Anda di halaman 1dari 13

Tugas Kebijakan Energi

Konsumsi Energi Negara Maju


(Inggris)

Disusun Oleh :
Kelompok IV
Ferry Aprianto I (25839)
Taufiqurrahman K (26757)
Rosikin (27892)
Patuh Priyanto (27786)
M Fauzan (27640)
Eko Setiyanto (27397)
N.E Andri W (27780)

Jogjakarta, 25 September 2006


KONSUMSI ENERGI NEGARA MAJU
Pendahuluan
Pertambahan penduduk dunia yang cepat dan kemajuan teknologi mendorong
meningkatnya konsumsi energi di dunia. Apabila kita cermati, ternyata konsumsi energi
di negara-negara maju lebih besar bila dibandingkan dengan konsumsi energi di negara
berkembang. Tulisan ini akan membahas tentang konsumsi energi di negara maju,
Inggris.Dalam laporan rutin 2 tahunan yang dikeluarkan oleh International Energy
Agency (IEA) pada tahun 2004, diperkirakan peningkatan konsumsi energi ini akan
terus terjadi dengan kenaikan rata-rata hingga 1.6 % setiap tahunnya. Sementara itu
sebuah laporan yang diterbitkan oleh perusahaan minyak BP pada tahun 2005 tentang
konsumsi energi di seluruh dunia disebutkan bahwa peningkatan konsumsi energi antara
tahun 2003 dan 2004 saja mencapai 43%. Laporan disebut sebagai Review of World
Energy 2005 itu, disebutkan bahwa total konsumsi energi di seluruh dunia hingga akhir
tahun 2004 telah mencapai setara 10.244,4 juta ton minyak. Jumlah yang sangat
fantastis ini setara dengan sekitar 1/15 dari total cadangan minyak yang ada di seluruh
dunia yang berhasil ditemukan hingga tahun 2004 yang mencapai sekitar 162 milyar
ton. Jumlah energi di seluruh dunia itu sendiri masih didominasi oleh sumber-sumber
energi fosil utama yaitu minyak bumi(3.767,1 juta ton minyak, 36,7% ), gas alam (
2.420,4 juta ton minyak, 23,7%) dan batu bara(2.778,2 juta ton minyak, 27,2%) yang
mencpai 87,7% dari total konsumsi energi dunia. Sisa konsumsi energi untuk kebutuhan
dunia dipenuhi oleh sumber energi nuklir yang 'hanya' sebesar 6,1% dan dari hydro
energi (air) sebesar 6,2%.
Konsumsi energi di seluruh dunia masih didominasi oleh negara industri besar
seperti Amerika, Cina, Rusia dan Jepang. Amerika Serikat merupakan konsumen
terbesar energi dunia yang mencapai setara 2.331,6 juta ton minyak atau memakan lebih
dari 22,8% dari seluruh konsumsi energi dunia. Cina menjadi konsumen energi kedua
terbesar dengan konsumsi sebesar setara 1.386,2 juta ton minyak (13,6% ). Data lengkp
dapat dilihat di tabel berikut :
Tabel. 1. Sepuluh Negara Konsumen Energi Terbesar Dunia.

Selanjutnya kita akan membahas tentang konsumsi energi di salah satu negara
maju, yaitu Inggris. Kita akan membahas tentang konsumsi energi dan bagaimana
perubahan-perubahan yang terjadi di Inggris dalam 30 tahun, dengan difokuskan pada
10 tahun terahir. Kita akan memaparkan hal hal yang mempengaruhi perubahan-
perubahan tersebut, sampai tahun 2001.Meskipun hanya sampai tahun 2001, diharapkan
memperoleh pola-pola perubahan konsumsi energi Inggris pada kuhususnya, negara-
negara maju pada umumnya.
Konsumsi Energi secara Keseluruhan
Konsumsi energi inggris pada tahun 2001 merupakan yang terbesar dalam 30
tahun terakhir, mengalami peningkatan sebesar 13% dari 1970,11 % dari tahun 1990.
Karena Inggris merupakan salah satu negara yang memiliki empat musim ( semi, panas,
gugur dan dingin ), maka konsumsi energi dipengaruhi oleh musim , pada musim dingin
konsumsi energi lebih banyak dari pada musim panas. Hal itu dikarenakan sebagian
besar energi digunakan untuk menghangatkan ruangan. Untuk pemanasan sendiri,
konsumsi energinya mengalami peningkatkan 15 % sejak tahun 1970 seperti
pada grafik 1.

Grafik 1. Total Konsumsi Energi Utama Tahun 1970-2001

• Konsumsi Energi mengalami peningkatan 13% dari 1970, 11% dari tahun 1990.
• Berdasarkan pengaruh temperatur, konsumsi energi meningkat rata-rata 1%
pertahun dalam 20 tahun terakhir.
Grafik 2. Konsumsi Energi menurut sumber Energi

Pada grafik 2 merupakan gambaran perbandingan sumber konsumsi energi di


Inggris pada tahun 1990 dan 2001. Pada grafik tersebut peningkatan terbesar adalah
pengunaan gas alam, sebesar 85 % ( tahun 1990-2001 ) menjadi 95,08 juta tonnes of oil
equivlent ( TOE ). Peningkatan konsumsi gas alam tersebut digunakan untuk
Pembangkit Tenaga Gas Alam, sejak diperkenalkannya Combine Cycle Gas Turbin
untuk pembangkit listrik. Dari grafik tersebut juga diketahui , terjadi tren penurunan
konsumsi batu bara di Inggris dari 79.032 juta TOE (37%) menjadi 40,409 juta TOE
(17%) atau turun sebesar 49%. Penurunan tersebut dikarenakan penggantian peran batu
bara oleh gas alam khususnya untuk pembangkit. Penurunan juga terjadi pada konsumsi
minyak bumi dari 79,032 juta TOE menjadi 76,064 juta TOE atau turun 3%. Memang,
penurunannya terlihat kecil tetapi penurunan peran minyak bumi pada tahun 2001 agak
besar. Penurunan tersebut dipengaruhi dengan meningkatnya konsumsi dari sumber
listrik dan dari sumber energi terbarukan, yang masing-masing meningkat 1%. Hal
tersebut juga dapat digambarkan pada grafik 3 dibawah ini.
Grafik 3. Konsumsi Energi menurut sumber Energi dari Tahun 1970-2001
Besarnya konsumsi energi berdasar pemakaiannya digambarkan pada grafik 4,
jumlah tersebut tidak termasuk untuk transportasi. Berdasarkan grafik tersebut
pemakaian energi untuk pemanas ruangan menempati yang terbesar yaitu 40% dari
pemakaian total, selanjutnya untuk proses produksi 15%, pengadaan air 13%,
penerangan dan aplikasinya 9% dan pemakaian lain-lainnya 23%. Dari 40% untuk
pemanasan sebesar 82% digunakan oleh rumah tangga.

Grafik 4. Konsumsi energi berdasar Pemakaian akhir

Grafik 5. Konsumsi Energi Berdasarkan Sektor Pemakaian

Sumber : DTI ( Departemen of Trade and Industry )

Konsumsi energi berdasarkan sektor, sektor transportasi menjadi yang terbesar


yaitu 34% dr total, sektor domestik 30%, industri 22%, servis 13% dan pertanian 1 %.
Dari grafik 5 menunjukan tidak adanya perubahan yang signifikan,meskipun ada
perubahan besar sejak 1990, yaitu dari industri ke sektor jasa dan pertumbuhan di sektor
transportasi.
Konsumsi Energi Berdasarkan Sektor
1. Konsumsi Energi Untuk Transportasi
Konsumsi energi untuk transportasi meningkat dari 95% sejak 1970 dan 13%
dari 1990. Pada tahun 2001 sebesar 54.932 ribu toe, 3/4-nya untuk transportasi jalan
raya, 21%-nya untuk transportasi udara. Dari tahun 1990-2001, peningkatan transportasi
udara sebanyak 56%, kereta 8%, dan untuk transportasi jalan raya 7%.
Transportasi digunakan untuk 2 keperluan, pengangkutan orang dan barang.
Untuk fungsi pengangkutan ini, masih didominasi oleh transportasi jalan raya sebesar
41,451 ribu toe (pada tahun 2001), 66% untuk angkutan penumpang dan 34%
pengangkutan barang. Sejak 1990 angkutan barang jalan raya meningkat 17%,
sedangkan angkutan penumpang hanya 1%.
Untuk kendaraan jalan raya (1990-2000), meningkat 1% untuk mobil, 26%
untuk angkutan barang ringan, 14% untuk angkutan barang berat.
Sektor transportasi memiliki perbedaan dengan sektor lainnya karena pada
sektor ini juga digunakan untuk sektor-sektor lainnya, yaitu 60% untuk domestik, 24%
untuk industri, 15% untuk sektor jasa dan pemerintahan.

Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Energi Transportasi


Perubahan pada konsumsi energi pada sektor transportasi dipengaruhi sektor
teknologi, efisiensi atau alasan ekonomi. Grafik 6 dibawah ini menggambarkan
peningkatan penggunaan transport (perubahan konsumsi energi sebanding dengan
permintaan peningkatan transportasi) dan perubahan struktur dan efisiensinya (disebut
efek intensitas). Peningkatan konsumsi yang 90% untuk perubahan outputnya,
sedangkan sisanya 10% untuk perubahan intensitasnya. efek terbesar darioutputnya ada
pada transportasi udara, dan yang terbesar yang menurun adalah dari transportasi
penumpang jalan raya.
Grafik 6 Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Energi Transportasi

Peningkatan Permintaan Akan Travel


Konsumsi energi pada transportasi udara karena adanya perkembangan pada
disain pesawat dan teknologi, pertumbuhan perdagangan yang berkelanjutan, dan
peningkatan waktu libur selama 30 tahun belakangan.
Perubahan jumlah distribusi barang karena aktivitas ekonomi yang meningkat.
digambarkan juga dengan jaringan jalan yang semakin besar dan kendaraan berat yang
semakin banyak.
Peningkatan penumpang jarak jauh meningkat hanya pada transportasi udara dan
kereta api, untuk transportasi jalan raya justru menurun.
Peningkatan mobil pribadi karena pemakaian untuk belanja (20%), berkumpul
(18%), berkunjung (15%), bekerja (21%), pergi sekolah, sehingga menyebabkan
kemacetan.

Perubahan Intensitas Energi


Dengan kemajuan teknologi transportasi, maka efisiensi meningkat sehingga
intensitas energi menurun.

Gross Domestic Product (GDP) and Income


Pertumbuhan ekonomi dan aktivitasnya sebanding dengan permintaan
transportasi. semakin tinggi pendapatan seseorang, maka semakin tinggi pula keinginan
untuk melakukan perjalanan jarak jauh. Walau bagaimanapun menggunakan jasa travel
lebih disukai daripada menggunkan mobil pribadi.
2. Konsumsi Energi Untuk Rumah Tangga
Penggunaan energi dalam rumah tangga biasanya digunakan untuk :
1. Memanaskan dan mendinginkan ruangan (berhubungan dengan musim dingin dan
musim panas)
2. Memasak
3. Pengadaan air untuk kebutuhan sehari-hari
4. Penerangan dan aplikasi lainnya

Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Energi Rumah Tangga


1. Jumlah kepala rumah tangga, populasi dan pendapatan
2. Iklim dan cuaca daerah tempat tinggal
3. Meningkatnya jumlah perkakas elektronik yang digunakan
4. Memasak
5. Penyekatan konstruksi tempat tinggal

3. Konsumsi Energi Dalam Sektor Industri


Pada 2001 sektor industri telah mengkonsumsi sebanyak 22% dari total konsumsi
energi inggris, yaitu sebanyak 35.152.000 toe. Energi paling besar dialokasikan di sub-
sektor industri kimia 22%, 12% untuk industri makanan, minuman dan rokok, 10%
untuk industri daging, dan 13% untuk industri lain.
Pemakaian energi pada sektor industri didominasi oleh gas alam sebesar 44%,
diikuti energi listrik 28%, minyak 19%, batu bara 6%, dan yang lainnya 3%.

Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Energi Sektor Industri


Konsumsi energi industri turun hingga 4,4 juta toe antara tahun 1990-2000. Jika
energi yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu output yg sama pada tahun 2000 dan
1990, maka diperkirakan bahwa konsumsi energinya telah turun sebanyak 4,2 toe.
Jumlah ini dikarenakan efek intensitas telah berubah berdasarkan perubahan struktur
dan efisiensi energi.
Sektor produk mineral konsumsi energinya turun 2,2 juta toe. 1,7 juta toe
disebabkan oleh turunnya intensitas dan sisanya karena turunnya hasil tambang. sektor
kimia naik 3,6 juta toe. Kenaikan ini dipengaruhi kenaikan output sebesar 2,0 juta toe
dan naiknya intensitas sebanyak 1,6 juta toe.
Perubahan Output
Antara 1970-2001 konsumsi energi keseluruhan per unit output turun sebesar
55% sedangkan output industri naik sebesar 26%
Intensitas energi mengalami perubahan sejak tahun 1990 untuk beberapa industri
tertentu. antara tahun 1990 sampai tahun 2001, intensitas energi pada sektor pengolahan
kertas, percetakan, dan penerbitan turun 13%, pada sektor makanan, minuman dan
tembakau turun 6%, dan sektor bahan kimia juga turun 5 %

Perubahan Efisiensi
Antara tahun 1997 dan 1999 diperhitungkan peningkatan efisiensi energi
keseluruhan sebesar 4 % pada industri makanan dan minuman. Antara tahun 1998 dan
1999 peningkatan efisiensi energi pada sektor bahan kimia meningkat sebesar 6 %.
Antara tahun 1998 sampai 2000 terjadi peningkatan efisiensi energi sebesar 9% pada
industri tekstil.

4. Konsumsi Energi Pada Sektor Jasa


Sektor jasa dapat dibagi menjadi dua ; Administrasi Publik, meliputi kegiatan
pemerintahan, pendidikan dan kesehatan; dan Komersial Pribadi, meliputi ritel,
perumahan, hotel, dan finansial. Pada tahun 2001 energi yang dikonsumsi subsektor
administrasi publik mencapai 39% dari total energi yang dikonsumsi sektor jasa.
Sisanya dikonsumsi oleh subsektor komersial pribadi.
Penggunaan energi pada sektor jasa selalu berubah. Seperti sektor lain,
penggunaan batubara dan BBM (Bahan Bakar Minyak) menurun selama 30 tahun
terakhir seiring peningkatan penggunaan gas alam. Sejak tahun 1990 konsumsi listrik
meningkat lebih dua kali lipat. Pada tahun 2000 sepertiga dari konsumsi energi pada
sektor jasa digunakan pada jasa ritel, yang sebagian besar berasal dari penggunaan tata
cahaya/lampu.
Energi yang dibutuhkan pada sektor energi mengalami peningkatan pesat sebesar
29% sejak tahun 1970, dan 14% sejak tahun 1990 setara energi primer

Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Energi Sektor Industri


Penggerak utama yang mempengaruhi konsumsi energi pada sektor jasa pada 30
tahun terakhir telah berubah dalam hal output, daerah kerja, tingkat pekerjaan, dan
perubahan pada inovasi teknologi.
Perubahan Output
Peningkatan konsumsi energi seiring dengan peningkatan permintaan terhadap
sektor jasa. Output, diukur dari seberapa besar peranannya pada ekonomi Inggris (dalam
hal ini, berupa Penambahan Nilai Kotor (Gross Value Added) pada harga konstan),
dengan peningkatan sektor jasa sebesar 40% antara 1990-2001, setara dengan
peningkatan pertahun sebesar 3%. Output sektor swasta mengalami peningkatan sebesar
49%, sedangkan output sektor Publik meningkat sebesar 19%
Konsumsi energi pada setiap unit output (intensitas energi) turun sebesar 17%
antara 1990-2001 dari keseluruhan sektor jasa. intensitas energi turun lebih cepat pada
subsektor komersil pribadi (turun 17%) dibandingkan pada subsektor administrasi
publik (turun 10%).
Ruang Kerja
Intensitas energi relatif pada sektor jasa juga dapat diukur dari ruang kerja. Pada
tahun 2000, 77% dari total populasi orang bekerja dipekerjakan pada sektor jasa,
meningkat 4 % sejak tahun 1994. Peningkatan jumlah angkatan kerja menghasilkan
peningkatan daerah kerja sebesar 7 % pada periode yang sama, membutuhkan lebih
banyak energi untuk memanaskan ruangan.

Data Perbandingan Konsumsi Energi Antar Negara

Grafik Perbandingan Konsumsi Energi Per Sektor


Jumlah Konsumsi (juta toe)

1000

Industri
Transportasi
500
Rumah tangga
lain-lain

0 Amerika Inggris Singapura Indonesia


Industri 769.4 59.425 3.989 26.3
Transportasi 652.8 61.8 4.389 51.5
Rumah tangga 489.6 73.7 0.476 19.9
lain-lain 419.7 42.8 1.304 11.7
Negara
Kesimpulan
Krisis energi saat ini sekali lagi mengajarkan kepada kita (bangsa Indonesia
khususnya) bahwa pola hidup hemat energi perlu terus dimasyarakatkan, ditambah
usaha serius dan sistematis untuk mengembangkan dan menerapkan sumber energi
terbarukan guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil perlu segera
dilakukan. Penggunaan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan juga berarti
menyelamatkan lingkungan hidup dari berbagai dampak buruk yang ditimbulkan akibat
penggunaan BBM. Terdapat beberapa sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan
(Emisi Karbon Rendah) yang bisa diterapkan segera di tanah air, seperti bioethanol,
biodiesel, tenaga panas bumi, tenaga surya, mikrohidro, tenaga angin, dan
sampah/limbah. Kerjasama antar Departemen Teknis serta dukungan dari industri dan
masyarakat sangat penting untuk mewujudkan implementasi sumber energi terbarukan
tersebut.
Daftar Pustaka

Anonim, www.earthtrends.org, 22-09-2004


Anonim, http://earthtrends.wri.org/text/energy-resources/country-profiles.html,
19-09-2006
Departement of Trade and Industry, www.dti.gov.uk/energy/inform , London, 2002,
19-09-2006
Hidayat, Agus Syarip, Konsumsi BBM dan Peluang Pengembangan Energi Alternatif,
www.io.ppi-jepang.org , 2005, 22-09-2006
Yuliarto, Brian, Meneropong Konsumsi Energi Dunia (Bagian Pertama), 2005,
www.beritaiptek.com, 19-09-2006
Yuliarto, Brian, Meneropong Konsumsi Energi Dunia (Bagian Kedua), 2006,
www.beritaiptek.com, 19-09-2006