarna kuning, tidak berbau, tidak berasa, lama-kelamaan pedas, larut dalam
etanol, asam cuka, benzena, dan kloroform. Piperin memiliki manfaat sebagai
anti-inflamasi, antiarthritik, analgesik, depresan sistem safaf pusat dan
anticonvulsan. Kombinasi zat-zat yang terkandung mengakibatkan lada hitam

memiliki rasa pedas, berbau khas dan aromatik. Kandungan zat yang
memberikan warna, bau dan aroma dalam lada hitam adalah -terpinol,
acetophenone, hexonal, nerol, nerolidol, 1,8 cineol, dihydrocarveol, citral, pinene dan piperolnol. Piperin memiliki banyak efek farmakologi yaitu sebagai
antiinflamasi, antimikroba, hepatoprotektor, antikanker dan meningkatkan efek
antioksidan sel. Piperin mampu melindungi sel dari kanker dengan mengikat
protein di mitokondria sehingga memicu apoptosis tanpa merusak sel-sel yang
normal melalui peningkatan aktivitas enzim antioksidan seperti superoxide
dismutase, catalase dan glutathione peroxidase. Piperin juga berkhasiat sebagai
antioksidan, antidiare, dan insektisida (Septiatin, 2008).

Gambar 2. Struktur senyawa piperin


(Vasavirama & Mahesh, 2014).
Klasifikasi tanaman lada adalah sebagai berikut:
Kingdo

: Plantae

m
Divisi

: Spermatophy

ta
Subdivi : Angiosperma
si
Class

e
: Dicotyledone

Ordo
Familia
Genus
Specie

:
:
:
:

ae
Piperales
Piperaceae
Piper
Piper albi L.

s
(Tjitrosoepomo, 2007).
Lada mengandung minyak atsiri, pinena, kariofilena, lionena, filandrena
alkaloid piperina, kavisina, piperitina, piperidina, zat pahit dan minyak lemak.
Rasa pedas disebabkan oleh resin yang disebut kavisin. Kandungan piperin
dapat merangsang cairan lambung dan air ludah. Selain itu lada bersifat pedas,

menghangatkan dan melancarkan peredaran darah. (Septiatin, 2008). Lada


hitam memiliki kandungan kimia berupa saponin, flavonoida, minyak atsiri,
felandren, dipenten, kariopilen, limonen, alkaloid, piperina, kavisin, karvakrol,
kalamin, dan minyak lemak. Bau khas aromatik, rasa pedas, hangat dan sedikit
pahit dari lada hitam bermanfaat sebagai penyegar, penghangat badan,
merangsang semangat dan meningkatkan sekresi keringat. Berdasarkan
percobaan yang dilakukan Sumarny et al, seduhan serbuk lada hitam sebesar
305,76 mg/kg bb yang diberikan bersama parasetamol 250 mg/kg bb dapat
menghambat proses hepatotoksis pada mencit (Sumarny et al, 2013).
Rekristalisasi merupakan suatu teknik pemisahan zat
padat dari suatu zat pencemar dengan cara mengkristalkan
kembali zat tersebut setelah dilarutkan dengan pelarut yang
sesuai. Metode rekristalisasi menggunakan prinsip perbedaan
kelarutan zat pencemar dengan zat yang akan kita ambil.
Syarat pelarut yang baik:
1. Pelarut tidak bereaksi dengan zat yang akan dimurnikan
2. Pelarut dapat melarutkan zat yang akan dimurnikan
3. Titik didih pelarut lebih rendah dari titik didih zat yang akan
dimurnikan
4. Titik didih pelarut lebih rendah dari titik lebur zat yang akan
dimurnikan.
Langkah awal proses isolasi piperin ini adalah menarik
semua komponen kimia yang terkandung dalam fructus piperis
albi, yang disebut dengan proses ekstraksi. Ekstraksi adalah
salah satu metode pemisahan kimia untuk memisahkan atau
menarik suatu komponen-komponen kimia yang berada dalam
suatu

sampel

dengan

menggunakan

pelarut.

Ekstraksi

didasarkan pada perbedaan sifat kelarutan suatu senyawa


organik di dalam suatu cairan pelarut yang tidak saling
bercampur. Senyawa yang berada dalam bentuk ion (bersifat
polar) umumnya dapat larut dalam air, sementara senyawa
organik yang bersifat non polar umumnya tidak dapat larut
dalam pelarut air atau pelarut polar. Sifat ini dikenal dengan

istilah like dissolve like sehinggga suatu zat atau senyawa


dalam

campurannya

dapat

dialarutkan

dalam

kombinasi

pelarut yang tidak saling bercampur. Pada praktikum ini


menggunakan 40 gram serbuk lada putih (piperis albi) yang
dimasukkan pada kertas saring yang kemudian dibuat tertutup
pada tepi-tepinya dan dimasukkan ke dalam alat soxhletasi.
Ekstraksi soxhlet merupakan pemisahan satu atau beberapa
bahan dari suatu padatan dengan menggunakan bantuan
pelarut. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang
berbeda dari komponen-komponen dalam campuran/pemilihan
jenis pelarut ini didasarkan atas beberapa faktor, yaitu
selektivitas,

kelarutan,

kemampuan

tidak

saling

campur,

reaktivitas, titik didih, dan kriteria lainnya (Bernasconi, 1995).


Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut
yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi
kontinyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya
pendingin balik. Metode soxhlet ini dipilih karena pelarut yang
digunakan lebih sedikit (efesiensi bahan) dan larutan sari yang
dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu, sehingga
pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru
dan meningkatkan laju ekstraksi, waktu yang digunakan pun
lebih cepat. Kerugian metode ini ialah pelarut yang digunakan
harus mudah menguap.
Ekstraksi dilakukan dengan penambahan pelarut etanol
96%. Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel
tanaman piperis albi yaitu etanol 96% akan menembus dinding
sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat
aktif. Zat aktif akan larut dalam etanol 96% di luar sel, maka
larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan
berulang

terus

sampai

terjadi

keseimbangan

antara

konsentrasi cairan zat aktif di dalam dan di luar sel. Pemilihan


etanol 96% karena jika yang dipakai etanol 70% di khawatirkan

banyak amilum yang akan lebih banyak ditarik dibandingkan


piperinnya, jadi piperinnya sedikit dan pengotornya yang lebih
banyak. Pada proses ekstraksi soxhletasi ini, pelarut yang
digunakan dimasukkan dalam labu alas bulat yang dipanaskan
kemudian pelarut berubah menjadi fase uap dan dengan
menggunakan kondensor, pelarut yang dalam fase uap tadi
berubah menjadi fase cair (kondensasi) dan akan jatuh
menetesi sampel lada putih. Jika pelarut yang jatuh pada
bagian alat soxhlet yang terdapat sampel lada putih telah
penuh (telah melewati sifon), dan sifon tersebut telah penuh
maka pelarut dan bahan yang terkandung dalam sampel
(piperin) akan jatuh ke dalam labu alas bulat karena adanya
tekanan yang diberikan larutan. Proses ini dinamakan satu kali
siklus ekstraksi, dan demikian proses ekstraksi oleh pelarut ini
terjadi secara berulang-ulang. Pada dasarnya sirkulasi yang
baik dilakukan selama 1-2 jam dengan kecepatan 6-8 siklus
per jam, untuk mendapatkan zat aktif yang lebih banyak dan
murni. Sirkulasi pada percobaan kali ini dilakukan dengan
kecepatan sirkulasi mencapai 5 siklus.
Hasil

dari

ekstraksi

ini

kemudian

didinginkan

dan

disaring dengan kertas saring untuk memisahkan sari dari


bagian yang tidak larut. Sebanyak 3 mL ekstrak cair dipipet dan
dimasukkan dalam vial. Sisanya diuapkan dengan penangas air
sampai kental. Untuk menghilangkan etanol 96% diatur suhu
60-80C. Penambahan KOH-etanolik 10% untuk memisahkan
senyawa resin dengan meminimalkan pembentukan garam,
sehingga

didapatkan

alkaloida

yang

murni.

Endapan

dipisahkan dengan cara penyaringan dengan kertas saring,


hasilnya resin menempel di kertas saring karena resin bersifat
lengket. Seharusnya penyaringan dilakukan dengan glasswool,
agar filtrat bisa tersaring. Penyaringan dengan glasswool untuk
meminimalkan kandungan resin yang ikut tersaring, kemudian

didapatkan sari yang jernih dan disimpan dalam lemari es


untuk selanjutnya dilakukan proses kristalisasi.
Praktikum dilanjutkan diminggu kedua setelah filtrat
berbentuk kristal piperin, yaitu berbentuk jarum dan berwarna
kuning. Kristal yang didapatkan kemudian dipisahkan dari
filtrat menggunakan kertas saring yang telah ditetesi dengan
etanol 96% untuk membantu penguapan filtrat dari kristal.
Filtrat yang didapat disimpan ke dalam vial untuk diuji
menggunakan kromatografi lapis tipis. Sedangkan kertas
saring yang berisi kristal dikeringkan dalam desikator selama
15 menit. Berat kertas saring dan kristal yang didapat setelah
dikeringkan menggunakan desikator adalah 1,38 gram. Hasil
tersebut ditetesi

dengan etanol dan filtratnya diuji dengan

menggunakan kromatografi lapis tipis.


Identifikasi kristal piperin dengan metode KLT menggunakan fase
diam berupa silika gel GF 254 dan fase gerak etil asetat : toluena dengan
perbandingan 7:3. Silika gel GF 254 bersifat polar serta dapat berfluororesensi
pada panjang gelombang 254. Prinsip kerja dari kromatografi lapis tipis ini
adalah pemisahan secara fisikokimia berdasarkan prinsip adsorpsi dan partisi,
dimana komponen kimia bergerak mengikuti cairan pengembang/fase gerak
yang digunakan. Sebelum dianalisis dengan KLT, fase diam harus diaktifkan
terlebih dahulu dengan cara memanaskannya di dalam oven dengan suhu 105oC
selama 30 menit dengan harapan semua air dan pelarut pengganggu menguap,
sehingga silika gel murni dari zat pengganggu. Sembari menunggu pengaktifan
fase diam, eluen dimasukkan ke dalam chamber kira-kira setinggi 1 cm dan
dijenuhkan dengan cara menutup rapat chamber yang telah dimasukkan kertas
saring sampai eluen naik ke bagian kertas saring. Tujuan penjenuhan adalah
agar partikel eluen dapat terdistribusi merata pada seluruh bagian chamber dan
fase diam, sehingga kemungkinan terjadinya tailing akan semakin kecil.
Setelah penjenuhan eluen, tahap selanjutnya adalah penotolan ekstrak 1 dan
ekstrak 2 pada silika gel yang telah diaktifkan, jarak penotolan pada silika gel
diharapkan tidak berdempet ataupun melewati batas atas, karena dapat

menyebabkan kegagalan pembacaan, kemudian dimasukkan ke dalam chamber


hingga eluen bergerak ke batas atas dan silika gel dikeluarkan untuk diamati di
bawah sinar UV 254 nm dan 366 nm setelah diangin-anginkan. Pemilihan
panjang gelombang 254 nm adalah untuk menampakkan zat terlarut sebagai
bercak yang

gelap, sedangkan pemilihan panjang gelombang 366 nm

digunakan untuk menampakkan bercak yang berflouresensi. Hasil dari


percobaan adalah plat berflouresensi (berpendar) pada panjang gelombang 254
nm dan tidak berwarna gelap pada panjang gelombang 366 nm.
Tahap selanjutnya adalah pengamatan dan perhitungan
jarak perjalanan totolan pada plat, atau yang biasa disebut
dengan Rf. Nilai Rf digunakan sebagai nilai perbandingan
relatif antar sampel. Semakin non polar suatu komponen,
maka semakin besar nilai Rf, dan semakin polar suatu
komponen, makak semakin kecil nilai Rf. Nilai Rf yang
dapatkan pada totolan 3 mL ekstrak cair hasil ekstrak soxhlet
dengan disinari sinar UV 254 nm yaitu sebesar 0,61. Nilai Rf
yang dapatkan pada totolan filtrat hasil penyaringan kristal
dengan disinari sinar UV 254 nm ada 5, yaitu 0,15; 0,30; 0,61;
0,70; dan 0,77. Nilai Rf yang dapatkan pada totolan larutan
etanol yang mengandung kristal dengan disinari sinar UV 254
nm yaitu sebesar 0,61. Sedangkan nilai Rf yang dapatkan pada
totolan 3 mL ekstrak cair hasil ekstrak soxhlet dengan disinari
sinar UV 366 nm yaitu sebesar 0,30 dan 0,61. Nilai Rf yang
dapatkan pada totolan filtrat hasil penyaringan kristal dengan
disinari sinar UV 366 nm yaitu sebesar 0,30 dan 0,61. Nilai Rf
yang dapatkan pada totolan larutan etanol yang mengandung
kristal dengan disinari sinar UV 366 nm yaitu sebesar 0,30 dan
0,61.
Menurut Vyas et al (2011), nilai Rf standar dari piperin
adalah 0,420,03. Jika nilai Rf percobaan menunjukkan nilai
yang sama dengan nilai tersebut, maka dapat disimpulkan
bahwa senyawa yang terkandung dalam ekstrak memiliki

karakteristik yang sama dengan piperin. Namun, jika nilai Rf


percobaan berbeda dengan nilai Rf tersebut, berarti senyawa
tersebut berbeda dengan senyawa piperin. Hasil dinyatakan
spesifik dengan bahan baku standar jika warna bercak antara sampel dan
standar memiliki harga Rf saling mendekati dengan selisih harga 0,2.
Berdasarkan hasil percobaan, nilai Rf yang paling mendekati dengan nilai Rf
standar adalah sebesar 0,30 yang terdapat pada semua sampel dengan
pengamatan menggunakan sinar UV 366 nm dan hanya sampel pada filtrat
hasil penyaringan kristal dengan pengamatan sinar UV 254. Beberapa
ketidaksesuaian hasil percobaan dengan nilai standar mungkin disebabkan oleh
beberapa kesalahan dalam percobaan, seperti kurang telitinya dalam pembuatan
eluen,

eluen

kurang

homogen,

maupun

kesalahan

dalam

proses

kromatografinya.
VI.

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan yang
telah dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Prinsip percobaan adalah piperin disari dari buah piper
dengan etanol 96%, dipisahkan dari senyawa resin dengan
penambahan KOH-etanolik 10% b/v, kristalisasi dengan
etanol,

dan

dianalisis

kandungan

isolatnya

dengan

menggunakan kromatografi lapis tipis.


2. Nilai Rf yang dapatkan pada totolan 3 mL ekstrak cair hasil
ekstrak soxhlet dengan disinari sinar UV 254 nm yaitu
sebesar 0,61. Nilai Rf yang dapatkan pada totolan filtrat
hasil penyaringan kristal dengan disinari sinar UV 254 nm
ada 5, yaitu 0,15; 0,30; 0,61; 0,70; dan 0,77. Nilai Rf yang
dapatkan pada totolan larutan etanol yang mengandung
kristal dengan disinari sinar UV 254 nm yaitu sebesar 0,61.
Sedangkan nilai Rf yang dapatkan pada totolan 3 mL
ekstrak cair hasil ekstrak soxhlet dengan disinari sinar UV
366 nm yaitu sebesar 0,30 dan 0,61. Nilai Rf yang
dapatkan pada totolan filtrat hasil penyaringan kristal

dengan disinari sinar UV 366 nm yaitu sebesar 0,30 dan


0,61. Nilai Rf yang dapatkan pada totolan larutan etanol
yang mengandung kristal dengan disinari sinar UV 366 nm
yaitu sebesar 0,30 dan 0,61.
3. Nilai Rf pada semua sampel dengan pengamatan sinar UV
366 nm dan sampel filtrat hasil penyaringan kristal dengan
pengamatan sinar UV 254 nm memilik nilai yang sama
dengan nilai Rf standar piperin.

DAFTAR PUSTAKA
Adnan, M. 1997. Teknik Kromatografi. Andi Offset. Yogyakarta.
Aksara, R., W.J.A. Musa & L. Alio. 2013. Identifikasi Senyawa Alkaloid Dari
Ekstrak Metanol Kulit Batang Mangga (Mangifera indica L). Jurnal Entropi.
Vol. 3 (1).
Sastrohamidjojo, H. 1996. Sumber Bahan Alam. UGM Press. Yogyakarta.
Septiatin, E. 2008. Apotek Hidup dari Rempah-Rempah, Tanaman Hias, dan
Tanaman Liar. CV. Yrama Widya. Bandung.
Sumarny, R., L. Rahayu, N.M.D. Sanutami & L. Mory. 2013. Efek Stimulansia Infus
Lada Hitam (Piperis nigri fructus) pada Mencit. Jurnal Ilmu Kefarmasian
Indonesia. Vol.11 (2).
Vasavirama, K & Mahesh, U. 2014. Piperine: A Valuable Alkaloid From Piper
Species. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences.
Vol. 6 (4).
Zarkani, A., D. Prijono & Pudjianto. 2009. Pengujian Ekstrak Piper retrofractum
sebagai Insektisida Nabati terhadap Crocidolomia pavonana dan Plutella
xylostella Serta Keamanannya terhadap Diadegma semiclausum. Jurnal Akta
Agrosia. Vol.12 (1).

PERTANYAAN
1. Apa yang dimaksud dengan alkaloid? Apa yang dimaksud dengan amida?
Gambarkan kerangkanya!
Jawab :
Alkaloid adalah senyawa siklik yang mengandung atom nitrogen yang
penyebarannya

terbatas pada organisme hidup dan bersifat polar (Lenny,

2015).
Amida adalah senyawa yang diperoleh melalui amidasi turunan asam
karboksilat seperti asil halida dan metil ester dengan amina. Amida adalah
suatu jenis senyawa kimia yang dapat memiliki dua pengertian. Jenis pertama
adalah gugus fungsional organik yang memiliki guguskarbonil (C=O) yang
berikatan

dengan

mengandung

suatu atom nitrogen (N),

gugus

fungsional

bentukanion nitrogen. (Surbakti, 2006).

ini.

atau
Jenis

suatu

senyawa

yang

kedua

adalah

suatu

Gambar 3. Gugus fungsional amida


2. Gambarkan piperin dan bagaimana polaritasnnya?
Jawab :
Struktur piperin adalah sebagai berikut :

Gambar 4. Struktur piperin


Adapun polaritas piperin adalah non polar (Kolhe, 2011).
3. Apa fungsi penambahan KOH-etanolik dalam percobaan ini dan jelaskan
dengan reaksi yang terjadi!
Jawab :
Penambahan larutan KOH dalam etanol bertujuan untuk memperoleh piperin
dari ekstrak pekat tersebut, dimana di dalam ekstrak tersebut terdapat
komponen lain ketika ditambahkan KOH-etanol. Hal ini menyebabkan piperin
yang ada dalam ekstrak tersebut bereaksi menjadi garam asam piperat dan
dengan penambahan KOH-etanol dapat mengeliminasi senyawa lainnya,
karena dalam ekstak tersebut masih ada zat pengotor. Intinya adalah untuk
menghidrolisis piperin menjadi asam piperat. Reaksi yang terjadi adalah :

4. Bagaimana kedudukan sistematikanya Piper nigrum?


Jawab :
Sistematika tumbuhan lada adalah sebagai berikut :
Divisi

: Spermatophyta

Anak divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Bangsa

: Piperales

Suku

: Piperaceae

Marga

: Piper

Spesies

: Piper nigrum L.

(Murniaty, 2011).
5. Sebutkan kandungan golongan senyawa yang pada umumnya terdapat dalam
tumbuhan yang termasuk satu jenis dengan Piper nigrum!
Jawab :
Kandungan kimia dari buah lada adalah minyak atsiri mengandung felandren,
dipenten, kariopilen, enthoksilin, limonen, alkaloida piperina dan kavisina
(Murniaty, 2011).
6. Apa perbedaaan fructus piperis albi dan piperis albi.
Jawab :
Fructus piperis albi adalah merica yang berwarna hitam sedangkan piperis albi
adalah merica berwarna putih. keduanya bukan dari spesies yang berbeda tetapi
cara penglohan dan pemetikan bijinya yang membuat keduanya lain. Untuk
lada hitam dibuat dengan memetik buah lada yang masih setengah matang
hingga berubah menjadi warna merah kemudian dibiarkan kering, dari proses
pengeringan akan mengerut dan berubah warna menjadi gelap. Sementara lada
putih dipetik saat biji sudah matang, cara mengolahnya dengan merendam bijibiji lada ke dalam air garam untuk menghilangkan kulit terluar sampai
meninggalkan bijinya yang berwarna putih. Kandungannya juga berbeda. Lada
yang dipetik dalam keadaan setengah matang dan melalui proses pengeringan
(lada hitam) menurut Times of Health lebih banyak memiliki sifat sehat, seperti
kandungan asam klorida yang mampu merangsang organ perut dalam

meningkatkan kesehatan pencernan, dan antioksidan yang berguna menangkal


radikal bebas.