Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PENDAHULUAN CLINICAL STUDY 2

DEPARTEMEN MEDIKAL
DHF

Oleh

: ISROAH

NIM

: 115070207111031

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

1. Definisi
Demam berdarah merupakan suatu penyakit demam akut disebabkan oleh virus
yang masuk kedalam tubuh melalui gigitan nyamuk apecies Aides Aegypti yang menyerang
pada anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan: demam, nyeri otot dan sendi,
manifestasi perdarahan dan cenderung menimbulkan syok yang dapat menyebabkan
kematian. (Hendaranto, Buku ajar IPD, FKUI, 1997, hal 417).
2. Klasifikasi
A. Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan
Uji tourniquet (+)
Trombositopenia
Hemokonsentrasi
B. Derajat II: gejala yang ditimbulkan sama dengan Derajat I disertai perdarahan spontan
pada kulit atau ditempat lain.
C. Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi yaitu
a.
Nadi cepat dan lemah
b.
Tekanan darah rendah (hipotensi)
c.
Gelisah
d.
Sianosis sekitar mulut, dan ujung jari
D. Derajat IV
a.
Dengue Shock Sindrome dengan nadi tak teraba
b.
Tekanan darah tak dapat diukur
3. Etiologi
Virus Dengue serotipe yang ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit
demam berdarah ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti yang mengandung virus dengue.
Ciri-ciri nyamuk aedes aegypti :
a. Berwarna hitam dan belang-belang (loreng) putih pada seluruh tubuh
b. Berkembang biak ditempat penampungan air dan barang-barang yang memungkinkan
air tergenang seperti : bak mandi, tempayan, drum, vas bunga dan ban bekas dll
c. Nyamuk aedes aegipty tidak dapat berkembang biak diselokan / got atau kolam yang
airnya langsung berhubungan dengan tanah
d. Biasanya menggigit manusia pada pagi hari dan sore hari
e. Mampu terbang sampai 100 meter
4. Patofisiologi (terlampir)
Setelah virus dengue masuk kedalam tubuh, terjadi viremia yang ditandai dengan
demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal disekitar tubuh, hiperemia di tenggorokan, suam
atau bintik-bintik merah pada kulit, selain itu kelainan dapat terjadi pada sistem retikula
endotetial, seperti pembatasan kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Peningkatan
permeabilitas dinding kapiler ehingga cairan keluar dari intraseluler ke ekstraseluler.
Akibatnya terjadi pengurangan volume plasma, penurunan tekanan darah, hemokosentrasi,
hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Plasma meembes sejak permulaan demam dan
mencapai puncaknya saat renjatan. Pada pasien dengan renjatan berat, volume plasma
dapat berkurang sampai 30% atau kurang. Bila renjatan hipopolemik yang terjadi
akibatkehilangan plasma tidak segera diatasi, maka akan terjadi anorekma jaringan, asidosis
metabolik, dan kematian. ( Pice, Sylvia A dan Lortainne M Wilson,1995 )
5. Manifestasi Klinis
a. Masa Inkubasi
Sesudah nyamuk menggigit penderita dan memasukkan virus dengue ke dalam kulit ,
terdapat masa laten yang berlangsung 4 5 hari diikuti oleh demam , sakit kepala dan
malaise.
b. Demam
Demam terjadi secara mendadak berlagsung selama 2 7 hari kemudian turun
menuju suhu normal atau lebih rendah. Bersamaan dengan berlangsungnya demam ,

gejala- gejala klinik yang tidak spesifik misalnya , anoreksia , nyeri punggung , nyeri
tulang dan persendian , nyeri kepala dan rasa lemah dapat menyertainya.
c. Perdarahan
Perdarahan biasanya terjadi pada hari kedua dari demam dan umumnya terjadi pada
kulit , dan dapat berupa uji turniket yang positif , mudah terjadi perdarahan pada tempat
fungsi vena , petekia dan purpura. Selain itu juga dapat dijumpai epstaksis dan
perdarahan gusi , hematomesis dan melena.
d. Hepatomegali
Pada permulaan dari demam biasanya hati sudah teraba , meskipun pada anak yang
kurang gizi hati juga sudah teraba. Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati
teraba kenyal , harus diperhatikan kemungkinan akan terjadinya renjatan pada penderita.
e. Syok (Renjatan)
Permulaan syok biasanya terjadi pada hari ketiga sejak sakitnya penderita , dimulai
dengan tanda tanda kegagalan sirkulasi yaitu kulit lembab , dingin pada ujung hidung ,
jari tangan dan jari kaki serta cyanosis di sekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa
demam maka biasanya menunjukkan prognosis yang buruk. Nadi menjadi lembut dan
cepat , kecil bahkan sering tidak teraba. Tekanan darah sistolik akan menurun sampai di
bawah angka 80 mmHg.
f. Gejala lain
Nyeri epigastrum , muntah muntah , diare maupun obstipasi dan kejang kejang.
Keluhan nyeri perut yang hebat seringkali menunjukkan akan terjadinya perdarahan
gastrointestinal dan syok (Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2002).
6. Pemeriksaan diagnostik
a. Darah
1.
Trombosit menurun.
2.
HB meningkat lebih 20 %
3.
HT meningkat lebih 20 %
4.
Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5.
Protein darah rendah
6.
Ureum PH bisa meningkat
7.
NA dan CL rendah
b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
c. Rontgen thorax : Efusi pleura.
d. Uji test tourniket (+)
7. Penatalaksanaan
Tirah baring
Pemberian makanan lunak
Pemberian cairan melalui infuse
Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan
cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4
mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.
Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik
Anti konvulsi jika terjadi kejang
Monitor tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Suhu, Nadi, RR).
Monitor adanya tanda-tanda renjatan
Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.
Minum banyak 1,5-2 liter/24 jam dengan air teh, gula atau susu.
8. Pencegahan
a. Pemberantasan Sarang Nyamuk
1. Menguras
2. Menutup
3. Mengubur tempat yang dimungkinkan berkembangbiaknya nyamuk aedes agypty
b. Fogging atau pengasapan

c. Penggunaan abate
9. Asuhan keperawatan
PENGKAJIAN
1. Biodata / Identitas
DHF dapat menyerang dewasa atau anak-anak terutama anak berumur < 15
tahun. Endemik didaerah Asia tropik.
2. Keluhan Utama : Panas / demam.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Demam mendadak selama 2-7 hari dan kemudian demam turun dengan tanda-tanda
lemah, ujung-ujung jari, telinga dan hidung teraba dingin dan lembab.
Demam disertai lemah, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri pada anggota badan,
punggung, sendi, kepala dan perut, nyeri ulu hati, konstipasi atau diare.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Ada kemungkinan anak yang telah terjangkau penyakit DHF bisa berulang DHF lagi,
Tetapi penyakit ini tidak ada hubungannya dengan penyakit yang pernah diderita dahulu.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit DHF bisa dibawa oleh nyamuk jadi jika dalam satu keluarga ada yang
menderita penyakit ini kemungkinan tertular itu besar.
6. Riwayat Kesehatan Keluarga
Daerah atau tempat yang sering dijadikan tempat nyamuk ini adalah lingkungan yang
kurang pencahayaan dan sinar matahari, banyak genangan air, vas and ban bekas.
7. Riwayat Tumbuh Kembang Anak : Sesuai dengan tumbuh kembang klien.
8. ADL
Nutrisi: Dapat menjadi mual, muntah, anoreksia.
Aktifitas: Lebih banyak berdiam di rumah selama musim hujan dapat terjadi nyeri
otot dan sendi, pegal-pegal pada seluruh tubuh, menurunnya aktifitas bermain.
Istirahat/tidur: Dapat terganggu karena panas, sakit kepala dan nyeri.
Eliminasi alv : Dapat terjadi diare/ konstipasi, melena.
Personal hygiene : Pegal-pegal pada seluruh tubuh saat panas
dapat meningkatkan ketergantungan kebutuhan perawatan diri.
9. Pemeriksaan
Keadaan umum
Suhu tubuh tinggi (39,4 41,1 0C), menggigit hipotensi,nadi cepat dan lemah.
Kulit
Tampak bintik merah (petekil), hematom, ekimosit.
Kepala
Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor (kadang).
Dada
Nyeri tekan epigastrik, nafas cepat dan sering berat.
Abdomen
Pada palpasi teraba pembesaran hati dan limfe pada keadaan dehidrasi turgor kulit
menurun.
Anus dan genetalia
Dapat terganggu karena diare/ konstipasi.
Ekstrimitas atas dan bawah
Ekstrimitas dingin, sianosis.
10. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai:
Hb dan PCV meningkat (20%).
Trombositopenia (100.000/ml).
Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis).
Ig.D.dengue positif.
Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukan: hipoprotinemia, hipokloremia, dan
hiponatremia.

Urium dan PH darah mungkin meningkat.


Asidosis metabolik: pCO <35-40 mmHg HCO rendah.
SGOT/SGPT memungkinkan meningkat.

Diagnosa
a. Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi.
b. Resiko terjadinya syok hipovolemik b.d perdarahan yang berlebihan
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake makanan yang tidak adekuat akibat
mual , muntah , sakit menelan dan tidak nafsu makan.
d. Resiko kurang volume cairan vaskuler b.d pindahnya cairan dari intra vaskuler ke ekstra
vaskuler.
Rencana Intervensi:
Diagnosa
Peningkatan suhu
tubuh b.d proses
infeksi

~
~

Resiko terjadinya
syok hipovolemik
b.d perdarahan
yang berlebihan

Tujuan
Suhu tubuh pasien akan
kembali normal setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan selama 2 x 24
jam , dengan kriteria hasil :
Suhu pasien antara 36
37 C
Pasien tidak gelisah

Intervensi
1. Kaji suhu dan tandatanda vital setiap
jam
2. Berikan
kompres
hangat
3. Anjurkan
pasien
untuk banyak minum
4. Lakukan tirah baring
5. Anjurkan
pasien
memakai
pakaian
yang
tipis
dan
menyerap keringat
6. Ganti pakaian dan
alat
tenun
jika
basah.

Resiko terjadinya syok 1. Observasi keadaan


hipovolemik
berkurang
umum dan tandasetelah dilakukan tindakan
tnda vital
keperawatan selama 2 x 24 2. Puasa makan dan
minum
pada
jam , dengan kriteria hasil :
perdarahan
saluran
Tanda tanda viotal
cerna
stabil
dalam
batas
normal
Ht dalam batas normal
37 43 %
Pasien terlihat tidak
gelisah

Rasional
1. Memantau
perubahan suhu
tubuh
2. Menurunkan
suhu
yang
meningkat
3. Meingkatkan
hidrasi
4. Menurunkan
suhu tubuh
5. Pakaian
yang
tipis
memungkinkan
sirkulasi udara ke
pori-pori
tidak
terhambat
sehingga
pengelauaran
panas
menjadi
efektif.
1. Memantau
kondisi
pasien
selama
masa
perawatan
terutama
saat
terjadi
perdarahan untuk
memastikan tidak
terjadinya
pre
syok / syok pada
pasien.
2. Puasa membantu
mengistirahatkan
saluran
pencernaan
untuk sementara
selama
perdarahan
berasal
dari

saluran cerna.
Perubahan nutrisi Kebutuhan nutrisi pasien a. Anjurkan
pasien 1. Asupan
nutrisi
kurang dari
akan terpenuhi setelah
makan dengan porsi
pasien
sedikit
kebutuhan b.d
dilakukan
tindakan
kecil tapi sering.
demi
sedikit
intake makanan
keperawatan selama 3 x 24 b. Kolaborasi dengan
terpenuhi
dokter
dalam 2. Mengurangi
yang tidak
jam , dengan kriteria hasil
melaksanakan
mual
,
sakit
adekuat akibat
b. Pasien
dapat
program
medik
menelan
dan
tidak
mual , muntah ,
menghabiskan
porsi
tentang pemberian
nafsu
makan
sakit menelan dan
makanan
yang
infus
makan
,
pasien
tidak nafsu
dihidangkan
c. Berat badan pasien
antisida
dan
makan.
stabil
antimetik
:

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
K\efdokteran EGC.
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGVC.
Pice, Sylvia A dan Lortainne M Wilson.. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
Edisi Empat Buku Kedua. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8
Volume 1. Penerbit Buku Kedokteran EGC.