Anda di halaman 1dari 2

Sepotong Surga di Ekor Borneo

Pagi hari 11 Juli 2014, saya dan 27 teman seperjuangan saya berangkat menuju
Bandar Udara Adi Sucipto Yogyakarta. Adi Sucipto merupakan titik awal
perjalanan kami. Sebuah perjalanan ke suatu tempat di tanah Borneo. Tempat
yang pada akhirnya membuat saya jatuh cinta dan selalu ingin kembali ke sana.
Tempat yang membuat saya sadar bahwa Indonesia sangat luar biasa. Tempat
itu adalah Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan
Barat. Sebuah desa yang terletak di ujung ekor Pulau Borneo. Sebuah desa yang
terletak di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.
Setelah pesawat sampai di Pontianak, saya dan 27 teman saya harus menempuh
perjalanan darat menggunakan bis selama kurang lebih dua hari satu malam.
Kami menyebrangi dua sungai besar, melewati jalan tanah yang kadang berbatu,
serta melewati banyak jembatan kayu yang sudah hampir patah. Sore hari 12 Juli
2014 kami tiba di Temajuk. Pertama kali sampai disana, saya sangat tercengang
karena ternyata di tempat yang sangat jauh ini masih ada sebuah desa yang
dihuni oleh manusia. Sebuah desa yang ternyata memiliki keindahan alam dan
keramahan masyarakat yang sangat luar biasa. Dua bulan kami berada di
Temajuk, dua bulan kami menjelajahi begitu banyak tempat indah di Temajuk.
Sebagai kawasan pesisir, ada banyak sekali pantai yang indah di Temajuk.
Walaupun ada pada satu garis pantai namum karakteristik tiap pantainya sangat
bervariasi. Ada pantai RT 16 yang merupakan pantai panjang berpasir halus dan
dipagari oleh pohon-pohon cemara angin. Ada pantai Camar Bulan yang memiliki
dermaga dan pemandangan senja serta matahari terbenam yang luar biasa. Ada
pantai Surya yang merupakan pantai sempit yang dihiasi banyak batuan beku
yang kokoh dan besar. Ada pantai Maludin yang lapang dan dihiasi oleh banyak
sekali pohon kelapa. Ada pantai batu Nenek yang memiliki susunan batuan
raksasa eksotis seperti pantai di film Laskar Pelangi. Dan ada pula pantai Teluk
Atong yang merupakan pantai pasir di sebuah teluk yang dihiasi batuan-batuan
yang eksotis. Semua pantai indah ini ada di satu desa, saya sampai tak bisa
membayangkan betapa kayanya Indonesia kita.
Perjalanan yang paling tak terlupakan adalah ketika berkunjung ke Tanjung Datu.
Tanjung Datu merupakan tanjung berbukit di ekor Pulau Borneo. Tanjung ini
adalah titik awal garis perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Borneo. Di tanjung
ini terdapat patok segitiga yang menjadi batas fisik wilayah Indonesia-Malaysia.
Kami menggunakan kapal nelayan setempat untuk menuju ke Tanjung Datoe.
Dari kapal kayu sederhana ini kami melihat betapa indahnya pantai-pantai di
bawah perbukitan Desa Temajuk. Sebelum menepi di pantai Tanjung Datoe, kapal
kami mendekat ke arah sebuah fondasi mercusuar. Fondasi mercusuar milik
Malaysia ini dibangun di wilayah laut Indonesia. Kalian harus melihat langsung
bahwasanya letak mercusuar ini sangat jauh masuk ke wilayah Indonesia.
Masih ada cerita tentang rafflesia, tentang mata air yang muncul tepat di tepi
pantai, tentang sungai dan hutan bakau tempat tinggal beberapa Bekantan,

tentang perjalanan sepuluh menit ke Malaysia lewat pos tabal batas, dan tentang
nasionalisme warga Temajuk yang akan membuat siapapun kagum. Perjalanan
ini adalah perjalanan yang tak hanya akan memanjakan mata, perjalanan ini
membuat mata saya terbuka bahwa ternyata memang ada surga di ekor Borneoku tercinta.