Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI 1

PERCOBAAN OBAT SUSUNAN SARAF OTONOM

Oleh :
Nama Kelompok :
Gede Adi Suyadi Permana

(131047)

Dewa Nyoman Agus Prasetya

(131048)

Gusti Ngurah Alit Setiawan

(131049)

Wayan Andhy Sanjaya

(131050)

Desak Putu Anna Costariani

(131051)

A.A Anom Karisma Suari

(131052)

I Gede Ariatma Geni Putra

(131053)

Aulia Dwi Rahayu

(131054)

Ayu Mirah Diyah Wahyundari

(131055)

AKADEMI FARMASI SARASWATI DENPASAR


TAHUN AKADEMIK 2013/2014
BAB I

PENDAHULUAN
Sistem saraf otonom merupakan sistem saraf yang tidak dikendalikan
oleh kesadaran. Sistem saraf otonom (SSO) disebut juga susunan saraf
vegetatif, meliputi antara lain saraf-saraf dan ganglia (majemuk dari
ganglion = simpul saraf) yang merupakan persarafan ke otot polos dari
berbagai organ ( bronchia, lambung, usus, pembuluh darah, dan lain-lain).
termasuk keompok ini pula adalah, otot jantung (lurik) serta beberapa
kelenjar (ludah, keringat, dan pencernaan).
SSO dipecah lagi dalam dua cabang, yakni Susunan (Ortho)
Simpatik (SO) dan Susunan Parasimpatik (SP). Saraf simpatik dan
parasimpatik adalah bagian dari sistem saraf otonom. Sistem saraf otonom
mengatur kerja jaringan dan organ tubuh yang tidak disadari atau yang tidak
dipengaruhi oleh kehendak kita. Sistem saraf otonom disusun oleh serabut
saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan
menuju organ yang bersangkutan. Jaringan dan organ tubuh diatur oleh
sistem saraf otonom adalah pembuluh darah dan jantung.
Pada sistem saraf simpatis dikenal adrenoreseptor alfa dan beta.
Reseptor alfa bereaksi kuat terhadap adrenalin dan noradrenalin tetapi
bereaksi lemah bahkan sama sekali tidak berespon terhadap
isoprenalin.Reseptor beta lebih kuat bereaksi terhdap isoprenalin tetapi juga
bereaksi kuat baik terhadap adrenalin maupun noradrenalin.
Pada system saraf paeasimpatis dikenal 2 macam reseptor yaitu
reseptor muskarinik dan reseptor nikotinik.Efek muskarinik marepakan efek
yang tibul pada pemberian muskarin yaitu suatu racun dari jamur amita
muscarina yang dapat dihilangkan dengan pemberian atropine dosis kecil.
Efek nikotinik menyerupai efek yang tibul pada pemberian nikotin, yaitu
berupa pacuan system saraf parasimpatis yang diikuti dengan efek pacuan
saraf simpatis dan pacuan otot seklet.
Pada sistem saraf parasimpatis biasanya obat yang di pakai seperti
pilokarpin dimana secara :
Farmakokinetik pada pemberian biasanya terjadi kenaikan darah akibat
efek ganglionik dan sekresi ketokolamin dari medulla edremal, terjadi juga
hipersekresi pepsin dan musin, sekresi bronchus meningkat dan bersama
dengan timbulnya kontriksi bronchus dapat menyebabkan udema paru.

Farmakodinamik: pilokarpin terutama menyebabkan rangsangan terhadap


kelenjar keringat, air mata dan kelenjar air ludah. Efek terhadap keringat ini
terjadi karena perangsangan langsung dan karena perangsangan ganglion.
Pada sistem saraf simpatis umumnya obat yang di gunakan seperti
atropine dimana secara:
Farmakokinetik :atropin mudah diserap, sebagian dimetabolisme didalam
hepar, dan dibuang dari tubuh terutama melalui air seni. Masa paruhnya
sekitar 4 jam.
Farmakodinamik: Hambatan oleh atropin bersifat reversible dan
dapat diatasi dengan pemberian asetilkolin dalam jumlah berlebihan atau
pemberian antikolinesterase. Atropin memblok asetilkolin endogen maupun
eksogen, tetapi hambatannya jauh lebih kuat terhadap yang eksogen. Efek
perifer terhadap jantung, usus dan otot bronkus lebih kuat dipengaruhi oleh
atropin.

BAB II
METODE PRAKTIKUM
A. Tujuan Praktikum
1. Memahami efek beberapa obat pada system saraf parasimpatis dan
simpatis
2. Mengetahui dan memahami mekanisme kerja obat atropine dan
pilokarpin
B. Hewan Percobaan:
1. Kelinci Albino
C.
1.
2.
3.
4.

Alat yang digunakan


Penggaris
Lampu senter
Ember kecil
Stopwatch

D. Bahan yang digunakan :


1. Pilokarpin hidroklorida 0,001%
2. Atropin Sulfat 0,025%
E. Cara kerja :
1. Tiap kelompok mahasiswa bekerja dengan 1 ekor kelinci. Perlakukan
kelinci dengan baik agar tenang.
2. Ukur diameter pupil horisontal pada waktu disinari maupun tidak. Catat
hasilnya.
3. Teteskan pilokarpin hidroklorida 0,001% pada mata kanan sebanyak 1
tetes kemudian diamkan selama 5 menit. Amati dan catat perubahan
yang terjadi.
4. Jika miosis sudah terjadi maksimal pada kedua mata, mata kiri ditetesi
dengan satu tetes atropine sulfat kemudian diamkan selama 5 menit .
amati perubahan yang terjadi

BAB III
HASIL PENGAMATAN

Pupil

Sebelum
perlakua
n

Waktu
disinari

Mata
kanan

0,5 cm

0,3 cm

Setelah ditetesi
pilokarpin
-

Mata kiri

0,5 cm

Pupil
mengecil 0,3
Perubahan
warna mata
Saraf
parasimpatik

0,3 cm
-

Setelah
ditetesi
atropin

- pupil
membesar
0,6
- saraf
simpatik

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini di lakukan pengujian obat atropine dan
pilokarpin pada kelinci . Dimana hasil yang kami dapatkan saat pemberian
pilokarpin pada mata kanan kelinci menunjukkan perubahan warna pada
mata (seperti selaput putih),pupil mengecil yang menunjukkan adanya efek
obat pada saraf parasimpatis, ini disebabkan karena pilokarpin menunjukkan
kativitas muskarinik serta mekanisme kerja yang dapat menimbulkan miosis
dengan cepat dan kontraksi otot siliaris. Pada mata akan terjadi suatu
spasme akomodasi, dan penglihatan akan terpaku pada jarak tertentu,
sehingga sulit untuk memfokus suatu objek. Efek samping dari pilokarpin
dapat mencapai otak dan menimbulkan gangguan SSP. Obat ini merangsang
keringat dan salivasi yang berlebihan sedangkan pada penggunaan terapi
merupakan obat terpilih dalam keadaan gawat yang dapat menurunkan
tekanan bola matabaik glaukoma bersudut sempit maupun bersudut lebar.
Selain itu pada dasarnya pilokarpin berfek pada sistem saraf parasimpatis
yang mempunyai fungsi menghambat denyut jantung,memperlebar
diameter pembuluh darah,mempercepat proses pencernaan,memperlebar
bronkus,menaikkan tekanan darah,mempercepat gerak
peristaltis,mempersempit pupil,mempercepat sekresi empedu,menaikkan
sekresi ludah,meninurunkan sekresi adrenalin.
Pemberian atropin sulfat pada mata kiri kelinci menunjukkan
pembesaran pada pupil dan adanya efek saraf simpatis, ini disebabkan
atropin sulfat memiliki afinitas kuat terhadap reseptor muskarink, dimana
obat ini terikat secara kompetitif, sehingga mencegah asetilkolin terikat pada
tempatnya di reseptor muskarinik. Atropin menyekat reseptor muskarinik
baik di sentral maupun saraf tepi. Selain itu mekanisme kerja atropine pada
mata meyekat semua aktivitas kolinergik pada mata,sehingga menimbulkan
midriasis, mata menjadi tidak bereaksi terhadap cahaya dan sikloplegia
(ketidak mampuan untuk memfokuskn penglihatan dekat). Pada penggunaan
terapi atropine pada obat Oftalmik pada mata, salep mata atropin
menyebabkan efek midratik atau siklopegik dan memunginkan untuk
pengukuran kelainan refraksi tanpa gangguan oleh kapasitas akomodasi
mata. Atropin mungkin menimbulkan suatu serangan pada individu yang
menderita glaukoma sudut sempit. Sedangkan pada efek samping

tergantung pada dosis, atropin dapat menyebabkan mulut kering,


penglihatan mengabur, mata rasa berpasir (sandy eyes), takikardia, dan
konstipasi. Efeknya terhadap SSP termasuk rasa capek, bingung, halusinasi,
delirium, yang mungkin berlanjut mnejadi depresi, kolaps sirkulasi dan
sistem pernapasan dan kematian. Selain itu penggunaan atropin sulfat
berefek terhadap sistem saraf simpatis yang mempunyai fungsi
mempercepat denyut jantung,mempersempit diameter pembuluh
darah,memperlambat proses pencernaan,memperkecil bronkus,menurunkan
tekanan darah,memperlambat gerak peristaltis,memperlebar
pupil,menghambat sekresi empedu,menurunkan sekresi ludah,meningkatkan
sekresi adrenalin.

BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa
saat pemberian pilokarpin pada mata kanan kelinci menunjukkan perubahan
warna pada mata (seperti selaput putih),pupil mengecil yang menunjukkan
adanya efek obat pada saraf parasimpatis, ini disebabkan karena pilokarpin
menunjukkan kativitas muskarinik serta mekanisme kerja yang dapat
menimbulkan miosis dengan cepat dan kontraksi otot siliaris sedangkan saat
pemberian atropin sulfat pada mata kiri kelinci menunjukkan pembesaran
pada pupil dan adanya efek saraf simpatis, ini disebabkan atropin sulfat
memiliki afinitas kuat terhadap reseptor muskarinik.

DAFTAR PUSTAKA
http://id.scribd.com/doc/52133332/LAPORAN-AKHIR-PRAKTIKUMFARMAKOLOGI-modul-3
http://nitamustika.blogspot.com/2013/09/obat-obat-sistem-sarafotonom.html
http://id.scribd.com/doc/123953956/Farmakologi-Sistem-Saraf-Otonom
http://vitafadilasuhartoo.blogspot.com/2012/10/laporan-farmakologitoksikologi.html

LAMPIRAN FOTO

1. hewan coba kelinci


kanan kelinci

2.pengukuran mata kelinci


kelinci

5.pemberian atropin pada mata


kiri kelinci

3.pemberian obat pilokarpin pada mata

4.pengukuran diameter mata kanan

6.pengukuran diameter mata kiri kelinci