Anda di halaman 1dari 4

Legal Etik Terapi Electrokonvulsif (ECT)

Pemberian electroconvulsive therapy ( ECT ) pada pasien dengan gangguan jiwa


menjadi dilema etik dalam penerapannya karena dilihat dari efek samping yang dapat
terjadi seperti gangguan pada memori ( retrograde dan anterograde amnesia ) menjadi
pertimbangan dalam pelaksanaannya. Studi etik dalam perawatan kesehatan menekan
pada pemecahan dilema etik yang sering terjadi karena telah begitu banyak situasi yang
membingungkan secara moral muncul dalam perawatan kesehatan, namun etik tidak
boleh berkurang menjadi hanya suatu pertimbangan terhadap masalah sulit. Etik
keperawatan dihubungkan dengan hubungan antar masyarakat dan dengan karakter
serta sikap perawat terhadap orang lain. Pengetahuan perawat diperoleh melalui
keterlibatan pribadi dan emosional dengan orang lain dengan ikut terlibat dalam masalah
moral mereka, (cooper, 1991). Etik keperawatan merupakan sudut pandang pada apa
yang baik dan benar untuk kesehatan dan kehidupan manusia. Mengarahkan bagaimana
seorang perawat harus bertindak dan berinteraksi dengan orang lain. Perawat etis
bertindak dan memperlakukan orang lain dengan cara tertentu yang konsisten dengan
norma keperawatan.

Kode etik keperawatan membantu perawat dalam pertimbangan moral, dimana prinsip
moral dalam praktek keperawatan tersebut yaitu :
a.

Autonomi
Setiap orang mempunyai kebebasan untuk memilih rencana kehidupan dan cara
mengatur dirinya. Menghargai harkat dan martabat manusia sebagai individu yang dapat
memutuskan yang terbaik untuk dirinya. Setiap tindakan keperawatan harus melibatkan
pasien dan berpartisipasi dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan asuhan
keperawatan. Dalam pemberian terapi pasien memiliki kebebasan menerima semua
prosedur terapi yang akan diberikan.

b.

Beneficience

Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan orang lain. Perawat
secara

moral

berkewajiban

membantu

orang

lain

melakukan

sesuatu

yang

menguntungkan dan mencegah timbulnya bahaya. Dilihat dari tujuan pemberian


electroconvulsive therapy ( ECT ) baik untuk kesembuhan pasien jiwa dan sesuai dengan
prinsip tersebut.
c.

Nonmaleficience
Merupakan penghindaran dari bahaya, dapat dilihat kontinum rentang dari bahaya yang
tidak berarti sampai menguntungkan orang lain dengan melakukan yang baik. Menuntut
perawat

menghindari

yang

membahayakan

pasien

selama

pemberian

asuhan

keperawatan. Dari prinsip ini pemberian electroconvulsive therapy ( ECT ) tidak sesuai
karena dapat menimbulkan bahaya, namun jika dilihat dari tujuan pemberian
pelaksanaan terapi ini sesuai dengan prinsip beneficience yang semata-mata untuk
kesembuhan pasien jiwa.

d.

Justice
Merupakan suatu prinsip moral untuk berlaku adil terhadap semua pasien sesuai dengan
kebutuhan. Setiap individu mendapat tindakan yang sama berarti mempunyai kontribusi
yang relatif sama untuk kebaikan kehidupan seseorang. Prosedur terapi ini pada setiap
orang yang menerimanya akan sama dalam setiap pelaksanaannya.

e.

Kejujuran, Kesetiaan dan Kerahasiaan


Kejujuran adalah kewajiban untuk mengungkapkan yang sebenarnya atau tidak
membohongi pasien didasarkan pada hubungan saling percaya. Kerahasiaan adalah
kewajiban untuk melindungi informasi rahasia. Kesetiaan adalah kewajiban untuk
menepati janji. Dalam pelaksanaan terapi ini perawat harus secara jujur memberi

informasi mengenai segala tindakan yang akan dilakukan baik itu tujuan, efek samping
maupun biaya dari tindakan yang akan dilakukan.

Dalam perawatan kesehatan, pasien jiwa dan keluarga seringkali memiliki persepsi yang
berbeda yang sebabkan oleh penyakit pasien, kurang informasi teknis, regresi yang
disebabkan oleh rasa sakit dan penderitaan, serta lingkungan yang tidak dikenal. Peran
perawat sebagai pelindung sangat penting dalam etik keperawatan. Dari semua prinsip
tersebut pasien jiwa atau keluarga berhak menerima informed consent sebelum terapi
dilaksanakan. Dalam hal ini pasien berhak mengetahui segala informasi mengenai
prosedur pelaksanaan electroconvulsive therapy ( ECT ), indikasi dan kontraindikasi
pemberian, mekanisme kerja, hasil yang akan didapat dan efek sampingnya. Menurut
perundangan WHO tentang kesehatan jiwa menyatakan ECT harus diberikan hanya
setelah memperoleh informed consent. Sesuai dengan UU No.29/2004 tentang Praktek
Kedokteran, Pasal 52 : Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran,
mempunyai hak:

a.

Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3);


b.

Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;

c.

Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;

d.

Menolak tindakan medis; dan

e.

Mendapatkan isi rekam medis.

Pasien jiwa dan keluarga juga memiliki hak untuk menyetujui persetujuan tersebut dilihat
pada Pasal 39 : Praktik kedokteran diselenggarakan berdasarkan pada kesepakatan
antara dokter atau dokter gigi dengan pasien dalam upaya untuk pemeliharaan

kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan


pemulihan kesehatan.