Anda di halaman 1dari 17

Perbandingan Perubahan UUD Sebelum dan Sesudah Amandemen

( Pasal 24 )

BAB IX : KEKUASAAN KEHAKIMAN( Setelah Amandemen )

Pasal 24

1)
Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan
guna menegakkan hukum dan keadilan.
2)
Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada
di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan
militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
3)
Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undangundang.

Pasal 24A

1)
Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundangundangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang
diberikan oleh undang-undang.
2)
Hakim agung harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, profesional, dan
berpengalaman di bidang hukum.
3)
Calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk
mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden.
4)

Ketua dan wakil ketua Mahkamah Agung dipilih dari dan oleh hakim agung.

5)
Susunan, kedudukan, keanggotaan, dan hukum acara Mahkamah Agung serta badan peradilan di
bawahnya diatur dengan undang-undang.

Pasal 24B

1)
Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan
mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat,
serta perilaku hakim.
2)
Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta
memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela.
3)
Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat.
4)

Susunan, kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang.

Pasal 24C

1)
Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya
bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar,memutus sengketa
kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus
pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.
2)
Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat
mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar.
3)
Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi yangditetapkan oleh
Presiden, yang diajukan masing-masing tiga orang oleh Mahkamah Agung, tiga orang oleh Dewan
Perwakilan Rakyat, dan tiga orang oleh Presiden.
4)

Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh hakim konstitusi.

5)
Hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, negarawan yang
menguasai konstitusi dan ketatanegaraan, serta tidak merangkap sebagai pejabat negara.

6)
Pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi, hukum acara serta ketentuan lainnya tentang
Mahkamah Konstitusi diatur dengan undang-undang.

BAB IXA
WILAYAH NEGARA
Pasal 25A
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah Negara kepulauan yang berciri Nusantara
dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya di tetapkan dengan UndanUndang.

BAB IX : KEKUASAAN KEHAKIMAN ( Sebelum Amandemen )

Pasal 24

1)
Kekuasaan Kehakiman di lakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman
menurut Undang-Undang.
2)

Susunan dan kekuasaan badan-badan Kehakiman itu diatur dengan Undang-Undang.

Perbandingan Perubahan UUD Sebelum dan Sesudah Amandemen

Bab Lama

IX
Kekuasaan

Judul Bab Sebelum


Amandemen

Bab Baru

Judul Bab Setelah


Amandemen

Tetap

Kehakiman
IX

IX A
Wilayah
Negara

Penjelasan :
Bab Lama
IX

Judul Bab Sebelum Parubahan ( Amandemen )


Kekuasaan Kehakiman Kekuasaan Kehakiman
Tidak adanya penambahan judul bab, melainkan hanya terdapat Pasal 25 dengan
satu ayat.

Judul Bab Setelah Perubahan (Amandemen )


Judul Bab pertama Tetap
Kemudian setelah Perubahan Amandemen Ada penambahan Judul Bab baru yaitu :
Wilayah Negara
Bab Baru
IX
Setelah Amandemen ada penambahan Bab baru yaitu :
IX A.

Jumlah Pasal
v Jumlah Pasal sebelum Amandemen

Dua Pasal yaitu ( Pasal 24 dengan dua ayat dan Pasal 25 denansatu ayat )

v Jumlah Pasal Setelah Amandemen

5 Pasal yaitu ( Pasal 24, Pasal 24A, Pasal 24B, Pasal 24C, Dan Pasal 25A )

Hasil
Perubahan
UUD
1945
Adapun beberapa perubahan terkait dengan amandemen UUD 1945 adalah sebagai berikut :
Kekuasaan kehakiman diatur dalam pasal 24 A, 24 B, dan pasal 24 C
PERBANDINGAN SEBELUM DAN SESUDAH AMANDEMEN
MAHKAMAH AGUNG
v SEBELUM AMANDEMEN
Kedudukan:
Kekuasan kehakiman menurut UUD 1945 sebelum amandemen dilakukan oleh Mahkamah Agung dan
lain-lain badan kehakiman (Pasal 24 (1)). Kekuasaan kehakiman hanya terdiri atas badan-badan
pengadilan yang berpuncak pada Mahkamah Agung. Lembaga ini dalam tugasnya diakui bersifat mandiri
dalam arti tidak boleh diintervensi atau dipengaruhi oleh cabang-cabang kekuasaan lainnya, terutama
eksekutif.
WEWENANG
Sebelum adanya amandemen, Mahkamah Agung berwenang dalam kekuasaan kehakiman secara utuh
karena lembaga ini merupakan lembaga kehakiman satu-satunya di Indonesia pada saat itu
v SETELAH AMANDEMEN
Kedudukan:
MA merupakan lembaga negara yang memegang kekuasaan kehakiman disamping itu sebuah
mahkamah konstitusi diindonesia (pasal 24 (2) UUD 1945 hasil amandemen ). Dalam melaksanakan
kekusaan kehakiman , MA membawahi Beberapa macam lingkungan peradilan, yaitu peradilan umum,
peradilan agama, peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara( Pasal 24 (2) UUD 1945 hasil
amandemen).
WEWENANG
Fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam Undang-undang

seperti Kejaksaan, Kepolisian, Advokat/Pengacara dan lain-lain.


Berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan

di bawah Undang-Undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh


Undang-Undang
Mengajukan 3 orang anggota Hakim Konstitusi
Memberikan pertimbangan dalam hal Presiden memberi grasi dan rehabilitasi

Alasan dan Tujuan Perubahan

Ada beberapa pendapat yang menganjurkan bahwa Indonesia harus merubah Undang-Undangnya karna
ketidak-serasian antara kehidupan sekarang dengan Undang-Undang yang telah dibentuk sejak dahulu.
Pendapat itu disampaikan oleh Abdul Mukti Fajar sebagaimana dikutip oleh Bambang Widjajanto dan
kawan-kawan[1] :

Alasan Historis , bahwa sejarah pembuatan UUD 1945 memang didesain pleh para

pendiri (BPUPKI, PPKI) sebagai UUD yang bersifat sementara, sebagaimana


dikatakan Ir. Soekarno selaku Ketua PPKI dalam pidatonya tanggal 18 Agustus 1945.
Alasan Filosof, bahwa dalam UUD 1945 terdapat percampur-adukan beberapa

gagasan yang saling bertentangan, seperti antara paham kedaulatan rakyat dengan
paham integralistik, antara paham negara hukum dengan paham negara kekuasaan .
Alasan Teoritis, bahwa dari sudut pandang teori konstitusi (konstitusinasioalisme)

keberadaan konstitusi bagi suatu negara adalah agar tidak berlaku sewenangwenang. Akan tetapi, UUD kurang menonjolkan pembatasan kekuasaan tersebut,
melainkan lebih menonjolkan keintergrasian.
Alasan Yuridis, bahwa dalam naskah UUD juga memuat clausula perubahan pada

Pasal 37 UUD 1945.


Alasan Politik Praktis, bahwa secara sadar dan tidak sadar , langsung dan tidak
langsung, UUD telah banyak mengalami perubahan yang menyimpang dari teks
aslinya.

Adapun alasan-alasan untuk melakukan amadement, antara lain :

Untuk mempertegas diktum dalam pasal-pasal yang telah ada


Untuk menghilangkan kesalahan penafsiran terhadap arti dan bunyi pasal-pasal

yang telah-telah memperbaiki atau menyempurkan.


Untuk mengoreksi kesalahan yang ada dalam diktum.
Untuk menambah diktum baru demi menyempurnakan sistem ketatanegaraan yang

dianut dalam konstitusi tersebut.


Untuk mengadopsi perkembangan ketatanegaraan yang dituntut guna tercapainya
kepastian hukum dalam waktu yang relatif lama.

Tujuan konstitusi adalah membatasi tindakan sewenang-wenang pemerintah, menjamin hak-hak rakyat
yang diperintah, dan menetapkan pelaksanaan kekuasaan yang berdaulat. Sedangkan, fungsi konstitusi
adalah sebagai dokumen nasional dan alat untuk membentuk system politikdan sistem hukum
negaranya.

sebelum amandemen
Pasal 28
Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan
tulisan dan sebaganya ditetapkan dengan undang-undang.
sesudah amandemen
Pasal 28A
Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya.
Pasal 28B (1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan
melalui perkawinan yang sah.
(2) Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta
berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Pasal 28C (1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan
kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu
pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya
dan demi kesejahteraan umat manusia.
(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya
secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya.
Pasal 28D
(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum
yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum.
(2) Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang
adil dan layak dalam hubungan kerja.

(3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam
pemerintahan.
(4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan.
Pasal 28E
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih
pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih
tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran
dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan
pendapat.
Pasal 28F
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari,
memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan
menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Pasal 28G
(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan,
martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman
dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu
yang merupakan hak asasi.
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang
merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari
negara lain.
Pasal 28H
(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan
kesehatan.
(2) Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh
kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.

(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan
dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.
(4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak
boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.
Pasal 28I
(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati
nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi
dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut
adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.
(2) Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa
pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat
diskriminatif itu.
(3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan
perkembangan zaman dan peradaban.
(4) Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah
tanggung jawab negara, terutama pemerintah.
(5) Untuk menegakan dan melindungi hak assi manusia sesuai dengan prinsip negara
hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan
dituangkan dalam peraturan perundangan-undangan.
Pasal 28J
(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata
untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan
untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai
agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.

perbedaan HAM pada UUD


1945 sebelum dan sesudah
diamandemen
May 20, 2010Uncategorized

A. Pendahuluan
Hak Asasi Manusia sama artinya dengan hak-hak konstitusional karena statusnya yang
lebih tinggi dalam hirarki norma hukum biasa, karena memperbincangkan kerangka
normatif dan konsepsi hak-hak konstitusional sesungguhnya tidaklah jauh berbeda
dengan bicara hak asasi manusia.
Perubahan UUD 1945 hasil amandemen lebih baik dibandingkan dengan konstitusi
sebelum diamandemen, dalam membangun sistem ketatanegaraan, salah satu bukti
utamanya terkait dengan meluasnya pengaturan jaminan hak-hak asasi manusia. Dari
beberapa isi jaminan hak-haknya, UUD 1945 mengatur jauh lebih lengkap Hak Asasi
Manusia dibandingkan sebelum amandemen, ditempatkan dalam suatu undang-undang
dasar. 5 pasal (hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan,
kemerdekaan berserikat dan berkumpul serta mengeluarkan pikiran dengan lisan dan
tulisan, jaminan kemerdekaan beragama dan berkepercayaan, serta hak atas
pengajaran, hak atas akses sumberdaya alam) menjadi setidaknya 17 pasal (dengan 38
substansi hak-hak yang beragam) yang terkait dengan hak asasi manusia.
Meluasnya jaminan hak-hak asasi manusia melalui pasal-pasal di dalam UUD 1945
merupakan kemajuan dalam membangun pondasi hukum bernegara untuk memperkuat
kontrak penguasa-rakyat dalam semangat konstitusionalisme Indonesia. Semangat
konstitusionalisme Indonesia harus mengedepankan dua aras bangunan politik hukum
konstitusinya,yakni pertama, pembatasan kekuasaaan agar tidak menggampangkan
kesewenang-wenangan, dan kedua, jaminan penghormatan, perlindungan dan
pemenuhan hak-hak asasi manusia. Kemajuan pasal-pasal hak asasi manusia dalam

konstitusi merupakan kecenderungan global di berbagai negara tentang diakuinya


prinsip universalisme hak-hak asasi manusia. Dan, diyakini secara bertahap akan
memperkuat pada kapasitas negara dalam mendorong peradaban martabat
kemanusiaan. Dam sebelum diamandemen hak asasi manusia dalam UUD 1945 justru
sama sekali tidak diimplementasikan. Kemerdekaan berserikat dan berkumpul serta
mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dikebiri atas nama stabilisasi politik dan
ekonomi, dan hal tebukti pada kasus PKI dan Priok dan dalam makalah ini saya akan
menjelaskan perbedaan HAM sebelum dan sesudah di amandemen yang cukup
signifikan
B. ISI
Memasukkan hak-hak asasi manusia ke dalam pasal-pasal konstitusi atau Undang
Undang dasar merupakan salah satu ciri konstitusi moderen.Sejak dideklarasikannya
sejumlah hak-hak asasi manusia dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia atau
biasa disebut DUHAM 1948 (Universal Declaration of Human Rights), yang kemudian
diikuti oleh sejumlah kovenan maupun konvensi internasional tentang hak asasi
manusia, maka secara bertahap diadopsi oleh negara-negara sebagai bentuk
pengakuan rezim normatif internasional yang dikonstruksi untuk menata hubungan
internasional. Di Indonesia HAM merupakan faktor yang krusial untuk di masukkan ke
dalam Undang Undang Dasar. Meskipun demikian, dalam konteks sejarah dan secara
konsepsional, Undang-Undang Dasar 1945 yang telah lahir sebelum DUHAM memiliki
perspektif hak asasi manusia yang cukup progresif, karena sebagaimana ditegaskan
dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, alinea 1:
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu,
maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan.
Di saat rezim Orde Baru di bawah Soeharto berkuasa, konsepsi jaminan hak asasi
manusia dalam UUD 1945 justru sama sekali tidak diimplementasikan. Kemerdekaan
berserikat dan berkumpul serta mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dikebiri
atas nama stabilisasi politik dan ekonomi, dan hal tersebut jelas nampak dalam
sejumlah kasus seperti pemberangusan simpatisan PKI di tahun 1965-1967 , peristiwa
Priok dan penahanan serta penculikan aktivis partai pasca kudatuli. Sementara
penyingkiran hak-hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan
terlihat menyolok dalam kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah, pengusiran warga
Kedungombo, dan pembunuhan 4 petani di waduk Nipah Sampang. Praktis, pelajaran
berharga di masa itu, meskipun jaminan hak asasi manusia telah diatur jelas dalam

konstitusi, tidak sertamerta di tengah rezim militer otoritarian akan


mengimplementasikannya seiring dengan teks-teks konstitusional untuk melindungi hakhak asasi manusia.
Setelah situasi tekanan politik ekonomi yang panjang selama lebih dari 30 tahun,
desakan untuk memberikan jaminan hak asasi manusia pasca Soeharto justru
diakomodasi dalam pembentukan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia. Pasal-pasal di dalam undang-undang tersebut nyatanya cukup
memberikan pengaruh pada konstruksi pasal-pasal dalam amandemen UUD 1945,
terutama pada perubahan kedua (disahkan pada 18 Agustus 2000) yang memasukkan
jauh lebih banyak dan lengkap pasal-pasal tentang hak asasi manusia. Bandingkan saja
kesamaan substansi antara UUD 1945 dengan UU Nomor 39 Tahun 1999
Dengan pasal-pasal hak asasi manusia yang diperlihatkan di atas, maka terpetakan
bahwa: (i) Pasal-pasalnya menyebar, tidak hanya di dalam Bab XIA tentang Hak Asasi
Manusia. Sejumlah pasal tentang hak asasi manusia terlihat pula di luar Bab XIA
(terdapat 8 substansi hak); (ii) UUD 1945 pasca amandemen telah mengadopsi jauh
lebih banyak dan lengkap dibandingkan sebelumnya, baik menyangkut hak-hak sipil dan
politik maupun hak-hak ekonomi, sosial dan budaya; (iii) Banyak sekali ditemukan
kesamaan substantif sejumlah pasal-pasal hak asasi manusia, baik di dalam maupun di
luar Bab XIA, sehingga secara konseptual tumpang tindih, repetitif dan tidak ramping
pengaturannya. Misalnya, hak untuk beragama maupun berkepercayaan diatur dalam
tiga pasal, yakni pasal 28E ayat (2), pasal 28I ayat (1), dan pasal 29.
Meskipun dengan sejumlah kekurangan secara konseptual, pengaturan normatif pasalpasal hak asasi manusia yang demikian sudah cukup maju, apalagi mengatur secara
eksplisit tanggung jawab negara dalam penghormatan, perlindungan dan pemenuhan
hak asasi manusia ( pasal 28I ayat (4) dan ayat (5) UUD 1945 pasca amandemen).
Konsepsi tanggung jawab hak asasi manusia dalam UUD 1945 lebih menonjol
kewajiban warga negara dibandingkan tanggung jawab utama negara, dalam hal ini
pemerintah. Sebagaimana terlihat, kewajiban warga negara dalam soal hak asasi
manusia diatur secara terpisah dan khusus (vide: pasal 28J), namun secara konseptual
pengaturannya kurang tepat karena memasukkan konsep derogasi di dalam pasal 28J
ayat (2), yang seharusnya dalam konstitusi sebagai hukum (hak) dasar tidaklah perlu
mengadakan pembatasan-pembatasan terhadap hal-hal yang umum atau mendasar
sifatnya.
Konsep derogasi haruslah spesifik, atau diterapkan dalam kondisi tertentu yang sifatnya
darurat dan tidak semua hak bisa dibatasi atau dikurangi, karena ada sejumlah hak-hak

yang sifatnya non-derogable rights (hak-hak yang tidak bisa sama sekali dibatasi atau
dikurangi), seperti hak hidup dan hak untuk bebas dari penyiksaan dan perbudakan.
Secara konseptual, perbaikan terhadap pasal-pasal yang menyangkut hak-hak asasi
manusia adalah membongkar dan menata ulang berbasiskan pada substansi yang
tegas penormaan dan rumusannya, dan menghapus pasal-pasal repetitif nan tumpang
tindih. Sedangkan menyangkut tanggung jawab hak asasi manusia, perubahan UUD
1945 perlu pula mengatur secara tegas dan progresif tanggung jawab utama negara,
dalam hal ini pemerintah, untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak asasi
manusia.
C.Penutup
HAM pada UUD 1945 sebelum dan sesudah diamandemen sangat berbeda,perbaikan
isi UUD 1945 atau amandemen UUD 1945 membuat Hak Hak asasi manusia
masyarakat Indonesia sangat di perhatikan dan menjadi faktor utama kenapa pasal 28
tentang HAM isinya diamandemen karena pada jaman Orde Baru atau pada jaman
Presiden Soeharto HAM masyarakat Indonesia banyak di langgar karena pembantaian
dan kerusuhan seperti peristiwa PKI tahun 1965 dan peristiwa yang terbaru tahun 1998
dan pada akhirnya setelah perubahan UUD sampai 4 kali,barulah UUD 1945 setelah
diamandemen berubah total,perubahan UUD 1945 tentang Hak Asasi Manusia setelah
diamandemen membuat HAM dibagi pada bab XA pasal 28A-J dan itu membuat Hak
Asasi Manusia indonesia dijamin dan di lindungi oleh negara tetapi kadang kadang
HAM di Indonesia kurang di pedulikan sehingga masih banyak pelanggaran
HAM,contohnya peristiwa Priok jilid II kemarin tentang penggusuran makam yang
memakan korban dari polisi maupun warga,sehingga perlu kesadaran dari warga dan
pemerintah Indonesia agar tercfipta Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

SESI 1
Pada sesi ini siswa akan belajar tentang Pengertian, Macam-Macam Hak Asasi Manusia
(HAM) dan Sejarah singkat HAM dan Dekelarasi HAM dunia.
1.

1.

Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)

Hak Asasi manusia adalah hak dasar atau pokok yang melekat atau dimiliki manusia
sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Menurut UU No. 39 Tahun 1999, hak asasi
manusiaadalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan YME. Hak itu merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, di junjung
tinggi dan dilindung oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan
dan perlindungan harkat dan martabat manusia.
Hak asasi manusia mempunyai ciri-ciri khusus, antara lain:
1.

Hakiki, artinya hak asasi manusia adalah hak semua umat manusia yang sudah ada
sejak lahir.

2.

Universal, artinya hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa memandang
status, suku, bangsa, gender atau perbedaan lainnya. Memang persamaan adalah salah
satu dari ide-ide hak asasi manusia yang mendasar.

3.

Tidak dapat dicabut, artinya hak asasi manusia tidak dapat di cabut atau diserahkan.

4.

Tak dapat dibagi, artinya semua orang berhak mendapatkan semua hak, apakah hak
sipil dan politik, atau hak ekonomi, sosial dan budaya.

Manusia sebagai makhluk individu sekaligusmakhluk sosial, akan sering terjadi


perbenturan kepentingan antara seseorang dengan lainnya. Maka secara praktiknya, hak
asasi manusia tidak dapat dilaksanakan secara mutlak. Karena akan terjadi pelanggaran
terhadap hak asasi manusia itu sendiri (hak asasi orang lain).
1.

2.

Macam Macam Hak Asasi Manusia

Hak asasi manusia dalam UUD 1945 (sebelum amandemen) hanya tercantum pada Pasal 27
sampai dengan Pasal 34 saja dan tidak ada pasal dan bab khusus mengenai hak asasi.

Setelah Amandemen ke-4 tahun 2002, dalam UUD 1945 disempurnakan rincian
tentang macam hak asasi manusia menjadi lebih banyak dan lengkap. Di samping pasalpasal terdahulu masih dipertahankan, di munculkan pula bab baru yang berjudul Bab XA
tentang Hak Asasi Manusia beserta pasal-pasal tambahannya (Pasal 28 A sampai dengan 28
J).
Sidang Istimewa MPR yang diselenggarakan pada bulan November 1998, antara
lainberhasil mengeluarkan TAP MPR RI No. XVII/MPR/1998 tentang HAM. Dan di muat
pula pandangan dan sikap bangsa Indonesia terhadap HAM dalam Piagam HAM.
Kemudian diperinci dalam pasal demi pasal yang terdiri atas 44 pasal. Perincian Ham
dalam Pasal 1-44 tersebut secara gris besarnya sebagai berikut:
1.

Hak untuk hidup

2.

Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan

3.

Hak mengembangkan diri

4.

Hak keadilan

5.

Hak kemerdekaan

6.

Hak atas kebebasan informasi

7.

Hak keamanan

8.

Hak kesejahteraan

9.

Hak perlindungan dan pemajuan

10.

Kewajiban menghormati hak asasi manusia orang lain

Dari ketentuan UUD 1945 dan TAP MPR dijabarkan ke dalam peraturan perundangundangan yang lebih rendah seperti UU No. 39 tahun 1999. Dalam sidang ini mengenai
HAM dirinci sebagai berikut:
1.

Hak untuk hidup

2.

Hak untuk berkeluarga

3.

Hak mengembangkan diri

4.

Hak memperoleh keadilan

5.

Hak atas kebebasan pribadi

6.

Hak atas rasa aman

7.

Hak atas kesejahteraan

8.

Hak turut serta dalam pemerintahan

9.

Hak wanita

10.

Hak anak

Sementara itu, secara umum hak asasi manusia terdiri atas 6 macam , yakni:
1.

Hak asasi pribadi (persoal right)

2.

Hak asasi ekonomi (proverty right)

3.

Hak asasi politik (political right)

4.
5.
6.
1.

Hak asasi untuk memperoleh perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan
(right of legal equality)
Hak asasi sosial dan kebudayaan (social and culture right)
Hak asasi untuk memperoleh perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan
(procedural right).
3.

Sejarah Singkat HAM dan Dekelarasi HAM Dunia

Menurut Sejarah, pengakuan HAM dimulai dari Kaisar Hammurabi dengan membuat
peraturan yang bertujuan untuk menciptakan keadilan dan ketertiban bagi rakyatnya.
Kemudian di abad modern, pada tahun 1215 di tandatangani suatu perjanjian, Magna
Charta, antara Raja John dari Inggris dan sejumlah bangsawan. Raja John dipaksa memberi
jaminan terhadap beberapa hak para pangeran yang telah turut membiayai kegiatan
pemerintahan dan berbagai peperangannya. Hak-hak yang dijamin meliputi hak-hak politik
dan sipil yang mendasar seperti tidak akan dipenjarakan tanpa pemeriksaan di forum
peradilan, dan hanya berlaku untuk bangsawan yang bersangkutan beserta keturunannya.
Akan tetapi, hak itu menjadi bagian dari konstitusi Inggris sebagai perlindungan atas
kebebasan semua waraga negara. Sampai sekarang Magna Charta masih dianggap sebagai
tonggak sejarah dalam perkembangan demokrasi dan perlindungan hak asasi di Barat.
Lalu muncullah berbagai piagam pengakuan HAM yang lain seperti: Petition of Right
(1629),Habeas Corpus Act (1679), Bill of Right(1689), dan lain-lain. Ham baru mendapat
perhatian dan menjadi pembicaraan lebih serius kira-kira dua abad terakhir, yaitu ditandai
dengan adanyakemerdekaan Amerika (1776) dan Revolusi Perancis (1789). Dan
perkembangannya secara resmi diakui pada Dekelarasi Universal HAM yang diterima
oleh PBB pada tanggal 10 Desember 1948.
Perang Dunia I dan II merupakan titik balik pelanggaran HAM. Pada waktu itu para
pemimpin dunia menyalahgunakan kekuasaan mereka, seperti Hitler ari Jerman, Benito
Mussolini dari Italia,Joseph Stalin dari Uni Soviet, dan sebagainya.
Dekelarasi HAM se-Dunia merupakan dokumen HAM Internasional yang paling penting,
yang berisi panduan atau standar tingkah laku bagi seluruh negara.