Anda di halaman 1dari 7

Sabtu, 31 Maret 2012

Pembelajaran IPS
PEMBAHASAN
A. Upaya Pembaharuan Social Studies di Amerika Serikat dan di Australia
Bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang masuk ke Indonesia adalah berasal dari
Amerika Serikat, yang disebut dengan Social Studies. Pertama kali Social Studies dimasukkan
dalam kurikulum sekolah adalah di Rugby (Inggris) pada tahun 1827, atau sekitar setengah abad
setelah Revolusi Industri (abad 18), yang ditandai dengan perubahan penggunaan tenaga manusia
menjadi tenaga mesin. Latar belakang dimasukkannya Social Studies dalam kurikulum sekolah
di Amerika Serikat berbeda dengan di Inggris karena situasi dan kondisi yang menyebabkannya
juga berbeda. Penduduk Amerika Serikat terdiri dari berbagai macam ras diantaranya ras Indian
yang merupakan penduduk asli, ras kulit putih yang datang dari Eropa dan ras Negro yang
didatangkan dari Afrika untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan negara tersebut.
Pada awalnya penduduk Amerika Serikat yang multi ras itu tidak menimbulkan masalah.
Baru setelah berlangsung perang saudara antara utara dan selatan atau yang dikenal dengan
Perang Budak yang berlangsung tahun l861-1865 dimana pada saat itu Amerika Serikat siap
untuk menjadi kekuatan dunia, mulai terasa adanya kesulitan, karena penduduk yang multi ras
tersebut merasa sulit untuk menjadi satu bangsa. Selain itu juga adanya perbedaan sosial
ekonomi yang sangat tajam. Para pakar kemasyarakatan dan pendidikan berusaha keras untuk
menjadikan penduduk yang multi ras tersebut menjadi merasa satu bangsa yaitu bangsa Amerika.
Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan memasukkan Social Studies ke dalam kurikulum
sekolah di negara bagian Wisconsin pada tahun 1892. Setelah dilakukan penelitian, maka pada
awal abad 20, sebuah Komisi Nasional dari The National Education Association memberikan
rekomendasi tentang perlunya Social Studiesdimasukkan ke dalam kurikulum semua sekolah
dasar dan sekolah menengah Amerika Serikat.
Wujud Social Studies ketika lahir merupakan semacam ramuan dari mata pelajaran sejarah,
geografi dan civics (kewarganegaraan). Di samping sebagai reaksi para pakar Ilmu Sosial
terhadap situasi sosial di Inggris dan Amerika Serikat, pemasukan Social Studies ke dalam
kurikulum sekolah juga dilatarbelakangi oleh keinginan para pakar pendidikan. Hal ini
disebabkan mereka ingin agar setelah meninggalkan sekolah dasar dan menengah, para siswa:
(1) menjadi warga negara yang baik, dalam arti mengetahui dan menjalankan hak-hak dan
kewajibannya; (2) dapat hidup bermasyarakat secara seimbang, dalam arti memperhatikan
kepentingan pribadi dan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, para siswa tidak perlu
harus menunggu belajar Ilmu-ilmu Sosial di perguruan tinggi, tetapi sebenarnya mereka sudah
mendapat bekal pelajaran IPS di sekolah dasar dan menengah.
Di antara kelemahan program pembelajaran IPS di Amerika adalah pembelajaran
menekankan pada disiplin ilmu yang terpisah bukan pembelajaran secara terpadu dan
menyeluruh.
Komisi Tenaga Pelaksana Kurikulum di Amerika Serikat tentang program social studies antara
lain :
1. Kurikulum Social Studies yang lengkap memberikan pengalaman belajar yang konsisten

2. Social Studies memberikan hubungan yang jelas antara humanistis dan disiplin ilmu sosial dan
ilmu alam
3. Materi Social Studies hendaknya bisa menjadi bahan yang bisa dikaji dan diperdebatkan
4. Strategi pembelajaran harus membantu siswa menjadi siswa yang independen dan kooperatif
Usulan Komisi Nasional Social Studies Amerika Serikat terhadap pembelajaran Social Studies :
1. Pembelajaran terpadu ( integrated ) antara disiplin ilmu sosial, ilmu alam, dan humanistis.
2. Menerapkan strategi pembelajaran inkuiri yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir
kritis, memecahkan masalah, dan membuat keputusan.
Di Australia latar belakang dimasukkannya bidang studi IPS ke dalam kurikulum sekolah
karena adanya kesadaran yang semakin meningkat di kalangan penduduk Australia terhadap
masalah-masalah ekonomi, poltik, lingkungan, sosial dan masalah-masalah pribadi yang
memerlukan adanya kemampuan untuk mengatasinya.
B. Upaya Pembaharuan Pembelajaran IPS di Indonesia
1. Pembaharuan kurikulum
Istilah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam sistem pendidikan di Indonesia baru dikenal sejak
lahirnya kurikulum tahun 1975. Sebelumnya, pembelajaran ilmu-ilmu sosial untuk tingkat
persekolahan mneggunakan istilah yang berubah-ubah sesuai dengan situasi politik pada masa
itu.
Pembaharuan kurikulum IPS di Indonesia diantaranya :
a) Kurikulum 1964 menggunakan istilah Pendidikan Kemasyarakatan. Ada dua kelompok mata
pelajaran, ialah kelompok dasar yang terdiri atas Sejarah Indonesia dan Geografi Indonesia,
Bahasa Indonesia dan Civics dan kelompok cipta yang terdiri atas Sejarah Dunia dan Geografi
Dunia. Kemudian digabungkan yang selanjutnya berubah menjadi Pendidikan Kewargaan
Negara yang merupakan korelasi dari ilmu bumi, sejarah dan pengetahuan kewargaan negara.
b) Pada tahun 1968 terjadi perubahan pengelompokkan mata pelajaran sebagai akibat perubahan
orientasi pendidikan. Mata pelajaran di sekolah dibedakan menjadi pendidikan jiwa Pancasila,
pembinaan pengetahuan dasar dan pembinaan kecakapan khusus.
c) Pada tahun 1975, lahirlah Kurikulum 1975 yang mengelompokkan tiga jenis pendidikan, yakni
pendidikan umum, pendidikan akademis dan pendidikan keahlian khusus. Dalam Kurikulum
1975 dikemukakan secara eksplisit istilah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang
merupakan fusi (perpaduan) dari mata pelajaran sejarah, geografi dan ekonomi. Selain mata
pelajaran IPS, pendidikan kewarganegaraan dijadikan sebagai mata pelajaran tersendiri ialah
Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Dalam Kurikulum 1975, IPS termasuk kelompok pendidikan
akademis sedangkan PMP termasuk kelompok pendidikan umum. Namun IPS sebagai
pendidikan akademis mempunyai misi menyampaikan nilai-nilai berdasarkan filsafat Pancasila
dan UUD 1945. Dengan demikian mata pelajaran IPS pun berfungsi dan mendukung tercapainya
tujuan PMP.
d) Menjelang adanya perbaikan Kurikulum 1975, tahun 1980 muncul bidang studi PSPB, gagasan
dari Mendikbud mata pelajaran ini hampir sejenis dengan IPS Sejarah dan PMP. Upaya
perbaikan Kurikulum IPS 1975 (KYD) baru terwujud pada tahun 1984.
e) Kurikulum IPS 1984 pada hakikatnya menyempurnakan atau memperbaiki kelemahan-kelmahan
Kurikulum 1975. Ditinjau dari segi pendekatan (metodologi) pembelajaran, Kurikulum IPS 1975
dan 1984 menggunakan pendekatan integrative dan structural untuk IPS SMP dan pendekatan

f)

g)

h)

2.

3.

disiplin terpisah (separated disciplinary approach) untuk SMA. Sedangkan pendekatan untuk
IPS Sekolah Dasar (SD) lebih mirip menggunakan integrative (integrated approach).
Pada tahun 1994, terjadi lagi perubahan kurikulum IPS. Dalam Kurikulum 1994 dinyatakan
bahwa IPS adalah mata pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang didasarkan pada
bahan kajian geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, tata negara, dan sejarah. Untuk IPS SD,
bahan kajian pokok dibedakan atas dua bagian, ialah pengetahuan sosial dan sejarah. Bahan
kajian pengetahuan sosial meliputi lingkungan sosial, ilmu bumi, ekonomi, dan pemerintahan,
sedangkan bahan kajian sejarah mencakup perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa
lampau hingga kini. Ada perbedaan yang cukup menonjol dalam Kurikulum IPS Sekolah Dasar
1994 dibandingkan dengan Kurikulum IPS sebelumnya, yakni dalam metode dan penilaian.
Kurikulum IPS 1994 hanya memberikan anjuran umum bahwa pelaksanaan proses belajar
mengajar hendaknya para guru menerapkan prinsip belajar aktif. Dari bunyi rambu-rambu yang
terakhir ini, menunjukkkan bahwa Kurikulum IPS 1994 memberikan keleluasaan atau kekuasaan
otonom yang cukup besar terhadap guru.
Memasuki Abad 21 yang ditandai oleh perubahan mendasar dalam segala aspek kehidupan
khususnya perubahan dalam bidang politik, hukum, dan kondisi ekonomi telah menimbulkan
perubahan ekonomi yang sangat signifikan dalam sistem pendidikan di Indonesia. Pada tahun
2003 disahkanlah Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Undang-undang tersebut telah menimbulkan dampak yang cukup signifikan terhadap perubahan
sistem kurikulum di Indonesia. Pada tahun 2004, pemerintah melakukan perubahan kurikulum
kembali yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Namun pengembangan
kurikulum IPS diusulkan menjadi Pengetahuan Sosial untuk merespon secara positif berbagai
perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal ini dilakukan untuk
meningkatkan relevansi program pembelajaran Pengetahuan Sosial dengan keadaan dan
kebutuhan setempat
Ketentuan tentang implikasi dari peraturan perundangan tersebut adalah dikeluarkannya
kebijakan tentang Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP) beserta pedomannya dan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar
Isi dan Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dengan panduan
KTSP yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum tingkat
satuan pendidikan (KTSP) tahun 2006 ini, antara IPS dan PKn dipisahkan kembali. Hal ini
memperhatikan berbagai masukan dan kritik ahli pendidikan serta kepentingan pendidikan
nasional dan politik bangsa yaitu perlunya pendidikan kewarganegaraan bangsa, maka antara IPS
dan PKn meskipun tujuan dan kajiannya adalah sama yaitu membentuk warganegara yang baik,
maka PKn tetap diajarkan sebagai mata pelajaran di sekolah secara terpisah dengan IPS.
Pembaharuan KBM
IPS merupakan seperangkat fakta, peristiwa, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dnegan
perilaku dan tindakan manusia untuk membangun dirinya, masyarakatnya, bangsanya, dan
lingkungannya berdasarkan pada pengalaman masa lalu yang dapat dimaknai untuk masa kini,
dan diantisiapsi untuk masa yang akan datang.
Hambatan Pembaharuan Pendidikan IPS di Indonesia
Namun tugas besar dari pembelajaran IPS tersebut ternyata tidak berjalan sesuai dengan harapan.
Hal ini Karena adanya beberapa hambatan yang menjadikan pembelajaran IPS tidak berhasil
bahkan cenderung membosankan, yaitu:

a) Sebagian besar guru IPS belum terampil menggunakan beberapa model mengajar yang dapat
merangsang motivasi belajar siswa.
b) Ketersediaan alat dan bahan belajar di sebagian besar sekolah ikut mempengaruhi proses belajar
IPS.
c) Proses belajar mengajar IPS masih dilakukan dalam bentuk pembelajaran konvensional,
sehingga peserta didik hanya memperoleh hasil faktual saja dan tidak mendapat hasil proses.
C. Kemampuan Berfikir untuk Siswa SD
Menurut Savage dan Amstrong berikut kemampuan berpikir siswa dalam pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) :
1. Kemampuan berpikir kreatif ( creative thinking )
2. Berpikir kritis ( critical thinking )
3. Kemampuan memecahkan masalah ( problem solving )
Langkah-langkah proses pembelajaran problem solving, yaitu mengenali adanya masalah,
mencari alternatif pendekatan untuk memecahkan masalah itu, memilih dan menerapkan
pendekatan, dan mencapai kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.
4. Kemampuan mengambil keputusan ( decision making )
Langkah-langkah proses pembelajaran dengan pendekatan decision making:
a) Mengenal persoalan atau masalah dasar
b) Memberi jawaban alternatif kemudian mendeskripsikan bukti yang menjawab setiap alternatif
c) Mengenal nilai yang tersirat pada setiap alternatif
d) Mendeskripsikan kemungkinan akibat yang muncul ketika memilih setiap alternatif
e) Membuat pilihan dari semua alternatif
f) Mendeskripsikan bukti dan nilai yang digunakan dalam membuat pilihan
D. Pendekatan Inkuiri untuk Siswa SD
Pengertian inkuiri adalah salah satu cara belajar atau penelaahan yang bersifat mencari
pemecahan masalah dengan cara kritis, analisis dan ilmiah dengan menggunakan langkahlangkah tertentu menuju suatu kesimpulan yang meyakinkan karena didukung oleh data atau
kenyataan. Depdiknas (2002:2) menyatakan, melalui model pendekatan inkuiri, guru diharapkan
dapat menciptakan pembelajaran yang menantang sehingga melahirkan interaksi antara gagasan
yang sebelumnya diyakini siswa dengan bukti baru untuk mencapai pemahaman baru yang lebih
sainstifik melalui proses eksplorasi atau pengujian gagasan baru. Pendekatan inkuiri dapat
digunakan dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar, karena dalam proses pembelajarannya dapat
dilakukan dengan melalui metode tanya jawab antara guru dan siswa atau dapat pula dengan
berbagai metode lainnya seperti metode diskusi dan eksperimen.
Meskipun inkuiri dipandang sebagai pendekatan pembelajaran yang efektif dalam
pengajaran IPS, tetapi penggunaannya hendaknya disesuaikan dengan sifat dan tujuan yang
hendak dicapai. Artinya tidak semua pengajaran IPS harus di inkuirikan. Pendekatan inkuiri
akan efektif jika pengajaran itu bertujuan mengembangkan kognitif, sebaliknya pendekatan ini
kurang cocok jika pengajaran itu bermaksud menyampaikan informasi. Pengertian kognitif yang
dibangun melalui pendekatan inkuiri akan tertanam secara mantap dalam pikiran dan proses
pencapaiannya itu sendiri akan meninggalkan kesan yang amat berharga bagi pelakunya. Dengan
latihan yang secara teratur, diharapkan pengalaman itu akan menjadi keterampilan yang

selanjutnya akan menimbulkan sikap percaya pada diri sendiri setiap kali menghadapi kenyataan
atau masalah yang sulit.
Nilai instrinsik penggunaaan pendekatan inkuiri adalah orang menjadi tabah dalam
menghadapi suatu masalah, karena ia tahu mencari jalan keluar dengan cara yang sudah biasa ia
lakukan. Setiap kali ia menghadapi situasi yang sulit ia akan segera berusaha meneliti,
menganalisis data yang bersangkutan dan kemudian menyusun bagaimana cara mengatasi
ataupun memecahkan masalah tersebut. Namun demikian, jangan menganggap bahwa proses
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri pasti bermakna bagi siswa.
Agar pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri dapat bermakna, ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan antara lain, adalah :
1. Memerlukan kondisi kelas yang khusus, misalnya guru percaya bahwa siswa-siswanya dapat
belajar dan bertindak berdasar kepercayaan pada diri sendiri dalam suasana bebas yang artinya
siswa dapat berkiprah dengan masalah yang dihadapi, serta dapat menentukan sikap dan
pendapatnya sendiri walaupun mungkin salah menurut gurunya.
2. Memerlukan motivasi tinggi. Siswa memerlukan tantangan yang memerlukan pemikiran,
menimbulkan keinginan untuk tahu, perlu diadakan study trip untuk memperoleh informasi
dan pengalaman. Selain itu, harus disediakan bacaan yang menarik, serta sumber yang cukup
luas yang mewakili berbagai pandangan dan pendapat.
3. Pendekatan inkuiri tidak berdiri sendiri, tetapi keberhasilan pelaksanaannya dibantu oleh metode
lain, misalnya role playing, simulasi, dan studi kasus.
Ada 5 tahap dalam pelaksanaan inkuiri yang berangkat dari fakta sampai terjadinya suatu
teori. Tahap pertama, guru memberi permasalahan dan menjelaskan prosedur pelaksanaan inkuiri
kepada siswa. Guru harus menjelaskan tentang tujuan dan proses pelaksanaan inkuiri dengan
yes and no questions Artinya pertanyaan hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga
jawabannya hanya ya dan tidak. Maksudnya adalah agar siswa berpikir lebih teliti, dengan
demikian menghindarkan siswa dari beban pemikiran, karena adanya pertanyaan-pertanyaan
yang terbuka (open-ended) dari guru. Pelaksanaan inkuiri dapat dimulai dengan masalah, ide,
atau pikiran yang sederhana, utamanya adalah siswa mendapat pengalaman proses berpikir
secara inkuiri. Tahap kedua, adalah verifikasi, yaitu siswa mengumpulkan data atau informasi
tentang peristiwa/masalah yang telah mereka lihat atau alami, dengan mengajukan pertanyaan
sedemikian rupa sehingga guru hanya menjawab ya atau tidak. Tahap ketiga, melakukan
eksperimentasi, siswa mengajukan faktor atau unsur baru ke dalam permasalahan agar dapat
melihat apakah peristiwa itu dapat terjadi secara berbeda. Eksperimen mempunyai dua fungsi
yaitu eksplorasi dan menguji langsung. Eksplorasi adalah merubah sesuatu untuk melihat apa
yang akan terjadi dan tidak perlu bimbingan teori atau hipotesis. Sedangkan, menguji langsung
terjadi bila siswa melakukan uji coba teori atau hipotesis. Proses merubah hipotesis kedalam
eksperimentasi itu tidak mudah dan perlu latihan atau praktik. Selanjutnya, guru harus
memperdalam proses inkuiri siswa dengan memperluas jenis-jenis informasi yang diperoleh.
Dalam proses verifikasi siswa dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang: benda (objects),
sifat
(properties),
kondisi
(conditions),
dan
peristiwa
(events).
Pertanyaan tentang benda, dimaksudkan untuk menentukan sifat alami atau identitas benda.
Contoh: Apakah pembuangan limbah industri dapat menyebabkan pencemaran air di lingkungan
sekitar? Pertanyaan tentang peristiwa dimaksudkan untuk memverifikasi kejadian atau keadaan
dari suatu peristiwa. Tahap keempat, guru meminta siswa untuk mengorganisir data dan
menyusun suatu penjelasan. Artinya data tersebut setelah diorganisir kemudian dideskripsikan

sehingga menjadi suatu paparan hasil temuannya. Tahap kelima, siswa diminta untuk
menganalisis proses inkuiri. Dalam hal ini siswa boleh mengevaluasi tentang pertanyaan yang
diajukan guru apakah efektif atau tidak, mungkin ada informasi penting tetapi siswa tidak tahu
cara memperolehnya sehingga data atau informasi tersebut tidak ditemukan. Analisis dari siswa
ini penting karena menjadi dasar pelakasanaan inkuiri berikutnya, artinya guru harus
memperbaiki kekurangan-kekurangan atau kesalahan yang telah dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Sanjaya Wina.(2010).Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran.Jakarta: Kencana
Sanjaya Wina.(2010) Kurikulum dan Pembelajaran.Jakarta: Kencana
Hamdani.(2011).Strategi Belajar Mengajar.Bandung: Pustaka Setia
Pargito.(2010).Perkembangan Pendidikan IPS.[Online]: www.haslindafadillah.blogspot.com.
(Tanggal:21-03-2012)
Aisyah, Husnia.(2011).Upaya Peningkatan Hasil Belajar Melalui Pendekatan Inkuiri.
[Online]:www.nduxhusna.blogspot.com.(Tanggal:21-03-2012)
Diposkan oleh Anah Mumuy Chairunnisa di 22:40
Kirimkan