Anda di halaman 1dari 8

BAB 5

DATA PERCOBAAN DAN PENGOLAHAN DATA


5.1. Data Percobaan
Dari praktikum absorpsi yang praktikan lakukan, diperoleh data percobaan
absorpsi CO2 dengan air menggunakan analisis gas dan absorpsi CO2 dengan
larutan NaOH menggunakan analisis larutan untuk menghitung jumlah CO 2 yang
terabsorp oleh air atau larutan NaOH sebagai berikut:
5.1.1. Absorpsi CO2 dengan Air Menggunakan Analisis Gas
Pada percobaan dilakukan pembacaan tekanan dan suhu packed column
yang digunakan untuk menghitung konversi CO2 yang teradsorpsi dengan hasil
pembacaan sebagai berikut:
P

= Tekanan kolom absorber


= Tekanan atmosfer + tekanan yang terbaca
= 1atm + 36.9 mmH2O
= 760 mmHg + 2.714 mmHg
= 762.714 mmHg

= Suhu kolom absorber = 21.3 oC

Dengan data kolom absorber yang digunakan sebagai berikut:


D

= Diameter kolom absorber

= 0.075 m

= Tinggi kolom absorber

= 1.4 m

= Luas spesifik kolom absorber

= 440 m2/m3

Data laju alir dan volume titrasi pada absorpsi CO 2 dengan air dapat dilihat pada
tabel 5.1 dan 5.2 berikut:
Tabel 5.1. Data Laju Alir Pada Absorpsi CO2 dengan Air

Variabel

Laju Alir Volumetrik

Laju Alir Volumetrik

(L/menit)

(L/detik)

F1
F2
F3

3
30
3

0.05
0.50
0.05

(Sumber: Data Pribadi, 2015)


Tabel 5.2. Data Volume Pada Absorpsi CO2 dengan Air

Volume

Variabel

(L)

V1

Praktikum UOP: Absorpsi

0.015

Universitas Indonesia

V2

0.001
(Sumber: Data Pribadi, 2015)

Keterangan:
F1

= Laju alir volumetrik air yang masuk ke dalam packed column [L/detik];

F2

= Laju alir volumetrik udara yang masuk ke dalam packed column

[L/detik];
F3

= Laju alir volumetrik CO2 yang masuk ke dalam packed column

[L/detik];
V1

= Volume CO2 dan udara pada analisis sampel keluaran gas sisa absorpsi
[L]; dan

V2

= Volume CO2 yang larut dalam air pada analisis sampel keluaran gas sisa
absorpsi [L].

5.1.2. Absorpsi CO2 dengan Larutan NaOH Menggunakan Analisis Larutan


Pada percobaan dilakukan pembacaan tekanan dan suhu packed column
yang digunakan untuk menghitung konversi CO2 yang teradsorpsi dengan hasil
pembacaan sebagai berikut:
P

= Tekanan kolom absorber


= Tekanan atmosfer + tekanan yang terbaca
= 1atm + 36.9 mmH2O
= 760 mmHg + 2.714 mmHg
= 762.714 mmHg

= Suhu kolom absorber = 21.3 oC

Dengan data kolom absorber yang digunakan sebagai berikut:


D

= Diameter kolom absorber

= 0.075 m

= Tinggi kolom absorber

= 1.4 m

= Luas spesifik kolom absorber

= 440 m2/m3

Bahan yang digunakan pada percobaan titrasi yaitu:

NaOH
HCl
BaCl2
Sampel

= 0.25 M
= 0.20 M
= 1 Liter 5% berat
= 10 ml/labu erlenmeyer

Data laju alir dan volume titrasi pada absorpsi CO 2 dengan larutan NaOH dapat
dilihat pada tabel 5.3 dan 5.4 berikut:
Tabel 5.3. Data Laju Alir Pada Absorpsi CO2 dengan Larutan NaOH

Praktikum UOP: Absorpsi

Universitas Indonesia

Laju Alir Volumetrik

Variabel

Laju Alir Volumetrik

(L/menit)

(L/detik)

F1
F2
F3

3
30
3

0.05
0.50
0.05

(Sumber: Data Pribadi, 2015)


Tabel 5.5. Data Volume Titrasi Pada Absorpsi CO2 dengan Larutan NaOH

Parameter
Volume di S5
(L)
Volume di S4
(L)

T1

Variabel
T2 T1

T2

VBaCl

T3

0.0043

0.0036

0.0010

0.00110

0.0044

0.0046

0.0037

0.0006

0.00066

0.0038

(Sumber: Data Pribadi, 2015)

Keterangan:
F1

= Laju alir volumetrik air yang masuk ke dalam packed column [L/detik];

F2

= Laju alir volumetrik udara yang masuk ke dalam packed column

[L/detik];
F3

= Laju alir volumetrik CO2 yang masuk ke dalam packed column


[L/detik];

T1

= Volume HCl yang dibutuhkan untuk menetralkan NaOH dan mengubah


karbonat menjadi bikarbonat [L];

T2

= Total volume HCl yang ditambahkan hingga mencapai end point kedua
untuk menetralkan basa NaOH dan Na2CO3 [L];

T3

= Volume HCl yang ditambahkan untuk menetralkan NaOH [L];

T2 - T1 = Volume HCl yang ditambahkan untuk menetralkan Na2CO3 [L];


S4

= Saluran output yang terletak di bawah kolom (output);

S5

= Saluran output yang terletak di bawah tangki (input); dan

VBaCl

= Volume BaCl yang ditambahkan ke dalam sampel titrasi [L].

Volume BaCl yang harus ditambahkan ke dalam setiap sampel titrasi dapat
dihitung menggunakan persamaan 5.1 sebagai berikut:
V BaCl =( T 2T 1 ) +10 ( T 2T 1 )

5.1

5.2. Pengolahan Data


5.2.1. Absorpsi CO2 dengan Air Menggunakan Analisis Gas

Praktikum UOP: Absorpsi

Universitas Indonesia

Tujuan dari pengolahan data ini adalah menghitung jumlah CO 2 yang


terabsorp oleh air sehingga dapat dihitung nilai koefisien perpindahan massa CO 2
dengan air. Tahapan dan hasil pengolahan data yang dilakukan adalah sebagai
berikut:
a. Menghitung Fraksi CO2 Inlet dan Outlet
Dengan mengasumsikan bahwa gas CO2 merupakan gas ideal, maka dapat
dianggap bahwa fraksi mol CO2 sama dengan fraksi volumenya shingga fraksi
mol CO2 yang masuk dapat dihitung menggunakan persamaan 5.2 sebagai berikut:
Y i=
Y i=

V1
V2

5.2

F3
0.05 L/detik
=
=0.091
F2 + F 3 0.50 L/detik +0.05 L/detik

Sedangkan fraksi mol CO2 yang keluar dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan 5.3 sebagai berikut:
Y o=
Y o=

V2
V1

5.3

V 2 0.001 mL
=
=0.067
V 1 0.015 mL

b. Menghitung CO2 yang Teradsorpsi


Jumlah gas CO2 yang terabsorpsi dapat dihitung menggunakan persamaan
neraca massa 5.4 sebagai berikut:
out =akumulasi

Finlet Y CO inlet F outlet Y CO outlet=F CO terabsorbsi


2

5.4

( F 2+ F 3 ) Y i( F 2 + ( F3 Fa ) ) Y o=F a
Fa =

( Y iY o ) ( F 2+ F 3 )

5.5

(1Y o )
L
L
+0.05
detik
detik
( 10.067 )

( 0.5000.067 ) 0.05
Fa =

Fa =5.643 102 L /s
Jumlah gas CO2 yang terabsorpsi dapat dinyatakan dalam gmol/detik dengan
konversi pada persamaan 5.6 sebagai berikut:

Praktikum UOP: Absorpsi

Universitas Indonesia

F
( 22.42
)( P 760mmHg )( T 273
+273 )
F
762.71 mmHg
273
G =(
)
(
)(
22.42
760
21.3 +273 )
a

G a=

kolom

kolom

5.6

Ga=1.923 103 gmol/detik


5.2.2. Absorpsi CO2 dengan Larutan NaOH Menggunakan Analisis Larutan
Tujuan dari pengolahan data ini adalah menghitung jumlah CO 2 yang
terabsorp oleh larutan NaOH sehingga dapat dihitung nilai koefisien perpindahan
massa CO2 dengan larutan NaOH. Tahapan pengolahan data yang dilakukan
adalah sebagai berikut:
a. Menghitung Jumlah CO2 Terabsorpsi Berdasarkan Senyawa CO2 Terabsorp
a.1.Menghitung Fraksi Mol CO2 Inlet dan Outlet
Dengan mengasumsikan bahwa gas CO2 merupakan gas ideal, maka dapat
dianggap bahwa fraksi mol CO2 sama dengan fraksi volumenya shingga fraksi
mol CO2 yang masuk dapat dihitung menggunakan persamaan 5.2 sebagai berikut:
Y i=

V1
V2

F3
0.05 L/detik
=
=0.091
F2 + F 3 0.50 L/detik +0.05 L/detik

Y i=

Sedangkan fraksi mol CO2 yang keluar dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan 5.3 sebagai berikut:
Y o=
Y o=

V2
V1

V 2 0.001 mL
=
=0.067
V 1 0.015 mL

a.2.Menghitung Laju Alir Gas CO2 Inlet dan Outlet


Laju alir gas CO2 yang masuk ke dalam kolom absober dapat dihitung
menggunakan persamaan 5.7 sebagai berikut:
+F P
mmHg
( F22.42
)( 760 mmHg
)( T

Gi=

kolom

273
kolom +273

5.7

0.05 762.713 mmHg


273
( 0.5+
)(
)(
22.42
760 mmHg
21.3 +273 )

Gi=

Praktikum UOP: Absorpsi

Universitas Indonesia

Gi=2.276 10 gmol/detik
Dimana diasumsikan tidak terjadi pressure drop ( P=0 ) pada kolom absorber.
Sedangkan laju alir gas CO2 yang keluar dari kolom absorber dapat dihitung
menggunakan persamaan 5.8 sebagai berikut:
Go=Gi
G o=2.276 102 gmol /detik

( 1Y i )
( 1Y o )

5.8

( 10.091 )
( 10.067 )

Gi=2.217 102 gmol/detik


a.3.Menghitung Laju Alir Gas CO2 yang Terabsorpsi
Laju alir gas CO2 yang terabsorpsi dapat dihitung dengan menentukan
selisih laju alir gas CO2 yang masuk dengan laju alir gas CO 2 yang keluar dengan
persamaan 5.9 sebagai berikut:
Ga=Gi Go
2

Ga=2.276 10

5.9

gmol
2 gmol
2.217 10
detik
detik

Ga=5.911 10 gmol /detik


b. Menghitung Jumlah CO2 Terabsorpsi Berdasarkan Senyawa NaOH Terurai
Konsentrasi NaOH yang masuk dan keluar dapat dihitung dari persamaan
stoikiometri untuk titrasi sebagai berikut:
mol ekuivalen basa=mol ekuivalen asam

5.10

N basa V basa =N asam V asam

5.11

( nbasa Cbasa ) V basa= ( nasam C asam ) V asam


Cbasa =

( nasam Casam ) V asam


nbasa V basa

atauC asam=

( n basa C basa ) V basa


n asam V asam

5.12

b.1. Menghitung Konsentrasi NaOH yang Masuk dan Keluar


Konsentrasi NaOH pada bagian inlet dan outlet dapat dihitung menggunakan
persaman 5.12. Dalam titrasi ini, senyawa asam yang digunakan adalah HCl 0.2
M sedangkan senyawa basa yang digunakan adalah NaOH. VHCl adalah volume
HCl yang ditambahkan untuk menetralkan NaOH yaitu T3 untuk sampel inlet (S4)
dan outlet (S5) sehingga diperoleh hasil sebagai berikut:

Praktikum UOP: Absorpsi

Universitas Indonesia

C NaOH ,inlet =

( n HCl C HCl ) V HCl ( 1 0.2 M ) 0.0044 L

C NaOH ,outlet =

n NaOH V NaOH

1 0.0100 L

=0.088 M

( n HCl C HCl ) V HCl ( 1 0.2 M ) 0.0038 L


=

nNaOH V NaOH

1 0.0100 L

=0.076 M

b.2. Menghitung NaOH yang Dibutuhkan untuk Mengabsorpsi CO2


Jumlah NaOH yang dibutuhkan untuk mengabsorpsi CO2 dapat dihitung
menggunakan persamaan 5.13 sebagai berikut:
GNaOH =

F1
C NaOH ,outlet )
(C
2 NaOH ,inlet
0.05

GNaOH =

5.13

L
detik
( 0.088 M 0.076 M )
2

GNaOH =3 104 gmol/detik


c. Menghitung Jumlah CO2 Terabsorpsi Berdasarkan Senyawa Na2CO3
Terbentuk
c.1.Menghitung Konsentrasi Na2CO3 yang Masuk dan Keluar
Konsentrasi Na2CO3 pada bagian inlet dan outlet dapat dihitung
menggunakan persaman 5.12. Dalam titrasi ini, senyawa asam yang digunakan
adalah HCl 0.2 M sedangkan senyawa basa yang digunakan adalah Na 2CO3. VHCl
adalah volume HCl yang ditambahkan untuk menetralkan Na2CO3 yaitu T2 - T3
untuk sampel inlet (S4) dan outlet (S5) sehingga diperoleh hasil sebagai berikut:
C Na CO ,inlet =
2

( n HCl C HCl ) V HCl ( 1 0.2 M ) ( 0.00360.0044 )

C Na CO ,outlet =
2

n Na CO V Na CO
3

2 0.0100 L

=0.005 M

( n HCl C HCl ) V HCl ( 1 0.2 M ) ( 0.00380.0043 )


nNa

CO3

V Na CO
2

2 0.0100 L

=0.008 M

c.2. Menghitung Na2CO3 yang Terbentuk dari Absorpsi CO2


Jumlah Na2CO3 yang terbentuk dari proses absorpsi CO 2 dapat dihitung
menggunakan persamaan 5.14 sebagai berikut:
GNa CO =F 1 ( C Na CO , inlet C Na CO ,outlet )
2

5.14

GNa CO =0.05 L/detik ( 0.008 M 0.005 M )


2

GNa CO =1.5 10 gmol /detik


2

Praktikum UOP: Absorpsi

Universitas Indonesia

Praktikum UOP: Absorpsi

Universitas Indonesia