Anda di halaman 1dari 4

Andi Mappe

Ulebbirangngi burue ala najajae Balandae, Teasisena Mitai BalandaE


(Lebih baik saya ini mati berkalang tanah daripada dijajah Belanda.
Saya tidak akan pernah rela melihat Belanda disini ).
Ucapan diatas adalah kata kata Andi Mappe kepada anggota pasukannya, Syamsuddin Saraka
di tengah berkecamuknya kepungan musuh dan berondongan peluru pasukan Belanda saat
pertempuran berlangsung selama dua hari dua malam di Pettung, 22 September 1946. Siapakah
sebenarnya Andi Mappe, yang kini namanya diabadikan sebagai nama stadion olahraga di Kota
Pangkajene, ibukota Kabupaten Pangkep ?

DALAM Periode perjuangan Kemerdekaan pada Tahun 1945 - 1949, di Kabupaten Pangkep
sebagaimana juga di daerah lainnya di Sulawesi Selatan, berlangsung perjuangan melawan
kembali Belanda yang menggandeng Sekutu ingin menjajah kembali Indonesia yang telah
diproklamasikan kemerdekaannya 17 Agustus 1945 oleh Soekarno Hatta. Banyak rakyat,
termasuk para pemudanya menghimpunkan diri dalam satuan - satuan kelaskaran di Sulawesi
Selatan, termasuk di Pangkep, antara lain Harimau Indonesia (HI) di Pangkajene, KRIS Muda di
Mandalle dan Segeri, Persatuan Pemuda Nasional Indonesia (PPNI) di Pangkajene, PPNI ALRI
di wilayah kepulauan.

Salah seorang pejuang yang dikenal gigih melakukan perjuangan gerilya melawan pasukan
Belanda adalah Kapten Harimau Indonesia (HI), Andi Bangkung Mappesona atau yang lebih
dikenal dengan nama Andi Mappe. Harimau Indonesia adalah salah satu laskar perjuangan yang
anggota pasukannya banyak berasal dari LAPRIS (Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia
Sulawesi) dibawah pimpinan Ranggong Daeng Romo, termasuk diantaranya Lipang Bajeng dan
Gerakan Muda Bajeng (GMB) adalah cikal bakal kelahiran HI. Organisasi perjuangan HI muncul
secara resmi, berasal dari sejarahnya yang cukup panjang ; dimulai dari gabungan Heiho, Kuto
Kain In Yoseijo, SMP Nasional, Seinendan, dan lain lain. Wadah ini lahir pula dari PPNI, dan
dikenal cukup dekat dengan Dr. GSSJ Ratulangi, sebagai Pembina utama Perguruan Nasional di
Makassar.

Laskar HI sebenarnya dibentuk untuk menjadi Speciale Tropen, semacam pasukan khusus
yang bergerak cepat untuk mematahkan setiap serangan Belanda, baik di Makassar maupun
daerah daerah di sekitarnya. Di Pangkep, Andi Mappe tampil sebagai Kapten Harimau
Indonesia dan menjadi momok bagi pasukan Belanda. Andi Mappe adalah ikon perjuangan
gerilya melawan Belanda di Pangkep. Daerah Perjuangannya meliputi wilayah pedalaman dan
hutan Maros, Pangkep, Barru, sampai Bulu Dua, Soppeng.

Diantara Tokoh pejuang yang gugur dari satuan kelaskaran HI antara lain Andi Mappe sendiri,
Andi Naping, Sayid Sadiq, Muhammad Daeng Mangimbangi, Baco Pararang, Musa, Darise, dan
yang lainnya, termasuk salah seorang pimpinan LAPRIS, Alwi Daeng Bonto, juga gugur di
Pangkep dalam Tahun 1947. Para pejuang kemerdekaan Pangkep dimakamkan di Taman Makam
Pahlawan (TMP) Mangngilu, Bocce BoccoE di Bungoro, 2 km arah utara Pangkajene, ibukota
Kabupaten Pangkep.

***

Dalam hutan di Bungoro, Agustus, Tanggal 13 Tahun 1946, masih pagi sekali terdengar suara
lantang mengomando memberi instruksi. Andi Mappe, Kapten HI mengatur siasat pertempuran
dan memerintahkan Mandu, salah seorang anggota pasukannya agar melakukan kontak dengan
Abdur Rahim Daeng Manuntungi di Daya dan Ibrahim Daeng Manappa di Maros untuk minta
bantuan persenjataan sekaligus panggilan kilat agar segera menggabungkan pasukannya di
Pangkajene. Andi Mappe membentuk Tim PHB, yang beranggotakan masing masing, Hasyim
Daeng Paraga, Saing Daeng Masiga, Abdul Muttalib, H. Muhammad Faharuddin, H.
Baharuddin, untuk berhubungan langsung dengan organisasi kelasykaran lainnya, PJS dan PPNI
di Paropo, Banteng Indonesia Sulawesi (BIS) di Kampung Rappo Jawa, pimpinan Abdul Halik
dan H. Ali Malaka.

Buku saya,Kapten Harimau Indonesia - Andi Mappe - Pahlawan Pejuang Kemerdekaan.


(Pemkab Pangkep, 2007).

Sebelumnya, telah ikut bergabung dengan pasukan Andi Mappe, anggota laskar Ranggong
Daeng Romo. Kedatangan pasukan seperjuangan dari Polong Bangkeng (Takalar) pada tanggal 9
Agustus 1946 yang beranggotakan 35 orang dibawah pimpinan Muhammad Syah dan Bahang
yang bersenjatakan sebanyak 13 pucuk diantaranya 8 pucuk karaben LE, 5 pucuk revolver yang
mendarat di Kampung Maleleng Distrik Pangkajene di rumah Gallarang Kampung Maleleng.
Lasykar yang berada dibawah pimpinan Bahang ini, diantaranya Abdul Rahman, M Kasim DM,
Djumrah, Giman, Adam Sikki, Sadiran, Tannang, Taherong, Sakir Syamsuddin Saraka, Hamjan,
Abbas, Patri dan yang lainnya.

Sambil menunggu tambahan pasukan dari Takalar dan Maros, pasukan HI pimpinan Andi Mappe
bergerak menuju Kampung Bontotene dan melumpuhkan pos Belanda disana. Pasukan HI
kemudian berkumpul di Kampung Samatea, Timbuseng, di Rumah Andi Mappe sebelum
bergerak ke Bola SobaE, Kampong Siloro. Pada tanggal 10 Agustus 1946, rombongan pasukan
Andi Mappe menuju Ellek ButtaE (Siloro) dan bermalam 2 malam di Rumah Panggomi. Dua
hari kemudian, 12 Agustus, pasukan ke Kassi kassi Kampong Mangilu, kemudian bergerak lagi
pada 13 Agustus ke Binampasa Kampung Mangilu. Di Mangilu, laskar HI memutuskan untuk
membangun markas pertahanan.
B e r s a m b u n g
M. Farid W Makkulau,
Pangkep, 10 November 2011