Anda di halaman 1dari 72

RINGKASAN DISERTASI

KEPEMIMPINAN DALAM PANDANGAN KAUM SALAFI

Oleh
Slamet Muliono Redjosari
NIM. FO.1.5.08.13

PROGRAM PASCASARJANA
IAIN SUNAN AMPEL
SURABAYA
2011

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah, merupakan ungkapan yang patut diucapkan atas


selesainya naskah disertasi ini. Penulis menyadari bahwa penyelesaian
disertasi ini tidak terwujud tanpa bantuan berbagai pihak. Oleh karena
itu, penulis

perlu mengucapkan terima kasih yang tak terhingga

kepada :
1. Rektor IAIN Sunan Ampel, Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si., yang
memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengambil
program Doktor ini serta memberikan bantuan, baik berupa izin
belajar dan finansial.
2. Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. H.M. Ridlwan Nasir, M.A.,
yang memberikan peluang kepada penulis untuk studi di
pascasarjana. Tidak lupa para civitas akademika yang telah
memberikan layanan akademik sehingga memudahkan penulis
untuk menyelesaikan studi ini, khususnya bagi para dosen yang
memberikan wawasan akademik, baik secara teoritik maupun
empirik.
3. Dekan Fakultas Ushuluddin, Dr. H. Maksum, M.Ag., yang
memberikan rekomendasi izin belajar di sela-sela tugas kantor,
sebagai ketua laboratorium Politik Islam.
4. Para Penguji kualifikasi (Prof. Dr. H. Husein Aziz M.A. dan
Prof. H. Achmad Jainuri, MA. Ph.D., Prof. Dr. H. Abd Ala,
MA.) yang memberikan kontribusi guna menemukan tema yang
lebih relevan. Demikian pula kepada juga penguji proposal

(Prof. H. Achmad Jainuri, MA, Ph.D., Prof. H. Kacung Marijan,


MA. Ph.D., Prof. Dr. Ahmad Zahro, MA., Prof. Dr. H. A.
Khozin Afandi, MA., Prof. H. Fauzan Saleh, MA. Ph.D., Prof.
Dr. H. Ali Mufrodi, MA., dan Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, MAg.),
yang memberikan kontribusi berharga ketika membantu
menemukan

fokus

penelitian

dari

Demokrasi

Dalam

Pandangan Kaum Salafi menjadi Kepemimpinan Dalam


Pandangan Kaum Salafi. Begitu pula kepada para penguji
tertutup (Prof. H.M. Achmad Jainuri, MA, Ph.D., Prof. H.
Kacung Marijan, MA. Ph.D., Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si.,
Prof. Dr. H.M. Ridlwan Nasir, MA., Prof. Dr. Syamsul Arifin,
M.Si., Prof. H. Thaha Hamim, MA., Ph.D., dan Prof. Dr. H.
Burhan Djamaluddin, MA.) yang memberi masukan guna
penyempurnaan naskah disertasi ini sebelum meniti ujian
terbuka.
5. Dua promotor, Prof. H. Achmad Jainuri, MA., Ph.D. dan Prof.
H. Kacung Marijan, MA., Ph.D tidak bisa dilupakan andilnya.
Mereka berdua begitu sabar, telaten ndandani dan memberi
masukan guna terbentuknya naskah disertasi yang layak dibaca
kalangan akademisi. Dua promotor ini berhasil memberikan sisi
pandang (perspektif) yang kuat terhadap tema yang diteliti,
khususnya dalam membentuk

kerangka besar sampai

penyusunan bagian-bagian terkecil sebelum penulis menggali


data di lapangan.
6. Narasumber dari kaum salafi yang dengan ikhlas meluangkan
waktunya untuk diajak wawancara baik langsung maupun via e-

mail. Mulai dari Ust. Agus Zainal Mustofa (Abu Musab), Ust.
Hartono Ahmad Jaiz, Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdad, Ust.
Ali Musri Semjan Putra, Ust. Abu Ihsan, Ust. Fauzi Athar
Muhiddin, dan Ust. Abdurrahman bin Abdul Karim At-Tamimi.
Dari merekalah penulis memperoleh data primer tentang ajaran
kaum salaf.
7. Kawan-kawan satu kelas program Doktor angkatan 2008, baik
yang sudah mengawali ujian terbuka (Saudara KH. Farid
Jombang), maupun yang

mau akan ujian tertutup (Saudara

Mukhlis dan Fawaiz dari STAIN Mataram, Yayuk Jember,


maupun bagi mereka yang belum sama sekali menyentuh
jenjang ujian kualifikasi karena asyik dengan dunianya sendiri.
Merekalah yang memberikan semangat kepada penulis untuk
bisa segera menyelesaikan disertasi ini.
8. Teman-teman sejawat Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ali
bin Abi Thalib Surabaya yang begitu besar sumbangannya
dalam menghantarkan penulis, mulai dari memperkenalkan
dengan para narasumber ketika akan menggali data, hingga
memberikan support guna selesainya disertasi ini.
Tanpa keberadaan mereka, mungkin sulit bisa munculnya
naskah ini. Semoga Allah membalas segala amal kebaikan mereka
semua.
Surabaya, 18 Juni 2011
Penulis,
Slamet Muliono Redjosari
4

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN


Arab

Indonesia

Arab

Indonesia

t}

z}

th

gh

h}

kh

dh

sh

s}

d}

Sumber : Kate L. Turabian, A Manual of Writers of Term Paper, Theses, and Disertations
(Chicago and London: The University of Chicago Press, 1987)

Untuk menunjukkan bunyi panjang (madd) dengan cara menuliskan tanda


coretan di atas a>, i>, dan u> (, , , , ). Bunyi hidup dobel (diftong) Arab
ditransliterasikan dengan menggabung dua huruf ay dan au seperti layyinah,
lawwamah. Untuk kata yang berakhiran ta marbutah dan berfungsi sebagaai
sifat (modifier) atau mudaf ilayh ditransliterasikan dengan ah, sedang yang
berfungsi sebagai mudaf ditransliterasikan dengan at

ABSTRAK
Judul
: Kepemimpinan dalam Pandangan Kaum Salafi
Penulis
: Slamet Muliono Redjosari.
Promotor : Prof. Achmad Jainuri MA. Ph.D., Prof. Kacung Marijan MA. Ph.D.
Kata Kunci : Kepemimpinan, salafi, demokrasi, ahl al-Ha>lli wa al-Aqd,

Penelitian ini adalah sebuah kajian kepemimpinan dalam pandangan kaum


Salafi. Ada beragam tanggapan gerakan Islam terhadap sistem demokrasi dalam
pemilihan

pemimpin yang memunculkan pertanyaan apakah Islam mengatur

prinsip dan mekanisme dalam pemilihan pemimpin. Dalam perspektif Islam,


seorang pemimpin harus mempunyai tanggungjawab tidak hanya pada kehidupan
di dunia namum juga pada kehidupan di akherat. Tanggungjawab seorang
pemimpin pada akherat dapat dilihat dari caranya menjaga dan menegakkan
keberadaan agama. Oleh karena itu kekosongan pemimpin dalam sebuah negara
dapat dianggap sebagai masalah besar terhadap keberadaan agama. Selanjutnya
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pandangan kaum salafi terhadap
prinsip dan prosedur dalam pemilihan pemimpin.
Dalam penelitian ini, untuk mengetahui pandangan kaum salafi terhadap
prinsip dan prosedur dalam pemilihan pemimpin menggunakan metode
deskriptifkualitatif dan metode interpretatif, dan semua data diambil melalui
pengamatan dan wawancara mendalam (depth interview). Kemudian semua data
dianalisis dengan menggunakan metode interpretatif. Selanjutnya, hasil analisis
tersebut dapat disimpulkan bahwa kaum Salafi memiliki prinsip dan prosedur
baku dalam pemilihan pemimpin, sebagaimana telah dilakukan oleh tiga generasi
Islam pertama. Mekanisme pemilihan pemimpin dilakukan dengan beberapa opsi.
Pertama, mekanisme penunjukan dengan menggunakan isyarat, yang demikian itu
seperti pemilihan Abu Bakar yang dilakukan oleh Nabi Muhammad. Kedua,
mekanisme penunjukan secara langsung, yang demikian itu seperti pemilihan
Umar bin Khat{t{ab yang dilakukan oleh Abu Bakar. Ketiga, mekanisme dengan
membentuk Ahl al Halli wa al-Aqdi, mekanisme yang demikian itu seperti
pemilihan Utsman Bin Affa>n yang dilakukan oleh Umar bin Khat{t{ab. Keempat,

mekanisme turun-temurun, Mekanisme yang demikian itu seperti pemilihan


Muawiyah bin Abu Sufyan. Namun demikian, opsi yang ketiga bagi pandangan
kaum Salafi diakui sebagai mekanisme paling ideal untuk pemilihan pemimpin.
Kerangka James Wood dan Herbert Blummer dapat digunakan untuk
mengetahui proses lahirnya gerakan melalui lima tahapan, yaitu agitasi,
pengembangan esprit de corp, pengembangan moral gerakan, pembentukan
ideologi, dan pengembangan taktik-taktik operasional. Kerangka ini dapat
digunakan

untuk memperlihatkan

gerakan

kaum

Salafi

ketika

sedang

menyebarkan ideologi agamanya. Kemudian, teori tindakan social dari Weber


dapat digunakan untuk memperlihatkan tindakan sosial sebagai sebuah
perwujudan kesadaran untuk menerapkan sebuah nilai yang dianggap mutlak.
Dalam hal ini, kaum salafi ingin mewujudkan suatu prinsip dan prosedur
dalam pemilihan pemimpin dengan mengacu pada nilai dan cara yang dilakukan
dari para pendahulu generasi Islam. Selanjutnya, pendekatan ideologi dan utopia
dari Karl Mannheim dapat digunakan untuk memperlihatkan bahwa ada suatu
gerakan. Ideologi tersebut dapat digunakan untuk memotret

gerakan yang

memproyeksikan masa depan yang berdasarkan pada sistem yang berlaku. Di


samping

itu,

Utopia

dapat digunakan untuk memotret

gerakan

yang

memproyeksikan masa depan yang berdasarkan pada sistim yang lain. Hal ini
untuk memperlihatkan pandangan kaum salafi yang lebih dekat dengan pandangan
Utopis karena ingin mewujudkan adanya nilai yang bertolak belakang dengan
realitas empirik.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa kaum salafi memiliki pandangan
bahwa Islam telah menempatkan pemimpin pada posisi yang sangat penting untuk
mewujudkan tegaknya agama. Oleh karena itu, ketaatan kepada pemimpin
merupakan kewajiban selama kebijaksanaan pemimpin tersebut seiring sejalan
dengan Al Quran dan Sunnah. Kaum Salafi memandang bahwa Islam telah
mengatur tugas dan kewajiban pemimpin itu dengan menerapkan prinsip dan
mekanismenya.

ABSTRACT
Title

: Leadership in the Notion of Salafy Community

Writer

: Slamet Muliono Redjosari.

Promotor

: Prof. Achmad Jainuri MA. Ph.D., Prof. Kacung Marijan MA. Ph.D.

Key Words: Leadership, salafy, democracy, ahl al-Halli wa al- Aqd.

This research is a study of leadership in the notion of salafi community.


There are many varieties of Islamic movement responses toward democracy
system in electing a leader which emerges a question whether Islam administers a
principle and a mechanism in electing a leader. In the Islamic prespective, a leader
should have responsibility not only for the dimension of the wordly but also for
the world hereafter lives. The resposibility of a leader for the world hereafter can
be seen in the way he keeps to guard the existence of religion. Therefore, the
emptiness of leader in any state would be considered as a big problem toward the
existence of religion. Moreover, the objective of this research is that to find out
the notion of salafi community toward the principle and mechanism in electing a
leader.
In this research, in order to find out the notion of salafi community toward the
principle and mechanism in electing a leader, a qualitative-discriptive reseach and
interpretative method are used, and all data are taken through observasion and
depth interview. Then, they are analysed by using interpretative method and
described qualitatively. Afterward, the result of the analysis can be concluded that
salafi community has full-fledged principle and mechanism in electing a leader
such as having been practiced by the first of three generations of Islam. The
mechanism of electing a leader is applied by some options. Firstly, pointing out
with gesture such as electing Abu Bakar that done by the Prophet, Muhammad.
Secondly, pointing out directly such as electing Umar Ibn Khaththab that done by
Abu Bakar. Thirdly, Ahl al-Halli wa al-Aqdi building such as electing Utsman Ibn
Affa>n that done by Umar Ibn Khat{t{ab. Fourthly, hereditary mechanism such as

electing Muawiyah Ibn Abi Sufya>n. However, the third option for the notion of
salafi community is recognized as the most ideal mechanism for electing a leader.
The frameworks of James Wood and Herbert Blummer can be used to know
the presence process of movement through five steps, that is agitation, developing
esprit de corps, developing moral of movement, ideology building, and
developing operational tactics. This framework can be used to show the
movement of salafi community when there is spreading its religious ideology.
Then, the social action theory of Weber can be used to show the sosial action as
an existence of awareness to apply a value which is considered absolute.
In this case, the salafi community wants to realize a principle and a
mechanism in electing a leader by refering to the value and the practical way of
the earlier of Islam generations. Afterward, the approach to ideology and utopia of
Karl Mannheim can be used to show that there is a movement. The ideology can
be used to picture a movement that projects the future based on the system that
being in forced. Besides, Utopia can be used to picture a movement that projects
the future based on another system. It is to show the notion of salafi community
that is closer with the notion of utopis in order to realize that there are many
values contrast with the empirical reality.
The result of this research shows that the salafi community has a notion that
Islam has put a leader on a very important position to realize the establishment of
the religion. Therefore, in obedience to a leader is necessary as long as the policy
of the leader on the same way with Al-Quran and Sunnah. The salafi community
notices that Islam has administered duty and obligation for the leader by drawing
up its principle and mechanism.

: . .

: . .
:
.





.
) (Interpretative Method
.

.

:


:


.
)(James Wood
) (Herbert Blummer
10

) (esprit de corps
.

) (Weber
.

.
) (Karl Manheim
.

.
:
.

.

11

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penelitian

terhadap

pandangan

kaum

salafi

tentang

kepemimpinan diilhami oleh beragamnya respon gerakan (dakwah)


Islam terhadap proses pemilihan pemimpin yang mengadopsi sistem
demokrasi. Pada saat yang sama Islam dipercayai memiliki konsep
dan mekanisme sendiri dalam menentukan pemimpin karena Islam
adalah agama terbaik yang meliputi semua (all-encompassing
religion) yang bukan saja mengurusi persoalan-persoalan dunia saja
tetapi juga akhirat.1 Konsep Islam itu dianggap lebih baik dan
terjamin untuk melahirkan pemimpin yang sesuai dan bertanggung
jawab, baik untuk kepentingan negara dan bangsa, maupun agama
Islam itu sendiri.
Eksistensi kepemimpinan dalam Islam merupakan sebuah
keharusan, sehingga kekosongan pemimpin dalam sebuah negara,
meski sesaat, memiliki dampak yang begitu besar, bahkan Nabi
1

Masdar Hilmy, Teologi Perlawanan, Islamisme dan Diskursus


Demokrasi di Indonesia Pasca Orde Baru (Yogyakarta: Impulse-Kanisius, 2009).
34.

12

Muhammad ketika meninggal tidak segera dikebumikan lantaran


belum terpilihnya pengganti beliau.2
Pilihan terhadap kaum salafi didasarkan, di antaranya karena
kaum salafi berkembang masif dalam berdakwah. Artinya gerakan
dakwah yang mereka lakukan berkembang dan bergerak di berbagai
belahan daerah dan lapisan masyarakat, bahkan menjadi gerakan
global.3
Kaum salafi begitu selektif terhadap kultur yang berkembang
di masyarakat guna mewujudkan tatanan yang mereka diinginkan.
Meski tergolong kelompok fundamentalis, karena mengajak kembali
kepada ajaran agama yang fundamental, kaum salafi berbeda dengan
gerakan-gerakan dakwah yang lain. Kalau Hizbut Tahrir oleh
Syamsul Arifin ditipologikan sebagai kelompok fundamentalis
organik karena mendudukkan Islam sebagai ideologi gerakannya,4

Muhammad Husain Haekal, Usman bin Affan, antara Kekhalifahan


dengan Kerajaan, terj. Ali Audah (Bogor: Litera AntarNusa, 2007), 15.
3

Roel Meijer, Global Salafism, Islams New Religious Movement (London:


Hurst and Company), 2009.
4

Syamsul Arifin, Obyektivikasi Agama sebagai Ideologi Gerakan Sosial


Kelompok Fundamentalis Islam (Studi Kasus Hizbut Tahrir Indonesia di kota
Malang) (Disertasi, IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2004), 56.

13

maka kaum salafi termasuk neo-tradisionalisme karena mengajak


kembali kepada kemurnian ajaran5
Hal yang berbeda dari kaum salafi di antaranya. Pertama,
mereka taat terhadap pemerintah dan tidak pernah melakukan kritik
secara terbuka terhadapnya, baik melalui media massa, buletin,
majalah, buku-buku yang mereka terbitkan, atau bahkan di mimbar
atau khutbah-khutbah mereka.6
Kedua, tidak memiliki organisasi layaknya organisasi umum,
seperti struktur organisasi dan keanggotaan yang jelas. Ketiga,
pemahaman Islam yang benar, merujuk pada pemahaman tiga
generasi pertama, sahabat, ta>biin, dan ta>biut ta>biin.7 Keempat,
melakukan pemurnian Islam dan melawan berbagai praktek baru

William E. Shepard, Islam and Ideology : Towards a Typology, dalam


An Anthology of Contemporary Middle Eastern History, (Syafiq Mughni Ed.)
(Montreal: Canadian International Development Agency, 1988), 410-411.
6
Abdurrahman bin Thayyib, Menepis Tuduhan, Membela Tuduhan,
Majalah Adz-Dzakhiiroh al-Islamiyyah, Edisi 15 tahun III, Rajab 1426/Agustus
2005, 19 lihat juga Abdurrahman Hadi, Genggamlah Sunnah, Taati Penguasa,
(terj. Risalah Syaikh Masyhur Hasan Salman, Ad-Dakwah ila Allah baina alwahy wa al-Fikr), dalam Adz-Dzakhiiroh al-Islamiyyah, Vol. 6 no 9 edisi 41
1429.
7
Yazid Bin Abdul Qadir Jawwaz, Syarah Aqidah Ahlussunnah Wal
Jamaah (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafii, 2006), 34.

14

dalam agama (bidah).8 Kelima, munculnya penerbit-penerbit yang


ber-manhaj salaf di berbagai daerah, kota dengan berbagai komunitas
yang mengajak untuk berpegang pada pemahaman para salaf alshalih. Keenam, materi kajian yang menekankan pada tauhid.
Ketujuh, melakukan tas}fiyah dan tarbiyah. Tas}fiyah adalah sebuah
proses pembersihan ajaran Islam dari berbagai nilai yang tidak
bersumber dari Islam. Tarbiyah adalah sebuah proses pendidikan
terhadap umat dengan ajaran Islam yang telah mengalami proses
tas}fiyah.9 Kedelapan, tidak mudah dalam mengkafirkan individu,
kelompok, apalagi pemerintah, yang melakukan kesalahan atau dosa
besar. Kesembilan, menunjukkan gejala pertumbuhan yang besar,
global dan terfragmentasi. 10 Kesepuluh, adanya pertemuan para
penyeru (dai) salafi secara berkala dengan mendatangkan masya>yikh
dari Timur Tengah.11

Asy-Shaikh Abdullah bin Shalih Al-Ubailan, Pelajaran tentang Manhaj


Salaf (terj.), Adz-Dzakhiiroh al-Islamiyyah, edisi tahun 1 no 05 1424/2003.
9
Abdul Malik Ramadhani, 6 Pilar Dakwah Salafiyah (Jakarta: Pustaka
Imam Asy-Syafii, 2000), 84.
10
Terje Ostebo, Growth and fragmentation : The Salafi Movement In
Bale, Ethiopia, dalam Roel Meijer, Global Salafism, Islams New Religious
Movement (London: Hurst and Company), 2009), 354-361.
11
Ketika penelitian ini dilakukan, para dai salafi berkumpul untuk
melakukan pelatihan (daurah) ke sepuluh di Trawas, Jawa Timur, mulai tanggal
10-16 Oktober 2009.

15

Dalam memilih pemimpin, kaum salafi berbeda dengan apa


yang dilakukan oleh gerakan-gerakan dakwah yang lain. Pandangan
kaum salafi lebih banyak memiliki kemiripan dengan pendapat AlMawardi dalam menentukan seorang pemimpin. Al-Mawardi12
mengatakan bahwa untuk melahirkan seorang pemimpin, dibutuhkan
dua komponen, yakni dewan pemilih dengan persyaratannya, dan
dewan ima>m dengan segala kriterianya. Dewan Pemilih bertugas
memilih ima>m (khali>fah) bagi umat. Dewan ima>m yang bertugas
mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ima>m (khali>fah).13
Al-Mawardi
sekaligus

menunjukkan

persyaratan

baginya.

prosedur

memilih

pemimpin

Prosedur

memilih

pemimpin,

menggunakan dua cara. Pertama, Ahl al-ha>lli wa al-Aqdi (parlemen).


12

Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, Hukum-hukum Penyelenggaraan


Negara dalam Syariat Islam, terj. Fadli Bahri (Jakarta: Darul Falah, 2006), 6
13

Kriteria Dewan Pemilih setidaknya ada tiga : Pertama, Adil dengan segala
syarat-syaratnya. Kedua, ilmu yang membuatnya mampu mengetahui siapa yang berhak
menjadi imam sesuai dengan kriteria-kriteria yang legal. Ketiga, wawasan dan sikap
bijaksana yang membuatnya mampu memilih siapa yang paling tepat menjadi imam dan
paling efektif, serta paling ahli dalam mengelola semua kepentingan. Adapun Kriteria
Dewan Imam, setidaknya ada tujuh : Pertama, Adil dengan segala syarat-syarat yang
universal. Kedua, ilmu yang membuatnya mampu berijtihad terhadap kasus-kasus dan
hukum-hukum. Ketiga, sehat inderawi (telinga, mata, dan mulut) yang dengannya ia
mampu menangani langsung permasalahan yang telah diketahuinya. Keempat, sehat
organ tubuh cacat yang menghalanginya bertindak dengan sempurna dan cepat. Kelima,
wawasan yang membuatnya mampu memimpin rakyat dan mengelola semua
kepentingan. Keenam, berani dan kesatria yang membuatnya maampu melindungi
wilayah negara, dan melawan musuh. Ketujuh, nasab, yakni berasal dari Quraisy
berdasarkan nash-nash yang asa dan ijma para ulama.

16

Kedua, penunjukan oleh ima>m (khali>fah) sebelumnya. Sebelum


memilih pemimpin, Ahl al-ha<lli wa al-Aqdi (parlemen) mengadakan
sidang untuk memilih ima>m (khalifah). Mereka harus mempelajari
data pribadi orang-orang yang memiliki kriteria-kriteria ima>>mah
(kepemimpinan). Kemudian mereka memilih siapa di antara orangorang tersebut yang paling banyak kelebihannya, paling lengkap
memenuhi kriteria, paling ditaati rakyat, dan mereka tidak menolak
baiatnya.
Dalam tradisi Islam, sebagaimana yang dianut oleh kalangan
fundamentalis, ada beberapa model dalam menentukan seorang
pemimpin.14 Pertama, menunjuknya secara tidak langsung, dengan
menunjukkan beberapa kriteria atau isyarat, sebagaimana yang
dilakukan Nabi ketika terpilihnya Abu Bakar As}-s}iddiq. Kedua,
penunjukan kepada seseorang yang

dianggap mampu untuk

memimpin, sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar As}-siddiq


ketika menunjuk Umar bin Khath<thab sebagai khalifah pengganti
dirinya. Ketiga, menetapkan beberapa orang yang dianggap
mempunyai kriteria dan kemampuan untuk menentukan seorang

14

Muhammad Husain Haekal, Usman bin Affan, antara .. 75-80.

17

pemimpin, sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khat}t}ab saat


terpilihnya Uthman bin Affa>n dan Ali bin Abi Tha>lib dengan
menetapkan Ahl al-ha>lli wa al-Aqdi. Keempat, mewariskan kepada
keluarga dan keturunannya secara turun temurun, sebagaimana dalam
sistem kerajaan. Hal ini merujuk pada Hadith Nabi :
Allah menjadikan masa kenabian (Nubuwwah) untuk kalian
sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian Allah menghapuskannya
sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian setelahnya akan muncul
khila>fah yang yang berpedoman pada metode (manhaj) kenabian
sesuai dengan kehendak-Nya. Kemudian menghapuskannya sesuai
dengan kehendak-Nya. Setelah itu muncul kerajaan yang d}alim sesuai
dengan masa yang dikehendakiNya kemudian berganti sesuai dengan
kehendak-Nya. Kemudian setelah itu, muncul raja yang kejam
(diktator) sesuai yang dikehendakiNya lalu dihapuskan sesuai dengan
kehendak-Nya. Kemudian setelah itu muncul khila>fah sesuai dengan
manhaj nubuwwah, kemudian Beliau diam.15

Artinya, kaum salafi berpandangan bahwa perputaran sejarah


bentuk pemerintahan mulai dari cetak biru kenabiaan (nubuwwah)
sebagaimana yang dijalankan para khali>fah empat dalam sejarah
Islam,16 kemudian berganti menjadi bentuk kerajaan yang kuat dan

15

Al-Ima>m al-Haithami, Majma al-Zawa>id wa Manba al-Fawa>id Juz 5, 188 atau


Musnad Ahmad: 4/273).
16

Dari sahabat Safinah bahwa Rasulullah bersabda: Khila>fah pada umatku


selama 30 tahun. Kemudian kerajaan. Setelah itu, Safinah berkata: Berpeganglah kalian

18

memerintah dengan keadilan, kemudian muncul varian kerajaan yang


saling berebut kekuasaan, hingga muncul kerajaan yang amat kejam,
sombong serta diktator yang memeras dan menindas rakyatnya.
Kemudian setelah itu kembali lagi menjadi bentuk pemerintahan
yang berdasarkan kenabian (nubuwwah).17
Dalam

perkembangannya,

muncul

mekanisme

memilih

pemimpin dengan sistem demokrasi, dan hal itu diterapkan di


berbagai belahan dunia, khususnya negara-negara yang mayoritas
penduduknya muslim. Demokrasi merupakan mekanisme memilih
pemimpin yang melibatkan seluruh rakyat dengan memberikan
suaranya secara jujur, adil, bebas dan rahasia. Paling tidak demokrasi
telah menjadi pilihan masyarakat modern, khususnya di dunia Islam
yang telah memiliki empat eksemplar terdahulu.
Ada hal yang paradoks dalam diri kaum salafi ketika memilih
dan menentukan seorang pemimpin. Di satu sisi, mereka menolak
pada kekhalifahan Abu Bakar. Kemudian dia berkata, dan juga khila>fah Umar dan
Uthman. Kemudian berkata padaku: peganglah khila>fah Ali. Safinah berkata: Dan kami
mendapati (khila>fah) ini tiga puluh tahun (HR. Imam Ahmad, dan dihasankan oleh
Shaikh Al-Arnaut). Fatwa 36.833 tentang penjelasan hadith tersebut, 5 Rajab 1424 H.
dari markaz fatwa dengan Pembina Abdullah al-Faqih.
17

Mula Ali Al-Qori>, Mirqa>t al-Mafa>ti>h, Ayarah Mishkah Al-Mas}a>bi>h. Juz 15,
330. http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=155508. Diakses 8 Pebruari
2010.

19

prinsip dan nilai demokrasi, juga tidak sepakat dengan mekanisme


dan prakteknya, dan mereka mengambil keputusan untuk tidak
terlibat dalam proses demokrasi, namun, di sisi yang lain, mereka
menerima pemimpin yang dihasilkan oleh proses demokrasi itu.
Setidaknya ada tiga respon dari gerakan-gerakan fundamentalis
Islam terhadap demokrasi. Pertama, tidak sepakat dengan sumber,
nilai, dan prinsip demokrasi. Begitu pula prosedur dan lembaga yang
dipergunakan untuk menghasilkan seorang pemimpin. Tipe pertama
ini bersikeras tidak terlibat dalam proses politik itu, dan bahkan
senantiasa mengkritik sistem tersebut sebagai sistem dari Barat yang
kafir. Hal ini sebagaimana dipresentasikan oleh NII, MMI dan HTI.
Kedua, tidak sepakat dengan sumber, nilai, dan prinsip demokrasi
namun setuju dengan prosedur demokrasi, serta dan lembaga yang
dipergunakan untuk menghasilkan seorang pemimpin, sehingga
mereka terlibat dalam proses itu dengan harapan akan mewarnai
sistem itu dari dalam dengan nilai-nilai Islam. Hal ini sebagaimana
dipresentasikan oleh pengikut gerakan Tarbiyah, yang kemudian
menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang sebelumnya bernama
Partai Keadilan (PK). Ketiga, tidak sepakat dengan sumber, nilai, dan

20

prinsip demokrasi, serta prosedur dan lembaga yang dipergunakan


untuk menghasilkan seorang pemimpin, dan memutuskan tidak
mengikuti semua proses itu. Namun mereka menerima secara bulat
apapun hasilnya dari proses demokrasi ini.
Tipologi ketiga inilah yang dipilih oleh kaum salafi. Hal ini
berkaitan dengan konsep ketaatan terhadap pemimpin, yang mana
rakyat harus taat dan tidak mengadakan pemberontakan terhadap
pemimpin, dan mengikuti apa yang menjadi kebijakannya selama
tidak bertentangan dengan shariat. 18
Pilihan terhadap kaum salafi, di samping mereka dianggap
memiliki pandangan yang khas terhadap kepemimpinan, yang
berbeda dengan gerakan dakwah yang lain, sehingga secara akademik
layak dikaji secara mendalam bagaimana prinsip dan prosedur
memilih pemimpin.
B. Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian
Rumusan masalah penelitian disertasi ini adalah : Bagaimana
pandangan kaum salafi tentang prinsip-prinsip dan prosedur memilih
pemimpin ?
18

Abdussalam bin Barjas al-Abdul Karim, Etika Mengkritik Penguasa (Terj. Zainuddin
MZ) (Surabaya: Pustaka As-Sunnah, 2002), 54.

21

Penelitian

disertasi

ini

bertujuan

untuk

mengungkap

bagaimana pandangan kaum salafi tentang prinsip-prinsip dan


prosedur pemimpin
C. Kerangka Teoritik
Kalau merujuk pada pandangan James Wood,19 kaum salafi
bisa dikategorikan sebagai gerakan sosial (social movement), karena
memiliki sebuah ideologi yang ingin dikembangkan dalam wadah
tertentu, dengan melakukan sebuah transformasi nilai yang ditujukan
kepada orang lain.
Untuk lebih melihat perkembangan ideologi kaum salafi,
menarik untuk menggunakan pandangan Herbert Blummer. Blummer
menyatakan bahwa setiap gerakan memiliki empat tahapan. Tahap
kekacauan sosial, tahap kegembiraan populer, formalisasi, dan
institusionalisasi

(pelembagaan).20

Blummer

kemudian

mengembangkannya dengan melihat lima aspek penting dalam setiap


gerakan, yakni agitasi, pengembangan esprit de corps, pengembangan

19

James Wood, Social Movement (USA: McGraw Hill Book Company, 1977), 45
Herbert Blummer, Social Movement dalam Alfred MCClung Lee, (ed.), Principles of
sociology (New York: Barnes and Nobles, Inc. 1966), 202.
20

22

moral gerakan, pembentukan ideologi, dan pengembangan taktik


operasi.21
Kaum

salafi

dalam

menyebarkan

dakwahnya

bisa

dikategorikan sebagai gerakan yang selektif terhadap kultur di


masyarakat, dan memiliki orientasi high politics dengan penekanan
pada etika-moral yang merujuk pada landasan utama Islam, yakni AlQuran dan Al-Hadith (Al-Sunnah) yang sesuai dengan pemahaman
tiga generasi utama umat ini. Kalau dalam perspektif politik, bahwa
proses mempengaruhi dan melakukan kontrol terhadap sumber
kekuasaan dan otoritas melibatkan kompetisi dan bahkan konflik. 22
Kaum salafi menentukan jalur persuasif guna menginginkan tatanan
yang Islami tanpa mengambil jalur politik formal.
Kaum salafi, kalau menggunakan konsep Weber dalam
orientasi tindakan, dikategorikan sebagai kelompok yang berorientasi
nilai absolut. Artinya, tindakan sosial dilakukan untuk merefleksikan
dan mengaplikasikan nilai yang dianggap absolut. 23 Atau dengan kata

21

Ibid. 204.
George A. Theodorson and Achilles G. Theodorson, A Modern Dictionary of
Sociology (New York: Barnes and Noble Books, 1979), 303.
23
Graham Charles Kinloch, Sociological Theory, Its development and Major Paradigms
(McGraw Hill Book Company, 1977), 139.
22

23

lain tindakan sosial itu sebagai wujud kesadaran untuk menerapkan


nilai guna mencapai kesuksesan atau kebahagiaan hidup.24
Tindakan yang dilakukan oleh kaum salafi merupakan refleksi
atas nilai-nilai Islam yang dipercayai bisa mendatangkan kebahagiaan
dan kesuksesan, dan nilai-nilai itu merupakan bagian dari nilai-nilai
kehidupan yang harus dijalankan oleh umat Islam.
D. Studi-Studi Terdahulu
Studi tentang kaum salafi telah dilakukan dengan fokus dan
konsentrasi yang berbeda-beda. Hal itu bisa digambarkan dengan
pemetaan sebagaimana tabel berikut :
Tabel 1
Peta studi tentang Kaum Salafi

Penulis dan Judul


William E. Shepard, Islam and
Ideology
:
Towards
a
Typology,
dalam
An
Anthology of Contemporary
Middle Eastern History, Syafiq
Mughni
Ed.),
Montreal:
Canadian
International
Development Agency, 1988
24

Tesis / teori / tipologi


Mengklasifikasi gerakan Islam ke
dalam lima tipologi. Kaum salafi
termasuk
kelompok
neotradisional yang hidup di era
modern dengan memegang teguh
tradisi Islam, namun menerima
pentingnya produk teknologi yang
dihasilkan Barat seraya mengkaji

George Ritzer, Sociological Theory (USA: McGraw Hill Book Companies INC, 1996),

125.

24

Quintan Wictorowicz, The


Salafi Movement in Jordan,
International Journal of Middle
East Studies, 32 (United States
of America, 2000)
Quintan Wictorowicz, The
New
Global
Threat
:
Transnasional Salafis and
Jihad, United States of
America Middle East Policy,
Vol. VIII, No 4, December ,
2001

secara kritis segala produk


pemikirannya dari Barat.
Perkembangan kaum salafi yang
menghindari cara-cara formal
dalam
membentuk
dan
mengembangkan jaringan sosial.
Tipologi salafi terbagi menjadi
dua, kelompok salafi jihadi dan
merupakan ancaman global, dan
kelompok salafi, dan bukan
merupakan ancaman dalam arti
gerakannya yang moderat.

Kaum salafi, yang dipresentasikan


Laskar Jihad, termasuk gerakan
radikal ketika menggagas dan
menyebarkan serta terjun langsung
dalam aksi radikal fisik di Ambon.
Meski pada akhirnya dia dianggap
telah keluar dari norma-norma
yang ditetapkan oleh kaum salafi.
Zaki Mubarok, Genealogi Kaum salafi termasuk satu di
Gerakan
Radikal
Islam antara sekian banyak gerakan
Indonesia, (Jakarta: LP3ES, radikal itu yang dikhawatirkan
mengganggu proses demokrasi
2003)
Din Wahid dkk, Laskar Jihad
dan
gerakan
Politik
di
Indonesia, (Jakarta: LP3ES,
2002)

Kaum salafi merupakan gerakan


Islam yang menolak tindakan
kekerasan dalam mentransformasi
ajaran Islam secara personal,
pemurnian, dan disiplin pribadi
untuk melaksanakan ajaran Islam
ini sehingga akan terbentuk
Negara Islam yang murni.
Thomas Eich, The Forgotten Pengaruh kaum salafi di Istambul
Salafi : Abu Al-Huda As- yang menginginkan permurnian
Sayyadi, ( USA: BRILL, New Islam dari berbagai bidah yang
melanda umat Islam,
Febe Armanios, The Islamic
Traditions of Wahhabism and
Salafiyya, CRS Report for
Congress, December, 22, 2003

25

Series, Vol. 43 I, 2003)


Riza Sihbudi, Gerakan Islam Kaum salafi termasuk kategori
Radikal Di Indonesia, (Jakarta: gerakan radikal, namun radikal
dari sisi pemikiran, bukan dalam
LIPI, 2004)
arti dan konteks kekerasan fisik.
Sidney
Jones,
Indonesia Perbedaan mendasar antara salafi
Backgrounder: Why Salafism dengan terorisme, sehingga kedua
and Terrorism mostly dont kelompok ini begitu berbeda dan
mix, ICG Asia Report N83, tidak bisa bersatu
Southeast Asia/Brussels,
September 2004

13

Quintan
Wictorowicz,
A
Genealogy Of Radical Islam,
Studies in
Conlict and
Terrorism, Vol. 28, 2005,
Taylor and francis Inc.

Kaum salafi merupakan gerakan


yang menginginkan pemurnian
Islam dengan merujuk pada
pemahaman generasi sahabat
sebagai sumber yang asli

Majid Fakhry, The Theocratic


Idea Of The Islamic State In
Recent
Controversies,
International Affairs (Royal
Institute
of
International
Affairs) vol 30, No. 4, 2005

Perdebatan antara kelompok yang


ingin mengembalikan kejayaan
Islam dengan merujuk pada
praktek keagamaan para salaf, dan
kelompok yang ingin menunjukkan
Islam bisa beradaptasi dengan
dunia modern dengan mengadopsi
pemikiran modern.
Kaum salafi merupakan kelompok
revivalis Islam sebagai hasil
transmisi dari Timur Tengah yang
mengarah pada gerakan radikal.

Imdadun Rahmat, Arus Baru


Islam
Radikal,
Transmisi
Revivalisme
Islam
Timur
Tengah ke Indonesia, (Jakarta:
Erlangga, 2005)
Kumar
Ramakrishma,
Delegitimizing Global Jihadi in
The
Southeast
Asia
Contemporary, Southeast Asia
27 no. 3(2005)

Bahaya gerakan radikal dan


memperkecil gerakannya dengan
mendelegitimasi gerakannnya di
seluruh dunia

Andrzej Kapiszewski, Saudi Ideologi kaum salafi memiliki


Arabia
:
Steps
toward watak otokratik, dan bahkan
otoritarian.
Seperti
Democratization
or termasuk

26

Reconfiguration
of
Authoritarianism, Journal of
Asian and African Studies,
2005,
Martha Brill Olcott, The Root
of Radical Islam In Central
Asia, Carnegie Endowment For
International
Peace,
Massachusetts,
Washington
DC, 2006
Saiful Umam, Radical Muslims
in Indonesia : The Case of
Jafar Umar Thalib and The
Laskar Jihad, Explorations in
Southest Asian Studies, Vol. 6,
No 1, Spring, 2006
Juan Jose Escobar Stemmann,
Middle
East
Salafisms
Influence
dan
the
Radicalization of
Muslim
Communities
in
Europe,
MERIA, The Middle East
Review
of
International
Affairs, Volume 10, No. 3,
Article I/10, , September 2006

negara melarang partai politik,


mogok atau demonstrasi, dan
bahkan kebebasan berekspresi,
kritis
terhadap
pemerintah,
demonstrasi massa.
Pengaruh kaum salafi dalam
masyarakat
Uzbekistan
yang
menekankan pentingnya identitas
seorang muslim dengan belajar dan
menerapkan perintah agama dalam
kehidupan sehari-hari.
Laskar
Jihadnya
merupakan
eksemplar tokoh yang berjuang
dan menegakkan ideologi Islam,
yang dikategorikan sebagai Islam
radikal, yang sepak terjangnya
dipengaruhi oleh ideologi kaum
salafi.
Kaum salafi memfokuskan pada
upaya
mendidik
masyarakat
dengan ajaran Islam yang benar,
dan tidak mengambil jalur politik.
Prinsip kaum salafi adalah apolitik dan menolak kekerasan

Kaum
salafi
disebut
NeoTradisional salafi, yang merujuk
pada kelompok yang berpegang
teguh pada Al-Quran dan Hadits
sebagaimana yang dipegang oleh
generasi yang shalih dan utama,
berhadapan dengan kelompok yang
mengedepankan
dialog
dan
menghilangkan sikap a-pologetik
terhadap Islam
Van Bruinessen, Genealogies Kemunculan kelompok muslim
Adis Duderija, Islamic Groups
and Their World-views and
Identities : Neo-Traditional
Salafis
and
Progressive
Muslims, Arab Law Quarterly
21, (2007)

27

of Islamic radicalism in Post- radikal di Indonesia merupakan


Suharto Indonesia, South East fenomena
baru
yang
Asia Research, 10, 2, 117-154 membahayakan Islam Indonesia.
Mereka muncul bukan karena
dinamika internal mereka, tetapi
lebih banyak karena disponsori
oleh dana asing.
Islam
yang
Giora Eliraz, Islam and Polity Gerakan-gerakan
Indonesia : An Intriguing Case muncul dilatari oleh semangat
Study, Research Monographs untuk menerapkan syariat Islam di
namun
banyak
On the Muslim World, Indonesia,
(Washington:
.Hudson menemui kegagalan karena factor
Institute, Series No. 1, Paper budaya yang menolak tidakan
kekerasan
No. 5, Pebruary 2007
Kasinyo
Harto,
Islam
Fundamentalis di Perguruan
Tinggi Umum, Kasus Gerakan
Keagamaan
Mahasiswa
Universitas
Sriwijaya
Palembang, (Jakarta: Badan
Litbang dan Diklat Depag. RI,
2008)

Haidlor Ali Ahmad, Aliran


Salafi
di
Kota
Batam
Kepulauan Riau, dalam Fahamfaham Keagamaan Aktual
Dalam Komunitas Masyarakat
Islam, Kristen, Hindu di
Indonesia, Jakarta: Badan
Litbang dan Diklat Depag. RI,
2008
Syuhada Abduh, Aliran Salafi
di Kota Lombok Tengah Nusa
Tenggara Barat, dalam Fahamfaham Keagamaan Aktual

Kaum
salafi
bercorak
fundamentalis-literal
dan
merupakan resistensi terhadap
aliran pemikiran keagamaan yang
cenderung menafsirkan teks-teks
keagamaan secara elastis dan
fleksibel untuk menyesuaikan
dengan berbagai kemajuan zaman,
yang justru membawa agama ke
posisi yang semakin terdesak ke
pinggiran
Kaum salafi merupakan kelompok
yang gigih memerangi praktek
sinkretisme dan pemikiran dan
praktek bidah di masyarakat
Batam,.

Kaum salafi merupakan kelompok


yang sulit beradaptasi dengan
masyarakat dalam berdakwah,
sehingga menimbulkan konflik

28

Dalam Komunitas Masyarakat dengan masyarakat.


Islam, Kristen, Hindu di
Indonesia, Jakarta: Badan
Litbang dan Diklat Depag. RI,
2008
Titik Suwariyati, Aliran Salafi Kaum salafi merupakan gerakan
di Kota Yogyakarta DI puritan yang memandang bahwa
Yogyakarta, dalam Faham- Pemilu merupakan bidah dan
faham Keagamaan Aktual penyimpangan, karena menetapkan
berdasarkan
suara
Dalam Komunitas Masyarakat aturan
Islam, Kristen, Hindu di terbanyak, yang menggantikan
Indonesia, Jakarta: Badan aturan Allah dan Rasul-Nya,
Litbang dan Diklat Depag. RI, Namun mereka mengakui dan taat
terhadap
pemimpin
produk
2008
Pemilu, dan tidak melakukan
upaya pemberontakan terhadap
pemimpin.
Meijer, Roel. Global Salafism, Pandangan terhadap gerakan kaum
Islams
New
Religious sebagai gerakan global dan
dengan
Movement, (London: Hurst terfragmentasi
karakteristik
yang
a-politik
and Company, 2009
Rusli, Konstruksi Salafisme
dalam Cyberfatwa (Disertasi,
IAIN Sunan Ampel, Surabaya,
2010)

Adanya varian dalam salafisme


yang terbagi dengan watak dan
kategori yang berbeda. Pertama,
salafisme wahabi yang berwatak
konservatif-puritan
dan
dikategorikan
sebagai
hypertextualis
salafi
yang
menciptakan otoritas interpretatif
tertinggi yang menekankan tauhid
dan keabadian shariah. Kedua,
salafi-progresif yang berwatak
reformis
yang
dikategorikan
progressive-contextualist
guna
mengusung Islam yang lebih
humanis, toleran dan moderat yang
menggabungkan
tura>th
dan
konteks

29

BAB II
Metode Penelitian

A. Jenis Penelitian dan Pendekatan


Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian
kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa situasi, peristiwa, orang, interaksi, perilaku, yang
diambil dari pengalaman, sikap, kepercayaan, dan pemikiran dan
cerita. Semua itu diambil dari dokumen, korespondensi, rekaman,
sejarah tentang peristiwa. 25 Dengan kata lain, karakteristik umum
penelitian kualitatif lebih menekankan kualitas secara alamiah karena
berkaitan dengan pengertian, konsep, nilai-nilai, dan ciri-ciri yang
melekat obyek penelitian.26
Penelitian ini menggunakan studi interpretatif dimana peneliti
berupaya untuk menjelaskan dan mendeskripsikan sebuah fenomena
dengan menginterpretasi sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh

25

Isadore Newman and Carolyn R. Benz, Quantitative-Qualitative Research


Methodology, Exploring the Interactive Continuum (USA: Southern Illinois University Press,
1998), 16-17.
26
Kaelan, Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat (Yogyakarta: Paradigma, 2005),
5.

30

kelompok.27 Studi interpretatif ini untuk menginterpretasi pandangan


kaum salafi terhadap kepemimpinan, dan kemudian memahami apa
makna kepemimpinan dalam pandangan mereka. Hasil interpretasi ini
menghasilkan pandangan kaum salafi tentang prinsip dan prosedur
memilih pemimpin.
Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah
sosiologi pengetahuan (sociology of knowledge), karena dengan
pendekatan ini akan bermanfaat untuk mengungkap faktor-faktor
sosial yang ikut membentuk pemahaman dan sikap seseorang.
Sosiologi pengetahuan, sebagaimana pandangan Karl Mannheim,
memandang bahwa antara pengetahuan dan eksistensi sangat
berhubungan. Dalam hal ini ia mengaitkan sosiologi pengetahuan
dengan ideologi dan utopia. Ideologi merupakan proyeksi masa depan
yang didasarkan pada sistem yang berlaku sedang utopia adalah
ramalan masa depan yang didasarkan pada sistem lain. Karena itu
semua keinginan yang tidak didasarkan pada realitas yang ada

27

David E. McNabb, Research Methods for Political Science, Quantitative and


Qualitative Methods (New York: ME Sharpe, 2004), 345.

31

dianggap utopis. Bagi Mannheim, pengetahuan manusia tidak dapat


dilepaskan dari eksistensinya.28
B. Unit Analisis
Unit analisis yang dijadikan subyek penelitian ini adalah
individu. Kaum salafi merujuk pada individu yang mendakwahkan
ajaran salaf (yang merujuk pada generasi Sahabat, Ta>>bii>n, dan
Ta>>biut Ta>bi>i>n). Subyek penelitian ini didasarkan konsistensi dan
pengaruh mereka yang begitu luas dalam menyebarkan dakwah salafi,
baik melalui buku, ceramah, pesantren, maupun lembaga pendidikan.
Keterlibatan mereka dalam dakwah salafi baik melalui lisan maupun
pena (tulisan)nya membentuk komunitas kaum salafi melalui forumforum kajian, ceramah, dan bedah buku yang tersebar di seluruh
kawasan Indonesia ini.
Akhirnya peneliti menetapkan tujuh orang sebagai narasumber
untuk memperoleh data. Pertama, Abu Musab dari Magelang
merupakan mantan aktivis Darul Islam/Tentara Islam Indonesia
(DI/TII). Kedua, Hartono bin Ahmad Jaiz, kelahiran Boyolali, mantan
wartawan Pelita dan termasuk penulis yang aktif menulis pemikiran28

Karl Mannheim, Ideologi dan Utopia: Menyingkap kaitan Pikiran dan Politik, Terj. F.
Budi Hardiman (Yogyakarta: Kanisius, 1991 ), 78-85.

32

pemikiran liberal, dan peserta aktif dalam mengikuti setiap dauroh


yang diselenggarakan kaum salafi. Ketiga, Abdul Hakim bin Amir
Abdad, kelahiran Jakarta, yang aktif mendakwahkan pemikiran kaum
salaf di Nusantara ini. Keempat, Abu Ihsan bin Ahmad bin Asral AlMaidani Al-Atsari yang lahir di Langsa Medan, aktif berdakwah di
medan dan banyak menulis dan menerjemahkan kaarya-karya ulama
salafi. Kelima, Ali Musri Senjam Putra, kelahiran Sumatera Barat.
Doktor Madinah jurusan Akidah. Saat ini menjabat sebagai Ketua
STDI Imam Syafi'i Jember. Keenam,

Abdurrahma>n Attami>mi,

kelahiran Bangil. Besar di Yaman dan dekat dengan ulama salaf di


Yordania, dan saat ini menjat sebagai Direktur STAI Ali Bin Abi
Tha>lib. Ketujuh, Fauzi Athar Muhiddin, kelahiran Mataran dan
perintis dakwah salaf di Mataram dan banyak memberikan kontribusi
disana.
C. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data ditempuh dengan dua jalan, yakni
telaah pustaka (library research), dan wawancara mendalam (depth
Interview). Telaah pustaka (library research) dilakukan dengan
melakukan pembacaan tentang tema yang berkaitan dengan masalah

33

kepemimpinan,

dan

wawancara

mendalam

(depth

Interview)

dilakukan kepada subyek penelitian untuk memperoleh gambaran


yang komprehensif mengenai pandangan subyek penelitian tentang
prinsip dan mekanisme kepemimpinan. Beragam cara untuk
melakukan wawancara, diantaranya face to face, telepon, atau E-mail.
Wawancara dilakukan beberapa kali untuk menangkap pandangan
mereka tentang masalah penelitian ini, sehingga tidak terjadi
kesalahpahaman antara peneliti dan subyek penelitian.
D. Teknik Analisa Data
Untuk memperoleh makna, maka studi ini mempergunakan
pendekatan yang diterapkan Weber, yakni verstehen yakni sebuah
teknik untuk memahami dunia makna. Demikian pula untuk
mendalami makna itu diperlukan interpretasi atas makna tersebut,
guna memperoleh gambaran kenapa mereka memiliki pemahaman
yang khas yang berbeda dengan orang atau kelompok lain. Hal itu
untuk menggambarkan bahwa lingkungan, sosial, budaya, politik
serta pendidikan memiliki pengaruh yang demikian kuat, sehingga
membentuk cara pandang yang eksklusif.

34

Data yang telah diperoleh dari perkataan dan tindakan itu akan
diklasifikasi atau ditipologikan yang nantinya akan tergambar.
Pertama, nilai-nilai dan prinsip seperti apa dalam menentukan figur
seorang pemimpin yang benar-benar qualified dan capable. Kedua,
prosedur seperti apa yang harus dilalui untuk menciptakan seorang
pemimpin, serta akan muncul mekanisme seperti apa yang muncul.
Ketiga, lembaga seperti apa yang akan dipergunakan untuk
melahirkan seorang pemimpin.
Dengan munculnya tiga kategori itu, akan menghasilkan model
pemilihan pemimpin yang ideal menurut kaum salafi, serta akan
muncul temuan yang bisa jadi akan sesuai atau bertentangan dengan
tuntutan dunia kontemporer.
Di sinilah akan muncul sumbangan pemikiran dari penelitian
ini, yang mana kepemimpinan, di satu pihak, merupakan sesuatu yang
urgen dalam suatu negara atau pemerintahan, di pihak lain, akan
muncul pula bagaimana kontribusi kaum salafiyah dalam merespon
kepemimpinan.
Proses analisa dilakukan dengan cara mendialogkan pandangan
subyek penelitian dengan pendapat para ahli, proses ini disebut

35

dengan member check atau triangulasi.29 Setelah proses itu, maka


diakhiri dengan pengambilan kesimpulan sebagai akhir proses
penulisan ini.

29

Lexy Moleong, Metodolgi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja RosdaKarya,


2005), 325-326.

36

BAB III
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI TEORITIK

A. Kesimpulan
Pertama, adanya pemimpin merupakan sebuah keharusan.
Keberadaan pemimpin berfungsi untuk menegakkan agama guna
menciptakan ketertiban dan menghindarkan kekacauan dalam
masyarakat. Hal itu diilustrasikan ketika sekelompok orang yang
mengadakan perjalanan jauh (safar) saja, diharuskan memilih salah
seorang sebagai pemimpin. Maka dalam ranah negara, keberadaan
pemimpin merupakan sebuah keharusan.
Kepemimpinan harus bersifat tunggal, tidak ada pemimpin
ganda dalam sebuah negara. Bahkan bila telah absah sebuah
kepemimpinan, dan kemudian datang pihak lain yang mengaku
sebagai pemimpin, maka pemimpin yang belakangan diperintahkan
untuk dibunuh. Sementara dalam hal memberhentikan pemimpin di
tengah jalan, kaum salafi berpandangan hal itu merupakan larangan,
terkecuali jika telah ada bukti yang kongkret. Di antaranya pemimpin
terbukti berbuat Kufur, atau tidak bisa lagi melaksanakan tugas dan

37

tanggung jawabnya sebagai pemimpin, dan pihak yang akan


mengganti, memiliki kemampuan untuk menjatuhkan pemimpin itu
dengan menjamin tidak ada kekacauan pasca pemberhentian
pemimpin.
Kedua, tentang prinsip kepemimpinan, kaum salafi memandang
bahwa kepemimpinan merupakan amanah, yang tidak hanya
berdimensi kemanusiaan dan duniawi saja tetapi bernuansa ketuhanan
dan akherat. Oleh karena itu, seorang pemimpin haruslah memiliki
beberapa kriteria di antaranya, adil, cerdas, sehat fisik, berani, tidak
pengecut, taat agama dan menguasai pengelolaan pemerintahan.
Ketiga, prosedur memilih pemimpin. Kaum salafi mengakui
bahwa ada tiga mekanisme untuk memilih pemimpin sebagaimana
yang dilakukan para s}alaf as-s}halih, yakni model penunjukan,
pemilihan, dan turun menurun. Mekanisme penunjukan dilakukan
oleh pemimpin terdahulu dengan menunjuk seseorang yang dianggap
layak untuk menggantikannya. Hal ini sebagaimana terjadi pada
kasus Abu Bakar As}-S}iddiq ketika menunjuk Umar bin Khat}t}a>b
sebagai penggantinya.

38

Sementara

itu,

mekanisme

pemilihan

dilakukan

oleh

sekelompok orang yang memiliki kriteria tertentu (Ahl al-H}alli wal


Aqdi), yang kemudian mereka memilih salah satu di antara mereka
untuk menjadi pemimpin. Hal itu sebagaimana terjadi pada Umar bin
Khat}t}a>b ketika memilih beberapa sahabat untuk menentukan
pemimpin, yang kemudian terpilih Uthma>n bin Affa>n dan Ali Bin Abi
T}a>lib.
Adapun mekanisme turun menurun. dilakukan oleh seorang
pemimpin yang memberikan kekuasaannya kepada anak atau
keturunannya, untuk menggantikannya. Hal ini sebagaimana terjadi
pada Muawiyah bin Abu Sufyan ketika menunjuk anaknya (Yazid),
untuk menggantikannya. Di antara ketiga mekanisme itu, kaum salafi
memandang bahwa mekanisme kedua, Ahl al-H}alli wal Aqdi,
merupakan model yang terbaik.
Keempat, ketaatan kepada pemimpin merupakan prinsip yang
harus dipegang oleh umat ketika menginginkan kehidupan yang baik.
Kalau ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan hal yang
mutlak, namun ketaatan kepada pemimpin merupakan hal yang nisbi
atau bersyarat. Di antaranya, perintah pemimpin bersesuaian dengan

39

perintah Allah dan Rasul-Nya. Namun jika perintah itu bertentangan


dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka tidak wajib taat
kepadanya.
Namun ketidaktaatan itu tidak kemudian melahirkan sikap
pembangkangan atau pengkafiran terhadap pemimpin. Sikap inilah
yang membedakan antara kaum salafi dan gerakan-gerakan dakwah
lainnya dalam hal tindak lanjut dari ketidaktaatan terhadap
pemimpin.
Dalam

perspektif

gerakan-gerakan

dakwah

Islam,

Ketidaktaatan terhadap pemimpin itu umumnya melahirkan sikap


kritis, seperti melakukan kritik secara terbuka, pembangkangan,
bahkan pemberontakan atau penggulingan terhadapnya. Namun bagi
kaum salafi, ketaatan itu melahirkan sikap menerima dan sabar
terhadap ked}aliman seorang pemimpin, dengan melakukan beberapa
sikap, di antaranya menasehatinya secara tertutup. Jika tidak
berhasil, mendoakan kebaikan bagi seorang pemimpin, serta berharap
agar diberikan pengganti yang lebih baik.
Pandangan di antara kaum salafi hampir memiliki kesamaan
dengan beberapa alasan. Pertama, pengaruh pendidikan Timur

40

Tengah yang memiliki basis ideologi kaum puritan. Kedua, memiliki


sumber dan rujukan yang satu. Pembatasan pemahaman Islam yang
benar dengan merujuk pada tiga generasi utama dari umat ini.
Penetapan generasi sahabat, ta>biin dan ta>bi al-ta>biin sebagai
standar kebenaran mempersempit perbedaan di antara kaum salafi.
Namun di balik kesamaan itu terdapat pula perbedaan
pandangan yang disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, tidak adanya
organisasi

formal

yang

mengikat

satu

sama

lain.

Tidak

terorganisirnya sebuah gerakan dalam satu organisasi akan sulit


untuk menentukan capaian dan kegagalan suatu tujuan. Kedua,
terfragmentasinya gerakan. Akibat dari tidak adanya organisasi yang
mengikat individu itu menjadikan gerakan ini terfragmentasi dan
memiliki varian yang begitu banyak. Ketiga, kebebasan individu
untuk menentukan sikap menghasilkan berbagai model dan corak
pemikiran

yang

berbeda.

Masing-masing

individu

memiliki

independensi yang kuat dalam mengambil dan menetapkan sebuah


dalil untuk menguatkan pandangannya.

41

B. Implikasi Teoritik
Kaum salafi merupakan komunitas dakwah yang menginginkan
reformasi agama menuju reformasi sosial. Reformasi agama itu
dimulai dari individu-individu yang dididik dengan agama telah
mengalami permurnian (tas}fiyah). Dari individu-individu itulah akan
terbentuk komunitas kecil dan berkembang menjadi komunitas besar
yang tercerahkan. Dengan komunitas yang tercerahkan itulah akan
terjadi reformasi sosial, dimana setiap anggota melaksanakan ajaran
Islam sebagaimana dijalankan oleh generasi Islam awal yang s}alih
(salaf al-s}alih).
Secara ideologis, kaum salafi memiliki kesamaan dengan
gerakan-gerakan Islam yang distigma sebagai gerakan radikal Islam.
Bahkan secara berlebihan, label Fasis disematkan kepada kelompok
ini karena memiliki ideologi totalitarian. 30 Padahal label ini lebih
banyak dipengaruhi oleh munculnya kelompok salafi jihadi yang lebih
banyak bersentuhan dengan politik.
Secara politis, kaum salafi diidentikkan dengan gerakan
Wahabi, karena dalam menyebarkan ajarannya identik dengan

30

Paul Berman, Terror and Liberalism (New York: WW, Norton, 2003), 78.

42

kekerasan dan tidak toleran terhadap kelompok lain. Namun secara


sosiologis, mereka menyandarkan diri dan merujuk pada ajaran
Ahmad ibn Hanbal (780-855) dan Taqi al-Din ibn Taymiyah (12631328), yang kemudian dilanjutkan oleh Muhammad ibn Abdul Wahab
(1703-1792) di Najed Arab Saudi.31 Oleh karena itu, menurut Bernard
Haykel,32 sebagai sebuah gerakan keagamaan, kaum salafi memiliki
ciri dan karakteristik.
Pertama, kebanyakan salafi bukanlah aktor politik. Mereka
bukanlah aktivis politik yang membentuk partai atau organisasi
politik. Bahkan mereka tidak memiliki wadah dalam bentuk
organisasi atau asosiasi formal yang memiliki target politik atau
kekuasaan yang hendak diraih.33 Tidak adanya wadah organisasi
inilah yang menjadikan gerakan salafi begitu bebas bergerak. Mereka
disatukan oleh manha>j yang sama.34
Kedua, terjadinya reformasi sosial dan agama menjadi
perhatian utama. Munculnya kesadaran beragama yang begitu kuat

31

Laurent Bonnefoy, How Transnational Salafism in yemen ? dalam Roel Meijer, Global
Salafism, Islams New Religious Movement (London: Hurst and Company, 2009), 334.
32
Bernard Haykel, On the Nature of Salafi.. 24-51.
33
34

Ibid.
Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam 61

43

pada tingkat individu yang kemudian akan membentuk komunitas


yang berkesadaran agama yang kuat. Kesadaran beragama secara
individu yang begitu kuat, dalam jangka panjang akan memiliki
implikasi secara tidak langsung pada politik.
Oleh karena itu, kaum salafi berupaya untuk membentuk
sebuah komunitas yang mendasarkan dirinya pada landasan agama
(teologi).35 Kaum salafi menginginkan perubahan, dengan dakwah
Islam, dari akar masyarakat yang paling bawah, yang dimulai dari
level individu dan transformasi personal. Harapan untuk perubahan
agama dari yang kecil akan membentuk sistem yang lebih religius.
Ketiga, menekankan untuk berpegang teguh pada al-Quran
dan al-Hadith. Mereka senantiasa mengutamakan dalil yang kuat
sebelum melakukan perbuatan. Dalam konteks ini, menurut
pandangan mereka, penguasaan bahasa arab menjadi penekanan.36
Keempat, terbatasnya hirarki dalam memahami ajaran Islam.
Artinya kaum salafi dalam mencari dasar-dasar agama untuk
memperteguh keyakinan mereka, tanpa melewati hirarki yang begitu
rumit. Mereka bisa memperoleh sumber langsung secara tekstual
35
36

Bernard Haykel, On the Nature of Salafi . 35.


Ibid. 36

44

tanpa harus melewati beberapa hirarki personal yang panjang.


Disinilah mereka memangkas sekian banyak lapisan otoritas ketika
memahami sebuah teks, dan inilah yang membedakan dengan tradisi
muslim yang lain, sehingga penafsiran itu lebih terbuka dan
demokratik.
Kelima, tidak dibatasi oleh wilayah (de-territorialised) dan
pula tidak fundamentalis. Tidak dibatasinya wilayah merupakan daya
tarik tersendiri bagi masyarakat banyak. Bahkan sikap moderat dan
tidak identik dengan pemikiran kalangan fundamentalis, semakin
memperkuat daya tarik banyak pihak. Oleh karena itu, gerakan kaum
salafi melintas batas dunia dan berkembang dimanapun sebagai
gerakan transnasional.37
Keenam,

senantiasa

mendasarkan

segala

perilaku

dan

pandangan dengan merujuk pada teks yang bersumber dari wahyu, alQuran dan al-Hadith.38 Contoh empirik, mereka begitu taat terhadap
pemerintah dan tidak pernah melakukan kritik secara terbuka. Hal ini
tentu berbeda dengan gerakan fundamentalis yang lain (seperti salafi
jihadis) yang melakukan kritik secara terbuka, dan bahkan
37
38

Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam 71


Bernard Haykel, On the Nature of Salafi .. 37

45

mengkafirkannya ketika dianggap tidak menjalankan hukum Allah.


Menurut kaum salafi, mengkafirkan pemimpin akan menimbulkan
dampak yang lebih buruk bagi tersampaikannya dakwah, seperti
masjid akan ditutup, para ulama akan dipenjara. Melawan penguasa
ibarat tangan kosong memukul besi (the hand cannot fight a fist of
iron).39
Ciri dan karakteristik yang melekat pada kaum salafi di atas
tidak terlepas dari sandaran yang mereka rujuk, dan kemudian
dipergunakan sebagai landasan penyebaran dan pengembangan
dakwah. Disinilah pendekatan Mannheim, ideologi dan utopia,
berguna untuk melihat bagaimana kaum salafi menggagas dan
merespon masa depan yang diinginkan.
Kalau merujuk pada pandangan Mannheim yang mengatakan
bahwa ideologi merupakan proyeksi masa depan yang didasarkan
pada sistem yang berlaku, dan utopia merupakan ramalan masa depan
yang didasarkan pada sistem lain, maka kaum salafi lebih dekat untuk
dikategorikan utopis.

39

Quintan Wictorowicz, The Salafi Movement in Jordan, International Journal of


Middle East Studies, 32 (United States of America, 2000), 218-240.

46

Ketika dikaitkan dengan berbagai gagasan kaum salafi yang


seringkali berlawanan dengan sistem yang berlaku, dan menawarkan
sistem lain. Sebagai contoh, kaum salafi menolak sistem demokrasi
dan menawarkan shuro. Demokrasi merupakan mekanisme memilih
pemimpin masyarakat modern, namun mereka justru merekomendasi
sistem shuro sebagai sistem terbaik.
Penetapan shuro didasarkan bahwa sistem ini tidak hanya
berlaku dan membuat kejayaan Islam sekaligus menjadi patron
peradaban dunia, sementara sistem demokrasi dipandang memiliki
sejumlah

kelemahan,

sehingga

melahirkan

pemimpin

yang

berkualifikasi rendah.
Kalau dalam perspektif Mannheim, ketika sebuah komunitas
dalam mengembangan gagasannya menolak sistem yang sedang
berlaku dan mendasarkan pada sistem lain, maka kelompok itu
dikategorikan sebagai utopis. Namun yang berbeda dengan dari
pandangan kaum salaf ini, bahwa pandangan mereka tidak lagi utopis,
tetapi bisa jadi bisa dikategorikan ideologis. Hal itu bisa dilihat
ketika menawarkan model shuro, kaum salafi melihat bahwa model
shuro tidak hanya ideal dari sisi konsep, tetapi dari sisi aplikasi. Dari

47

sisi konsep, sistem shuro menugaskan pemimpin untuk menegakkan


agama dan pemerintahan lengkap dengan persyaratan yang ketat.
Sementara dari sisi aplikasi, sistem shuro begitu sederhana dan
mudah dimana seorang pemimpin dipilih dengan mekanisme
seherhana dengan biaya murah.
Sementara sistem demokrasi dipandang sebagai sistem yang
memiliki kelemahan baik dari sisi konsep maupun aplikasinya. Dari
sisi konsep, persyaratan untuk menjadi pemimpin begitu rapuh,
dimana siapapun bisa menjadi pemimpin asalkan dia mampu
meyakinkan publik atas kepemimpinannya, tanpa mengaitkan dengan
moral dan agamanya. Dari sisi aplikatif, untuk melahirkan seorang
pemimpin harus melibatkan semua lapisan masyarakat tanpa
membedakan kualitas personal pemilih. Belum lagi biaya yang harus
dikeluarkan untuk mendanai berbagai mekanisme sebelum terpilihnya
seorang pemimpin. Belum lagi berbagai ruang yang memungkinkan
terjadi penyimpangan nilai-nilai demokrasi, seperti money politik,
penggelembungan suara, dan sebagainya.
Pandangan kaum salafi tentang model shuro bukan lagi utopis
ketika berhadapan dengan sistem yang berlaku (demokrasi), tetapi

48

menjadi alternatif ketika demokrasi penuh dengan sejumlah


kelemahan karena menciptakan ruang bagi munculnya berbagai
penyimpangan, sehingga melahirkan pemimpin yang kontraproduktif
dengan nilai-nilai modern.

C. Keterbatasan Studi
Mengkaji tentang gerakan-gerakan Islam, khususnya yang
berlabel fundamentalis, memang tiada habisnya dan menjadi lahan
penelitian yang amat menarik. Karena gerakan fundamentalis
memiliki varian yang begitu beraneka ragam dan menantang.
Sehingga untuk mencari pijakan masing-masing pandangan dari
berbagai varian itu menuntut variasi metodologi.
Begitu pula studi tentang kaum salafi sebagai sebuah gerakan
puritan, juga amat menarik karena sumber-sumber yang menjadi
bahan rujukan begitu banyak dan mudah diperoleh. Buku-buku dan
jurnal hasil penelitian tentang kaum salafi begitu banyak sehingga
memperkaya studi pendahuluan bagi siapapun yang akan melakukan
penelitian tentang tema tersebut.

49

Namun menjadi problem bagi siapapun yang akan melakukan


penelitian tentang kaum fundamentalis-puritan apolitis ini ketika
ingin memperoleh data primer secara langsung, karena tidak semua
kaum salafi bersedia diajak melakukan depth-interview. Hal itu
didasari oleh beberapa pengalaman penelitian yang dilakukan para
peneliti sebelumnya. Mereka menganggap peneliti sebelumnya tidak
menulis apa yang sebenarnya terjadi ketika proses interview. Bahkan
data mentah yang disajikan oleh kaum salafi sering berbeda ketika
sudah diolah dalam bentuk penelitian. Hal ini benar-benar kesulitan
bagi siapapun untuk menggali informasi yang lebih dalam tentang
pemikiran kaum salafi. Beruntung peneliti mengajar di salah satu
perguruan tinggi komunitas kaum salafi, sehingga dengan bantuan
beberapa kolega pengajar di komunitas itu mudah melakukan
penggalian data secara mudah.
Yang menjadi problem akademik ketika melakukan penelitian
terhadap kaum salafi ini adalah begitu banyak varian dan corak
pemikiran di antara mereka. Hal itu disebabkan di antaranya oleh
independensi di kalangan mereka yang begitu kuat, sehingga
memberikan peluang untuk memiliki pandangan dan pemikiran yang

50

berbeda. Begitu pula yang dialami oleh peneliti, ketika melakukan


proses penelitian ini, adalah melakukan kategorisasi varian pemikiran
itu.
Ketika melakukan penelitian tentang konsep kepemimpinan
dalam pandangan kaum salafi ada beberapa kegelisahan akademik
yang muncul. Pertama, sulitnya menerapkan pandangan mereka yang
memang tidak bersesuaian dengan realitas yang ada. Misalnya ketika
mengkritik demokrasi sebagai sarana memilih pemimpin, mereka
mengajukan mekanisme yang pernah diterapkan ketika zaman
peradaban Islam berlangsung, yakni ahl al-halli wa al-Aqdi. Disini
terjadi keterputusan sejarah, sehingga sulit untuk melacak perdebatan
tentang konsep yang mereka ajukan. Belum lagi ada eksemplar suatu
negara (Islam) yang bisa dipakai sebagai rujukan atau parameter
pembuktian konsep kepemimpinan mereka. Disinilah konsep itu
disebut utopis, karena konsep yang mereka tawarkan pasti
berbenturan dengan realitas yang berlangsung. Oleh karena itu,
peneliti

mengalami

kesulitan

untuk

bisa

menangkap

dan

mengaplikasikan konsep yang mereka tawarkan dengan realitas yang

51

empirik. Yang terjadi, konsep yang mereka tawarkan, seolah-olah


diterapkan pada realitas simbolik, realitas yang belum ada saat ini.
Belum lagi konsep pemilihan pemimpin yang mereka tawarkan,
sulit untuk dibuktikan secara internal. Artinya di kalangan kaum
salafi sendiri, yang menolak organisasi formal, tidak terjadi
penerapan konsep itu dalam internal mereka, sebagai tataran mikro.
Oleh karena itu, sangat menarik untuk diteliti secara akademis ketika
ditemukan sebuah komunitas kaum salafi yang mempraktekkan
konsep yang mereka anggap sebagai terbaik. Sehingga pembuktian
konsep yang mereka yakini sebagai sesuatu yang terbaik, teraplikasi
dan bisa diperdebatkan secara akademik.

52

D. Saran-Saran
Kaum

salafi

merupakan

salah

satu

bentuk

gerakan

fundamentalis, yang memiliki independensi pemikiran yang begitu


kuat. Berlatar ini, maka tidak mengherankan jika muncul banyak
varian, yang berujung pada fragmentasi pemikiran. Kepemimpinan
kaum salafi sebagai fokus kajian yang telah saya lakukan, ternyata
membuka horizon dan memberi peluang bagi penelitian lanjutan.
Varian pemikiran yang begitu banyak memberikan kepada peneliti
lain untuk menguak dasar-dasar dari masing-masing pandangan.
Kepemimpinan merupakan salah satu aspek dari demokrasi, sehingga
banyak wilayah yang belum tersentuh dari aspek-aspek lain dari
konsep dan aplikasi demokrasi.
Kaum salafi sendiri secara internal juga memiliki varian
pemikiran yang beragam dalam merespon demokrasi, khususnya
kritik mereka yang amat tajam terhadap konsep dan aplikasi
demokrasi. Bahkan implikasi penerapan demokrasi di negara-negara
yang mayoritas pendudukan beragama Islam, dalam pandangan kaum
salafi, juga tidak kalah menariknya untuk diteliti. Apalagi
persyaratan

untuk

menerapkan

53

nilai-nilai

dan

prinsip-prinsip

demokrasi begitu berat, sehingga berpeluang menghasilkan berbagai


penyimpangan dari prinsip-prinsip demokrasi itu. Belum lagi jika
mekanisme

demokrasi

itu

ingin

diterapkan,

oleh

sebagian

penduduknya, pada negara-negara yang masih menganut sistem


otoritarian. Realitas demikian akan menghasilkan perdebatan yang
sangat panjang, sebagaimana yang terjadi di negara-negara Timur
Tengah. Tentu hal ini memunculkan perhelatan dan perdebatan yang
amat panjang, karena akan muncul dua posisi binari (binary
opposition), antara pihak yang ingin memperjuangkan model atau
sistem otoritarian dengan pihak yang ingin menerapkan mekanisme
demokrasi.

54

DAFTAR PUSTAKA

BUKU
Abaza, Mona. Generasi Baru Mahasiswa Indonesia di Al-Azhar
Islamica,. Januari-Maret, 1994.
Abdullah, M. Amin. Dinamika Islam Kultural, Pemetaan Atas
Wacana Keislaman Kontemporer, Bandung: Mizan, 2000.
Abdullah,Taufik. Islam dan Masyarakat, Pantulan Sejarah Indonesia,
Jakarta: Pustaka Jaya, 1981.
Abdurrahim, Imaduddin. Pemikiran dan Gerakan Dakwahnya,
Jakarta: Media Dakwah, 2002.
Abu Umar Abdullah bin Muhammad al-Hama>di, Nimatu al-Amni fi
al-mujtamaI, Yordania: Al-Da>r Al-Athariyah, 1426/2008.
Abul Hasan Ali bin Habib Al-Mawardi, Durror al-Suluk fi Siya>sati
al-Mulk, Tahqiq Fua>d Abdul Munim, Riyadh: Da>r al-Wathan,
1419.
Abul Hasan Must}afa as Sulaiman, Fitnah al-Tafjira>t wa ightiya>la>t, alAsba>b al Atha>r al-Ila>j, cet 1, Saudi Arabia: Wizarat as}-s}uu>n al
Isla>miyah auqaf ad-Dakwah al-Irsha>d, 1427.
Adams, Ian. Ideologi Politk Mutakhir, Yogyakarta: 2004.
Ajami, Fouad. In The Pharaos Shadow : Religion and Politics in
Egyp dalam James P. Piscatori (ed), Islam and The political
process, Cambridge; Cambridge University Press, 1983.
Al-Atsari, Abdullah bin Abdul Hamid. Intisari Aqidah Ahl al-Sunnah
wal Jamaah Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafii, 2007.
Al-Azmeh, Aziz. The Discourse of Cultural Authenticity : Islamist
Revivalism and Enlightenment Universalism, USA: Berkeley
University, 2000.

55

AlChaidar, Pemikiran Politik Proklamator Negara Indonesia SM


Kartosoewirjo, Mengungkap Manipulasi Sejarah Darul Islam
/DI-TII Semasa Orde Lama dan Orde Baru, Jakarta: Darul
Falah, 1420.
Anderson, R.O.G. Benedict. The Idea of Power in Javanese
Culture, dalam Culture and Politics In Indonesia, New York:
Cornell University, 1972.
Arif, Syamsuddin. Orientalis dan Diabolisme Pemikiran , Jakarta:
Gema Insani, 2008.
Arifin, Syamsul. Obyektivikasi Agama sebagai Ideologi Gerakan
Sosial Kelompok Fundamentalis Islam, Studi Kasus Hizbut
Tahrir Indonesia di kota Malang, Disertasi, IAIN Sunan
Ampel, Surabaya, 2004
Armanios, Febe. The Islamic Traditions of Wahhabism and Salafiyya,
CRS Report for Congress, December, 22, 2003.
Ausop, Asep Zaenal. Demokrasi dan Musyawarah dalam Pandangan
Darul Arqam, NII, dan Hizbut Tahrir Indonesia, Jurnal
SosioTeknologi, Edisi 17, tahun 8, Agustus, 2009.
Ayubi, Nazih. Political Islam : Religion and and Politics in the Arab
World, London and New York: Routledge, 1991.
Aziz, Abdul (ed). Gerakan Kontemporer Islam Indonesia, Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1989.
Azra, Azyumardi. Pergolakan Politik Islam : Dari Fundamantalisme,
Modernisme, dalam Syariat Islam, terj. Fadli Bahri , Jakarta:
Darul Falah, 2006.
Barjas, Abdussalam bin al-Abdul Karim, Etika Mengkritik Penguasa,
Terj. Zainuddin MZ), Surabaya: Pustaka As-Sunnah, 2002.
Barton, Greg. Gagasan Islam Liberal di Indonesia. Jakarta:
Paramadina, 1999.

56

Kurzman, Charles. Wacana Islam Liberal, Pemikiran Islam


Kontemporer tentang Isu-isu Global, Jakarta: Paramadina,
2003.
Berger, Peter L. Langit Suci : Agama sebagai Realitas Sosial, terj.
Hartono, Jakarta: LP3ES, 1991.
________________dan Thomas Luckmann, Konstruksi Sosial Atas
Kenyataan, Jakarta: LP3ES, 1991.
Berman,Paul. Terror and Liberalism, New York: WW, Norton, 2003.
Binder, Leonard. Religion And Politics in Pakistan, Barkeley and Los
Angeles: University of California Press, 1983.
Blummer, Herbert. Social Movement dalam Alfred MCClung Lee,
(ed.), Principles of sociology (New York: Barnes and Nobles,
Inc. 1966.
Brill, Martha Olcott, The Root of Radical Islam In Central Asia,
Carnegie Endowment For International Peace, Massachusetts:
Washington DC, 2006.
Campbell, Tom. Tujuh Teori Sosial: Sketsa, Penilaian, Perbandingan,
Yogyakarta: Kanisius, 1994.
Clarke, Peter B. Encyclopedia of New Religious Movements (New
York: Routledge, 2006), 220
Crowford, Michael.,Wahhabi Ulama and the Law 1725-1932 AD,
M. Phil, thesis, University of Oxford, 1980.
Dekmejian, Hrair. Islam and Revolution: Fundamentalism in the Arab
world, Syracus: Syracus University Press, 1985.
Dengel, Holk H. Kartosoewirjo dan Darul Islam,Jakarta: Penerbit
Sinar Harapan, 1996.
Al-Dimashqi, Ibnu Nasir al-Din. al-Radd wa al- Wafir, ed. Zuhayr alShawish, Beirut: Dar al-Kutub, 1393.

57

Effendi, Bahtiar. Islam dan Negara, Transformasi Pemikiran Politik


Islam di Indonesia, Jakarta: Paramadina, 2003.
Esposito, John L. Islam and Politics, Syracuse: Syracuse University
Press, 1984.
Al-Fauzan, Salih ibn Fauzan. Al-Irsha>dila sahih al-Itiqad wa al-radd
ala ahl shirk wa al-ilha>d , Cairo: Maktabat Ibn Taimiyah,
1990.
________________, Al-Irshadila sahih al-Itiqadwa al-radd ala ahl
shirk wa al-ilhad, Cairo: Maktabat ibn Taimiyah, 1990.
Feith, Herbert dan Lance Castles (ed.), Pemikiran Politik Indonesia
1945-1965, Jakarta: LP3ES, 1995.
Flew, Anthony. A Dictionary of Philosophy, New York: St. Martins
Press, 1984.
George A. Theodorson and Achilles G. Theodorson, A Modern
Dictionary of Sociology, New York: Barnes and Noble Books,
1979.
Giovani Sartori, Political Man : The Theory of Democracy revisited ,
NJ: Chatam, 1987.
Gold, Dore. Hatreds Kingdom : How Saudi Arabia Supports the new
global terrorism, Washington: Regnery Publishing, 2003.
Haekal, Muhammad Husain. Usman bin Affan, antara Kekhalifahan
dengan Kerajaan, (terj. Ali Audah), Bogor: Litera AntarNusa,
2007.
Haidlor Ali Ahmad, Aliran Salafi di Kota Batam Kepulauan Riau,
dalam Faham-faham Keagamaan Aktual Dalam Komunitas
Masyarakat Islam, Kristen, Hindu di Indonesia, Jakarta: Badan
Litbang dan Diklat Depag. RI, 2008.
Al-Haithami, Al-Ima>m. Majma al-Zawa>id wa Manba al-Fawa>id Juz
5, 188 atau Musnad Ahmad: 4/273.

58

Al-Hama>di, Abu Umar Abdullah bin Muhammad. Nimatu al-Amni


fi al-mujtamai, Yordania: Al-Da>r Al-Athariyah, 1426/2008.
Harjanto, Nicolaus Teguh Budi. Memajukan Demokrasi, Mencegah
Disintegrasi, Yogyakarta: TiaraWacana, 1997.
Harto, Kasinyo. Islam Fundamentalis di Perguruan Tinggi Umum,
Kasus Gerakan Keagamaan Mahasiswa Universitas Sriwijaya
Palembang, Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Depag. RI,
2008.
Haykel, Bernard. Revival and Reform in Islam : The Legacy of
Muhammad Shawkani Cambridge: Cambridge University,
2003.
Hilmy, Masdar. Teologi Perlawanan, Islamisme dan Diskursus
Demokrasi di Indonesia Pasca Orde Baru,Yogyakarta: ImpulseKanisius, 2009.
Hizb al-Tahrir, The Methodology of Hizb at-Tahrir, London: AlKhila>fah Publications, no year.
Hizbut Tahir, Ajhizatu ad-Daulah al-Khilafah, Struktur Negara
Khilafah (Pemerintahan dan Administrasi ) Yahya AR (Terj.),
2006.
Huntington, Samuel P. Benturan Antarperadaban dan Masa Depan
Politik Dunia, penerjemah M. Sadat Ismail, Yogyakarta:
Qalam, 2000.
Ibnu Taimiyah, As-siya>sah ash-shariyyah , Damam: Da>r Rowi, 2000.
Al-Imam Abu Uthman Ismail bin Abdurrahman Al-S}abu>ni>, Tahqiq
Na>s}ir bin Abdurrahman bin Muhammad Al-Jadi>, Aqidah salaf
wa as}ha>b al-Hadith,
Saudi Arabiah: Da>r Al-A>s}imah,
1419/1998.
Al Imam Abu Muhammad Hasan Al-Barbahari, Syarhu al-sunnah,
Tahqiq Kha>lid Ar-Rodda>di, Riyadh: Da>r al-salaf, 1426.

59

Al-Imam Al-Qa>di bin Ali bin Ali bin Muhammad bin Abi Izzi alDimashqi, Sharah Aqidah Al-Tahawiyah Tahqiq Abdullah bin
Abdul Azi>z Muhsin
Al-Turki dan Shuaib Nau>t}, Riyadh: Da>r A>lamul Kutub, 1418/1997.
Al-Imam, Muhammad Bin Abdillah. Menggugat Demokrasi dan
Pemilu, Banyumas: Pustaka Salafiyah, 2007.
Al Imam Abu Muhammad Hasan Al-Barbahari, Syarhu al-sunnah,
Tahqiq Kha>lid Ar-Rodda>di, Riyadh: Da>r al-salaf, 1426.
Ingleson, John. Jalan ke Pengasingan: Pergolakan Kaum Nasionalis
Indonesia 1927-1934, (terj. Zamakhsari Dhofier), Jakarta:
LP3ES, 1983.
Al-Jawziyyah, Ibn al-Qayyim. Ilam al- Muwaqqiin an rabb allamin, 7 Vols., Damman: Dar al-Ibn al-Jawzi, 2002.
Jainuri, Achmad. Orientasi Ideologi Gerakan Islam, Konservatisme,
Fundamentalisme, Sekularisme, dan Modernisme, Surabaya:
Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat , 2004.
Jaiz, Hartono Ahmad dan Agus Hasan Bashori. Menangkal Bahaya
JIL &FLA, Jakarta: Pustaka Kautsar, 2003.
Jameelah, Maryam dan Margaret. Islam dan modernisme, (terj. A.
Jainuri dan Syafiq A. Mughni), Surabaya: Usaha Nasional,
1982.
Jamhari, Jajang Hahroni, (penyunting), Gerakan Salafi Radikal di
Indonesia , Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004.
Jawwaz, Yazid Bin Abdul Qadir. Syarah Aqidah Ahlussunnah Wal
Jamaah, Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafii, 2006
Al-Jawziyyah, Ibn al-Qayyim. Ilam al- Muwaqqiin an rabb ala>lami>n, Damman: Dar al-Ibn al-Jawzi, Vol 2, 470 dan Vol 3,
2002.
Johnson, Doyle Paul. Teori Sosiologi Klasik dan Modern, terj. Robert
M.Z. Lawang, Jakarta: Gramedia, 1988.
60

Kaelan, Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat, Yogyakarta:


Paradigma, 2005.
Kapiszewski, Andrzej. Saudi Arabia : Steps toward Democratization
or Reconfiguration of Authoritarianism, Journal of Asian and
African Studies, 2005.
Kartosoewrijo, SM. Haloean Politik Islam, Malangbong: Poestaka
Daroel Islam, 1946.
Keilani, Musa Neede: A New Definition of Fundamentalism, The
Jordan Times. Amman, 5 September 1984.
Kinloch, Graham Charles. Sociological Theory, Its development and
Major Paradigms, McGraw Hill Book Company, 1977.
Kumar Ramakrishma, Delegitimizing Global Jihadi in The
Southeast Asia Contemporary Southeast Asia 27 no. 3, 2005.
Kurzman, Charles. Wacana Islam Liberal, Pemikiran Islam
Kontemporer tentang Isu-isu Global, Jakarta: Paramadina,
2003.
Lipset,S.M. Political Man : The Social Bases of politics, expanded
and updated edition, London: Heinenmann, 1983.
Lubis, Amany. Sistem Pemerintahan Oligarki dalam Sejarah Islam,
Jakarta: IUN, 2005.
Mahdi, Muhsin. Modernity and Islam, dalam JosephM. Kitagawa, ed.
Modern Trends in World Religious, La SalleIII: The Open
Court Publishing Company, 1950.
Mahendra, Yusril Ihza. Modernisme dan Fundamentalisme dalam
Politik Islam, (Jakarta: Paramadina, 1999.
Maliki, Zainuddin. Tiga Teori Sosial Hegemonik, Surabaya: Lembaga
Pengkajian Agama dan Masyarakat, 2003.

61

Mannheim, Karl. Ideologi dan Utopia: Menyingkap kaitan Pikiran


dan Politik, Terj. F. Budi Hardiman, Yogyakarta: Kanisius,
1991.
Maarif, Ahmad Syafii. Islam as the Basis of State: A Study of the
Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent
Assembly Debates in Indonesia, Disertasi, Universtity of
Chicago, 1983.
Al-Maqdisi, Abu Muhammad Ashim. Agama Demokrasi, Jawa
Tengah: Kafayeh, 2007.
Al-Maududi, Abul Ala. The Islamic Law and Constitution, Kurshid
Ahmad (trans and ed.), Lahore: Islamic Publeication Ltd.,
1973.
___________. Khilafah dan Kerajaan (Al-Khilafah wa Al-Mulk). Alih
Bahasa Muhammad al-Baqir. Cetakan II. Bandung: Mizan,
1988.
Al-Mawardi.
Al-Ahkam
As-Sulthaniyyah,
Hukum-hukum
Penyelenggaraan Negara dalam Syariat Islam, terj. Fadli Bahri
Lc. Jakarta: Darul Falah, 2006.
McNabb, David E. Research Methods for Political Science,
Quantitative and Qualitative Methods, New York: ME Sharpe,
2004
Meijer, Roel. Global Salafism, Islams New Religious Movement,
(London: Hurst and Company, 2009
Moleong, Lexy. Metodolgi Penelitian Kualitaatif, Bandung: Remaja
RosdaKarya, 2005.
Monshipouri, Mahmood Islam and Human Rights in the age of
globalization, USA: Berkeley University, 2000.
Mortimer, Edward Faith and Power : The Politics of Islam, London:
Faber and Faber, 1982,
Mubarok, Zaki. Genealogi Gerakan Radikal Islam Indonesia, Jakarta:
LP3ES, 2003.
62

Muslim, Imarah, Riyadh: Da>r al-Salam, 1419/1998.


An-Nas}ir, Muhammad Hamid. Menjawab Modernisasi Islam,
Membedah Pemikiran Jamaluddin al-Afghani hingga Islam
Liberal, Jakarta: Darul Haq, 2004.
Na>s}iruddin Al-Alba>ni, Shahih Sunan Abu Dawud, Jilid II
Newman, Isadore and Carolyn R. Benz, Quantitative-Qualitative
Research Methodology, Exploring the Interactive Continuum,
USA: Southern Illinois University Press, 1998.
Norris, Pippa dan Ronald Inglehart, Sacred and Secular: Religion and
Political Worldwide. Cambridge: Cambridge University Press,
2004.
ODonnell, Guillermo. Transisi Menuju Demokrasi, Rangkaian
Kemungkinan dan Ketidakpastian, l, Jakarta: LP3ES, 2003.
Olcott, Martha Brill. The Root of Radical Islam In Central Asia,
Carnegie Endowment For International Peace, Massachusetts,
Washington DC, 2006.
Osman, Fathi. Parameters of the Islamic State, Arabia: The Islamic
World Review, No. 17, January 1983.
Piscatori, James P. (ed), Islam And The Political Process, Cambridge;
Cambridge University Press, 1983.
__________________. Islam In a World of Nation States
(Cambridge: Cambridge Uviversity Press, 1986).
Poloma, Margaret M. Sosiologi Kontemporer, terj. Tim Yasogama,
Jakarta: Rajawali Press, 2000.
Al-Qawsi, Mufarrih Ibn Sulayman. al-Mawqif al-mua>sirin al-manhaj
al-salafi fi al-Bila>d al-arabiyya, Riyadh: Dar al-Fadila, 2002.
Al-Qori>, Mula Ali. Mirqa>t al-Mafa>ti>h, Syarah Mishkah Al-Mas}a>bi>h.
Juz 15.

63

Qutb, Sayyid Milestones, Damascus: The Holy Koran Publishing


House, 1978.
Rahmat, Imdadun. Arus Baru Islam Radikal, Transmisi Revivalisme
Islam Timur Tengah ke Indonesia, Jakarta: Erlangga, 2005.
Ramadhani, Abdul Malik bin Ahmad. Enam Pilar Dakwah Salafiyah,
Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafii, 2004.
Ramakrishma, Kumar. Delegitimizing Global Jihadi in The Southeast
Asia Contemporary, Southeast Asia 27 no. 3, 2005.
Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern (Terj.), Yogyakarta: Gajah
Mada University Press, 1993.
Ritzer, George. Sociological Theory, McGraw Hill Book Companies
INC, 1996
Rahman, Fazlur. Islam and Modernity: Transformation of an
Intellectual Tradition, Chicago London: The University of
Chicago Press, 1982.
Sartori, Giovani. Political Man : The Theory of Democracy revisited,
NJ: Chatam, 1987
Sorensen, Georg. Democracy and Democratization : Processes and
Proppects in a changing world, Boulder: Westview Press. 1993
Shepard, William E. Islam and Ideology : Towards a Typology, dalam
An Anthology of Contemporary Middle Eastern History,
Syafiq Mughni Ed.), Montreal: Canadian International
Development Agency.
Shils, Edward. Tradition, Chicago: The University of Chicago Press,
1983.
Shobahussurur (ed.), Mengenang 100 Tahun Haji Abdul Malik Karim
Amrullah (HAMKA), Jakarta: YPI Al-Azhar, 2008.

64

Sihbudi, Riza. Gerakan Islam Radikal Di Indonesia, Jakarta: LIPI,


2004.
Sivan, Emmanuel . The Enclave Culture, dalam Martin E. Marty &
Scott Apleby (Eds.) Fundamentalism Comprehended, Jilid II,
Chicago: University of Chicago Press, 2004.
Steinberg, Guido. Religion and Staat in Saudi Arabien:
DieWahhabitischen Gelehrten 1902-1953, Wurzburg: Ergon
Verlag, 2002.
Surkati, Ahmad Al-Anshari. Tiga Persoalan (Ijtihad dan Taqlid,
Sunnah dan Bidah, serta Ziarah kubur-tawassul dan syafaat)
Terj. Ahmad Salim bin Mahfud, Jakarta: Pimpinan Pusat AlIsyad Al-Islamiyyah, 1988.
Taimiyah, Ibnu. As-siya>sah ash-shariyyah, Damam: Da>r Rowi, 2000.
Thaha, Idris. Demokrasi Religius, Jakarta: Teraju, 2005.
Theodorson, George A. and Achilles G. Theodorson, A Modern
Dictionary of Sociology, Barnes and Noble Books, New York,
1979.
Wahid, Din dkk. Laskar Jihad dan gerakan Politik di Indonesia,
Jakarta: LP3ES, 2002.
Websters Third New International Dictionary, Springfield Merriam,
1971.
Wood, James. Social Movement, McGraw Hill Book Company, 1977.
Woodword, Mark R. Jalan Baru Islam : Memetakan Paradigma
Mutakhir Islam Indonesia, Bandung: Mizan, 1998.

65

JURNAL INTERNASIONAL
Beetham, David. Liberal Democracy and the limits of
Democratization, in D Held (ed), Prospects for Democracy,
Political Studies 40, Special issue, Norwich: Black kwell
Publishers, 1999.
Bruinessen, Van. Genealogies of Islamic radicalism in Post-Suharto
Indonesia, South East Asia Research, 10, 2, 2000.
Duderija, Adis. Islamic Groups and Their World-views and Identities
: Neo-Traditional Salafis and Progressive Muslims, Arab Law
Quarterly 21, 2007.
Eich, Thomas. The Forgotten Salafi : Abu Al-Huda As-Sayyadi,
USA: BRILL, New Series, Vol. 43 I, 2003.
Eliraz, Giora.` Islam and Polity Indonesia : An Intriguing Case Study,
Research Monographs On the Muslim World, Washington:
Hudson Institute, Series No.1, Paper No. 5, Pebruary 2007.
Fakhry, Majid. The Theocratic Idea Of The Islamic State In Recent
Controversies, International Affairs, Royal Institute of
International Affairs, Vol 30, No. 4, 2005.
Febe Armanios, The Islamic Traditions of Wahhabism and Salafiyya,
CRS Report for Congress, December, 22, 2003.
Gunawan, Basuki. Political Mobilization in Indonesia. Nationalist
Against
Communists dalam Modern Asian Studies, Vol. 7/4. Oktober, 1973.
Jones, Sidney Indonesia Backgrounder: Why Salafism and Terrorism
mostly dont mix, ICG Asia Report N83, Southeast
Asia/Brussels, 13 September 2004.
Kapiszewski, Andrzej. Saudi Arabia : Steps toward Democratization
or Reconfiguration of Authoritarianism, Journal of Asian and
African Studies, 2005.
66

Keilani, Musa Neede: A New Definition of Fundamentalism, The


Jordan Times. Amman, 5 September 1984.
Kumar Ramakrishma, Delegitimizing Global Jihadi in The
Southeast Asia Contemporary Southeast Asia 27 no. 3, 2005.
Osman, Fathi. Parameters of the Islamic State, Arabia: The Islamic
World Review, No. 17, January 1983.
Ramakrishma, Kumar. Delegitimizing Global Jihadi in The Southeast
Asia Contemporary, Southeast Asia 27 no. 3, 2005.
Stemmann, Juan Jose Escobar. Middle East Salafisms Influence dan
the Radicalization of Muslim Communities in Europe, MERIA,
The Middle East Review of International Affairs, Volume 10,
No. 3, Article I/10, September 2006.
Umam,Saiful Radical Muslims in Indonesia : The Case of Jafar
Umar Thalib and The Laskar Jihad, Explorations in Southest
Asian Studies, Vol. 6, No 1, Spring, 2006.
Wictorowicz, Quintan. A Genealogy Of Radical Islam, Studies in
Conlict and Terrorism, Vol. 28, 2005,
__________________. The New Global Threat : Transnasional
Salafis and Jihad, United States of America Middle East
Policy, Vol. VIII, No 4, December , 2001.
__________________. The Salafi Movement in Jordan, International
Journal of Middle East Studies, 32 United States of America,
2000.

67

ENSIKLOPEDIA
E.J. Brills, First Encyclopedia of Islam 1913-1936 Vol. VII, edited by
M.Th Houtsma T.W. Arnold, R. Basset and R. Hartmann,
New York, 1987.
Ensiklopedia Islam, Editor Bahasa Nina M. Armando (Et al.) Edisi
Baru Jilid 1 Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005.
The Encyclopedia Americanna, International Edition, first published
in 1829, Glorier Incorporated, Vol. 14, USA, 1993.
The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World, John L.
Esposito, Oxford University Press Inc. 1995 jilid 2.

MAJALAH
Ar-Ruhaili, Ibrahim bin A<mir, Al-Takfir wa dhowabithuh, (Khowarij
Kontemporer/Imam Wahyudi,Terj), Adz-Dzakhiiroh AlIslamiyyah, Edisi 34 tahun 5, Dzulqadah, 1427.
Ash-Shaikh Abdullah bin Shalih Al-Ubailan, Pelajaran tentang
Manhaj Salaf, (terj.), Adz-Dzakhiiroh Al-Islamiyyah, Vol. 6 no
9 edisi 41 1429.
Salman, Masyhur Hasan. Ad-Dakwah ila Allah baina al-wahy wa alFikr, Genggamlah Sunnah, Taati Penguasa,Abdurrahman Hadi
(Terj.), Adz-Dzakhiiroh Al-Islamiyyah, no. 9, Edisi 23, Tahun
V, 1427.
Thayyib,Abdurrahman. Kilas Balik Pencetus Takfir, AdzDzakhiirohAl-Islamiyyah. edisi 6 tahun 1 no 05 1424/2003.
__________________. Menepis Tuduhan, Membela Tuduhan, AdzDzakhiiroh Al-Islamiyyah. edisi 6 tahun 1 no 05 1424/2003.
Zainu, Shaikh Muhammad bin Jamil, Surat Buat Kelompokkelompok Dakwah, Adz-Dzakhiiroh Al-Islamiyyah, Edisi 15
tahun III, Rajab, vol. 6, no. 6, edisi 38, 1429.

68

Al-Waie, Media Politik dan Dakwah, no. 118, Tahun X, 1-31 Maret
2010/1431H
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=155508. Diakses 8
Pebruari 2010.

69

RIWAYAT HIDUP
Nama

: Slamet Muliono Redjosari

Tempat Tgl. Lahir : Surabaya, 29 Nopember 1968


NIP.

: 196811291996031003

Alamat

: Jl. Kalimas Hilir IB/4 Surabaya

Riwayat Pendidikan
1. Sekolah Dasar (SD) Rahmat Surabaya (lulus tahun 1982)
2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Atmaja (lulus tahun 1985)
3. Sekolah Menengah Atas (SMA) Mujahidin (lulus tahun 1988)
4. Sarjana (S-1) Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel
Surabaya (lulus tahun 1992)
5. Sarjana (S-2) Program Pascasarjana UNAIR Surabaya (lulus
tahun 2002)
6. Sarjana (S-3) Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel
Surabaya tahun 2008-2011.
Riwayat Pekerjaan
1. Pegawai Negeri Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 1996
2. Staf pengajar pada Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel
Surabaya 1998
3. Dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya 1999
4. Ketua Laboratorium Politik Islam Fakultas Ushuluddin IAIN
Sunan Ampel (2005-2009)
5. Anggota Tim Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
Lembaga Penelitian IAIN Sunan Ampel Surabaya (2006-2009)

70

6. Anggota Penyunting Jurnal Penelitian Qualita Ahsana dan


Paramedia (2006-2009)
7. Ketua Laboratorium Aqidah-Filsafat (AF) Fakultas Ushuluddin
IAIN Sunan Ampel (2010-2014)
8. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sekolah Tinggi
Ali Bin Abi Thalib (STAI) Surabaya (2007-2011)
9. Editor Jurnal Fawaid Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
Surabaya 2011
Pengalaman Pelatihan
1. Pelatihan In-service Training Depag RI BEP 2000-2001
2. Training of Trainers (TOT) Participatory Action Research
(PAR) kerjasama LPM IAINDepag. RI 2005
3. Pelatihan KKN Berbasis PAR (IAIN Sunan Ampel, 2005)
4. Pelatihan polling Drafting kerjasama Litbang DPW PAN JatimIRI 2006
5. Workshop Penelitian Kualitatif-kuantitatif, Lemlit IAIN 2007
6. Pelatih KKN berbasis PAR di IAIN Sunan Ampel (2009-20011)
7. Research Management di Universitas Melbourne, Australia
Agustus 2010.
Karya tulis yang pernah dipublikasikan
1. Dakwah Kultural Muhammadiyah, penelitian kelompok,
Lembaga Penelitian IAIN Sunan Ampel, (2002)
2. Massa dan Konflik Elite Politik : Respon Massa NUMuhammadiyah terhadap Konflik Elite Politik Abdurrahman
Wahid- Amien Rais (2005)

71

3. Hermeneutika Al-Quran: Antara Memuliakan dan


mendekonstruksi Al-Quran, 2005
4. Orientalisme dalam Studi Islam, 2007
5. Gerakan Dakwah Salafiyah dan Isu-isu kontemporer, 2008
6. Islam dan Ideologi Modernitas, 2009
Pengalaman Organisasi
1. Ketua Penelitian dan Pengembangan Panti Asuhan Yatim
Surabaya 2009-2014
2. Dewan Penasehat bidang pendidikan Ikasmadin Surabaya 20112014

72