Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN

SIFILIS

Oleh:
Aprilia Puspita Ningrum
2A
1201100031

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN MALANG
Mei 2014

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok bahasan

: Penyakit Menular Seksual

Sub Pokok Bahasan

: Sifilis

Sasaran

: Kelas XII di SMAN 5 Malang

Hari/ Tanggal

: Jumat, 9 Mei 2014

Waktu

: 30 menit

Tempat

I.

: Aula MGMP SMAN 5 Malang

TUJUAN INSTRUKSIONAL
a. TUJUAN UMUM
Setelah mendapat penyuluhan selama 30 menit, remaja dapat
memahami dan menjelaskan tentang sifilis.
b. TUJUAN KHUSUS
Setelah mendapatkan penyuluhan para remaja dapat:
1) Mengetahui pengertian sifilis.
2) Mengetahui etiologi sifilis.
3) Mengetahui patofisiologi sifilis.
4) Mengetahui tanda dan gejala sifilis.
5) Mengetahui faktor risiko sifilis.
6) Mengetahui cara penularan sifilis.
7) Mengetahui komplikasi sifilis.
8) Mengetahui cara pencegahan sifilis.

II.

III.

ANALISA SITUASI
a. Sasaran
Siswa Kelas XII SMAN 5 Malang.
b. Penyuluh
Aprilia Puspita Ningrum.
c. Ruangan
Aula MGMP SMAN 5 Malang.
MATERI PEMBAHASAN
a. Pengertian sifilis.
b. Etiologi sifilis.
c. Patofisiologi sifilis
d. Tanda dan gejala sifilis
e. Faktor risiko sifilis.
f. Cara penularan sifilis.
g. Komplikasi sifilis.
h. Pencegahan sifilis.

IV.

METODE
a. Ceramah
b. Diskusi
c. Tanya Jawab

V.

MEDIA
a. Leaflet sifilis
b. LCD Proyektor
c. Poster

VI.

KRITERIA EVALUASI
1. Evaluasi Struktur

Siswa siswi SMAN 5 Malang kelas XII hadir ditempat penyuluhan.

Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Aula MGMP SMAN


5 Malang.

Pengorganisasian

penyelenggaraan

penyuluhan

dilakukan

sebelumnya.
2. Evaluasi Proses

Siswa siswi antusias terhadap materi penyuluhan.

Siswa siswi tidak meninggalkan tempat penyuluhan.

Siswa siswi mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan


secara benar.

3. Evaluasi Hasil

Siswa siswi mengetahui tentang sifilis dan halhal apa saja yang
dapat dilakukan dalam mencegah dan menanggulangi penyakit
sifilis.

VII.

KEGIATAN PENYULUHAN

No.

WAKTU

1.

3 menit

KEGIATAN PENYULUH

KEGIATAN PESERTA

Pembukaan :

Membuka kegiatan dengan

Menjawab salam\

mengucapkan salam.

Memperkenalkan diri

Mendengarkan

Menjelaskan tujuan dari

Memperhatikan

penyuluhan

2.

15 menit

10 menit

Memperhatikan

akan diberikan
Pelaksanaan :

3.

Menyebutkan materi yang

Menjelaskan tentang:

Memperhatikan

1. Pengertian sifilis.
2. Etiologi sifilis.
3. Patofisiologi sifilis
4. Tanda dan gejala sifilis
5. Faktor risiko sifilis.
6. Cara penularan sifilis.
7. Komplikasi sifilis.
8. Pencegahan sifilis.
Evaluasi :

Menanyakan kepada peserta Menjawab pertanyaan


tentang materi yang telah
diberikan, dan reinforcement
kepada siswa/siswi yang dapat

4.

2 menit

menjawab pertanyaan.
Terminasi :

Mengucapkan

terimakasih Mendengarkan

atas peran serta peserta.

Mengucapkan salam penutup

Menjawab salam

MATERI PENYULUHAN
SIFILIS
A. PENGERTIAN SIFILIS
Sifilis merupakan salah satu jenis penyakit menular seksual (PMS) yang
disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum yakni bakteri yang berbentuk
spiral (spirochaeta). Penyakit ini mempunyai beberapa sifat, yaitu perjalanan
penyakitnya sangat kronis, dapat menyerang hampir semua organ tubuh
(seperti: sistem kardiovaskular, otak, dan susunan saraf), dapat menyerupai
macam-macam penyakit, mempunyai masa laten, serta dapat kambuh kembali
(rekuren). Sifilis sering disebut sebagai Lues Raja Singa.
B. ETIOLOGI SIFILIS

Treponema pallidum adalah bakteri spiral rapuh berukuran panjang 6-15


mikrometer
membuatnya

dan diameter
tidak

terlihat

0,25 mikrometer. Ukurannya


di

mikroskop

biasa.

Oleh

yang
karena

kecil
itu,

pengidentifikasiannya harus menggunakan darkfield microscopy. Bakteri ini


hanya sebentar dapat bertahan hidup di luar tubuh, sehingga penularannya
hampir selalu disebabkan karena kontak langsung dengan luka.
Bakteri Treponema pallidum dapat dengan cepat menembus selaput lendir
atau luka pada kulit, dalam beberapa jam ia akan memasuki limfatik dan darah
untuk menghasilkan infeksi sistemik. Waktu inkubasi rata-rata 3 minggu tetapi
dapat berkisar 10-90 hari. Studi pada kelinci menunjukkan bahwa spirochetes
dapat ditemukan dalam sistem limfatik 30 menit setelah inokulasi primer.
Setelah masa inkubasi 12-30 hari, gejala sifilis pertama adalah munculnya
luka atau bentol berwarna merah, keras dan sensitif (sifilis primer). Lalu
muncul demam dan ruam pada kulit berlendir (S.sekunder). Selanjutnya
terjadi pembentukan guma, infiltrasi selular, dan kelainan fungsional yang
biasanya dihasilkan dari luka sistem saraf kardiovaskular dan pusat (S.tersier).

C. PATOFISIOLOGI SIFILIS
Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan lesi yang mengandung
Treponema. Treponema dapat masuk melalui selaput lendir yang utuh atau
kulit dengan lesi, kemudian masuk ke peredaran darah dan semua organ dalam
tubuh. Infeksi bersifat sistemik dan manifestasinya akan tampak kemudian.
Perkembangan penyakit sifilis berlangsung dari satu stadium ke stadium
berikutnya. Sepuluh sampai 90 hari (umumnya 3-4 minggu) setelah terjadi
infeksi, pada tempat masuk T.pallidum timbul lesi primer yang bertahan 1-5
minggu dan kemudian hilang sendiri. Kurang lebih 6 minggu (2-6 minggu)
setelah lesi primer terdapat kelainan kulit dan selaput lendir pada permukaan
menyeluruh, kemudian mengadakan konfluensi dan berbentuk khas. Kadangkadang kelainan kulit hanya sedikit dan sepintas lalu.

D. TANDA DAN GEJALA SIFILIS


Tahap 1 (sifilis primer). Pada tahap ini gejala sifilis dimulai dengan luka
yang tidak terasa sakit namun sangat menular pada alat kelamin atau di sekitar
mulut. Jika seseorang melakukan kontak seksual dengan penderita mereka
juga bisa terinfeksi. Luka tersebut berlangsung selama dua sampai enam
minggu sebelum menghilang.
Tahap 2 (sifilis sekunder). Gejala sekunder seperti ruam pada kulit dan
sakit tenggorokan. Pada tahap primer dan sekunder, mudah menularkan sifilis
kepada orang lain.
Tahap Laten (tersembunyi) yaitu fase tanpa gejala, yang dapat berlangsung
selama bertahun-tahun. Pada fase laten (biasanya sekitar dua tahun setelah
menjadi terinfeksi), sifilis tidak dapat menular kepada orang lain tetapi masih
dapat menyebabkan gejala sipilis. Setelah ini, penyakit raja singa dapat
berkembang menjadi tahap ketiga, fase yang paling berbahaya.
Tahap 3 (sifilis tersier). Sepertiga dari orang-orang yang tidak melakukan
pengobatan sifilis maka infeksi akan berkembang menjadi sifilis tersier. Pada
tahap ini, penyakit raja singa dapat menyebabkan kerusakan serius pada otak,
saraf, jantung dan sumsum tulang belakang.
E. FAKTOR RISIKO SIFILIS

Menyerang bermacam usia, bila diurutkan antara 20-39 tahun, 15-19


tahun, 40-49 tahun.

Pria lebih banyak di bandingkan dengan wanita dengan perbandingan


6:1.

Sifilis mengenai semua bangasa/ras.

Faktor pengetahuan, karena kurangnya pengetahuan tentang bahaya


penyakit, mendorong oranguntuk melakukan hubungan seksual di luar
nikah.

Ekonomi yang kurang juga cenderung berpengaruh.

Sifilis dapat ditularkan dari ibu ke janin.

F. CARA PENULARAN SIFILIS

Sifilis dapat ditularkan dari orang ke orang yang lain melalui hubungan
genital - genital (kelamin - kelamin) maupun oro-genital (seks oral).
Sifilis terutama ditularkan melalui kontak seksual atau selama kehamilan
dari ibu ke janinnya. Risiko dari penularan karena berbagi jarum suntik
tidaklah banyak. Sifilis tidak dapat ditularkan melalui dudukan toilet, aktivitas
sehari-hari, bak panas, atau berbagi alat makan serta pakaian.
G. KOMPLIKASI SIFILIS
1.

Kerusakan Otak Sebagai Dampak Komplikasi sifilis


Ada beberapa kasus kerusakan otak akibat penyakit sifilis, salah
satunya adalah Neurosifilis. Neurosifilis adalah infeksi otak atau
sumsum tulang belakang yang terjadi pada orang yang memiliki
sifilis namun tidak diobati selama bertahun-tahun. Itulah mengapa
semua jenis penyakit baik yang ringan apalagi yang berat harus
segera diobati. Jika tidak hanya akan menyebabkan penyakit lain
yang lebih parah. Seperti Neurosifilis ini yang timbul akibat penyakit
sifilis tidak segera diobati. Penyakit neurosifilis disebabkan oleh
bakteri yang bernama Treponema pallidum, bakteri ini merupakan
bakteri yang menyebabkan penyakit sifilis. Neurosifilis biasanya
terjadi sekitar 10 sampai 20 tahun setelah seseorang pertama
terinfeksi sifilis, dan tidak segera diobati oleh penderitanya. Namun
begitu,

tidak

semua

orang

yang

memiliki

sifilis

akan

mengembangkan komplikasi ini. sebab hanya penderita penyakit


sifilis yang tidak diobatilah yang sering memiliki komplikasi
penyakit neurosifilis ini.
2.

Sifilis Kardiovaskular
Sifilis kardiovaskular yaitu komplikasi penyakit raja singa stadium
lanjut sehingga bakteri menginfeksi jantung dan pembuluh darah.
Sifilis kardiovaskular biasanya terjadi 10-30 tahun setelah infeksi
awal dan termasuk dalam sifilis tahap tersier (akhir). Neurosifilis dan
sifilis kardiovaskular adalah penyakit yang membahayakan jiwa.
Sifilis kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian pada

penderita sifilis kronis. Diagnosis dini dan pengobatan penyakit raja


singa yang tepat akan mencegah terjadinya sifilis kardiovaskular ini
H. PENCEGAHAN SIFILIS
Ada beberapa cara pencegahan sifilis, diantaranya adalah:
1.

Berhenti melakukan kontak seksual dalam jangka waktu lama.

2.

Memiliki satu pasangan tetap untuk melakukan hubungan seksual.

3.

Menghindari alkohol dan obat-obat terlarang.

4.

Membicarakan secara terbuka mengenai riwayat penyakit kelamin


yang dialami bersama pasangan. Biasakan menggunakan kondom
bila harus berhubungan.

5.

Menghindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan transfusi


darah yang sudah terinfeksi

6.

Menggunakan kondom saat berhubungan, mencegah penularan PMS.


Tidak ada vaksin terhadap sifilis. Untuk perseorangan penggunaan
kondom sangat efektif. Untuk masyarakat, cara utama pencegahan
sifilis ialah melalui pengendalian yang meliputi pemeriksaan
serologis dan pengobatan penderita. Sifilis bawaan dapat dicegah
dengan perawatan prenatal (sebelum kelahiran) yang semestinya.
DAFTAR RUJUKAN

1) Muchtar, Rustam. 1989. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC


2) Manuaba, Ida Bagus. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC
3) Varney, Helen, dkk. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta :
EGC
4) Pawiroharjo, Sarwono.1998. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka
5) Syaifudin, A.B. 2002. Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal. Jakarata : Yayasan Bina Pustaka
6) Ratna, Eni, dkk. 2009. Asuhan Kebidanan Komuitas. Yogyakarta : Nuha
Medika

7) Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina


Pustaka
8) Rabe, Thomas. 2002. Buku Saku Ilmu Kandungan. Jakarta : Hipokrates
9) Taber, benzio.1994,kedaruratan obstetric dan genekologi,EGC,Jakarta
10) M, Arif. dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua.
FK UI. Jakarta
11) Wilson, Walter R and Sande, M. 2001. Current Diagnosis & Treatment in
Infectious Diseases. The McGraw-Hill Companies, United States of
America
12) Swierzewski, Stanley J. 2007. Syphilis, Overview, Symptoms, Stages,
Diagnosis, Treatment. (http://www.urologychannel.com/std/syphilis.html).