Anda di halaman 1dari 9

A.

Pengertian Pasang Surut


Menurut Nontji (2005), pasang surut adalah gerakan naik turunnya permukaan laut secara
berirama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari. Matahari mempunyai massa
27 juta kali lebih besar dari massa bulan, tetapi jaraknya pun sangat jauh dari bumi (rata-rata
149,6 juta km). sedangkan buln, sebagai satelit kecil, jaraknya sangat dekat ke bumi (rata-rata
381.160 km). Dalam mekanika alam semesta, jarak lebih menentukan daripada massa,
sehingga bulan memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap terjadinya pasang surut. Gaya
tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan
(bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh
deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.
Menurut Pariwono (1989), fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut
secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan
terhadap massa air di bumi. Sedangkan menurut Dronkers (1964) pasang surut laut
merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang
diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda
astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat
diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil.
B. Teori dan Faktor Penyebab Pasang Surut
1. Teori kesetimbangan Equilibrium Theory)
Teori kesetimbangan pertama kali diperkenalkan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727). Teori
ini menerangkan sifat-sifat pasut secara kualitatif. Teori terjadi pada bumi ideal yang seluruh
permukaannya ditutupi oleh air dan pengaruh kelembaman (Inertia) diabaikan. Teori ini
menyatakan bahwa naik-turunnya permukaan laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang
surut (King, 1966). Untuk memahami gaya pembangkit passng surut dilakukan dengan
memisahkan pergerakan sistem bumi-bulan-matahari menjadi 2 yaitu, sistem bumi-bulan dan
sistem bumi matahari.
Pada teori kesetimbangan bumi diasumsikan tertutup air dengan kedalaman dan densitas yang
sama dan naik turun muka laut sebanding dengan gaya pembangkit pasang surut atau GPP
(Tide Generating Force) yaitu Resultante gaya tarik bulan dan gaya sentrifugal, teori ini
berkaitan dengan hubungan antara laut, massa air yang naik, bulan, dan matahari. Gaya
pembangkit pasut ini akan menimbulkan air tinggi pada dua lokasi dan air rendah pada dua
lokasi (Gross, 1987).
Teori tersebut akan benar jika digunakan anggapan seluruh permukaan bumi tertutup merata

oleh air laut (equilibrium theory), jika hanya ada pengaruh bulan saja atau matahari saja,
tetapi tidak pengaruh keduannya secara bersamaan dan jika bulan atau matahari mempunyai
orbit yang benar-benar berupa lingkaran dan orbitnya tepat di atas khatulistiwa.Tetapi pada
kenyataannya anggapan tersebut tidak benar. Karena laut tidak meliputi bumi secara merata
tetapi terputus oleh benua dan pulau. Topografi dasar laut tidak rata mendatar tetapi sangat
bervariasi dari palung yang dalam, gunung bawah laut sampai paparan yang luas dan
dangkal. Demikian pula ada selat yang sempit dan panjang atau teluk berbentuk corong
dengan dasar melandai. Hal tersebut menimbulkan penyimpangan dari kondisi yang ideal dan
menyebabkan ciri-ciri pasang surut yang berbeda-beda dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Selain itu posisi kedudukan bulan dan matahari dalam orbit selalu berubah relatif terhadap
bumi. Apabila bulan dan matahari berada kurang lebih pada satu garis lurus dengan bumi,
seperti pada saat bulan muda atau bulan purnama maka gaya tarik keduanya akan saling
memperkuat. Dalam keadaan demikian terjadi pasang surut purnama (spring tide) dengan
tinggi air yang maksimum melebihi pasang biasa. Sebaliknya surutnya sangat rendah hingga
lokasi dengan pantai yang landai bisa menjadi kering sampai ke laut. Tetapi jika bulan dan
matahari membentuk sudut siku-siku terhadap bumi maka gaya tarik keduanya akan saling
meniadakan. Akibatnya perbedaan tinggi air antara pasang dan surut kecil, keadaan ini
dikenal dengan pasang perbani (neap tide).
Keterangan:
(a) Bulan menimbulkan sebuah tonjolan di bagian bumi yang terdekat sehingga gaya gravitasi
lebih besar dari pada gaya sentrifugal yang dinetralkan. Di sisi yang berlawanan, gaya
sentrifugal lebih kuat dan menetralkan gaya gravitasi.
(b) Posisi bulan dan matahari pada pasang perbani dan pasang purnama (Nybakken, 1993. hal
221).
2. Teori Pasut Dinamik (Dynamical Theory)
Pond dan Pickard (1978) menyatakan bahwa dalam teori ini lautan yang homogen masih
diasumsikan menutupi seluruh bumi pada kedalaman yang konstan, tetapi gaya-gaya tarik
periodik dapat membangkitkan gelombang dengan periode sesuai dengan konstituekonstituennya. Gelombang pasut yang terbentuk dipengaruhi oleh GPP, kedalaman dan luas
perairan, pengaruh rotasi bumi, dan pengaruh gesekan dasar. Teori ini pertama kali
dikembangkan oleh Laplace (1796-1825). Teori ini melengkapi teori kesetimbangan sehingga
sifat-sifat pasut dapat diketahui secara kuantitatif. Menurut teori dinamis, gaya pembangkit

pasut menghasilkan gelombang pasut (tide wive) yang periodenya sebanding dengan gaya
pembangkit pasut. Karena terbentuknya gelombang, maka terdapat faktor lain yang perlu
diperhitungkan selain GPP.
Menurut Defant(1958), faktor-faktor tersebut adalah :
a. Kedalaman perairan dan luas perairan
b. Pengaruh rotasi bumi (gaya Coriolis)
c. Gesekan dasar
Rotasi bumi menyebabkan semua benda yang bergerak di permukaan bumi akan berubah
arah (Coriolis Effect). Di belahan bumi utara benda membelok ke kanan, sedangkan di
belahan bumi selatan benda membelok ke kiri. Pengaruh ini tidak terjadi di equator, tetapi
semakin meningkat sejalan dengan garis lintang dan mencapai maksimum pada kedua kutub.
Besarnya juga bervariasi tergantung pada kecepatan pergerakan benda tersebut.
Menurut Mac Millan (1966) berkaitan dengan dengan fenomeana pasut, gaya Coriolis
mempengaruhi arus pasut. Faktor gesekan dasar dapat mengurangi tunggang pasut dan
menyebabkan keterlambatan fase (Phase lag) serta mengakibatkan persamaan gelombang
pasut menjadi non linier semakin dangkal perairan maka semaikin besar pengaruh
gesekannya.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pasang surut berdasarkan teori kesetimbangan
adalah rotasi bumi pada sumbunya, revolusi bulan terhadap matahari, revolusi bumi terhadap
matahari. Sedangkan berdasarkan teori dinamis adalah kedalaman dan luas perairan,
pengaruh rotasi bumi (gaya coriolis), dan gesekan dasar. Selain itu juga terdapat beberapa
faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut disuatu perairan seperti, topogafi dasar laut,
lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya, sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut
yang berlainan (Wyrtki, 1961).
Pasang surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek
sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung
dengan massa tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil
dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik matahari
dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak
matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan
menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan
pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang
orbital bulan dan matahari (Priyana,1994)

Bulan dan matahari keduanya memberikan gaya gravitasi tarikan terhadap bumi yang
besarnya tergantung kepada besarnya masa benda yang saling tarik menarik tersebut. Bulan
memberikan gaya tarik (gravitasi) yang lebih besar dibanding matahari. Hal ini disebabkan
karena walaupun masa bulan lebih kecil dari matahari, tetapi posisinya lebih dekat ke bumi.
Gaya-gaya ini mengakibatkan air laut, yang menyusun 71% permukaan bumi,
menggelembung pada sumbu yang menghadap ke bulan. Pasang surut terbentuk karena rotasi
bumi yang berada di bawah muka air yang menggelembung ini, yang mengakibatkan
kenaikan dan penurunan permukaan laut di wilayah pesisir secara periodik. Gaya tarik
gravitasi matahari juga memiliki efek yang sama namun dengan derajat yang lebih kecil.
Daerah-daerah pesisir mengalami dua kali pasang dan dua kali surut selama periode sedikit di
atas 24 jam (Priyana,1994)
C. Tipe-Tipe Pasang Surut
Bentuk pasang surut di berbagai daerah tidak sama. Tipe pasut ditentukan oleh frekuensi air
pasang dengan surut setiap harinya. Hal ini disebabkan karena perbedaan respon setiap lokasi
terhadap gaya pembangkit pasang surut. Menurut Romimohtarto dan Juwana (2007), dilihat
dari pola gerakan muka lautnya, pasang surut di Indonesia dapat dibagi menjadi empat jenis
yaitu
1. Pasut semi diurnal atau pasut harian ganda (dua kali pasang dan dua kali surut dalam 24
jam), Periode pasang surut rata-rata adalah 12 jam 24 menit. misalnya di perairan selat
Malaka;
Gambar 2. Pasang semi diurnal
2. Pasut diurnal atau pasut harian tunggal (satu kali pasang dan satu kali surut dalam 24 jam),
Periode pasangsurut adalah 24 jam 50 menit, misalnya di sekitar selat Karimata;
Gambar 3. Pasang diurnal
3. Pasang surut campuran condong harian tunggal (Mixed Tide, Prevailing Diurnal)
merupakan pasut yang tiap harinya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut tetapi
terkadang dengan dua kali pasang dan dua kali surut yang sangat berbeda dalam tinggi dan
waktu, ini terdapat di Pantai Selatan Kalimantan dan Pantai Utara Jawa Barat.
4. Pasang surut campuran condong harian ganda (Mixed Tide, Prevailing Semi Diurnal)
merupakan pasut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari tetapi

terkadang terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dengan memiliki tinggi dan waktu yang
berbeda, ini terdapat di Pantai Selatan Jawa dan Indonesia Bagian Timur
Gambar 4. Pasang Campuran
Daerah paling atas pantai hanya terendam saat pasang naik tinggi. Daerah ini dihuni oleh
beberapa jenis ganggang, moluska, dan remis yang menjadi konsumsi bagi kepiting dan
burung pantai. Daerah tengah pantai terendam saat pasang tinggi dan pasang rendah. Daerah
ini dihuni oleh ganggang, porifera, anemon laut, remis dan kerang, siput herbivora dan
karnivora,kepiting, landak laut, bintang laut, dan ikan-ikan kecil. Daerah pantai terdalam
terendam saat air pasang maupun surut. Daerah ini dihuni oleh beragam invertebrata dan ikan
serta rumput laut.
Komunitas tumbuhan berturut-turut dari daerah pasang surut ke arah darat dibedakan sebagai
berikut.
1. Formasi pes caprae, dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan
pasir adalah yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin;tumbuhan ini menjalar dan
berdaun tebal. Tumbuhan lainnya adalah Spinifex littorius (rumput angin), Vigna, Euphorbia
atoto, dan Canaualia martina. Lebih ke arah darat lagi ditumbuhi Crinum asiaticum (bakung),
Pandanus tectorius (pandan), dan Scaeuola Fruescens (babakoan)
2. Formasi baringtonia. Daerah ini didominasi tumbuhan baringtonia, termasuk di dalamnya
Wedelia, Thespesia,Terminalia, Guettarda, dan Erythrina. Bila tanah di daerah pasang surut
berlumpur, maka kawasan ini berupa hutan bakau yang memiliki akar napas. Akar napas
merupakan adaptasi tumbuhan di daerah berlumpur yang kurang oksigen. Selain berfungsi
untuk mengambil oksigen, akar ini juga dapat digunakan sebagai penahan dari pasang surut
gelombang. Yang termasuk tumbuhan dihutan bakau antara lain Nypa, Acathus, Rhizophora,
dan Cerbera. Jika tanah pasang surut tidak terlalu basah, pohon yang sering tumbuh adalah
Heriticra, Lumnitzera, Acgicras, dan Cylocarpus.
D. Pengaruh Pasang Surut Terhadap Organisme
Terjadinya pasang surut memberikan pengaruh terhadap kondisi lingkungan perairan.
Misalnya Gerakan air vertikal yang berhubungan dengan naik dan turunnya pasang surut,
diiringi oleh gerakan air horizontal yang disebut dengan arus pasang surut. Permukaan air
laut senantiasa berubah-ubah setiap saat karena gerakan pasut, keadaan ini juga terjadi pada
tempat-tempat sempit seperti teluk dan selat, sehingga menimbulkan arus pasut(Tidal
current). Gerakan arus pasut dari laut lepas yang merambat ke perairan pantai akan

mengalami perubahan, faktor yang mempengaruhinya antara lain adalah berkurangnya


kedalaman (Mihardja et,. al 1994).
Menurut King (1962), arus yang terjadi di laut teluk dan laguna adalah akibat massa air
mengalir dari permukaan yang lebih tinggi ke permukaan yang lebih rendah yang disebabkan
oleh pasut. Arus pasang surut adalah arus yang cukup dominan pada perairan teluk yang
memiliki karakteristik pasang (Flood) dan surut atau ebb. Pada waktu gelombang pasut
merambat memasuki perairan dangkal, seperti muara sungai atau teluk, maka badan air
kawasan ini akan bereaksi terhadap aksi dari perairan lepas.
Pada daerah-daerah di mana arus pasang surut cukup kuat, tarikan gesekan pada dasar laut
menghasilkan potongan arus vertikal, dan resultan turbulensi menyebabkan bercampurnya
lapisan air bawah secara vertikal. Pada daerah lain, di mana arus pasang surut lebih lemah,
pencampuran sedikit terjadi, dengan demikian stratifikasi (lapisan-lapisan air dengan
kepadatan berbeda) dapat terjadi. Perbatasan antar daerah-daerah kontras dari perairan yang
bercampur dan terstratifikasi seringkali secara jelas didefinisikan, sehingga terdapat
perbedaan lateral yang ditandai dalam kepadatan air pada setiap sisi batas.
Zona intertidal adalah zona littoral yang secara reguler terkena pasang surut air laut,
tingginya adalah dari pasang tertinggi hingga pasang terendah. Didalam wilayah intertidal
terbentuk banyak tebing-tebing, cerukan, dan gua, yang merupakan habitat yang sangat
mengakomodasi organisme sedimenter. Morfologi di zona intertidal ini mencakup tebing
berbatu, pantai pasir, dan tanah basah/wetlands. Pengaruh pasang-surut terhadap organisme
dan komunitas zona intertidal paling jelas adalah kondisi yang menyebabkan daerah intertidal
terkena udara terbuka secara periodik dengan kisaran parameter fisik yang cukup lebar.
Organisme intertidal perlu kemampuan adaptasi agar dapat menempati daerah ini. Faktorfaktor fisik pada keadaan ekstrem dimana organisme masih dapat menempati perairan, akan
menjadi pembatas atau dapat mematikan jika air sebagai isolasi dihilangkan.
Kombinasi antara pasang-surut dan waktu dapat menimbulkan dua akibat langsung yang
nyata pada kehadiran dan organisasi komunitas intertidal. Pertama, perbedaan waktu relatif
antara lamanya suatu daerah tertentu di intertidal berada diudara terbuka dengan lamanya
terendam air. Lamanya terkena udara terbuka merupakan hal yang sangat penting karena
pada saat itulah organisme laut akan berada pada kisaran suhu terbesar dan kemungkinan
mengalami kekeringan. Semakin lama terkena udara, semakin besar kemungkinan mengalami
suhu letal atau kehilangan air diluar batas kemampuan. Kebanyakan hewan ini harus
menunggu sampai air menggenang kembali untuk dapat mencari makan. Semakin lama
terkena udara, semakin kecil kesempatan untuk mencari makan dan mengakibatkan

kekurangan energi. Flora dan fauna intertidal bervariasi kemampuannya dalam menyesuaikan
diri terhadap keadaan terkena udara, dan perbedaan ini yang menyebabkan terjadinya
perbedaan distribusi organisme intertidal.
Pengaruh kedua adalah akibat lamanya zona intertidal berada diudara terbuka. Pasang-surut
yang terjadi pada siang hari atau malam hari memiliki pengaruh yang berbeda terhadap
organisme. Surut pada malam hari menyebabkan daerah intertidal berada dalam kondisi udara
terbuka dengan kisaran suhu relatif lebih rendah jika dibanding dengan daerah yang
mengalami surut pada saat siang hari.
Pengaruh pasang-surut yang lain adalah karena biasanya terjadi secara periodik maka pasangsurut cenderung membentuk irama tertentu dalam kegiatan organisme pantai, misalnya irama
memijah, mencari makan atau aktivitas organisme lainnya.
1. Biota pada zona intertidal
Menurut Prajitno, 2009. Biota pada ekosistem pantai berbatu adalah salah satu daerah ekologi
yang paling familiar, habitat dan interaksinya sudah diketahui oleh ilmuan, penelitian
diadakan di pulau cruger yang pantai utaranya merupakan (freshwater) air tawar dan berbatu.
Fauna pada pantai berbatu pulau cruger berkarakteristik dominan pada binatang air tawar.
Sebagian besar berupa Dipterans, Nematodes, Microannelida, Gastropoda,Bivalves dan
Flatworms secara keseluruhan, macroinvertebrate yang ada di pantai ini berasal dari golongan
Tubellaria, Nematoda, Oligochaeta, Gastropoda, Dreissna, Acari, Amphipoda,
Ephemeroptera, Trichoptera, coteoptera, Ceratopogonidae, Chironomidae. Sama seperti
lingkungan air tawar, serangga menjadi hal umum dicruger Island. Serangga yang terdapat
adalah Epheraroptera, Trichoptera, coleoptera dan diptera.
Menurut Nybakken, 1988. Dilingkungan laut khususnya di intertidal. Spesies yang berumur
panjang cenderung terdiri dari berbagai hewan inverbrata.hewan-hewan intertidal dominan
yang menguasai ruang selain Mytilus californianus yang terdapat dalam jumlah banyak di
pesisir pasifik adalah teritip Balanus Cariogus dan Balanus glandula. Dua spesies tersebut
terdapat melimpah di wilayah intertidal walaupun kenyataannya mereka bersaing dengan
M.californianus hal ini menyebabkan pertumbuhan teritip dapat berlangsung dengan baik.
Pisaster Ochraceus merupakan predator kerang yang rakus sehingga secara efektif mencegah
kerang menempati seluruh ruang.
Pantai yang terdiri dari batu-batuan (rocky shore) merupakan tempat yang sangat baik bagi
hewan-hewan atau tumbuhan-tumbuhan yang dapat menempelkan diri pada lapisan ini.
Golongan ini termasuk banyak jenis gastropoda, moluska dan tumbuh-tumbuhan yang
berukuran besar. Dua spesies Uttorina undulata dan tectarius malaccensis, tinggal dan hidup

di bagian batas atas dari pantai di bawahnya berturut-turut ditempati oleh jenis spesies lain
monodonta labio dan Nerita undata. Kemudian oleh cerithium morus dan turbo intercostalis.
Akhirnya pada batas yang paling bawah terdapat lambis-lambis dan trochus gibberula
(Hutabarat, 2008).
2. Pola adaptasi organism intertidal
Bentuk adaptasi adalah mncakup adaptasi structural, adaptasi fisiologi, dan adaptasi tingkah
laku. Adaptasi structural merupakan cara hidup untuk menyesuaikan dirinya dengan
mengembangkan struktur tubuh atau alat-alat tubuh kearah yang lebh sesuai dengan keadaan
lingkungan dan keperluan hidup.
Adaptasi fisiologi adalah cara makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
dengan cara penyesaian proses-proses fisiologis dalam tubuhnya. Adaptasi tingkah laku
adalah respon-respon hewan terhadap kondisi lingkungan dalam bentuk perubahan tingkah
laku. (www.zonabawah.co.cc)
Organisme intertidal memilki kemampuan untuk beradaptasi dngan kondisi lingkungan yang
dapat berubah secara signifikan, pola tersebut meliputi:
a. Daya Tahan terhadap Kehilangan air
Organisme laut berpindah dari air ke udara terbuka, mereka mulai kehilangan air. Mekanisme
yang sederhana untuk menghindari kehilangan air terlihat pada hewan-hewan yang bergerak
seperti kepiting dan anemon. Hewan-hewan tersebut memiliki bentuk morfologi seperti
memiliki alat gerak yang baik untuk melakukan pergerakan yang cepat, serta struktur tubuh
yang ditutupi oleh zat kapur yang cukup kuat.
b. Pemeliharaan Keseimbangan Panas
Organisme intertidal juga mengalami keterbukaan terhadap suhu panas dan dingin yang
ekstrim dan memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktur tubuh untuk menjaga
keseimbangan panas internal. Contoh pada siput dan kerang-kerangan ketika pasang maka
siput tersebut akan mengeluarkan badannya dari cangkang untuk melakukan aktivitas,
sedangkan ketika keadaan surut yang mengakibatkan keberadaan siput tersebut terdedah
dengan mendapatkan suhu lingkungan yang ekstrim, maka tubuhnya akan dimasukkan ke
dalam cangkang, untuk tetap mempertahankan suhu tubuhnya yang stabil.
c. Tekanan mekanik
Gerakan ombak mempunyai pengaruh yang berbeda, pada pantai berbatu dan pada pantai
berpasir. Untuk mempertahankan posisi menghadapi gerakan ombak, organism intertidal

telah membentuk beberapa adaptasi.


d. Pernapasan
Diantara hewan intertidal terdapat kecenderungan organ pernapasan yang mempunyai
tonjolan kedalam rongga perlindungan untuk mencegah kekeringan. Hal ini dapat terlihat
jelas pada berbagai moluska dimana insang terdapat pada rongga mantel yang dilindungi
cangkang. Contoh hewan ini adalah Bivalvia.
e. Cara Makan
Pada waktu makan, seluruh hewan intertidal harusmengeluarkan bagian-bagian berdaging
dari tubuhnya. Karena ituseluruh hewan intertidal hanya aktif jika pasang naik dan
tubuhnyaterendam air. Hal ini berlaku bagi seluruh hewan baik pemakan tumbuhan, pemakan
bahan-bahan tersaring, pemakan detritus maupun predator.
f. Reproduksi
Kebanyakan organisme intertidal hidup menetap atau bahkan melekat, sehingga dalam
penyebarannya mereka mmenghasilkan telur atau larva yang terapung bebas sebagai
plankton. Hampir semua organisme mempunyai daur perkembangbiakan yang seirama
dengan munculnya arus pasang surut tertentu, seperti misalnya pada waktu pasang purnama.