Anda di halaman 1dari 7

TUGAS PENGEMBANGAN KURIKULUM

ANALISIS KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DITINJAU DARI


SEGI FALSAFAH, PEDAGOGIK, DAN SOSIOLOGI

DISUSUN OLEH:
AKHMAD FAUZI

147795035

RAHADIAN GRACE AMELIA

147795061

EKA TINA NUR ULA TUQA

147795065

PRODI S-2 PENDIDIKAN SAINS


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2015

A. Pengertian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)


Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum yang
dikembangkan oleh dan dilaksanakan pada tiap-tiap satuan pendidikan. Dalam hal ini,
sekolah diberi keleluasaan untuk mengembangkan kurikulumnya. Namun demikian,
tidak berarti sekolah bebas tanpa batas untuk mengembangkan kurikulumnya. Dalam
pelaksanaannya tetap berpegang atau merujuk pada prinsip-prinsip dan rambu-rambu
operasional standard yang dikembangkan oleh pemerintah, serta merujuk pada Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standard Isi (SI) yang telah ditetapkan melalui Permen
Nomor 23 Tahun 2006 untuk Standar Kompetensi Lulusan, dan Permen Nomor 22 Tahun
2006 untuk Standar Isi.
Standard Isi (SI) yaitu lingkup materi minimal dan standar kompetensi minimal
untuk mencapai kompetensi lulusan minimal pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu
yang berlaku secara nasional. Sedangkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) standar
yang digunakan untuk melakukan penilaian dan menentukan kelulusan peserta didik.
Standar komptensi lulusan ini terdiri dari standar kompetensi kelompok mata pelajaran
dan standar kompetensi mata pelajaran untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Standar kompetensi lulusan ini berlaku secara nasional, artinya menjadi acuan untuk
dasar bagi penentuan kelulusan di seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Namun dalam
pencapaiannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah setempat.
Selain dari pada itu, sekolah memiliki kewenangan untuk mengembangkan mata
pelajaran muatan lokal, yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat sekitar
sekolah. Isi muatan lokal bisa diitegrasikan ke dalam mata pelajaran tertentu, juga bisa
dibuat dalam satu mata pelajaran tersendiri.
B. Landasan Filosofis
Landasan filosofis dimaksudkan pentingnya filsafat dalam membina dan
mengembangkan kurikulum pada suatu lembaga pendidikan. Filsafat ini menjadi
landasan utama yang melandasi aspek-aspek lainnya. Perumusan tujuan dan isi
kurikulum pada dasarnya bergantung pada pertimbangan-pertimbangan filosofis.
Pandangan filosofis yang berbeda akan mempengaruhi dan mendorong aplikasi
pengembangan kurikulum yang berbeda pula. Berdasarkan landasan filosofis ini
ditentukan tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan mata pelajaran, dan
tujuan pembelajaran.
Landasan filosofis pada KTSP, bahwa sekolah merupakan pusat pengembangan
lanjutan yang menitikberatkan budaya yang tidak terlepas dari nilai-nilai budaya yang
dianut oleh suatu bangsa. Bangsa Indonesia memiliki nilai-nilai budaya yang bersumber

pada pancasila, sebagai falsafat hidup berbangsa dan bernegara yang mencakup nilainilai religius, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Nilai-nilai inilah yang
menjadi dasar filosofi pengembangan kurikulum di sekolah.
Sekolah sebagai bagian dari masyarakat tidak terlepas dari lokus, kewaktuan,
kondisi sosial dan budaya. Kekuatan dan kelemahan dari hal-hal ini akan menjadi
pertimbangan dalam penentuan struktur kurikulum sekolah.
C. Landasan Yuridis
Penyelenggaraan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang saat ini
diterapkan di Indonesia dilandasi oleh kebijakan perundang-undangan sebagai berikut:
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat (19); Pasal 18 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 32 ayat
(1), (2), (3); Pasal 35 ayat (2); Pasal 36 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 37 ayat (1), (2),
(3); Pasal 38 ayat (1), (2).
b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan, Pasal 1 ayat (5), (13), (14), (15); Pasal 5 ayat (1), (2); Pasal 6
ayat (6); Pasal 7 ayat (1), (2), (3), (4), (5), (6), (7), (8); Pasal 8 ayat (1), (2), (3); Pasal
10 ayat (1), (2), (3); Pasal 11 ayat (1), (2), (3), (4); Pasal 13 ayat (1), (2), (3), (4);
Pasal 14 ayat (1), (2), (3); Pasal 16 ayat (1), (2), (3), (4), (5); Pasal 17 ayat (1), (2);
Pasal 18 ayat (1), (2), (3); Pasal 20.
c. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006
tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Standar isi ini
mencakup lingkup materi dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan
pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Termasuk dalam standar isi adalah:
kerangka dasar dan struktur kurikulum, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi
Dasar (KD) setiap mata pelajaran pada setiap semester dari setiap jenis dan jenjang
pendidikan dasar dan menengah.
d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2006
tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Standar Kompetensi Lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang
mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.
e. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2006
tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006
tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

D. Kompetensi Pedagogik Guru


Berdasarkan etimologi paedagogy, dari Yunani Kuno (paidagge;
dari pas: anak dan gi: memimpin; secara literal, "memimpin anak),
pedagogik adalah ilmu menuntun anak yang membicarakan masalah atau persoalanpersoalan dalam pendidikan dan kegiatan-kegiatan mendidik, antara lain seperti tujuan
pendidikan, alat pendidikan, cara melaksanakan pendidikan, anak didik, pendidik dan
sebagainya. Menurut Edi Suardi, pedagogik adalah teori mendidik yang mempersoalkan
apa dan bagaimana mendidik sebaik-baiknya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pedagogik
merupakan cara mendidik/mengajarkan sesuatu pada seseorang sehingga terjadi suatu
proses atau aktifitas yang bertujuan agar tingkah laku manusia mengalami perubahan.
Berdasarkan Undang-Undang No. 14 tahun 2005 Pasal 10 ayat 1 tentang Guru
dan Dosen dijelaskan bahwa kompetensi pedagogik merupakan kemampuan seorang
guru dalam mengelola proses pembelajaran yang berhubungan dengan peserta didik.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa kompetensi pedagogik meliputi pemahaman wawasan atau
landasan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum
atau silabus, perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan
dialogis, pemanfaatan teknologi pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan
peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
a. Pemahaman wawasan dan landasan kependidikan
Guru sebagai tenaga pendidik yang sekaligus memiliki peran penting dalam upaya
meningkatkan mutu pendidikan di negara ini, terlebih dahulu harus mengetahui dan
memahami wawasan dan landasan kependidikan sebagai pengetahuan dasar.
Pengetahuan awal tentang wawasan dan landasan kependidikan ini dapat diperoleh
ketika guru mengambil pendidikan keguruan di perguruan tinggi.
b. Pemahaman terhadap peserta didik
Peserta didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau
sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan. Tujuan guru mengenal
siswa-siswanya adalah agar guru dapat membantu pertumbuhan dan
perkembangannya secara efektif, menentukan materi yang akan diberikan,
menggunakan prosedur mengajar yang serasi, mengadakan diagnosis atas kesulitan
belajar yang dialami oleh siswa, dan kegiatan-kegiatan guru lainnya yang berkaitan
dengan individu siswa.
c. Pengembangan kurikulum/silabus
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan
bahan pembelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.28 Sedangkan silabus adalah

seperangkat rencana dan pengaturan untuk membantu mengembangkan seluruh


potensi yang meliputi kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan moral agama.29
Dalam proses belajar mengajar, kemampuan guru dalam mengembangkan
kurikulum/silabus sesuai dengan kebutuhan peserta didik sangat penting, agar
pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan menyenangkan.
d. Perancangan pembelajaran
Perancangan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus
dimiliki guru, yang akan tertuju pada pelaksanaan pembelajaran.
e. Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
Dalam peraturan pemerintah tentang guru dijelaskan bahwa guru harus memiliki
kompetensi untuk melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Hal ini
berarti bahwa pelaksanaan pembelajaran harus berangkat dari proses dialogis antar
sesama subjek pembelajaran sehingga melahirkan pemikiran kritis dan komunikatif.
Tanpa komunikasi tidak akan ada pendidikan sejati.
f. Pemanfaatan teknologi pembelajaran
Fasilitas pendidikan pada umumnya mencakup sumber belajar, sarana dan prasarana
penunjang lainnya, sehingga peningkatan fasilitas pendidikan harus ditekankan pada
peningkatan sumber-sumber belajar, baik kualitas maupun kuantitasnya yang sejalan
dengan perkembangan teknologi pendidikan dewasa ini. Perkembangan sumbersumber belajar ini memungkinkan peserta didik belajar tanpa batas, tidak hanya di
ruang kelas, tetapi bisa di laboratorium, perpustakaan, di rumah dan di tempattempat
lain. Teknologi pembelajaran merupakan sarana pendukung untuk membantu
memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran dan pembentukan kompetensi,
memudahkan penyajian data, informasi, materi pembelajaran, dan variasi budaya
g. Evaluasi hasil belajar (EHB)
Evaluasi hasil belajar meliputi penilaian kelas, tes kemampuan dasar, penilaian akhir
satuan pendidikan dan sertifikasi, benchmarking, dan penilaian program,
h. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang telah demikian pesat, guru tidak
lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi tetapi juga harus mampu bertindak
sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri informasi.
Dengan demikian keahlian guru harus terus dikembangkan dan tidak hanya terbatas
pada penguasaan prinsip mengajar
E. Sosiologi

Daftar Pustaka
Dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Direktorat Tenaga Kependidikan.
Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan. Departemen
Pendidikan Nasional 2008.
KTSP Berkarakter. www.mono-mpd.blogspot.com. Diunduh pada tanggal 3 April 2015.
Landasan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). www.blogwahyu.com. Diunduh
pada tanggal 3 April 2015.
Anonim. 2015. Pedagogik. http://id.wikipedia.org/wiki/Pedagogi. Diakses pada 3 April 2015
Menteri Hukum dan HAM. 2005. Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen. Jakarta:
Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia
Kompetensi Pedagogik. http://digilib.uinsby.ac.id/8795/3/bab2.pdf. Diunduh pada 3 April
2015