Anda di halaman 1dari 10

BLOK REPRODUKSI

Polihidramnion dan Oligohidramnion

Disusun Oleh
Sitti Shabrina Junita Suryantini

(H1A011063)

Siti Zulfiana

(H1A011065)

Umara Lani Anika

(H1A011067)

I Gusti Putu Yoga Kusmawan

(H1A011069)

Fakultas Kedokteran Universitas Mataram


Nusa Tenggara Barat
2014

POLIHIDRAMNION DAN OLIGOHIDRAMNION

PENDAHULUAN
Cairan amnion atau air ketuban merupakan cairan yang berada di dalam uterus tempat
fetus mengapung. Air ketuban berasal dari urin janin, transudasi dari darah ibu, sekresi dari epitel
amnion, dan asal campuran. Setelah 20 minggu produksi cairan berasal dari urin janin,
sedangkan sebelumnya berasalnya dari rembasan kulit, selaput amnion, dan plasenta.
Menurut Sofian (2013), air ketuban memiliki beberapa fungsi, yaitu :

Untuk proteksi janin


Mencegah perlekatan janin dengan amnion
Agar janin dapat bergerak dengan bebas
Regulasi panas dan perubahan suhu
Mungkin untuk menambah suplai cairan janin, dengan cara ditelan atau diminum,

yang kemudian dikeluarkan melalui urin janin, dan


Meratakan tekanan intrauterine dan membersihkan jalan lahir jika ketuban pecah.
Volume cairan amnion pada kehamilan aterm rata rata adalah 800 ml. Cairan amnion
yang terlalu banyak (>2 liter) disebut Polihidramnion sedangkan cairan amnion yang kurang
disebut Oligohidramnion.

DEFINISI
Polihidramnion di definisikan sebagai volume cairan ketuban >2000 ml atau indeks
cairan ketuban >24cm. Polihidramnion merupakan komplikasi yang ditakuti pada praktik
obstetric

karena

tidak

hanya

mempengaruhi

ibu

tetapi

juga

mempengaruhi

janin.

Oligohidramnion di definisikan sebagai volume cairan ketuban <200/<500 ml atau indeks cairan
ketuban <5cm.

EPIDEMIOLOGI

Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan, insidensi polihidramnion sekitar


0,7% dan insiden terbanyak terjadi pada kelompok usia 21 25 tahun serta pada remaja hamil
(<20 tahun) dengan malnutrisi. Sedangkan, insidensi oligohidroamnion bervariasi, sekitar 0,5
5%, tergantung dari studi pada populasi.

ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO


Polihidramnion dapat disebabkan karena adanya penurunan absorpsi, produksi yang
berlebih atau idiopatik. Penurunan aborpsi biasanya terjadi karena kegagalan janin menelan yang
dapat disebabkan karena atresia trakea, obstruksi trakea atau usus, atau kelainan neurologis
seperti anencephaly. Kelainan kromosom serta diabetes juga dikaitkan dengan terjadinya
polihidramnion. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi pada ibu, seperti perdarahan antepartum,
sesak nafas, disfungsi uterus dan juga perdarahan post partum sedangkan komplikasi pada janin
adalah malformasi kongenital.
Oligohidramnion dapat disebabkan oleh kurangnya produksi maupun hilangnya cairan
amnion, atau idiopatik. Kurangnya produksi dapat terjadi karena disfungsi dari ginjal atau anuria
fetus, obstruksi traktus urinaria, fungsi plasenta yang abnormal atau dehidrasi maternal,
sedangkan kehilangan dapat terjadi akibat rupturnya membrane secara prematur (PROM) atau
ketuban pecah dini.

PATOGENESIS
Pada kehamilan sangat muda, cairan amnion merupakan ultrafiltrasi dari plasma maternal
dan dibentuk oleh sel amnion. Pada kehamilan lanjut, sebagian besar cairan amnion dibentuk
oleh sel amnionnya dan air kencingnya. Ginjal janin mengeluarkan urin sejak usia 12 minggu
dan setelah pada usia 18 minggu janin dapat mengeluarkan urin sebanyak 7-14 cc/hari.
Pengaturannya cairan amnion dilakukan oleh tiga komponen yakni produksi yang dihasilkan
oleh sel amnion, jumlah produksi air kencing, dan jumlah air ketuban yang ditelan janin.
A. Polihidramnion

Produksi air ketuban bertambah dan pengaliran cairan ketuban terganggu.


Integrasi dari aliran cairan yang masuk dan keluar kantung ketuban menentukan volume
air ketuban, air ketuban sendiri dibentuk oleh sel amnion, namun dapat terjadi
pertambahan volume air ketuban dari volume normalnya akibat masuknya cairan lain
kedalam rongga amnion, seperti urin janin, produksi cairan paru-paru. Selain itu, reflex
menelan janin memiliki peran yang sangat penting dalam pengaturan cairan ketuban,
sedangkan factor lain seperti produksi air liur memiliki peran yang minimal. Selama
trimester 3, output urin setara dengan 30% berat badan janin (500-1200 ml urin/ hari),
dan sekresi paru merupakan 10% dari total volume cairan ketuban dimana keduanya
diekskresikan ke langsung dalam cairan ketuban, sedangkan reflex menelan janin
mempengaruhi 20% dari volume cairan ketuban(210-760 ml). Sehingga, perubahan yang
relative kecil pada proses output urin dan reflex menelan pada janin dapat mempengaruhi
jumlah cairan ketuban.
B. Oligohidramnion
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, produksi urin janin sangat menentukan
volume plasma cairan ketuban, gangguan produksi urin janin dapat mengakibatkan
terjadinya oligohidramnion. Produksinya berkurang khususnya jika terjadi produksi urin
yang sangat sedikit atau bahkan tidak ada, hal ini bisa terjadi jika terjadi agenesis ginjal
atau adanya hambatan pada system perkemihan. Selain itu, oligohidroamnion juga dapat
terjadi pada insufisiensi plasenta, kehamilan post term, atau sebagai dampak gangguan
pada ibu seperti dehidrasi.
Oligohidramnion sangat erat kejadiannya dengan sindrom Potter, dimana sindrom
ini merupakan keadaan yang sangat kompleks dan berkaitan dengan kegagalan fungsi.
Ginjal sehingga nantinya mempengaruhi produksi urin janin. Oligohidramnion
menyebabkan bayi tidak memiliki bantalan terhadap dinding Rahim, sehingga terjadi
penekanan yang menyebabkan gambaran wajah yang khas disebut wajah Potter, selain itu
karena ruang dalah Rahim sempit maka anggota gerak tubuh menjadi abnormal, dan
terjadi gangguan maturitas paru pada oligohidamnion sehingga bayi.

MANIFESTASI KLINIS

A. Polihidramnion
Tanda dan gejala hidramnion merupakan akibat dari tekanan yang diberikan
uterus pada organ terdekat, tanda yang dapat ditemukan diantaranya:
1. Ukuran uterus lebih besar dari seharusnya
2. Identifikasi janin dan bagian janin melalui palpasi sulit dilakukan, namun
tanda balotemen pada janin sangat jelas
3. Denyut jantung janin sulit terdengar
Sedangkan pada polihidramnion berat dapat ditemukan:
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Sesak nafas maupun ketidakmampuan bernafas


Asites, efusi pericardial dan pleura
Pembengkakan pada ekstrimitas bawah, vulva, dan dinding perut
Penurunan produksi urin, gangguan pencernaan, edema
Nyeri abdomen akut disertai mual
Kulit abdomen terlihat mengkilat dan edematous disertai striae yang baru

B. Oligohidramnion
1. Uterus tampak lebih kecil, dan tidak ditemukan tanda balotemen pada
kehamilan
2. Ibu merasakan nyeri yang sangat akibat pergerakan janin
3. Bunyi jantung janin sudah terdengar pada bulan kelima dan terdengar lebih
jelas
4. Nyeri berlebih saat mulas/ his
5. Bila ketuban pecah, cairan ketuban yang keluar sangat sedikit dan kadang
tidak ada
6. Pada fetus:
Deformitas pada fetus akibat penekanan intrauterine (Potter syndrome),
kompresi ekternal: facies mendatar, hipertelorisme, telinga rendah,
kompresi toraks dan hipoplasia pulmonal

DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Polihidramnion
a. Perut dirasa lebih besar dan sangat berat akibat ukuran uterus lebih besar dari
seharusnya
b. Pada polihidamnion ringan keluhan subyektif tidak terlalu banyak

c. Terdapat keluhan akibat pembesaran uterus yang cepat dan penekanan pada organ
sekitar uterus, seperti sesak nafas, nyeri ulu hati, sianosis
Oligohidramnion
a. Uterus tampak lebih kecil dari usia kehamilan dan tidak ada ballotemen.
b. Ibu merasa nyeri di perut pada setiap pergerakan anak.
c. Sewaktu his terasa sakit sekali.
2. Pemeriksaan Fisik
Polihidramnion
a. Inspeksi
Perut terlihat sangat buncit dan tegang, kulit perut berkilat, striae sangat jelas,
kadang umbilicus terlihat mendatar,
Pabila akut, inu terlihat sesak dan sianosis serta kelelahan
b. Palpasi
Perut tegang, nyeri tekan, serta terdapat edema pada dinding abdomen dan
ekstrimitas,
Fundus uteri lebih tinggi dari usia kehamilan sebenarnya,
Bagian janin sulit dikenali dalam palpasi akibat akumulasi cairan berlebih,
Apabila letak kepala janin dapat diraba, balotement terasa sangat jelas,
Sering terjadi kelainan letak janin akibat bebasnya janin bergerak karena
akumulasi cairan belebih
c. Auskultasi
Denyut jantung janin tidak terdengar atau terdengar sangat halus
Oligohidroamnion
a. Palpasi
molding : uterus mengelilingi janin
janin dapat diraba dengan mudah
Tidak ada efek pantul pada janin
b. Auskultasi
Bunyi jantung sudah terdengar mulai bulan kelima dan terdengar lebih jelas.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Foto Rontgen (bahaya radiasi)
Terdapat bayangan terselubung kabur akibat banyaknya akumulasi cairan, foto
rontgen berguna untuk menentukan etiologi polihidramnion
b. USG

Banyak ahli mendiagnosis polihidramnion apabila indeks cairan amnion (ICA)


melebihi 24-25 cm pada pemeriksaan USG. Sedangkan (ICA) kurang dari 5 cm
menandakan oligohidroamnion berat.

TATALAKSANA
A. Polihidramnion/hidroamnion
A. Saat Hamil
1. Hidroamnion ringan jarang diberi terapi klinis, cukup diobservasi dan diberikan
terapi simptomatis
2. Pada hidroamnion berat denga keluhan-keluhan harus dirawat dirumah sakit
untuk istirahat sempurna. Berikan diet rendah garam, obat diuresis. Bila sesak
hebat dan sesekali disertai sianosis dan perut tidak nyaman, lakukan
amniosentesis untuk mengeluarkan cairan amnion. Dalam satu hari dikeluarkan
500cc perjam sampai keluhan berkurang. Jika cairan dikeluarkan dikhawatirkan
terjadi His dan solution plasenta, apalagi bila anak belum viable.
Komplikasi dari tindakan ini adalah:
a. Timbul His
b. Trauma pada janin
c. Terkenanya rongga-rongga dalam perut oleh tusukan
d. Infeksi serta syok bila sewaktu melakukan aspirasi keluar darah, misalnya
janin mengenai plasenta maka pungsi harus dihentikan
3. Terapi endometasin
Fungsinya adalah :
a. mengganggu produksi cairan paru atau meningkatkan penyerapannya
sehingga tidak menambah beratnya hidramnion
b. mengurangi produksi urin janin
c. meningkatkan perpindahan cairan melalui selaput janin
dosisnya 1.5- 3 mg /kgbb/hari
B. Saat partus
1. bila tidak ada hal yang mendesak , maka sikap kita adalah menungggu

2. bila keluhan hebat, seperti sesak dan sianosis maka lakukan pungsi transvaginal
melalui servix bila sudah ada pembukaan. Dengan menggunakan jarum pungsi
tusuklah ketuban pada beberapa tempat , lalu air ketuban akan keluar pelanpelan
C. Post Partum
1. Harus hati-hati akan terjadinya perdarahan post partum , jadi sebaiknya lakukan
pemeriksaan golongan dan tranfusi darah serta sediakan obat uterotonika
2. Jika perdarahan banyak dan keadaan ibu setelah partus lemah, maka untuk
menghindari infeksi berikan antibiotic yang cukup.
B. Oligohidramnion
1. Tirah baring
2. Pemberian nutrisi
3. Amniofusi : infus kristaloid untuk menggantikan cairan amnion yang berkurang
secara patologis. Paling sering digunakan selama persalinan untuk mencegah
kompresi tali pusat.

PROGNOSIS
A. Polihidramnion
Prognosis hidramnion bergantung pada keparahannya. Jika masih ringan,
prognosisnya baik, namun jika keparahannya cukup berat prognosisnya buruk hal ini
terkait dengan penyulit yang sering timbul, misalnya solution plasenta jika ketuban pecah
secara tiba-tiba
B. Oligohidramnion
Prognosis dari oligohidroamnion adalah buruk.

KOMPLIKASI
A. Polihidramnion

Komplikasi tersering pada ibu yang berkaitan dengan hidramnion adalah solution
plasenta, disfungsi uterus, dan perdarahan pascapartum. Kadang-kadang plasenta terlepas
secara dini setelah cairan amnion keluar dalam jumlah besar karena berkurangnya luas
uterus dibawah plasenta. Disfungsi uterus dan perdarahan pascapartum juga dapat terjadi
karena atonia uterus akibat peregengan yang berlebihan.
B. Oligohirdramnion
Oligohirdramnion menyebabkan tekanan langsung pada janin:
a. Deformitas janin:
- Leher terlalu menekuk miring
- Bentuk tulang kepala janin tidak bulat
- Deformitas ekstremitas
b. Kompresi tali pusat langsung sehingga dapat menimbulkan fetal distress
c. Fetal distress menyebabkan makin terangsangnya nervus vagus

dengan

dikeluarkannya meconium semakin mengentalkan air ketuban


- Oligohidroamnion makin menenkan dada sehingga saat lahir terjadi kesulitan
bernafas, karena paru mengalami hypoplasia sampai atelaktase paru.

DAFTAR PUSTAKA
Chourasia, S., Agarwal, J., & Badole, M. (2013) Clinical Study to Evaluate the Maternal and
Perinatal Outcome of Pregnancies with Polyhydramnios. Journal of Evolution of Medical
and

Dental

Sciences

[internet]2(41):7975.

Available

from

http://www.jemds.com/data_pdf/1_juhi%20agarwal%20rr.pdf [accessed 1 March 2014]


Dubil, E.A & Magann, E.F. (2013) Amniotic Fluid as a Vital Sign for Fetal Wellbeing. AJUM
[internet]16(2):65-6.

Available

from

http://www.minnisjournals.com.au/_images/articles/pdf/article-pdf-0726.pdf [accessed 1
March 2014]
Guyton, A.C & Hall, J.E. (2006) Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. EGC : Jakarta.
Rossi, A.C & Prefumo, F. (2013) Perinatal outcomes of isolated oligohydramnios at term and
post-term pregnancy: a systematic review of literature with meta-analysis. European
Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology [internet]169:149.
Available

from

http://www.researchgate.net/profile/Federico_Prefumo/publication/236125768_Perinatal
_outcomes_of_isolated_oligohydramnios_at_term_and_postterm_pregnancy_a_systemati
c_review_of_literature_with_meta-analysis/file/9c960525c16122f53b.pdf [accessed 1
March 2014]
Shrestha, A & Chawla, C.D. (2013) Role of indomethacin in polyhydramnios. Sri Lanka Journal
of

Obstetrics

and

Gynaecology

[internet]

p.50.

Available

from

http://www.sljol.info/index.php/SLJOG/article/viewFile/6167/4818 [accessed 1 March


2014]
Sofian, A. (2013) Rustam Mochtar Sinopsis Obstetri : Obstetri fisiologi, Obstetri Patologi. Edisi
3. Jilid 1. EGC : Jakarta.
Wiknjosastro, G.H. (2009) Plasenta dan Cairan Amnion. Dalam : Prawirohardjo, S. Ilmu
Kebidanan. Edisi 4. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.