Anda di halaman 1dari 2

BIROKRASI CERDAS SOLUSI DALAM REFORMASI BIROKRASI

Oleh: Hermanto Rohman


Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono menargetkan reformasi
birokrasi selesai pada 2011. Padahal, secara faktual masih banyak persoalan yang muncul
sebagai dampak dari ketidakmampuan lembaga-lembaga pemerintah dalam memberikan
pelayanan kepada publik yang lebih baik. Image birokrasi yang identik dengan kerja lamban
dan korup. Belum lagi image pelayanan publik di tingkatan prosedur / aturan yang memakan
waktu dan biaya (bureaucratic cost) yang mahal, serta tidak ada jaminan tepat waktu sesuai
yang dijanjikan oleh aturan. Seperti diakui sendiri oleh SBY, ia amat cemas atas perilaku dan
watak birokrasi kita. Birokrasi yang gemuk dan lamban dirasakan SBY tidak efektif dalam
menerjemahkan visi, misi, strategi, program, dan target pemerintahan periode 2004-2009
(Dinno Pati Jalal, Harus Bisa: Seni Memimpin Ala SBY, 2008: 77-78).
Berbagai upaya untuk menciptakan lembaga-lembaga pemerintah dan organisasi
publik yang lebih sesuai dengan tuntutan masyarakat telah dilakukan dengan bermacammacam resep misalnya redesigning, reengineering, debirokratisasi, perampingan, reformasi,
banishing dan sebagainya. Hal itu muncul seiring dengan perkembangan jaman dan harapan
akan pelayanan oleh organisasi publik (birokrasi), lebih berprientasi pada public,
professional, efektif, effisien, sederhana, transparan, terbuka, tepat waktu, responsive dan
adaptif.
Berangkat dari berbagai kelemahan yang kerap kali muncul sebagai kritikan terhadap
birokrasi di Indonesai, ada beberapa formulasi-formulasi sebagai pattern yang berkembang
saat ini yang mungkin bisa di kembangkan dalam memperbaiki Birokrasi di Indonesia;
Pertama, Intellegent organization sebagaimana uraian Gifford Pinchot dan Elizabet Pinchot
dalam bukunya The end of Bureucracy and the Rise of Intellegent Organization (1993) yang
menguraikan timbul tenggelamnya birokrasi dan memberikan tujuh inti organisasi cerdas.
Konsep organisasi cerdas atau intellegent organization merupakan reaksi terhadap derajat
ketidak-berdayaan birokrasi dalam mengontrol perkembangan lingkungan yang menjadikan
pathology birokrasi (bureaunomia) yang menggejala jauh kedalam struktur, manajemen dan
budaya organisasi selama ini dan juga sebagai jawaban akan tuntutan pembaharuan birokrasi
sebagai pelayan publik di masa depan. Gifford Pinchot dan Elizabeth Pinchot dalam buku
yang sama menjelaskan bahwa ada tiga hal yang melandasi organisasi untuk bisa cerdas
yaitu, Widerspread truth and rights, di dalam birokrasi kita perlu ditanamkan pemahaman
bahwa setiap orang memperoleh informasi yang benar, cepat, dan akurat dan setiap orang
menyadari akan hak-haknya dan berkesempatan untuk memperjuangkannya; Freedom of
interprise, di dalam birokrasi kita setiap orang bekerja diatur sesuai dengan pengetahuan,
keahlian dan ketrampilannya guna memenuhi harapan konsumer; Liberated (empowered)
teams, Bekerja sebagai tim artinya bahwa sebuah tim terdapat anggapan bahwa tidak ada
manusia yang sempurna setiap orang ada kelebihan dan kekurangan dan masing-masing
individu dalam tim akan salaing menutupi. Dalam organisasi yang cerdas nilai tertinggi yang
mengikat dan menggerakkan organisasi bukanlah ketaatan dan kepatuhan bawahan terhadap
atasan tetapi adalah mutual trust. Secara singkat organisasi cerdas adalah organisasi yang
mampu berperan dalam situasi dan kondisi bagaimanapun, disatu pihak dan siap menjalankan
perubahan terus menerus. Kedua, Learning Organization sebagai tindak lanjut dari
organisasi yang cerdas. Dimana melalui learning organization dapat menumbuhkan
komitmen dalam individu atau kelompok dalam oraganisasi birokrasi sehingga mampu
menciptakan produk pelayanan yang inovatif sesuai dengan tuntutan masyarakat. Sama
seperti manusia organisasi menjadi cerdas maka organisasi harus belajar, dan dari sinilah lahir
konsep Learning organization. Iklim yang kompetitif dan akselerasi perubahan lingkungan

yang semakin tinggi menuntut organisasi birokrasi untuk mampu menyesuaikan diri dengan
perkembangan lingkungan agar mampu bertahan dan mampu untuk berkompetitif.
Salah satu cara untuk mencapai kondisi tersebut adalah melakukan transformasi
organisasi menuju Learning organization. Garvin (1993) memandang learning organization
sebagai pengorganisasian kreativitas, kecakapan dan transfer knowledge sehingga mampu
memperbaiki perilaku dan menemukan knowledge yang baru. Learning organization dapat
dilihat sebagai pemberdayaan individu atau kelompok dalam organisasi sehingga mampu
menciptakan produk dan jaringan kerja yang inovatif baik dari dalam dan diluar organisasi.
Hal ini menjadi penting karena organisasi dituntut untuk bisa melakukan perubahan
ditengah persaingan yang semakin global, Esperjo (1996) mengatakan the competitive
landscape is changing, and the new models of competitivness are needed to deal with the
chalenges a head. Pernyataan ini menunjukkan bahwa organisasi dituntut untuk
mengembangkan dan meningkatkan kemampuan sehingga organisasi mampu memberikan
kualitas produk dan jasa kepada pelanggannya mengingat kompetisi yang makin meningkat.
Berdasar hal tersebut maka pengembangan dan perubahan organisasi merupakan kebutuhan
yang nyata dari organisasi.
Menurut Gibson (1994) prinsip pembelajaran dalam konteks pengembangan
organisasi memiliki tiga tahap : Pertama, unfreezing old learning. Membutuhkan orang yang
ingin mempelajari cara baru untuk bertindak dengan kata lain pola lama dicairkan dulu.
Artinya pendapat lama, paradigma lama dan orang-orang yang masih bersikukuh didalamnya
harus mampu untuk dirubah. Kedua, Movement to new learning. Pergerakan ke pembelajaran
baru dimana membutuhkan pelatihan, demontrasi, dan pemberdayaan (empowerment).
Ketiga, Refreezing the learned behavior. Pembekuan kembali perilaku yang telah dipelajari
terjadi melalui penerapan penguatan dan umpan balik. Dua prinsip ini menyarankan agar pola
baru yang teradaptasi oleh lingkungan intern maupun ekstern organisasi Birokrasi di
Indonesia.
Ketiga tahapan ini akan terus berubah karena perubahan terus terjadi (change, change
and change again). Dengan kata lain organisasi membutuhkan transformasi secara terus
menerus ntuk menciptakan dan mempertahankan perubahan. Organisasi dalam menghadapi
perubahan maka organisasi membutuhkan transformasi secara fundamental agar bisa survive.
Organisasi harus inovatif dan kreatif serta fleksible dalam menghadapi perubahan.