Anda di halaman 1dari 4

Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik

Robohnya Surau Kami


Karya A.A. Navis
Diajukan untuk memenuhi tugas Bahasa dan Sastra Indonesia
Guru Pembimbing: Dra. Hj. Yurniwati

Oleh:

Melati Purnama Sari


X CI

SMA Negeri 1 Padang


2014

Sinopsis
Di suatu tempat ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Hanya karena
seseorang yang datang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari
masyarakat setempat, surau itu hingga kini masih tegak berdiri. Orang itulah
yang merawat dan menjaganya. Kelak orang ini disebut sebagai Garin.
Meskipun orang ini dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada
yang paling pokok yang membuatnya bisa bertahan, yaitu dia masih mau
bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais
rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue atau rokok.
Kehidupan orang ini agaknya monoton. Dia hanya mengasah pisau,
menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau dan
bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Dia tidak ngotot bekerja karena dia
hidup sendiri. Hasil kerjanya tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan
istrinya yang tidak pernah dia pikirkan.
Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga
surau itu. Lalu, keduanya terlibat perbincangan yang mengasyikan. Akan tetapi,
sepulangnya Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal. Karena dia
sadar, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu merupakan sebuah ejekan dan sindiran
untuk dirinya.
Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak
memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin
rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia
tak berusaha mengusahakan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia
senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Apakah
semua yang dikerjakannya ini salah dan dibenci Tuhan ? Atau dia ini sama
seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat tetapi dimata Tuhan dia itu
lalai. Akhirnya, kelak ia dimasukkan ke dalam neraka. Penjaga surau itu begitu
memikirkan hal ini dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tak kuat
memikirkan hal itu. Kemudian dia memilih jalan pintas untuk menjemput
kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur.
Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha
mengurus mayatnya dan menguburnya. Kecuali satu orang saja yang tidak
begitu peduli atas kematiannya. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang
mengantar jenazah penjaga surau dia tetap pergi bekerja.

Unsur Intrinsik

1. Tema
Tema cerpen ini adalah kesombongan seseorang dalam menjalani hidup
nya sehingga dia gagal mengurus keluarganya.
2. Alur
Alur cerpen ini adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan
peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin.
3. Perwatakan
a) Aku
:
b) Ajo Sidi :
c) Kakek
:
orang lain
d) Haji Soleh

Selalu ingin tahu urusan orang lain


Suka membual
Egois, lalai, mudah dipengaruhi dan mudah mempercayai
:

Selalu mementingkan diri sendiri

4. Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan dalam cerpen ini adalah sudut pandang
orang pertama. Pengarang berperan sebagai tokoh utama (akuan sertaan)
sebab secara langsung pengarang terlibat di dalam cerita. Selain itu pengarang
pun berperan sebagai tokoh bawahan ketika si kakek bercerita tentang Haji
Soleh di depan tokoh aku.
5. Latar
a) Tempat :

Latar tempat yang ada dalam cerpen ini jelas disebutkan oleh

pengarangnya, seperti kota, dekat pasar, di surau, dan sebagainya


b) Waktu :
Latar waktu siang hari dan pagi hari
c) Suasana :
Mengejutkan, ketika tokoh Aku melihat kakek dalam
keadaan muram menyambutnya dan ketika tokoh Aku mengetahui bahwa
kakek sudah meninggal dunia keesokan harinya
6. Amanat
a) Jangan cepat marah kalau ada orang yang mengejek atau menasehati kita
karena ada perbuatan kita yang kurang layak di hadapan orang lain.
b) Jangan cepat bangga akan perbuatan baik yang kita lakukan karena hal ini
bisa saja baik di hadapan manusia tetapi tetap kurang baik di hadapan Tuhan
itu.
c) Kita jangan terpesona oleh gelar dan nama besar sebab hal itu akan
mencelakakan diri pemakainya.
d) Jangan menyia-nyiakan apa yang kamu miliki, untuk itu cermati sabda
Tuhan.
e) Jangan mementingkan diri sendiri, seperti yang disabdakan Tuhan dalam
cerpen ini.

Unsur Ekstrinsik
1. Nilai Sosial

Kita harus sailing membantu jika orang lain dalam kesusahan seperti dalam
cerpen tersebut karena pada hakekatnya kita adalah makhluk sosial.
2. Nilai Moral
Kita sebagai sesama manusia hendaknya jangan saling mengejek atau menghina
orang lain tetapi harus saling menghormati.
3. Nilai Agama
Kita harus selau malakukan kehendak Allah dan jangan melakukan hal yang
dilarang oleh-Nya seperti bunuh diri, mencemooh dan berbohong.
4. Nilai Pendidkan
Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu
berusaha dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa.
5. Nilai Adat
Kita harus menjalankan segala perintah Tuhan dan memegang teguh nilai nilai
dalam masyarakat.

Anda mungkin juga menyukai