Anda di halaman 1dari 6

KETERAMPILAN MEMBUKA DAN

MENUTUP PELAJARAN
Telah hadir netbook Islamy Anda Tertarik klik tautan dibawah ini
http://www.ahmadzainuddin.com/netbookislami/?id=sabeni

Membuka Pelajaran
Kalimat-kalimat awal yang diucapkan guru merupakan penentu keberhasilan jalannya seluruh pelajaran.
Tercapainya tujuan pengajaran bergantung pada metode mengajar guru di awal pelajaran. Seluruh rencana dan persiapan
sebelum mengajar dapat menjadi tidak berguna jika guru gagal dalam memperkenalkan pelajaran. Dalam tahap ini, yang
perlu dilakukan terlebih dahulu adalah menetapkan sikap dan minat yang benar di antara anggota kelas.
Hubungan dengan Kelas
Ada banyak hal yang masih memikat perhatian murid di luar ruangan kelasnya. Hal tersebut dapat membuat murid tidak
memerhatikan pelajaran yang disampaikan. Untuk mengatasi hal ini, guru dapat menetapkan titik hubungan antara murid
dan pelajaran yang disampaikan. Pembukaan pelajaran harus sesuai dengan minat dan kebutuhan murid. Guru juga harus
dapat membangkitkan minat belajar sampai murid dapat memusatkan perhatian mereka kepada pelajaran. Pembukaan
pelajaran dengan metode yang terbaik pun tidak akan ada manfaatnya jika tidak mampu membawa murid untuk
memusatkan perhatian mereka kepada pelajaran.
Berikut ini beberapa cara yang dapat membangkitkan minat dan perhatian murid saat guru mulai mengajarkan pelajarannya.
1. Berita-berita terkini
Berita terkini yang sedang marak dibicarakan atau sedang menjadi perhatian dalam masyarakat dapat dipakai untuk
mendapatkan minat murid. Murid-murid kelas besar biasanya membaca surat kabar, majalah, mendengarkan radio,
dan menonton televisi. Mereka memunyai perhatian pada banyak hal. Guru bisa mendapatkan berita-berita terkini
melalui media-media tersebut. Untuk murid- murid kelas kecil, mereka biasa menanggapi kejadian-kejadian yang
berkaitan dengan sekolah atau permainan mereka. Guru yang sangat mengetahui aktivitas murid-muridnya sepanjang
minggu itu pasti tidak akan menemukan kesulitan dalam hal ini. Adapun informasi tersebut dapat berupa kegiatan
murid sepanjang minggu yang bisa diperoleh dengan menanyakannya pada murid.
2. Cerita dan Lukisan
Sebuah cerita yang diceritakan dengan metode yang baik akan membangkitkan dan mempertahankan minat murid
terhadap pelajaran yang sedang disampaikan. Sebuah gambar atau benda bisa sangat menarik perhatian anak.
Lukisan dari kehidupan sehari-hari merupakan pilihan yang baik untuk menarik minat dan menanamkan sebuah
kebenaran kepada mereka.
3. Laporan Tentang Tugas-tugas
Umumnya, manusia lebih tertarik dengan aktivitasnya sendiri. Oleh karena itu, usahakan untuk membahas pekerjaan
rumah murid di awal pelajaran. Kegiatan tersebut bisa menambah semangat murid untuk memulai pelajaran. Selain
itu, dengan membahas tugas-tugas yang sudah murid kerjakan di rumah, perhatian kelas dapat diarahkan kepada
makna dan pentingnya belajar sendiri. Jangan lupa untuk menyatakan penghargaan atas usaha murid-murid yang
telah belajar di rumah.
4. Persoalan Yang diandalkan
Persoalan atau pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan dalam pelajaran hendaknya merupakan hal-hal yang biasa
terjadi dalam kehidupan murid. Misalnya, Apa yang akan kaukatakan seandainya ada orang yang bertanya mengapa
engkau pergi ke gereja? atau Apa yang kau lakukan seandainya kamu disalahkan atas perbuatan yang tidak kamu
lakukan? Persoalan harus disesuaikan sedemikian rupa sehingga mengarah pada pelajaran yang akan disampaikan.
5. Pemakaian Alat Peraga
Sebuah gambar, peta, benda, atau alat peraga yang lain dapat digunakan secara efektif untuk menumbuhkan minat
murid terhadap pelajaran.
6. Menghubungkan Pelajaran
Saran-saran berikut ini merupakan cara-cara yang efektif untuk mengenalkan sebuah pelajaran.
a. Hubungkan pelajaran dengan pelajaran-pelajaran sebelumnya
Setiap pelajaran baru yang diajarkan merupakan bagian dari kurikulum yang sudah ditetapkan. Pelajaran itu harus
dihubungkan dengan pelajaran-pelajaran lain agar menarik perhatian murid dan menajamkan pengertian mereka
terhadap rangkaian pelajaran tersebut. Pelajaran dalam pertemuan sebelumnya harus diulang untuk dihubungkan
dengan pelajaran yang baru. Hal ini juga dapat menolong murid untuk mengetahui hubungan antara pelajaranpelajaran yang telah disampaikan dengan materi pelajaran yang lalu . Metode untuk menghubungkan pelajaran
yang sekarang dengan pelajaran sebelumnya harus divariasikan. Seorang guru tidak akan kehilangan waktu

mengajarnya bila mengulang pelajaran sebelumnya. Jika seorang guru memunyai waktu 35 menit untuk mengajar,
gunakan waktu lima menit pertama untuk menetapkan titik hubungan.
b. Umumkan pokok pelajaran secara wajar
Tidak perlu mengumumkan pokok pelajaran secara resmi. Yang penting adalah bagaimana kita dapat
menyajikannya dengan lebih menarik, tetapi penuh dengan keterangan. Penyampaian pokok pelajaran harus
menarik minat murid seperti halnya penyampaian pokok berita dalam sebuah surat kabar.
c. Nyatakan sasaran dan tujuan pelajaran
Banyak pendapat mengenai penyampaian sasaran dan tujuan pelajaran kepada murid. Ada yang berpendapat,
sebaiknya hal tersebut disampaikan di akhir pelajaran. Ada juga yang berpendapat untuk menyampaikannya di
awal pelajaran. Tidak semua pelajaran harus dilakukan dengan cara yang sama. Jika pelajaran tersebut, misalnya
mengenai larangan minuman keras dalam ajaran Islam misalnya, lebih baik sasaran dan tujuan disampaikan di
awal pelajaran.
d. Garis besar harus jelas
Menyampaikan pokok pikiran atau garis besar pelajaran untuk menarik perhatian sangatlah penting. Penyampaian
ini seperti halnya penyampaian tajuk rencana dalam sebuah surat kabar yang dapat menarik minat para pembaca
untuk melihat lebih lanjut tulisan-tulisan dalam surat kabar tersebut. Garis besar pelajaran bisa disampaikan
dengan lengkap atau hanya ringkasannya saja.
Menguraikan Pelajaran
Setelah memperkenalkan pelajaran, guru harus mengajarkan pelajaran sesuai dengan rencana yang telah
disiapkan. Mutu persiapan dapat terlihat pada waktu pengajaran itu disampaikan. Satu hal yang perlu diingat, jika tidak ada
murid yang belajar dari pengajaran tersebut, itu berarti guru belum mengajarkan pelajaran itu. Evaluasi yang terbaik
bukanlah apa yang dikatakan guru, tetapi apa yang dipelajari oleh murid.
Merangsang Pikiran
Mengajukan pertanyaan merupakan metode yang efektif untuk merangsang pikiran murid. Pancing murid untuk memikirkan
sedalam mungkin setiap uraian yang disampaikan oleh guru. Pengujian murid secara teratur bisa menjaga perhatian murid
untuk tetap tajam sehingga guru dapat mengetahui sejauh mana murid mendapat manfaat dari pelajaran itu.
Satu cara untuk menuntun pikiran adalah dengan menerapkan pola pemikiran yang deduktif. Pola ini dimulai dengan guru
menyebutkan satu prinsip atau pernyataan umum yang diikuti sejumlah lukisan atau ilustrasi. Kemudian libatkan murid
dengan meminta mereka mencari contoh-contoh selanjutnya dari kehidupan mereka sendiri.
Doronglah Pengungkapan
Selain dirangsang untuk berpikir, murid juga perlu didorong untuk mengungkapkan pikirannya. Doronglah murid dengan
menolong mereka mengemukakan penafsiran dan pengertiannya sendiri mengenai pelajaran itu. Cara yang terbaik untuk
melaksanakan hal ini ialah dengan metode pengajaran induktif. Mula-mula guru mendapat bantuan murid untuk
mengumpulkan fakta atau ilustrasi yang ada hubungannya dengan pelajaran. Sebagai hasilnya, murid-murid akan dapat
menemukan hukum- hukum, prinsip-prinsip umum, atau tujuan pelajaran itu sendiri. Pengetahuan atau pengalaman muridmurid dapat dipakai untuk mencapai prinsip ini.
Menerapkan Kebenaran
Guru perlu membimbing murid-muridnya dalam keadaan khusus di mana murid harus mempraktikkan prinsip-prinsip iman
Kristen mereka. Hal ini bisa membawa pertumbuhan rohani yang baik bagi murid. Guru yang terus-menerus menitikberatkan
penerapan maupun pengetahuan yang diperoleh murid dapat membawa murid-muridnya belajar dan menerapkan pelajaran
itu pada pilihan, tingkah laku, tindakan, sikap, dan keseluruhan hidup rohani mereka.

MENUTUP PELAJARAN
Jangan akhiri pelajaran dengan tiba-tiba. Penutup harus dipertimbangkan dengan sebaik mungkin agar sesuai. Guru perlu
merencanakan suatu penutup yang tidak tergesa-gesa dan juga dengan doa sekitar tiga sampai lima menit.
1. Merangkum Pelajaran
Sebagai penutup, hendaknya guru memberikan ringkasan dari pelajaran yang sudah disampaikan. Ringkasan pelajaran
sudah tidak lagi berupa diskusi kelas atau penyampaian garis besar pelajaran, tetapi berisi ringkasan dari hal-hal yang
disampaikan selama jam pelajaran dengan menekankan fakta dasar pelajaran tersebut. Misalnya, kebenaran- kebenaran
yang penting dalam pelajaran, pelajaran praktis yang telah diajarkan.
2. Menyampaikan Rencana Pelajaran Berikutnya
Waktu menutup pelajaran merupakan saat yang tepat untuk menyampaikan rencana pelajaran berikutnya. Guru dapat
memberikan kilasan pelajaran untuk pertemuan berikutnya. Diharapkan hal ini dapat merangsang keinginan belajar
mereka.

Sebelum kelas dibubarkan, ungkapkanlah pelajaran yang akan disampaikan minggu depan dan kemukakan rencanarencana di mana murid dapat mengambil bagian dalam pelajaran mendatang.
3. Bangkitkan minat
Guru tentu ingin murid-muridnya kembali di pertemuan berikutnya dengan penuh semangat. Oleh karena itu, biarkan
murid pulang ke rumah mereka dengan satu pertanyaan atau pernyataan yang mengesankan, yang dapat
membangkitkan minat dan rasa ingin tahu mereka. Sama seperti seorang penulis yang mengakhiri sebuah bab dalam
cerita bersambung, yang membuat pembaca ingin segera tahu bab berikutnya. Dengan cara yang sama, guru dapat
mengakhiri pelajarannya dengan penutup yang berklimaks sehingga seluruh kelas menantikan pelajaran berikutnya
dengan tidak sabar.
4. Memberikan tugas
Tugas-tugas harus direncanakan dengan saksama, bahkan sebelum pelajaran dimulai. Perlu diingat pula sikap guru
yang bersemangat dalam memberikan tugas akan mempengaruhi minat dan semangat para anggota kelas.
Daftar Pustaka
Brown, George. Micro Teaching: A Programme of Teaching Skills. New York: Metheuen Inc., 1984
Cole, G. Peter and Lorna K.S. Chan. Teaching Principles and Practice. New York: Prentice Hall, 1990
Jacobsen, David, Paul Eggen and Donald Kauchak. Methods for Teaching: A Skills Approach. Ohio: Merril Publishing
Company, 1989
Wiryawan, Sri Anitah dan Noorhadi. Strategi Belajar Menagajar. Jakarta: UT, 1999

Motivasi BelajarMembangun Fondasinya Di Hari-Hari Awal Pembelajaran Kita


Juli 23, 2008suhadinetTinggalkan komentarGo to comments

Author: Suhadi
Awal tahun ajaran baru sudah di mulai. Bagi guru, saat-saat seperti sekarang ini adalah saat yang paling tepat untuk
mencuri hati siswa. Mencuri hati di sini bukan dalam artian mencuri hati pada hubungan antara seorang lelaki dengan
seorang perempuan. Mencuri hati di sini adalah dalam maksud untuk membentuk imej positif kita di depan siswa-siswa
baru itu.
Mengapa guru harus mencuri hati siswa? Wah, jika anda guru, saya yakin anda sudah tahu apa keuntungannya. Jika kita
berhasil mencuri hati mereka dengan membentuk imej positif melalui kepribadian yang menyenangkan, siswa-siswa akan
selalu merindukan kehadiran kita di kelas mereka. Ini sama artinya kita telah mengikat separuh motivasi belajar siswa
untuk belajar bersama kita pada hari-hari selanjutnya.
Saya ingin berbagi sedikit tips untuk memulai tahun ajaran baru agar dapat dijadikan pijakan yang bagus. Keberhasilan
kita meletakkan fondasi motivasi belajar terhadap mata pelajaran yang kita ampu akan sangat bermanfaat untuk
pembelajaran sepanjang semester yang akan dilewati. Hari-hari di awal kita memasuki sebuah kelas baru, bertemu dengan
siswa-siswa baru adalah momen yang sangat berharga untuk dilewatkan sekedarnya saja. Manfaatkan momen berharga ini
untuk memercikkan bunga api motivasi belajar siswa, untuk dijaga dan dikobarkan menjadi lebih besar pada pertemuanpertemuan selanjutnya. Yakinlah, bila kita berhasil pada hari-hari pertama ini mencuri hati mereka, maka pertemuanpertemuan pada pembelajaran selanjutnya akan berjalan dengan lebih mulus.

1.

2.

3.

4.

Berikut beberapa tips yang dapat saya bagi untuk guru-guru yang pada awal tahun ajaran baru ini akan bertemu dengan
siswa-siswa baru:
Kenalkan diri kita dengan cara yang tak biasa. Banyak guru seringkali hanya mengenalkan diri seadanya saat
memulai pembelajaran di kelas baru. Mereka tidak sadar bahwa ini momen yang sangat penting. Kita bisa memulai dengan
humor yang relevan dan sopan.
Gunakan daftar presensi untuk berkenalan satu per satu dengan siswa baru. Ingatlah dengan baik beberapa di
antara mereka yang menonjol. Gunakan nama-nama yang telah kita kenali itu untuk berinteraksi. Sebut nama mereka
dengan lantang.
Jangan ragu pula untuk berinteraksi dengan siswa-siswa yang kita lupa (belum hafal) namanya, karena ini juga
harus dilakukan. Bila kita belum bisa ingat nama mereka, bikinlah ekspresi kalau kita sengaja menyalahkan menyebut
namanya. Atau, kita dapat mengungkapkan kekeliruan kita dan meminta maaf. Ekspresikan kekeliruan kita, tapi dengan
cara yang menyenangkan.
Jangan minta mereka memperkenalkan diri satu per satu, karena itu akan monoton dan memakan waktu. Cari
siswa yang periang dan tak pemalu, untuk berbicara di bangku mereka. Untuk siswa pemalu dan pendiam, kita bisa

5.

6.

7.
8.
9.

memintanya maju ke depan kelas. Minta mereka untuk belajar bersuara dengan lantang. Ini bagus untuk melatih mereka
tampil di depan kelas. Tapi tetap diingat, siswa pemalu yang diminta ke depan bukan untuk dijadikan sumber lelocun. Jadi
ajari semua siswa untuk tidak mentertawakan teman, apalagi yang sedang berada di depan kelas atau yang sedang belajar
berbicara di depan orang banyak. Ajari mereka untuk tidak mempermalukan orang lain.
Kita harus bergerak ke seluruh bagian kelas secara enerjik dan bertujuan. Pancarkan antusiasme kita terhadap
setiap pribadi siswa yang sedang diajak berkenalan, baik terhadap hobi, cara mereka berbicara, keunikan gaya rambut
mereka, atau apa saja yang kira-kira menyenangkan hati mereka. Bergerak ke seluruh bagian kelas bukan berarti kita
sekedar mondar-mandir saja.
Pasang wajah yang ekspresif, banyak tersenyum, dan tertawa seperlunya. Bila kita bercerita atau mendengar cerita,
tentu emosi harus terlibat. Tunjukkan itu melalui ekspresi di wajah kita, mungkin dengan gerakan tangan, alis, atau sorot
mata, bahkan seluruh tubuh.
Atur selalu nada, volume, maupun kecepatan suara saat kita berbicara. Elemen-elemen itu sangat penting untuk
menjaga siswa-siswa baru tetap fokus pada apa yang sedang kita percakapkan.
Gunakan kontak mata untuk menunjukkan bahwa kita serius dan memperhatikan mereka. Jangan sampai kita salah
menanggapi atau salah dengar apa yang mereka katakan.
Buat aturan kelas kita secara demokratis, atas dasar kesepakatan bersama (siswa-guru) untuk tujuan kebaikan
pembelajaran di kelas kita. Mereka akan lebih menghargai aturan itu nantinya. Misalnya, apakah boleh
menghidupkan handphone? Berapa kali boleh keluar untuk pipis, beserta konsekuensinya jika melanggar, bagaimana cara
mengajukan pertanyaan atau pendapat: misal harus acung tangan dulu dan baru bicara bila diberi kesempatan oleh guru, dll.
Semoga bisa bermanfaat.

Metode Perkenalan Kelas di Hari Pertama Mengajar

Latar Belakang
Menjadi guru baru di sebuah sekolah merupakan sebuah tantangan tersendiri. Seringkali karena kendala
bahasa, psikis anak yang tidak nyaman dengan kehadiran orang baru, guru yang grogi dan gugup, atau malah
terlalu percaya diri membuat pertemuan pertama di sekolah menjadi kacau. Gagal menampilkan kesan
pertama biasanya berbuntut panjang di kemudian hari. Anak-anak menjadi malu, segan, atau bahkan takut
karena kesalahanmetode saat pertemuan pertama dengan guru barunya.
Untuk itu penting bagi Pengajar Muda yang memasuki kelas baru untuk mengelola kelas dengan segera.
Kasus ini saya dapati ketika saya, sebagai Pengajar Muda (PM), pertama kali memasuki kelas. Oleh karena itu,
metode maupun sudut pandang tulisan akan sangat terkait dengan Pengajar Muda (PM). Saya yakin, guru
yang lebih berpengalaman akan lebih mudah untuk mengatasi kondisi semacam ini.

Masalah
Masalah yang PM dapatkan ketika pertama kali datang mengajar ke sekolah adalah:

1.

PM ada di lingkungan dengan budaya, adat, dan bahasa yang benar-benar


berbeda dari daerah asal PM.
2.
Sudah ada 2 PM pendahulu yang dicintai anak-anak, sehingga anak-anak
cenderung membandingkan. Sulit bagi PM baru untuk mengambil perhatian anak-anak
dengan cepat.
3.
PM pendahulu baru saja pergi sehingga masih ada perasaan sedih di hati anakanak.
4.
Saat PM datang, UTS tinggal satu bulan lagi, sehingga PM harus bisa dengan cepat
menarik perhatian anak-anak.

Tujuan
Tujuan dari metode ini adalah memberikan alternatif bagi guru agar bisa menarik perhatian anak-anak dengan
segera sejak pertama kali masuk kelas.

Metode
Sasaran
Siswa kelas 4,5,6. Rata-rata 10-15 orang.

Alat yang Dipakai


Bahasa daerah yang dikuasai, cinderamata khas daerah asal atau benda lain yang sekiranya belum pernah
ditemui anak-anak sebelumnya.
Dalam hal ini PM membawa Kartu Pos bertuliskan ucapan dari PM di daerah lain.

Alur
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Guru memperkenalkan diri dengan bersemangat di depan kelas. Berikan sedikit ice
breaking yang menarik.
Secara bergantian guru meminta murid memperkenalkan dirinya secara singkat.
Guru mengulangi perkenalan namun menggunakan bahasa daerah asal/bahasa
asing.
Guru meminta murid memperkenalkan diri menggunakan bahasa setempat.
Guru bercerita sedikit mengenai daerah asal dan ciri khasnya sambil menunjukkan
cinderamata yang akan diberikan.
Guru memberi tantangan kepada murid untuk menuliskan sebanyak mungkin
bahasa daerah setempat, bisa dikelompokkan menjadi kata benda, kata sifat, kata kerja,
dll.
Murid yang paling banyak menuliskan bahasa setempat mendapatkan
cinderamata khas daerah asal Guru (pemenang cinderamata bisa divariasikan sesuai
kondisi kelas).
Setelah guru mendapatkan daftar kata dari murid, guru mengambil salah satu
catatan murid kemudian balik mengajari murid bahasa daerah asal Guru.

Penutup
Dengan menggunakan metode ini PM merasakan kemudahan, antara lain:

1.
2.

Cepat mengerti kata-kata sederhana yang biasa dipakai sehari-hari.


Anak-anak menjadi lebih akrab dalam waktu yang singkat.