Anda di halaman 1dari 51

AWAL MULANYA PERGERAKAN ISLAM DI INDONESIA

1. Berdirinya SDI ( Syarikat Dagang Islam )


Syarikat Dagang Islam di dirikan di Solo, pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Kyai
Haji Samanhudi di bantu oleh M. Asmadimejo, M. Kertokirono dan M. Haji Rojak.
Motif utma didirikannya organisasi ini adalah berusaha menerapkan sistem ekonomi
islam di dunia Perdagangan Indonesia. Khususnya bagi pedagang batik di Solo.
Menjelang lahirnya SDI, terjadi diskriminasi tajam yang sengaja di lakukan piak
bangsawan kepad masyarakat biasa. Juga sangat menonjol sikap angkuh dan
superioritas dari kalangn pedagang pedagang yang banyak mendominasi
perdagangan pada saat itu. Maka SDI di maksudkan sebagai benteng utuk
menentang si Superioritas dan dominasi Pedagang-pedagang Cina sekaligus
mendobrak diskriminasi bangsawan yang bertindak sewenang-wenang terhadap
masyarakat awam. Sesungguhnya di dalam jiwa pendiri SDI ini terkandung maksud
yang lebih jauh lagi, yaitu ingin menegakkan Islam sebagai satu satunya sistem
yang berlaku di bumi Indonesia
Namun karena terbatasnya kemampuan beliau di tambah pula dengan kondisi
penjajahan yang sangat keras dan ganas dalam mengawasi dan menghambat
setiap bentuk gerakan bangsa Indonesia, maka Untuk sementara waktu Beliau
( Kyai Haji Samanhudi ) hanya berorientasi pada masalah ekonomi saja. Meswki
demikian SDI tetap di anggap sebagai ( Miqod = awal pemberangkatan / Starting
point ) bagi perjalanan sejarah ini. Menyadari akan keterbatasan kemampuan ini,
Kyai Haji Samanhudi selalu mencari dan menghubungi tokoh tokoh Islam lainnya
untuk di ajak bersama sama mengelola lembaga perjuangan ini. Sekitar bulan Mei
1912. SDI memperoleh seorang tokoh tangguh yang ikut mewarnai perjalanan
Sejarah ini, yaitu Haji Umar Said Cokroaminoto setelah ada persesuaian antara
keduanya dalam pandangan mengenai garis garis perjuangan Sunnah Rasulullah
SAW.
2. Masa Peralihan Pada SI ( Syarikat Islam )
Setelah HOS Cokroaminoto bergabung ke dalam SDI, beliau mencoba menyusun
sebuah anggaran dasar organisasi yang dapat di berlakukan di seluruh Indonesia
dengan tidak memperhatikan persyaratan dari residen Surakarta yang gigih
menghambat perkembangan organisasi tersebut. Beliau mengemukakan untuk
membentuk pan Islamisme, artinya membentuk dunia ( Khalifatullah fil ardi ) untuk
merealisasikan gagasan itu beliau membagi tahapan tahapan perjuangan sebagai
berikut :
Kemerdekaan Indonesia ( mengusir pihak penjajah dari bumi Indonesia )
Kemerdekaan Islam Indonesia, artinya Islam sebagai satu satunya sistem yang haq
bisa berlaku di Indonesia dengan sempurna dan di lindungi oleh kekuasaan ( Negara
Islam Indonesia ).

Kemerdekaan di seluruh Dunia, artinya membentuk Khalifah fil ardi / struktur


pemerintahannya memberlakukan hukum Islam sebagai penjabaran dari mulkiyahtullah / Kerajaan Allah di muka bumi.
Langkah lanjut dari gagasan tersebut maka pada tanggal 11 Nopember 1912 SDI di
ganti dengan nama Syarikat Islam (SI) yang orientasinya bukan sekedar masalah
masalah ekonomi saja, melainkan sudah mencakup kepada seluruh Manhijul hayal, (
meliputu segala aspek kehidupan untuk di warnai dengan corak Islam saja ).
Dalam kongres SI pertama di Surabaya tahun 1913 telah di putuskan untuk
membantu cabang cabangnya di seluruh tanah air yang di bagi tiga wilayah, yaitu
wilayah Jawa Barat ( meliputi Sumatera dan pukau sekitarnya), Jawa Tengah
( meliputi Kalimantan ) dan Jawa Timur ( meliputi Sulawesi, Bali, Lombok dan
Sumbawa).
Kemudian pada tahun tahun berikutnya bergabung pula beberapa tokoh Islam
lainya. Inilah tokoh tokoh yang banyak berperan aktif pada tahun tahun awal sejak
berdirinya SI
Kepribadian HOS Cokroaminoto menampilkan sikap tidak pernah kompromi
terhadap kolonia Belanda. Beliau lahir di Bakur, Madiun Jawa Timur, pada tanggal 16
Agustus 1882 dari keluarga yang taat kepada Islam. Beliau pernah belajar
administrasi Pemerintahan, serta mengikuti kursus kursus dalam soal teknik mesin.
Sikap HOS Cokroaminoto yang tegas terhadap orang orang Kafir ( dalam hal ini
pihak Belanda ), ini di buktikan ketika beliau di panggil oleh pemerintah Belanda
untuk menghadap, dengan tegap dan menampilkan sikap ksatria da hadpan orang
Bekanda, tidak seperti sikap orang orang pribumi pada umumnya yang apabila
menghadap Belanda harus duduk di lantai tidak boleh duduk di kursi serta dilarang
memakai alas kaki. HOS Cokroaminoto menyadari hal itu, yakni suatu penghinaan
terhadap bangsa Indonesia yang mayoritas Islam oleh pihak Belanda yang Nasrani.
Kira kira lima tahun pertama sejak HOS Cokroaminoto bertindak sebagai ketua, dia
banyak menyumbangkan pikiran demi kemajuan Syarikat Islam. Dalam anggaran
dasar yang beliau susun, banyak mewarnai kehidupan Syarikat Islam berikutnya,
sehingga dalam anggaran dasarnya pun Syarikat Islam secara keseluruhan
( Kaffah ) mencakup semua aspek kehidupan baik secara pe4mahaman Aqidah
Islam, Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya dan Pemerintahan menurut tuntunan Al
Quran dan Sunnah Rasul
Untuk merealisasikan gagasan membentuk dunia Islam ini. HOS Cokroaminoto
mempersiapkan Kader kader militan yang terdiri dari mahasiswa mahasiswa yang
berjiwa progresif. Diantaranya Soekarno yang di harapkan dapat menghimpun dan
mengelola kaum Intelektual serta Cendikiawan dalam satu wadah dan satu arah
dalam menentang penjajah. Semaun di arahkan untuk memyadarkan masyarakat
awam dan akan kepenyingan kemerdekaan sekaligus melibatkan perjuangan dalam
menentang penjajah. Sementara SM Kartosuwiryo di tugaskan untuk mempengaruhi

para Ulama dan para Kyai untuk di ajak bersama sama dalam menyegakkan Al
Islam menjadi satu satunya sistem hidupm di Indonesia. Meski akhirnya, keduanya
kader yang pertama yaitu Soekarno dan Semaun beberapa tahun kemudian
menyimpang dari garis garis Syarikat Islam. Lalu membentuk wadah baru yang
tidak berdasarkan Islam dan tidak berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah.
Selama di bawah kepemimpinan HOS Cokroaminoto, SI di seluruh daerah mencapai
435 cabang di dukung oleh jutaan anggota. Sampai akhirnya kegemilangan SI mulai
menurun pada periode-periode berikutnya dengan terdapatnya perselisihanperselisihan pendapat dalam intern pimpinan yang berakibat munculnya berbagai
partai dan organisasi lain yang tidak sejalan dengan syarekat islam.
3. Awal Perpecahan Dalam SI
Malapetaka ini bermula dengan hadirnya dua orang belanda yang bernama
Henricus Yosephus Fransiciscus Marie Sneevliet dan Adolf Baars yang datang ke
indonesia pad tahun 1913. Pada mulanya ia bekerja sebagai pimpinan redaksi
Hardels Blad Surabaya selama dua bulan. Kemudian menjadi sekretaris K.D.S.
(Kamar Dagang Semarang) pada tahun yang sama. Keduanya kader-kader komunis
yang telah dididik di negri Rusia. Kemudian mereka mendirikan ISDV (Indische
Sociaal Democraticehc Vereneging) pada tahun 1914 di semarang, yang merupakan
partai sosialis kemudian berkembang menjadi partai komunis terutama setelah
berhasilnya revolusi Rusia pada tahun 1917.
Menurut analisis tokoh tokoh SI, munculnya ISDV yang di kembangkan pleh dua
orang Belanda tersebut adalah meruoakan usaha pemerintah Belanda untuk
mengoncangkan kesetabilan SI, sekaligus pemecah belah dari akar tubuh SI karena
pemerintah memang khawatir dengan semakin kuatnya posisi SI ini. Usaha
Sneevliet berhasil setelah mampu mempengaruhi pimpinan SI di Semarang yang
waktu itu di pegang oleh Smaun Himidan Darsono dengan masuknya ke tubuh ISDV.
Kegiatan mereka senantiasa menciptakan kerusuhan dan pergolongaqn dalam
tubuh SI, terutama menyesatkan fitnah fitnah keji terhadap pimpinan SI, kemudian
setelah merasa posisi mereka kuat, mereka mendirikan Partai Komunis India
( Hindia ) oada tanggal 23 Mei 1920 yang merupakan transformasi dari ISDV,
tindakan mereka seperti itu tercium oleh pimpinan SI dalam suatu kongres partai
pada tahun 1921, mereka di keluarkan dari keanggotaan SI, ini akibat di
canangkannya disiplin partai dimana dinyatakan bahwa anggota SI tidak di
perkenankan menjadi anggota kelompok / partai lain.
Sekeluarnya mereka dari SI, mereka semakin giat melakukan propaganda dalam
usaha memasyarakatkan fahamnya, bahkan tidak sekedar propaganda, mereka
juga memfokuskan Move move yang bersifat Phsyie ( kejiwaan ). Puncak peris
tiwa adalah ketika mereka memproklamasikan berdirinya PKI, kemudian
mengadakan pemberontakandi daerah Jawa Tengah dan Sumatera Barat pad atahun
1926. Kelompok ini lebih di kenal dengan SI merah ( Sosialis Indonesia ).

Pada tahun berikutnya tegasnya pada tahun 1927, Soekarno yang di harapkan jadi
kader SI militan menyimpang / bertentangan faham dengan HOS Cokroaminoto
mengenai dasar dan tujuan perjuangan. Soekarno berpendapat hanya faham
kebangsawananlah bukan Islam yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia
dalam mempersatukan langkah menghadapi kolonial Belanda, kemudian ia
mendirikan Partai Nasional Indonesia ( PNI ) yang berdasarkan nasional sekuler.
4. Lahirnya Sikap Hijrah SI
Hijrah suatu sikap politik SI yang di lancarkan untuk pertama kalinya dalam tahun
1923. Sebagai akibat ketidakpercayaan partai terhadap pemerintah kolonial dan
keyakinan pimpinan partaibahwa kerjasama dengan pihak pemerintah kolonial
(kafir) hanya akan menimbulkan kerugian dunia akhirat dan mengakibatkan
tergelincirnya partai lebih jauh lagi dari tujuan yang sebenarnya.
Hijrah adalah strategi Illahi yang telah di tetapkan menjadi salah satunya pola
perjuangan para Rasul Nya dalam mengemban risalah menegakkan Dienul Haq atas
dien dien lainnya . Termasuk Nabi Muhammad SAW pola perjuangannya
adalah Hijrah, tegasnya Iman-Hijrah-Jihad.
Pimpinan SI menyadari benar , bahwa berjuang mentegakkan Islam adalah Ibadah.
Oleh karenanya dalam pelaksanaannyaharus mengikuti yang telah di contohkan
oleh Rasulullah SAW, apapun resikonya harus di hadapi, tidak boleh membut cara
sendiri, malah kiranya motivasi yang melatarbelakangi di tetapkannya sikap
hijrahsebagai garis politik yang resmi dari SI. Ditambah dengan kondisi yang
mendorong untuk mengambil sikap tegas semacam ini, dimana pada pada saat itu
semakin jelas, bahwa pemerintah Belanda dan Volkstraadnya ( Dewan Rakyat )
bukan memberi kemenangan terhadap perjuangan SI, justru sebaliknya mereka
berusaha menyikat dan meringkus dengan halus tokoh-tokoh SI agar tunduk dan
patuh terhadap segala kehendak mereka (Pemerintah Kolonial), tanpa membantah
apalagi mengahalanginya. Juga dengan menyimpangnya Semaun Cs dan Soekarno
dari garis Islam dengan membentuk Partai Komunis Indonesia dan PNI yang
bedanya sangat menentang Islam yang telah menjadi dasar perjuangan SI, inipun
merupakan faktor yang ikut mendorong untuk mengambil sikap hijrah dengan tegas
lagi. Terutama terlihat dari langkah-langkah partai yang semakin menampakkan
permusuhan terhadap pemerintah Belanda pada tahun 1930, yang telah berubah
namanya menjadi PSII (Partai Syarekat Islam Indonesia).
Tahun 1933 mencatat suatu penyesuaian struktur partai, juga dasar perjuangan
partai yang dihasilkan pada tahun itu dianggap sesuatu yang telah sempurna para
pemimpinnya terutama dengan figure HOS Cokroaminoto dibantu SM. Kartosuwiryo
sebagai sekretaris pribadinya, berusaha mewarnai lembaga PSII ini dengan warna
Islam saja, tanpa ada warna-warni lainnya ini bisa dilihat dari dasra strategi partai
yang Islami.
5. Menyimpangnya Beberapa Tokoh SI dari Garis Hijrah

Setelah Si menetapkan dan mempertegas politik hijrahnya yang berarti tidak ada
kerjasama dan tidak ada garis taat kepada pemerintah Belanda, maka pihak
pemerintah segera menyambutnya dengan tindakan-tindakan keras dan tegas,
mereka keluarkan peraturan-peraturan yang sangat ketat, sehingga mempersempit
ruang gerak SI.
Memang demikianlah resikonya dari sikap hijrah sebagaiman yang telah dialami
oleh Nabi Muhammad s.a.w. beliau dengan sikap hijrahnya telah mendapat
perlakuan kasar dan kejam yang penuh dengan sikap permusuhan dari pihak
pemerintah Quraisy. Beliau dengan para sahabatnya dicari-cari, dicekam,
diintimidasi, diblokade, diusir bahkan direncanakan untuk dibunuh. Tapi Allah telah
merencanakannya atau memnyelamatkannya dan memenangkannya atas orangorang kafir itu karena memang hijrah adalah stategui Allah untuk meyelamatkan
dan memenangkan Rasulullah beserta umatnya dalam berjuang mennegakkan AlHaq.
Melihat tindakan Pemerintah Belanda yang makin keras terhadap SI akibat dari
sikap poloitik hijrahnya ini, maka beberapa tokoh SI duiantaranya Sukiman dan Wali
Al-Fatah serta beberapa orang pemimpin Muhamaddiyah termasuk ketua umumnya
KH. Mas Mansyur bersama-sama mengusulkan kepada pemimpin SI agar merubah
langkah politik hijrahnya, karena menurut pendapat mereka bahwa politik semacam
itu merupakan sesuatu langkah taktik saja dan bukan sesuatu prinsip yang tidak
bisa dirubah.
Mereka melihat politik hijrah seperti yang dilaksanakan oleh SI tidak bersifat ketat
dan baku sehingga menjadi penghambat perjuangan partai sendiri, karena tidak
memungkinkan penyesuaian dengan situasi. Disamping itu, orang-orang ini
mengusulkan kepada SI agar partai ini membatasi diri pada bidang poloitik saja dan
mempercayakan aspek-aspek sosial dan pendidikan pada organisasi lain dalam
rangka pergerakan kebangsaan yang memang didirikan untuk mengahadapi bidang
itu. Mereka juga meminta agar tindakan disiplin terhadap Muhammadiyah yang
telah dilakukan oleh SI pada tahun 1927 itu dicabut kembali (dibatalkan)
a. Keluarnya Sukiman Cs
Dalam mengahadapi usulan-usulan itu, HOS Cokroaminoto sebagai pimpinan
puncak dan penanggung-jawab PSII telah bertindak cukup tegas, beliau menolak
seluruh usulan-usulan tersebut dengan alasan:pertama, tentang hijrah: bahwa
hijrah bukan sekedar taktik, akan tetapi merupakan prinsip yang tidak bisa dirubahrubah. Bahkan merupakan faktor yang sangat menentukan syah tidaknya amal
ibadah dan amal jihad umat Islam dihadapan Allah Rabbul Izati. Bergeser dari hijrah
berarti bergeser pula pada kemurnian Islam.
Menuju kepada percampuran haq dan bathil, sebab hijrah adalah salah satu usaha
untuk memurnikan ibadah tau pengabdian kepada Allah (realisasi dari tauhidul
ibadah) yang lawanya adalah musyrik. Kedua, tentang pembatasan ruang lingkup SI

: bahwa SI adalah gerakan Islam yang bersifat universal mempunyai tujuan


menegakkan Khaifatullah fil ardhi, artinya pemerintahan Allah di muka bumi. Tentu
saja hal ini tidak bisa dilakukan dalam satu bidang/parsial saja tetapi harus
mencakup seluruh aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial, pendidikan, juga
termasuk aqidah dan ubudiyyahnya.
Terakhir tentang tindakan displin Muhammadiyah bahwa tindakan tersebut sesuai
dengan peraturan yang berlaku dalam SI setelah sebelumnya pihak pimpinan
memberi beberapa kali peringatan terhadap Muhammadiyyah untuk tidak bertindak
sendiri dan harus merasa terikat dengan peraturan-pertauran SI. Namun, hal ini
selalu diabaikan oleh Muhammadiyah, karena itu tidak ada jalan lain untuk
menjunjung tinggi peraturan-peraturan SI yang berlandaskan Islam (Sukiman dan
Wali Al-Fatah cs) tidak mau menerima alsan-alasan tersebut dan mereka bersikeras
berusaha agar usulannya itu diterima oleh partai bahkan mereka mengancam akan
mendirikan lagi. Pada skorsing Sukiman cs dikeluarkan dari PSII tindakan ini
banyak mendapat kecaman dari beberapa golongan, terutama dari pers Indonesia
dan pihak-pihak yang tidak setuju terhadap politik hijrah.
Mereka menghimbau agar HOS Cokroaminoto menarik kembali tindakan terhadap
Sukiman cs tersebut. Namun HOS Cokroaminoto tetap tidak goyah dengan sikapnya
ini. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1933, yang kemudian orang-orang ini dengan
kekecewaannya berusaha membentuk suatu penelis yang kemungkinan persatuan
islam indonesia yang mempunyai dasar campuran : Islam Nasional dan budaya.
Pnelis ini menarik kerjasama dengan PSII merdeka di Yogyakarta (termasuk yang
tidak setuju dengan politik hijrah) untuk bersama-sama membentuk partai islam
indonesia (PARTI). Tetapi usaha ini segera mundur pada tahun berikutnya. walaupun
mendapat sambutan dari berbagai tempat di Jawa, dapat disimpulkan bahwa
kegiatan seperti ini merupakan suatu permulaan daripada yang dalam 4 Desember
1938 menjadi Partai Islam Indonesia (PII) yang diketuai oleh Raden Widodo dan
Sukiman.
b. Keluarnya Agus Salim
Selain Mr. Sukiman cs sesungguhnya masih ada kelompok yang tidak setuju dengan
kelompok hijrah, yang menurut pendapat mereka, poltik semacam ini yang hanya
akan menimbulkan kesulitan dan keruwwetan belaka. Atau menurut istilah mereka
dikatakan bak membenturkan kepala ke tembok saja. Kelompok ini dimotori oleh
H. Agus Salim. Namun pada saat itu ketika pimpinan partai masih HOS
Cokroaminoto, kelompok ini belum berani secara terang-terangan mengatakan
ketidaksetujuan terhadap kelompok/politik hijrah. Bagaimanapun mereka masih
segan dengan karishma pribadi dan kepimpinan HOS Cokroaminoto. Baru setelah
Cokroaminoto wafat pada tahun 1934, dan kepemimpinan partai jatu ditangan
saudarnya, yaitu Abi Kusno Cokro Suryo dan wakilnya SM. Kartosuwiryo, maka
kelompok lain mulai berani angkat suara untuk menentang politik. hijrah. Hal ini
dapat dilihat pada bulan Maret 1935, H. Agus Salim yang saat itu sebagai ketua

dewan partai meminta dengan sangat kepada lanjnah tanfiziyah untuk meninjau
kembali kebijaksanaan politik hijrah. Sehubungan dengan keluarnya peraturanperaturan yang lebih ketat dari pemerintahan kolonial Belanda, pada tahun tersebut
dalam menghadapi partai-partai politik yang bersifat nonkooperatif.
Lebih lanjut lagi, pada April tahun yang sama H. Agus Salim berusaha untuk
merubah sepenuhnya kebijaksanaan dan melaksanakna referendum dari cabangcabang partai diadakan menghadapi saran-sarannya itu. Bahkan Kusno curiga
bahwa Salim berambisi pribadi untuk duduk dalam Volstraat dan memang
pemerintah kolonial Belanda pernah menawarkan itu padanya. Lebih lagi, kongres
partai yang diadakan pada tahun 1936 menolak pendirian Agus Salim ini dan tetap
menjadikan hijrah sebagai politik resmi dari PSII. Melihat kenyataan ini, Agus Salim
tidak tahan lagi, dimana posisi dirinya semakin tersisihkan. Maka dia bertindak lebih
jauh lagi dengan membentuk satuan fraksi dalam lingkungan partai yang disebut
dengan Barisan Penyadar Partai Syarekat Islam Indonesia (BPPSII) pada tanggal
18 November 1936 dengan maksud agar pemikiran-pemikirannya dapat diterima
oleh partai. Gerakan ini diketuai oleh Mr. Moh. Room yang direncanakan akan
bergerak dalam lingkungan SI sendiri. Tetapi ternyata penyebab gerakan ini yang
sampai kecabang-cabang partai, dianggap oleh Abi Kusno suatu hal yang sempat
mematahkan stabiliotas partai.
Oleh sebab itu, dia menginstruksikan pada semua anggota SI untuk mengakhiri
perdebatan masalah hijrah, sebab hijrah sudah menjadi politik resmi partai yang
telah didukung dengan kiyas-kiyas syari yang sudah tidak bisa dirubah-rubah lagi.
Kepada seluruh barisan agar menyatu untuk meneruskan kegiatannya dan kembali
mentaati seluruh kebijaksanaan yang telah digariskan oleh partai dan terus
berusaha menyadarkan orang-orang yang dianggap tidak memahami situasi dan
kondisi.
Menghadapi kelompok Agus Salim ini, maka Abi Kusno mengadakan rapat gabungan
antara dewan partai dan lajnah fan fidziyah yang memang kedua lembaga ini
mempunyai wewenang penuh untuk mengambil suatu keputusan dalam
menghadapi problema yang terjadi, kemudian rapat ini memutuskan tindakan
(skorsing). Pemecahan masalah terhadap pimpinan-pimpinan badan penyadar
diantaranya Mr. Moh. Room dan Sobari pada bulan januari 1937. Bulan berikutnya
dipecat pula H. Agus Salim, AM. Sangaji dan 24 tokoh penyadar lainnya. Abi Kusno
dan kawan-kawannya merasa perlu untuk membenarkan tindakan tersebut dalam
mempertahankan politik hijrah, terutama seluruh anggota partai. Demikianlah
sekitar bulan April dan mei 1937. Diadakan rapat-rapat dari cabang partai untuk
mengencangkan kebenaran politik hijrah dan kebenaran tindakan Pemimpin politik
menskorsing orang-orang penyadar yang dengan keras menentang hijrah.
Tidak cukup dengan rapat-rapat saja, penjelasan dengan politik hijrah ini disusul
pula dengan penerbitan sebuah brosur yang berjudul Sikap Hijrah Partai SII terdiri
dari 2 jilid disusun oleh SM. Kartosuwiryo yang saat itu menjabat sebagai wakil

ketua lajnah fanfidziyah PSII. Jilid pertama dalam brosur tersebut kartosuwiryo
berhasil menguraikan secara panjang lebar tentang pengertian Ad Dien (agama)
yang menyangkut sebuah aspek kehidupan tentang status dan tugas manusia
dalam kehidupan didunia ini, juga tentang sikap serta perjalanan hijrah Nabi
Muhammad SAW yang menjadikan satu satunya pedoman serta pola perjuangan
oleh seluruh umatnya. Sesudah pembahasan arti hijrah, SM Kartosuwryo
melanjutkan dengan mangatakan hampir pada setiap tempat dimana kata hijrah
digunakan dalam Al Quran, kata ini di asosiasikan dengan jihad. Maka sehubungan
dengan itu ia menulis, tiada tindakan hijrah di anggap abash bila dalam cita cita
jihad tidak dilaksanakan.
Demikianlah SM Kartosuwiryo dengan brosurnya tersebut telah mencoba
mengutarakan pengertian hijrah dan jihad secara panjang lebar dan menekankan
untuk segera di realisaikan dalam kenyataan
BAB II. REALISASI SIKAP HIJRAH UMMAT ISLAM BANGSA INDONESIA.
1. Mengenal Pribadi SM. Kartosuwiryo
Dia seorang tokoh SI yang cukup gigih dan konsekwen dalam mempertahankan
politik hijrah, meskipun harus menghadapi tantangan dan kecaman dari berbaga
pihak sampai sampai dia harus dipecat dari berbagai jabatan dan keanggotaan
PSII oleh ketua umumnya sendiri yaitu Abi Kusno Cokro Suryoso. Karena
Kartosuwiryo menolak untuk berpindah haluan dari hijrah ke parlementer.
SM. Kartosuwiryo sebuah nama gabungan dari namanya sendiri, ayah dan
kakeknya. Nama aslinya adalah Sekarmadji, ayahnya Maridjan dan kakeknya Karto
Suwiryo. Ayahnya seorang pegawai kraton dari kesultanan Solo. Seorang yang
paham sejarah, pekerjaannya sebagai petugas pemeliharaan barang-barang sejarah
termasuk buku-buku sejarah yang ditulis oleh orang-orang zaman dahulu. Dan
memang masih ada hubungan darah kesultanan, baik dengan kesultanan Solo
maupun Demak. Tidak benar, kalau ayah Sekarmadji dikatakan sebagai pedagang
candu, itu hanya fitnah belaka yang sengaja dilontarkan oleh orang-orang non
muslim untuk menjatuhkan martabat putranya yang kemudian dipercaya
mengemban tugas ilahi. menegakan pemerintahan Allah di bumi Indonesia inil.
Sebaliknya, Maridjan adalah seorang muslim yang sholeh. Seorang ayah yang
berhasil membentuk jiwa dan pribadi putranya menjadi muslim yang sejati dan
konsekwen. Dan tetap islam dijadikannya sebagai satu-satunya pedoman hidup dan
satu-satunya sistem hidup yang mewarnai seluruh aspek kehidupannya.
Jenjang Pendidikan Umum
Sekarmadji dilahirkan di Cepu, sebuah daerah kecil antara Blora dan Bojonegoro,
pada tanggal 7 Februari 1905, status ayahnya yang termasuk bangsawan (ningrat)
dikalangan kraton Solo, menyebabkan Sekarmadji dapat menikmati jenjang
pendidikan di cukuo sukse, di dukung pula oleh kemampuan otaknya yang

cemerlang. Pada usia 6 tahun, dia masukk Inlandsche School der tweede klasce/
sekolah bumi putra kelas dua selama empat tahun. Kemudian melanjutkan ke
sekolah dasar kelas 1. Mulai dari inlandsche School (I-IIS), yaitu sekolah putra
bahasa Belanda. Kemudian pada tahun 1919 setelah orang tuanya pindah ke
Bojonegoro, dia masuk ke EuropeecheLegere School (ELS) sekolah dasar Eropa, bagi
seorang putra pribumi, keduanya merupakan sekolah elite.
Sekolah Bumi Putra bahasa Belanda (HIS) dimasukan untuk anak-anak anggota
kelas atas kemasyarakatan pribumi. syarat-syarat untuk masuk ke ELS adalah yang
paling ketat dari semuanya. Sesuai dengan namanya sekolah ini direncanakan
sebagai lembaga pendidikan hanya untuk orang Eropa dan masyarakat Indo Eropa.
Walaupun dalam jumlah yang terbatas, Pribumi juga diperkenankan masuk. Bagian
yang akhir ini terutama adalah anak-anak yang dapat terjamin berdasarkan latar
belakang sosialnya, diharapkan melanjutkan pelajarannya pada lembaga-lembaga
Eropa untuk tingkat pendidikan menengah dan tinggi dan kedua bagi anak-anak
yang berbakat khusus yang mampu melanjutkan pelajaran merekan pada salah
satu lembaga yang mendidik bumi putra, ahli hukum/pegawai negeri. Diterimanya
SM. Kartosuwiryo di sekolah elite tersebut karena termasuk kategori-kategori kedua,
yaitu beliau mempunyai bakat (keistimewaan) khusus, setelah menyelesaikan ELS
dia berangkat ke Surabaya untuk melanjutkan studi ke Nenderlandsch Indische
Artsen School (NIAS) atau Sekolah Dokter Hindia Belanda. Memulai pelajaran di
NIAS ini pada tahun 1923 dalam usianya yang ke delapan belas (18).
Sesungguhnya di sekolah kedokteran itu harus ditempuh paling sedikit selama 6
tahun. Kemudian menjadi seorang pribumi, tetapi beliau gagal ditengah jalan,
karena pada tahun 1927 beliau harus keluar dari sekolahnya, akibat kegiatan politik
anti penjajahannya terlalu terbuka yaitu pada saat beliau aktif memimpin Jong
Islamaiten Bond sebuah organisasi pemuda islam. Ternyata ruhul islam dan ruhul
jihad yang telah ditanamkan oleh ayahandanya semenjak kecil, tidak luntur oleh
pelajaran berbau sekuler yang telah diterimanya selama ini. Bahkan semakin
menjiplak ruhul jihad dalam jiwanya/dadanya tidak dapat dibendung lagi.melihat
penderitaan umat yang semakin hari semakin parah, akibat sistem penjajahan yang
kejam dan sadis, yang selaui mewarnai kehidupan umat ini.
Jiwanya terpanggil untuk mencoba berbuat dan berusaha membebaskan umat dari
belenggu penjajahan ini, agar dapat bebas melaksanakan kehidupan islam dengan
sempurna. meskipun akhirnya dengan tindakannya ini beliau harus mengorbankan
kariernya sebagai calon dokter pada sekolah kedokteran yang menjadi idola
masyarakat pada saat itu. Terlebih-lebih setelah beliau bertemu dengan Haji Oemar
Said Cokro aminoto di Surabaya. Seorang tokoh PSII yang paling menonjol dan
memiliki karisma kepemimpinan yang tinggi, SM. Kartosuwiryo banyak belajar
menyerap ilmu dan akhlaq dari tokoh ini. Terutama dalam bidang tauhid dan politik
islamsetelah dikeluarkan dari NIAS tahun 1927. Beliau berkeinginan hati untuk
tinggal bersama HOS Cokroaminoto dirumahnya. Sekaligus menjadikannya guru
dan pemimpin yang dapat membimbing dirinya dalam melaksanakan

pengabdiannya kepada Allah dan dalam perjuangan menegakkan Dienullah/hukum


islam.
Mulai saat itu beliau diangkat sebagai sekretaris oleh pak Cokroaminoto dan fungsi
ini berlanjut sampai tahun 1929. Sebagi pembantu dan sekretaris pribadi, beliau
banyak memberikan ide-ide yang islami terhadap pak Cokro dalam mempertegas
garis islamnya. Terutama dalam mempertahankan dan merealisasikan politik hijrah
PSII yang telah diputuskan oleh kongres. Hal inilah yang mnyebabkan pak Cokro
semakin percaya terhadap diri SM. Kartosuwiryo bahwa ia benar-benar kader
muslim mujahid yang militan, yang bisa dipercaya untuk melanjutkan perjuangan
islam ini. Maka pada kongres PSII tahun 1933 beliau diangkat menjadi sekretaris
jendral PSII sampai akhir hayat HOS Cokroaminoto yang wafat pada tahun1934,
pada periode ini periode bersatunya SM Kartosuwiryo dengan pak Cokro, akan
semakin jelas terlihat arah perjuangan PSII yang semakin berusaha memurnikan
azas dan warna islamnya dari campuran-campuran yang lainnya semacam
nasionalis sekuler, sosialisme, dan komunisme. Akibatnya cokroaminoto dan PSIInya ditinggalkan dan diisolir oleh tokoh-tokoh sosialis komunis yang dulu pernah
bersama-sama dalam Syarekat Islam. Apabila telah ditetapkannya politik hijrah
sebagai politik resmi dari PSII bila dilihat dari lahirnya, memang PSII semakin kecil
dan semakin lemah akibat sikap hijrah ini, tapi dihadapan Allah bukanlah demikian.
Sebaliknya PSII semakin bernilai oleh Allah Rabbul Izzati bukanlah besarnya quality,
kuantitas, melainkan tingginya kualitas dan keberhasilan iman.
Pendidikan Islamnya
Tentang pengetahuan islamnya SM. Kartosuwiryo berbeda dengan tokoh-tokoh
islam lainnya yang mendapatkan pengetahuan tentang islam melalui pedidikan
pesantren/madrasah-madrasah. Maka beliau mendapatkannya dangan cara
autodidak (belajar sendiri) dan sering berkonsultasi pribadi dengan ulama-ulama
yang konsekwen dan sholeh. Bermodalkan semangat islam yang mengalir dalam
dirinya yang ditanamkan orang tuanya semenjak kecil, beliau terus mempelajari
dan mendalami Al Islam, melalui buku-buku yang ada pada saat itu. Kesibukan
kuliahnya dalam bidang Ilmu Fisika yang cukup berat itu, tidak menghalangi dari
usaha menggali islam. Setelah dikeluarkannya dari NIAS, keempatan mempelajari Al
Islam semakin luas apalagi setelah tinggal dengan pak cokroaminoto, mulai tahun
1927-1929. Beliau juga banyak mewarisi sifat-sifat kepemimpinan Cokro aminoto,
terutam dalam ketegasannya memegang prinsip kebenaran (Al Haq).
Pada tahun 1929 karena alasan kesehatan disanping tugas dari pimpinannya,
terpaksa beliau harus berpisah dengan cokroaminoto untuk pindah ke jawa barat.
Kemudian bermukim di magelang, sebuah kota kecil dekat garut dan tasikmalaya.
Disana beliau berguru pada ulama setempat antara lain Kyai Yusuf Tadjri dan Kyai
Ardi Wisastro yang disebut belakangan ini disamping sebagai guru juga merangkap
sebagai mertuanya, sebab menikah dengan putrinya yang bernama Dwi Ummi
Kalsum pada tahun 1929.

Kyai Ardi Wisastra adalah seorang ulama yang termashur di daerah malangbong,
disamping sebagai tokoh PSII terkemuka di daerah itu beliau juga seorang
sufhi,yang selalu nerusaha membersihkan diri dari kotoran-kotoran dosa, dan
meningkatkan martabat diri di hadapan Allah dengan melaksanakan amalan
nawafil, disamping ibadah fardhu yang terbatas itu. Bidang inilah yang sangat
menarik SM. Kartosuwiryo, untuk mempelajari lebih dalam, sebab menurut
pendapatnya untuk menjadi mujahid (pejuang islam) yang baik, mesti dibutuhkan
kebersihan jiwa dari penyakit-penyakit riya,ujub, iri hati, syirik dan semacamnya.
Bagaimana seseorang akan memperjuangkan berlakunya islam untuk orang lain,
sedangkan dirinya sendiri belum islam secara konsekwen lahir dan bathin, apalagi
untuk menjadi seorang pemimpin islam harus mesti mempunyai sifat-sifat
Warosatul Ambiya menjadi kekasih Allah (Waliyullah).
Dengan bimbingan mertua sekaligus gurunya, beliau melakasanakan praktekpraktek sufhi, mengkonsentrasikan jiwa hanya untuk berdzikir kepada Allah saja.
Sementara hubungan dengan yang bersifat duniawi diputuskannya. Dengan
maksud mencontoh perilaku Nabi Muhammad Rosullullah s.a.w. Menjelang
menerima wahyu pertama, beliau selalu mengadakan kholwat ( mengasingkan diri
dari kehidupan duniawi), tabattul (membulatkan perhatian dan jiwa hanya untuk
Dzikrullah semata), dan taqorub (mendekatkan diri kepada Allah dengan
memperbanyak ibadah nawfil), sehingga aku mencintainya, Aku akan menjadi
pendengarannya (membimbing pendengarannya dengan hidayah dan taufiknya),
yang mana dia mendengar dengan-Nya dan aku menjadi tangannya, yang dia
memluk dengan-Nya, dan aku menjadi kakinya yang dia berjalan dengan-Nya.
Apabila dia meminta sesuatu kepada-Ku, pasti aku akan memberinya, dan apabila
dia meminta pwerlindungan pada-Ku, pasti aku akan melindunginya (Diriwayatkan
Bukhori).
SM. Krtosuwiryo telah berusaha mengamalkan konsep ini dengan membangun Goa
buatan, yaitu dengan menggali tanah untuk lubang. Disanalah beliau berkhalawat
dan bertafakkur, mengasingkan diri dari kesibukan-kesibukan duniawi,
menjernihkan jiwa dari rizail-rizail (kotoran-kotoran dosa masiat). Selama beberapa
hari beliau bertaqarub dengan melaksanakan ibadah-ibadah fardhu dan nawafil.
Allah SWT menepati janji-Nya dengan mencintai hamba-Nya yang ini, yang telah
bernujahadah sekuat kemampuan, berjalan di atas fardhu dan nawafil, menuju
ridho-Nya. Akhirnya Allah menurukan cahaya hidayahnya dan taufiq-Nya, yang
membimbing dan menuntun pendengarannya, penglihatannya, kakinya, banyak di
ijabah doanya dan beliau sering mendapat perlindungan Allah pada saat kritis, dari
ancaman musuh-musuhnya, musuh Allah dan musuh islam.
Ubudiyahnya
Menurut Keterangan teman dekatnya yaitu ustadz H. Masduki, seorang ulama yang
sejak muda telah lafadz Al - Quran seluruhnya dan terpelihara sampai sekarang ini,

bukan hany sekedar hafal, tapi juga faham terhadap mana yang tersirat
didalamnya, serta mampu menyebarkannya. Karena kemampuannya inilah, maka
dia di angkat oleh S.M Kartosuwiryo sebagai penasehat pribadinya, sehingga dia
banyak tahu tentang pribadi S.M Kartosuwiryo. Sebagai ustadzini menerangkan
pak Karto adalah seorang ahbid (ahli ibadah ) yang khusu dan istiqomah. Sholatsholat fardhu selalu dilakukannya diawal waktu dan selalu dilengkapi dengan sholat
rowatib, kalu malam sangat sedikit sekali waktu yang digunakan untuk quamul lail
(sholat malam) serta menyusun konsep-konsep dan program-program perjuangan
islam, terlebih lagi setelah beliau menjabat sebagai imam Negara Islam Indonesia.
Panglima Tinggi Tentara Islam, pendeekatan kepada Allah lebih di perketat lagi.
Beliau selalu rajin membangunkan keluarganyapada dua pertiga malam untuk
quamil lail. Pada suatu saat pernah beliau bercerita kepada saya tentang suatu
keanehan yang terjadi pada dirinya, yaitu pada saat malam ,menjelang hari ke
empat puluh beliau berkhalwat dan tabattul, tiba-tiba datang cahaya yang terang
benderang menerangi alam sekitar beliau, yang saat itu sedang malam keadaan
gelap gulita. Dengan cahaya itu beliau dapat melihat darah yang ada dalam
pembuluh nadinya, dan sum-sum yang ada dalam tulangnya, beliau merasa ajaib
dengan peristiwa itu terlebih-lebih tatkala beliau membuka buku-buku berbahasa
arab gundul, beliau menjadi mampu untuk membaca dan memahamiya. Padahal
sebelumnya beliau belum pernah belajar ilmu-ilmu alat seperti, nahwu, shorof,
balaghoh, usul fiqih, mantiq, dan lain sabagainya secara mendalam. Namun sejak
saat itu hingga akhir hayatnya, beliau mempunyai kemampuan mempergunakan
ilmu-ilmu tersebut, untuk membaca dan mendalami ayat-ayat Al-Quran dan
tafsirnya serta kitab-kitab hadist, ilmu semacam ini disebut ilmu laduni, artinya ilmu
yang langsung dikaruniakan oleh Allah kepada seseorang hamba yang dicintai-Nya,
tanpa melalui proses belajar sebagaimana biasanya. Ini sesuai dengan apa yang
telah diketahui. Maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang belum ia
ketahui Al-Hadist.
Demikianlah keterangan ustadz H. Masduki, dalam suatu wawancara dengan
penulis tentang usaha-usaha SM. Kartosuwiryo dalam mempelajari dan memahami
Al-Islam yang bersumber kepada Al-Quran dan Al Hadits.
Akhlaqnya
SM. Kartosuwiryo adalah seorang yang Zuhud (sederhana dalam kehidupan dunia).
Tidak senang kepada kemewahan dan berlebih-lebihan. Sebagai seorang tamatan
ELS dan jebolan sekolah dokter, sesungguhnya sekarmadji dapat hidup cukup baik
dalam kehidupan sosial ekonominya, kalau saja ini jalannya, beliau mau menjadi
seorang pegawai pemerintahan atau bekerja di suatu kantor perusahaan, tetapi
rupa-rupanya beliau lebih suka hidup sederhana denganbertyani alakadarnya. Dan
mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk perjuangan Islam. Orientasi
hidupnya bukan lagi duniawi tetapi ukhrawi. Kehidupan duniawinya hany dijadikan
sebagai maradatil akhirat, artinya ladang tempat beramal dan mempersiapkan

bekal untuk menuju kebahagian di Akhirat, kata seorang ajengan teman dekatnya
pernah satu rumah dengannya yang tidak mau disebutkan namanya. Zuhudnya
(kesederhnaannya) itulah salah satu ciri kepribadian sekarmadji, Hampir setiap
pagi kalau turun ke sawah, saya melihat sekarmadji memakai celana sulam model
kuno, teatpi dia tidak lama di sawah, apabila dia silaturahim ke rumah kerabatnya /
ke rumah anggota pengurus PSII setempat untuk membicarakan langkah-langkah
perjuangan , dia selalu kelihatan memakai baju yang itu-itu juga, sepasang jas tutup
dan celana dari kain yang murah, ia selalau berjalan dengan menundukkan kepala
penuh rasa takwadhu dan selalu bersukap hormat kepada setiap orang yang di
temuinya. Sehingga tidak seorang pun mengira, kecuali yang sudah mengenal
bahwa dia seorang (ningrat) dan terpelajar.
Demikian ajengan itu melanjutkannya keterangannya tentenag pribadi S.M
Kartosuwiryo Sekarmadji seorang penyantun, suka meringankan kesulitan orang
lain, terutama kepada fakir - miskin dan yatim piatu, beliau sangat dekat sekali.
Inilah yang memikat hati masyarakat sekitarnya sehingga mereka benar-benar
percaya terhadap kepada kepemimpinannya. Demikianlah ajengan tersebut
mengakhiri keterangannya.
Ustadz H. M. Masduki menambahkan keterangan tentang akhlaq SM. Kartosuwiryo
Beliau adalah seorang yang tawadhu dan rendah hati, toleransinya sesama
ikhwan sangat tinggi, seorang pemaaf yang sabar dan mampu melaksanakan itsani
alan nafsi (lebih mementingkan orang lain, meskipun dirinya sangat memerlukan).
Pernah suatu saat saya terpisah dari pasukan karena menghindari TNI yang sedang
petroli, kemudian saya bertemu dengan pak Imam bersama putranya Dodo yang
sama-sama terpisah dari pasukan kami akhirnya berjalan bersama untuk menuju ke
induk pasukan. Setelah cukup lelah berjalan menyusuri hutan belantara, kami
beristirahat dan membuat kemah alakadarnya untuk dapat berlindung. Ransel saya
yang berisi perbekalan terbawa oleh pasukan, sehingga saya pada saat itu tidak
membawa apa-apa, kecuali pakaian yang dipakai saja. Pak Imam pun
perbekalannya sangat tipis sekali, tinggal beras beberapa sendok saja, piringnya
pun Cuma satu-satunya. Tiba-tiba pak Karto menyodorkan piringnya itu kepada
saya sambil berkata: Silahkan ustadz, ini adalah hak ustadz. Makanlah karena
saya merasa beliaulah yang lebih berhak, sebab beliau lebih tua dan lebih
membutuhkan daripada saya. Saya lebih muda dan lebih kuat untuk menahan
lapar, silahkan ini untuk bapak saja. Namun beliau memaksa saya dengan
mengeluarkan alasan yang kuat: Ustadz, ini memang milik saya, tapi hak ustadz,
karena ustadz adalah tamu saya, maka berilah saya kesempatan untuk
melaksanakan ayat Allah (Q.S. Al-Hasyr ayat 19), terima ini dan makanlah, ini
adalah hak ustadz. Akhirnya saya tidak bisa menolak lagi, lalu saya makan tidak
sampai habis, kemudian saya serahkan sisa nasi itu kepada baliau barulah beliau
makan dan dibagi dua dengan anaknya. Demikianlah ustadz HM. Masduki berkisah
tentang penglamannya, kemudian beliaupun melanjutkan pada waktu menjelang
tidur, pak Karto memberikan kain yang hanya satu-satunya kepada saya untuk

selimut sambil berkata ustadz pakailah selimut ini karena udara malam sangat
dingin sekali, berilah saya kesempatan untuk melaksanakan sunnah rasul jangan
ustadz menolaknya, ini hak ustadz. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain
menerimanya. Namun perasaan saya tidak enak sebab beliau lebih tua, lebih tidak
tahan kondisi badannya menghadapi udara yang sangat dingin. Udara pegunungan
dan malam hari, maka terlihat beliau tidur, kain sarung saya selimutkan kepada
beliau. Kemudian sayapun tertidur, tapi ketika tengah malam saya terbangun, kain
sarung sudah berpindah lagi menyelimuti tubuh saya, dan beliau tidur nyenyak
tanpa selimut, kemudian saya kembalikan lagi sarung tersebut untuk menyelimuti
beliau. Demikian berkali-kali kain sarung itu berpindah-pindah, sehingga pada saat
saya bangun terakhir kalinya, kain itu ada pada saya dan beliau saya lihat sedang
solat tahajjud. Demikianlah keterangan ustadz Masduki tentang akhlaq. SM.
Kartosuwiryo adalah figure utama pewaris nabi, yang mampu merealisasikan
Sunnah Rasul dan layak menjadi imam ummat Islam Indonesia.
2. Akhirnya KPK, PSII
Ternyata Abi Kusno, Aruji Kartawinata, Wonodoamiseno dkk, belum siap mental
untuk menghadapi resiko daripada pelaksanaan sikap hijrah itu. Semangat
hijrahnya yang menggebu-gebu pada beberapa belakangan ini dengan melakukan
tindakan tegas kepada setiap penantangnya seperti skorsing yang dijatuhkan
kepada H. Agus Salim, Moh. Room dkk dari barisan penyadar, ternyata kandas
setelah melihat kenyataan betapa sulit dan rumitnya perjalanan ini.
Tindakan dan kecurigaan dari pemerintahan Belanda terhadap partai politik yang
berhaluan non kooperasi yang demikian yang semakin hari semakin ketat dan
menurunnya kuantitas anggota-anggota PSII yang merosot sangat drastis akibat
pengaruh propokasi dari orang-orang barisan penyadar, adalah merupakan faktorfaktor pendorong Abu Kusno cs berputar haluan, meningkatkan politik hijrah beralih
kepada garis parlementer, pada tahun 1938. Abi Kusno mempelopori terbentuknya
GAPI (Gabungan Politik Indonesia). Dia berusaha merangkul bekas-bekas musuhnya
yang menentang hijrah, diantaranya Mr. Sukiman yang menjadi ketua PII (Partai
Islam Indonesia) dan H. Agus Salim dengan barisan penyadarnya, untuk masuk
bergabung dalam GAPI, sebagai suatu federasi Partai Politik Indonesia yang
tujuannya untuk parlemen yang benar-benar representatif. Tindakan Abi Kusno itu
sama sekali diluar pengetahuan SM. Kartosuwiryo, yang saat itu menjabat sebagai
wakilnya (Wakil Presiden PSII). Setelah mengetahui akan hal ini, Pak Karto berusaha
menegur Abi Kusno agar menarik kembali langkahnya yang telah menyimpang dari
garis hijrah kebenaran. Namun Abi Kusno tidak menanggapinya, bahkan ia
membujuk Kartosuwiryo agar mau merobah haluan, dengan alasan bahwa hijrah itu
adalah salah satu taktik perjuangan saja bukan prinsip, sehingga bisa berubah
menurut tuntunan situasi dan kondisi.
Maka untuk situasi semacam ini, demi penyelamatan dan mempartahankan partai
dan kesulitan dan kebangkrutan, perlu adanya perubahan taktik / siasat SM.

Kartosuwiryo menolak mentah-mentah ajakannya, karena menurut pendiriannya


bahwa, hijrah bukanlah sekedar taktik melainkan suatu prinsip yang tidak bisa
dirubah-rubah dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun juga. Perjuangan islam
tanpa hijrah adalah batal, sebab tanpa hijrah akan terjadi percampuran antara hak
dan bathil dalam suatu wadah perjuangan, yang mengakibatkan gugurnya haq
(kebenaran) tersebut. Karena itu hijrah harus dipertahankan apapun resiko yang
harus dihadapi, menyimpang dari hijrah sama halnya dengan menyimpang dari
islam, begitu tegar dan kokoh pendirian SM. Kartosuwiryo dalam mempertahankan
prinsip perjuangan, yaitu sikap hijrah, meskipun dia harus menghadapi mayoritas
pengurus elite PSII yang akan berakibat ancaman pemecatan terhadap dirinya dari
PSII.
Padahal dalam satu atau dua tahun yang telah lalu, pihak yang tampak akrab dan
mesra sama-sama berada dalam kubu, mempertahankan Poitik hijrah secara
terperinci dalam brosurnya yang terdiri dari dua jilid yang berjudul Sikap Hijrah
PSII, pihak Abi Kusno kawan-kawanya memberikan dukungan penuh atas usaha ini.
Bahkan dalam kata pengantar yang ditandatangani oleh Abi Kusno sebagai presiden
dan Aruji Kartawinata sebagai sekretaris PSII. Pada jilid ke dua, dia membuat
pernyataan bahwa pandangan-pandangan, pendapat-pendapat dan gagasangagasan tentang penafsiran sikap hijrah PSII yang diuraikan dalam brosur ini telah
dibicarakan panjang lebar dengan presiden terpilih Dewan Pimpinan Partai dan
Komite Ekslusif Partai sebelum dan sesudah (Brosur) ditulis oleh pengarang.
Namun pada saat itu, tegasnya pada tahun 1938, mereka terlibat dalam
pertengkaran dan perselisihan pendapat yang cukup sangat sengit, tentang perlu
dirubahnya atau tidak hijrah ini, Abi Kusno telah menggunakan wewenang selaku
presiden partai. Dengan tindakan mengeluarkan dari PSII, karena telah dianggap
membangkang terhadap pemerintahan-pemerintahan puncak pimpinan untuk
merobah haluan dan menarik kembali, serta mengkritik penyebaran brosur tersebut
yang mengandung pikiran-pikiran yang bersifat anakronisme.
Keputusan mengeluarkan SM. Kartosuwiryo dan beberapa dukungannya termasuk
Kyai Yusuf Tadjid dan Kamran Hidayatullah, yang saat itu menjadi pemimpin bagian
pemuda PSII, diambil Komite Eksklusif Partai pada 30 Januari 1939, kemudian
disetujui oleh kongres partai pada bulan Januari 1940, tetapi mereka di cabut
keanggotaannya menolak keputusan tersebut. SM. Kartosuwiryo berpendirian
bahwa PSII bukanlah lembaga milik pribadi Abi Kusno dan kelompoknya, tetapi
lembaga milik Allah, sebagai wadah perjuangan dalam mendhohirkan Mulkiyyah
(Struktur Kerajaan Allah) di muka bumi ini, karena itu lembaga ini harus
diselamatkan dari pengkhianatan oknum pimpinannya yang telah menyimpang dari
rel Sabillillah, garis yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Maka atas prakarsa SM.
Kartosuwiryo dibentuknya suatu komite tantangan. Komite Pertahanan Kebenaran
PSII (PKP PSII), karena dimaksudkan untuk menggebrak didalam PSII, komite
mengabaikan resolusi pemecatan ketika ternyata ini tidak mungkin
dilakukan,mereka pada rapat umum komite di Malangbong pada 24 Maret 1940.

Diputuskan untuk membentuk partai yang bebas, sebagai upaya penyelamatan


politik hijrah, yang merupakan amanah Allah, amanah Rasulullah dan amanat
ummat yang telah diputuskan dalam kongres-kongres partai pada tahun-tahun yang
silam.
Partai yang baru ini, yang juga biasa disebut PSII kedua. Dimana SM. Kartosuwiryo
diangkat sebagai ketuanya, diharapkan bisa berkembang menjadi PSII yang
sebenarnya untuk mempertahankan dan merealisir nilai-nilai dan tujuan islami yang
menjadi ciri khas PSII yang telah dirancangkan oleh pendirinya, HOS. Cokroaminoto,
terutama dimaksudkan untuk merealisasikan politik hijrah lebih kongkrit lagi,
sebagaimana telah diputuskan dengan kongres partai yang diadakan di Surabaya
pada tahun1937. Oleh karena itu PSII Abi Kusno Cokro Suyoso sudah tidak bisa
diharapkan lagi untuk mengemban amanah suci ini, sebab mereka terdiri dari
pengkhianat-pengkhianat yang telah mengkhianati perjuangan islam yang
sesungguhnya. Dan menodai nilai-nilai islam yang pada mulanya telah mereka
sepakati bersama. Dengan demikian mereka tidak lagi berhak memakai nama
Syarekat Islam Indonesia (PSII), sebab telah bergeser dari Al-Islam, hal ini tampak
lebih jelas sekali Abi Kusno memindahkan corak perjuangan Islam kepada corak
nasional, seperti terlibat dalam GAPI, yang sudah tidak ada identitas Islamnya lagi.
Upaya SM. Kartosuwiryo ini rupanya mendapat dukungan yang lebih besar dari
masyarakat yang masih konsekwen dengan Islam, ini bisa dilihat dengan
perkembangan yang cukup pesat, dari dua cabang saja yang pada saat baru
berdirinya KPK PSII, telah meningkat menjadi dua puluh dua cabang pada Maret
1940, bahkan boleh dikatakan dimana ada cabang PSII Abi Kusno, disitu akan berdiri
pula cabang PSII kedua yang tetap konsekwen dengan politik hijrah.
3. Lahirnya Institut Suffah
Bermaksud mencontoh pola Rasulullah s.a.w pada awal perkembangan hijarahnya
ke Yatsrib dengan membentuk masyarakat yang Isalam dan lembaga pendidikan
serta pengkaderan, maka SM. Kartosuwiryo berusaha mendirikan sebuah lembaga
pendidikan dan pengkaderan yang bernama Institut Suffah. Lembaga ini
diharapkan akan menjadi modal utama dalam usaha melahirkan Darul Islam
dikemudian hari. Gagasan ini sesungguhnya sudah lama dicanangkan sejak kongres
pada tahun 1937 di Surabaya. SM. Kartosuwiryo yang sungguh mengerti akan
pentingnya lembaga kaderisasi kepemimpinan dan yang memberi perhatian pada
bidang ini dalam brosus hijrahnya, diberi kepercayaan untuk mendirikan suatu
lembaga yang direncanakan guna melatih kader-kader pimpinan Islam yang
militan oleh kongres partai saat itu. Tetapi ketika pimpinan PSII memutar haluan
politiknya ke Parlementer, maka partai tidak ada lagi minatnya terhadap rencana
tersebut. Namun SM. Kartosuwiryo dengan kesungguhan hati meneuskan persiapan
guna pembentukan lembaga pengkaderan dari penyesuaian itu, dengan pola
Rasulullah s.a.w. Lembaga yang dimaksudkannya tidak lagi terikat dengan PSII
lama. Pimpinan Abi Kusno cs yang dirasakannya telah mengkhianati perjuangan

ummat Islam Indonesia, lembaga ini akan menjadi lembaga pendidikan yang terikat
dan diawasi oleh PSII kedua, tegasnya PSII hijrah.
Setelah rencana itu disyahkan oleh kongres PSII kedua pada Maret 1940. Didirikan
Institut Suffah yang beralokasi di Malangbong, dengan institute ini paling tidak
ada dua target yang dapat digarap. Pertama, membentuk para mujahid, kaderkader yang militan, yang kuat aqidahnya dan menguasai ilmu Islam yang nantinya
mampu menggerakkan jihad fisabilillah, termasuk jihad dalam arti fisik
menumbangkan dominasi penguasa-penguasa dzolim, dalam rangka menegakkan
Daulah Islamiyyah. Kedua, menciptakan masyarakat yang Islami, dengan mulai
pengenalan serta penerapan mulai dari sistem hidup dengan Islami bagi setiap
pribadi, masyarakat Malangbong dan sekitarnya menjadi objek bagi pelaksanaan
program ini, yang bisa diharapkan menjadi basis kekuatan dan pusat komando
gerakan jihad ummat Islam dikemudian hari. Jihad adalah merupakan tindak lanjut
daripada hijrah, sebab sikap hijrah tidak dianggap absah bila tidak diiringi dengan
jihad.
Lembaga pendidikan Suffah ini disusun menurut sistem pesantren dan madrasah,
menghasilkan hubungan yang sangat erat antara guru dengan murid / siswanya.
Guru disini, disamping pendidik dan pengajar juga berfungsi sebagai contoh suri
tauladan (Uswatun Hasanah) bagi para siswanya dalam menerapka nilai-nilai Islam
dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus sebagai pemimpin dan pembimbing yang
membawa para siswanya kearah mardhotillah di dunia dan akhirat. Disini para
siswa akan digamblang selama empat atau enam bulan, sehingga mereka benarbenar menjadi kader yang tangguh dan militan, yang bisa diharapkan menanamkan
dan menyebarkan idea serta cita-cita Islam dikalangan masyarakat dimana mereka
akan kembali.
Kebanyakan yang datang menjadi siswa disini adalah para pemuda yang berasal
dari daerah Parahiyangan, ada juga yang dari jauh seperti dari Banten, Wonorejo,
Cirebon, bahkan dari Toli-toli dan Sulawesi Utara. SM. Kartosuwiryo, selaku pimpinan
lembaga ini, beliau memegang pelajaran ilmu Tauhid, untuk menanamkan aqidah
dan keyakinan pada siswa, diuraikannya pengertian kalimah (Lailaha ilallah), yang
merupakan dasar serta sumber segala aspek kehidupan ummat Islam, uraiannya
secar sepintas bisa kita lihat seperti di bawah ini :
Artinya : Tidak ada yang maujud kecuali atas idzin dan takdir Allah, hal ini untuk
membulatkan aqidah dan keyakinan bahwa setiap kejadian baik yang terjadi atau
yang menjadi, baik yang disengaja oleh manusia ataupun yang tidak, baik yang
sesuai dengan keinginan atau tidak, yang bersifat biasa atau luar biasa, yang manis
yang pahit, yang baik maupun yang buruk, itu semua atas kodrat dan irodat Allah
atas kuasa dan kehendak Allah SWT.
Disini posisi makhluk termasuk manusia tidak ada peran sama sekali yang
berpengaruh dalam mewujudkan sesuatu, ia hanya dijadikan salinan dan

sambungan belaka. Daya ikhtiar dan akal pikiran manusia bagaimanapun besarnya
tidak akan mampu mewujudkan sesuatu tanpa idzin dan kuasa Allah, ikhtiar dan
akal manusia hanya berfungsi sebagai sarana dan penyambung dari kuasa dan
kehendak Allah yang mutlak, karena itu manusia harus menyadari akan kelemahan
dan kekerdilannya di hadapan Allah Rabbul Izzati, segala hidup dan kehidupan
bergantung mutlak kepada kuasa dan kehendak Allah, manusia tidak punya daya
dan kuasa sedikitpun kecuali atas kehendak dan kuasa Allah, inilah yang dikatakan
Wahdatul Maujud (1).
Tidak ada yang berhak disembah (di-ibadati), kecuali Allah setelah meyakini
Mahdatul Maujud, artinya segala sesuatu yang maujud selain Allah, itu semua
tergantung kepada qudrat dan iradat Allah, kita harus meyakini bahwa semua yang
dijadikan atas takdir Allah itu tidak ada yang sia-sia, tetapi semua kejadian itu
dijadikan untuk menjadi sarana dan medan pengabdian manusia kepada Allah.
Seorang mukmin harus bertekad bahwa segala takdir yang terjadi pada dirinya,
dimana saja, kapan saja dan bagaimana saja, akan dijadikan sarana beribadah dan
mengabdi kepada Allah, sebab kalau kosong dari nilai ibadah kepada Allah, dia akan
terjebak ke dalam Syirik (mengabdi kepada selain Allah atau Maksiat (durhaka
kepada Allah)), hal ini disebut Wahdatul Mabud / Taukhidul ibadah (2).
Tidak ada yang dicari untuk ditaati dan dicari untuk dihindari, kecuali perintah dan
larangan Allah. Setelah meyakini bahwa setiap takdir yang datang kepada kita
adalah untuk sarana ibadah (pengabdian kepada Allah), maka kita harus yakin
bahwa setiap takdir yang datang kepada kita ini mengandung perintah dan
larangan dari Allah yang terperinci, melaksanakan sistem hidup yang digariskan
dari Allah, pada setiap tempat, setiap saat dan setiap keadaan. Kita harus berusaha
untuk mewarnai kehidupan kita sehari-hari dengan warna Islam saja. Jangan sesaat
pun diri kita lepas dari nilai Islam yang telah kita yakini sebagai satu-satunya
Dienullah : sistem hidup yang digariskan Allah yang membawa kemaslahatan
kehidupan di dunua dan akhirat. Inilah Mahdatul Matlub, artinya : kebulatan dan
langkah sepanjang aturan Allah SWT.
Tidak ada yang dimaksud (dituju), kecuali keridhoan Allah setelah kita berada di
jalan Allah, dengan melaksanakan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan
sehari-hari, jangan sampai kita menyimpang dari arah dan tujuan yang haqiqi, yaitu
keridhoan Allah. Jauhkan diri kita dari sifat riya, takabur, ambisi dan tujuan-tujuan
duniawi dan bisa menghapuskan nilai amal kita.
Jadi kita melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya,
melaksanakan sistem-sistem Islam dan menjauhi sistem Thoghut, itu tujuannya
semata-mata ikhlas mencari keridhaan Allah, bukan yang lainnya. Inilah Wahdatul
Makshud (satu tujuan hanya untuk Allah). Empat perubahan diatas ini, adalah
merupakan inti dari ajaran yang diterapkan dalam Institut Suffah, dalam usaha
membentuk pribadi Muwahid (serba satu-satu dalam aqidah, satu dalm niat (niat
ibadah), satu dalam perbuatan, yaitu menurut sistem Allah, dan satu dalam tujuan,

yaitu mencari ridha Allah. Dalam istilah lain dikatakan Minallah (dari Allah) alallah
(di atas jalan Allah) dan Ilallah (menuju Allah)).
Disamping ilmu tauhid dan ilmu-ilmu lainnya d\seperti Ubudiyyah, Akhlak Sirath
Rasul, Tasawul, juga ilmu pengetahuan umum dan keterampilan diajarkan disini,
seperti bahasa Belanda, bahasa Arab, bercocok tanam, menanam dan membuat
anyaman. Kemudian pada awl tahun 1944 dalam masa penjajahan Jepang, Suffah
meningkatkan aktifitasnya menjadi pusat pelatihan militer untuk daerah
parahyangan, dan dari sana terbentuklah kesatuan militer yang bernama
Sabilillah yang nantinya menjadi inti Tentara Islam Indonesia dikemudian hari.
Demikianlah sekilas melihat dasar sistem kurikulum dan tujuan pendidikan, serta
pengkaderan lembaga Suffah, yang sangat berbeda dengan sistem pendidikan
isalam lainnya, semacam pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah yang tidak
mempunyai arah yang pasti dalam perjuangan-perjuangan menegakkan Islam, juga
di Suffah ini diselenggarakannya sistem baiat yaitu ikrar dan janji setia kepada
allah yang disaksikan oleh pimpinan, yang merupakan syarat berjamaah dalam
Islam, sehingga mereka terikat dengan sikap mendengar dan taat terhadap
pimpinan juga ukhuwah (persaudaraan) dikalangan para siswanya dengan kuat.
BAB III. PERANAN UMAT ISLAM DALAM PERGERAKAN NASIONAL
1. Golongan Islam parlementer dan MIAI
Diluar jalur syarekat islam, ada beberapa organisasi islam yang didirikan, meskipun
sesungguhnya tidak dibenarkan oleh islam adanya lebih dari satu jamaah dalam
waktu dan tempat yang sama, namun demikianlah kenyataan sejarah sesuai
dengan firman Allah dalam surat Al-muminun ayat 52 & 53 yang dalam istilah AlQuran dan Al Hadits disebutkan diluar jamaah adlah Firqoh, dan Firqoh itu
dilarang dalam umat islam. Sebab firqoh itu akan menimbulkan bencana yang
besar bagi umat islam seluruhnya. Diantaranya, sebuah organisasi sosisal islam
yang didirikan pada tanggal 18 november 1912 di Yogyakarta, yaityu yang bernama
muhammadiyah. Organisasi ini didirikan oleh pendirinya, yaitu K.H Ahmad
Dahlan, atas saran yang dianjurkan oleh murid-muridnya dan beebrapa anggota
budi utomo, untuk merelisir program sosial dan mendirikan suatu lembaga
parlemen yang bersifat parlemen. Jadi muhammadiyah bukanlah organisasi politik
yang mempunyai gagasan untuk menegakkan Daulah Islamiyah, Sebagai syarat
berlakunya sistem secara keseluruhan, tapi ia sebagai syarat berlakunya sistem
secara keseluruhannya, tapi ia hanya merupakan organisasi sosial yang bergerak
dalam bidang pendidikan saja, yang merupakan satu keping dari sistem Islam yang
sempurna. Atas ajakan HOS Cokroaminoto, organisasi sempat masuk bergabung
kedalam PSIIm, namun penggabungannya, rupanya tidak mau meninggalkan baju
muhammadiyahnya.
Setelah diberi peringatan berkali-kali, dan tidak ditanggapi maka pimpinan PSII
mengadakan tindakan disiplin terhadap organisasi-organisasi ini, Muhammadiyah

dikeluarkan dari PSII pada tahun 1927. Dalam bidang furu (cabang-cabang
ubudiyah)organisasi ini membawa faham aliran muhammad bin abdul wahab yang
bersifat reformis (pembaharuan) menurut faham mereka, melaksanakan syarat
tanpa mazhab tanpa melalui mazhab yang empat, dianggap sebagai
mempermainkan dan merusak Syarikat itu sendiri, maka wajarlah kalau mereka
memandang gerakan wahabi yang dilakukan muhammadiyah ini sebagai bahaya
besar dan fitnah dalam Agama.
Mereka tergerak hatinya untuk mengadakan usaha-usaha membendung pengaruh
gerakan tersebut, demi memperhatikan faham yang mereka sebut sebagai faham
ahlusunnah wal jamaah, untuk keperluan ini pada tahun 1926 didirikanlah
organisasi sosial yang bernama Nahdatul Ulama yang kebangkitan para ulama,
oleh pendirinya yaitu K.H Hasyim Asari , seorang ulama yang memimpin pondok
pesantren yang tersebar di tiap-tiap pelosok. Organisasi ini dalam waktu singkat
berhasil meraih banyak anggota dari kalangan masyarakat awam,. yang sejak lama
dicekoki dengan faham taklid buta.
Dengan berdirinya Nahdatul Ulama (NU) ini, Ummat Islam tenggelam dalam
pertentangan sengit antar sesamanya, hanya memperdebatkan masalahmasalah kecil saja. Sedangkan masalah-masalah besar dan prinsip seperti masalah
aqidah, jihad dan daulah islamiyah mereka lupakan dan mereka tinggalkan,
pertentangan-pertentangan ini akhirnya meningkat menjadi permusuhan. Orangorang Muhamadiyah menganggap orang-orang NU sebagai musuh yang telah
keluar dari sunnah, sebaliknya orang NU menganggap orang-orang Muhammadiyah
adalah musuhnya bukan yang lain. Melihat kenyataan ini, para pemimpin dari kedua
belah pihak merasa prihatin. Untuk itu mereka sepakat untuk mengadakan
pertemuan yang dihadiri oleh utusan-utusan kedua belah pihak, dari pertemuan
yang diadakan di Cirebon itu, menghasilkan suatu permufakatan, untuk segera
membentuk suatu wadah / federasi yang dapat menampung aspirasi dari kedua
belah organisasi tersebut, maka pada tahun 1937, berdirilah Majlis Islam Ala
Indonesia (MIAI), yang bersifat non politik. Ditekankan untuk meninggalkan
masalah-masalah yang menjadi titik pertengkaran dan mengalihkan perhatiannya
kepada masalah-masalah besar, yaitu aqidah dan menentang kedzoliman.
Pimpinan (MIAI), namun Abi Kusno Cokro Suryono yang saat itu menjadi ketua partai
dan masih konsisten dengan sikap hijrahnya, menolak ajakan tersebut, bahkan ia
balik mengajak mereka untuk bergabung saja kedalam PSII karena menurut
pendiriannya, PSII-lah yang berhak disebut Al jamaah, dan yang paling awal
berdirinya dan yang lainnya adalah firqoh, yang dilarang dalam islam. Tetapi setelah
kelompok Abi Kusno berputar haluan dari hijrah ke parlementer, dan setelah ia
bergabung dalam GAPI, ajakan MIAI yang dulu ditolaknya sekarang diterimanya
dengan kedua belah tangan terbuka, dengan motif untuk menciptakan Wahdatul
Ummah (Persatuan Umat Islam). Maka pada tahun 1939, Abi Kusno cs resmi
bergabung ke dalam MIAI menjadi satu-satunya wadah perjuangan politik ummat
islam yang berhaluan parlementer.

Karena konsisten dengan konsep hijrahnya, tidak terdapat tanda-tanda bahwa SM.
Kartosuwiryo beserta PSII keduanya, mempertimbangkan kemungkinan masuk ke
dalam MIAI, sebab menurut pendapatnya betapapun besarnya persatuan umat
islam, kalau tanpa hijrah, maka tidak ada harganya sama sekali dalam perjuangan
islam.
2. Masa Pendudukan Jepang Dan Berdirinya BPUPKI
Hindia Belanda terlibat dalam perang Asia Pasifik, segera setelah serangan udara
jepang terhadap Pearl Harbour pada Desember 1941. Segera setelah mendengan
berita tentang serangan itu dari pernyataan perang Jepang terhadap Amerika dan
Inggris pemerintah Belanda dan mengasingkan di London menyatakan perang
terhadap Jepang. Penjelasan ini disampaikan kepada mentri luar negri Jepang 10
Desember 1942. Pasukan Jepang memasuki wilayah Hindia Belanda pada awal
bulan berikutnya. Tentara Hindia Belanda pun menyerah pada 5 maret 1942, tanpa
mampu memberikan perlawanan yang berarti.
Dengan kejadian (mengejutkan) ini, pada mulanya bangsa Indonesia terutama yang
bergabung dalam MIAI, menaruh harapan bahwa Jepang akan mengikut-sertakan
orang Indonesia, turut ambil bagian yang lebih aktif dan memegang peranan dalam
menentukan kebijaksanaan politik dan memperbaiki sosial bangsa Indonesia.
Ternyata harapan itu buyar sama sekali dengan diumumkan dekrit panglima militer
Jawa (malumat no. 3 pada 30 Maret) yang melarang membicarakan dalam bentuk
apapun struktur bangsa Indonesia.Dekrit ini ditempatkan dalam tindakan keras
membekukan dan membuyarkan organisasi-organisasi politik dari semua aliran,
baik yang sosialis komunis yang nasionalis sekuler ataupun yang nasionalis islam
termasuk didalamnya MIAI, barulah mereka tahu bahwa Jepang tidaklah lebih baik
daripada Belanda, bahkan tentara Dai Nippon ini lebih licik, lebih kejam, lebih sadis,
tanpa ada pertimbangan prikemanusiaan lagi.
Namun para pemimpin gerakan indonesia khususnya tokoh MIAI, selalu berusaha
memohon dan mendesak penguasa militer jepang agar diberi hak berkumpul dan
berorganisasi. Untuk dapat berkiprah dalam pelajaran sosial masyarakat. Akhirnya
pihak jepang pun mengabulkan permohonan mereka untuk mngizinkan kembali
organisasi-organisasi yang telah dibubarkan, dengan persyaratan yang ketat dan
pengawasan yang tajam, maka pada bula Desember 1943 atas restu penguasa,
dirikanlah organisasi islam Masyumi (Majelis Syuro Muslim Indonesia) sebagai
penjelmaan MIAI yang telah dibekukan itu.
Sementara SM. Kartosuwiryo dan PSII kedua yang pernah dipaksa untuk mengakhiri
segala kegiatannya, sebagai realisasi dari dekrit militer itu, namun SM. Kartosuwiryo
yang saat itu mencurahkan segala perhatiannya untuk mengelola Institut Suffah,
karena sikap hijrahnya yang melarang mentaati selain Allah, tidak menghiraukan
dekrit militer itu. Dibantu oleh faktor lokasi yang letaknya agak jauh dari pusat
politik dan pemerintahan, yang memungkinkan lemahnya kontrol dan pengawasan

dari penguasa. SM. Kartosuwiryo melanjutkan program-program suffahnya tanpa


pernah berhenti, meskipun kadang-kadang untuk mengelanui pengawasan, dia
harus merubah-rubah siasat dan taktik, misalnya dengan cara sembunyi-sembunyi
atau dengan cara menyusupi jumlah muridnya dalam setiap angkatan.
Ketika pasang perang beralih, dimana posisi jepang terdesak oleh pihak sekutu,
maka dengan mengharap memperoleh dukungan bangsa indonesia, dengan
memperkenankan mereka mengambil peran yang lebih aktif dalam urusan Negara,
serta kebebasan bergerak yang lebih leluasa. Orang indonesia kini diperkenankan
membentuk organisasi bersenjata sendiri. Pertam pada tahun 1943 PETA (Pembela
Tanah Air). Kemudian pada akhir tahun 1944 dibentuklah Hazbbullah, sebagai
Pasukan bersenjata Masyumi. Hal ini dipandang oleh SM. Kartosuwiryo sebagai
suatu kesempatan yang baik untuk meningkatkan kegiatan institut suffah, dari
pendidikan biasa menjadi pusat militer. Sehingga siswa-siswa suffah nantinya akan
benar-benar menjadi kader-kader Mujahid Militant, karenma beliau sadar betul,
bahwa pwrjuangan islam tidak akan mungkin berhasil tanpa didukung oleh
kekuatan senjata (militer), seperti dinyatakn oleh Allah dalam surat Al-Hadid ayat
25, bahwa besi yang mengandung kekuatan besar itu diciptakan untuk mengawal
perjuangan Islam.
Demi kader-kader Suffah inilah kemudian dibentuk kader-kader gerilyawan Islam
yang utama, yaitu Sabilillah dan Hizbullah, yang akan menjadi inti tentara Islam
Indonesia di kemudian hari.
Posisi jepang semakin hari semakin terdesak dalam perang melawan sekutu,
diperkirakan tidak akan bertahan lama lagi jepang menduduki daerah jajahannya,
dengan pertimbangan daripada Indonesia ini jatuh ke tangan sekutu, lebih baik
diserahkan kepada pimpinan nasional negeri itu sendiri. Maka pada tanggal 1 maret
1945 panglima tertinggi jepang menjanjikan kemerdekaan kepada indonesia sebgai
penegasan daripada janji yang pernah disampaikan oleh perdan menteri Kino, pada
tanggal 7 September 1945 Panglima Tertinggi jepang menjanjikan kemerdekaan
pada Indonesia sebagai penegasan darpada janji yang pernah di sampaikan oleh
perdana menteri Kino pada 7 September 1944 untuk keperluan ini maka
dibentuklah suatu panitia Penyelidik Periapan Kemerdekaan (BPUPKI). Susunan
panitianya disusun pada tanggal 29 April 1945, terdiri dari 62 orang dengan Dr.
Rajiman Wediodingrat sebagai ketuanya.
3. Peranan Ummat Islam Masyumi
Panitia penyelidik ini terdiri dari beberapa aliran idiologi dan agama yang ada di
Indonesia, baik dari sosialis komunis, nasionalis sekuler juaga nasional Islam, pihak
Islam hanya menduduki 25 % saja dalam panitia ini, yakni 15 orang komposisi
panitia ini dititik berartikan kepada faktor ideologi oleh karenanya golongan
nasionalis Islam menjadi pihak mayoritas sehingga sedikitnya bisa mewarnai
keputusan dalam musyawarah nanti. Disana duduk tokoh-tokoh Islam terkenal

seperti Abu Kusno cs, Agus Salim, Sukiman, Mas Mansur, Ki Bagus Hadi Kusumo,
Abdul Salim Kahar Muzakir, Ahmad Sanusi, Abdul Walid Hasyim dan sejumlah tokoh
Islam Lain, berdampingan dengan tokoh-tokoh Islam terkenal seperti : Soekarno,
Muhammad Hatta, Muhammad Yamin dll.
Dalam rangka sidangnya panitia ini, yang diadakan dua tahap, pertama dari tanggal
29 mei sampai 1 juni dan yang kedua berlangsung dari tanggal 10 sampai 16 juli
1945 tetapi perselisihan pendapat yang tajam dalam menentukan bentuk dan dasar
uang akan lahir nanti. Satu pihak menginginkan dasar kebangsaan, dan pihak lain
menghendaki dasar islam, Sementara ada pihak lain yang mengusulkan dasar
sosialis komunis setelah diadakan pemungutan suara, ternyata hanya 15 suara sa
dari 60 suara yang memilih dasar islam, selebihnya memilih dasar nasionalis
sekuler ini yang intinya telah disampaikan oleh Ir. Sukarno dalam pidatonya pada
tanggal 1juni disidang pertama BPUPKI, yangkemudian dikenal dengan nama
Pancasila itu adalah merupakan suatu filsafat yang bersumber dari buah pikiran Dr.
Suto tan sen, melalui tulisannya yang berjudul San Min Hui atau The Tree
Peoples Priciples, dan digabung dengan buah pikiran Adilf Bears tentang
Sosialisme, ini seperti yang diakui oleh sukarno sendiri kemudian untuk memenuhi
tuntutan dari pihak nasionalis islam agar dasar kebangsaan indonesia adalah
pemeluk islam. Maka dibentuklah panitia kecil terdiri dari 9 orang. Dari sidangnya
yang diselenggarakan pada pertengahan juni, panitia ini berhasil memutuskan
suatu kesepakatan yang akhirnya disebut Piagam Jakarta, yang ditandatangani
bersama pada tanggal 22 juni 1945, ada sedikit warna islam yang tercantum dalam
preem bul piagam jakarta ini, yaitu kalimat ke Tuhanan, dengan kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Sesungguhnya, kalau kita
analisa dengan cermat, hal ini adalah suatu yang tidak mungkin untuk
dilaksanakan, mengingat mayoritas panitia dominir oleh nasionalisme sekuler yang
seleranya bertentangan dengan Islam.
Namun Golongan nasionalis islam cukup merasa puas dengan hasil ini, merekatidak
perlu lagi curiga dengan sikap kaum sekuler, yang setiap saat selalu mencari
kesempatan untuk menghapus nilai-nilai islam dari dasar, dan dari kehidupan
bangsa indonesia setelah merdeka nanti.
Kemerdekaan yang dijanjikan oleh pihak jepang sekitar bulan september yang akan
datang, tapi ternyata saat itu akan datang lebih cepat lagi dari rencana, setelah
pihak sekutu menjatuhkan bom atom di pusat pemerintahan jepang, Hiroshma &
Nagasaki pada tanggal 6 Agustus 1945, disusul dengan pernyataan Hirohito, jepang
menyerah tanpa Syarat kepada sekutu pada tanggal 14 agustus 1945. Oleh sebab
itu, sebelum penguasa meninggalkan indonesia, merek memanggil anggotaanggota panitia penyelidik untuk bersiap-siap menerima dan mengumumkan
kemerdekaan sebelum tentara sekutu masuk ke indonesia.
4. Proklamasi RI yang Sekuler

Maka 5 hari setelah pernyataan menyerahnya jepang tegasnya pada tanggal 17


agustus 1945, Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia. Keesokan harinya, 18 agustus 1945 panitia persiapan
kemerdekaan yang baru dibentuk segera bersidang. Panitia persiapan ini dibentuk
atas izin jepang, terdiri dari 21 orang dengan Sukarno sebagai ketuanya Hatta
sebagai wakil ketua, kemudian atas saran Sukarno, enam orang anggota ditambah,
sidang panitia kali ini dimaksudkan untuk membahas secara final tentang dasar
negara yang telah dirumuskan oleh panitia penyelidik, yang dianggap masih
mengambang, terutam, tentang piagam jakarta yang dianggap oleh golongan non
muslim sebagai tidak adil, bahkan mereka berasal dari indonesia, apalagi piagam
jakarta tidak dihapus.
Pihak nasionalis Islam yang minoritas, hanya empat orang saja dalam panitia ini,
yaitu kasman singa dimeja, teuku Muhammad hasan,Ki Bagus, Kusumo dan pihak
sekuler yang berusaha dengan gigih untuk menghapus piagam jakarta yang
dianggap penghalang besar bagi tercapainya cita-cita rendah mereka. Akhirnya
setelah dibujuk, dirayu, dam di tekan, keempat wakil kalangan islam itu menyerah,
merelakan dihapuskannya piagam jakarta dan semua kalimat-kalimat corak islam,
dari pembukaan dan batang tubuh undang-undang dasar. Maka pada hari itu juga,
tepatnya jam 13.45,mereka beserta anggota panitia persiapan yang lain,
menandatangani priembule dan batang tubuh UUD yang telah dibersihkan dari nilainilai islam. Maka lahirlah republik Indonesia sebagai negara sekuler murni, yang
menolak hukum-hukum Allah secara keseluruhan, melalui sidangnya yang terakhir
yang diselenggarakan pada 22 agustus, panitia persiapan berhasil membentuk
struktural Pemerintahan yang sebagian besar dikuasai oleh tokoh-tokoh sekuler dan
sosialis komunis, yang siap menggiring umat Islam bangsa Indonesia kedalam
lumpur kekufuran, kemusyrikan, dan kemunkaran. Perjuangan Masyumi yang
beahaluan parlementer ternyata gagal total, hasilnya nol besar, dan sesuai dengan
ketentuan yang diabadiakan dalam Al-Quran, sebagaimana yang telah dibahas
dalam mukadimah, bahwa perjuangan islam dengan jalan kerjasama dalam bentuk
satu wadah (parlemen) dengan orang-orang non muslim (kafir, musyrik, dan
munafik) akan menimbulkan kerugian dan kegagalan serta kemunkaran Allah
semata.
5. Masa Penjajahan Belanda Yang Ke Dua Kali
Setelah Jepang menyerah dan harus segera meninggalkan Indonesia, maka tentara
sekutu bersiap-siap untuk mengambil alih Indonesia dari tangan Jepang. Tentara
sekutu yang diwakili oleh Inggris masuk ke Indonesia pada tanggal 20 september
1945, melalui Jakarta dan Surabaya, dengan maksud segera memulangkan tentara
Jepang ke Negaranya sendiri. Namun rakyat Indonesia, terutama umat islamnya,
yang sedang demam kemerdekaan, kehadiran menentang tentara sekutu. Maka
pada tanggal 10 november 1945, bung Tomo dengan gema kalimah Allahu Akbar,
Allahu Akbar, berhasil menggerakkan ummat islam di Surabaya untuk melawan
sekutu, yang menjadi marak setelah rakyat menculik, lalu membunuh seorang

jenderal sekutu yang bernama Malaby pada hari sebelumnya. Arek-arek surabya
ternyata bukan imbangan bagi tentara sekutu yang sudah professional itu, dan
mereka pun lebih leluasa di indonesia. belanda tidak menyia-nyiakan kesempatan
yang selalu ditunggu-tunggunya itu, mereka pun kembali masuk ke indonesia
dengan membonceng kepada sekutu, setelah pihak sekutu meninggalkan indonesia,
maka dengan ambisi kolonialnya, Belanda mencengkramkan kuku penjajahan di
negeri ini untuk kali yang ke dua. Belanda menuduh kepada Negara RI yang di
proklamirkan pada tanggal 17 agustus 1945 itu tidak syah, karena merupakan
bikinan jepang yang sudah takluk kepada sekutu, Republik yang masih muda
dengan angkatan perang yang masih relatif lemah itu, ternyata tidak berdaya
menghadapi tentara belanda yang sudah berpengalaman itu.
tentara jepang tidak mau menyerahkan persenjataaannya kepada pihak republik,
kecuali yang disebut secara paksa oleh rakyat yang sudah merasa muak dengan
penjajahan, sebab jepang takut kalau-kalau dituduh oleh sekutu menghidupkan dan
membantu Republik, padahal itu bertentangan dengan penjajahan dengan
perjanjian yang telah dapat bersikap mengalah saja dalam menghadapi banyak
mempunyai senjata ini, hanya dapat bersikap mengalah saja dalam menghadapi
tekanan Belanda, meskipun ada perlawanan gerilya dari satuan-satuan militer,
tetapi itu tidak banyak berarti bagi menggoyahkan kekuatan koloni. Oleh karena.
Oleh karena itulah, pimpinan republik lebih memilih jalan diplomasi daripada
kekerasan dalam menghadapi belanda, padahal jalan kompromi itulah yang
mendatangkan berbagai kerugian bahkan kekecewaan bagi republik ini dikemudian
hari. Tragis memang, RI sebagai pihak yang kalah dan lemah, sementara belanda
sebagai pihak yang kuat dan menang, tentu saja mereka akan bisa mendikte dan
melaksanakan setiap kehendaknya dalamsetiap diplomasi dan pengundian. Pada
bulan maret 1947, Diadakan perundingna diantara kedua belah pihak yang terkenal
dengan nama Perjanjian Linggar Jati. Isinya sangat merugikan pihak republik,
karen wilayah republik hanya diberi wilayah Jawa dan Sumatera saja, sedangkan
wilayah lain yang terhampar sangat luas itu dinyatakan sebagai daerah
pendudukannya.
Baru empat bulan perjanjian itu berlangsung, Belanda telah membuat
pengkhianatan, dengan melancarkan agresi militernya yang pertama, pada bulan
juli pada tahun ini juga. Menghadapi agresi militer ini republik tidak dapat berbuat
banyak, Akhirnya mereka ditekan oleh belanda untuk menandatangani perjanjian
baru, yaitu Perjanjian Rnville, pada januari 1948. Dengan perjanjian Renville ini
akan terlihat jelas bahwa, ternyata pimpinan republik ini terdiri dari para pengecut,
tak punya harga diri dan mengabaikan tanggung jawab sama sekali. Pimpinan RI
sampai hati menyerhkan sebagian besar rakyat wilayah bangsa indonesia kepada
pihak penjajah, untuk ditindas dan diperas, sebab isi perjanjian Renville ini
diantaranya adalah :
- Wilyah RI hanya Yogya dan sekitarnyayang terdiri dari 7 karesidenan yang biasa
disebut dengan daerah demokrasi Van Mook.

- Ibukota RI harus dipindahkan dari Jakarta ke Yogya.


- Seluruh kesatuan TNI dan gerilya lainnya harus ditarik dan kantong-kantongnya
untuk menuju ke Yogyakarta.
Akibat dari naskah Renville ini, maka RI memboyong seluruh aparatur
pemrintahannya dan perlengkapan administrasi negara dari Jakarta ke Yogyakarta,
maka harus menarik satuan-satuan gerilyanya dari berbagai daerah untuk
menghimpun di Yogyakarta. Dalam hal ini termasuk revisi Siliwangi yang
mengawasi Jawa barat harus meninggalkan daerah dan rakyatnya. secara logika
dengan tindakannya ini berarti Siliwangi telah mengkhianati rakyat Jawa barat yang
mayoritas muslim, dengan menyerahkan ke cengkraman kaum penjajah yang ganas
dan kejam. Sementara Siliwangi sendiri menyelamatkan diri ke Yogyakarata.
Padahal sudah cukup besar jasa dan bantuan yang diberikan oleh rakyat Jawa barat
terhadap penyembuhan dan kehidupan Siliwangi.
Setelah pimpinan republik dan satuan-satuan tentara berkumpul di Yogyakarta,
timbul rasa was-was dan khawatir terhadap kemungkinan belanda pada suatu saat
akan mengepung dan menyerah mereka, karena memang Belanda sudah tidak bisa
dipercaya lagi untuk bisa dan teguh memegang janji, sebagaimana dengan
tindakannya dalam agresi militer pertama yang mengkhianati naskah perjanjian
Linggar Jati. Untuk menghadapi kemungkinan ini, maka dengan siasat militer yang
diketuai Soekarno-Hatta, yang beranggotakan antara lain : Jendral Sudirman, A.H
Nasution, TB. Simatupang, mengadakan musyawarah yang memutuskan untuk
bergerilya mengadakan perlawanan dengan sekuat tenaga, bahkan untuk SoekarnoHatta telah disiapkan tempatnya di daerah Sami Galih, Yogyakarta. Keputusan untuk
bergerilya ini dikuatkan pula dengan pertemuan yang dihadiri oleh
Hamengkubuwono ke IX. Sudirman dan Soekarno-Hatta pada bulan Mei 1948 yang
memutuskan bahwa pemerintah akan segera meninggalkan Yogya dan bergerilya,
apalagi Belanda melancarkan serangan ke pusat pemerintahan Republik di
Yogyakarta.
Perkiraan itu pun akhirnya menjadi kenyataan, menjelang Shubuh, ahad 19
desember 1948, pasukan khusus Belanda menduduki lapangan udara Maguwo yang
sekarang bernama Adi Sucipto dan beberapa jam kemudian, ibukota republik Yogya
diduduki Belanda. Soekarno-Hatta sebagai pimpinan republik menjadi kecut dan
panik menghadapi kenyataan itu, tekadnya untuk melawan dan bergerilya, serta
semangat yang pantang mundur yang telah diumumkan dihadapan para pimpinan
militer, menjadi lumer di telan sifat pengecutnya yang sangat memalukan,
Soekarno merasa ragu dengan kekuatan militernya untuk mampu menjalankan
kehidupan di hutan belantara. Maka dalam sidang yang diadakan di gedung agung
yogya, Soekarno memutuskan untuk menyerah saja dan yang memilih jalan
gerilya. Berkibarlah bendera putih, menggantikan dwi warna, sebagai
tandapenyerahan tanpa syarat kepada pihak penjajahan belanda. Soekarno-Hatta
pun ditangkap beserta ketua KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dan beberapa

menteri kabinet. Pimpinan militer menjadi kecewa dengan perubahan sikap


Soekarno-Hatta yang secara tidak langsung telah meremehkan pihak militer,
apalagi dengan pernyataan menyerah yang berarti menyerahkan negeri dan
rakyatnya kepada pihak penjajah, sekaligus menghancurkan nilai-nilai proklamasi
45. Dalam kekecewaannya ini, jenderal Sudirman walaupun dalam keadaan sakit,
memimpin pasukannya untuk meninggalkan Yogya dan bergerilya di Hutan-hutan.
Namun tidak banyak yang dapat diperbuat oleh pasukan gerilya ini, karena
terbentur dengan beberapa faktor antara lain :
- Pengkhianatan pihak Civil, yang tidak konsekuen dengan sikap dan strategi yang
telah diputuskan bersama.
- Sakitnya jendral Sudirman yang semakin parah. Sehingga sebagai panglima ia
tidak dapat menyusun strategi yang akurat.
- Perlengkapan dan kemampuan militer yang masih sangat lemah.
Kalau toh sekarang ada hambatan sejarah tentang serangan umum 1 maret
1949 yang dipimpin oleh Soekarno sehingga bisa menguasai Yogya selama 6 jam,
ini perlu dicek kebenarannya, sebab sebelum Soekarno menjadi presiden, peristiwa
itu belum pernah terdengar dan tidak tercatat dalam sejarah. Memang dengan
Kekuasaan, sejarah itu bisa dirubah dan diputarbalikkan menurut selera penguasa.
Dengan peristiwa 19 desember 1948, pengamat sejarah yang jujur akan menilai
dan mencatatjatuhnya Republik sebagai Negara, baik secara de fakto maupun de
yure. De yure karena dengan berkibarnya bendera putih tanda menyerah, jatuhnya
martabatnya sebagai Negara. Lalu Indonesia mengalami vacum, tidak ada
pemerintahan yang sah. Tiga hari kemudian, tepatnya 22 Desember 1948, dari
Bukit Tinggi, Sumatra Barat, terdengar pengumuman terbentuknya pemerintahan
darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin oleh Syafrudin Prawira Negara,
sebagai presiden merangkap menteri pertahanan. Perlu diingat, sesuai dengan
pengakuan Syafrudin sendiri (wawancara Tempo no 43 thn XV, 21 Desember 1985),
bahwa PDRI dibentuk atas dasar inisiatif sendiri beserta kawan-kawan. Bukan atas
dasar mandat Soekarno baik hitam diatas putih ataupun secara lisan. Jadi Soekarno
benar-benar menyerah 100% pada Belanda kala itu, tanpa memperdulikan jerih
payah rakyat Indonesia yang telah mengorbankan jiwa raganya untuk
mempertahankan kemerdekaannya. Hal ini sangat mengecewakan Mr. Syafrudin,
kekecewaannya bertambah segera setelah diketahui bahwa Soekarno tidak
menghiraukan bahkan meremehkan PDRI. Ini terbukti setelah Soekarno
memberikan mandat kepada Moh. Room dengan Van Royen dari pihak Belanda
tanpa sepengetahuan apalagi persetujuan PDRI, padahal baik secara de facto
maupun de yure, Soekarno bukanlah presiden lagi.perundinagn Room Royen
berlangsung dan ditandatangani pada 7 Mei 1949, yang intinya antara lain Belanda
segera menarik pasukannya dari Yogya karena republik sudah bersedia menjadi
Negara boneka semacam negara pasundan dan yang lain-lainnya. Selanjutnya para

pemimpin Republik yang ditawan, telah dikeluarkan karena sudah siap menjadi
aparat (kaki tangan) pemerintah kolonial belanda, untuk memeras dan
menindasrakyat bangsa indonesia terutama umat islam (mayoritas pendidikan
indonesia).
Untuk pengaturan teknis dan administrasinya sebagai Negara boneka akan segera
dibicarakan pada sidang KMB (Konferensi Meja Bundar) yang aakan diselenggarakan
di Den Hag pada bulan september mendatang. PDRI tidak berdaya menghadapi
kenyataan ini, karena memang kalah pengaruh dengan Soekarno yang licik dan
lihai, serta mempunyai bakat orator (pidato yang memikat), dan menyerahkan
mandatnya kepada Soekarno, setelah keluar dari tahanan. Dengan demikian
tamatlah riwayat PDRI, dan tamat pula riwayat RI sebagai negara merdeka, karena
telah berubah menjadi Negara Boneka kolonial, dimasukkan kedalam kebun
binatang modern, diikat dan dikurung.
BAB IV. PROSES BERDIRINYA NEGARA ISLAM INDONESIA
1. Sikap SM. Kartosuwiryo Terhadap perjuangan Nasional
Tidak ada tanda-tanda SM. Kartosuwiryo terlibat dalam pergerakan nasional
menjelang kemerdekaan yang diprakarsai Jepang, sikap hijrahnya yang mendarah
daging, membuatnya tidak berminat sama sekali untuk ikut bergabung dalam MIAI,
yang kemudian atas campur tangan Jepang, berubah menjadi Masyumi dan
akhirnya masuk menjadi anggota BPUPKI yang dibentuk atas restu dan prakarsa
Jepang, sebab menurut pendirinya BPUPKI adalah salah satu wadah yang berfungsi
untuk mencampur-adukkan haq dan bathil. Disana dudukkan tokoh-tokoh Muslim
dan non muslim yang terdiri dari kelompok sekuler dan sosialis komunis, bahkan
golongan yang kedua ini menduduki posisi mayoritas dalam komposisi panitia
penyelidik tersebut. Sudah barang tentu dari sidangnya nanti akan menghasilkan
suatu idiologi campuran dan UUD campuran, yaitu dasar islam dan non islam
(Jahiliyah), atau mungkin tidak ada warna islamnya sama sekali. SM. Kartosuwiryo
yang melihat gerakan politik nasionalis muslim yang berhaluan parlementer dengan
kacamat wahyu meyakini bahwa akhirnya mereka gagal dan masuk perangkap
kaum sekuler yang lihai dan licik (kaum munafiq). Sebagaimana firman Allah dalam
Alquran dibeberapa surat dan ayat , yang telah dibahas di muqodimah dan artikel
ini.
Dan keyakinannya ini akhirnya menjadi kenyataan, tatkala 19 Agustus 1945,
dikumandangkan Proklamasi RI, tanpa ada warna Islam sama sekali, sebab sehari
kemudian Piagam Jakarta yang diadakan sebagai pengawal Pancasila dan UUD 45
untuk menuju Islam dihapus oleh Panitia Persiapan, disusul dengan dibentuknya
struktural pemerintahan yang didominasi oleh golongan sekuler. Saat itu membuat
Masyumi (Nasional Islam) benar-benar masuk kotak. Melihat kenyataan ini, SM.
Kartosuwiryo tergerak hatinya untuk mendekati tokoh-tokoh Masyumi, terutama
dari kalangan generasi mudanya dengan harapan mereka dapat mengambil Ibrah

(pelajaran) dari kegagalannya itu, dan kemudian mau mengambil (kembali) pada
khitah perjuangan Islam yang benar, yang telah dijabarkan dalam assunnah, yaitu
garis-garis Hijrah dan Jihad. Kemudian bersama-sama Muhammad Natsir dan
kawan-kawannya. SM. Kartosuwiryo ikut membentuk Masyumi Baru pada
november 1945, dalam organisasi ini, yang akhirnya menjadi paratai politik, dan
menduduki jabatan sekretaris umum, sementara jabatan ketua dipegang oleh
Muhammad Natsir.
Masyumi Baru ini dimasukkan untuk mengganti masyumi lama yang dibentuk pada
masa jepang, dan diharapkan akan menjadi satu-satunya wadah politik dan
perjuangan bagi semua kelompok islam, anggaplah ini merupakan salah satu untuk
menciptakan Wahdatul Ummah (Kesatuan Umat Islam). Guna menghadapi kekuatan
golongan sekuler, sehingga akan tampak jelas bahwa Masyumi berjalan diatas garis
perjuangan islam. Sementara ini mereka telah terlibat dalam perjuangan yang
bertolak kebangsaan (Ashobiyah)yang tidak dibenarkan oleh islam. Padahal tokohtokoh islam ini mau berdiri sendiri tanpa tergantung pada lembaga sekuler. Maka
cukup mempunyai potensi yang besar daripada potensi yang dimiliki kaum sekuler,
maka mempunyai dukungan masayang besar, karena memang mayoritas
masyarakat Indonesia adalah muslim. Disamping itu mereka juga mempunyai
kekuatan militer yang cukup besar, yaitu Hizbullah dan Sabilillah.
Ini rupanya yang menjadi sarana SM. Kartosuwiryo yang telah merangkul orangorang Masyumi untuk menghimpun seluruh kekuatan umat Islam, demi
mentegakkan Daulah Islamiyah. Soekarno Presiden RI, melihat Masyumi baru ini
sebagai ancaman yang berbahaya bagi kekuatan Republik. Maka Soekarno
berusaha merangkul Masyumi untuk ikut duduk dalam kursi kabinet. Tentu saja
kursi-kursi yang tidak terlalu memegang peranan, termasuk SM. Kartosuwiryo pun
melalui PM. Amir Syafrudin pernah ditawari kursi wakil menteri pertahanan, namun
tawaran itu ditolaknya melalui sepucuk surat yang disampaikan kepada soekarno,
sikap Hijrahnya pula yang mendasari penolakannya tersebut. tetapi tokoh Masyumi
lainnya seperti : Syarifudin Prawira Negara, Moh. Room dan lain-lainnya menerima
tawaran tersebut dan duduklah mereka dalam kabinet republik. SM. Kartosuwiryo
merasa kecewa dengan sikap-sikap tokoh-tokoh Masyumi ini dan masih mau
mengikat diri kepada lembaga sekuler yang ternyata darah nasionilnya lebih besar
daripada darah islamnya, sehingga tidak bisa ditarik kegaris Islam yang
sebenarnya. akhirnya SM. Kartosuwiryo mengambil keputusan untuk menjauhi
Masyumi dan kembali ke Malangbong dengan tidak memegang jabatan sekretaris
umum dan komisaris Masyumi Jawa Barat, dan mengalihkan perhatiannya untuk
menyusun kembali pasukan gerilya Islam Di daerah ini.
Pada tahun 1947 beliau mendirikan Dewan Pertahanan Umat Islam (DPUI) di Garut,
dan Majelis Umat Islam (MUI) di Tasikmalaya. Atas nama Masyumi, kedua organisasi
ini direncanakan untuk memperdalam dan mengkoordinasi perjuanagn Islam ( Umat
Islam) masyarakat Islam setempat melawan belanda, organisasi perjuangan gerilya
disarankan sangat perlu, mengingat keadaannya dalam 3 minggu sesudah mereka

mengadakan aksi militer besarnya, apa yang disebut aksi polisionil pertama.
Belanda menduduki kota-kota utama di Prianagn seperti Garut, Tasikmalaya dan
Ciamis. Dengan kedua organisasi ini, SM. Kartosuwiryo berusaha memurnikan
perjuangan islam , dengan menarik semua kesatuan-kesatuan yang terdiri dari
Sabililah, Hizbullah dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) yang selama ini
telah bergabung kedalam organisasi yang bernama Perjuangan Pembelaan Nasional
(PPN) merupakan federasi semua partai politik dan organisasi gerilya yang
beroperasi di priangan. Selain oraganisasi Islam, yang masuk kedalam federasi ini
organisasi-organisasi lain, seperti : PKI, PNI, PARKINDO, SOBSI, BTI. Dengan usaha
SM. Kartosuwiryo ini, maka kekuatan Islam berada dalam kubu tersendiri, terpisah
dan kekuatan non Islam (Sekuler dan Komunis), Tampaklah dengan Jelas mana
Sabilillah (Jalan Allah) dan mana pula Sabili thought (jalan Syaitan).
2. Pembentukan TII Dan Majelis Islam (MI)
Akibat persetujuan Renville yang ditandatangani pada bulan Januari 1948, maka
kekuatan republik ditarik dari kantong-kantong gerilya, untuk berhimpun di Yogya.
Termasuk devisi Siliwangi yang menguasai Jawa Barat pun ditarik ke Yogya. Lalu
Jawa barat menjadi kosong tidak ada yang menguasai dan melindungi rakyatnya.
Belanda sudah siap mengambil alih untuk menancapkan kuku penjajahannya
kembali. Menghadapi saat kritis di jawa barat ini. SM. Kartosuwiryo yang memimpin
Hizbullah dan Sabillillah, termasuk Oni Qital yang saat itu menjadi komandan
sabillillah, di daerah pegunungan sekitar ttasikmlaya, guna menjawab (membahas),
kegentingan situasi politik (tidak perlu berhimpun di Yogya), demi mempertahankan
dan meluindungi rakyat jawa barat yang mayoritas muslim, dari cengkraman
Belanda. Mereka pun bersepakat perlu mengadakan pertemuan yang lebih luas dan
lebih lengkap lagi, guna mengatur strategi dan siasat dalam menghadapi situasi
yang selalu berubah.
Pertemuan itu akhirnya diadakan pada tanggal 10dan 11 Februari di desa pang
wedasan Kec. Cisayong dalam daerah segitiga : Malangbong, garut, Tasikmalaya.
Hadir para pemimpin Organisasi Islam, Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII),
serta para pemimpin Hizbullah dan Sabillillah.
Keputusan terpenting yang diambil dalam konferensi Cisayong itu, antara lain :
- Merubah ideologi Islam dalam bentuk Kepartaian menjadi bentuk kenegaraaan
yang konkrit .
- Membekukan Masyumi Jawa Barat.
- Membentuk Majelis Islam (MI)sebagai pemerintahan dasar ummat Islam di Jawa
Barat, maka seluruh organisasi Islam harus bergabung ke dalamnya.
- Membentuk tentara Islam Indonesia (TII) yang merupakan peleburan dari Hizbullah
dan Sabilillah.

Untuk memimpin TII ini, diangkatlah R. Oni Qital, nama lengkapnya Raden Rohani
Qital sebagai Panglima pertama, dengan tugas merencanakan suatu struktur yang
konkrit bagi tentara Islam yang baru didirikan. Mula-mula TII yang berjumlah lebih
kurang 4000 (empat ribu) orang dibentuk menjadi empat batalyion, yaitu :
- Bataliyon I dipimpin oleh Danu M. Hasan
- Bataliyon II dipimpin oleh Zaenal Abidin
- Bataliyon III dipimpin oleh Nur Lubis
- Bataliyon IV dipimpin oleh Adah JaelaniTita Praja.
Sementara komandan, resimen dipegang oleh Oni Qital Sendiri, Bataliyon Nur lubis
bertugas di daerah kec. Cikoneng dan ci haur beuti, sebagai daerah modal pertama
bagi NII. Selain tentara islam yang sebenarnya, dibentuk pula korps-korps khusus
seperti, PADI (Pahlawan Darul Islam) dan BARIS (Barisan Rakyat Islam). Untuk
mengetahui keadaan musuh, baik kekuatannya maupun kelemahannnya, dibentuk
Pasukan Polisi Rahasia (Intelijen ) yang bernama Mahdiyyin yang berarti terpimpin
secara benar, semua pasukan-pasukan khusus ini langsung dipimpin oleh Oni, yang
diangkat sebagai Amirul Jaisy (Kepala Tentara).
Pada akhir Konferensi di Cisayong, juga di bahas tentang pentingnya mengangkat
seorang imam, yang merupakan syarat utama dalam melaksanakan syariah Islam.
Ada dua sistem yang digunakan dalam pemilihan ini, yaitu : Musyawarah dan
Istikhoroh (memohon petunjuk dari Allah), dengan Shalat dua rakaat, akhirnya para
peserta yang tidak kurang seribu ulama (pemimpin- pemimpin islam)sepakat untuk
memilih dengan mengangkat imam. Setelah melalui pertmbangan-pertimbangan
yang cermat,musywarah sepakat memilih SM. Kartosuwiryo sebagai imam. Sebelum
jalan istikhoroh ditempuh dua tahap. Tahapan pertama, memohon siapa orangnya,
ternyata shurah(gambaran) yang ditunjukkan Allah, seperti yang diakui ustadz H.
masduki, salah seorang peserta koferensi adalah gamabaran SM. Kartosuwiryo. Dan
Tahap Kedua, Mohon petunjuk apakah dia itu termasuk orang yang ikhlas).
Jawabannya adalah kalimat : Mukhlisun (termasuk golongan orang orang yang
ikhlas), dan tidak ada keraguan lagi, seluruh ulama yang hadir, mufakat untuk
memilih dan mengangkat SM. Kartosuwiryo sebagai Imam untuk Ummat Islam di
jawa Barat, dan akhirnya untuk seluruh indonesia. Jadi, jelaslah bahwa tampilnya
beliau sebagai imam, bukan karena ambisi pribadi sebagaimana dituduhkan orangorang sekuler (kafir,munafik). Karena toh diperbolehkan menolak, tentu beliau lebih
suka menolak, kemudian memilih orang lain, tetapi dalam islam tidak ada kamus
menolak tugas (amanat) dalam rangka menegakkan hukum Allah, kecuali harus
menjawab : Aku dengar dan aku taat, sebagaiman termaktub dalam Al-Quran
surat An Nuur ayat 51.
Kemudian SM. Kartosuwiryo selaku Imam, berusaha menyempurnakan struktur dan
administrasi lembaga MI, sebagai persiapan lahirnya Negara Islam Indonesia. Pada

suatu Koferensi yang diadakan di ci jiho, desa pasir lamcang, kecamatan ci haur
beti, Ciamis, 1 mei 1948, telah disusun rancangan konstitusi yang disebut Qonun
Asasi, serta dibentuk Dewan Imamah (Dewan kabinet) dan Dewan Fatwa (Dewan
Penasehat). Didalam Qonun asasi di tegaskan antara lain bahwa Negara Islam
Indonesia adalah sebuah Negara yang berbentuk Jumhuriyah (republik Islam) yang
dipimpin oleh seorang Imam, Hukum yang tertinggi adalah Al-Quran dan Al-Hadits
Sokheh.
Susunan Dewan Imamah yang pertama, yang dibentuk pada saat itu adalah sebagai
berikut ini :
1. Imam merangkap Kuasa Usaha
(Ketua Majelis Luar Negri) : SM. Kartosuwiryo
2. Ketua Majelis Pertahanan : R. Oni Qital
3. Wakil Ketua Majelis Pertahanan : Kamran Hidayatullah
4. Ketua Majelis Keuangan : Sanusi Partawijaya / Khadimuddin
5. Ketua Majeli Dalam Negeri : Sanusi Partawijaya
6. Ketua Penerangan : Tata Arsyad
Susunan Dewan Imamah ini lebih disempurnakan lagi pada konfrensi selanjutnya.
Terutama setelah Negara Islam Indonesia akan lebih lengkap dan sempurna.
Langkah-langkah SM. Kartosuwiryo tentu saja bertentangan dengan Tokoh-tokoh
Masyumi yang telah mengikatkan diri dengan Republik Sekuler, dan otomatis terikat
dengan peralihan renvile yang mengharuskan mereka berpindah ke Yogya. Mulai sat
itulah SM. Katosuwiryo memisahkan diri dari Masyumi.
3. Tindakan Belanda Terhadap TII
Setelah pasukan siliwangi meninggalkan Jawa Barat, Belanda segera
mempersiapkan diri untuk masuk keseluruh pelosok Jawa Barat guna menancapkan
kuku-kuku penjajahan kembali. Namun langkahnya terhenti setelah mengetahui
masih adanya satuan-satuan gerilya yang tidak mematuhi perjanjian renvile itu
yang kemudian mengkoordinasikan diri menjadi Tentara Islam Indonesia. Tentara
menghubungi Jendral Sudirman di Yogya, Sebagai penanggung jawab perjanjian
renvile untuk segera memerintahkan satuan-satuan gerilya yang masih ada di Jawa
Barat untuk mengosongkan daerah itu. Sudirman mengirim utusannya Sutoko untuk
memerintahkan/membujuk SM. Kartosuwiryo beserta TII-nya untuk segera
meninggalkan Jawa Barat, tapi SM. Kartosuwiryo yang merasa tidak terikat kepada
republik apalagi dengan renvile, menolak perintah itu. Dengan tegas beliau
menjawab Apapun resiko yang terjadi kami akan tetap mempertahankan Jawa
Barat, dan melundungi rakyat yang mayoritas muslim, lebih baik mati berhalang

tanah sebagai shuhada daripada harus tunduk kepada penjajah dan menyerahkan
ummat islam Jawa Barat ke dalam cengkraman mereka.
Begitu tinggi sifat ksatria SM. Kartosuwiryo dalam usaha melindungi ummat, tidak
seperti pemimpin-pemimpin republik yang pengecut dan licik. Pemimpin republik
hanya mementingkan keselamatan dirinya, tanpa menghiraukan nasib rakyatnya
yang akan segera ditindas dan dijajah kembali oleh Belanda.
Setelah mengetahui usaha Sudirman untuk membujuk SM. Kartosuwiryo dan TII-nya
gagal, Belanda segera mengerahkan pasukannya untuk menyerang posisi TII, pada
tanggal 17 februari baru saja 6 hari dibentuknya TII yang berada di daerah Gunung
Cepu, meliputi 2 kecamatan yaitu Cikoneng dan Cihaur Beuti. Belanda masuk dari
daerah timur Cikoneng, yaitu dari kota Ciamis. tentara Islam yang sudah bisa di
koordinir dan membuat pertahanan di daerah itu, baru satu batalion yang dibawah
pimpinan Nur Lubis dengan perlengkapan 17 pucuk senjata api saja. Pak Oni yang
kebetulan ada disana, langsung memegang komandan taktis, maka berhadapanlah
dua pasukan dan dua kekuatan yang sangat berbeda ideologi dan tujuannya, yang
pertama pasukan islam yang berdiri tegak di atas landasan Aqidah, dalam rangka
mempertahankan dan menegakan Dienullah, dengan mengharap ridho Allah
semata. mereka mengharap kebahagiaan ukhrowi yaitu Jannah, dan juga mereka
mencintai mati syahid, karena tanpa mati dalam jihad tak mungkin bertemu Jannah.
Dengan ini mereka mempunyai kekuatan jiwa yang besar dan mental yang kokoh
sedikit pun persenjataan mereka, dan besarnya persenjataan musuh, tidak
mempengaruhi jiwa mereka, bahkan iman mereka semakin mantap, dan semakin
besar kepasrahannya kepada Allah, mereka hanya menunggu satu diantara dua
kebaikan, terbunuh menjadi syuhada-langsung surga atau hidup mendapatkan
kemenangan dan kemuliaan. Sementara lawan adalah pasukan kafir yang berdiri
diatas falsafah (ideologi) yang rapuh. Motivasinya adalah hawa nafsu yang penuh
dengan kesesatan dan kepalsuan. Orientasinya adalah duniaw, karena itu mereka
cinta dunia, dan pasti takut mati. Kekuatannya tanpa didukung oleh kekuatan jiwa
tidak banyak berarti.
Pertempurannya pun tidak bisa dielakan lagi karena memang tidak ada kompromi
dan diplomasi lagi bagi tentara islam. Belanda memulai serangannya dengan geger
dan membabi buta dan menggunakan senjata-senjata berat lainnya, tentara islam
tidak menjadi kecut dan berkecil hati, dengan penuh kewaspadaan dan ketenangan,
mereka mengatur siasat menyadari persenjataan yang relative sangat sedikit dan
peluru yang sangat terbatas maka mereka berusaha menggunakannya seefisien
mungkin, mereka tidak akan menembak kalau tidak benar-benar tepat sasarannya.
Penguasaan medan sampai kedetail-detailnya sangat menguntungkan mereka.
Allah Maha Benar dan menepati janji-Nya untuk memberikan pertolongan pada
tentaranya yang ada dibumi (TII) dengan menunjukan jalan (siasat) dalam
menghadapi musuh-musuhnya. sesuai dengan firman Allah dalam surat An Anfal
ayat 9 dengan keberanian yang luar biasa satu pasukan TII berhasil menguasai

posisi yang strategis yang menjadi titik kelemahan pihak musuh(Belanda),


kemudian mereka meluncurkan tembakan-tembakan yang tepat pada sasaran yang
vital. tentara Belanda terkejut mereka panik mendapat serangan dari arah yang
mereka tidak diduga-duga, mereka seperti melihat kekuatan baru pada tentara
islam, yang jumlahnya seolah-olah lebih besar dari jumlah mereka.
Menurut pengelihatan mata mereka inilah mungkin yang digambarka Allah SWT
dalam Q.S. 3/33, posisi Belanda menjadi porak poranda, mereka jatuh mental,
jiwanya dicekan perasaan takut mati, ngeri melihat kawan-kawannya yang mulai
berjatuhan, tidak ada jalan lain kecuali mengundurkan diri. Pertempuranpun
berhenti selam berlangsungnya satu hari penuh, kemenangan mutlak berada di
tangan Tentara Islam, yang telah berhasil menewaskan puluhan tentara Belanda
dan merampas sebanyak 53 pucuk senjata dan kini jumlah tentara islam menjadi 70
pucuk. Alhamdulillah mereka memanjatkan syukur kehadirat Allah yang telah
berkenan memberikan tolong dan karunianya kepada mereka.
Imam SM. Kartosuwiryo pada saat itu tidak berada di front (daerah Gunung Cepu),
beliau sedang sibuk melanjutkan musyawarah dengan tokoh-tokoh MI lainnya dalam
menyusun dan menyempurnakan struktur pemerintahan majelis islam yang
dilanjutkan dengan konfrensi Cijoho dan Ciperendeuy, beliau telah memberikan
mandat penuh kepada Pak Oni sebagai panglima pada saat itu, untuk mengatur
taktik dan strategi dalam menghadapi serangan Belanda dengan pertimbangan,
mungkin Belanda akan melaksanakan serangan besar-besaran untuk membalas
kekalahannya. Maka Pak Oni yang juga merangkap sebagai komandan resimen
menyusun kekuatan yang masih ada di luar front, Batalion Pak Danu dengan
mambawa dua buah brand di tambah satu granat dan Pasukan Zainal Abidin yang
bermarkas di daerah Garut, daerah gunung Cepu, yang meliputi kecamatan
Cikoneng dan Cihaurbeuti merupakan daerah defacto Majelis Islam. Kecamatan
Cikoneng dengan penduduk berjumlah 53 ribu, dipimpin oleh Ustadz Masduki yang
bertindak sebagai camat dan Komandan Pertahanan Kecamatan Cihaurbeuti dengan
jumlah penduduk 43 ribu dipimpin oleh R. Basuki, 2 kecamatan ini kemudian
dijadikan front pertahanan utama yang didukung oleh 4 batalion TII dengan
persenjataan 3 buah brand dan sekitar 170 pucuk senjata biasa, untuk beberapa
bulan Belanda tidak masuk daerah ini, bahkan mereka memasang papan
pengumuman bahwa daerah ini adalah daerah berbahaya.
Sekitar 1 Juni 1938 barulah Belanda bisa mengerahkan pasukannya secara besarbesaran untuk tindakan balas dendam setelah mengadakan persiapan matang
selama 3 bulan lebih, dengan mengerahkan pasukan tidak kurang 14 batalion yang
diperkuat dengan tank baja serta didukung oleh angkatan udara. Balanda
bermaksud untuk mengepung dan menghancurkan daerah gunung Cepu sebagai
basis pertahanan TII. Jendral Spoor yang menjabat sebagai gubernur militer
sekaligus merangkap pucuk pimpinan tertinggi pemerintah kolonial di Indonesia ini,
memimpin langsung pasukan ini. Belanda sebagai kekuatan Nasional (kafir) sangat
membenci terhadap gerakan-gerakan islam, oleh karenanya mereka ingin sekali

menghancurkan secara tuntas dengan sesingkat mungkin. Mereka merencanakan


untuk masuk/mengepung daerah pertahanan Gunung Cepu dari segala arah
kemudian membombardirnya dengan meriam dan canon. ternyata usaha mereka
itu tidak dapat terlaksanan dengan secepatnya karena daerah pertahanan islam itu
dibentengi oleh sungai Citanduy yang cukup lebar dan dalam dari sebelah selatan,
sedangkan dari sebelah utara ada bukit-bukit yang sudah di jaga tentara islam.
Memang sudah di atur sedemikian rupa oleh Pak Oni ahli strategi. sehingga Belanda
cukup sulit untuk mendobrak daerah pertahanan itu.
Pasukan-pasukan Belanda yang dipilih untuk berjaga dihutan dengan didukung oleh
pasukan tank baja, mencoba menerobos dengan melintas jembatan Citanduy
(Cirahong) yang panjangnya 150m Sedangkan diseberang sana tentara islam
dengan 3 buah brand siap untuk menembak musuh yang coba-coba untuk melintas
jembatan. Setelah dikomando tentara Belanda mulai masuk kejembatan tapi
sampai ditengah mereka mulai diberondong dengan brand. dan mayatpun
bergelimpangan masuk ke sungai. Datang lagi pasukan lain setelah dipaksa
komandannya untuk maju dan mereka pun menjadi sasaran peluru tentara islam
dari seberang sana. Tentara Belanda terus meju dengan bergelombang setelah
tidak kurang dari 2000 tentara mereka yang tewas dan tentara islam pun semakin
menipis persediaan amunisinya dan akhirnya bobolah pertahanan TII dari daerah
selatan yang dipimpin oleh H. Zaenal Abidin, dan Belanda pun masuk, tentara islam
memundurkan daerah pertahanannya dengan meninggalkan 7 desa, yaitu sindang
tasik sebelah timur, Nasal, Panaragan, Cimahi, Darma Caang, Cegempalan dan desa
Cikoneng, yang kemudian diduduki oleh Belanda dari sinilah mereka menggempur
posisi TII dengan tembakan canon dan meriam dengan tidak henti-hentinya
angkatan udara dengan pesawat-pesawat tempurnya membantu serangan ini
dengan tembakan dari atas, posisi TII manjadi terkepung dari berbagai arah dan
semakin terjepit.
Kemudian Ustadz Masduki sebagai komandan pertahanan daerah Cikoneng melihat
kejadian ini berakhir saban (mengadakan introspeksi ke dalam) kenapa pertahanan
islam bisa didobrak musuh padahal tidak ada sunnahnya dari rasul waktu perang
khandaq tidak ada musuh yang bisa masuk kedaerah pertahanan tentara rasulullah,
kecuali untuk mati. Setelah diperiksa ternyata ada syarie (Hududullah) yang
dilakukan oleh beberapa anggota TII. Ada seorang mata-mata yang cermat maka
terbongkarlah kegiatan-kegiatannya selaku mata-mata Belanda. Untuk mencari dan
mendapatkan informasi/data penting tentang kekuatan TII. Hukuman mati adalah
yang paling tepat untuk pengkhianat saking marah dan geramnya, Beberapa
anggota TII anak buah A.Z. Abidin melakukan tindakan melampui batas yaitu
memotong-motong kemaluan orang yang telah ditembak itu. Inilah kiranya yang
menjadi penyebab datangnya malapetaka itu, sebagai peringatan dari Allah,
dengan bobolnya pertahanan batalion Zainal Abidin. Pimpinan TII memerintahkan
agar semuanya bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas perbuatan isrofnya(berlebihan) yang telah mereka lakukan.

Kemudian para pimpinan mengadakan musyawarah untuk merencanakan langkahlangkah selanjutnya dalam menghadapi situasi yang genting itu. Pak Masduki
sebagai salah seorang komandan merangkap pimpinan daerah setelah mendapat
mandat dari komandan rerimen untuk mengatur siasat, mengajukan suatu gagasan
yang sangat tepat sekali, beliau berkata dihadapan komandan batalion saat ini
lihat benar-benar terjepit, terkepung dari segala arah, dari utara mulai dari CiamisKawali sampai Panjalu rapat dengan tentara musuh, begitupula dengan sebelah
barat Panambangan sudah dikuasai musuh, sebelah selatan jalan raya sampai
Banjar sudah penuh dengan tank baja. Beruntung kita punya pertahanan alam yaitu
Citanduy tetapi karena kekuatan kita sangat terbatas kita tidak akan bisa
mempertahankan daerah ini. Apalagi brigade khusus musuh yang membawa
peralatan berat sudah sampai di basis utara di belakang kita. Untuk mengatasi
situasi yang sangat genting ini saya telah diberi mandat oleh komandan tempur
untuk mencari jalan keluar, karena itu saya memutuskan seluruh anggota TII
supaya berusaha keluar dari daerah blokade ini, kemudian membuat front yang
lebih terbuka dengan sistem gerilya, kita bukan front (lari meninggalkan perang)
tetapi kita bersiasat melaksanakan surat An Anfal ayat 16. Jadi keluar daerah ini
sudah menjadi keputusan kita tinggal bermunajat kepada Allah, kalu memang jalan
ini dibenarkan Allah pasti Allah akan memberikan cara dan jalan keluarnya, karena
kalau kita melihat dhohirnya sulit untuk bisa keluar, sebab harus menembus pagar
senjata dan tank baja. (Q.S. 29/69). Demikianlah Pak Masduki telah memutuskan
diluar dugaan seorang TII yang bertugas diTasikmalaya yang menjabat sebagai
Stoot Resimen yang bernama Syaifullah, dia mendapat tugas dari Bupati MI
Tasikmalaya, H.A. Sobari untuk minta bantuan pasukan satu regu saja guna
menghadapi keganasan CV-CV Belanda (orang-orang pribumi yang menjadi kaki
tangan Belanda). yang selaulmemeras dan menindas rakyat. Inilah rupanya jalan
yang diberikan Allah memecahkan kesulitan. Akhirnya diputuskan bukan hanya satu
regu yang akan dikirimkan, tapi semua pasukan yang terdiri dari tiga batalion akan
dikeluarkan dari daerah ini, dan ditempatkan dan ditempatkan didaerah Raja Polah,
Tasikmalaya. Siasat pun diatur untuk mengeluarkan pasukan dan para keluarganya
serta orang-orang luka tembakan.
Kemudian ditawarkan kepada komandan-komandan, siapa yang bersedia untuk
menyamar dan menipu musuh, resikonya kalau ketahuan akan ditembak musuh.
Syaifullah yang tampil menyanggupkan diri, lalu ia ganti pakaian untuk menyamar
sebagai rakyat biasa. tugasnya ialah datang kemarkas Belanda. minta izin untuk
membawa rakyat keluar yang terkena luka tembakan canon dan meriam dan
melaporkan bahwa tentara islam (Sabilillah) telah lari meninggalkan tempat. Siasat
itu rupanya berhasil Syaifullah diizinkan keluar dengan membawa orang-orang yang
sakit rombongan ini selamat sampai ketempat tujuan. Bersamaan dengan itu
pasukan TII pun bergerak keluar melalui Cijoho dan Cihaur. tepat jam 12 malam
tentara belanda yang ada di pos sebelah barat, utara dan melihat iring-iringan
tentara islam, mereka terkejut dan panik kemudian lari meninggalkan posnya tanpa
mengadakan perlawanan, dengan demikian tentara islam dapat melintasi pos-pos

tentara Belanda yang telah aman dan leluasa dan mereka baru sampai ditempat
tujuan yaitu daerah Tajamaya, Raja Polah, Tasikmalaya pada jam 3 dini hari,
peristiwa ini terjadi pada tanggal 20 juni, siang harinya Belanda mulai mengadakan
serangan-serangan dengan gencar sekali, menggunakan senapan otomatis biasa
sampai persenjataan artileri berat. Dari atas dan dari bawa, semuanya
memuntahkan peluru dengan satu sasaran, yaitu markas-markas TII, yang merasa
belum tahu bahwa tempat itu sudah dikosongkan, jejak-jejak TII waktu menerobos
keluar sempat dihapus oleh rakyat setempat pada malam hari itu juga. Sehingga
sama sekali tidak melihat jejak bahwa TII sudah keluar. Serangan pun dihentikan
setelah melihat tidak ada reaksi dari lawan, dan ternyata tempat itu sudah kosong.
Sementara TII yang sudah sampai di tempat tujuan kemudian cepat menyebar.
melihat tempat-tempat strategis dan melancarkan serangan gerilya dengan
mendadak Belanda yang mendapat serangan mendadak dari belakang itu menjadi
jatuh mentalnya, mereka kalang kabut dan lari meninggalkan meda. Sama sekali
Belanda menderita kekalahan besar, dengan tewasnya ribuan tentara mereka
secara sia-sia. Mereka melihat suatu kekuatan besar yang tidak dilihat sebelumnya,
jendral Spoor sebagai gubernur militer yang memimpin langsung pasukan raksasa
tersebut, tidak tahan menaggung malu dan aib atas kesalahannya ini, dan langsung
mengambil keputusan jalan pintasbunuh diri.
Peristiwa Gunung Cepu ini sangat penting artinya bagi perjuangan tentara islam,
peristiwa yang penuh dengan karomah, dan merupakan awal kemenangan tentara
islam. Maka untuk menghargai peristiwa-peristiwa ini, Imam memberikan gelar (GT)
(Gunung Tjupu) bagi pasukan yang terlibat dalam perang ini, sesuai dengan
sunnah, dimana Rasulullah pun memberikan gelar Ahlil Badri sebagai
penghargaan terhadap pasukan-pasukan yang ikut ambil bagian dalam perang
badar.
Tentara Islam kini dapat menyusun strategi dan siasat yang jauh lebih mantap lagi.
Mereka menguasai daerah lebih banyak lagi dan ummat pun semakin besar simpati
dan dukungannya terhadap perjuangan TII. Sekarang mereka tidak menggunakan
lagi sistem konsentrasi dan frontal, tapi menggunakan sistem gerilya malam hari,
sasaran vital Belanda dihancurkan, tanpa diberi kesempatan untuk memberikan
perlawananan yang cukup berarti, Akhirnya Belanda dipaksa untuk meninggalkan
daerah-daerah Jawa Barat. Mereka hanya menguasai kota-kota besar saja seperti
bandung, dan Jakarta. dengan pertahanan yang cukup tangguh.
melihat kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh TII dalam melawan tentara
Belanda Jenderal Sudirman yang dulu memerintahkan SM. Kartosuwiryo dan TII-nya
meninggalkan Jawa Barat sekarang dia menaruh simpati dan mendukung langkahlangkah yang diambil oleh TII dalam usaha mempertahankan Jawa Barat, Bahkan
secara diam-diam dia mengirimkan persenjataan dari Yogya. Tindakan Sudirman ini
sempat tercium oleh Belanda yang kemudian hal ini di jadikan alasan oleh Belanda
untuk menyerag Yogya dengan militernya yang kedua pada 19 desember 1948.

4. Awal Perang Segitiga


Setelah Belanda terpaksa mengundurkan diri dari daerah-daerah di Jawa Barat, TII
dengan cepat mengadakan perluasan daerah kekuasaannya daerah Periangan
Timur sebagian besar dikuasai TII dengan pembagian kekuasaan sebagai berikut :
- Bataliyon III menguasai daerah Ciamis Selatan dan Utara.
- Bataliyon II masuk dan menguasai Garut, sementara
- Bataliyon IV menguasai daerah Tasikmalaya.
Tiga daerah kabupaten inilah yang dijadikan basis utama MI dan TII, dan akhirnya
menjadi basis Negara Islam Indonesia, setelah agustus nanti.
Untuk menetapkna administrasi pemerintah, maka di Jawa Barat dibentuk struktur
daerah-daera yang telah dikuasai oleh MI.
- Daerah satu (D.I) : Yaitu daerah-daerah yang telah dikuasai oleh MI dan TIIde facto
maupun de yure pmerintahannya, rakyatnya, maupun hukumnya adalah Islam,
meliputu Ciamis selatan, barat dan utara, Garut timur dan Ciamis Utara sebelah
timur dan sekitarnya.
- Daerah dua (D.II) : Daerah yang hanya de yure milik MI, rakyatnya kebanyakan
mendukung MI, sedang secara de facto dikuasai oleh belanda, disini adan dua
pemerintahan, Belanda dan MI secara bayangan. Ini seperti kota-kota kabupaten
dan sekitarnya seperti : Cirebon, kuningan, indaramayu, dan sekitarnya.
- Daerah tiga (D.III) : Daerah yang dikuasai oleh musuh (belanda), hanya ada
pengaruh-pengaruh kota dimasyarakat sana, yaitu ibukota propinsi bandung,
Jakarta dan daerah perbatasan Jawa Barat, Jawa tengah, Cilacap dan Brebes.
Demikianlah posisi Majelis Islam dan TII yang semakin mantap menguasai sebagian
besar daerah Jawa Barat.
Melalui Perjalanan yang cukup jauh. Apa yang disebut dengan Long March,
Pasukan-pasukan Siliwangi akhirnya sampai keperbatasan Jawa Barat, Jelas sekali
terlihat bahwa perjalana Long March Sliwangi ini, bukan perajalanan Para Pahlawan
Bangsa, karena memang tidak ada nilai kepahlawanannya sama sekali. Lebih tepat
bila dikatakan Perjalanan Para Pengecut, yang telah mengkhianati dan
mengorbankan rakyatnya pada pihak musuh dan mereka sendiri masuk kedalam
perangkap yang telah ia buat oleh musuh, kemudian diserang habis-habisan tanpa
dapata mengadakan perlawanan, apalagi para pemimpinnya sudah
menyerah.Dalam keadaan kalah perang inilah Siliwangi, berjalan jauh, kembali
kepada rakyat yang telah dikhianatinya di Jawa Barat. Sementara disana telah tegak
dengan kokohnya Para Pahlawaan Sejati yang telah berhasil melindungi rakyatnya
dari cengkraman penjajahan dan sekaligus mengusir penjajah itu dari Jawa Barat.

Mereka adalah Majelis Islam dan Tentara Islam Indonesia. Mereka telah
merentangkan sistem pemerintahan Islam yang adil dan bijaksana, sehingga rakyat
merasa tentram dan damai.
Kedatangan pasukan Siliwangi di Jawa Barat dismbut dengan penuh rasa
perasaudaraan oleh MI dan TII, mengingat bahwa, Siliwangi itu banyak yang berasal
dari unsur Hizbullah dan Sabilillah, maka besar harapan MI, agar Siliwangi bisa
meleburkan diri kedalam TII. Untuk itu pimpinan MI dan TII menyampaikan
bebarapa Alternatif kepada pihak Siliwangi untuk menentukan sikap, diantaranya :
Silahkan masuk ke daerha-daerah de facto MI dan bersama-sama melawan belanda
dengan status TII yang mencerminkan perlawanan rakyat (Ummat Islam), sementar
pemerintah RI sudah menyerah kepada Belanda, dan tidak punya harga sama sekali
di forum Internasional.
2. Kalau keberatan, silahkan masuk ke daerah-daerah yang belum de facto majelis
Islam, dan bersama-sama melawan Belanda tanpa ada permusuhan dengan TII.
Atau letakkan senjata, kemudian menjadi rakyat biasa dibawah perlindungan TII.
Menghadapi alternatif ini pasukan Siliwangi terpecah menjadi 3 bagian, sesuai
dengan latar belakang ideologi masing-masing, yang berasal dari Hizbullah dan
masih mempunyai ruhul Islam, mereka memilih point pertama, bergabung dengan
TII, seperti kadir Salihat beserta pasukannya. Ada juga yang memilih point ke dua,
(tidak mau bergabung kepada TII), dan ini yang terbanyak, mereka yang berideologi
nasionalis sekuler (PNI, Pesindo) diantaranya pasukan-pasukan dibawah pimpinan
M. Rifai, Aag Kunaefi, Nasukhi, Amir Mahmud, Sueb dan Umar Wirahadi Kusuma,
yang lainnya point ketiga, yaitu meletakkan senjata dan menjadi rakyat biasa.
Demikianlah tampak sekali kebesaran jiwa pimpinan Majelis Islam ini, bijaksana dan
toleransi, tidak ada sama sekali niat untuk memusuhi atau menganggap musuh
terhadap pasukan Siliwangi, bahkan menganggapnya sebagai kawan seperjuangan
dalam menghadapi penjajah. Namun ternyata pasukan Siliwangi dan Nasionalis
Sekuler (kafir) ini tidak menghargai atas kebaikan pimpinan TII, mereka masuk ke
daerah de facto majelis Islam, kemudian memeras dan merampas hak-hak rakyat
dengan penuh kesombongan dan kecongkakan dan mereka pun mulai berani
menampakkan sikap-sikap permusuhan terhadap TII. Puncak permusuhan dan
pengkhianatan mereka itu terjadi pada hari selasa, 25 januari 1949 di desa
Antralina kec. Ciawi, daerah tasikmalaya Utara-barat, mereka menyerang dari
belakang terhadap markas TII, sehingga puluhan Anggota TII gugur akibat
pengkhianatan mereka. Pasukan TII pun akhirnya mengadakan perlawanan
terhadap mereka, untuk membalas pengkhianatan mereka. Terjadilah pertempuran
yang cukup sengit antara kedua belah pihak pada hari itu juga.
Setelah melihat adanya pengkhianatan besar dari pasukan Siliwangi yang sudah
tidak bisa ditolerir lagi, maka MS. Kartosuwiryo selaku imam dan selaku Panglima

Tertinggi TII Mengeluarkan maklumatnya, dengan kode Maklumat Militer No. 1


tertanggal 25 januari 1949 yang isinya antara lain : Setelah mengingat dan
menimbang beberapa hal, kemudian memutuskan bahwa divisi Siliwangi (TNI) yang
kemudian disebut sebgaia tentara Liar (TL), dianggap sebagai penghalang revolusi
Islam Indonesia, yang harus dihadapi dengan tindakan Militer. Untuk itu
diperintahkan kepada seluruh angkatan perang Negara Islam Indonesia untuk
melakukan tindakan :
Melucuti tentara liar itu,
Merampas harta benda hak kesatua (dari gerombolan golongan itu), yang perlu
untuk kepentingan Negara Islam Indonesia.
Tentara Islam pun dikerahkan untuk melaksanakan malumat tersebut, melucuti dan
merampas persenjataan beserta seluruh perlengkapan pasukan Siliwangi. Ternyata
pasukan Siliwangi yang dalam keadaaan grogi tak berdaya menghadapi tindakan
militer TII, hanya dalam beberapa minggu saja kekuatan Siliwangi sudah bisa
ditundukkan. Sebagian ditangkap dan ditawan, dan yang lain ada yang berlindung
dan bergabung kepada pemerintahan Negara Boneka bikinan Belanda, yaitu Negara
Pasundan.
Peristiwa 25 januari yang kemudian dik kenal dengan pristiwa antralinaitu di
nyatakan sebagai awal perang segi tiga,TII melawan Belanda (negara pasundan),TII
melawan siliangi (TNI),sementara TNI masih bermusuhan dengan Blanda.Belanda
setelah mengalami kekalahan dan melihat kekuatan islam,berniat untuk
mengundurkan diri dari kancah pertempuran,supaya tidak terlibat panjang
berhadapan dengan tentara islam,tapi cukup dengan menggunakan point-pointnya
(negara-negara bonekanya),termasuk RI yang sudah menyerah pun sedang
dipersiapkan untuk menjadi point mereka guna menghadapi kekuata islam,dengan
melalui perundingan Room-Royen.
5. Saat saat menjelang proklamasi Negara Islam Indonesia
Semenjak pertama kali merjunkan diri kedalam kancah perjuangan politik mulai dari
PSII nya sampai pada masa perjanjian Jepang dan Belanda yang kedua kalinya SM.
Kartosuwiryo telah mendasari perjuangan dengan islam, untuk menuju satu arah
perjuangan yaitu lahirnya Negara Islam Indonesia yang merdeka, yang dapat
menjamin seluruh ummat islam dalam melaksanakan pengabdiannya kepada Allah
Rabbul Izzati dengan murni anpa di campuri dengan kemusrikan. Tidak pernah
terlintas dalam hatinya untuk terlibat dalam perjuangan Nasional, yang bertujuan
mendirikan sebuah negara yang berdasarkan nasionalisme dan dengan penuh
kesabaran beliau selalu memperingari dan mengajak mereka untuk memutar
haluan menyesuaikan langkah perjuangan dengan Rasulullah S.A.W, ini bisa
dibuktikan dengan melihat tindakan-tindakan beliau, baik sebelum maupun sesudah
proklamasi RI.

Sesungguhnya begitu beliau mendengar pengumuman menyerahnya Jepang


kepada sekutu, pada 14 agustus 1945, dan tidak adanya persiapan dari tokoh-tokoh
nasionalis muslim untuk memproklamirkan kemerdekaan, maka pada tanggal itu
pula beliau memproklamirkan kemerdekaan, maka pada tanggal itu juga beliau
memproklamirkan Negara Islam Indonesia. ternyata ummat islam belum siap
menerima konsep Negara Islam Indonesia ini, perhatian mereka berpusat pada
tokoh-tokoh nasionalis yang bergabung dalam BPUPKI. Setelah 3 hari kemudian,
tepatnya pada tangal 17 agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamirkan
kemerdekaan RI, maka SM. Kartosuwiryo menarik kembali proklamasinya, untuk
menghargai revolusi rakyat yang sebagian besar umat islam, yang dikorbankan oleh
tokoh-tokoh islam pula. Namun beliau menjadi kecewa setelah mengetahui bahwa
negara yang baru dilahirkan itu adalah Negara Sekuler Murni, tanpa ada warna
islamnya sama sekali, apalagi setelah melihat struktur pemerintahannya di
dominisir oleh orang-orang sekuler pula.
Beliau kemudian berusaha untuk menjajaki tokoh-tokoh islam yang telah gagal itu
untuk menghimpun potensi ummat islam guna menentukan langkar-langkah
perjuangan islam selanjutnya. Ajakan beliau pun disambut baik terutama oleh
tokoh-tokoh muda seperti Moh. Natsir, Moh. Room, A. Wahab Hasyim dan yang
lainnya, akhirnya terbentuklah Masyumi baru, namun tokoh-tokoh ini menerima
tawaran Soekarno untuk duduk dalam kabinet, dan mengikatkan loyalitas Masyumi
kepada Republik Sekuler. SM. Kartosuwiryo segera menarik diri Masyumi dan
kembali ke Malangbong untuk mengelola Sabilillah dan Hizbullah sebagi kekuatan
inti untuk mengawal perjuangan islam, namun beliau tidak memutuskan tali
ukhuwah dengan tokoh-tkoh Masyumi yang telah bergabung dalam pemerintah RI
itu. Selalu saja beliau memperhatikan gerak langkah mereka yang membawa jutaan
ummat dengan memberikan teguran dan peringatan bila terlihat ada
penyimpangan yang terlalu jauh dengan menjual ummat kepada pihak penjajah,
seperti terjadi pada saat diselenggarakannnya perjanjian linggar jati maret 1947,
yang membuahkan Agresi Militer Belanda pertama, yang mengakibatkan
penderitaan besar bagi ummat, beliau mengirimkan statmen (peringatanperingatan), tapi tidak diizinkan oleh pimpinan republik.
Demikian pula ketika pihak republik mengadakan naskah renvile yang
mengakibatkan harus menyerahan sebagian besar wilayah dan rakyat indonesia ke
tangan penjajah. Beliau memberi peringatan keras dan mengancamnya, tapi juga
tidak ada peringatan dari mereka. mereka sampai hati meninggalkan rakyatnya
disebagian banyak wilayah, untuk segera diserahkan kepada Belanda dan mereka
sekarang hanya menguasai tujuh keresidenan saja, sesuai dengan garis demarkasi
Van Mook, yaitu : Yogya, Solo, Magelang, Kediri, Madiun, Bojonegoro dan Malang.
Republik benar dalam keadaan kritis, baik politik mapun militer, dan ekonomi sudah
benar-benar diambang kehancuran. Saat itulah SM. Kartosuwiryo mempersiapkan
diri dengan menggalang kekuatan sabilillah dan hizbullah di Jawa Barat, untuk
mengalihkan gerakan-gerakan ummat kepada revolusi yang bercorakkan islam.

Setelah Belanda melancarkan serangan ke Yogya sebagai ibukota Republik, dengan


agresi militer II, 19 Desember 1948, yang mengakibatkan jatuhnya republik ke
tangan Belanda. Maka SM. Kartosuwiryo mengeluarkan maklumat no. 5, tertanggal
20 Desember 1948. Isinya adalah komando umum kepada seluruh lapisan ummat
islam bangsa Indonesia untuk melakuka perang suci mutlak Jihad Fisabilillah,
mengusir penjajah Belanda dan menegakkan Daulah Islamiyah.
Karena melihat keadaan vakum, tidak ada pemerintahan yang sah
bertanggungjawab, maka pada tanggal 21 desember 1948, SM. Kartosuwiryo
bermaksud segera memproklamirkan Negara Islam Indonesia. Namun maksud ini
ditarik lagi setelah keesokan harinya 22 Desember 1948, Mr. Syafrudin
Prawiranegara memproklamasikan PDRI (Pemerintahan Daryrat Republik Indonesia),
di Bukit Tinggi, Sumatra Barat dengan suatu pertimbangan bahwa Mr. Syafrudin
adalah seorang muslim yang baik dan tokoh Masyumi yang mempunyai cita-cita
mendirikan Negara Islam, SM. Kartosuwiryo berharap agar Mr. Syafrudin merubah
PDRI menjadi Sebuah Negara Islam, dan TII pun adalah mendukungnya. Namun
harapan itu menjadi kandas sama sekali manakala Moh. Room, salah satu tokoh
Masyumi dan tokoh PDRI meskipun pada saat itu tidak membawa dari PDRI, tapi
mandat dari Soekarno telah mengadakan perundingan dengan pihak Belanda, yang
dikenal dengan Room dan Royen, di tandatangani tanggal 7 mei 1949.
SM. Kartosuwiryo mengecam keras terhadap perjanjian itu melalui statmennya yang
sempat diedarkan ke berbagai pihak, diantaranya beliau mengatakan , Dengan
adanya statmen Room Royen ini maka Moh. Room telah menyelesaikan tugasnya.
sebagai wakil Masyumi, wakil ummat Islam... sungguh sangat memalukan sekali...!
kalau dulu zaman naskah Linggar Jati Masyumi mati-matian anti Linggar Jati
sekarang wakil Masyumi dalam kabinet dan wakil ummat Islam sendiri yang
mendapat giliran terakhir menjual Negara sampai habis total, Republik Indonesia
sebagai negara yang merdeka benar-benar sudah bangkrut sementara PDRI tidak
mempunyai peranan apa-apa, sebab kemudia Mr. Syafrudin menyerahkan kembali
mandatnya kembali kepada Soekarno.
6. Proklamasi Negara Islam Indonesia
Apapun alasannya perjanjian Room Royen adalah tindakan dari pimpinan RI mereka
sampai hati menjual kemerdekaan yang telah diperjuangkan dan dipertahankan
dengan darah dan keringat rakyat, hanya sebagai imbalan pembebasan Soekarno
cs dari penjara dan siap untuk masuk kedalam Kebun Binatang Modern, yaitu
sebagai Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai Negara Boneka Koloni. Formilnya
akan segera diselesaikan pada Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Hag bulan
september mendatang.
untuk menghadiri KMB, RI mengirim sebuah delegasi yang diimpin oleh Moh. Hatta
dan mereka berangkat ke negeri Belanda, Pada tanggal 6 Agustus 1949, SM.
Kartosuwiryo memandang, dengan keberangkatan delegasi Hatta ini, sebagai titik

kulminasi kehancuran RI yang diproklamirkan 17 agustus 1945, dan tumbangnya


martabat PDRI. Maka saat ini, benar-benar sangat vacum, baik dipandang dari segi
politik militer, baik de facto maupun de yure. Gambaran situasi ini lebih jelas
diungkapkan dalam maklumat no. 1197 yang disusun oleh SM. Kartosuwiryo ;
Bismillahirrohmanirrohim
Malumat Pemerintah
Negara Islam Indonesia
Nomor 1197
Syahdan, maka peruangan kemerdekaan Nasional, yang diawali proklamasi
berdirinya Republik Indonesia, 17 agustus 1945, sudahlah mengakhiri riwayatnya.
Orang lebih memberi tafsir yang muluk-muluk, yang membumbung tinggi,
menembus angkasa, orang boleh cari lagi alasan-alasan yang lebih licin, lebih
yuridis, lebih statrech, lebih volkan recbtelijk, tetapi meski diputar balik ketetapan,
orang yang kuasa membalik hitam menjadi putih, batil menjadi haq, haram menjadi
halal,.... Sepandai-pandainya manusia bersifat, tidaklah kuasa membalik timur jadi
barat, setinggi-tingginya bangau terbang, kembali kepada pokok pangkal pertama,
di tangan musuh, ditangan penjajah Belanda.
Alhamdulillah pada saat kosong (vacum), saat dimana tiada kekuasaan dan
pemerintahan yang bertanggungjawab (GEJAGE EN REGERINGS VACUM) maka pada
saat yang kritis (membahayakan) dan psychologisch yang lemah itulah ummat
Islam Bangsa Indonesia memberanikan dirinya, menyatakan sikap dan pendirian,
yang jelas tegas kepada seluruh dunia : Proklamasi Berdirinya Negara Islam
Indonesia, 7-8-1949. pada saat itu otomatis (dengan berdirinya), perjuangan
indonesia beralih arah, bentuk, sifat, corak dan tujuannya, menjadilah : perjuangan
Islam Indonesia. Atas Nama Ummat Islam Bangsa Indonesia, kemudian dengan
didorong oleh perintah Allah dalam surat Al Isro ayat 81, yang di awali dengan
lafadz (Wa qu) yang artinya : Proklamasikanlah maka tanggal 7-8-1949 yang
bertepatan 12 Syawal 1368H. SM. Kartosuwiryo mem[roklamirkan berdirinya
Negara Islam Indonesia yang telah dipersiapkan secara matang dan cermat.
Proklamasi dilakukan di Cisampang, desa Cidugalem, Cigalontong, Tasikmalaya.
Teks lengkapnya sebagai berikut, sbb:
PROKLAMASI
Berdirinya Negara Islam Indonesia
Dengan Nama Allah yang Maha Murah dan Maha Asih
Kami ummat Islam Bangsa Indonesia
Menyatakan : Berdirinya NEGARA ISLAM INDONESIA

Maka Hukum Yang Berlaku Atas Negara Islam Indonesia itu Ialah
HUKUM ISLAM
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Atas nama Ummat Islam
Bangsa Indonesia
Imam Negara Islam Indonesia
Ttd.
(SM. KARTOSUWIRYO)
Madinah Indonesia, 12 Syawal 1368 / 7 Agustus 1949 M
Penjelasan Singkat :
Alhamdulillah, maka Allah telah berkenan menganugrahkan karunianya yang Maha
Besar atas ummat Islam Bangsa Indonesia ialah Negara Karunia Allah yang meliputi
seluruh Indonesia.
Negara Karunia Allah itu , adalah Negara Islam Indonesia / Darul Islam dengan
kata lain Ad-Daulatul Islamiyah, atau dengan singkatan yang sering dipakai orang
DI, selanjutnya hanya dipakai satu istilah resmi, yaitu Negara Islam Indonesia.
Sejak bulan September 1945, pada waktu turunnya Belanda ke Indonesia.
Khususnya di pulau Jawa, atau sebulan kemudian daripada proklamasi berdiri
Negara RI, maka revolusi Nasional yang mulai menyala pada tanggal 17-8-1945
itu merupakan perang, sehingga sejak masa itu seluruh Indonesia di dalam keadaan
perang.
Negara Islam Indonesia tumbuh dimasa perang di tengah-tengah revolusi nasional
pada akhir kemudiannya setelah naskah renvile dan ummat Islam bangun dan
bangkit melawan keganasan penjajah dan perbudakan yang dilakukan oleh Belanda
beralih sifat dan wujudnya menjadilah Revolusi Islam / Perang Suci.
Insya Allah, Perang Suci / Revolusi Islam akan berjalan terus hingga :
Negara Islam Indonesia berdiri dengan sentosa dan tegak teguhnya, keluar dan
kedalam 100% de facto dan de yure di seluruh Indonesia.
Lenyapnya segala macam penjajahan dan perbudakan.
Terusirnya segala musuh Allah, musuh Islam dan musuh Negara Islam Indonesia.
Hukum-hukum Islam berlaku diseluruh Negara Islam Indonesia.

Selama itu Negara Islam Indonesia di masa perang / DI fi waktil harbi


Maka segala hukum yang berlaku dalam masa itu, di dalam lingkunga Negara Islam
Indonesia ialah hukum Islam di masa perang.
Proklamasi ini disiarkan ke seluruh dunia, karena ummat Islam Bangsa Indonesia
berpendapat dan berkeyakinan bahwa, kini adalah tiba saatnya melakukan wajib
suci yang serupa itu bagi menjaga keselamatan Negara Islam Indonesia dan
segenap Rakyatnya, serta bagi memelihara kesucian Dien, terutama berlaku bagi
mendhohirkan kedaulatan Allah di dunia.
Pada dewasa ini, perjuangan kemerdekaan Nasional yang diusahakan selam hampir
genap 4 tahun kandaslah sudah.
Semoga Allah membenarkan proklamasi berdirinya Negara Islam Indonesia ini jua
adanya Insya Allah, Amin.
Bismilahi....................................................................................................Allahu
Akbar
Catatan :
Karena dilakukan pada saat vacum, maka Proklamasi Negara Islam Indonesi Adalah
sah menurut hukum manapun juga, bukan mendirikan negara diatas negara
(didalam negara) sebab RI telah masuk ke dalam RIS, mengakibatkan statusnya
sama dengan negara boneka lainnya, Semacam Negara Pasundan, Negara Sumatra,
negara Kalimantan dan lain-lain yang fungsinya ikut memras dan menjajah bangsa
dan rakyat sendiri.
Berbeda dengan proklamasi RI tahun 1945, yang dilakukan atas diplomasi dan
prakarsa Jepang, serta dilakukan sangat terburu-buru. Maka proklamasi Negara
Islam Indonesia di tegakkan atas tetesan dara Shuhada dan ribua mayat mujahid,
serta melaui persiapan yang matang dan tidak tergesa-gesa.
Negara Islam Indonesia adalah penjabaran dari pemerintahan dan kerajaan
(Mulkiyah) Allah di bumi Indonesia, dengan memberlakukan hukum Allah, hukumhukum Islam. Maka semenjak diproklamirkan Negara Islam Indonesia, menjadi wajib
hukumnya bagi seluruh ummat Islam Indonesia untuk menrima, mendukung, dan
memperthankannya. sampai Hukum-hukum Islam secara keseluruhan, tidak ada
hujjah sama sekali dihadapan Allah nanti, bagi ummat Islam Indonesia untuk
menolak Negara Islam Indonesia.
Negara Islam Indonesia adalah satu-satunya Jamaah di Indonesia yang
dibenarkan oleh Islam berdiri tegak di atas sabilillah dan Shirotol Mustaqim, maka
seluruh kelompok (firqoh-firqoh) ummat Islam di Indonesia. harus meleburkan diri
ke dalam struktural Negara Islam Indonesia, karena yang benar (Haq) itu hanya
satu saja di luar yang benar adalah salah. Surat Yunus ayat 32.

BAB V. PERJUANGAN NEGARA ISLAM INDONESIA DALAM MASA PEMERINTAHAN RIS.


1. Konfrensi Meja Bundar (KMB) dan Hakikat RIS
Setelsh mendapat pengalaman perang gunung Cepu melawan TII, Belanda
berkesimpulan bahwa TII merupakan suatu kekuatan yang cukup besar, yang bisa
mengecam dominasinya di Indonesia. Dan mereka pun menjadi kecut hatinya, bila
harus menghadapi TII secara langsung. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri,
adanya kekuatan yang luar biasa pada diri Tentara Islam, yang kadang-kadang
diluar perkiraan ratio. Oleh karena itulah mereka membuat siasat lagi, siasat yang
licik sekali, yaitu menjadikan tokoh-tokoh RI yang non Muslim, yang sudah
menyerah, baik sipil maupun yang militernya sebgai boneka yang bisa diperalat
untuk menghadapi kekuatan Tentara Islam Indonesia.
kemudian ditawarkan perundingan kepada pimpinan republik yang telah
menyerah dan berada dalam tahanan, mereka pun menerimanya dengan gembira.
Soekarno memberikan mandat kepada Mr. Moh. Room untuk menrima tawaran
perundingan, yang isinya selalu didiktekan oleh pihak Belanda. Maka lahirlah apa
yang biasa disebut Statmen Room-Royen, yang isinya antara lain :
Crease Fire atau penghentian tembak-menembak.
Round Table Conference / KMB dan
Kerjasama / Samed Working antara pihak Republik dengan Belanda.
Natijah dari statmen ini adalah pimpinan RI siap untuk manjadi pemerintah boneka
Belanda dalam melaksanakan politik ekonomi sosial dan undang-undang kolonial,
yang memras dan menindas rakyatnya. Terutama ummat Islam Bangsa Indonesia.
Statme ini kemudian dimatangkan dalam KMB yang berlangsung 23-08-1949 s/d 0211-1949 di Den Hag, dengan membentuk sebuah Negara Federasi, merupakan
gabungan dari negara-negara boneka yang ada di Indonesia Serikat (RIS) dalam
konfrensi ini pula Belanda menyerahkan kedaulatan RIS pada tanggal 27-12-1949,
dan di Jakarta terjadi hal yang sama dari RI kepada RIS, sementara RIS itu
merupakan persekongkolan (kerja sama) antara kaum munafiq (tokoh-tokoh
sekuler) dan kaum kafirin (pemerintahan Belanda) dalam menghadapi kekuatan
ummat Islam Bangsa Indonesia yang telah bernaung di dalam Negara Islam
Indonesia. Ialah yang dimaksud oleh Allah (firman-Nya) Q.S. Al-Anfal ayat 73 :
Adapun Orang-orang yang Kafir, sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang
lain (bekerja sama dalam menghadapi orang-orang yang beriman), jika kamu (kaum
muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah itu (persaudaraan yang
teguh antara kaum muslimin) niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan
kerusakan yang besar.
sangat disesalkan sekali, tokoh-tokoh Masyumi dan partai Islam lainnya, yang
mengaku mempejuangkan Islam, tidak waspada dengan permainan kotor dan licik

ini, sehingga mereka terjerumus kedalam perangkap persekongkolan, antara


munafiqin dan kafirin. Mereka menerima dan mendukung RIS serta menolak Negara
Islam Indonesia, perihal sebgai muslim mestinya wajib, menerima dan mendukung
negara Islam Indonesia, yang jelas-jelas sah dan Islam, serta menolak RIS yang
nyata-nyata sekuler (kafir) dan tidak sah kelahirannya di bumi Indonesia ini,
terutama tindakan mereka itu semata-mata berdasarkan hitungan Royo (Ratio)
yang telah ditunggangi hawa nafsu, tidak berdsarkan wahyu sama sekali, karena
mungkin orientasi kehidupannya bukan lagi ukhrowi, tetapi duniawi (materialistis).
berkat dukungan mereka itulah, RIS sebagai lembaga sekuler yang rapuh menjadi
kuat dan kokoh kedudukannya, terutama setelah M.Natsir sebagi pimpinan Masyumi
mengajukan misi integralnya kepada parlemen RIS pada tanggal 3 April 1950
disetujui untuk merubah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau
Republik Indonesia Kesatuan (RIK) dengan tetap Soekarno sebagai presiden
didampingi Moh. Hatta sebagai wakilnya.
2. Taktik RIK Menghadapi Negara Islam Indonesia.
Sebagai realisasi KMB Belanda mulai menarik diri secara perlahan-lahan dari
Indonesia setelah dilihat Negara Bonekanya, yaitu RIS cukup kokoh dan kuat
pijakannya, baik politik maupun militer, sehingga sudah dipandang mampu untuk
merealisasikan program utamanya, yaitu De Islamisasi atau pendangkalan nilainilai Islam di kalangan Ummat Islam Bangsa Indonesia, terutama dalam
menghadapi Negara Islam Indonesia dan TII-nya. Posisi-posisi strategis,
perlengkapan dan markas-markas militer, serta wilayah-wilayah kota yang tadinya
dikuasai Belanda, kini telah diserahkan kepada Republik beserta TNI-nya. Pihak
Negara Islam Indonesia tetap saja hanya menguasai wilayah-wilayah pedesaan dan
pegunungan sebab proses penyerahan kedaulatan kepada RIS, berjalan dengan
ketat, sehingga pihak Negara Islam Indonesia tidak berhasil merebut.
Sukarno memandang masalah Negara Islam Indonesia sebagai masalah yang besar
yang harus dihadapi dengan serius dan dia berpendapat bahwa kekuatan Negara
Islam Indonesia itu disebabkan dukungan ummat Islam. Untuk menghadapi hal ini,
Soekarno mencoba merangkul tokoh-tokoh ummat Islam, dalam hal ini Masyumi
yang memang telah banyak berjasa dalam menyelamatkan dan mempertahankan
Negara sekuler ini, untuk turut serta berperang aktif dalam mengelola Negara
kesatuan yang baru dibentuk, sebagai kelanjutan dari RIS, tentu saja hal ini tidak
berarti Soekarno telah berubah haluan dari sekuler kepada Islam, tidak. Tetapi
semata-mata sebagai taktik saja untuk memperalat tokoh-tokoh Masyumi dalam
rangka merekrut ummat Islam yang selama ini mendukung Negara Islam Indonesia
terutama di Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian barat. Maka ditampilkanlah Moh.
Natsir sebagai perdana mentri yang pertama dari RIK, yang dibantu oleh beberapa
tokoh lainnya dari Masyumi yang ikut dalam kabinet yang baru terbentuk pada
bulan September 1950.

Tugas utama dari kabinet Natsir ini adalah menyelesaikan secepat-cepatnya


masalah-masalah kelompok gerilya liar, terutama sekali Negara Islam Indonesia dan
TII-nya, maka dari program pemerintah yang terdiri dari 7 pasal, kabinet
mengutamakan pasal 5, yaitu menyempurnakan angkatan dan reintegrasi anggota
angkatan bersenjata serta kelompok-kelompok gerilya yang berlebihan ke dalam
masyarakat yang mana inti dan program ini ditujukan kepada Negara Islam
Indonesia beserta TII-nya.
Pada mulanya, dalam merealisasi program ini, kabinet Natsir menempuh jalan halus
dan luwes, yaitu membujuk para gerilyawan TII untuk segera menyerah, pemerintah
RIK mengumumkan Tawaran Amnesti pada tanggal 14 November 1950, yang
isinya memberi kesempatan kepada gerilyawan untuk segera melaporkan diri
kepada diri kepada pejabat pemerintahan / kantor Distrik setempat mulai tanggal
28 bulan itu sampai 14 Desember, kepada mereka dijanjikan akan diterima menjadi
anggota angkatan bersenjata (TNI) atau memberikan mata pencaharian baru agar
dapat hidup layak dalam masyarakat. Juga secara pribadi Natsir berusaha
meyakinkan pimpinan-pimpinan Negara Islam Indonesia, perjuangan menuju
berlakunya Hukum Islam di Indonesia sudah mencapai tahap-tahap akhir yaitu
dengan melalui pemilihan ummat yang segera akan dilaksanakan, dimana
dipastikan akan dimenangkan ummat Islam, sedangkan Soekarno dan Hatta
menjamin untuk memberlakukan Hukum Islam di Negara ini apabila ummat islam
mencapai suara mayoritas dalam pemilihan umum nanti. Oleh karena itu tidak
diperlukan lagi tindakan kekerasan, yang menimbulkan kerugian, bahkan mungkin
banjir darah di kalangan ummat Islam sendiri.
Bersamaan dengan itu, pemerintah mengeluarkan petunjuk-petunjuk terperinci
mengenai prosedur penyerahan, takut kalau-kalau para gerilyawan mencari peluang
dari kesempatan itu untuk melakukan penyerangan secara tiba-tiba atau secara
diam-diam menggerakan pasukan mereka. Maka pemerintah Republik
memerintahkan bahwa mereka harus secara terbuka membawa senjata yang
mereka miliki, pasukan-pasukan yang mereka miliki, pasukan-pasukan yang
bergerak menuju kantor Distrik untuk menyerah, selanjutnya diharuskan memakai
tanda Janur Kuning disilangkan di badan untuk menunjukan ketulusan hati
mereka.
SM. Kartosuwiryo selaku imam Negara Islam Indonesia dan panglima tertinggi TII
menolak mentah-mentah Tawaran Amnesti tersebut dengan argumentasi yang
sangat kuat dan tidak bisa dibantah baik secara yuridis maupun secara Historis,
beliau menyatakan bahwa Negara Islam Indonesia adalah satu-satunya pemerintah
yang sah di Indonesia. Bukan gerombolan liar / gerombolan pengacau yang harus
menyerahkan diri, justru Republik Indonesia Kesatuan (RIK) yang tidak ada
kelahirannya, sebab dia lahir dari perut penjajahan dengan membawa seperempat
sistem penjajahannya. Pada saat ini Indonesia telah ada pemerintahan dan Negara
yang sah yang telah di proklamirkan, yaitu Negara Islam Indonesia. Dimana selama
proses berdirinya tidak pernah menyerah kepada pihak penjajahan, bahkan beliau

sangat menyesalkan sekali. Kenapa M. Natsir muslim ini mau diperalat oleh orangorang sekuler dan boneka-boneka koloni untuk menghancurkan Negara Islam
Indonesia yang nyata-nyata telah memberlakukan hukum Islam berdasarkan AlQuran dan Al-Hadist Sholeh, serta telah meminta pengorbanan ribuan syuhada.
Beliau juga menegaskan bahwa Natsir bukanlah pemegang kekuasaan tertinggi di
Republik, tetapi dia hanya sekedar alat dari pemimpin-pemimpin sekuler yang
apabila sudah tidak diperlukan, dia akan dicampakan kembali menjadi rakyat biasa.
Karena itulah SM. Kartosuwiryo segera menginstruksikan kepada seluruh jajaran TII
untuk menanggapi, apalagi menaati seruhan amnesti dari kabinet Natsir itu.
Kebanyakan yang menyerahkan diri akibat tawaran amnesti itu adalah dari
gerombolan-gerombolan liar, seperti organisasi yang bernama polisi gerilyawan,
Barisan Berani Mati (BBM) yang beroperasi didaerah Purwokerto juga dari
gerombolan Brigade, Citarum devisi bambu runcing yang beraliran sosialis, banyak
yang menyerahkan diri. Sedangkan dari pihak TII, hanya sebagian kecil saja yang
terpengaruh oleh Amnesti ini, yaitu yang berada di daerah-daerah terpencil
sehingga sulit untuk berkomunikasi dengan pimpinan pusat, karena terpengaruh
oleh bujukan ulama-ulama setempat yang memang di tugaskan oleh pemerintah,
seperti dibeberapa daerah di Jawa barat dan Jawa tengah bagian barat. Beberapa
pasukan TII mendatangi kantor distrik untuk menyerah, namun mereka tidak
disambut baik, seperti yang telah dijanjikan dan penguman amnesti, tapi mereka
disambut pasukan TNI, yang siap untuk membantai mereka dengan berondongan
senjata dan sebagian lagi ada yang ditangkap kemudian dijebloskan kedalam
tahanan militer. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan peristiwa Janur Kuning,
yang merupakan pengkhianatan besar dari pasukan sekuler TNI, dan secara tidak
langsung M. Natsir pun ikut terlibat dalam pengkhianatan ini yang kemudian
menjadi lembaran hitam dalam perjalanan sejarah Negara Islam Indonesia.
Namun demikian, tawaran amnesti dianggap kegagalan besar bagi kabinet Natsir
dalam merealisasikan program reintegrasi terutama oleh kalangan militer yang
merasa kecewa terhadap langkah ini. Mereka menganggap jalan lunak itu tidak
akan ada artinya lagi, sebab sebelumnya juga sudah ditempuh jalan pendekatan
dengan mengutus tokoh-tokoh ulama untuk berunding dengan SM. Kartosuwiryo
ternyata gagal total, diantaranya Wali Al-fatah yang merasa yakin dapat
menundukkan Hujjah-Hujjah (argumentasi) SM. Kartosuwiryo. Segera menyanggupi
diri untuk membujuk SM. Kartosuwiryo supaya menghentikan kegiatan itu. Maka
pada bulan mei 1950, dengan didampingi oleh tiga orang pembantunya, yaitu tasik
wira, Muslikh dan Zainuddin. Wali Al-fatah berusaha mengadakan kontak hubungan
dengan pimpinan-pimpinan TII di Cipanuyaran, daerah lereng gunung Cakra buana
untuk bertemu dengan SM. Kartosuwiryo.
Namun rupanya Wali Al-fatah belum terbuka hatinya untuk menerima kebenaran ini,
karena dipandang terlalu berat resikonya, dia pun kembali ke republik dengan
membawa kekecewaan dalam akibat kegagalan usahnya. Untuk menutupi

kekecewaan ini dia menyatakan kepada pemerintah tidak ada alternatif lain untik
menghadapi gerakan Negara Islam Indonesia, kecuali dengan aksi militer.
Memang demikina akhirnya, setelah himbauan Natsir gagal, maka tentara Republik
melancarkan Operasi Merdeka,yaitu operasi militer terhadap TII dan berkasberkas gerilyawan lainnya. Kurang lebih selama 8 bulan saja M. Natsir bisa bertahan
menjadi perdana mentri, sebab pada April 1951, dia harus meletakkan
jabatannya yang kemudian digantikan oleh Sukiman, juga seorang politis dari
kalangan Masyumi.
Sebab-sebab Tertangkapnya Imam
Diperolehnya keterangan dari pimpinan TII yang telah berada dalam tangan TNI dan
ini merupakan tipu muslihat TNI, sebab informasi yang diberikan meliputi rahasiarahasia pimpinan tertinggi TII dan rahasia jamaah Umat Islam Bangsa Indonesia.
Dihadirkannya masa dalam operasi tersebut (Pager Betis).
22 April 1962 terjadi serangan langsung terhadap pimpinan-pimpinan pusat Negara
Islam Indonesia, 24 april 1962 serangan untuk kedua kalinya terhadap pimpinan
pusat Negara Islam Indonesia, akibatnya rombongan terpencar-pencar Imam
tertembak dan terluka dipantatnya. 4 juni 1962 Bapak SM. Kartosuwiryo dalam
keadaan sakit parah tertangkap oleh kompi C bataliyon 328 pada kujang II kodam VI
/ Siliwangi dibawah pimpinan Letda Suhanda di kompleks Gunung Gebos malaya
Bandung.
Pada bulan april 1962, setelah 1 tahun mengadan aksi perang dengan sandi barata
yudha maka TII akhirnya merubah taktik perang militer jihad menjadi perang gerilya
ideologi di kota. Imam akhirnya dengan sepenuh pertimbangan memutuskan dan
menginstruksikan semua kekuatan militer TII turun gunung, menyusun kembali
kekuatan TII yang telah melemah dengan kekuatan dan metode baru. Turun gunung
bukan berarti menyerah tetapi mengatur perjuangan secara militer dengan siasat
taktik sivil (Q.S. 33/10, 8/15-16).
Penolakan Imam Untuk Menghentikan Jihad
Ketika Imam SM. Kartosuwiryo sudah berada didalam tahanan Kodam VI / Siliwangi,
maka dilanjukan kepada beliau sebuah pernyataan tertulis yang dibuat oleh
pimpinan TNI yang harus ditanda tangani oleh beliau; pernyataan itu antara lain :
Perintah menghentikan Jihad Fi Sabilillah.
Pencabutan kembali proklamasi 7 08 1949.
Imam menolak mentah-mentah untuk menandatangani pernyataan tersebut
dengan menegaskan antara lain : bahwa perintah Jihad itu adalah mutlak perintah
Allah, jadi kalian tidak mempunyai wewenang sedikit pun untuk menghentikannya.

Adapun masalah proklamasi adalah, bahwa SM. Kartosuwiryo menolak untuk


membubarkannya, beliau menyatakan bahwasanya hanya bertugas mendirikan
Negara Islam Indonesia dan tidak berhak membubarkannya.
Pengadilan Imam
Pelaksanaan pengadilan militer dilaksanaka terhadap Imam sebenarnya formalitas
saja, sebab sejak sebelumnya pimpinan TNI memang sudah membuat keputusan
untuk mempertahankan hukuman mati kepada beliau, adapun vonis yang
dijatuhkan Jawa barat dan madura terhadap bapak Imam Tertuang di dalam surat
keputusan tanggal 16-8-1962 no X / III / 8/ 1962. Sedang pelaksanaannya dilakukan
pada jam 07.00 (pagi) tanggal 5 september 1962 dan jenazahnya dikebumikan di
pulau Ubi Besar komplek kepulauan seribu. Perlu dicatat disini maka Petugas
Komandan pelaksana surat keputusan Mahad per Jawa, Madura tersebut di atas
adalah Brigadir Jendral Umar Wira Hadi Kusuma sebagai panglima kodam V / Jaya
waktu itu.
Walaupun imam telah dibunuh, namun perjuangan tetap dilanjutkan. Tetapi
teknisnya dirubah (Q.S. 3/144), bila kembali kebelakang, bubar (perjuangan
terhenti), maka kembali kepada Jahiliyah.