Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

TUGAS TUGAS
4.1.Tugas Pendahuluan
Vektor grup atau juga dapat disebut angka lonceng pada trafo tiga
fasa dinyatakan dalam bilangan jam (searah putaran jam/ clock wise). Tiap
satu bilangan jam mewakili beda sudut 30 derajat. Vektor grup
menentukan pergeseran sudut arus pada belitan primer dan sekunder. Trafo
3 fasa 2 belitan memliki beberapa macam konfigurasi belitan. Apabila
dilihat dari jenis penyusunan belitan antar fasa maka ada dua macam tipe
belitan yaitu : belitan Wye (star) dan belitan delta. Sedangkan berdasarkan
pergeseran sudut fasa antara arus pada kumparan primer dan kumparan
sekunder maka ada beberapa macam tiep jenis belitan seperti terlihat pada
Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Tipe belitan berdasarkan pergeseran sudut fasa


Trafo dengan vektor grup Yd1 berarti belitan primer terangkai Wye
(Y) sedangkan belitan sekunder terangkai delta, angka 1 menunjukkan
bahwa arus pada kumparan primer dan kumparan sekunder berbeda 30
derajat. Sedangkan pada trafo dengan vektor grup Yd5 arus pada kedua
belitan berbeda 150 derajat (5 x 30 derajat).
Cara menggambar vektor grup Yd1 dan rangkaian belitan trafo
adalah sebagai berikut :
1. Gambar vektor A,B,C (arus pada belitan primer) dalam lingkaran jam.
dalam lingkaran jam
2. gambar vektor bantu yang menunjuk jam 1
3. gambar vektor a (arus pada belitan sekunder a) searah dengan vektor
A dengan kepala vektor menuju arah jam 1 (perhatikan gambar 2)

4. gambar vektor b (arus pada belitan sekunder b) searah dengan vektor


B dengan pangkal vektor berada pada vektor a.
5. gambar vektor c (arus pada belitan sekunder c) searah dengan vektor
C dengan pangkal vektor berada pada vektor b dan kepala vektor
berada pada pangkal vektor a.
6. beri notasi tambahan 1 pada tiap kepala vektor a,b, dan c serta notasi 2
pada pangkal vektornya.

Gambar 4.2. Vektor grup Yd1


Sedangkan untuk menggambar rangkaian belitan trafonya, tinggal
kita lihat gambar vektor grup yang telah kita beri notasi tambahan seperti
tampak pada Gambar 4.2.

Gambar 4.3. Hubungan belitan sekunder


Pembuktian pergeseran sudut ini bisa kita lakukan dengan melihat
Gambar 4.3.

Gambar 4.4. Arus pada belitan primer dan sekunder trafo dengan belitan
Yd1
Arus fasa R yang mengalir pada belitan A adalah 115.6 A dengan
sudut 0 derajat dengan arah dari A1 menuju A2, sedangkan arus pada
belitan sekunder a adalah 867 A dengan sudut 0 derajat, sedangkan arus
pada belitan yang lain adalah sebagai tampak pada gambar. arus yang
mengalir pada fasa r merupakan penngurangan vektor arus yang mengalir
pada belitan a dan belitan c (perhatikan arah vektor yang ditunjukkan
dengan tanda panah. Pada titik disekitar a1 berlaku hukum kirchoff :
arus keluar (meninggalkan a1) = arus masuk (menuju a1)
Ir + Ic = Ia
Dengan :
Ir : arus pada fasa r
Ia : arus pada belitan a
Ic : arus pada belitan c , sehingga diperoleh
Ir + 867 < 120 = 867 < 0
Ir = 867 < 0 867 <120
Ir = 1501.688 < 30
Terbukti bahwa ketika arus R mempunyai sudut 0 derjat maka arus r
mempunyai sudut 30 derajat. Beda sudut sebesar 30 derajat ini hanya
berlakau ketika arus pada fasa R, S dan T mempunyai besar yang sama
serta memliki beda sudut 120 derajat (dalam kondisi yang seimbang).
Apabila arus pada fasa R, S , T tidak berada dalam kondisi seimbang
maka pergeserean sudut pada sisi primer dan sekunder akan bervariasi
tergantung besar arus yang mengalir pada tiap fasa.

Sedangkan cara lain yang lebih sederhana untuk membaca vektor jam
dengan contoh hubungan dYn5 adalah sebagai berikut.
d merupakan sisi primer hubung delta (segitiga) tegangan rendah,
katena ditulis hurup kecil.
Y merupakan sisi sekunder hubung bintang atau star yang
merupakan sisi tgangan tinggi karena ditulis dengan hurup kapital.
n berati titik bintang ditanahkan.
5 = 5 x 30 = 150 derajat yang memperlihatkan fasa (a misalnya)
sisi delta berbeda dengan fasa A sisi bintang senilai 150 derajat.

Gambar 4.5. Clock notation-5


Tabel 4.1. Hubungan belitan dengan sudut