Anda di halaman 1dari 5

ETIOPATOGENESIS

Kanker serviks disebabkan oleh adanya infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Banyak
penelitian yang dilakukan di seluruh dunia menunjukkan bahwa DNA dari HPV terdeteksi pada
sebesar 90 hingga 100% dari spesimen lesi serviks yang diteliti.
HPV adalah virus kecil nonenveloped dengan diameter 55mm. Virus ini memiliki kapsid
ikosahedral yang terdiri dari 72 kapsomer yang setidaknya memiliki dua protein kapsid, yaitu L1
(mayor) dan L2 (minor). Setiap kapsomer merupakan pentamer dari protein kapsid mayor. Setiap
kapsid virion memiliki beberapa kopi dari protein kapsid minor. Genom virus ini terdiri dari satu
molekul tunggal DNA sirkular rantai ganda, yang secara fungsional dibagi menjadi tiga bagian.
Bagian pertama ialah noncoding upstream regulatory region (URR). Bagian ini menganding p97
core promoter dan enhancer serta silencer sequence yang mengatur replikasi DNA dengan cara
mengontrol replikasi dua bagian genom lainnya. Bagian kedua ialah early region, yang memiliki
gen E1,E2,E3,E4,E5,E6,E7 dan E8. bagian inilah yang terlibat dalam onkogenesis. Bagian gen
early region yaitu gen E6 dan E7 adalah onkoprotein, yang menentukan apakah sebuah subtipe
virus HPV bersifat invasif atau tidak. Ekspresi dari produk gen di bagian ini menentukan apakah
infeksi HPV merupakan infeksi aktif, infeksi laten, atau infeksi yang berresiko tinggi
bertransformasi menjadi malignansi. Bagian ketiga adalah late region yang mengkode protein
struktur L1 dan L2 untuk kapsid virus. Fungsi dari gen HPV adalah sebagai berikut.
Kategori gen
Early gene

Late gene

Gen
E1
E2

Fungsi
Replikasi virus
Modulasi transkripsi dan

E3
E4
E5
E6

replikasi
Tidak diketahui
Infeksi virus produktif
Transformasi
Onkoprotein;
interaksi

E7

dengan protein p53


Onkoprotein;
interaksi

E8
L1
L2

dengan protein pRb


Tidak diketahui
Protein kapsid major
Protein kapsid minor
Tabel 1. Fungsi gen HPV

Transmisi HPV terjadi melalui kontak kulit. Sel basal dari epitel skuamous berlapis dapat
terkena infeksi dari HPV, sementara sel lain cenderung resisten. Siklus replikasi HPV dimulai

dari masuknya virus ke dalam sel membrana basalis epitel. Masuknya HPV ke dalam membrana
basalis mungkin membutuhkan mikrotrauma epidermis. DNA dari HPV akan melakukan
replikasi sel dan bergerak ke permukaan epitel ketika virus ini telah masuk ke dalam sel
penjamu. Pada membrana basalis, replikasi virus bersifat nonproduktif dan virus menjadi episom
low-copy number, dan saat berada di atas lapisan suprabasal, virus berubah menjadi episom
high-copy number, yang memungkinkan sintesis protein kapsid dan penyusunan virus.
Pada keadaan dimana terjadi neoplasia intraepitel dan kanker invasif, DNA HPV
terintegrasi ke dalam host genom, sementara pada kelainan jinak, DNA virus terletak di dalam
nukleus, namun berada di luar kromosom. Integrasi DNA HPV pada kelainan invasif membuat
terjadinya disrupsi atau delesi daerah E2 yang mengakibatkan tidak terjaadinya ekspresi gen ini.
Hal ini berarti, ekspresi E6 dan E7 akan meningkat, karena pengaturan ekspresi kedua gen ini
diatur oleh E2 yang telah mengalami delesi. Ekspresi E6 dan E7 yang meningkat akan
menyebabkan deregulasi dari siklus pertumbuhan sel penjamu dengan cara mengikat dan
menginaktivasi dua protein penghambat tumor yaitu p53 dan produk gen retinoblastoma atau
pRb. Produk gen E6 akan berikatan dengan p53 dan memicu degradasi cepat. Hal ini
menyebabkan terhentinya fungsi G1, apoptosis dan DNA repair yang diatur oleh p53.
kemampuan ini tidak dimiliki oleh HPV low invasive, dimana pada penelitian in vitro, protein E6
HPV low invasive tidak berikatan degnan p53 dan tidak mengganggu stabilitasnya.
Produk gen E7 berikatan dengan pRb dan ikatan ini mengganggu kompleks antara pRb
dan faktor transkripsi selular E2F-1, yang menyebabkan penurunan fungsi E2F-1, yang berperan
dalam transkripsi gen yang produknya dibutuhkan bagi sel untuk masuk ke dalam fase S dalam
siklus sel. Pada HPV low risk, protein E7 berikatan dengan pRb dengan afinitas yang rendah.
Produk gen E5 akan menginduksi peningkatan aktivitas mitogen-activated protein kinase
(MAPK) yang akan mengakibatkan peningkatan respon selular terhadap faktor pertumbuhan dan
diferensiasi. Hal ini mengakibatkan sel penjamu mengalami proliferasi secara terus-menerus dan
diferensiasi sel mengalami keterlambatan.
Inaktivasi protein p53 dan pRb akan meningkatkan proliferasi dan instabilitas genom. Hal
ini menyebabkan sel penjamu mengalami kerusakan DNA yang terus menerus meningkat dan
tidak dapat diperbaiki, yang menyebabkan terjadinya transformasi sel menjadi sel kanker. Proses
metilasi DNA virus dan sel, aktivasi telomerase dan faktor-faktor imunigenetik juga berperan
dalam transformasi sel menjadi sel kanker.

Gambar 2. Mekanisme onkogenik infeksi HPV

Infeksi HPV yang dapat menyebabkan displasia pada sel serviks banyak terjadi pada wanita yang
aktif secara seksual. Meskipun demikian, sebanyak 90% dari infeksi HPV dapat sembuh sendiri
dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun, dan hanya 5% yang berubah menjadi Cervical
Intraepithelial Neoplasia (CIN) atau neoplasia intraepitel serviks dalam 2-3 tahun. Sebanyak
20% infeksi CIN 3 berubah menjadi kanker serviks invasif dalam 5 tahun dan 40% berubah
dalam 30 tahun. Beberapa faktor yang diperkirakan sebagai penyebab berubahnya sebagian kecil
infeksi HPV menjadi kanker serviks adalah sebagai berikut.
-

Tipe dan durasi infeksi HPV. Beberapa tipe HPV dihubungkan dengan penyakit lain atau
justru memiliki resiko yang rendah untuk menyebabkan HPV. Adapun pembagian
kelompok HPV berdasarkan hubungannya dengan penyakit tertentu dan resikonya
menyebabkan neoplasia dan kanker serviks adalah sebagai berikut.

Tabel 2. Kategori HPV berdasarkan penyakit yang berhubungan

Kondisi host. Beberapa faktor host yang dapat mempengaruhi berubahnya infeksi HPV
menjadi neoplasia adalah keadaan seperti status gizi yang buruk, penurunan sistem imun,
dan infeksi HIV.

Faktor lingkungan

Kurangnya akses terhadap skrining rutin

Gambar 3. Perjalanan penyakit kanker serviks

EPIDEMIOLOGI
Kanker serviks merupakan keganasan tersering ketiga di dunia dan penyebab kematian
tertinggi kedua di negara-negara berkembang.1 Pada tahun 2012 terjadi 528.000 kasus baru dan
sebanyak 266.000 kematian terjadi akibat kanker serviks. Insidens yang lebih tinggi dapat
ditemukan di negara berkembang, yang menyumbang seitar 84% dari total seluruh kasus kanker
serviks di dunia tiap tahunnya. Dari 528.000 kasus yang terjadi pada tahun 2012, sebanyak
445.000 kasus terjadi di negara berkembang. Sebanyak 8.9% penduduk dunia mengalami kanker
serviks, dan sebanyak 2.8% meninggal karenanya.

Untuk wilayah ASEAN, sebanyak 25.0% wanita Singapura dengan ras Cina dan 17.8%
wanita dengan ras Melayu mengalami kanker serviks. Sementara itu di Indonesia, diperkirakan
ada sekitar 40 ribu kasus kanker serviks baru tiap tahunnya. Data yang dikumpulkan dari 13
pusat laboratorium patologi di Indonesia menunjukkan bahwa kanker serviks memiliki jumlah
penderita terbanyak di Indonesia, yaitu sebanyak 36% dari seluruh kanker yang ditemukan.
Kanker serviks juga menempati urutan pertama kanker yang ditemukan di 17 rumah sakit di
Jakarta pada tahun 1977. Kebanyakan pasien datang pada stadium lanjut, yaitu IIB-IVB, dengan
pasien terbanyak penderita kanker serviks stadium IIIB.
DAFTAR PUSTAKA
Jemal A, Bray F, Center MM, Ferlay J, Ward E, Forman D. Global cancer statistics. CA Cancer J
Clin. Mar-Apr 2011;61(2):69-90.
Bosch F, Qiao Y, Castellsagu\'e X. The epidemiology of human papillomavirus infection and its
association with cervical cancer. International Journal of Gynecology \& Obstetrics.
2006;94:8--21.
Gomez D, Santos J. Human papillomavirus infection and cervical cancer: pathogenesis and
epidemiology. Communicating Current Research and Educational Topics and Trends in
Applied Microbiology. 2007;:680--688.