Anda di halaman 1dari 4

RESUME

Dalam jurnal yang berjudul Identifikasi Melamin Dalam Susu Impor


yang Beredar di Swalayan Brebes dengan Metode Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi ini dilakukan penelitian mengenai kandungan melamin pada empat sampel
susu impor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengdentifikasi melamin
dalam susu impor dengan metode KCKT. Sistem KCKT yang digunakan adalah
kromatografi fase terbalik dengan fase diam kolom shimpack oktadesillina dan
fase gerak asetonitril:air dengan perbandingan konsentrasi 50:50, laju alir 1,0
mL/menit, detektor UV 240 nm.
KCKT atau HPLC (High Performance Liquid Chromatography) adalah
sebuah instrumen yang menggunakan prinsip kromatografi (pemisahan) dengan
menggunakan fase gerak cair yang dialirkan melalui kolom yang merupakan fase
diam menuju ke detektor dengan bantuan pompa. Sampel dimasukkan ke dalam
aliran fase gerak dengan cara penyuntikan.
Di dalam kolom terjadi pemisahan senyawa-senyawa dalam kolom akan
keluar atas dasar kepolaran yang berbeda, sehingga akan mempengaruhi kekuatan
interaksi antara senyawa terhadap fase diam. Senyawa-senyawa yang kurang kuat
interaksinya dengan fase diam akan keluar terlebih dahulu, dan sebaliknya
senyawa yang berinteraksi kuat dengan fase diam akan keluar lebih lama.
Senyawa yang keluar dari kolom akan dideteksi oleh detektor kemudian
direkam dalam bentuk kromatogram. Dari kromatogram tersebut akan dapat
diidentifikasikan waktu retensi (tR) dan luas area/tinggi puncak. Informasi tR
digunakan untuk analisis kualitatif, sedangkan informasi luas area atau tinggi
puncak untuk analisis kuantitatif.
Sistem KCKT yang digunakan dalam penelitian ini adalah fase terbalik,
artinya ukuran kolom sama, tetapi silika dimodifikasi untuk membuat non-polar
dengan melampirkan rantai hidrokarbon panjang untuk permukaan (biasanya
dengan atom karbon, baik 8 atau 18). Pelarut yang digunakan bersifat polar, dalam
penelitian ini digunakan campuran astonitril:air (50:50).

Dalam hal ini, akan terdapat daya tarik yang kuat antara pelarut polar dan
molekul polar dalam campuran yang melalui kolom. Daya tarik yang terjadi tidak
akan sekuat daya tarik antara rantai-rantai hidrokarbon yang berlekatan pada silika
(fase diam) dan molekul-molekul polar dalam larutan. Oleh karena itu, molekulmolekul polar dalam campuran akan memakan waktu lebih lama untuk bergerak
bersama dengan pelarut.
Senyawa-senyawa

non

polar

dalam

campuran

akan

cenderung

membentuk atraksi dengan gugus hidrokarbon karena adanya dispersi gaya van
der Waals. Senyawa-senyawa ini juga akan kurang larut dalam pelarut karena
membutuhkan pemutusan ikatan hydrogen sehingga akan menghabiskan waktu
lebih lama dalam larutan dan akan bergerak lambat dalam kolom. Ini berarti
bahwa molekul-molekul polar akan bergerak lebih cepat melalui kolom.
Detektor yang digunakan dalam HPLC ini adalah detector UV (Ultra
Violet), dimana detector ini dapat mengabsorpsi suatu senyawa yang memiliki
gugus kromofor pada rentang panjang gelombang 200-400 nm. Sampel yang
diteliti adalah melamin. Melamin merupakan senyawa organik yang bersifat basa
dngan kandungan nitrogen yang cukup tinggi. Berdasarkan struktur melamin
(halaman 86 dalam jurnal), terlihat bahwa melamin memilik gugus kromofor
berupa cincin aromatik. Dengan demikian, zat ini cocok untuk diuji menggunakan
detektor UV.
Hal pertama yang dilakukan adalah membuat kurva baku melamin.
Melamin standar dibuat dalam lima seri konsentrasi, yakni 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm
menggunakan fase gerak (campuran asetonitril-air). Kemudian diinjeksikan ke
dalam kolom dan akan mengalami proses sonikasi. Sonikasi yaitu proses
menghilangkan gelembung dari.larutan sehingga tidak mengganggu jalannya
analisis. Kecepatan alir fase gerak diatur 1 ml/menit. Artinya, setiap 1 menit, fase
gerak yang mengalir melalui kolom hingga ke detektor hanya sebanyak 1 ml. Ini
merupakan kecepatan minimum dan ini digunakan untuk mempercepat jalannya
reaksi dan menghemat penggunaan fase gerak. Panjang gelombang diatur pada
240 nm sesuai dengan panjang gelombang maksimm melamin pada literatur.

Hasil yang diperoleh dari pembuatan kurva standar ini adalah luas area
yang diplotkan dengan konsentrasi dan dibuat persamaan garis liniernya.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh persamaan garis (seperti pada halaman
90 dalam jurnal), y = 0,3771x + 0,0151 dengan nilai r=0,9988. Hal ini
menunjukkan bahwa kurva standar yang terbentuk memiliki ketelitian yang baik,
karena nilai r sangan mendekati 1. Hal ini juga didukung dengan hasil uji LOD
(0,5194g/ml) dan LOQ (1,7316 g/ml) yang sangat kecil dan nilai KV sebesar
4,263% (di bawah 5%). Semakin kecil nilai LOD, LOQ, dan KV maka semakin
baik tingkat ketelitian suatu data.
Analisis

sampel

dilakukan

menggunakan

ekstrak

sampel

yang

ditambahkan dengan fase gerak. Perlakuan pada alat sama dengan perlakuan saat
mengukur kurva standar, sehingga hasil yang diperoleh sampel dapat
dibandingkan dengan standar.
Berdasarkan kromatogram yang terbentuk, data yang diperoleh dapat
disajikan sebagai berikut:
Pengujian
Standar
Sampel 1
Sampel 2
Sampel 3

Waktu Retensi
(menit)
1,823

Luas Area
379,3422

1,276
1,166
1,626

10,2844
76,1184
72,2720

Sampel 4
2,700
18,0168
Dari data tersebut diketahui bahwa waktu retensi sampel tidak ada yang
mendekati atau sama dengan waktu retensi standar, sehingga dalam penelitian ini
disimpulkan bahwa tidak terdapat kandungan melamin dalam semua sampel.
Waktu retensi adalah waktu antara saat analit dimasukkan atau diinjeksikan ke
dalam kolom sampai terdeteksi maksimal oleh detektor.
Pada waktu retensi tersebut akan terdapat puncak kromatogram dengan
luas area tertentu yang menandakan adanya suatu senyawa yang terdeteksi. Jika
puncak terjadi pada waktu retensi yang berbeda, maka dapat dikatakan bahwa
puncak yang terbentuk merupakan senyawa yang berbeda. Dengan demikan,
senyawa yang terdeteksi ada semua sampel bukanlah melamin.

Jika waktu retensi pada sampel sama dengan standar, maka yang diamati
adalah puncak yang terbentuk. Apabila terdapat satu puncak sempurna, maka
dapat langsung ditentukan luas areanya. Namun jia terbentuk puncak dengan
tailing atau berekor atau dua puncak berhimpit tetapi tidak menyentuh dasar
dengan sempurna, maka dapat dilakukanj beberapa cara untuk membuat puncak
menjadi satu dan sempurna. Cara tersebut antara lain dengan mengganti
perbandingan pelarut atau menggunakan fase gradient, yaitu mengubah
perbandingan pelarut secara otomatis pada waktu tertentu.
Oleh karena senyawa yang terukur bukanlah melamin, maka analisis
tidak dilanjutkan hingga penentuan konsentrasi sampel. Penentuan konsentrasi
sampel dapat dilakukan dengan menentukan kadar sampel (x) melalui persamaan

kurva standar, yakni

x (ppm )=

y0,0151
0,3771

Sehingga konsentrasi sampel dapat ditentukan menggunakan rumus:


Konsentrasi

. volume akhir
pengenceran
( gg )= xpenimbangan

Hasil kandungan melamin yang negatif dari penelitian ini menandakan


bahwa susu impor yang beredar di Swalayan Brebes dinyatakan aman. Karena
melamin dapat larut dalam air, terutama air panas, dan sangat berbahaya jika
masuk dalam saluran pencernaan manusia. Bahkan beberapa tahun yang lalu di
China banyak balita yang meninggal akibat mengkonsumsi susu yang ternyata
mengandung melamin.