Anda di halaman 1dari 3

Tekanan mana yang lebih berbahaya; sistolik atau diastolik?

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, tekanan sistolik adalah tekanan dalam arteri
yang terjadi saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh, sedangkan diastolik
adalah sisa tekanan ketika jantung beristirahat. Sistolik yang tinggi akan
memengaruhi organ-organ lain yang menerima darah dan hal ini dapat
mengganggu fungsi organ vital tersebut. Jadi, dalam hal ini tekanan sistolik yang
tinggi lebih berbahaya dibandingkan dengan diastolik.
Apakah hipertensi dapat diketahui secara dini?
Upaya mengetahui hipertensi secara dini dapat dilakukan melalui pengamatan
terhadap keluarga (apakah ada yang mengidap hipertensi), lingkungan dan gaya
hidup yang terburu-buru, serta senang mengkonsumsi makanan asin dan berlemak.
Jika ada, sebaiknya Anda mengenali gejala hipertensi atau rajin memeriksa tekanan
darah minimal dua kali setahun. Keadaan awal hipertensi yang perlu diwaspadai
adalah sakit kepala yang menyerang bagian belakang kepala, timbul kekakuan atau
rasa berat di tengkuk pada pagi hari, mimisan, pusing, jantung berdebar, sering
buang air kecil malam hari, dan telinga berdengung. Tanda dan gejala lain
hipertensi (primer) adalah sulit tidur (insomnia), mata berkunang-kunang, mudah
lelah, mudah marah, dan sesak napas.
Apakah faktor umur menentukan hipertensi?
Sebenarnya hipertensi dapat menyerang siapa saja dengan umur berapa pun.
Namun memang pada umumnya hipertenis menyerang mereka yang berusia
dewasa ke atas, faktor-faktor resiko mulai bermunculan, seperti kegemukan,
hiperkolesterol tinggi, kencing manis, stres, dan sebagainya. Hipertensi merupakan
penyakit yang berkembang secara perlahan-lahan dalam waktu yang lama,
sehingga terkesan hanya menyerang mereka yang lanjut usia.
Apakah hipertensi juga menyerang orang muda?
Hipertensi memang banyak menyerang mereka yang berusia di atas 50 tahun,
tetapi akhir-akhir ini orang muda pun banyak yang terserang. Kemungkinan besar
hal ini disebabkan oleh pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat.
Apakah orang gemuk lebih rentan mengidap hipertensi?
Hipertensi dapat menyerang mereka yang memiliki berat badan normal, kurus, atau
gemuk. Tetapi hipertensi umumnya dialami oleh orang gemuk. Hal ini disebabkan
karena pasokan oksigen serta jumlah zat makan yang diangkut darah lebih banyak
pada orang gemuk dibandingkan mereka yang bertubuh kurus atau normal. Suplai
darah yang besar pada orang gemuk ini otomatis membuat jantung bekerja lebih
berat, dan dibutuhkan tekanan yang lebih besar. Kebutuhan darah dalam jumlah
besar direspons jantung dengan tekanan yang tinggi, sehingga mengakibatkan
terjadinya hipertensi.

Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)


Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang beredar saat ini.
Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter.
Diuretik
Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat kencing)
sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi
lebih ringan.
Contoh obatannya adalah Hidroklorotiazid.
Penghambat Simpatetik
Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja pada
saat kita beraktivitas ).
Contoh obatnya adalah : Metildopa, Klonidin dan Reserpin.

Betabloker

Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung. Jenis
betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernapasan
seperti asma bronkial.
Contoh obatnya adalah : Metoprolol, Propranolol dan Atenolol. Pada penderita diabetes melitus
harus hati-hati, karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam
darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi penderitanya). Pada orang
tua terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat
harus hati-hati.

Vasodilator

Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos (otot
pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah : Prasosin, Hidralasin. Efek samping
yang kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini adalah : sakit kepala dan pusing.

Penghambat ensim konversi Angiotensin

Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat yang
dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah).
Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah Kaptopril. Efek samping yang mungkin timbul
adalah : batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas.

Antagonis kalsium

Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung
(kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah : Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil.
Efek samping yang mungkin timbul adalah : sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah.

Penghambat Reseptor Angiotensin II

Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptornya
yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang termasuk dalam
golongan ini adalah Valsartan (Diovan). Efek samping yang mungkin timbul adalah : sakit
kepala, pusing, lemas dan mual.
Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor resiko terjadinya
hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.