Anda di halaman 1dari 20

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT TENTANG


UPAYA PERLINDUNGAN DIRI DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN
PENYAKIT MENULAR DIRUANG IGD Dr. M. YUNUS BENGKULU
TAHUN 2014

MANUSKRIP

HERAWATI
NPM: 0980200117.P

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIAYAH BENGKULU
2014

SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI MANUSKRIP


Yang bertanda tangan dibawah ini, saya :
Nama

: HERAWATI

NPM

: 0980200117. P

Jenjang

: Strata 1

Peminatan

: Ilmu Keperawatan

Tahun Akademik

: 2013/2014

Judul Manuskrip

: HUBUNGAN

PENGETAHAUN

DAN

SIKAP

PERAWAT TENTANG UPAYA PERLINDUNGAN


DIRI

DENGAN

TINDAKAN

PENCEGAHAN

PENYAKIT MENULAR DI RUANG IGD RSUD


Dr. M. YUNUS BENGKULU TAHUN 2014
Menyatakan bahwa bahwa saya yang telah mendiskusikan dengan pembimbing,
dan :
1. Mengijinkan manuskrip saya untuk dipublikasikan dengan syarat : *)
Tanpa mengikutsertakan nama pembimbing
Dengan mengikutsertakan nama pembimbing
Alamat korespondensi : Azzahera78@yahoo.com
Tidak mengijinkan manuskrip saya untuk dipublikasikan
Catatan lain:
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Bengkulu,....................
Mengetahui
Pembimbing utama

(Hj. Betrianita, SKM., MKM)

(HERAWATI)

Keterangan :
*) beri tanda pada kotak yang tersedia.

HALAMAN PENGESAHAN
ii

MANUSKRIP
Diajukan oleh :
Nama

: HERAWATI

NPM

: 0980200117. P

Program Studi

: Ilmu Keperawatan

Judul Manuskrip : HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT


TENTANG UPAYA PERLINDUNGAN DIRI DENGAN
TINDAKAN PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR DI
RUANG IGD RSUD Dr. M. YUNUS BENGKULU
TAHUN 2014

Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing


untuk diarsipkan diperpustakaan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Bengkulu

PEMBIMBING

Hj. Betrianita, SKM., MKM

Ditetapkan di : Bengkulu
Tanggal : 27 juni 2014

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN .........................................................................

ii

HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................

iii

DAFTAR ISI.....................................................................................................

iv

ABSTRAK........................................................................................................

PENDAHULUAN ...........................................................................................

TUJUAN PENELITIAN..................................................................................

METODE PENELITIAN ................................................................................

TEKNIK PEGUMPULAN DATA....................................................................

HASIL PENELITIAN......................................................................................

PEMBAHASAN ..............................................................................................

KESIMPULAN ................................................................................................

12

SARAN ............................................................................................................

13

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

15

iv

ABSTRAK

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk


terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) karena dari pengalaman dan
perilaku yang didasari oleh pengetahuan.
Tujuan penelitian ini Untuk Mengetahui Hubungan pengetahuan dan sikap
perawat tentang upaya perlindungan diri dengan tindakan pencegahan penularan
penyakit menular di ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.
Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional. Populasi dalam
Penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana di ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu pada penelitian ini seluruh Populasi dijadikan sampel.
Hasil analisi data dari 34 orang perawat pelaksana terdapat 18 orang
(52,9%) perawat yang berpengetahuan baik terdapat 6 orang (60,0 %) perawat
melakukan tindakan pencegahan penyakit menular dan 4 orang (40,0%) perawat.
Dari 13 orang (47,1%) perawat yang berpengetahuan kurang baik 12 orang
(50,0%) yang malakukan 12 orang (50,0 %) perawat tidak melakukan. Hasil
Analisis Bivariat. Hasil Uji statistik Mendapatkan nilai p = 0,715 sehingga dapat
disimpulkan tidak ada hubungan pengetahuan perawat tentang upaya
perlindungan diri dengan tindakan pencegahan penyakit menular. Terdapat 16
orang (47,1%) perawat yang memiliki sikap mendukung 8 orang ( 47,1%) perawat
yang melakukan 9 orang (52,9%) perawat tidak melakukan. Dari 18 orang
(52,9%) perawat yang tidak mendukung. Hasil Uji statistik ditemukan nilai p =
1,000 sehingga dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara sikap perawat
dengan tindakan pencegahan penyakit menular di ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu tahun 2013.
Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan tentang
perlindungan diri agar perawat menyadari setiap tindakan yang dilakukan dan
dapat dijadikan wawasan bagi mahasiswa mengenai pencegahan penularan
penyakit menular bagi peneliti serupa mampu menyempurnakan penelitian ini
lebih lebih lanjut.

PENDAHULUAN
Penderita harus dilindungi terhadap invasi mikroba pathogen dengan
penyekat yang membatasi/memisahkan antara petugas dan penderita. Demikian
pula sebaliknya pada prosedur dan tindakan medis tertentu, penderita dapat dinilai
sebagai sumber mikroba pathogen. Dalam kondisi seperti itu justru petugas yang
harus dilindungi tampa melupakan tugas utama untuk melayani penderita.
Walaupun banyak penyakit menular telah mampu diatasi bahkan ada yang
dapat dibasmi akan tetapi masalah penyakit menular tetap dirasakan oleh sebagian
penduduk negara berkembang termasuk Indonesia. Adapun angka kejadian
penyakit menular yang terjadi di Indonesia yaitu sebagai berikut : Hepatitis (13.3
juta), TBC (14,8 juta), Cacar (14,9 juta), HIV (12 ribu), Kusta (14 ribu),
(Wahyu, 2004).
Penularan penyakit dapat melalui cairan tubuh pasien, udara, dan benda benda yang dibawah pasien kerumah sakit (Soemaharjo, 2002). Oleh karena itu
sebagai seorang perawat harus mampu menerapkan kewaspadaan khususnya bila
sedang merawat pasien yang mempunyai kerentaan lebih besar terhadap infeksi
atau menjadi carier mikroorganisme yang dapat dengan mudah ditrasmisikan
kepada orang lain. Perawat harus memakai pelindung sesuai bagaimana cara
organisme ditularkan. Namun dalam tindakan perawatan seperti di Instalasi gawat
darurat hal ini sering terabaikan. Hal ini disebabkan belum diketahuinya
diangnosa medis pasien yang dirawat sehingga sering kali perawat kurang
melindungi diri saat melakukan tindakan perawatan (Scaffer dkk, 2006).
Penularan pada perawat maka pada tahun 2002 dan 2004 Occupationa!
Safety and Healty Administration (OSHA) memberikan rekomendasi untuk
perlindungan diri terhadap penyakit menular pada perawat dengan menggunakan
pedoman Center For Disease Control and Protection (DFC) yang salah satunya
adalah mengharuskan perawat untuk melakukan praktek pengendalian infeksi dan
perlindungan diri (Scaffer dkk, 2006).
Upaya perlindungan diri pada hakekatnya menggambarkan kinerja tenaga
Keperawatan. Dalam melakukan asuhan keperawatan. Menurut Ilyas (2006)
kinerja dapat dipengaruhi oleh pengetahuan kinerja perawat. Pengetahuan sangat
menentukan dalam setiap perilaku seseorang, begitu juga dengan tenaga

keperawatan karena upaya perlindungan diri akan sangat dipengaruhi tingkat


pendidikan dan pengetahuan (Notoatmodjo, 2006).
Resiko nilai mortalitas pada perawat sangat tinggi dan resiko ini lebih
ditentukan pada kemampuan perawat dalam memberikan tindakan pencegahan
penyakit menular pada pasien. Yang diawali dengan sikap yang menunjukan
prilaku kesehatan. Prilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu reaksi seseorang
terhadap stimulus atau rangsangan yang berkaitan dengan sehat sakit atau
penyakit, sistem pelayanan kesehatan, atau lingkungan reaksi tersebut bisa bersifat
pasif (pengetahuan, prilaku dan sikap) maupun arti (berupa tindakan) (Depkes
RI, 1997). Perawat bersifat favoble akan menyikapi kondisi pasien dengan
berprilaku positif, sehingga perawat akan bersikap peduli terhadap pasiennya,
dengan bersikap bagaimana perawatan pada pasien yang mengalami penyakit
menular misalnya : upaya perlindungan diri dengan tindakan pencegahan penyakit
menular. Bahwa upaya kewaspadaan penularan penyakit menular sangat penting
untuk perawat yang melakukan tindakan.
Data yang didapat oleh peneliti di Medical record RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu diperoleh data mengenai penyakit menular di RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu tahun 2012, yaitu diare 871 orang (8,71%), cacar, campak 19 orang
(0,19%), TBC 220 orang (2,2%), Hepatitis B 5 orang (0,05%), Penyakit kelamin
237 orang (2,37%), HIV 16 orang (0,16%). Jumlah penderita penyakit menular
1368 orang.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior) karena dari pengalaman dan
penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng
dari pada perilaku tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2008).
Pengetahuan yang diperoleh dari rasa ingin mengetahui terhadap suatu hal akan
berpengaruhi terhadap sikap seseorang.
Sikap seseorang adalah kompenen yang sangat penting dalam perilaku
kesehatannya, yang kemudian diasumsikan bahwa adanya hubungan langsung
antara sikap dan perilaku seseorang. Sikap positif seseorang terhadap kesehatan
kemungkinan tidak otomatis berdampak pada perilaku seseorang menjadi positif,
tetapi sikap yang negatif terhadap kesehatan hampir pasti berdampak negatif pada

perilakunya (Niven, 2008). Dapat disimpulkan semakin baik sikap seseorang akan
berpengaruh terhadap kesehatan.
Berdasarkan survey awal pada tanggal 01 maret tahun 2013 yang telah
dilakukan oleh peneliti di ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu didapatkan bahwa dari 10 orang perawat yang sedang berdinas pada
hari rabu pagi

orang perawat tidak mencuci tangan sebelum melakukan

tindakan 5 orang perawat tidak memakai handscoond saat memasang infuse dan
mengambil darah 2 orang

tidak memakai masker.

Seluruh perawat tidak

memakai skor saat menjahit luka. Hal ini menunjukan masih rendahnya upaya
perlindungan diri perawat, kondisi ini menurut peneliti akan sangat beresiko
terjadinya infeksi silang dari pasien terhadap perawat.
Berdasarkan data dan permasalahan diatas maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian tentang Hubungan Pengetahuan dan Sikap perawat tentang
upaya perlindungan diri dengan tindakan pencegahan penularan penyakit menular
di Ruang Instalasi Gawat Darurat Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.
TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Diketahui Hubungan pengetahuan dan sikap perawat tentang upaya
perlindungan diri dengan tindakan pencegahan penularan penyakit menular di
ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahui distribusi frekuensi pengetahuan tentang upaya perlindungan
diri dengan tindakan pencegahan penularan penyakit menular di Ruang
IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.
b. Diketahui distribusi frekuensi sikap perawat tentang upaya perlindungan
diri dan tindakan pencegahan penularan penyakit menular di Ruang IGD
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.
c. Diketahui tindakan pencegahan penularan penyakit menular di Ruang IGD
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.
d. Diketahui Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang Upaya Perlindungan
Diri dengan Tindakan Pencegahan Penularan Penyakit Menular di Ruang
IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.

e. Diketahui Hubungan Sikap Perawat Tentang Upaya Perlindungan Diri


dengan Tindakan Pencegahan Penularan Penyakit Menular di Ruang IGD
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian Analitik dengan desain penelitian ini
menggunakan pendekatan Cross sectional dengan variable dependen (tindakan
pencegahan penularan penyakit menular) dan independen (pengetahuan dan
sikap perawat) di ukur atau dikumpulkan sekaligus dalam waktu yang bersamaan
(Notoatmodjo, 2005).
TEKNIK PEGUMPULAN DATA
Dalam upaya mendapatkan data-data informasi yang jelas dan akurat
sehubungan dengan yang menulis rumusan dalam penelitian Alat ukur yang
digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah menggunakan
lembar observasi kousioner.
1. Sumber Data yang diperoleh langsung dari responden melalui kuisioner dan
observasi untuk mendapatkan pengetahuan dan sikap dengan tindakan
pencegahan data penyakit menular di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun
2013.
2. Data primer
Data yang dikumpulkan dari laporan dan pendokumentasian RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu mengenai data seluruh perawat bertugas di ruang IGD pada
tahun 2013.

HASIL PENELITIAN
Tempat pelaksanaan penelitian yaitu diruang IGD RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu adapun yang menjadi sampel adalah seluruh populasi dijadikan sampel
yaitu berjumlah 34 orang. Subjek penelitian ini adalah perawat pelaksana yang
4

melakukan tindakan keperawatan secara langsung kepada pasien. Secara


keseluruan adalah 34 orang, desain penelitian ini menggunakan pendekatan Cross
sectional dengan variable dependen (tindakan pencegahan penularan penyakit
menular) dan independen (pengetahuan dan

sikap

perawat) di ukur atau

dikumpulkan sekaligus dalam waktu yang bersamaan.


1.

Pengetahuan
Hasil penelitian dari 34 orang perawat di ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu tahun 2013. didapat hasil berdasarkan format pengambilan data
tentang pengetahuan dapat dilihat pada tabel 4.1 dibawah ini :
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Pengetahuan Perawat Tentang Upaya Perlindungan
Diri dengan tindakan pencegahan penularan penyakit menular
Di Ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013
Pengetahuan

Jumlah

Persentase

Pengetahuan Baik

10

29,4

Pengetahuan Kurang Baik

24

70,6

Total

34

100.0

Sumber : Hasil Olahan data


Berdasarkan Tabel 4.1 diatas, dari 34 orang perawat terlihat bahwa perawat
yang pengetahuan baik berjumlah 10 orang (29,4%) perawat dan pengetahuan
kurang baik 24 orang (70,6%) perawat .
2.

Sikap
Hasil penelitian dari 34 orang Perawat Pelaksana di Ruang IGD RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu dapat dilihat pada tabel 4.2 dibawah ini:

Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Sikap Perawat Tentang Upaya Perlindungan
Diri dengan tindakan pencegahan penularan penyakit menular
Di Ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2013.

Sikap

Jumlah

Persentase

Mendukung

17

50,0

Tidak Mendukung

17

50,0

Total

34

100.0

Sumber : Hasil Olahan data


Berdasarkan Tabel 4.2 di atas dari 34 orang perawat terlihat bahwa sikap
Mendukung berjumlah 17 orang (50,0%) perawat, dan sikap yang Tidak
Mendukung berjumlah 17 orang (50,0%) perawat.
3.

Tindakan pencegahan Penyakit Menular


Hasil penelitian dari 34 orang perawat di Ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu dapat dilihat pada tabel 4.3 dibawah ini :
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Tindakan Pencegahan Penularan Penyakit Menular
di Ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.
Tindakan Pencegahan Penularan
Penyakit Menular

Jumlah

Persentase

Melakukan

16

47,1

Tidak Melakukan

18

52.9

Total

34

100.0

Sumber : Hasil Olahan data


Berdasarkan Hasil tabel 4.3 diatas dari 34 orang perawat terlihat 16 orang
(47,1%) perawat yang melakukan Pencegahan Penularan Penyakit Menular,
dan

18 orang

(52,9%) perawat

yang tidak melakukan Pencegahan

penularan Penyakit menular di Ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu


tahun 2013.

Tabel 4
Tabulasi Silang Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang Upaya
Perlindungan Diri Dengan Tindakan Pencegahan penularan Penyakit
Menular Di Ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu Tahun 2013.
Pengetahuan

Tindakan pencegahan

Total

P value

OR (CI)

penularan penyakit menular


Melakukan
Tidak
Melakukan
n
%
n
%
Baik
6
60,0
4
40,0
Kurang Baik
12
50,0
12
50,0
Jumlah
18
52,9
13
47,1
Sumber : Hasil Olahan data
Dari

Hasil Tabel 4.4

n
10
24
34

%
100
100
100

0.715

0,667
(0,1492,979)

Diatas menunjukan dari 18 orang (52,9%)

perawat yang berpengetahuan baik terdapat 6 orang (60,0%) perawat


Melakukan Tindakan pencegahan
penularan penyakit menular dan 4 orang (40,0%) perawat yang tidak
melakukan pencegahan penularan penyakit menular dari 13 orang (47,1%)
perawat

yang berpegetahuan kurang baik

terdapat

12 orang (50,0%)

perawat Melakukan Tindakan pencegahan penularan penyakit menular dan


12 orang (50,0%) perawat yang Tidak Melakukan Tindakan pencegahan
penularan penyakit dari jumlah total perawat 34 orang.
Hasil uji statistik mendapatkan nilai p
disimpulkan

sehingga dapat

tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap perawat

tentang upaya perlindungan diri dengan tindakan pencegahan penularan


penyakit Menular di Ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.

Tabel .5
Tabulasi Silang Hubungan Sikap Perawat Tentang Upaya Perlindungan Diri
Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular Di Ruang IGD RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu Tahun 2013.
Tindakan pencegahan
penularan penyakit menular
Melakukan
Tidak
Melakukan
n
%
n
%
9
52,9
8
47,1

Sikap

Mendukung
Tidak
9
52,9
8
Mendukung
Jumlah
18
52,9
16
Sumber: Hasil olahan data

Total
n
17

%
100

47,1

17

100

47,1

34

100

P value

1,000

OR (CI)
1000 (0, 260
3,845)

Dari Hasil Tabel 4.5 Diatas menunjukan dari 18 orang perawat yang
bersikap mendukung terdapat 9 orang (52,9%) perawat Melakukan Tindakan
pencegahan penularan penyakit menular dan 8 orang (47,1%) perawat tidak
Melakukan Tindakan pencegahan penularan penyakit menular sedangkan dari
16 orang (47,1%) perawat yang memiliki sikap kurang mendukung terdapat
9 orang (52,9%) perawat yang melakukan tindakan pencegahan penularan
penyakit menular 8 orang (47,1%) perawat tidak melakukan pencegahan
penularan penyakit menular diruang IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
tahun 2013
Hasil uji statistik ditemukan nilai p = 1,000 sehingga dapat
disimpulkan

tidak ada Hubungan antara sikap Perawat Tentang Upaya

Perlindungan Diri Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular


PEMBAHASAN
1. Pengetahuan
Berdasarkan Tabel 4.1 diatas, dari 34 orang perawat terlihat bahwa
perawat yang pengetahuan baik berjumlah 10 orang (29,4%) orang dan
pengetahuan kurang baik 24 orang (70,6%)perawat.
Notoatmodjo (2005) Mengatakan pengetahuan adalah hasil tahu yang
terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.

Pengindran terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan,


pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan
domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
Mengatakan pengetahuan merupakan sesuatu yang ada dalam pikiran
manusia. Tanpa pikiran tersebut maka pengetahuan tidak akan ada dan untuk
tetap ada terdapat unsur yang membentuk struktur pikiran manusia Hidayat
(2004).
2. Sikap
Berdasarkan Tabel 4.2 di atas dari 34 orang perawat terlihat bahwa
sikap Mendukung berjumlah 17 orang (50,0%) perawat, dan sikap yang Tidak
Mendukung berjumlah 17 orang (50,0%) perawat.
Menurut Notoatmodjo (2005), sikap adalah juga respon tertutup
seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor
pendapat dan emosi yang bersangkutan.
Menurut Newcomb, salah seorang ahli psikologis sosial, menyatakan
bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk suatu tindakan atau
aktifitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu prilaku. Sikap
merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku
yang terbuka. sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di
lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
3. Tindakan Pencegahan Penularan penyakit menular
Berdasarkan Hasil tabel 4.3 diatas dari 34 orang perawat terlihat 16
orang (47,1%) perawat yang melakukan Pencegahan Penularan Penyakit
Menular, dan 18 orang (52,9%) perawat yang tidak melakukan Pencegahan
penularan Penyakit menular.
Perlengkapan perlindungan diri yang dipakai petugas harus menutupi
bagian-bagian tubuh petugas mulai dari kepala hingga telapak kaki.
Perlengkapan ini terdiri dari tutup kepala, masker, sampai dengan alas kaki.
Perlengkapan-Perlengkapan ini tidak harus digunakan dipakai semuanya

bersamaan, tergantung dari tingkat resiko saat mengerjakan prosedur dan


tindakan medis Serta perawatan.
Tindakan Pencegahan terbagi atas 3 tingkatan yaitu (primary
prevention)

seperti promosi kesehatan dan pencegahan khusus dan

Pencegahan tingkat (secondary prevention) seperti diagnosis dini serta


pengobatan tepat. Sasarannya ialah pada penderita/seseorang yang dianggap
menderita (suspect) & terancam menderita. Tujuannya adalah untuk diagnosis
dini & pengobatan tepat (mencegah meluasnya penyakit/timbulnya wabah &
proses penyakit lebih lanjut/akibat samping & komplikasi). pencegahannya
ialah seperti pencarian penderita, (Prepatogenesis/patogenesis

penyakit

tertentu). Tindakan pencegahan skunder yang paling penting adalah skrining


kesehatan. Tujuannya bukan untuk mencegah terjadinya penyakit tetapi lebih
untuk mendeteksi keberadaanya selama masa pathogenesis awal, sehingga
intervensi (pengobatan) dini dan pembatasan disabilitas sudah dapat
dilakukan. Tujuan skrining kesehatan juga bukan untuk mendiagnosis
penyakit, tujuannya adalah memilah secara ekonomi dan efisien mereka yang
kemungkinan sehat dari mereka yang kemungkinan positif terjangkit penyakit.
Pencegahan tingkat (tertiary prevention) seperti pencegahan terhadap
cacat dan rehabilitasi. Sasarannya adalah penderita penyakit tertentu.
Tujuannya ialah mencegah jangan sampai mengalami cacat & bertambah
parahnya penyakit juga kematian dan rehabilitasi (pengembalian kondisi
fisik / medis, mental / psikologis & sosial, serta melatih kembali, mendidik
kembali, dan merehabilitasi pasien yang mengalami disabilitas permanen.
tindakan pencegahan tersier mencakup tindakan yang diterapkan setelah
berlangsungnya masa patogenesis. terapi untuk pasien jantung merupakan
contoh pencegahan tersier.
4. Hubungan

Pengetahuan

dan

Sikap

Perawat

Tentang

Upaya

Perlindungan Diri Dengan Tindakan Pencegahan Penularan Penyakit


menular Di Ruang IGD RSUD DR. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.
Dari Hasil Tabel 4.4 Diatas menunjukan dari 18 orang (52,9%) perawat
yang berpengetahuan baik terdapat 6 orang (60,0%) perawat

10

Melakukan

Tindakan pencegahan penularan penyakit menular dan 4

orang (40,0%)

perawat yang tidak melakukan pencegahan penularan penyakit menular dari


13 orang (47,1%) perawat yang berpegetahuan kurang baik terdapat

12

orang (50,0%) perawat Melakukan Tindakan pencegahan penularan penyakit


menular dan 12 orang (50,0%) perawat yang Tidak Melakukan Tindakan
pencegahan penularan penyakit dari jumlah total perawat 34 orang.
Hasil uji statistik mendapatkan nilai
disimpulkan

tidak

sehingga dapat

ada hubungan antara pengetahuan dan sikap perawat

tentang upaya perlindungan diri dengan tindakan pencegahan penularan


penyakit Menular di Ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.
Nilai OR yang diperoleh dari hasil analisis yaitu 0,715 artinya responden
yang berpengetahuan kurang baik berisiko kali tidak melakukan dari pada
responden yang Pengetahuan Baik.
Upaya perlindungan diri perawat pada hakekatnya menggambarkan
kinerja Tenaga keperawatan dalam melakukan asuhan keperawatan. Dimana
menurut knowledge pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, tau hasil
tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung,
telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga
menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas
perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang
diperoleh melalui indra pendegaran (telinga), dan indra penglihatan (mata).
Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat
yang berbeda - beda. (Notoatmodjo, 2010).
5. Hubungan Sikap Perawat Tentang Upaya Perlindungan Diri Dengan
Tindakan PencegahanPenularan Penyakit Menular.
Dari Hasil Tabel 4.5 Diatas menunjukan dari 18 orang (52,9%) perawat
yang bersikap mendukung terdapat 9 orang (52,9%) perawat Melakukan
Tindakan pencegahan penularan penyakit menular dan 8 orang (47,1%)
perawat dari 16 orang yamg memiliki sikap Kurang mendukung (47,1%)
perawat tidak Melakukan Tindakan pencegahan penyakit menular 9 orang
(52,9%) perawat

Melakukan Tindakan pencegahan penularan penyakit

11

menular dan 8 orang (47,1%) perawat

yang Tidak Melakukan Tindakan

pencegahan penularan penyakit dari jumlah total perawat 34 orang.


Hasil uji statistik ditemukan nilai p = 1,000 sehingga dapat disimpulkan
Tidak ada Hubungan antara sikap Perawat Tentang Upaya Perlindungan Diri
Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular
Nilai OR yang diperoleh yaitu 1,000 artinya, sikap perawat yang Tidak
Mendukung berisiko 1,000 kali untuk tidak melakukan Tindakan pencegahan
penularan penyakit menular bila dibandingkan dengan sikap perawat yang
mendukung.
Sikap adalah juga respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau
objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang
bersangkutan (senang- tidak senang, setuju - tidak setuju, baiktidak baik).
Campbell (1950) mendefinisikan sangat sederhana, bahwa sikap itu suatu
sindrom atau kumpulan gejala dalam merepons stimulus atau objek sehingga
sikap itu melibatkan pikiran, perasaan, perhatian, dan gejala kejiwaan lainnya.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh
Ria Oktarina (2011), dengan judul : Hubungan pengetahuan perawat terhadap
proteksi diri dalam pencegahan penularan penyakit di Ruang IGD RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu tahun 2011 Perbedaan penelitian ini dengan penelitian
sebelumya adalah desain penelitian

samasama menggunakan cross

sectional , adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian


sebelumnya, sebelumnya mengunakan 1 variabel independen (Pengetahuan
perawat) 1 variabel dependen (proteksi diri dalam pencegahan penyakit
menular) sedangkan penelitian ini menggunakan
(Pengetahuan dan Sikap perawat)

2 variabel independen

dan 1 variabel dependen (Tindakan

Pencegahan penyakit menular) sedangkan tempat penelitian adalah sama.


KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, dengan uji statistik Chi - square
yang dilakukun terhadap Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Perawat Tentang
Upaya Perlindungan Diri Dengan Tindakan Pencegahan Penularan Penyakit

12

Menular di Ruang IGD RSUD Dr. M Yunus Bengkulu maka dapat diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
1. Dari 34 orang perawat terlihat bahwa perawat yang pengetahuan baik
berjumlah 10 orang (29,4%) perawat dan pengetahuan kurang baik 24 orang
(70,6%) perawat.
2. Dari 34 orang perawat terlihat bahwa sikap Mendukung berjumlah 17 orang
(50,0%) perawat, dan sikap yang Tidak Mendukung berjumlah 17 orang
(50,0%) perawat .
3. Dari 34 orang perawat terlihat 16 orang (47,1%) perawat
Pencegahan Penularan Penyakit Menular, dan

yang melakukan

18 orang (52,9%) perawat

yang tidak melakukan Pencegahan penularan Penyakit menular di Ruang IGD


RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.
4. Tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap perawat tentang upaya
perlindungan diri dengan tindakan pencegahan penularan penyakit Menular di
Ruang IGD RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2013.
5. Tidak ada Hubungan antara sikap Perawat Tentang Upaya Perlindungan Diri
Dengan Tindakan Pencegahan Penyakit Menular di Ruang IGD RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu tahun 2013.
SARAN
Dari kesimpulan yang diperoleh maka ada beberapa Saran yang dapat
diberikan diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Bagi RSUD M. Yunus Bengkulu
Hasil penelitian ini di harapkan dapat menambah referensi dan dapat di
jadikan acuan tentang upaya perlindungan diri dengan tindakan pencegahan
penularan penyakit menular sehingga perawat dapat melakukan perawatan
dengan aman dan nyaman.
2. Bagi perawat
Hasil penelitian ini di harapkan dapat menjadi acuan bagi perawat agar
perawat dapat mengetahui dan menyadari bahwa setiap tindakan yang
dilakukan akan membawa dampak bagi pasien dan perawatdapat melakukan

13

tindakan dengan penuh ketelitian, kehati-hatian diri demi mencegah penularan


penyakit dalam setiap tindakan.
3. Bagi institusi
Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberi masukan dan referensi kepada
siswa mengenai pencegahan penularan penyakit menular serta dapat menjadi
acuan bagi peneliti lainnya yang ingin melakukan peneliti serupa sehingga
mampu menyempurnakan penelitian.

14

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,

S. ( 2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik.


IVJakarta : Rineka Cipta.

edisi

Aziz alimul, (2007). Metode penelitian keperawatan dan teknik alalisa


data.Jakarta : PT. Selemba Medika
Budiman, Eko. (2003) . Metodelogi Penelitian kedokteran. Jakarta : EGC.
Depkes RI, (2006). Informasi ringkasan paradikma sehat indonesia sehat 2010.
Jakarta: Pusdesnakes
___________________. (2007). Pedoman perlindungan diri perawat. Jakarta:
Depkes RI.
_________________. (2009). Pedoman perlindungan diri perawat.
Depkes RI Ilyas, ( 2006). Kinerja perawat. Jakarta: EGC.

Jakarta:

Notoatdmojo, (2005). Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta : Rineka cipta.


Notoadmojo, (2006). Metode penelitian kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatdmojo, (2010). Metode penelitian kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
Notoatmodjo, (2010). Ilmu perilaku kesehatan. Jakarta : Rineka cipta.
Niven, N. ( 2008). Psikologi Kesehatan. Penerbit buku kedokteran. EGC, Jakarta.
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, (2012). Penyakit menular. Laporan RSUD Dr.
M. Yunus Bengkulu.
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, (2012). Laporan tahunan rekam medik. RSUD
Dr. M. Yunus tahun 2012. Bengkulu.
Sheaffer, S. d . dkk. (2006). Pencegahan infeksi dan peraktek yang aman. edisi I
cetakan I, penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.
RifaI, dkk. (2012). Pedoman penulisan skripsi program studi ilmu keperawatan.
Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

15