Anda di halaman 1dari 29

BAB II

PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR ADHD
1. PENGERTIAN ADHD
Adanya ketidak-mampuan anak untuk memusatkan perhatiannya sangat singkat
dibandingkan anak lainnya yang seusia dengannya, bila disetai hyperkatif dan tingkah laku yang
impulsif gangguan tersebut adalah ADHD (Konfrensi Nasional Neurodevelopmental II, 2006).
ADHD adalah gangguan psikitri pada anak yang paling banyak di jumpai .
ADHD istilah popular, kependekan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder
(Attention= perhatian, Deficit=berkurang, Hyperactivity= hyperkatif, Disorder yang berarti
gangguan). Hyperaktivitas berasal dari dua kata yaitu hyper dan activity. Hyper berarti banyak
diatas, tinggi. Activity berarti keadaan yang selalu bergerak, eksplorasi serta respon terhadap
ranngsangan dari luar. Dengan demikian berdasarkan pengertian dari hiperaktivitas adalah
aktivitas yang sangat tinggi atau banyak. Hiperaktivitas adalah gerakan atau aktivitas yang
berlebih (Baihaqi dkk, 2005:126).
Supraktekyo (1995:6) memberi pengertian tentang hiperaktif adalah suatu gejala
kelambatan sebagai anak yang sulit berkonsentrasi, perhatiannya sangat mudah beralih, motorik
berelebihan dan susah mengikuti perintah.
Secara umum anak hiperaktif dibatasi sebagai anak yang menunjukan gejala aktivitas
perilaku yang berlebihan dan terkadang terkendali. Dari batasan beberapa ahli maka dapat
disimpulkan gambaran hiperaktif, sebagai berikut:
a. Merupakan perilaku yang dilakukan oleh anak.
b. Menunjukan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi atau memfokuskan perhatian.

c. Tidak mampu mengontrol perilakunya.


d. Menunjukan aktifitas berlebihan
e. Aktifitas yang dilaukan tidak tepat, dan tidak pantas. Aktifitas itu dilakukan terus menerus
sepanjang hari.
Gangguan pemusatan perhatian yang disertai hiperaktif atau ADHD (Attention Deficit
Hyperactivity Disorder), telah dijabarkan mengenai karekateristik hiperaktif selain itu anak akan
mengalami kesulitan dalam berbagai macam hal yaitu kesulitan belajar, kesulitan berperilaku,
kesulitan sosial dan kesulitan-kesulitan lain yang berkaitan satu sama lainnya. Namun dalam
keadaan tertentu atau sewaktu-waktu anak ADHD seperti juga kebanyakan anak lainnya, akan
terlihat baik-baik saja.
Keadaan tersebut menyebabkan orang lain berfikir, bahwa anak ADHD dapat melakukan
sesuatu jika mereka melakukannya lebih giat atau jika ada kerja sama antara orang tua dan guru
untuk menerapkan aturan-aturan yang lebih ketat tidak banyak membantu mereka.
Tidak adanya kendali atau ketidak-mampuan untuk menggunakan rem-diri artinya
pengendalian dorongan-dorongan yang terjadi pada diri seseorang, merupakan persoalan utama
yang dialami oleh anak ADHD termasuk beberapa hal diantaranya (Baihaqi dan sugiarmin,
2006:15) :
1. Berbicara sendiri
2. Cara memori bekerja
3. Cara melakukan tinjauan terhadap masa depan/ merencanakan masa depan
4. Pengertian tentang waktu
5. Menggeser agenda
6. Memisahkan emosi dan fakta

Seorang pakar ADHD terkenal, Prof. Russsel Barkley mengemukakan bahwa suatu unsur
kunci dari kondisi ADHD adalah ketidak mampuan untuk menghambat perilaku sehingga
tuntutan masa depan tidak dapat dipenuhi.
Gangguan pemusatan perhatian yang disertai hiperaktif atau ADHD (Attention Deficit
Hyperactivity Disorder), anak akan mengalami kesulitan dalam berbagai macam hal yaitu
kesulitan belajar, kesulitan berperilaku, kesulitan sosial dan kesulitan-kesulitan lain yang
berkaitan satu sama lainnya. Namun dalam keadaan tertentu atau sewaktu-waktu anak ADHD
seperti juga kebanyakan anak lainnya, akan terlihat baik-baik saja.
Untuk mendiagnosa ADHD digunakan kriteria DSM IV yang digunakan harus terdapat 3
gejala: hiperaktif, masalah perhatian dan masalah konduksi.
Kriteria ADHD dari DSM IV (1994)
Berikut ini criteria ADHD berdasarkan Diagnostic Statistic Manual :
A.1. Kurang Perhatian
Pada criteria ini, penderita ADHD paling sedikit mengalami 6 atau lebih gejala-gejala
berikut dan berlangsung paling sedikit 6 bulan sampai suatu tingkatan yang maladaptive dan
tidak konsisten dengan tingkat perkembangan.
a. Seringkali gagal memperhatikan baik-baik terhadap sesuatu yang detail atau membuat
kesalahan yang sembrono dalam pekerjaan sekolah dan kegiatan-kegiatan lainnya.
b. Seringkali mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas atau
kegiatan bermain
c. Seringkali tidak mendengarkan jika diajak berbicara secara langsung
d. Seringkali tidak mengikuti baik-baik instruksi dan gagal dalam menjalankan tugas dan
kegiatan

e. Seringkali mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kegiatan


f. Seringkali kehilangan barang/benda penting untuk tugas-tugas dan kegiatan misalnya
kehilangan pensil, buku,dan alat tulisa lainya.
g. Seringkali menghindari, tidak menyukai atau enggan melaksanakan tugas-tugas yang
membutuhkan usaha mental yang didukung seperti meyelasaikan pekerjaan sekolah atau
pekerjaan rumah.
h. Seringkali bingung/ terganggu oleh rangsangan dari luar
i. Seringkali bingung/terganggu oleh rangsangan dari luar

A.2 Hiperaktifitas Impulsivitas


Paling sedikit enam atau lebih dari gejala-gejala hiperaktivitas impulsivitas berikutnya
bertahan selama paling sedikit 6 bulan sampai dengan tingkatan maladaptive dan tidak dengan
tingkat perkembangan.
Hiperaktivitas
a. Seringkali gelisah dengan tangan atau kaki mereka saja dan sering menggeliat di kursi
b. Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau dalam situasi lainnya dimana
diharapakan agar anak tetap duduk.
c. Sering berlarian atau naik-naik secara berlebihan dalam situasi dimana hal ini tidak tepat.
(Pada masa remaja atau dewasa terbatas pada perasaan gelisah yang subyektif).
d. Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam kegiatan senggang secara
tenang.
e. Sering bergerak atau bertindak seolah-olah dikendalikan oleh motor
f. Sering berbicara berlebihan

Impulsifitas
a. Mereka sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai.
b. Mereka sering mengalami kesulitan mengganti giliran
c. Mereka sering menginterupsi atau menggangu orang lain. Misalnya memotong pembicaraan
atau permainan
B. Beberapa gejala hiperaktivitas impulsifitas atau kurang perhatian yang menyebabkan
gangguan muncul sebelum anak berusia 7 tahun.
C. Ada suatu gangguan di dua atau lebih setting/situasi
D. Harus ada gangguan secara klinis , signifikan dalam fungsi sosial akademik atau
pekerjaan
E. Gejala-gejala tidak terjadi selama berlakunya PDD, skizofrenia atau gangguan psikotik
lainnya dan tidak dijelaskan dengan lebih baik oleh gangguan mental lainnya.

2. HAMBATAN ADHD
ADHD merupakan gangguan perkembangan pada anak. Hambatan tersebut menyebabkan
dampak bagi dirinya sendiri, keluarga, sekolah dan masyarakat.

Program untuk anak ADHD dimulai pada ketidak mampuan untuk memperhatikan,
control perilaku yang rendah dan kecenderungan untuk mencari dan membutuhkan stimulus.
Kondisi ini akan mempengaruhi motivasi, sehingga perkembangan kognitif, sosial dan motorik
mengalami hambatan.
Quay dan Wery (1979) menjelaskan anak ADHD mempunyai masalah memperhatikan
dan mengontrol perilakunya. Masalah perilaku yang paling utama pada anak ADHD adalah
ketidak-mampuan untuk mengontrol perilakunya.
Pada umumnya memori dan kemampuan anak ADHD untuk menyimpulkan rendah,
sehingga anak ADHD mudah lupa, gagal dalam mengingat suatu obyek dan gagal dalam
mengerjakan tugas yang diberikan. Anak ADHD relatif sukar untuk memecahkan berbagai
problem yang sifatnya kompleks. Kondisi tersebut mengakibatkan anak mengalami kesukaran
disekolah. Konsekuensinya dari ini anak mengalami kesukaran disekolah.
Pada perkembangan emosi anak ADHD mempunyai kelemahan pada system limbic
pathway yang mempunyai tugas mengatur emosi dan perilaku. Akibatnya anak ADHD tidak
dapat mengendalikan emosi dan tingkah lakunya (Suprapti,1994). Bohlin (1994) menjelaskan
bahwa anak ADHD memiliki problem-problem emosi, emosinya meledak-ledak dan suka marah
dengan tiba-tiba. Digambarkan bahwa emosi anak ADHD itu tidak masak, kematangan sosial
emosinya sekarang, sangat sensitive, harga diri rendah, toleransi frustasi kurang (tidak sabar),
adanya gejala depresi dan cemas (Bohlin, 1994). Melihat kondisi tersebut maka perkembangan
emosi anak ADHD mengalami gangguan dan hambatan.
Diakibatkan perkembangan emosi dan perilakunya yang terganggu perkembangan sosial
anak ADHD mengalami hambatan. Bruno DAlonzo (1996) mengatakan bahwa anak ADHD
mempunyai kemampuan bersosialisasi yang rendah, harga diri yang rendah dan sering

mengasingkan diri. Anak ADHD sering tidak dapat bergaul dengan teman-temannya, mereka
cenderung tidak disukai namun anak tidak tahu cara memperbaikinya. Anak ADHD selalu
ditolak oleh teman-temanya, karena anak ADHD menuntut perhatian, membosankan, sulit
menunggu giliran dan sering mengulang-ngulang tugas.
Dari terhambatnya perkembangan-perkembangan tersebut maka berpengaruh pada
perilaku di kehidupan sehari-harinya Mempunyai anak ADHD merupakan perjuangan berat
dalam membesarkan dan mendidiknya, berdampak pada kehidupan berkeluarga yaitu pada
hubungan suami istri (Ayah-ibu), pada saudara kandung dan pada diri anak itu sendiri.(Sidhi,
2006)

Dampak dari keadaan anak ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) pada Orang
Tua:
1. Siklus konflik di dalam keluarga
Siklus ini umumnya berawal dari reaksi marah orang tua, ketika anak mereka tidak mau
tertib. Terhadap kemarahan anak itu, anak membalas dengan sikap permusuhan, akibatnya

pertentangan diantara mereka meningkat. Hal tersebut menciptakan suasana yang sulit dan
tegang dalam keluarga. Akibatnya anak mulai bersikap agresif dan anti sosial diluar rumah.
2. Frustasi dan dendam pada anak ADHD
Ketika seseorang mengalami frustasi seringnya mengalihkan pada orang lain (mengkambinghitamkan) misalnya pada saudara anak ADHD atau gurunya. Dalam keadaan bingung kedua
orang tua saling menyalahkan, pertentangan antara kedua orang tua menyebabkan anak
menjadi bingung dan kehilangan rasa aman.
3. Konflik dihindari dengan mengorbankan kewibawaan orang tua
Bila keinginan anak ADHD tidak dipenuhi sering tantrum (mengamuk) dapat memukulmukul atau menangis menjerit-jerit, orang tua terpaksa memenuhi keinginan anaknya. Lama
kelamaan orang tua kehilangan wibawa.
4. Orang tua menjadi putus asa
Orang tua menjadi putus asa karena adanya perkataan dari seorang anak bila dimarahi atau
merasa bersalah ia akan mengatakan saya terlalu bodoh atau saya ingin mati
5. Orang tua takut akan masa depan anaknya
6. Konflik terus menerus dengan masyarakat karena perilaku anak ADHD

7. Orang tua dihadapkan pada dilema


-

Jika anak dinyatakan pada dasarnya normal, mereka mengganggap dirinya gagal sebagai
orang tua, karena tidak dapat mendidik anak (merasa anaknya nakal)

Jika anak dinyatakan sakit dan ADHD adalah gejala-gejalanya mereka mungkin terlalu
menguasai atau melindungi anaknya.

Orang tua merasa bersalah jika ada perasaan-perasaan marah, benci dan jengkel pada
suatu waktu kepada anak ADHD.

Beberapa orang tua terganggu oleh impuls untuk menyakiti anaknya. Sebagian bertindak
impuls yaitu menganiaya anaknya. Sebagian lagi dapat mengatasi impulsnya dan tidak
memukul anaknya karena mereka takut akan membunuhnya.

8. Perkawinan menjadi tidak harmonis


Banyak perilaku anaknya membuat baby sister tidak kerasan, sehingga mereka tidak dapat
lagi merasakan kebersamaan sebagai pasangan. Jika waktu luang dihabiskan untuk mengurus
anak ADHD, hal tersebut memudahkan orang tua merasa terjerat dan dendam. Kesabaran
menjadi tipis, mudah tersinggung, bertengkar dan situasi tegang tidak dapat dihindari.
9. Mempengaruhi hubungan dengan keluarga besar
Sebagian orang tua takut mengahadiri pertemuan dengan keluarga besar, karena takut
anaknya akan dibanding-bandingkan dengan anak yang lainnya. Mereka harus mendengar
kritikan-kritikan dan nasihat-nasihat yang tidak diharapkan.

Dampak pada saudara kandung dirasakan karena orang tua membiarkan anak ADHD
melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukan oleh mereka. Cemburu, iri dan persaingan ada
pada keluhan saudara kandung anak ADHD. Orang tua dapat menghabiskan waktu lebih banyak
dan perhatian untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak ADHD daripada anak lainnya.
Terkadang saudara kandung menjadi malu karena perilaku buruk anak ADHD.
Sedangkan dampak bagi anak ADHD itu sendiri yang sering ditemui adalah penolakan
terhadap dirinya,

ADHD berkaitan dengan tingkah lakunya dan aktivitas kognitif, seperti

berpikir, mengingat, menggambar, merangkum, mengorganisasikan dan fungsi mental lainnya


(Lerner,1988).
Disekolah guru dapat mengamati masalah-masalah yang ditimbulkan dari gangguan
ADHD, jika tidak diidentifikasi maka sulit untuk ditangani secara tepat.umumnya masalah yang
dihadapi oleh anak ADHD di sekolah ialah ditolak/diasingkan oleh teman-temannya, karena
anak ADHD pada umumnya tidak dapat mengerti perasaan anak lain, sehingga mereka sering
secara tidak sadar telah menyakiti anak lain.
Akibat diasingkan dan penolakan dari anak lain maka anak ADHD sering marah, kadangkadang disertai dengan agresivitas fisik dan kata-kata. Karena ketidakpekaannya terhadap
perasaan anak lain mereka sering bertindak sebagai pemimpin, memberi perintah kepada temantemannya. Mereka cenderung berteman dengan teman yang lebih muda, yang dapat dikuasainya,
atau kadang-kadang dengan anak yang lebih tua, yang mungkin lebih toleran terhadap perilaku
mereka.

Gambaran dari masalah-masalah tersebut adalah (Baihaqi dan sugiarmin, 2006: 27):
1. Aktifitas motorik yang berlebih
Aktifitas motorik yang berlebih seperti berjalan-jalan dikelas atau bertindak berlebihan.
Tindakan-tindakan tersebut cenderung mengarah pada perilaku negative yang merugikan
orang lain dan dirinya sendiri. Masalah tersebut karena siswa kesulitan mengontrol dan
melakukan koordinasi dalam aktifitas motoriknya sehingga tidak dapat membedakan gerakan
yang penting ataupun yang tidak penting.
2. Menjawab tanpa ditanya

Hambatannya dari masalah ini guru dituntut untuk selalu bersikap sabar. Ciri impulsif
demikian sangat menghambat proses belajar anak , karena anak tidak dapat mengendalikan
dirinya untuk merespon secara tepat. Dan sulit untuk mempertimbangkan atau memikirkan
terlebih dahulu perilaku yang ditampilkan. Perilaku tersebut menghambat bagi dirinya sendiri
ataupun orang lain.
3. Menghindari tugas
Karakteristik anak yang cepat bosan sekalipun dengan tugas yang menarik mengakibatkan
masalah ini. Anak mengalami hambatan dalam menyesuaikan diri terhadap kegiatan belajar
yang diikutinya. Keadaan tersebut dapat menimbulkan frustasi. Akibatnya anak mengalami
kehilangan motivasi untuk belajar.
4. Kurang perhatian
Kesulitan dalam mendengar, mengikuti arahan dan memberikan perhatian merupakan
masalah umum anak ADHD. Kesulitan tersebut muncul karena perhatiannya yang mudah
teralih. Sebagian anak mempunyai kesulitan dengan informasi yang disampaikan secara
visual, sebagian kecil lagi mempunyai kesulitan dengan informasi yang disampaikan secara
auditif. Perhatian yang mudah teralih sangat mengahambat dalam proses belajar.
5. Tidak menyelesaikan tugas dengan tuntas
Masalah ini berhubungan dengan pengabaian tugas. Jika anak mengabaikan tugas, akibatnya
anak tidak menyelesaikan tugas. Sekali saja dia mengembangakan kebiasaan belajar yang
jelek atau disekolah atau dirumah, pola-pola tersebut akan terjadi di tempat-tempat lainnya.
6. Binggung terhadap arahan

Masalah ini berpangkal pada penggunaan perhatian. Ketika perhatian anak pecah/terpencar
maka terjadi perpecahan proses informasi yang mengakibatkan kebinguangan sehingga
informasi anak yang diperoleh tidak utuh.
7. Disoraganisasi aktivitas
Pada umumnya anak ADHD mengalami disorganisasi, impulsif, ceroboh dan terburu-buru
dalam melakukan tugas yang mengaikibatkan pekerjaan acak-acakan, bingung serta kerap
kali ia lupa membawa tugas tersebut ke sekolah. Bila seorang anak gagal melakukan seluruh
tugasnya karena ia lupa atau salah menginterpretasikan keperluan dalam menyelesaikan
tugas. Walaupun ia dapat menyelesaikan tugas, kerap kali ia lupa membawa kembali tugas
tersebut ke sekolah.
8. Tulisan yang jelek
Anak ADHD sering memilki tuisan tangan yang jelek . masalah ini dapat dijumpai pada
tingkat yang berat sampai dengan ringan. Tulisan yang jelek ada hubungannya dengan
masalah aktivitas motorik dan sikap impulsif yang terburu-buru

9. Masalah-masalah sosial
Meskipun masalah dalam hubungan teman sebaya tidak ditemukan pada semua anak, namun
kecenderungan impulsif, kesulitan menguasai diri sendiri serta toleransi rasa frustasi yang
rendah kerap kali dialami oleh anak-anak ini. Tidaklah mengherankan jika sebagian anak
mempunyai masalah dalam kehidupan sosial, kesulitan bermain dengan aturan dan aktivitas
lainnya yang tidak hanya terbatas disekolah, juga terjadi dilingkungan sosial lainnya.
Hambatan atau kesukaran di sekolah dalam ketahanan atau memperhatikan sangat
rendah, kurang adanya kontrol perilaku, dimana kemampuan ini sangat dituntut apabila anak

mulai sekolah dan bermain dengan teman-temannya. Penyimpangan perilaku ini akan
mengganggu anak dalam belajar melakukan tugas-tugas perkembangan, sehingga perkembangan
yang optimal sulit dicapai oleh anak.
Problem anak ADHD yang lain seperti memusatkan perhatian, mengurus diri sendiri dan
bergaul dengan anak-anak lain yang dapat menjadikan masalah ketika belajar, hambatan prestasi
sekolah, kurang percaya diri, gerakan tidak luwes atau serampangan, hambatan pada
perkembangan, keterampilan motorik semua ini akan mempengaruhi atau menyebabkan masalah
perilaku dan kemampuan belajar.

3. KEBUTUHAN ANAK ADHD


Pada dasarnya kebutuhan anak ADHD sama dengan anak lainya, karena mereka tidak
bisa lepas dari kesatuan mereka sebagai manusia yang harus memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kebutuhan anak pada umumnya ;
1. Dasar : makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan.
2. Rasa aman : cinta, penerimaan, tidak dicela tapi diberi penjelasan.
3. Diterima dilingkungan : teman, guru
4. Percaya diri : mampu kuasai keterampilan tertentu seperti pelajaran, aturan, bina diri
5. Aktualisasi diri : ada motivasi internal

Adanya karakteristik ADHD yang mempunyai hambatan pada perilaku belajar maka
kebutuhan anak ADHD disesuaikan dengan karakteristiknya. Pada penjelasan mengenai
hambatan yang berdampak pada lingkungan anak ADHD, seperti sekolah dan rumah. Maka
kebutuhan Anak ADHD yang ditinjau dari dampak yang ditimbulkan oleh anak ADHD itu
sendiri adalah penanganan tingkah laku. Misalnya perhatiannya mudah teralih maka dibutuhkan
metode, strategi dan pendekatan yang berbeda. Selain itu butuhnya tim multi disipliner yang
memberikan pelayanan kebutuhan khusus bagi siswa seperti:
1. Tenaga kependidikan
2. Tenaga medis seperti dokter dan terapis
3. Psikolog untuk memantau perkembangannya

Namun semua itu harus didukung peran serta orangtua sebagai tim multidisipliner yang
memegang kunci keberhasilan perkembangan anak ADHD. Selain kebutuhan pokok dan
kebutuhan tim multidisipliner yang menangani kasus siswa. Bagi anak ADHD yang mempunyai
karakteristik mudah beralih perhatian dan hiperaktif dibutuhkan pendekatan dalam pembelajaran
yang khusus agar anak dapat mengikuti pembelajaran.
Ditinjau dari masalah sosial pada anak ADHD dalam hubungan teman sebaya tidak
ditemukan pada semua anak, namun kecenderungan impulsif, kesulitan menguasai diri sendiri
serta toleransi rasa frustasi yang rendah kerap kali dialami oleh anak-anak ini. Tidaklah
mengherankan jika sebagian anak mempunyai masalah dalam kehidupan sosial, kesulitan
bermain dengan aturan dan aktivitas lainnya yang tidak hanya terbatas disekolah, juga terjadi
dilingkungan sosial lainnya. Maka anak ADHD membutuhkan program pelayanan khusus agar
masalah tersebut sedikit demi sedikit dapat teratasi.

B. KONSEP PEMBELAJARAN ROLE PLAYING


Belajar akan lebih bermakna jika anak didik mengalami apa yang dipelajari, bukan
sekedar mengetahui apa yang dipelajari (Hernowo, 2005). Pembelajaran hendaknya dimulai
dari apa yang disenangi anak. Bermain adalah kegiatan untuk mendapatkan kegembiraan atau
kesenangan tanpa memikirkan hasil akhir dilakukan tanpa paksaan dari luar atau dilakukan
dengan senang hati.
Bermain sangat penting untuk mengembangkan keterampilan, kemampuan gerak, minat
dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok.
Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan untuk beraktifitas dan bekerja saat usia
dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengbatan atau terapeutik dimana sarana
tersebut dipakai untuk mencapai aktivitas baru dan keterampilan sesuai dengan kebutuhan terapi.

Mula-mula anak-anak bermain menggunakan alat atau mainan. Kemudian bermain


menyusun sesuatu, berkembang menjadi bermain pura-pura dengan mainan, boneka bukan yang
sesungguhnya. Mereka bertingkah seperti orang dewasa, bermain telepon menggunakannya
mengangkut, memanggil lewat telepon bahkan seolah-olah berbicara dengan seseorang. Kadang
mereka berperilaku atau berperan sebagai kakak laki-laki atau kakak perempuan.
Hurlock (1963:265) mengemukakan bermain merupakan aktifitas untuk mendapatkan
kegembiraan atau kesenangan tanpa memikirkan hasil akhir, dolakukan tanpa paksaan dari luar
atau dilakukan dengan senang hati.

Menumbuhkan rasa senang pada aktifitas bermain merupakan hal yang paling esensial.
Anak-anak bermain tanpa mengenal waktu, terkadang seharian. Ketika saatnya anak merasa
bosan maka mereka segera keluar mengundurkan diri dan menarik diri dari kegiatan tersebut.
Mereka cenderung dapat menemukan sendiri hal yang menarik perhatiannya. Umumnya aktivitas
bermain dilakukan oleh semua anak-anak. Kesimpulannya bahwa dalam aktivitas bermain
cenderung dilakukan terhadap hal yang sangat penting dan cukup menyenangkan.
Bermain tidak hanya menghabiskan waktu dan pekerjaan yang membosankan anak, tetapi
sebaliknya bahwa bermain merupakan suatu aktivitas yang paling penting sekali terhadap
perkembangan kepribadian yang baik dan penyesuaian diri bagi anak.
Bermain memberikan kesempatan pada anak agar dapat berkembang, baik fisik, emosi,
mental, social dan moral. Di dalam kehidupannya permainan itu sangat menarik perhatian anak
karena sesuai dengan tahap perkembangannya dalam kehidupan selanjutnya.
Permainan merupakan media untuk membentuk perilaku-perilaku yang diharapkan,
seperti pengembangan hubungan social antar sesama teman, rasa diterima, kerjasama,

tanggungjawab, dan melatih agar anak dapat berprilaku sesuai dengan aturan-aturan dan
harapan-harapan masyarakat. Perilaku manusia itu merupakan ekspresi dari ketidaksadaran. Apa
yang dilakukan oleh anak-anak juga merupakan refleksi dari situasi kejiawaan, dengan demikian
permainan dapat digunakan sebagai salah satu cara yang efektif dalam menangani gangguan
emosi dan gangguan perhatian pada anak. Dengan bermain dapat menjadikan pembelajaran yang
menyenangkan.
Guru dapat menggunakan bermain sebagai alat untuk melakukan pengamatan dan
penilaian atau suatu evaluasi anak. Bermain dapat juga digunakan oleh guru atau orang dewasa
lainnya untuk membina hubungan dengan anak melalui kegiatan bermain, karena selama
bermain suasananya bebas maka anak tidak merasa takut-takut untuk bermain bersama.Hal ini
sangat berguna untuk membantu membina hubungan dengan anak-anak yang sulit untuk
menyesuaiakan diri, namun yang perlu diingat adalah suasana yang diciptakan sedemikian rupa
sehingga anak tidak merasa dipaksa atau terpaksa. (Mayke,2001).

1. KONSEP DASAR ROLE PLAYING


Role Playing adalah suatu bentuk permainan anak-anak yang aman dan bentuk-bentuk
permainan yang sesuai dengan struktur lingkungan atau permainan-permainan dengan
menggunakan boneka, rumah-rumahan, dsb. Role Playing dalam arti bermain peran atau bermain
pura-pura.
Role Playing (bermain peran) pada dasarnya mendramatisasi tingkah laku

dalam

hubungannya dengan masalah sosial. Dengan dramatisasi anak berkesempatan melakukan,


menafsirkan dan memerankan suatu peranan tertentu. Metode bermain peran dapat mendorong
siswa untuk memepelajari masalah-masalah sosial yang dapat memupuk komunikasi antar insani
dikalangan siswa di kelas. Melalui kegiatan Role Playing siswa akan aktif membicarakan
masalah-masalah yang ditemuinya, menginformasikan hasil pengalaman melalui kegiatan
berbicara.

Jeffrey dkk (1994) mengemukakan tentang bentuk-bentuk permaianan yang dapat dipakai
sebagai intervensi pembelajaran, salah satunya yaitu bermain pura-pura/ bermain peran. Selain
untuk mengembangkan daya berfikir Role Playing digunakan dalam intervensi pembelajaran
untuk mengembangakan kemampuan berbahasa.
Bermain peran termasuk salah satu jenis bermain aktif, diartikan sebagai pemberian
atribut tertentu terhadapa benda, situasi dan anak memerankan tokoh yang ia pilih. Dalam
kegiatan bermain peran ini anak mempunyai peran penting. Ia melakukan impersonalisasi
terhadap karakter yang ia kagumi atau ditakutinya baik yang ia temui di kehidupan sehari-hari
tonton di film atau yang ia baca dari bacaan.
Kegiatan bermain peran dapat bersifat produktif atau kreatif dan bisa juga reproduktif
(merupakan pengulangan dari situasi yang diamati anak sehari-hari). Awalnya kegiatan bermain
peran bersifat reproduktif berkembang menjadi produktif, anak akan memasukan unsur-unsur
baru terhadap yang ia amati dalam hidup sehari-hari.

Manfaat dari Pembelajaran Role Playing adalah :


1. Membantu penyesuaian diri anak. Dengan memerankan tokoh-tokoh tertentu ia belajar
tentang aturan-aturan atau perilaku-perilaku apa yang bisa ia terima dari orang lain, baik
berperan sebagai ibu, ayah, guru, murid maupun pahlawan-pahlawan super.
2. Memperoleh kesenangan dari kegiatan yang dilakukan atas usaha sendiri, belajar menjadi
pengikut

dalam artian memerankan tokoh-tokoh tertentu yang ditetapkan oleh teman

mainnya dan tidak memerankan tokoh yang diinginkan oleh anak.


3. Meningkatkan perkembangan bahasa yang dapat ditingkatkan karena adanya penggunaan
bahasa didalam permainan Role Playing.

4. Belajar memandang suatu masalah dari kacamata tokoh-tokoh yang ia perankan sehingga
diharapkan membantu pemahaman sosial pada diri anak
5. Melatih daya ingat siswa melalui tata cara bermain, cerita atau skenario dan nama-nama
tokoh. Dengan itu diharapkan dapat meningkatkan perkembangan kognitif anak.

Manfaat dalam pelaksanaan pembelajaran Role Play untuk anak ADHD diantaranya:
a. Memperoleh kesenangan, kenikmatan dan kegembiraan
b. Membantu meningkatkan perkembangan, meliputi perkembangan fisik, kognitif, emosi dan
sosial
c. Dapat memperbaiki perilaku menyimpang yang ada pada anak hiperaktif, seperti perilaku
agresif, mengganggu teman, dan tidak mau mengikuti aturan-aturan.
d. Meningkatkan daya konsentrasi
e. Dapat mengontrol diri
f. Mengurangi hiperaktifitas yang ditandai dengan anak dapat mengatur gerak motoriknya.
g. Cara menyalurkan energi
h. Kesempatan mengontrol tubuh
i. Mengembangkan beberapa keahlian /keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupan
j. Mengembangan kemampuan berfikir dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan
k. Menumbuh kembangkan kreativitas
l. Mengeluarkan ekspresi rasa marah, cemas, khawatir, dan sedih
m. Merasakan penderitaan orang lain

Contoh-contoh Role Play


A. Permainan melakukan perjalanan
 Materi permainan perjalanan

Karcis bus

Peluit

Handuk kecil untuk menghapus keringat sopir

Uang mainan

Majalah yang dibaca selama perjalanan

Kacang sebagai makanan kecil selama perjalanan

 Waktu : 40 menit
B. Permainan melakukan Jual Beli
 Materi permainan Jual Beli

Barang untuk dijual, misalnya kacang, pisang, buku, pensil atau barang yang lainnya

Meja untuk meletakan barang-barang

Uang mainan

Plastik pembungkus

 Waktu : 40 menit

2. PRINSIP PEMBELAJARAN ROLE PLAYING


Prinsip dari Role Playing menurut Hurlock (1936) adanya aktifitas dengan mendapatkan
kegembiraan, kesenangan, yang dilakukan tanpa paksaan dilakukan dengan senang hati. Role
Playing merupakan kesibukan sukarela yang dilakukan dalam batasan batasan tempat dan
waktu(Hurziga, 1992).
Role Playing merupakan salah satu prinsip permainan yang dapat dipilih untuk
mengurangi perlaku hyperkatif, karena anak ADHD adalah anak yang mempunyai daya
konsentrasi rendah dan tidak dapat diajak berpikir terlalu berat. Permainan Role Playing dipilih
karena tidak banyak melibatkan kognitif, tetapi lebih banyak melibatkan aspek afeksi. Selain itu
adanya unsur kesenangan, melalui Role Playing dapat melatih daya konsentrasi anak., perilaku
impulsifitas dapat dikurangi demikian pula perilaku hiperaktif dapat tereduksi.
Dalam penelitian Suharmini dan Purwadi (2002) dilaporkan bahwa Role Play cukup
efektif untuk mengurangi kadar penyimpangan perilaku anak hiperaktif. Pada saat kegiatan
berlangsung guru memberi bimbingan dan pengarahan (memberikan reinforcement yang positif
baik yang negative) disanalah pembelajaran berlangsung.
Hiperaktif termasuk salah satu penyimpangan perilaku. Myers (1994) mengemukakan
perilaku yang menyimpang dapat direduksi dengan katarsik, hubungan dan pendekatan sosial,
melalui permainan salah satunya.

Metode Role Playing


Dalam pendekatan pengajaran bermain peran adalah salah satu pendekatan yang dapat
ditempuh adalah untuk mengatasi kesulitan yang terjadi dalam pembelajaran siswa ADHD.
Melalui Role Playing (bermain peran), para siswa mencoba mengeksplorasi masalah-masalah
hubungan antar manusia dengan cara memperagakannya.
Adapun bentuk permainan yang digunakan dalam pembelajaran adalah bentuk permainan
yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari, yakni melalui Role Play. Bentuk permainan Role
Play dalam kegiatan pembelajaran ini adalah permainan berbelanja di warung dan berbelanja di
toko. Dengan Role Play (bermain peran) berbelanja sebagai pembeli dan penjual menuntut
adanya suatu hubungan/interaksi agar terjalin suatu komunikasi diantara peran sebagai pembeli
dan penjual.

3. PROSEDUR PEMBELAJARAN ROLE PLAYING


Prosedur kegiatan Role Playing terbagi 3 tahapan yaitu :
Tahap 1 : Identifikasi dan Assemen
Mengidentifikasi masalah berarti mengidentifikasi suatu kondisi tau hal yang dirasa
kurang baik. Masalah-masalah tersebut didapatkan informasi dari orang tua , guru ataupun
sumber yang berada dilingkungan anak. Dapat melalui wawancara ataupun data-data (record).
Identifikasi ADHD dapat menggunakan insrumen DSM IV atau instrumen lainnya yang
mewakili keadaan anak.

Aktivitas-aktivitas yang mencoba untuk memperkirakan kehidupan manusia yang


kompleks adalah kegiatan dari asssemen. Dengan kata lain assesmen merupakan suatu kegiatan
untuk menaksirkan, meramalkan, menilai terhadap seorang individu dengan berpedoman ciri-ciri
atau sifat dan data-data yang berhubungan dengan individu yang bersangkutan. Guru dapat
membuat perencanaan program dari informasi yang didapatkan dari kegiatan assemen.

Tahap 2 : Perencanaan Program


Setelah data dari lapangan terkumpul dari hasil assemen dan identifikasi maka
selanjutnya adalah perencanaan program yang disesuaikan dengan karakteristik, hambatan dan
kebutuhan anak. Suatu program harus terstruktur dan tersusun secara sistematik. Dalam program
tercantum permasalahan yang dihadapui anak, hasil assemen dan diagnosis, riwayat keluarga,
perilaku yang akan dirubah, kesukaan anak terhadap suatu cerita film atau dari bacaan,
pendekatan dan metode yang akan digunakan. Pemilihan metode yang tepat akan mempercepat
tujuan yaitu perilaku hiperaktif dapat direduksi dan gangguan yang menyertai dapat dihilangkan.
Menurut Moeslichatoen (2004:60-62) mengatakan bahwa Rancangan kegiatan bermain
meliputi penentuan tujuan dan tema kegiatan bermain, macam kegiatan bermain, tempat dan
ruang bermain, bahan dan peralatan bermain dan urutan langkah bermain.
Rancangan kegiatan Role Play (bermain peran) berbelanja di pasar dan berbelanja di toko untuk
pembelajaran IPS, diantaranya :
1. Menentukan Tujuan dan Tema Kegiatan Bermain
Tujuan bermain: setelah anak-anak selesai melakukan kegiatan bermain, diharapkan anak
dapat menguasai kemempuan berkomunikasi. Dalam hal ini, kemampuan berkomunikasi

secara verbal (lisan) dengan menggunakan susunan kalimat sederhana yang terdiri dari
subjek, predikat dan objek.
Tema bermain: berbelanja di warung dan berbelanja di toko.
2. Menentukan Macam Kegiatan Bermain
Kegiatan permainan yang dilakukan termasuk ke dalam jenis bermain aktif dengan Role
Play (bermain peran) sebagai bentuk permainannya.
Kegiatan Role Play ini dilaksanakan dalam satu kelompok saja (terdiri dari empat orang
siswa) di bawah bimbingan dan pengarahan guru kelas.
3. Menentukan Tempat dan Ruang Bermain
a. Menentukan tempat di lingkungan sekolah sebagai observasi
b. Tempat dan ruang belajar di dalam ruang kelas yang mendukung proses Role Play dalam
kegiatan belajar mengajar
4. Menentukan Bahan dan Peralatan Bermain
Untuk kegiatan Role Play (bermain peran) berbelanja di warung dan berbelanja di warung
dan berbelanja di toko ini bahan dan peralatan yang perlu dipersiapkan adala:
1. Meja dan Kursi Penjual
2. Barang dagangan jenis makanan dan alat-alat sekolah
3. Uang Kertas
5. Menentukan Urutan Langkah Bermain
a. Menentukan siswa dan tugas dalam Role Play
b. Permainan berbelanja di warung

Tahap 3 : Pelaksanaan Program


Setelah perencanaan dibuat yang meliputi manipulasi lingkungan, menentukan
pendekatan yang digunakan dan bagaimana guru harus bersikap maka dilanjutkan pada
pelasanaan. Pelaksanaan dilakukan harus sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Selama
pelaksanaan perlu dilakukan monitoring, sehingga dalam pelaksanaan ini memerlukan alat
evaluasi.
Langkah-langkah dalam pelaksanaan adalah sebagai berikut :
1. Melaksanakan sesuai rencana yang telah dibuat
2. Melakukan monitoring perilaku siswa, misalnya perilaku hyperkatif apakah sudah berkurang.
3. Refleksi, dimasudkan pengungkapan terhadap hasil tindakan yang telah dilakukan sesuai
dengan perencanaan.
4. Tindakan Lanjut, dari hasil evaluasi dan diskusi dengan orang tua ataupun tim multidipliner
lain ditentukan perlakuan atau tindakan apa untuk memperbaiki pelaksanaan tindakan yang
pertama.

C. PELAKSANAAN ROLE PLAYING


a. Tahap Kegiatan
Dalam kegiatan pembelajaran dibagi menjadi 3 tahapan, tahapan-tahapan itu adalah :
1. Tahapan persiapan yaitu kegiatan yang diarahkan kepada kesiapan siswa untuk menerima
materi yang diberikan antara lain dengan mengkondisikan kelas agar konsentrasi dan
perhatian siswa terkendali, pengecekan peralatan belajar, dan pengaturan tempat duduk
selanjutnya mengarahkan siswa ke suasana belajar seperti mengadakan apersepsi untuk
mengarah ketahapan inti pembelajaran.
2. Tahapan inti, yaitu kegiatan proses pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan materi yang
sudah ditetapkan.
3. Tahapan Penutup, Yaitu kegiatan mengakhiri proses pembelajaran seperti pemberian tugas,
membuat catatan/rangkuman, mengulas kembali semua hal yang telah dipelajari dan
mengadakan evaluasi.
b. Strategi Pengelolaan Pembelajaran
Strategi pengelolaan pembelajaran yang dimaksud adalah komponen-komponen yang perlu
dilakukan agar terjadi proses pembelajaran yang baik, nyaman dan menyenangkan.
Strategi pembelajaran itu meliputi :
1. Pemilihan lingkungan belajar : lingkungan belajar ini dipilih agar dapat menciptakan suasana
belajar yang nyaman seperti, pengturan tempat duduk, pemilihan ruangan, apakah proses
pembelajaran ini dilaksanakan di dalam atau di luar kelas.

2. Pemilihan sumber belajar yang dapat menunjang dan memudahkan ketercapaian tujuan
hapan pembelajran.
3. Metode pembelajaran dan pendekatan pembelajaran :
a. Penerapan Role Playing disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, masalah kemampuan dan
kebutuhan siswa.
b. Pendekatan

pembelajaran

dilakukan

untuk

membantu

memudahkan

guru

dalam

menyampaikan materi.
c. Pengelolaan waktu
Pembagian waktu dalam proses pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah penggunaan
waktu dalam tahapan-tahapan proses pembelajaran yaitu, berapa waktu yang digunakan pada
saat tahapan pendahuluan proses pembelajaran, tahapan inti dan tahapan akhir.
Penyampaian materi pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik materi pembelajaran
itu, misalnya materi-materi pembelajaran eksak disampaikan di waktu pagi karena materi-materi
itu memerlukan penalaran-penalaran.

Adapun tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran Role Playing yang telah disebutkan diatas
adalah:
1. Persiapan
Dalam melaksanakan persiapan Role Playing (bermain peran) guru terlebih dahulu menyiapkan :
a. Program pembelajaran yaitu rencana proses kegiatan belajar mengajar yang didalamnya
terdiri dari silabus dan RPP.
b. Menyiapkan alat dan sumber pembelajaran yaitu :

Menyiapkan meja tempat untuk berjualan

Menyiapkan uang pecahan dengan nilai nominal dari Rp. 100 s/d Rp. 100.000

Menyiapkan macam-macam makanan\

Menyiapkan plastic untuk membungkus makanan

Menyiapkan sumber bahan pelajaran.

c. Metode Pembelajaran

2. Pelaksanaan

Role Playing diikut oleh 10 orang anak. 9 anak regular berperan sebagai pembeli dan 1 orang
anak ADHD berperan sebagai penjual.
Langkah-langkah pelaksanaan Role Playing (bermain peran).
1. Anak ADHD menawarkan barang dagangannya
2. 2 orang anak datang untuk membeli makanan dan menanyakan harganya
3. Anak ADHD menjawab harganya Rp. 2000,4. Pembeli membeli 2 makanan yang harganya Rp. 200,5. Pembeli mengeluarkan uang Rp. 10.000,6. Anak ADHD mengembalikan uang kembaliannya dengan benar.
7. Anak ADHD membungkus barang yang sudah terjual dengan rapih
8. Anak ADHD memberikan barang tersebut
3. Evaluasi
Dengan menggunakan metode Role Playing jual beli anak ADHD dapat :
1. Memusatkan perhatiannya terhadap barang dagangnya dan dapat berkonsentrasi terhadap
pengembaliannya.
2. Mengurangi gerak hiperaktif
3. Tumbuhnya rasa bersosialisasi dengan teman sebaya.