Anda di halaman 1dari 38

DASAR PENGUKURAN DAN KETIDAKPASTIAN

Nurul Chairaat Zainal, Kurniati, Sulfiani, Sri Devi


Pendidikan Biologi

Abstrak
Telah dilakukan ekperimen Pengukuran dan Ketidakpastian dengan menggunakan mistar,
jangka sorong, micrometer sekrup, thermometer lalu kubus besi dan kelereng sebagai objeknya.
Pada eksperimen kali ini, dilakukan pengukuran panjang, massa, dan pengukuran suhu dan waktu.
Pada kegiatan pertama dilakukan pengukuran panjang, lebar, dan tinggu pada kubus dan diameter
pada bola menggunakan alat ukur diantaranya mistar, jangka sorong, dan micrometer sekrup. Pada
kegiatan kegiatan ke dua mengukur massa pada balok dan kelereng menggunakan Neraca Ohauss
2610 gram,311 gram, dan 310 gram. Pada kegiatan ke tiga akan mengukur suhu dengan selisi
waktu menggunakan thermometer dan stopwatch.

Kata Kunci: Pengukuran, ketidakpastian, alat ukur, menghitung.

A. RUMUSAN MASLAH
1. Bagaimana cara menggunakan alat-alat ukur dasar?
2. Bagaimana cara menentukan ketidakpastian pada pengukuran tunggal dan
3.
B.
1.
2.
3.

berulang?
Apa yang dimaksud dengan angka berarti?
TUJUAN PERCOBAAN
Mampu menggunakan alat-alat ukur dasar
Mampu menentukan ketidakpastian pada pengukuran tunggal dan berulang
Dapat mengerti angka berarti

METODOLOGI EKSPERIMEN
Teori Singkat
a. Arti Pengukuran
Pengukuran adalah bagian dari keterampilan Proses Sains yang merupakan
pengumpulan

informasi

baik

secara

kuantitatif

maupun

secara

kualitatif (Herman, 2014: 1)


b. Ketepatan dan Ketelitian Pengukuran
Ketepatan (Keakuratan). Jika suatu besaran diukur beberapa kali
(pengukuran berganda) dan menghasilkan harga-harga yang menyebar
di sekitar

harga

yang

sebenarnya maka

pengukuran

dikatakan

akurat. Pada pengukuran ini, harga rata-ratana mendekati harga yang


sebenarnya (Herman, 2014:2)
Ketelitian (Kepresisian). Jika hasiln-hasil pengukuran terpusat di suatu
daerah tertentu maka pengukuran disebut presisi (harga tiap pengukuran tidak
jauh berbeda) (Herman, 2014:2)
c. Angka Penting
Herman (2014:2) memaparkan penjelasan angka penting sebagai berikut:
1. Semua angka bukan nol adalah angka penting.
2. Angka nol yang terletak di antara angka bukan nol termasuk angka
penting.
Contoh: 25,04 A mengandung 4 angka penting
3. Angka nol di sebelah kanan angka bukan nol termasuk angka penting,
kecuali kalau ada penjelasan lain, misalnya berupa garis di bawah angka
terakhir yang masih diangap penting.
Contoh: 22,30 m mengandung 4 angka penting
22,30 m mengandung 3 angka penting
4. Angka nol yang terletak di sebelah kiri angka bukan nol, baik di sebelah
kanan maupun di sebelah kiri koma decimal tidak termasuk angka
penting.
Contoh: 0,47 cm mengandung 2 angka penting
d. Ketidakpastian pengukuran
Hubungan antar besaran yang dinyatakan dalam hukum-hukum fisika
baru dapat diyahikini kebenarannya apabila didukung oleh eksperimen yang
didasari oleh pengukuran yang baik. Karena itu, ketepatan pengukuran
merupakan bagian penting dari fisika. Akan tetapi, tidak ada pengukuran yang
secara mutlak tepat; Selalu terdapat ketidakpastian dalam setiap pengukuran
(Aswad, 2013;3)
Suatu pengukuran selalu disertai dengan ketidakpasian. Beberapa
penyebab keidakpastian tersebut antara lain adalah Nilai Skala Terkecil
(NST), kesalahan kalibrasi, kesalahan titik nol, kesalahan paralaks, adanya
gesekan, fluktuasi parameter pengukuran dan lingkungan yang saling
mempengaruhi serta keterampilan pengamat. Lambang

merupakan

Ketidakpastian Mutlak. (Herman, 2014: 3)


Untuk pengukuran tunggal diambil kebijaksanaan:

1
2

NST Alat

x merHasil pengukuran dilaporkan dengan cara yang sudah

Nilai

dibakukan sepert berikut:

X = (x x ) [X]
Dimana:
X

= simbol besaran yang diukur

(x x ) = hasil pengukuran beserta ketidakpastianny


[x]

= satuan besaran x (dalam satuan SI)

Untuk pengukuran berulang diambil kebijaksanaan:


{x}
x

x , rata-rata pengukura

= maksimum,

rata-rata

Dengan :
x

Deviasi

1 x
x

yang terbesar di antara

,
1,

2, dan

x 1+ x + x
3
2

dan,

2 x
x

3 x
x

adalah

Atau dapat juga diambil dari:

2+
3

x =

1+

Angka Berarti dapat ditentukan dengan melihat jumlah kesalahan relative. Jika
pengukuran menghasilkan kesalahan relative seperti berikut:
0% - 0,50% = 4 AB
0,51% - 5,0% = 3 AB
5,1% - 10% = 2 AB
Dengan,
KR (KesalahanRelatif) =

x
x

100%

ALAT DAN BAHAN


1. Alat
a. Penggaris/mistar
b. Jangka Sorong
c. Micrometer Sekrup
d. Stopwatch
e. Thermometer
f. Balok besi
g. Bola-bola kecil/kelereng
h. Neraca ohauss 310 gram, 311gram, 2610 gram
i. Gelas ukur
j. Kaki tiga dan kasa
k. Pembakar Bunsen
l. Korek
2. Bahan
a. Air secukupnya

IDENTIFIKASI VARIABEL
Kegiatan 1
4

1.
2.
3.
4.

Panjang
Lebar
Tinggi
Diameter

Kegiatan 2
1. Massa
Kegiatan 3
1. Waktu
2. Suhu
DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
Kegiatan 1
1. Panjang merupakan besaran yang diukur dengan balok sebagai objek
percobaanya.
2. Lebar merupakan bagian lainnya yang diukur besarannya
3. Tinggi merupakan tahap terakhir dalam proses pengukuran besaran
dengan menggunakan mistar, jangka sorong, dan micrometer sekrup
dengan balok sebagai objek percobaannya.
4. Diameter adalah besaran yang diukur pada bola atau kelereng dengan alat
ukur serupa dengan balok. Pengukuran diameter dilakukan pada titik
tengah bola/kelereng.
Kegiatan 2
1. Massa, mengukur beratnya suatu objek dengan menggunakan neraca
Ohauss 2610 gram, 311 gram, dan 310 gram. Dengan objek percobaan
yang sama dengan pengukuran panjang.
Kegiatan 3
1. Waktu, lama atau cepatnya sesuatu yang dapat di tentukan dengan
menggunakan stopwatch.
2. Suhu, ukuran derajat suatu benda yang dihitung menggunakan
thermometer.

PROSEDUR KERJA
Kegiatan 1

1. Mengambil mistar, jangka sorong dan mikrometer sekrup serta


menentukan NSTnya.
2. Mengukur masing-masing sebanyak 3 kali untuk panjang, lebar, dan
tinggi balok berbentuk kubus yang disediakan dengan menggunakan
ketiga alat ukur tersebut. Mencatat hasil pengukuran pada tabel
pengamatan dengan disertai ketidakpastiannya.
3. Mengukur masing-masing sebanyak 3 kali untuk diameter bola
(mengukur ditempat berbeda) yang disediakan dengan menggunakan
ketiga alat ukur tersebut. Mencatat hasil pengukuran pada tabel hasil
pengamatan dengan disertai dengan ketidakpastiannya.
Kegiatan 2
1. Menentukan NST masing-masing neraca
2. Mengukur massa balok kubus dan bola sebanyak 3 kali secara berulang.
3. Mencatat hasil pengukuran yang dilengkapi dengan ketidakpastian
pengukuran.
Kegiatan 3
1. Menyiapkan gelas ukur, bunsen pembakar lengkap dengan kaki tiga dan
lapisan asbesnya dan sebuah termometer.
2. Mengisi gelas ukur dengan air hingga bagian dan meletakkan di atas
kaki tiga tanpa ada pembakar.
3. Mengukur temperaturnya sebagai temperatur mula-mula (To).
4. Menyalakan bunsen pembakar dan menunggu beberapa saat hingga
nyalanya terlihat normal..
5. Meletakkan bunsen pembakar tadi tepat di bawah gelas ukur bersamaan
dengan menjalankan alat pengukur waktu.
6. Mencatat perubahan temperatur yang terbaca pada termometer tiap
selang waktu 1 menit sampai diperoleh 10.
HASIL EKSPERIMEN DAN ANALISIS DATA
Hasil Pengamatan
1. Pengukuran Panjang
NST mistar

: 0,1 cm/skala

NST Jangka Sorong

: 0,05 mm/skala
Jumlah skala nonius = jumlah skala utama

20 SN

39 SU

SN

39
20

SN

SU

1,95 SU (Mendekati 2)

2 - 1,95 =

0,05 mm

NST mikrometer sekrup : 0,01 mm/skala


Nilai Skala Mendatar
Jumlah SkalaPutar

=
=

Benda
No
1

yang
diukur
Balok

0,5
50

= 0,01 mm

Hasil pengukuran (mm)

Besaran
yang diukur

5
10
50

Mistar

Jangka Sorong

|19,5 0,5|

Mikrometer Sekrup

|20,10 0,05|

|20,155 0,005|
|19,5 0,5|
Panjang

|20,10 0,05|

|20,155 0,005|
|19,5 0,5|

|20,10 0,05|

|20,155 0,005|
|19,0 0,5|

|20,10 0,05|

Lebar

|20,155 0,005|
|19,5 0,5|

|20,10 0,05||20,155 0,005|

|19.5 0,5|

|20,10 0,05||20,155 0,005|

|19,5 0,5|

|20,10 0,05||20,025 0,005|

|19,5 0,5|

|20,10 0,05||20,025 0,005|

|19,5 0,5|

|20,10 0,05||20,025 0,005|

|14,0 0,5|

|15,05 0,05||16,335 0,005|

Tinggi

|15,0 0,5|

Diameter
2

|16,30 0,05|

|16,495 0,005|

|14,0 0,5||16,30 0,05||16,305 0,005|

Bola

|7,0 0,5||7,52 0,05||8,167 0,005|


|7,5 0,5||8,15 0,05||8,247 0,005|

Jari-jari

|7,0 0,5|

|8,15 0,05||8,152 0,005|

2. Pengukuran Massa
a. Neraca Ohauss 2610 gram
Nilai Skala lengan 1 : 100 gram/skala
Nilai Skala lengan 2 : 10 gram/skala
Nilai Skala lengan 3 : 0,1 gram/skala
Massa beban gantung : Benda

Balok
Kubus

Penunjuk Penunjuk Penunjuk

Beban

lengan 1

lengan 2

lengan 3

gantung

0
0
0

20,00
20,00
20,00

2,25
2,20
2,25

Massa benda (g)

|22,25 0,05|

|22,20 0,05|
|22,25 0,05|

Bola

0
0
0

0
0
0

5,85
5,75
5,85

|5,85 0,05|
|5,75 0,05|

|5,85 0,05|
b. Neraca Ohauss 311 gram
Nilai Skala lengan 1 : 100 gram/skala
Nilai Skala lengan 2 : 10 gram/skala
8

Nilai Skala lengan 3 : 1 gram/skala


Nilai Skala lengan 4 : 0,01 gram/skala
Benda

Penunjuk Penunjuk Penunjuk Penunjuk

Balok
Kubus

lengan 1

lengan 2

lengan 3

lengan 4

0
0
0

20,000
20,000
20,000

2,000
2,000
2,000

0,280
0,275
0,270

Massa benda (g)

|22,280 0,05|
|22,275 0,05|

|22,270 0,05|
Bola

0
0
0

0
0
0

5,000
5,000
5,000

0,770
0,770
0,765

|5,770 0,005|

|5,770 0,005|
|5,765 0,005|

c. Neraca Ohauss 310 gram


Nilai Skala lengan 1
Nilai Skala lengan 2
Nilai Skala Putar
Jumlah Skala Nonius
NST Neraca Ohauss 310 gram

: 100 gram/skala
: 10 gram/skala
: 0,1 gram/skala
: 10 skala
:
SN = SU
10 SN = 19 SU
10 SN = 1,9 SU
1,9
SN = 10 SU = 0,19 gram
0,2 0,19 = 0,01

n=NST

Benda

Balok
Kubus

Penunjuk Penunjuk Penunjuk Penunjuk


lengan 1

lengan 2

lengan 3

lengan 4

0
0
0

20,00
20,00
20,00

7,60
7,60
7,60

0,03
0,02
0,06

Massa benda (g)

|27,63 0,01|

|27,62 0,01|

|27,66 0,01|
Bola

0
0
0

0
0
0

6,10
6,10
6,00

0,03
0,02
0,08

|6,13 0,01|

|6,12 0,01|
|6,08 0,01|

3. Pengukuran Waktu dan Suhu


NST termometer

: 0,1 /skala

Temperatur mula-mula (To) : |36 0,5|


NST Stopwatch

No

Waktu (S)

: 0,1 sekon/skala

Temperatur ( 0C )

|60,0 0,1|
|120,0 0,1|

|180,0 0,1|
|240,0 0,1|

|300,0 0,1|
|360,0 0,1|

Perubahan temperatur

36

(C0 )
2

38

40,5

2,5

43

45

47

ANALISIS DATA
1. Pengukuran Panjang
Balok
V=PLT

|vp| P + |vl |

v=

L+

|vt |

10

| p v t |

L+

( p l t )
P+
p

| |

v l t
=
P+
v
v

( p l t )
L+
l

| pv l|

| p ptlt |

| | + |lL|

|tT |

|pP|

|tT |v

v
l t
=
P+
v
p l t
v P
=
v
p

v=

|lL|

L+

( p l t )
T
t

| p pllt |

Mistar
Panjang
19,5 mm+19,5 mm+19,5 mm

P
=
3
x =

= 19,5 mm

|P x P |

1 = |19,519,5| mm = 0 mm
x = |19,519,5| mm = 0 mm
x = |19,519,5| mm = 0 mm
P = max = 0,5 mm.
Pelaporan fisika :

KR =

P
P

|P P| = |20,0 0,5|mm

100% =

0,5
19,5

100% = 2,5% ( 3 AB )

11

Lebar

19,0 mm+19,5 mm+ 19,5mm


L =
3

= 19,3 mm

|Lx L|

x =

1 = |19,019,3| mm = 0,3 mm
x = |19,519,3| mm = 0,2 mm
x = |19,519,3| mm = 0,2 mm
L = = 0,3 mm.
max

Pelaporan fisika : |L L| = |19,3 0,3| mm

KR =

L
L

100% =

0,3
19,3

100% = 1,5% ( 3 AB )

Tinggi

19,5 mm+19,5 mm+19,5 mm


T =
3
x =

= 19,5 mm

|T x T |

1 = |19,519,5| mm = 0 mm
x = |19,519,5| mm = 0 mm
x = |19,519,5| mm = 0 mm
t

= max = 0,5 mm.

12

|T T | = |19,5 0,5| mm

Pelaporan fisika :
T
T

KR =

100% =

0,5
19,5

100% = 2,5%

Vbalok = P L T
Vbalok = 19,5 mm 19,3 mm 19,5 mm
Vbalok = 7.338 mm3

|pP|

v=

|lL|

0,5
0,3
|19,5
| + |19,3
|

v=

v=|0,025| +

|tT |v

0,5
|19,5
| 7.338 mm

|0,015| + |0,025| 7.338. mm3

v=|0,065| 7.338 mm3


v= 476 mm3
Jangka Sorong
Panjang
20,10 mm+ 20,10 mm+20,10 mm

P
=
3
x =

= 20,10 mm

|P x P |

1 = |20,1020,10|mm = 0 mm
x = |20,1020,10|mm = 0 mm
x = |20,1020,10|mm = 0 mm

13

P = max = 0,05 mm.


Pelaporan fisika :

KR =

P
P

|P P| = |20,10 0,05|mm

100% =

0,05
20,10

100% = 0,24% ( 4 AB )

Lebar
20,10 mm+ 20,10 mm+20,10 mm

L
=
3

= 20,10 mm

|Lx L|

x =

1 = |20,1020,10|mm = 0 mm
x = |20,1020,10|mm = 0 mm
x = |20,1020,10|mm = 0 mm
L = max = 0,05 mm.
Pelaporan fisika : |L L| = |20,10 0,05|mm

KR =

L
L

100% =

0,05
20,10

100% = 0,24% ( 4 AB )

Tinggi

20,10 mm+ 20,10 mm+20,10 mm


T =
3
x =

= 20,10 mm

|T x T |

14

1 = |20,1020,10|mm = 0 mm
x = |20,1020,10|mm = 0 mm
x = |20,1020,10|mm = 0 mm
t

= max = 0,05 mm.

|T T | = |20,10 0,05| mm

Pelaporan fisika :
T
T

KR =

100% =

0,05
20,10

100% = 0,25% ( 4 AB )

Vbalok = P L T
Vbalok = 20,10 mm 20,10 mm 20,10 mm
Vbalok = 8.120 mm3

|pP|

v=

|lL|

0,05
0,05
|20,10
| + |20,10
|

v=

v=|0,0025| +

|tT |v
+

0,05
|20,10
| 8.000 mm

|0,0025| + |0,0025| 8.120 mm3

v=|0,075| 8.120 mm3


v= 60,9 mm3
Mikrometer Sekrup
Panjang
20,155 mm+ 20,155mm+ 20,155 mm

P
=
3

= 20,155 mm

15

x =

|P x P |

1 = |20,15520,155| mm = 0 mm
x = |20,15520,155| mm = 0 mm
x = |20,15520,155| mm = 0 mm
P = = 0,005 mm.
max

Pelaporan fisika : |P P| = |20,155 0,005| mm

KR =

P
P

100% =

0,005
20,155

100% = 0,024% ( 4 AB )

Lebar

20,155 mm+ 20,155mm+ 20,155 mm

L
=
3
x =

= 20,155 mm

|Lx L|

1 = |20,15520,155| mm = 0 mm
x = |20,15520,155| mm = 0 mm
x = |20,15520,155| mm = 0 mm
L = max = 0,005 mm.

16

Pelaporan fisika :

KR =

L
L

|L L| = |20,155 0,005| mm

100% =

0,005
20,155

100% = 0,024% ( 4 AB )

Tinggi
20,025 mm+ 20,025mm+ 20,025 mm
T =
3
x =

= 20,025 mm

|T x T |

1 = |20,02520,025| mm = 0 mm
x = |20,02520,025| mm = 0 mm
x = |20,02520,025| mm = 0 mm
t

= max = 0,005 mm.

Pelaporan fisika :
T
T

KR =

|T T | = |20,025 0,005| mm

100% =

0,005
20,025

100% = 0,024 %

Vbalok = P L T
Vbalok = 20,155mm 20,155mm 20,025 mm
Vbalok = 8.134,6361 mm3

|pP|

v=

|lL|

|tT |v
17

0,005
0,005
|20,155
| + |20,155
|

v=

v=|2,4 104| +

|2,4 104|

0,005
|20,025
| 8.134,6361 mm

|2,4 104|

8.134,6361 mm3

v=|1,3 1010| 8.134,6361mm3


v= 10,5 106 mm3

Bola
4 3
r
V bola = 3

|vr |

v=

| |

v=

( 43 r )
3

| |

4 2
r
v 3
=
r
v
v

| |

4 2
r
v 3
=
r
v
4 3
r
3
v
=|r 1| r
v

18

| |

v r
=
v
r

|rr |v

v=

Mistar
r =

x =

7,0 mm+7,5 mm+ 7,0 mm


3

= 7,1 mm

|r x r|

1 = |7,07,1| mm = 0,1 mm
x = |7,57,1|mm = 0,4 mm
x = |7,07,1| mm = 0,1 mm
r

= max = 0,4 mm.

Pelaporan fisika : |r r| = |7,1 0,4| mm

KR =

r
r

100% =

0,4
7,1

100% = 5,6%

4 3
r
V bola = 3
4
(3,14)(7,1 mm)3
V bola = 3
3
V bola = 1,4 10 mm3

19

|rr |v

v=

mm
1,4 10
|0,4
7,1 mm |

v=

mm3

v= 78,87 mm3

Jangka Sorong
r =

x =

7,52 mm+8,15 mm+ 8,15 mm


3

= 7,94 mm

|r x r|

1 = |7,527,94|mm = 0,42 mm
x = |8,157,94|mm = 0,21 mm
x = |8,157,94|mm = 0,21 mm
r

= max = 0,42 mm.

Pelaporan fisika : r =|r r| = |7,94 0,42| mm

KR =

r
r

V bola =

4 3
r
3

100% =

0,42
7,94

100% = 5,28%

4
3
(3,14)(7,94 mm)
V bola = 3

20

3
V bola = 2,09 10 mm3

|rr |v

v=

mm
2,09 10
|0,42
7,94 mm |

v=

mm3

v= 110,55 mm3
Mikrometer Sekrup
r =

x =

8,166 mm+8,247 mm+8,152 mm


3

= 8,189 mm

|r x r|

1 = |8,1668,189|mm = 0,023 mm
x = |8,2478,189|mm = 0,058 mm
x = |8,1528,189|mm = 0,037 mm
r

= max = 0,058 mm.

Pelaporan fisika : |r r| = |8,189 0,058| mm

KR =

r
r

100% =

0,058
8,189

100% = 0,7% ( 4 AB )

4 3
r
V bola = 3
4
3
(3,14)( 8,189mm)
V bola = 3

21

3
V bola = 2,29 10 mm3

|rr |v

v=

mm
2,29 10
|0,058
8,189 mm|

v=

mm3

v= 16,2 mm3

2. Pengukuran Massa
=

m
v

= mv-1

|m |

|v|

m+

| |

| |

mv 1
=
m+
m

=|v1| m +

| |

mv 1
v
v

|mv2|

v1
=
m+

mv1

| |

mv2
v
mv1

m
=

| |

|vv |

|mm|

|vv |

22

Untuk balok :

v =

x =

7.388,825 mm +8.120,601 mm +8.134,636 mm


3

3
= 7.864,6873 mm

|v x v|

3
3
1 = |7.388,8257 . 864 ,6873|mm = 525,8623 mm

3
3
x = |8.120,6017 . 864 ,6873|mm = 255,9137 mm

3
3
x = |8.134,6367 . 864 , 6873|mm = 269.9487 mm

KR =

= max = 525 , 8623


v
v

100% =

mm3

525 , 8623
7 . 864 ,6873

100% = 6,69% ( 2 AB )

3
Pelaporan Fisika : |v v| = |7 . 864 , 6873 525,8623|mm

Untuk bola :
1.543,213 mm3 +2.095,704 mm3+ 2.299,117 mm3
v =
3
x =

= 1.979,345 mm

|v x v|

3
3
1 = |1.543,2131 . 979 ,34 5|mm = 436,132 mm

3
x = |2.095,7041. 979 , 34 5|mm =

116,359 mm

3
x = |2.299,1171 . 979 ,34 5| mm = 319,772 mm3

23

v = = 436,132
max
v
v

KR =

100% =

mm3
436,132
1 . 979 ,34 5

100% = 22,03%

3
Pelaporan Fisika : |v v| = |1 .979 , 34 5 436,132|mm

NeracaOhauss 2610 gram


Balok

m
=

x =

22,25 g+22,20 g+22,25 g


3

= 22,233 g

|mx m |

1 = |22,2522,233| g = 0,017 g
x = |22,2022,233|g = 0,033 g
x = |22,2522,233| g = 0,017 g
m

= max = 0,033 g.

KR =

m
m

KR =

0,033
22,233

100%

100% = 0,14% ( 4 AB )

m| = |22,2330 0,0330| g
Pelaporan Fisika : |m

24

balok =

m
v

= mv-1

balok =(22,2330 g)(7 .864 ,6873 mm 3)

-1

balok = 0,0028 g/mm3

|mm|

0,0330
|22,2330
|

|vv |
+

|7 525,8623
.864 ,6873 |

0,0028 g/mm3

0,00148
3
= + 0,06686) 0,0028 g/mm

= 1,91 x 10-4 g/mm3


Bola
m
=

x =

5,85 g+5,75 g+5,85 g


3

= 5,817 g

|mx m |

1 = |5,855,817|g = 0,033 g
x = |5,755,817|g = 0,067 g
x = |5,855,817|g = 0,033 g

25

m = max = 0,067 g.

KR =

m
m

KR =

0,067
5,817

100%

100% = 1,15% ( 3 AB )

m| = |5,817 0,067| g
Pelaporan Fisika : |m

balok =

m
v

= mv-1

balok =(5,817 g)(1. 979 , 34 5 mm3 )

-1

balok = 0,00294g/mm3

|mm|

0,033
|5,817
|

0,0057
= +

|vv |

|1.436,132
979 , 34 5|

0,00294g/mm3

0,2203 0,00244 g/mm3

= 6,6 x 10-4 g/mm


NeracaOhauss 311 gram
Balok

26

22,280 g+22,275 g+22,270 g


3

m
=

x =

= 22,275 g

|mx m |

1 = |22,28022,275| g = 0,005 g
x = |22,27522,275| g = 0 g
x = |22,27022,275| g = 0,005 g
m = max = 0,005 g.

KR =

m
m

KR =

0,005
22,275

100%

100% = 0,022% (4 AB)

m| = |22,2750 0,0050| g
Pelaporan Fisika : |m

balok =

m
v

= mv-1

balok =(22,2750 g)(7 .864 ,6873 mm 3)

-1

balok = 0,00283 g/mm3

|mm|

0,005
|22,275
|

|vv |
+

,8623
|7525
.864 ,6873 |

0,00283 g/mm3

27

0,00022
3
= + 0,06686) 0,00283 g/mm

= 1,89 x 10-4 g/mm3


Bola
m
=

x =

5,770 g+5,770 g+5,765 g


3

= 5,768 g

|mx m |

1 = |5,7705,768| g = 0,002 g
x = |5,7705,768| g = 0,002 g
x = |5,7655,768| g = 0,003 g
m = max = 0,003 g.

KR =

m
m

KR =

0,003
5,768

100%

100% = 0,052% ( 4 AB )

m| = |5,7680 0,0030| g
Pelaporan Fisika : |m

bola =

m
v

= mv-1

bola =(5,7680 g)(1. 979 , 34 5 mm )

-1

28

bola = 2,91 x 10-3 g/mm3

|mm|

|0,0030
5,7680|

0,00052
= +

|vv |
+

|1.436,132
979 , 34 5|

0,00291g/mm3

0,2203 0,00291 g/mm3

= 6,6 x 10-4 g/mm3


NeracaOhauss 310 gram
Balok

m
=

x =

22,18+ 22,17+22,20
3

= 22,183 g

|mx m |

1 = |22,1822,183|g = 0,003 g
x = |22,1722,183|g = 0,013 g
x = |22,2022,183|g = 0,017 g
m

KR =

= max = 0,017 g.
m
m

100%

29

0,017
22,183

KR =

100% = 0,077% (4 AB)

m| = |22,183 0,0170| g
Pelaporan Fisika : |m

balok =

m
v

= mv-1

balok =(22,183 g)(7 .864 ,6873 mm 3)


balok =

2,82 x 10-3 g/mm3

|mm|

-1

0,017
|22,183
|

|vv |
+

,8623
|7525
.864 ,6873 |

0,00282 g/mm3

0,000766
+ 0,06686) 0,00282 g/mm3
=

= 1,9 x 10-4 g/mm3


Bola
m
=

x =

5,64 g+ 5,66 g+ 5,66 g


3

= 5,65 g

|mx m |

1 = |5,645,65| g = 0,01 g

30

x = |5,665,65|g = 0,01 g
x = |5,665,65|g = 0,01 g
m = max = 0,01 g.
m
m

KR =

100% =

0,01
5,65

100% = 0,1% ( 4 AB )

m| = |5,6500 0,0100| g
Pelaporan fisika : |m

bola =

m
v

= mv-1

bola =(5,65 g)(1.979,345 mm3)

-1

bola = 2,85 x 10-3 g/mm3

|mm|

|vv |

0,01
|5,65
|

|1.436,132
979 , 34 5|

0,00285g/mm3

0,0017
0,00285 g/mm3
= + 0,2203)

6,3 x 10-4 g/mm3

PEMBAHASAN

31

Pada praktikum kali ini akan melakukan percobaan pengukuran panjang,


massa, suhu dan waktu. Di mana kubus dan kelereng sebagai objek praktikum
yang akan dihitung panjang, lebar, tinggi dan massa pada kubus sedangkan
diameter pada kelereng. Kemudian akan mengukur suhu menggunakan
thermometer.
Kegiatan pertama dilakukan pengukuran panjang pada kubus dengan
menggunakan mistar. Diketahui NST mistar 0,1 cm atau 1 mm. Pada kegiatan ini
dilakukan 3 kali pengukuran yang hasilnya sama. Begitu juga pada pengukuran

tinggi kubus yaitu

|19,5 0,5| mm . Berbeda dengan pengukuran lebar kubus

yang hasilnya ada yang berbeda, hal ini terjadi mungkin disebabkan oleh
ketelitian pengamat atau situasi sekitar seperti adanya guncangan pada tempat
percobaan pada saat mengukur objek.
Selanjutnya pengukuran dengan menggunakan jangka sorong dengan NST
0,05 mm. Pada percobaan dilakukan 3 kali pengukuran pada benda yang sama.
Pengukuran panjang, lebar dan tinggi menghasilkan pengukuran yang sama yaitu

|20,10 0,05|mm .
Alat ukur selanjutnya yang digunakan adalah micrometer sekrub dengan
NST 0,01 mm. Yang dimana pada pengukuran ini, panjang dan lebar

menghasilkan ukuran yang sama yaitu

|20,155 0,005| mm.

Tapi, pada

pengukuran tinggi hasilnya berbeda dengan pengukuran panjang dan lebar dengan

32

menggunakan alat ukur yang sama. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh factor
ketelitian pengamat atau factor keadaan sekitar.
Masih pengukuran panjang, namun kali ini dengan objek yang berbeda
yaitu bola atau kelereng. Alat ukur yang digunakan sama dengan yang digunakan
pada pengukuran balok yaitu mistar, jangka sorong, dan micrometer sekrup.
Bedanya, kali ini akan mencari diameter objek percobaan.
Mengukur bola dengan alat ukur mistar menghasilkan ukuran yang
berbeda, begitu juga dengan alat ukur jangka sorong dan micrometer sekrup. Hasil
pengukuran objek hanya memiliki perbedaan yang sangat tipis. Factor yang
menyebabkan adanya perbedaan pada hasil pengukuran mungkin karena keadaan
sekitar atau lingkungan yang berpengaruh serta keterampilan pengamat.
Setelah melakukan percobaan pengukuran panjang dengan menggunakan
alat ukur mistar, jangka sorong, dan mikrometer sekrup dapat kita nyatakan
bahawa alat ukur yang memiliki tingkat ketelitian yang tinggi adalah micrometer
sekrup, karena seperti yang telah diketauhi bahwa Semakin baik mutu alat ukur,
semakin kecil

yang diperoleh. Semakin kecil ketidakpastian mutlak,

semakin tepat hasil pengukuran (Herman,2014:4).

33

Dapat dilihat pada hasil pengamatan

dihasilkan

|x x|

x . Pada pengukuran panjang

pada setiap alat ukur dengan pelaporan hasil pengamatan

sebagai berikut:

Mistar

: |20,0 0,5|mm

;|19,3 0,3| mm ;

|19,5 0,5| mm

Jangka sorong

: |20,10 0,05|mm ; |20,10 0,05|mm ;

|20,10 0,05| mm
Micrometer sekrup

: |20,155 0,005| mm;|20,155 0,005|mm ;

|20,025 0,005| mm
Pada data di atas dapat dilihat hasil pengukuran dengan

yang

paling kecil. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa micrometer sekrup


kemungkinan yang paling kecil terjadi kesalahan pada pengukuran.
Pada kegiatan selanjutnya yaitu pengukuran massa dengan menggunakan
alat ukur Neraca Ohauss 2610 gram, 311 gram, dan 310 gram dengan objek
percobaan sama dengan pengukuran panjang yaitu balok kubus dan bola.
Pengukuran massa dengan menggunakan Neraca Ohauss 2610 gram yang
memiliki nilai skala lengan 1 yaitu 100 gram, nilai skala 2 yaitu 10 gram, dan nilai
skala 3 yaitu 0,1 gram, sedangkan NSTnya 0,1 gram maka

m=0,05 gram .

Hasil pengukuran massa benda dengan Neraca Ohauss 2610 gram ini memiliki
perbedaan dengan selisih angka 0,05 gram. Dimana percobaan 1 dan 3 memiliki
hasil yang sama. Namun pada kegiatan ke-2 hasilnya berbeda. Dengan demikian

34

dapat

disimpulkan

bahwa

pengukuran

massa

benda

ini

memiliki

deviasi(penyimpangan) pengukuran yaitu 0,03 gram. Sama dengan hasil


pengukuran massa Bola atau kelereng bedanya pada benda memiliki nilai
ketidakpastian yaitu 0,10 gram.
Kegiatan selanjutnya yaitu dengan menggunakan Neraca Ohauss
311 gram. Alat ukur massa ini dapat diketahui NSTnya dengan melihat nilai skala
lengan ke-4 yaitu 0,01 gram, karena prinsipnya yaitu Nilai Skala terkecil sama
dengan NST. Untuk mengetahui nilai ketiadakpastiannya yaitu dengan
1
m= NST
2

, maka dapat diketahui nilai ketiadakpastian Neraca Ohauss 311

gram yaitu 0,005 gram. Hasil pengukuran massa dengan Neraca Ohauss 311 gram
memiliki perbedaan pada setiap percobaan yang dilakukan. Oleh karena itu,
terdapat nilai ketidakpastian yaitu pada balok kubus senilai 0,005 gram dan
kelereng senilai 0,003 gram.
Kegiatan selanjutnya dengan menggunakan alat ukur Neraca Ohauss
310 gram dengan objek percobaan yang sama yaitu kubus balok dan kelereng.
Nilai Skala Terkecil pada alat ukur ini adalah 0,01gram. Dimana NSTnya ini dapat
ditentukan dengan Nilai Skala Nonius dan Nilai Skala Utama. Nilai deviasinya
ditentukan dari nilai NSTnya karena prinsip pengukurannya Nilai NST sama
dengan Nilai ketidakpastian mutlak. Maka dari itu jika sudah diketahui NSTnya
maka dapat juga ditentukan ketidakpastian pengukurannya.
Pada kegiatan pengukuran, setiap pengamat yang melakukan pengukuran
menghasilkan massa benda yang berbeda. Namun, hanya memiliki selisih yang
sedikit. Berat balok dengan berat kelereng memiliki selisih hingga 20,00 gram,
karena dapat kita lihat dari nilai lengan kedua. Dimana pada pengukuran balok
menghasilkan nilai 20,00 gram sedangkan pada kelereng tidak memiliki nilai.
Pengukuran selanjutnya dengan menggunakan alat ukur waktu dan suhu
yaitu Termometer dan stopwatch. Dimana pada kegiatan kita akan menghitung

35

stiap menit kenaikan suhu dan akan menentukan orubahan temperaturnya.


Thermometer memiliki NST senilai 0,11C dan NST Stopwatch adalah 0,1 s. Ketika
percobaan dilakukan, telah diketahui temperature mula-mulanya adalah 361C,
dimana suhu normalnya 351C.

SIMPULAN DAN DISKUSI


Simpulan
1. Pada kegiatan percobaan ini pengamat menggunakan alat ukur yaitu mistar,
jangka sorong, mikrometer sekrup, Neraca Ohauss 3610 gram, 311 gram, dan
310 gram, serta thermometer dan stopwatch.
2. pengukuran tunggal diambil kebijaksanaan:

1
2

NST Alat

Untuk pengukuran berulang diambil kebijaksanaan:


x

{x}=
x

, rata-rata pengukura
= maksimum,

rata-rata

Dengan :
x

Deviasi

x 1+ x + x
3
2

dan,

1 x
x
,

adalah yang terbesar di antara

1,

2 x
x
,

2, dan

3 x
x
.

.
36

Atau dapat juga diambil dari:


2+
3

x =

1+

3.

Angka Berarti dapat ditentukan dengan melihat jumlah kesalahan relative.


Jika pengukuran menghasilkan kesalahan relative seperti berikut:
0% - 0,50% = 4 AB
0,51% - 5,0% = 3 AB
5,1% - 10% = 2 AB

Diskusi
Disarankan

kepada

mahasiswa

agar

dapat

menguasai

dan

bisa

menggunakan alat-alat ukur dengan baik dan benar sehingga dapat memperkecil
kemungkinan ketidakpastian dalam pengukuran.

DAFTAR RUJUKAN
1

Herman.2014.Penuntun Praktikum Fisika Dasar.Makassar:Unit

Laboratorium Fisika Dasar UNM


Aswad, Sabrianto.2013.Materi dan Penuntun Perkuliahan Fisika
Dasar.Makassar:Universitas Hasanuddin

37

38