Anda di halaman 1dari 7

HASIL PRAKTIKUM

a.

Tulang belakang dan serabut saraf katak

Katak yang telah dikuliti dan


diberikan rangsangan listrik

b.
Otot gastrochnemius
katak kanan dan kiri

Otot gastrochnemius katak kanan dan


kiri yang sedang diberikan rangsangan
listrik.
c. Tabel Pengamatan
Respon Otot
Keg. 1
Keg. 2

Waktu Respon
Sebelum diberikan
Setelah diberikan
Alcohol
Ringer
Alkohol
Ringer
0,2 detik
0,35 detik
0,38 detik
0,1 detik
0,2 detik
0,1 detik
0,4 detik
0,1 detik

Pertanyaan :
Apa beda sinapsis yang EPSP dan IPSP dilihat dari biolistrik di neuron post sinaps ?
Jawaban :
Sinapsis pada EPSPmelakukan depolarisasi dan biasanya menambah Na + atau
mengurangi K+ dan mengakumulasi untuk membuat potensial aksi. Sedangkan, IPSP
biasanya berhiperpolarisasi dan menambah Cl atau K.

PEMBAHASAN
A. Mengukur Kecepatan Perambatan Impuls
Pada percobaan mengukur kecepatan perambatan impuls. Sebelumnya, katak dikuliti
terlebih dahulu agar penghantaran impuls listrik dari baterai terhadap serabut saraf tidak
terhambat dan tidak terhalangi oleh kulit. Lalu, membedah isi perut katak agar serabut saraf
yang mempersarafi tungkai depan dan tungkai belakang dapat terlihat jelas. Saat membedah,
tidak boleh memotong vena abdominalis agar perambatan impuls dari tungkai depan ke
tungkai belakang dapat berlangsung. Vena abdominalis merupakan pembuluh perantara
antara tungkai depan dan tungkai belakang.
Perlakuan terhadap serabut saraf diberikan dengan cara memberi rangsangan listrik
pada serabut saraf yang menuju ke tungkai belakang dan tungkai depan. Warna dari sarafsaraf tersebut adalah putih, sehingga dapat dibedakan dengan organ dan serabut saraf yang
lain. Dari hasil pengamatan dapat dilihat terjadinya tanggapan berupa gerak cepat (fleksi)
pada kedua tungkai.
Percobaan ini tidak sesuai dengan prosedur karena seharusnya perangsangan listrik
diberikan dengan menghubungkan dua kutub positif dan negatif baterai pada dua saraf yang
berbeda, misalnya saraf tungkai depan dan tungkai belakang, sedangkan percobaan yang
kami lakukan rangsangan diberikan hanya pada satu saraf saja yaitu saraf yang menuju
tungkai belakang dan tungkai depan saja, tidak dihubungkan antara tungkai depan dan
tungkai belakang. Sehingga respon yang terjadi adalah sama seperti gerak refleks pada
ekstremitas katak, yaitu saat diberikan rangsangan berupa arus listrik pada saraf sensorik
maka impuls aferen akan menyampaikannya pada medula spinalis (pusat refleks) sehingga
respon yang diberikan sangat cepat.
Perangsangan listrik yang diberikan tersebut merupakan rangsang tunggal. Rangsang
tunggal yang diberikan pada saraf sensorik pada percobaan ini, tidak menyebabkan timbulnya
penghantaran potensial aksi di neuron postsinaptik. Sebaliknya, perangsangan itu
menghasilkan depolarisasi parsial sementara atau hiperpolarisasi sementara.
Respon depolarisasi awal yang dihasilkan oleh satu rangsang tunggal dimulai kirakira 0,5 mdet setelah impuls aferen memasuki medula spinalis. Mencapai puncaknya 1-1,5
mdet kemudian dan menurun mengikuti garis lengkung, dengan konstanta waktu yang
beragam bergantung kepada transmitter dan membran postsinaptik. Selama berlangsungnya
potensial aksi, kepekaan saraf terhadap rangsang lain meningkat, dan dengan demikian
potensial aksi itu dinamakan potensial postsinaptik eksitasi (EPSP). EPSP disebabkan
depolarisasi membran sel postsinaptik yang terletak tepat di bawah tonjolan sinaptik aktif.
(Ganong, 2001). Walaupun percobaan yang kami lakukan tidak sesuai dengan prosedur
namun dari percobaan ini membuktikan bahwa perambatan impuls pada serabut saraf terjadi
sangat cepat.
Kecepatan penjalaran impuls di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
(a) Suhu tubuh, sampai batas tertentu makin tinggi suhu makin cepat penjalaran impuls.
Kenyataan menunjukkan bahwa penjalaran impuls lebih cepat pada hewan berdarah
panas bila di bandingkan dengan hewan berdarah dingin

(b) Diameter serabut saraf ,makin besar diameter serabut sarafv makin cepat penjalaran
impuls. Jadi serabut saraf yang mempunyai diameter kecil akan menjalarkan impuls
lebih lambat
(c) Ada atau tidak adanya selubung mielin, serabut saraf yang mempunyai selubung
mielin dapat menjalarkan impuls lebih cepat dari pada serabut saraf yang diametrnya
sama tetapi tidak mempunyai selubung mielin. Cara penjalaran impuls di sepanjang
serabut saraf yang mempunyai selubung mielin di sebut penghantaran meloncat
(d) Blokade impuls saraf, suatu proses dimana terjadi blokade terdapat penjalaran
impuls dikenal dengan istilah bloking. Penghambatan impuls dapat dilakukan dengan
jalan didinginkan, diberi tekanan, diberi aliran listrik atau di beri larutan kimia.
Setelah itu, pada lokasi yang sama diteteskan alcohol 70 %. Ketika diberikan
rangsangan listrik, ternyata kecepatan gerak respon menurun. Adanya alcohol ini
meningkatkan efek neurotransmitter GABA. GABA (Gamma Amino Butiric Acid)
merupakan neurotransmitter inhibitor, artinya akan menghalangi penghantaran impuls di
serabut saraf.GABA akan membuka gerbang ion chlorine yang bermuatan negative sehingga
serabut saraf akan bermuatan sangat negative. Dengan begitu impuls sulit untuk dihantarkan
melalui serabut saraf. Meningkatnya GABA ini menyebabkan menurunnya kecepatan
perambatan impulse. Kecepatan perambatan impulse antara yang normal dan yang diberi
alkohol pada kaki katak memiliki perbedaan. Pada kaki katak yang normal (tidak diberikan
alkohol) kecepatan impulse ketika diberi sengatan listrik berjalan dengan cepat. Sedangkan
pada kaki katak yang diberi alkohol, memiliki kecepatan yang lebih lambat. Pemberian
alkohol menghambat terjadi pergerakan / kontraksi otot yang mulai melambat. Hal ini karena
alkohol bersifat menghambat (inhibitor) terjadinya biolistrik pada otot katak sehingga
kontraksi otot menjadi lebih lambat, begitu juga pada ion-ion pergerakan (keluar-masuk) juga
terhambat. Alkohol juga merupakan larutan non elektrolit yang tidak bisa menghantarkan
arus listrik. Oleh karena itu, pada saat katak otot diberi alkohol, maka rangsangan akan
semakin lambat.
B. Perambatan Implus
Pada sel otot (serabut-serabut otot), potensial aksi menyebabkan otot berkontraksi
(Seeley, 2003). Jika sebuah sel jaringan tidak memperlihatkan perubahan potensial yang
cepat disebut juga dengan potensial membran istirahat. Impuls saraf terdiri atas suatu
gelombang depolarisasi membran yang disebut Potensial Aksi dan merambat sepanjang sel
saraf. Penyebab terjadinya potensial aksi ini ialah peningkatan permeabilitas membran
terhadap ion Na+ secara transien (dalam rentang fraksi dari satu milidetik) kemudian diikuti
oleh peningkatan permeabilitas membran terhadap ion K+ secara transien serta penurunan
drastis pada permeabilitas membran terhadap ion Na+. Perubahan permeabilitas yang spesifik
ion itu (hanya khusus ion tertentu) disebabkan oleh adanya protein membran transaxonal.
Protein tersebut berfungsi sebagai saluran-saluran spesifik ion (ion Na + atau ion K+) yang
sensitif terhadap beda potensial. Kita dapat menyebutnya dengan voltage-sensitive channels.
Potensial aksi merupakan depolarisasi dan repolarisasi membran sel yang terjadi secara cepat
(Seeley, 2003). Berdasarkan Campbell (2004), sebuah potensial aksi tunggal akan
menghasilkan peningkatan tegangan otot yang berlangsung sekitar 100 milidetik atau kurang
yang disebut sebuah kontraksi tunggal. Jika potensial aksi kedua tiba sebelum respons
terhadap potensial aksi pertama selesai, tegangan tersebut akan menjumlahkan dan
menghasilkan respons yang lebih besar. Jika otot menerima suatu rentetan potensial aksi yang
saling tumpang tindih, maka akan terjadi sumasi yang lebih besar lagi dengan tingkat

tegangan yang bergantung pada laju perangsangan. Jika laju perangsangan cukup cepat,
sentakan ersebut akan lepas menjadi kontraksi yang halus dan bertahan lama yang disebut
tetanus. Waktu antara datangnya rangsang ke neuron motoris dengan awal erjadinya kontraksi
disebut fase laten; waktu terjadinya kontraksi disebut fase kontraksi, dan waktu otot
berelaksasi disebut fase relaksasi (Seeley,2003) . Jadi, otot dapat bergerak karena adanya
impuls ataupun rangsangan dari luar yang kemudian diterima oleh reseptor diteruskan ke
saraf sensorik dibawa oleh saraf konektor sampai ke otak.
Listrik akan menyebabkan stimulus yang terus menerus pada voltage-gate channels
membran sel sehingga terjadi hiperpolarisasi membran sel.23 Arus listrikbolak balik akan
menyebabkan proses depolarisasi-repolarisasi secara terusmenerus. Tetani ini lebih banyak
terjadi pada arus listrik bolak-balik denganfrekuensi rendah antara 15-150 Hz. Dengan
frekuensi ini, otot distimulasi untukberkontraksi sebanyak 40-110 kali perdetik.Otot rangka
merupakan salah satu jaringan tubuh yang mempunyaikelistrikan yang diperankan oleh ionion intrasel dan ekstrasel. Rangsangan listrikmengakibatkan perubahan potensial membran
istirahat yang ditandai dengan ionnatrium masuk ke intrasel otot(depolarisasi). Proses
depolarisasi akan diikuti olehproses repolarisasi yang ditandai dengan keluarnya ion kalium
ke ekstraselotot(Syamsun, 2010).
Otot rangka merupakan salah satu jaringan tubuh yang mempunyai kelistrikan yang
diperankan oleh ion-ion intrasel dan ekstrasel. Rangsangan listrik mengakibatkan perubahan
potensial membran istirahat yang ditandai dengan ion natrium masuk ke intrasel
otot(depolarisasi). Proses depolarisasi akan diikuti oleh proses repolarisasi yang ditandai
dengan keluarnya ion kalium ke ekstrasel otot.
Mekanisme molekuler kontraksi dan relaksasi otot rangka akibat sengatan listrik adalah
sebagai berikut: (Syamsun, 2010).
1. Proses dimulai dari pelepasan neurotransmiter asetilkolin oleh ujung saraf, kemudian
asetilkolin akan ditangkap oleh reseptor asetilkolin pada sarkolema otot. Hal ini
mengakibatkan timbulnya potensial aksi sepanjang sarkolemna hingga ke tubulus.
Potensial aksi tersebut merangsang ion kalsium untuk dilepaskan dari retikulum
endoplasma. Ion kalsium berikatan dengan troponin sehingga merubah formasi
troponin-tropomiosin yang membuka tempat aktif filamen aktin.
2. Bagian aktif aktin akan berikatan dengan jembatan penyeberangan filamen miosin.
Ikatan antara kepala jembatan penyeberangan dan bagian aktif filamen aktin
menyebabkan perubahan kedudukan kepala, yaitu kepala miring ke arah lengan
jembatan penyeberangan. Kedudukan ini memberikan power strokeuntuk menarik
filamen aktin. Energi yang mengaktifkan power stroke adalah energi yang disimpan
oleh perubahan bentuk pada kepala bila molekul ATP telah dipecah sebelumnya.
3. Sekali jembatan penyeberangan itu miring, keadaan ini menyebabkan pelepasan ADP
dan Pi yang sebelumnya melekat pada kepala. Pada tempat pelepasan ADP, terikat
molekul ATP yang baru. Ikatan ini kemudian menyebabkan terlepasnya kepala dari
aktin.
4. Setelah kepala terpisah dari aktin, sebuah molekul ATP yang baru dipecah untuk
memulai siklus baru yang menimbulkan power stroke, artinya energi sekali lagi
menopang agar kepala kembali ke kedudukan tegak lurusnya dan siap untuk memulai
siklus power stroke yang baru.
5. Pergeseran aktin-miosin selama kontraksi-relaksasi otot akan menyebabkan
perubahan pada lebar lempeng Z yang satu dengan lempeng Z sebelahnya.Kekuatan
mekanis yang menyebabkan pergeseran aktin miosin tersebut dibentuk oleh interaksi

jembatan penyeberangan dari filamen miosin dengan filamen aktin. Dalam keadaan
istirahat, kekuatan tersebut dihambat.
Pada percobaan ini menggunakan dua buah otot gastrocnemius,kemudian kedua
ujungnya ditempelkan. Pemilihan otot ini adalah karena otot ini besar dan mudah diamati,
bila dibandingkan dengan otot lain pada katak.Pada tiap ujungnya terdapat hubungan bekas
tendon saat masih menempel pada kaki katak. Pada percobaan, kedua otot ditempelkan pada
tendon/ ujungotot. Hubungan ini dapat dijadikan semacam jembatan bagi impuls apabila
kedua otot tersebut dilekatkan. Sebelum diberi aliran listrik, hubungan diantara kedua otot
diberi larutan ringer. Setelah itu, kedua otot tersebut diberi aliran listrik. Ternyata, kedua otot
itu bereaksi, (bergerak). Setelah itu,diantara hubungan kedua otot itu ditetesi alcohol.
Kemudian diberi aliran listrik lagi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa respon atau reaksi
menjadi lebih lambat. Hal tersebut menunjukkan bahwa alkohol dapat menghambat kerja
impuls.
Membran neuronal memperlihatkan suatu potensial membran istirahat sekitar -65
milivolt. Perubahan potensial ini ke arah yang lebih positif(depolarisasi) menyebabkan sel
menjadi lebih peka-rangsang, sementara penurunannya ke arah yang lebih negatif
(hiperpolarisasi) menyebabkan sel menjadi kurang peka-rangsang. Larutan ringer adalah
lautan steril kalsium klorida, Natrium klorida, dan natrium laktat. Pemberian ringer ini
kemungkinan bertujuan untuk memperlancar aliran listrik. Seperti yang kita ketahui, adanya
impuls erat kaitannya dengan peristiwa depolarisasi dan polarisasi. Pada saat sel saraf dalam
istirahat, ion positif Na+ lebih banyak di luar sel dan ion negative seperti CL - berada di dalam
sel. Keadaan ini disebut polarisasi, muatan ion di luar sellebih positif dan dalam sel lebih
negative. Penambahan ringer mendukung terjadinya keadaan ini. Untuk Natrium, potensial
Nernst adalah +61 milivolt. Karena potensial membran istirahat di neuron adalah sekitar -65
milivolt,dapat diperkirakan bahwa natrium akan berpindah ke dalam sel saat istirahat.
Namun, Na tidak dapat masuk karena saluran Na bergerbang-voltase tertutup. Sedangkan
potensial Nernst pada Cl adalah -70 milivolt. Secara umum, ini lebih negatif daripada
potensial membran istirahat neuron pascasinaps. Akibatnya, ion klorida berpindah keluar sel
dan potensial membran menjadi lebih negatif (hiperpolarisasi) dan sel menjadi kurang pekarangsangan.
Jika sel saraf dirangsang, maka saluran ion akan terbuka. Ion natrium akan masuk ke
dalam sel dan ion Cl- keluar sel. Muatan ion menjadi lebih positif di dalam sel dan di luar sel
menjadi negative, disebut depolarisasi. Jika depolarisasi melewati ambang letup, maka akan
terjadi potensial aksi. Potensial aksi inilah yang disebut impuls. Penambahan alcohol pada
hubungan kedua otot gastrocnemius bertujuan untuk membuktikan bahwa alcohol
menghambat jalannya impulse, sama seperti kegiatan sebelumnya.
KESIMPULAN
1. Bila membran sel saraf dipicu atau diberi rangsangan secara tepat, maka membran sel saraf
akan menglami perubahan potensial secara singkat dan cepat yang dikenal dengan
potensial aksi.
2. Perambatan impuls pada sel saraf terjadi sangat cepat yaitu hanya beberapa detik.
3. Serabut saraf akan bereaksi bila diberi rangsangan listrik
4. Kecepatan rambatan impulse dapat dihambat dengan pemberian alcohol
5. Larutan ringer berfungsi untuk mendukung terciptanya keadaan polarisasi(keadaan
istirahat sel saraf) sebelum diberi rangsang

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, J. B. Reece, L. G dan Mitchell. 2004. Biologi Edisi kelima. Jilid 3. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Ganong WF. 2001. Buku ajar fisiologi kedokteran. Oswari J, editor. Edisi 21. Penerjemah :
Andrianto P. Jakarta : EGC.
Guyton AC, Hall JE. 1997. Buku ajar fisiologi kedokteran. Setiawan I, editor . Edisi 9.
Penerjemah: Setiawan I, Tengadi KA, Santoso A. Jakarta: EGC.
Syamsun, Arfi. 2010. Efek Paparan Arus Listrik terhadap Jumlah Titik Hiperkontraksi Otot
Gastrocnemius dan Kadar Kreatin Kinase Serum Tikus Wistar. Progam Pascasarjana
Magister Ilmu Biomedi Dan Program Pendidikan Dokter Spesialis I Ilmu Kedokteran
Forensik Dan Medikolegal. Semarang:Universitas Diponegoro.
Seeley, R.R., T.D. Stephens, P. Tate. 2003. Essentials of Anatomy and Physiology fourth
edition. McGraw-Hill Companies. New York.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

Biolistrik Pada Sistem Saraf

Disusun Oleh :

Disusun Oleh:
Kelompok 1
Rizki Fauziah

3415110139

Qoyima Kamilah

3415111362

M. Nicova Kresnada

3415111368

Anggi Dyah Aristi

3415111375

Indriya Rahayu

3415111391

PENDIDIKAN BIOLOGI REGULER 2011


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2014