Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN TETAP

PRAKTIKUM TEKNOLOGI BIOPROSES


IDENTITAS PRAKTIKAN :

I.
II.

Nama

: Putri Afrilia C

NIM

: 03121003063

Kelompok

: IV (Empat)

NAMA PERCOBAAN

: Pembuatan Citosan

TUJUAN PERCOBAAN
1. Mengetahui proses pembuatan Citosan dari kulit udang sebagai bahan
pengawet.
2. Mengetahui manfaat dari citosan.
3. Mengetahui sifat dari citosan.

III.

DASAR TEORI
3.1. Sejarah Citosan
Kitin sebagai prekursor citosan pertama kali ditemukan pada tahun 1811
oleh orang Prancis bernama Henri Braconnot sebagai hasil isolasi dari jamur.
Sedangkan kitin dari kulit serangga ditemukan kemudian pada tahun 1820. Kitin
merupakan polimer kedua terbesar di bumi selelah selulosa. Kitin adalah senyawa
amino polisakarida berbentuk polimer gabungan.
Citosan ditemukan C. Roughet pada tahun 1859 dengan cara memasak kitin
dengan basa. Perkembangan penggunaan kitin dan citosan meningkat pada tahun
1940an. Terlebih dengan makin diperlukannya bahan alami oleh berbagai industri
sekitar tahun 1970an. Penggunaan citosan untuk aplikasi khusus, seperti farmasi
dan kesehatan dimulai pada pertengahan 1980-1990.
Umumnya kitin diisolasi melalui rangkaian proses produksi. Pertama,
demineralisasi atau proses penghilangan mineral menggunakan asam. Kedua,
deproteinasi atau proses penghilangan protein menggunakan basa. Ketiga,
dekolorisasi atau proses penghilangan warna menggunakan oksidator atau pelarut
organik. Sifat utama kitin dicirikan oleh sifatnya yang sangat susah larut dalam air
dan beberapa pelarut organik, rendahnya reaktivitas kimia dan sangat hidrofobik.
1

Karena ketiga sifat tersebut penggunaan kitin relatif lebih sedikit dibandingkan
citosan dan derivatnya.
Citosan merupakan produk deasetilasi kitin. Kualitas dan nilai ekonomi
kitosan dan kitin ditentukan oleh besarnya derajat deasetilasi, semakin tinggi
derajat deasetilasi semakin tinggi kualitas dan harga jualnya. Kualitas citosan
berdasarkan penggunaan dapat dibagi ke dalam tiga jenis kualitas yaitu kualitas
teknis, pangan dan farmasi. Kitin tidak larut dalam air, asam encer, alkali
encer/pekat dan pelarut organik lain, tetapi larut dalam larutan pekat asam sulfat,
asam klorida, asam fosfat. Selain itu tahan terhadap hidrolisa menjadi komponen
sakaridanya.
3.2. Udang Galah
Populasi udang galah di Indonesia bersifat unik. Berdasarkan distribusi
geografisnya dapat diprediksikan bahwa Indonesia menjadi centre of origin dari
galah karena terdapat 19 spesies dari marga Macrobrachium (udang galah).
Apabila ditinjau dari segi social ekonomi, eksistensi udang galah saat ini
merupakan salah satu komoditas unggulan yang dapat diandalkan sebagai sumber
penghasilan.Udang galah mempunyai pangsa pasar yang baik.
Kecenderungan masyarakat yang menggemari sea food meningkatkan
pangsa pasar udang galah. Peluang pasar udang galah tidak hanya di dalam negeri
bahkan di mancanegara terbuka luas seperti Singapura, Malaysia, dan negaranegara Eropa. Pangsa pasar yang besar serta keunggulan komparatif yang dimiliki
udang galah menjadikannya salah satu komoditi andalan dan mamu bersaing
dengan produk dari negara lain. Untuk mencapai sasaran tersebut diadakan upaya
pemulihan udang galah dan pengembangan industri udang beku, merupakan salah
satu alternatif yang diambil.
Badan udang terdiri atas kepala dan dada yang disebut Cephalothorax,
badan (abdomen), serta ekor (uropoda). Udang galah mempunyai ciri khusus
dibandingkan dengan udang jenis lainnya, yakni kedua kakinya tumbuh
dominan.Cephalothorax dibungkus oleh kulit yang keras disebut carapace. Pada
bagian kepala terdapat penonjolan carapace yang bergerigi dan disebut rostrum.
Gigi terdapat pada rostrum dengan jumlah gigi pada rostrum atas 11-13 dan

12

jumlah gigi pada rostrum bagian bawah 8-14. Udang galah mempunyai sepasang
mata yang bertangkai yang terletak pada pangkal rostrum, jenis matanya temasuk
jenis mata majemuk (facet).Udang galah jantan dan betina mempunyai perbedaan
yang mencolok sehingga mudah untuk diketahui.
Udang galah jantan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Dapat mencapai ukuran yang lebih besar dibandingkan udang galah betina.
b. Pasangan kaki jalan udang jantan yang kedua tumbuh sangat besar dan kuat.
c. Bagian perut lebih ramping.
d. Alat kelamin terletak pada baris pasanagan kaki jalan kelima, pada pasang
kaki ini terlihat lebih rapat dan lunak.
e. Apendix masculina (petanda jantan) terletak pada pasanag kaki renang kedua
yang merupakan cabang ketiga dari kaki renang tersebut.
Adapun udang galah betina mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Ukuran badan lebih kecil dar udang galah jantan
b. Pasangan kaki jalan kedua tetap tumbuh besar, tetapi ukurannya tidak
sebesar kaki udang jantan.
c. Bagian perut tumbuh melebar bersama-sama dengan kaki renang. Ruangan
ini merupakan tempat pengereaman telur (brood chamber) sehngga tampak
bentuk tubuhnya membesar pada bagaian perut.
d. Alat kelamin betina terletak pada pangkal pasangan kaki jalan ketiga yang
merupakan lubang thelicum.
e. Jarak antara pasang kaki jalan kiri dan kanan setiap pasangan terlihat lebih
besar yang memungkinkan terlur dapat berjalan ke kantng telur.
Apabila diperhatikan tingkah laku dan kebiasaan hidupnya, fase dewasa
dang galah sebagian besar dijalani didasar perairan air tawar dan fase larva
bersifat planktonik yang sangat memerlukan air payau. Udang galah mempunyai
habitat diperairan umum, misalnya rawa, danau, dan muara sungai yang langsung
berhubungan dengan laut. Sebagai hewan yang bersifat euryhaline mempunyai
toleransi tinggi terhadap salinitas air, yaitu antara 0-20 per mil.

12

Hal ini berhubungan erat dengan siklus hidupnya.Di alam, udang galah
dewasa dapat memijah dan bertelur di daerah air tawar pada jarak maksimal 100
km dari muara. Sejak telur dibuahi hingga menetas diperlukan waktu 16-20 hari.
Larva baru dapat menetas memerlukan air payau, lalu larvanya terbawa aliran
sungai hingga ke laut. Larva yang menetas dari telur paling lambat 3-5 hari harus
mendapat air payau.
Larva berkembang dan memerlukan metamorfosis hingga mencapai pasca
larva diperairan payau denan kadar garam berkisar antar 5-20%, setelah 45 hari
udang dapat hidup diperairan tawar, secara alami udang akan berupaya ke perairan
tawar. Daerah penyebaran udang galah adalah daerah Indo-Pasifik, yait dari
bagian timur Benua Afrika sampai Semenanjung Malaka, termasuk Indonesia. Di
Indonesia, udang galah terdapaat di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa
Tenggara, dan Irian.
3.3. Limbah Udang sebagai Material Penyerap Logam Berat
Sebagian besar limbah udang berasal dari kulit, kepala, dan ekornya. Fungsi
kulit udang tersebut pada hewan udang (hewan golongan invertebrata) yaitu
sebagai pelindung. Kulit udang mengandung protein (25%-40%), kalsium
karbonat (45%-50%), dan kitin (15%-20%), tetapi besarnya kandungan komponen
tersebut tergantung pada jenis udangnya. sedangkan kulit kepiting mengandung
protein (15,60%-23,90%), kalsium karbonat (53,7078,40%), dan kitin (18,70%32,20%), hal ini juga tergantung pada jenis kepiting dan tempat hidupnya.
Kandungan kitin dalam kulit udang lebih sedikit dari kulit kepiting, tetapi kulit
udang lebih mudah didapat dan tersedia dalam jumlah yang banyak sebagai
limbah.
Kitin berasal dari bahasa Yunani yang berarti baju rantai besi, pertama kali
diteliti oleh Bracanot pada tahun 1811 dalam residu ekstrak jamur yang
dinamakan fungiue. Pada tahun 1823 Odins mengisolasi suatu senyawa kutikula
serangga jenis ekstra yang disebut dengan nama kitin. Kitin merupakan konstituen
organik yang sangat penting pada hewan golongan orthopoda, annelida, molusca,
corlengterfa, dan nematoda. Kitin biasanya berkonyugasi dengan protein dan tidak
hanya terdapat pada kulit dan kerangkanya saja, tetapi juga terdapat pada trachea,

12

insang, dinding usus, dan pada bagian dalam kulit pada cumi-cumi. Adanya Kitin
dapat dideteksi dengan reaksi warna Van Wesslink. Pada cara ini kitin direaksikan
dengan I2-KI yang memberikan warna coklat, kemudian jika ditambahkan asam
sulfat berubah warnanya menjadi violet. Perubahan warna dari coklat hingga
menjadi violet menunjukan reaksi positif adanya kitin.
Kitin termasuk golongan polisakarida yang mempunyai berat molekul tinggi
dan merupakan melekul polimer berantai lurus dengan nama lain -(1-4)-2asetamida-2-dioksi-D-glukosa (N-asetil-D-Glukosamin). Struktur kitin sama
dengan selulosa dimana ikatan yang terjadi antara monomernya terangkai dengan
ikatan glikosida pada posisi -(1-4). Perbedaannya dengan selulosa adalah gugus
hidroksil yang terikat pada atom karbon yang kedua pada kitin diganti oleh gugus
asetamida (NHCOCH2) sehingga kitin menjadi sebuah polimer berunit Nasetilglukosamin.
Kitin mempunyai rumus molekul C18H26N2O10 merupakan zat padat yang tak
berbentuk (amorphous), tak larut dalam air, asam anorganik encer, alkali encer
dan pekat, alkohol, dan pelarut organik lainnya tetapi larut dalam asam-asam
mineral yang pekat. Kitin kurang larut dibandingkan dengan selulosa dan
merupakan N-glukosamin yang terdeasetilasi sedikit, sedangkan Citosan adalah
kitin yang terdeasetilasi sebanyak mungkin.
Citosan yang disebut juga dengan -1,4-2 amino-2-dioksi-D-glukosa
merupakan turunan dari kitin melalui proses deasetilasi. Citosan juga merupakan
suatu polimer multifungsi karena mengandung tiga jenis gugus fungsi yaitu asam
amino, gugus hidroksil primer dan skunder. Adanya gugus fungsi ini
menyebabkan khitosan mempunyai kreatifitas kimia yang tinggi.
Citosan merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, larutan basa kuat,
sedikit larut dalam HCl dan HNO3, dan H3 PO4, dan tidak larut dalam H2SO4.
Citosan

tidak

beracun,

mudah

mengalami

biodegradasi

dan

bersifat

polielektrolitik. Disamping itu citosan dapat dengan mudah berinteraksi dengan


zat-zat organik lainnya seperti protein. Oleh karena itu, Citosan relatif lebih
banyak digunakan pada berbagai bidang industri terapan dan induistri kesehatan.

12

Saat ini budi daya udang dengan tambak telah berkembang dengan pesat,
karena udang merupakan komoditi ekspor yang dapat dihandalkan dalam
meningkatkan ekspor non -migas dan merupakan salah satu jenis biota laut yang
bernilai ekonomis tinggi. Udang di Indonesia pada umumnya diekspor dalam
bentuk udang beku yang telah dibuang bagian kepala, kulit, dan ekornya.
Limbah yang dihasilkan dari proses pembekuan udang, pengalengan udang,
dan pengolahan kerupuk udang berkisar antara 30%-75% dari berat udang.
Dengan demikian jumlah bagian yang terbuang dari usaha pengolahan udang
cukup tinggi. Limbah kulit udang mengandung konstituen utama yang terdiri dari
protein, kalsium karbonat, kitin, pigmen, abu, dan lain-lain.
Meningkatnya jumlah limbah udang masih merupakan masalah yang perlu
dicarikan upaya pemanfaatannya. Hal ini bukan saja memberikan nilai tambah
pada usaha pengolahan udang, akan tetapi juga dapat menanggulangi masalah
pencemaran lingkungan yang ditimbulkan, terutama masalah bau yang
dikeluarkan serta estetika lingkungan yang kurang bagus.
Saat ini di Indonesia sebagian kecil dari limbah udang sudah termanfaatkan
dalam hal pembuatan kerupuk udang, petis, terasi, dan bahan pencampur pakan
ternak. Sedangkan di negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, limbah
udang telah dimanfaatkan di dalam industri sebagai bahan dasar pembuatan kitin
dan citosan.

Manfaatnya di berbagai industri modern banyak sekali seperti

industri farmasi, biokimia, bioteknologi, biomedikal, pangan, kertas, tekstil,


pertanian, dan kesehatan. Kitin dan citosan serta turunannya mempunyai sifat
sebagai bahan pengemulsi koagulasi dan penebal emulsi.
Isolasi kitin dari limbah kulit udang dilakukan secara bertahap yaitu tahap
pemisahan protein (deproteinasi) dengan larutan basa, demineralisasi, tahap
pemutihan (bleancing) dengan aseton dan natrium hipoklorit. Sedangkan
transformasi kitin menjadi citosan dilakukan tahap deasetilasi dengan basa
berkonsentrasi tinggi.
Kitin dan citosan yang diperoleh dari limbah kulit udang digunakan sebagai
absorben untuk menyerap ion kadmium, tembaga, dan timbal dengan cara dinamis

12

dengan mengatur kondisi penyerapan sehingga air yang dibuang ke lingkungan


menjadi air yang bebas dari ion-ion logam berat. Mengingat besarnya manfaat
dari senyawa kitin dan citosan serta tersedianya bahan baku yang banyak dan
mudah didapatkan maka perlu pengkajian dan pengembangan dari limbah ini
sebagai bahan penyerap terhadap logam-logam berat diperairan. Kitin membentuk
zat dasar yang tahan lama dari kulit spora lumut dan eksokerangka dari serangga,
udang, dan kerang-kerangan.
3.4. Citosan dan Penyebarannya
Citosan merupakan produk turunan polimer kitin, yakni produk samping
(limbah) dari pengolahan industri perikanan, khususnya udang. Limbah kepala
udang mencapai 35%50% dari total berat udang . Kadar kitin dalam berat udang
berkisar antara 60%70% dan bila diproses menjadi citosan menghasilkan 15%
20%. Citosan mempunyai bentuk mirip dengan selulosa dan bedanya terletak pada
gugus rantai C-2.
Jika sebagian besar gugus asetil pada kitin disubstitusikan oleh hidrogen
menjadi gugus amino dengan persen bahan larutan hasil kuat berkosentrasi tinggi,
hasilnya dinamakan citosan atau kitin terdeasetilasi. Citosan bukan merupakan
senyawa tunggal, tetapi merupakan kelompok yang terdeasetilasi sebagian dengan
derajat polimerasi yang beragam.
Kitin dan citosan adalah nama untuk dua kelompok senyawa yang tidak
dibatasi dengan stoikiometri pasti, kitin adalah poli N-asetil glukosomin yang
terdeasetilasi sedikit, sedang kitosan adalah kitin yang terdeatilase sebanyak
mungkin, tetapi tidak cukup sempurna untuk dinamakan poli glukosamin. Citosan
merupakan senyawa tidak larut dalam air , larutan basa kuat, sedikit larut dalam
HCl clan HNO3, 0,5% H3PO4 sedangkan dalam H2SO4 tidak larut.
Citosan juga tidak larut dalam beberapa pelarut organik seperti alkohol,
aseton, dometil formamida dan dimetilsulfoksida tetapi citosan larut baik dalam
asam format berkosentrasi (0,2-100)% dalam air . Citosan tidak beracun dan
mudah terbiodegradasi. Berat molekul citosan adalah sekitar 1,2 x 10 5,

12

bergantung pada degradasi yang terjadi selama proses deasetilasi. Sifat-sifat


citosan dihubungkan dengan adanya gugus-gugus amino dan hidroksil yang
terikat. Adanya gugus tersebut menyebabkan citosan mempunyai reaktifitas kimia
yang tinggi dan penyumbang

sifat polielektrolit kation, sehingga dapat

berperan sebagai amino pengganti (amino exchanger).


3.5. Sifat Sifat Citosan
Sifat alami dapat dibagi menjadi dua sifat besar yaitu, sifat kimia dan
biologi. Sifat kimia kitosan sama dengan kitin tetapi yang khas antara lain:
1. merupakan polimer poliamin berbentuk linear,
2. mempunyai gugus amino aktif,
3. mempunyai kemampuan mengkhelat beberapa logam.
Sifat biologi kitosan antara lain:
1. bersifat biokompatibel artinya sebagai polimer alami sifatnya tidak
mempunyai akibat samping, tidak beracun, tidak dapat dicerna, mudah
diuraikan oleh mikroba (biodegradable),
2. dapat berikatan dengan sel mamalia dan mikroba secara agresif,
3. mampu meningkatkan pembentukan yang berperan dalam pembentukan
tulang.
4. bersifat hemostatik, fungistatik, spermisidal, antitumor, antikolesterol,
5. bersifat sebagai depresan pada sistem saraf pusat.
Berdasarkan kedua sifat tersebut maka kitosan mempunyai sifat fisik khas
yaitu mudah dibentuk menjadi spons, larutan, gel, pasta, membran, dan serat.
yang sangat bermanfaat dalam aplikasinya. Kelebihan lain dari citosan yaitu
padatan yang dikoagulasinya dapat dimanfaatkan. Kekhawatiran terhadap
kemungkinan khitosan mempunyai efek beracun terhadap manusia telah
ditemukan oleh beberapa peneliti dengan sejumlah bukti ilmiah.

12

3.6. Pemanfaatan Citosan


Citosan banyak digunakan oleh berbagai industri antara lain industri
farmasi, kesehatan, biokimia, bioteknologi, pangan, pengolahan limbah, kosmetik,
agroindustri, industri tekstil, industri perkayuan, industri kertas dan industri
elektronika. Aplikasi khusus berdasarkan sifat yang dipunyainya antara lain untuk:
pengolahan limbah cair terutama bahan sebagai bersifat resin penukar ion untuk
minimalisasi logamlogam berat, mengoagulasi minyak/lemak, serta mengurangi
kekeruhan, penstabil minyak, rasa dan lemak dalam produk industri
pangan.
Chokyon Rha clan Mc NeaLY h. w. melaporkan bahwa citosan dapat
berfungsi sebagai pengikat bahan-bahan untuk pembentukan alat-alat gelas,
plaslik, karet dan selulosa sehingga sering disebut specialily adhesif formulations.
Selain itu citosan dapat digunakan sebagai perekat misalnya citosan yang
berkosentrasi rendah dan sedang yang berkosentrasi 3%-4% dalam asam asetat 2
% pada bahan untuk pembuatan rayon cotton.
Sifat citosan sebagai polimer alami mempunyai sifat menghambat absorpsi
lemak Sifat ini sangat potensial untuk dijadikan obat penurun lemak, penurun
kolesterol, pelangsing tubuh atau pencegahan penyakit lainnya. Citosan juga
bersifat tidak dicernakan dan tidak diabsorpsi tubuh, sehingga lemak dan
kolesterol makanan terikat menjadi bentuk non - absorpsi yang tak berkalori,
Tidak seperti serat alam lain, citosan mempunyai sifat unik karena memberikan
daya pengikatan lemak yang sangat tinggi. Pada kondisi normal citosan mampu
menyerap 4-5 kali lemak dibandingkan serat lain. Kapasitas yang tinggi ini juga
diakibatkan gugus citosan yang relatif bersifat basa dengan adanya gugus amino.
Sebagai contoh jumlah lemak yang dieksresi oleh citosan sekitar 51% sedangkan
oleh pektin dan selulosa hanya mencapai 5%7%.
Di bidang induslri, citosan dapat meningkatkan kekuatan mekanik Facia
kertas, memperbaiki ikatan antara warna dengan makanan, menghilangkan
kelebihan penggunaan perekat dan dapat mencegah kelarutan hasil dari kertas,
pulp dan tekstil. Sedangkan penerapan lain di bidang biokimia, kitin dan citosan
digunakan sebagai zat mempercepat dalam penyembuhan luka. Sifat lain adalah

12

citosan dapat berfungsi sebagai zat koagulan, adanya sifat ini menyebabkan ia
banyak dimanfaatkan bentuk recovery senyawa-senyawa organik dari limbah
bekas media tumbuh seafood.
3.7.

Biodegradasi dari Polisakarida (kitin dan citosan)


Kitin dan citosan adalah salah satu dari polisakarida di dalam unit dasar

suatu gula animo. Polisakarida ini adalah suatu struktural unsur yang memberikan
kekuatan mekanik organisme. Kitin tidak dapat larut dalam air, pelarut organik
alkali atau asam mineral encer .Tetapi ia tidak dapat larut dan terurai dengan
adanya enzim atau dengan pengolahan asam mineral padat. Dalam struktur, kitin
terdiri dari sebuah rantai panjang dari N acetylglukosamine. Rumus empirisnya
adalah C6H6CNHCOCH3 dan berisi campuran murni 6,9 % Nitrogen. Polimer ini
adalah serupa selulosa diganti oleh suatu acetyl amino ( NHCOCH3) unit.
Beberapa kitin mempunyai kemampuan yang sama dengan citosan untuk
bergabung dengan mereka. Citosan adalah sama dengan kitin tetapi beberapa
kelompok acetyl (-COCH3), juga didapat cincin pada mata rantai unit
glukosamine (C6H9O6NH2) bersama-sama seperti kitin. Kitin adalah substansi
yang renting dalam siklus karbon dalam tanah dan tidak hanya itu, sebab dia juga
mampu tidak dilewati oleh serangan mikroorganisme tetapi sama hasilnya dari
biosentetis mikroba secara terus-menerus. Kitin diproduksi oleh dunia tumbuhan
dan hewan. Substrat partikel seperti kitin merupakan masalah utama dalam
lingkungan tanah. Berbeda dengan media cairan atau lingkungan air.
Tanah berisi parlikel seperti pasir, lumpur dan tanah liat yang tidak pasti
berbentuk campuran tetapi juga menghalangi jalannya kehidupan organisme.
Disebabkan oleh rintangan mekanik, individu atau populasi yang jarang ada
dalam lingkungan mikroba yang berdekalan dengan bahan makanan . Tetapi dari
mereka tidak membantu jalannya penggunaan substrat. Seperti menghalangi
kehidupan metabolisme mikroba dari kitin dan tidak dapat dipungkiri lagi
penggunaan keluarga pseudolmonas yang dapat hidup dengan adanya bantuan

12

kitin. Tanah yang baik berisi sejumlah besar dari kitinoelastic sampai 106
mikroorganisme per gram dari tanah yang menggunakan polisakarida.
Kapasitas

dari

beberapa

streptomyces,

nocardia,

mikromonospora,

actinoplances dan streptosporangarium isolasinya membuat penggunaan kitin


menjadi peranan penting sebagai media pengisi polimer yang digunakan untuk
isolasi selektif diri ancynomycetes. Dengan demikian fungi dan bakteri merupakan
peranan penting dalam tanah.
Pemecahan dari kitin meliputi konversi dari suatu yang tidak dapat larut
kristal molekul, air dapat larut menembus dinding gel dan menyediakan energi
dan

karbon

atau

kadang-kadang

nitrogen

untuk

pertumbuhan.

Enzym

Ekstracelluar dan produk yang biasanya terikat dalam kultur selama degradasi Ncetylglukosamine dan glukosamine. Transformasi biasanya melibatkan enzim :
1. Kitinase kalalis salah satu depolimerisasi dari rantai hasil oligomers
beberapa dari N -acetylglukosamine unit rantai, mempunyai nama yang
biasanya disebut chibitose. Kitinase mendapatkan perhatian pembelahan
ikatan antara struktur unit polimer dan juga endo enzim tetapi exo enzim
boleh juga ada, chitobiose kadang-kadang dominan dalam adisi dua tipe
enzim ini.
2. Enzim kedua sebagai chibitose yang disebut N-acetylglukosaminidase.
Hidrolisa oligomers dari chitobiose menghasilkan N-acetylglukosamine. Nacetylglukosamine hasil akhir kemudian membentuk acetic acid dan
glukosamine kemudian amonia melepaskan amin dari campuran terakhir.
Yang baru memberikan harapan, dua kemungkinan mode depolimerisasi,
melibatkan sebuah enzim yang melepaskan acetyl group dari Nacetylglucosamine unit dalam kitin primer menghasilkan kitosan. Citosan
kemudian dihidrolisa oleh citosanase. Sebagai ekscellular enzym adalah
produk absorpsi atau komplek dengan tanah liat atau unsur humus. Absorpsi
dapat peranan penting penyusun tenaga aktivitas di antara penyimpanan dan
aktivitas dari prolan sangat efektif oleh pengaruh pH.

12

IV.

ALAT DAN BAHAN


IV.1.
Alat

1.

Grinding

2.

Neraca analitis

3.

Beker gelas

4.

Pipet tetes

5.

Spatula

6.

Waterbath

7.

Corong dan Kertas Saring

8.

pHmeter

9.

Oven
IV.2.

1.

Kulit udang

2.

HCl

3.

NaOH

4.

Aquadest
V.

Bahan

PROSEDUR PERCOBAAN
1. Pisahkan udang dan kulitnya kemudian cuci bersih dan keringkan.
2. Gerus sampai halus kulit udang yang telah dikeringkan tadi hingga menjadi
bubuk atau powder.

12

3. Timbang bubuk kulit udang sebanyak 5 gr, dicampur dengan 300 ml aqudest.
4. Kemudian masukkan NaOH sebanyak 3 tetes, selanjutnya larutan kulit udang
tadi dipanaskan selama 2 menit, diamkan sebentar.
5. Larutan tadi disaring dengan kertas saring, slurry kulit udang dimasukkan
dalam beker gelas kemudian dicuci serta disaring kembali.
6. Hasil saringan ini dicampur kembali dengan 300 aquadest dan ditambahkan
HCl 3 tetes, direbus selama 2 menit, kemudian saring kembali.
7. Hasil saringan ditetesi NaOH sebanyak 3 tetes, selanjutnya diukur pH dengan
menggunakan pH meter.
8. Langkah terakhir larutan disaring kembali dan dikeringkan.
DAFTAR PUSTAKA
Dahlan, Hatta. 2008. Penuntun Praktikum Teknologi Bioproses. Laboratorium
teknologi Bioproses. Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.
Gunawan. 2009. Inokulasi. [Online]. https://gunawanprayitna.wordpress.com/
2009/12/18/inokulasi/.Diakses pada tanggal 28 Maret 2015.
Lela. 2014. Inokulasi. [Online]. http://greenworldglobal.net/inokulasi/,Diakses
pada tanggal 28 Maret 2015.
Rania. 2009. Inokulasi. [Online]. https://rania.wordpress.com/inokulasi/. Diakses
Pada tanggal 28 Maret 2015.
Siinta, S. 2014. Inokulasi. [Online]. http://susantisania.blogspot.com/2014/04/
inokulasi.html. Diakses pada tanggal 28 Maret 2015.

12