Anda di halaman 1dari 15

ANALISA RESEP

Resep awal :
Dr. FIRDAUS
SIP No:
Praktek:
Tlp:
9 Juni 2010
R/ Lapicef 500 no. VI
S. 1 d.d. I
Paraf
R/ Tab. DMP 15 mg
Ambroxol 15 mg
CTM 1 mg
Codein 5 mg
Dexamethason 0,5 mg
Salbutamol 3 mg
m.f. caps. d.t.d. XV
S. 3 d.d. 1
Paraf

Pro
: Fatia
Umur : 11 tahun
Alamat : Sekarbela 2

ANALISIS STRUKTUR RESEP


Lengkap/tidak Benar (jelas)/tidak
Tidak lengkap
Jelas

Identitas dokter
Superskripsio
R/1

Lengkap

Tidak Jelas

R/2

Lengkap

Tidak Jelas

Keterangan
1. Alamat pasien tidak jelas
2. Alamat praktek/rumah
dokter tidak ada
3. Nomor praktek dokter tidak
ada
1. Alamat pasien tidak lengkap

R/1

Tidak lengkap

Tidak jelas

R/2

Lengkap

Jelas

R/1

Tidak lengkap

Jelas

R/2

Lengkap

Jelas

R/1

Tidak lengkap

Tidak jelas

R/2

Tidak lengkap

Tidak jelas

R/1

Tidak ada

Tidak jelas

R/2

Tidak ada

Tidak jelas

Lengkap

Tidak jelas

Inskripsio

Subskripsio

Signatura

Paraf/tanda
tangan
Identitas pasien

2. Alamat praktek/rumah
dokter tidak ada
3. Nomor praktek dokter tidak
ada
1. Tidak ada satuan berat untuk
bahan padat
2. Tidak bisa dibaca satuan
beratnya (500 atau 50)
Bisa dibaca per masing-masing
obat
1. Bentuk sediaan obat tidak
tercantum pada nama obat
(apakah benar dalam bentuk
tablet)
Nama, jumlah obat yang
dicampur jadi satu, dan bentuk
sediaan ada
1. Tidak ada bentuk sediaan
obat
2. Waktu minum tidak
dicantumkan
3. Diminum sampai habis tidak
dicantumkan (antibiotik)
1. Harus ditulis dicampur
menurut aturan pembuatan
kapsul
2. Tidak ada perintah untuk
membuat puyer yang
selanjutnya dikemas dalam
bentuk kapsul
3. Keterangan waktu minum
tidak dicantumkan
4. Tidak dicantumkan
diminumnya bila timbul
keluhan
Tidak terdapat paraf dokter di
resep
Tidak terdapat paraf dokter di
resep
Alamat pasien tidak jelas

RESEP SPESIALISTIS & MARGINALIS


Dr. FIRDAUS HAKIM
SIP No: 006/046/UP/DINKES
Praktek:
Jl. Sriwijaya no. 103A Mataram
Tlp: 644066
Mataram, 9 Juni 2010
R/

R/

Tab Lapicef 500 mg no. VI


S. 1 d.d. tab I
Paraf
Ambroxol 15 mg
CTM 1 mg
Dexamethason 0,5 mg
Salbutamol 3 mg
m.f.l.a pulv.d.t.a no. XV
da.in caps
S. t.d.d. caps.1 d.c
Paraf

Pro
: Fatia Ariani
Umur : 11 tahun
Alamat : Jl. Lumba-lumba 2, Sekarbela

ANALISIS DOSIS OBAT


1. Lapicef (cefadroxil monohidrat)
Indikasi : infeksi suseptibel untuk gram positif dan negatif
Dosis anak = 478 - 956 mg per hari dosis tunggal atau 2 dosis terbagi
Bisa diminum dengan atau tanpa makanan (dengan makanan mungkin bisa
mengurangi rasa tidak nyaman saluran pencernaan)
2. Dextrometorfan

Indikasi : menekan batuk dengan reaksi sentral pada pusat batuk di medulla;
untuk batuk tidak berdahak (antitusif), menekan inflamasi dan gangguan akibat
reaksi alergi; diagnosis penyakit Cushing, hyperplasia adrenal congenital, edema
serebral terkait keganasan; nausea dan muntah terkait kemoterapi; penyakit

reumatik
Dosis anak : 10 100 g/kg/hari (BNF)
Dosis anak : 5 - 10 mg diberikan 1 - 4 jam sekali (A Z drug facts)
Perhatian : untuk batuk kronis, tidak digunakan untuk batuk persisten (kronis) seperti
merokok, asma, emfisema, atau jika batuk disertai dengan secret berlebih

3. Ambroxol
Indikasi : mukolitik (pengencer dahak dengan memecah polisakarida sehingga
dahak tidak kental)
Dosis anak : 28 57 mg; 2-3 kali dosis terbagi
Diminum bersamaan dengan makanan

4. CTM
Indikasi : meredakan simtomatik alergi, urtikaria, terapi emergensi reaksi
anafilaktik
Dosis anak 6-12 tahun = 2 mg per hari

5. Codein
Indikasi : preparat obat batuk (analgesic opioid)
Dosis anak : 7 14 mg; 3-4x/ hari
Pemberian : bisa diberikan bersamaan atau tanpa makanan
Kontraindikasi : depresi respiratorik, penyakit obstruksi jalan nafas, asma,
alkoholisme akut, gangguan konvulsif, cedera kepala, pasien koma, peningkatan

tekanan intracranial
Hati-hati pada : Hypothyroidism, adrenocortical insufficiency; asthma, gangguan
fungsi hepar atau renal, hyperplasia prostat, hipotensi, syok, gangguan obstruksi
usus, myasthenia gravis

6. Dexametasone
Indikasi : manajemen insufisiensi koretks adrenal, gangguan reumatik, gangguan
kolagen, penyakit dermatologic, alergi, penyakit respiratorik, gangguan
hematologik, penyakit neoplastik, edema serebral dengan tumor otak primer atau
metastatic, status edema (sindroma nefrotik), penyakit GI, multipel sklerosis,
meningitis tuberkulosa, trichinosis dengan gangguan enurologis atay myocardium

Dosis anak : 0,35 4,3 mg/hari; 2-4 kali dosis terbagi


7. Salbutamol
Indikasi : asma dan kondisi lain terkait dengan obstruksi jalan nafas reversibel;

kerja cepat
Dosis anak : 2 mg 34 kali sehari
Pemberian : diberikan saat lambung kosong (diminum 1-2 jam sebelum makan)

KASUS 2
Tina, 11 tahun, dibawa ke UGD RSU Bima karena sesak sejak tadi malam. Sesak sampai nafas
berbunyi ngik..ngik. selain itu sudah 2 hari ini ia mengalami batuk berdahak dan demam yang
tidak terlalu tinggi. Tina mempunyai riwayat asma bronkiale yang sering kambuh. Serangan kali
ini memberat karena persediaan obatnya habis. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan TD : 110/70
mmHg, RR 36x/menit, suhu aksiler 37,8o C, nadi 100x/menit. Pada pemeriksaan fisik juga
didapatkan hasil faring hyperemia dan penggunaan otot bantu nafas dan wheezing pada paruparu. Pemeriksaan lain dalam batas normal. Dokter memutuskan untuk memberikan salbutamol,
prednisone, gliseril guaikolat, dan parasetamol.
a.
b.
c.
d.

Jelaskan cara kerja obat yang diresepkan


Jelaskan tujuan pemberian masing-masing obat
Rasionalkah resep tersebut? Jelaskan dengan singkat
Buatlah resep yang benar dan rasional

PERMASALAHAN

Sesak nafas yang kambuh (wheezing)


Batuk berdahak
Demam
Hyperemia faring

DIAGNOSIS : Asma bronkial (eksaserbasi akut).


Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversibel dimana
trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma bronchial adalah suatu
penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan
dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubahubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan.
TUJUAN PEMBERIAN OBAT
1. Merelaksasikan otot polos saluran nafas (melebarkan jalan nafas) dengan segera
sehingga meredakan keluhan sesak nafas dan wheezing yang terjadi (bronkodilator)

2. Mengontrol dan meredakan demam dan batuk berdahak yang ditinjau sebagai faktorfaktor presipitasi yang dapat mencetuskan serangan asma sehingga untuk selanjutnya
dapat dihindari (kontroler)
3. Meredakan reaksi inflamasi yang berupa hiperremia faring dan demam
4. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma,
baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti
tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang
merawatnnya.
5. Mengontrol pemberian obat dan memastikan tersedianya obat di rumah untuk mengatasi
eksaserbasi akut
6. Mencegah eksaserbasi akut berulang dan komplikasinya pada saluran nafas.
TUJUAN SPESIFIK
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Meminimalisir simtom kronis, termasu simtom nokturnal


Meminimalisir eksaserbasi akut
Tidak ada kunjungan emergensi ke instansi kesehatan
Penggunaan obat beta 2 agonis yang minimal
Tidak ada pembatasan aktivitas, termasuk latihan
Aliran ekspirasi puncak (peak expiratory flow) mendekati normal
Menghilangkan atau minimalisir efek samping obat

CARA KERJA DAN TUJUAN PEMBERIAN OBAT


1. Salbutamol
Salbutamol merupakan agonis reseptor selektif untuk pengobatan asma. Dengan beberapa
kriteria, sediaan ini diberikan secara inhalasi. Salbutamol bersifat agonis selektif jangka
pendek untuk meredakan simtom asma.
Mekanisme antiasma agonis reseptor beta adalah untuka merelaksasikan otot polos jalan
nafas sehingga terjadi bronkodilatasi. Walaupun otot polos bronkus manusia menerima
inervasi simpatis sedikit atau bahkan tidak ada, tetapi kadar reseptor beta sangat banyak.
Agonis resepor beta juga akan meningkatkan konduktansi sejumlah besar kanal Ca2+-sensitif
K+ pada otot polos jalan nafas yang kemudian menimbulkan hiperpolarisasi dan relaksasi.
Sebagian kecil mekanisme ini melibatkan aktivitas adenilat siklase dan prosuksi siklik AMP.
Adanya stimulasi reseptor b2 adrenergik akan menghambat aktivitas sel mast, basofil,

eosinofil, neutrofil, dan limfosit. Secara umum, stimulasi reseptor 2 adrenergik pada sel-sel
bronkus akan meningkatkan siklik AMP intraseluler, mengaktivasi kaskade sinyal yang
menginhibisi pelepasan mediator inflamasi dan sitokin. Paparan yang lama terhadap b 2
agonis akan menimbulkan desensitisasi pada jalur-jalur reseptor ini sehingga penggunaannya
yang kronis akan menurunkan inflamasi jalan nafas.
Agonis reseptor 2 adrenergik kerja cepat. Obat-obat ini diberikan rata-rata
secara inhalasi dengan onset kerja 1 5 menit dan menimbulkan bronkodilatasi paling sedikit
selama 2 6 jam. Jika diberikan dalam dosis oral, durasinya akan semakin lama.
Obat yang paling selektif untuk merelaksasikan otot polos jalan nafas dan memulihkan
bronkokonstriksi adalah agonis reseptor b2 adrenergik. Terapi dengan obat ini lebih disukai
untuk meredakan simtom dispneu yang dikaitkan dengan bronkokonstriksi asma.
Beberapa studi telah meneliti mengenai efek terapi agonis reseptor 2 adrenergik kerja lama
yang dikombinasikan dengan inhalasi glukokortikoid untuk pasien dengan asma persisten.
Kombinasi yang dilakukan misalnya pada salmeterol-flutikason dan formoterol-budesonide.
Data yang ada menunjukkan bahwa penambahan agonis reseptor 2 adrenergik dengan
steroid inhalasi lebih efektif dibandingkan menggandakan dosis steroid. Disebabkan karena
terapi kronik dengan inhalasi agonis reseptor b2 adrenergik kerja lama tidak menurunkan
inflamasi jalan nafas secara signifikan, kebanyakan ahli tidak menggunakan agen-agen
tersebut untuk terapi asma.
Walaupun melalui stimulasi reseptor 2 adrenergik bisa menginhibisi pelepasan mediatormediator inflamasi dari sel mast, pemberian agonis reseptor 2 adrenergik dalam jangka
waktu lama, baik melalui oral maupun inhalasi, tidak akan menurunkan hiperresponsivitas
bronchial. Oleh karena itu, kecekderungan pengobatan lebih ditekankan terapi simtomsimtom yang kronis.

Polimorfisme reseptor b 2 adrenergik juga memberikan kontribusi

terhadap efek terapi dan efek samping agonis b2 adrenergik.


2. Prednison
Prednisone merupakan prodrug yang dengan cepat diubah menjadi prednisolone, bentuk
aktifnya dalam tubuh.

Korteks adrenal melepaskan sejumlah besar steroid ke dalam sirkulasi. Beberapa memiliki
aktivitas biologis minimal dan fungsi primer sebagai precursor, dan beberapa lainnya
fungsinya belum diketahui. Hormone steroid dibagi berdasarkan efek utamanya:
1. pada metabolisme perantara dan fungsi imun (glukokortikoid)
2. yang mempunyai aktivitas utama menahan garam, dan
3. yang mempunyai aktivitas adronergek dan estrogenik
Kebanyakan efek glukokortikoid yang diketahui dimediasi oleh luasnya distribusi reseptor
glukopkortikoid. Efek utama glukokortikoid ialah pada penyimpanan glikogen hepar dan
efek anti inflamasi.
Efek anti infalamasi dan immunosupresi:
Glukokortikoid mempunyai kapasitas mengurangi manifestasi peradangan secara dramatis.
Ini disebabkan oleh efeknya yang hebat terhadap konsentrasi, distribusi, dan fungsi leukosit
perifer serta penghambatan aktivitas fosfolipase A2. Setelah pemberian dosis tunggal
glukokortikoid kerja singkat, konsentrasi netrofil meningkat sedangkan jumlah limfosit (sel T
dan B), monosit, eusinofil, dan basofil dalam sirkulasi menurun. Peningkatan netrofil
disebabkan oleh peningkatan influksdari sumsum tulang dan penurunan migrasi dari
pembuluh darah, yang menyebabkan penurunan jumlah sel pada daerah peradangan.
Pengurangan limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil dalam sirkulasi adalah sebagai akibat
perpindahannya dari vascular bed ke jaringan limfoid.
Glukokortikoid menghambat fungsi leukosit dan jaringan makrofag. Kemampuan sel ini
untuk menimbulkan respon terhadap antigen dan mitogen dikurangi. Efek terhadap makrofag
sangat jelas dan membatasi kemampuan memfagositosis dan membunuh organism serta
memproduksi IL1, pirogen, kolagenase, elastase, TNF, dan aktivator plasminogen. Limfosit
menghasilkan sedikit IL2.
Glukokortikoid juga mempengaruhi respon peradangan dengan mengurangi sintesis Pg dan
leukotrien yang diakibatkan aktivasi fosfolipase A2. Kortikosteroid juga meningkatkan
konsentrasi lipokortin, protein anggota family aneksin yang mengurangi sediaan substrat
fosfolipid fosfolipase A2. Akhirnya, glukokortikosteroid dapat mengurangi ekspresi
siklooksigenase, jadi mengurangi jumlah enzim yang tersedia untuk memproduksi Pg.
Glukokortikoid tampaknya menghambat ekspresi COX II, yang mungkin merupakan enzim
yang lebih terlibat dalam efek peradangan eikosanoid. Efeknya kurang terhadap ekspresi
COX I.

Efek terhadap pasien asthma:


Tidak secara langsung berefek sebagai bronkodilator, tapi sebagai anti inflamasi, dengan
menghambat produksi sitokin dan kemokin, menghambat sintesis eikosanoid, menghambat
peningkatan basofil, eosinofil, dan leukosit lain di jaringan paru, serta menurunkan
permeabilitas vaskular.
3. Gliseril Guaikolat
Gliseril guaikolat adalah obat golongan ekspektoran yang bekerja merangsang pengeluaran
dahak dari saluran nafas (ekspektorasi). Mekanismenya diduga berdasarkan stimulasi mukosa
lambung dan selanjutnya secara refleks merangsang sekresi kelenjar saluran napas lewat N.
Vagus, sehingga menurunkan viskositas dan mempermudah pengeluaran dahak. Gliseril
guaikolat ini mempunyai efek samping berupa kantuk mual dan muntah.
4. Parasetamol
Asetaminofen

(paracetamol; N-acetyl-p-aminophenol; TYLENOL) merupakan metabolit

aktif fenasetin. Asetaminofen merupakan alternative efektif sebagai agen analgesicantipiretik; akan tetapi efek antiinflamasinya lebih rendah. Diindikasikan untuk meredakan
nyeri pada osteoarthritis, tetapi tidak relevan untuk mensubstitusikan aspirin atau NSAID lain
pada kondisi inflamasi kronis seperti arthritis reumatoid.
Asetaminofen merupakan memiliki efek analgesic dan antipiretik yang sama dengan aspirin.
Dosis maksimal per hari, 1000 mg, menghasilkan suatu inhibisi kasar baik pada COX-1 dan
COX-2. Hal ini akhirnya menimbulkan penyaranan bahwa penggunaan terutama inhibisi
COX pada otak, menjelaskan efikasi antipiretiknya. Varian COX-1 yang diekspresikan pada
otak, COX-3, menunjukkan suseptibilitas inhibisinya oleh asetaminofen secara in vitro. Akan
tetapi, hal ini belum diujicobakan pada manusia sehingga belum diketahui apakan inhibisinya
terkait dengan efikasi asetaminofen pada manusia.
Dosis tunggal atau berulang asetaminofen tidak memiliki efek pada system kardiovaskular
dan respirasi, pada plateket, atau koagulasi. Perubahan asam basa dan urikosuria tidak terjadi,
begitu juga dengan iritasi gaster, erosi, atau perdarahan yang terjadi saat pemberian asam
salisilat.

Penggunaan terapeutik. Asetaminofen cocok digunakan untuk mengganti aspirin sebagai


agen analgesik dan antipiretik pada pasien tertentu yang kontraindikasi terhadap aspirin.
Dosis konvensional oral asetaminofen sekitar 325 hingga 1000 mg; dosis total harian tidak
boleh melebihi 4000 mg.
RASIONALITAS
1. Salbutamol
FK : diabsorpsi baik pada pemberian aerosol
Indikasi : sebagai relaksan otot polos jalan nafas (bronkodilator) kerja cepat

(mencegah bronkospasme; lini pertama eksaserbasi asma);


Bisa menstimulasi jantung jika dosis dinaikkan 10 kali lipat
Interaksi dan kombinasi : untuk meredakan asma kronis yang mengalami
eksaserbasi akut diberikan terapi pencegana inhaler reguler diberikan agonis reseptor

beta 2 adrenergik plus dosis standar kortikosteroid inhalasi


Kontraindikasi : eklampsia dan preeclampsia, infeksi intrauterine, intrauterine fetal

death, perdarahan antepartum, plasenta previa, penyakit jantung


Precaution : kehamilan, eklampsia ringan atau berat, hipertioridisme, hipertensi,
DM, insufisiensi myocardial, monitor kadar K plasma; hentikan bila terdapat tanda-

tanda edema pulmoner


Efek samping : tremor skeletal, takikardia, palpitasi, kram otot, bromkospasme

paradoksikal, angioedema, urtikaria, hipotensi


Interaksi obat : diuretic, kortikosteroid dan xantin bisa menimbulkan hipokalemia,
kombinasi dengan MAOi akan menimbulkan efek kardiovaskular, TCA, atomoxetin

(peningkatan detak jantung dan BP)


Dosis anak : 2 mg 34 kali sehari
Pemberian : diberikan saat lambung kosong (diminum 1-2 jam sebelum makan)
Pilihan terapi anak > 5 tahun dan dewasa :
a. Bronkodilator pereda keluhan : inhalasi agonis beta 2 reseptor kerja cepat
b. Terapi preventif inhalasi reguler : inhalasi agonis reseptor beta 2 kerja cepat
plus dosis standar kortokosteroid inhalasi
c. Kortikosteroid inflamasi + agonis beta 2 inhalasi kerja lama
Agonis beta 2 kerja cepat + kortokosteroid inhalasi + agonis beta 2 kerja lama
(salmeterol atau formoterol)
d. Kortikosteroid dosis tinggi + bronkodilator reguler
Inhalasi Agonis beta 2 kerja cepat + kortikosteroid inhalasi dosis tinggi reguler
+ inhalasi agonis beta 2 kerja lama + pada dewasa terapi sekuensial :

Antagonis reseptor Leukotrien

Teofilin modifikasi

Beta 2 agonis modifikasi

e. Tablet kortikosteroid reguler


Inhalasi beta 2 agonis kerja cepat + kortikosteroid inhalasi dosis tinggi +
bronkodilator kerja lama + tablet prednisolon reguler

2. Prednisone
Glukokortikoid oral yang digunakan untuk eksaserbasi khususnya bila
sebelumnya telah mendapatkan terapi agonis reseptor beta kerja singkat yang

tidak dalam kontrol dokter


Digunakan jika terapi bronkodilator gagal
Bisa
dikombinasikan
dengan

oksigen,

bronkodilator
agonis),

(beta

glukokortikoid

oral, lalu dilanjutkan 1-3


sampai

ada

perbaikan

gejala dan peningkatan PEF

(peak expiratory flow)


Jika obat ini dibawa pulang
sebaiknya tidak digunakan
dalam jangka waktu lama,
hanya digunakan jika mengalami keluhan. Penggunaan 2-3x berulang tidak akan

efektif
Kontraindikasi : hipersensitivitas, infeksi serius (kecuali meningitis tuberculosis),

varisella, infeksi fungal sistemik


Precaution : kehamilan dan menyusui, osteoporosis, hipertensi, DM, epilepsy,
glaukoma, katarak, tuberculosis, hipotiroidisme, sirosis, CHF, colitis ulseratif,

tromboembolik, ulserasi peptic, gangguan hepar; hati-hati pada lansia, anak yang

mengalami gangguan pertumbuhan


Efek samping ; insomnia, gugup, peningkatan nafsu makan, pusing, nyeri kepala,
DM, intoleransi glukosa, hiperglikemia, atralgia, katarak, glaucoma, epistaksis,
diaphoresis, sindrom Cushing, edema, fraktur, halusinasi, hipertensi, osteoporosis,

pancreatitis, kejangm, supresi axis adrenal pituitary


Interaksi: NSAID (peningkatan ulserasi gastric), peningkatan efek dengan
barbiturate, fenitoin , rifampin, etanol akan meningkatkan iritasi mukosa

3. Gliseril guaiakolat (guaifenecin) (kombinasi dengan triprolidin dan pseudoefedrin)


Efek kerja : meningkatkan sekresi saluran nafas atau mencairkan dahak sehingga
mudah untuk dikeluarkan; menstimulasi mukosa lambung dan selanjutnya secara
reflex merangsang sekresi kelenjar saluran melewati nervus vagus sehingga

menurunkan viskositas sehingga mempermudah pengeluaran dahak


Kecocokan (suitability) :
o Indikasi : rinitis alergi dan kongesti nasal terkait batuk berdahak
o Kontraindikasi : hipersensitivitas
pada agen simpatomimetik
(efedrin, fenilpropanolamin),
pemakaian MAO inhibitor selama
paling sedikit 2 minggu
o Hati-hati pada : gangguan fungsi ginjal dan hati, glaucoma, hipertrofi
prostat, hipertiroid, DM, penyakit jantung; hentikan pemakaian jika
terdapat insomnia, palpitasi, pusing; hati-hati pada anak < 2 tahun, lansia,

kehamilan dan menyusui


Keamanan : ketidaknyamanan GI, nyeri kepala, insomnia, takikardia, aritmia
Interaksi obat : antihipertensi, TCA, dekongestan simpatomimetik lain,
amfetamin, MAOi

4. Parasetamol
FK : diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna; konsentrasi tertinggi
plasma dicapai dalam waktu setengah jam, waktu paro 1-13 jam; 25% terikat
dalam protein plasma, metabolism oleh enzim mikrosom hati, 80% dikonjugasi

dengan asam glukuronat; ekskresi melalui ginjal; 3% dalam bentuk parasetamol,

sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi


FD : efek analgetik ringan sedang; terutama untuk meredakan nyeri dan demam
Indikasi : Digunakan sebagai analgetik dan antipiretik sehingga meredakan
demam sebagai reaksi inflamasi (tidak memiliki efek antinflamasi yang berarti

sehingga tidak mengiritasi lambung)


Precaution : gangguan hati atau ginjal, ketergantungan alcohol, defisiensi G6PD
Efek samping : nausea, alergi, ruam kulit, NTA, fatal (jarang) : diskrasia darah

(trombositopenia, leucopenia, neutropenia, agranulositosis, kerusakan hepar)


Keamanan : jarang, kecuali pemakaian jangka panjang : ruam kulit, pancreatitis

akut, kelainan darah


Interaksi obat : menurunkan absorpsi kolestiramin dalam 1 jam pemberian,
ditingkatkan absorpsinya oleh metoklopramid, diturunkan efeknya oleh barbiturar,
karbamazepin, hidantoin, rifampisin, dan sulfinpirazon, parasetamol dapat
meningkatkan efek warfarin. Fatal : meningkatkan risiko kerusakan hati pada
alkoholik kronis, meningkatkan risiko toksisitas dari obat hepatotoksin lain atau
obat yang menginduksi

enzim mikrosom hati (barbiturate, karbamazepin,

hidantoin, rifampisin, sulfinpirazon)


Jadi resep yang diberikan dan kombinasi obatnya rasional karena :
1. Salbutamol dan prednisone (kombinasi agonis beta 2 kerja cepat dan glukokortikoid oral)
biasa digunakan sebagai obat kombinasi untuk asma eksaserbasi akut, apalagi pada pasien
yang tidak berespon terhadap terapi tunggal beta 2 agonis;
2. Bermanfaat untuk mengurangi dosis beta 2 agonis karena dikombinasikan dengan
glukokotikoid oral
3. Indikasi sesuai, kontraindikasi, efek samping, dan kecocokan tidak ada yang berlawanan
secara signifikan
4. Belum rasional karena Penambahan ekspektoran (gliseril guaiakolat) untuk pasien asma
akan menimbulkan reflex batuk yang akan menimbulkan sesak kembali pada pasien asma
sehingga kami memutuskan untuk mengganti obatnya dengan golongan mukolitik, karena
dengan mukolitik akan mengencerkan dahak dengan memecah mukopolisakarida sehingga
mucus encer tanpa menginduksi batuk yang dapat menimbulkan sesak
5. Parasetamol bisa digunakan untuk meredakan rasa nyeri dan demam ringan pada pasien,
jadi hanya digunakan untuk terapi simtomatik

RESEP YANG LEGE ARTIS


Dr. MITHA RATNA DEWI
SIP No: 006/046/UP/DINKES
Praktek:
Jl. Sriwijaya no. 103A Bima
Tlp: 644066
Bima, 12 Juni 2010
R/

Salbutamol Aerosol 100 g fl I


S. t.d.d puff.I a.c
Paraf

R/

Tab Prednison 5 mg no. VI


S. 1.d.d. tab.2 d.c
Paraf

R/

Tab Ambroxol 15 mg no. XV


S. b.d.d. tab I d.c
Paraf

R/

Tab Parasetamol 500 mg no. XV


S. p.r.n.t.d.d. tab I p.c
Paraf

Pro
: Tina
Umur : 11 tahun
Alamat : Jl. Lumba-lumba 2, Bima