Anda di halaman 1dari 8

PENGELOLAAN LIMBAH CAIR

PENGELOLAAN LIMBAH CAIR


Posted by: admin2 in Lingkungan June 9, 2014

1 Comment 1068 Views

Limbah cair dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain:


Air limbah yang bersumber dari rumah tangga yaitu air limbah yang berasal
dari pemukiman dan aktifitas penduduk. Air limbah biasanya berupa air
bekas cucian dapur, air bekas mandi, tinja, air seni, dan umumnya terdiri dari
bahan-bahan organik.
Air limbah yang bersumber dari industri yaitu air limbah yang berasal dari
berbagai jenis industri. Zat-zat yang terkandung didalamnya sangat
bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai oleh masing-masing
industri, antara lain nitrogen, sulfida, amoniak, lemak, garam-garam, zat
pewarna, mineral, logam berat, zat pelarut, dan sebagainya. Karena
banyaknya bahan kimia yang terkandung didalamnya maka proses
pengolahannya menjadi lebih rumit.
Air limbah kotapraja yaitu air buangan yang berasal dari daerah perkantoran,
perdagangan, hotel, restoran, tempat-tempat umum, tempat ibadah, dan
sebagainya. Pada umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenis air limbah
ini sama dengan air limbah rumah tangga.

Beberapa cara sederhana pengolahan air buangan antara lain:


1.

Pengenceran atau Dilution

Air limbah diencerkan sampai tahap konsentrasi yang cukup rendah


kemudian dibuang ke badan-badan air. Pertambahan penduduk yang tinggi
diikuti meningkatnya aktifitas manusia menyebabkan jumlah air limbah
semakin banyak. Akibatnya air yang digunakan untuk pengenceran semakin
banyak pula. Karena itu, cara pengenceran tidak lagi dapat dipertahankan.
Disamping itu, pengenceran menyebabkan efek samping lain. Bahaya
kontaminasi terhadap badan-badan air masih tetap ada, kemudian terjadi
pengendapan yang akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap badanbadan air, seperti selokan, sungai, kali, waduk danau, dan sebagainya.
Pendangkalan dapat menyebabkan kapasitas badan air semakin berkurang
untuk menampung air hujan yang turun sehingga dapat menimbulkan banjir.

pengenceran
Gambar Pengenceran
2.

Kolam Oksidasi atau Oxidation Ponds

Pada dasarnya kolam oksidasi adalah proses memanfaatkan sinar matahari,


ganggang, bakteri dan oksigen untuk pembersih alamiah. Air limbah dialirkan
ke dalam kolam besar berbentuk segi empat dengan kedalaman berkisar 1-2
meter. Dinding dan dasar kolam tidak perlu diberi lapisan apapun. Lokasi
kolam harus jauh dari daerah pemukiman dan di daerah yang terbuka
sehingga memungkinkan sirkulasi angin dengan baik. Cara kerja kolam
oksidasi sebagai berikut:
a) Empat faktor yang berperan dalam proses kolam oksidasi adalah sinar
matahari, ganggang, bakteri, dan oksigen. Ganggang dalam air limbah
dengan bantuan butir khlorophyl (hijau daun) dan sinar matahari melakukan
proses fotosintesis sehingga tumbuh dengan subur.
b) Setelah proses fotosintesis terbentuk karbohidrat dan oksigen dari H2O
dan CO2. Kemudian oksigen ini digunakan oleh bakteri aerobik untuk
melakukan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat dalam air buangan.
c) Dekomposisi zat organik akan menurunkan nilai BOD dari air limbah
tersebut sehingga relatif aman bila akan dibuang ke dalam badan-badan air
seperti selokan, kali, sungai, danau, waduk dan sebagainya.
malaysia_03
Kolam Oksidasi
3. Irigasi
Air limbah dialirkan ke dalam parit terbuka kemudian air tersebut merembes
masuk ke dalam tanah melalui dasar dan dinding parit tersebut. Pada kondisi
tertentu, air buangan tersebut dapat digunakan untuk mengairi ladang
pertanian atau perkebunan. Air buangan tersebut dapat berasal dari air
limbah rumah tangga, perusahaan susu sapi, rumah potong hewan, dan lainlainnya di mana kandungan zat-zat organik dan protein cukup tinggi yang
diperlukan oleh tumbuhan.
Rata-rata industri membuang 85-95% air limbah dari jumlah air yang
dipergunakan dalam proses produksi (Sugiharto,1987). Volume air limbah
yang tidak diolah tersebut dibuang ke sungai atau laut sehingga
menyebabkan pencemaran, dapat merusak tatanan ekosistem yang ada, dan
menimbulkan penyakit.

Karakteristik air limbah perlu diketahui karena hal ini akan menentukan cara
pengolahan yang tepat sehingga tidak mencemari lingkungan hidup.
Pengolahan air limbah dapat digolongkan menjadi tiga yaitu pengolahan
secara fisika, kimia, biologi. Ketiga proses tersebut tidak selalu berjalan
sendiri-sendiri tetapi kadang-kadang harus dilaksanakan secara kombinasi
antara satu dengan yang lainnya. Ketiga proses tersebut yaitu (Daryanto,
1995):
1. Karakteristik fisik
Tingkat kekotoran air limbah ditentukan oleh sifat fisik yang mudah terlihat.
Sifat fisik yang penting adalah kandungan zat padat yang berdampak pada
estetika, kejernihan, bau, warna dan temperatur. Beberapa komposisi air
limbah akan hilang apabila dilakukan pemanasan secara lambat. Jumlah total
endapan terdiri dari benda-benda yang mengendap, terlarut, dan tercampur.
Untuk melakukan pemeriksaan dapat dilakukan dengan memisahkan air
limbah agar dapat terlihat besar-kecilnya partikel yang terkandung di
dalamnya.

Dengan mengetahui besar-kecilnya partikel yang terkandung di dalam air


akan memudahkan dalam pemilihan teknik pengendapan yang akan
diterapkan sesuai dengan partikel yang ada di dalamnya. Air limbah yang
mengandung ukuran partikel besar memudahkan proses pengendapan yang
berlangsung, sedangkan air limbah yang mengandung ukuran partikel yang
sangat kecil akan menyulitkan dalam proses pengendapan.

Sifat-sifat fisik yang umum diuji pada limbah cair adalah :


Nilai pH atau keasaman alkalinitas
Suhu
Warna, bau dan rasa
Jumlah padatan
Nilai BOD dan COD
Pencemaran mikroorganisme patogen
Kandungan minyak
Kandungan logam berat
Kandungan bahan radioaktif

Chemical oxygen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimia (KOK)


merupakan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat
organik yang ada dalam sampel air atau banyaknya oksigen yang dibutuhkan
untuk mengoksidasi zat- zat organik menjadi CO2 dan H2O. Pada reaksi ini
hampir semua zat yaitu sekitar 85% dapat teroksidasi menjadi CO2 dan H2O
dalam suasana asam, sedangkan penguraian secara biologi (BOD) tidak
semua zat organik dapat diuraikan oleh bakteri. Angka COD merupakan
ukuran bagi pencemaran air oleh zat- zat organik yang secara alamiah dapat
dioksidasikan melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya
oksigen terlarut didalam air .

Uji COD yaitu suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan
oleh bahan-bahan organik yang terdapat didalam air. Pengukuran COD
didasarkan pada kenyataan hampir semua bahan organik dapat dioksidasi
menjadi karbondioksida dan air dengan bantuan oksidator kuat yaitu kalium
dikromat ( K2Cr2O7) dalam suasan asam. Dengan menggunakan dikromat
sebagai oksidator, diperkirakan sekitar 95 % 100 % bahan organik dapat
dioksidasi.

Pada analisa COD dari suatu air limbah menghasilkan nilai COD selalu lebih
tinggi dari nilai BOD . Perbedaan antara kedua nilai disebabkan banyak faktor
antara lain:
Bahan kimia yang tahan terhadap oksidasi biokimia tetapi tidak tahan
terhadap oksidasi kimia seperti lignin.
Bahan kimia yang dapat dioksidasi secara kimia dan peka terhadap oksidasi
biokimia tetapi tidak dalam uji BOD seperti selulosa, lemak berantai panjang
atau sel- sel mikroba. Adanya bahan toksik dalam limbah yang akan
mengganggu uji BOD tetapi tidak uji COD.
Angka BOD adalah jumlah komponen organik biodegradable dalam air
buangan, sedangkan tes COD menentukan total organik yang dapat
teroksidasi, tetapi tidak dapat membedakan komponen biodegradable/
nonbiodegradable.
Beberapa substansi anorganik seperti sulfat dan tiosulfat, nitrit dan besi yang
tidak akan terukur dalam tes BOD akan teroksidasi oleh kalium dikromat,
membuat nilai COD anorganik yang menyebabkan kesalahan dalam
penetapan komposisi organik dalam laboratorium.

Hasil COD tidak tergantung pada aklimasi bakteri sedangkan tes BOD sangat
dipengaruhi aklimasi bakteri. Aklimasi adalah perubahan adaptif yang terjadi
pada bakteri dalam kondisi yang terkendali.

2. Karakteristik kimiawi
Kandungan bahan kimia yang ada di dalam air limbah dapat mempengaruhi
fungsi lingkungan. Bahan organik terlarut dapat mengurangi bahkan
menghabiskan oksigen dalam limbah dan akan menimbulkan rasa dan bau
yang tidak sedap pada penyediaan air bersih. Pengolahan secara kimia
adalah proses pengolahan yang menggunakan bahan kimia untuk
mengurangi konsentrasi zat pencemar dalam air limbah. Proses ini
menggunakan reaksi kimia untuk mengubah air limbah yang berbahaya
menjadi kurang berbahaya. Proses yang termasuk dalam pengolahan secara
kimia adalah netralisasi, presipitasi, khlorinasi, koagulasi dan flokulasi.
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk
menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap atau koloid,
logam-logam berat, senyawa phospor dan zat organik beracun, dengan
membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Pengolahan secara
kimia dapat memperoleh efisiensi yang tinggi akan tetapi membutuhkan
biaya yang tidak sedikit (Tjokrokusumo, 1995).

3. Karakteristik bakteriologis
Pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang paling
murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang
berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya.

Pemeriksaan biologis di dalam limbah cair untuk mengetahui apakah ada


bakteri-bakteri patogen dalam limbah cair. Apabila terdapat bakteri
pathogen, maka sebelum limbah cair dibuang ke perairan harus dilakukan
pengolahan tertentu agar bakteri-bakteri tersebut mati dan tidak
menimbulkan bahaya bagi makhluk hidup. Semua polutan air yang
biodegradable dapat diolah secara biologis. Pengolahan secara biologis
adalah pengolahan yang paling murah dan efisien. Dalam beberapa
dasawarsa telah dikembangkan berbagai metoda pengolahan biologis
dengan segala modifikasinya (Tjokrokusumo, 1995).

Pengolahan air limbah secara biologis, bertujuan untuk menghilangkan bahan

anorganik, organik, fosfat dan amoniak dengan bantuan mikroorganisme.


Penggunaan saringan atau filter dikenal sebagai pengolahan fisik, namun bisa
digunakan untuk pengolahan biologi. Pada penggunaan sistem saringan
anaerobik, media filter ditempatkan dalam suatu bak atau tangki dan air
limbah yang akan disaring dilalukan dari arah bawah ke atas (Laksmi dan
Rahayu, 1993).

Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara


biologi, proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis:
1. Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen;
2. Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen.
Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l, proses aerob masih
dapat dianggap lebih ekonomis dari anaerob. Pada BOD lebih tinggi dari
4000 mg/l, proses anaerob menjadi lebih ekonomis.

Pengolahan limbah dengan cara biologis dapat dilakukan dengan dua cara ,
yaitu; (1) Aerobic treatment dan (2) Anaerobic treatment . Kedua metode ini
mempunyai proses yang berbeda, karena proses aerobic membutuhkan
oksigen dalam prosesnya, sedangkan proses anerobic harus
memimumkan oksigen, agar proses perombokan limbah dapat berlangsung
secara sempurna.

Terdapat keuntungan dan kerugian tiap-tiap sistem. Karenanya dalam


pemilhan dua alternatif pengolahan biologi perlu diketahui kondisi dari proses
itu sendiri.:
Aerobik (Extended Aeration)
1. Kelebihan
Sudah dikenal dan banyak digunakan pada umumnya digunakan untuk
kapasitas kecil sampai besar.
Diterapkan dalam pengolahan air limbah dengan konsentrasi BOD dan COD
rendah pada temperatur 5 30oC.
Mampu menanggulangi Loading Fluctuation.
Effluen dapat langsung dibuang ke badan penerima (sungai, dsb).

2. Kekurangan
Membutuhkan area yang lebih luas
Pemakaian energi lebih tinggi dengan adanya aerator
Lumpur yang dihasilkan banyak

Anaerobik
1. Kelebihan
Sesuai untuk mengolah air limbah dengan konsentrasi BOD lebih tinggi dan
untuk kapasitas menengah sampai besar.
Menghasilkan biogas (70-90 % CH4).
Tidak membutuhkan energi untuk oksidasi
Membutuhkan area lebih kecil
Lumpur yang dihasilkan sedikit.
2. Kekurangan
Temperatur air limbah harus dijaga sekitar 20-35 C
Setelah diolah dalam sistem anaerobik effluen perlu diolah lagi secara aerob
sebelum dibuang ke badan penerima untuk mereduksi parameter NH4
Tidak sesuai untuk mengolah air limbah dengan konsentrasi nitrat dan atau
sulfat tinggi.
Pengoperasian cukup rumit karena sangat tergantung pada temperatur dan
pH air limbah.

Pengolahan dengan system aerob dapat dilakukan dengan berbagai cara


tergantung pada poses penyediaan oksigen, penyediaan lahan dan situasi
dan kondisi lingkungan, antara lain lumpur aktif, nitrifikasi, lagon ersi, proses
digestin reobik kolam oksidsi, saringan tetes, dan saringan kasar. Poses
dengan cara aerobic biasanya digunakan untuk limbah dengan konsentrasi
rendah biochemical oxygen demand (BOD) < 2000 mg/l. Proses anaerobic
hanya menghasilkan BOD dengan konversi 10 s/d 40 % dari kondisi awal
dan untuk itu proses aerob diperlukan membantu melanjutkan proses
penguraian.

http://www.bangazul.com/pengelolaan-limbah-cair/