Anda di halaman 1dari 6

Teory of Planned Behavior

Belief mengacu pada kemungkinan subjektif yang dimiliki seseorang tentang hubungan
antara objek belief dengan objek nilai, konsep, dan atribut lain. Melalui berbagai pengalaman
dengan lingkungan, individu membentuk berbagai macam belief tentang objek, tingkah laku, dan
kejadian. Selain itu belief juga dapat merupakan hasil dari observasi langsung maupun proses
inferensial, sehingga individu dapat mempunyai belief tentang suatu tingkah laku tertentu
(Fishbein & Ajzen, 1975).
Albert Ellis, teoretikus kognitif terkemuka, mengungkapkan bahwa belief merupakan
salah satu di antara tiga pilar yang membangun tingkah laku individu. Ketiga pilar tersebut
antara lain peristiwa yang menggerakkan atau Antecedent event (A), keyakinan atau Beliefs (B),
dan konsekuensi atau emotional Consequences (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal
dengan konsep atau teori ABC (Latipun, 2006).
1. Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar
individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain.
2. Beliefs (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap
suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational
belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang
rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan
karena itu menjadi produktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan ayau sistem
berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan karena itu tidak produktif.
3. Consequences (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi
individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan
antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi
disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun
yang iB.
Theory of Planned Behavior (TPB) awalnya dinamai Theory of Reasoned Action (TRA),
dikembangkan di tahun 1967, selanjutnya teori tersebut terus direvisi dan diperluas oleh Icek
Ajzen dan Martin Fishbein. Mulai tahun 1980 teori tersebut digunakan untuk mempelajari
perilaku manusia dan untuk mengembangkan intervensi-intervensi yang lebih mengena. Pada
tahun 1988, hal lain ditambahkan pada model reasoned action yang sudah ada tersebut dan
kemudian dinamai Theory of Planned Behavior (TPB), untuk mengatasi kekurangadekuatan

yang ditemukan oleh Ajzen dan Fishbein melalui penelitian-penelitian mereka dengan
menggunakan TRA (Ajzen, 1991).
Faktor belief merupakan dasar penggerak dalam berperilaku (Machrus & Purwono,
2010). Teori ini memuat asumsi bahwa suatu tingkah laku ditampilkan karena alasan tertentu,
yaitu bahwa seseorang berpikir mengenai konsekuensi tindakannya dan membuat keputusan
yang hati-hati untuk mencapai hasil tertentu dan menghindari hal lain (Ajzen, 1991).
Teori tindakan yang direncanakan (theory of planned behavior) mengemukakan bahwa
tindakan manusia dibimbing oleh tiga macam faktor, yaitu keyakinan (belief) tentang hasil
perilaku dan evaluasi terhadap hasil perilaku (behavior belief), keyakinan tentang harapan
normatif dari orang lain, motivasi untuk menuruti dari adanya harapan tersebut (normative
belief), dan keyakinan tentang hadirnya faktor yang memfasilitasi atau menghambat perilaku,
serta persepsi adanya power pada faktor tersebut (control belief ) (Machrus & Purwono, 2010).

Gambar 1. Teory of Planned Behavior (Aczen,1991)


Theory of Planned Behavior didasarkan pada asumsi bahwa manusia adalah makhluk yang
rasional dan menggunakan informasi-informasi yang mungkin baginya, secara sistematis. Orang
memikirkan implikasi dari tindakan mereka sebelum mereka memutuskan untuk melakukan atau
tidak melakukan perilaku-perilaku tertentu (Machrus & Purwono, 2010).
Berdasarkan beberapa perngertian tersebut dapat disimpulkan bahwa belief merupakan
seperangkat keyakinan, pandangan, penilaian individu mengenai suatu hal yang merupakan dasar

penggerak dalam berperilaku. Belief dapat dibagi ke dalam 3 macam yaitu belief mengenai hasil
perilaku, belief mengenai harapan normatif dari orang lain, dan belief mengenai hadirnya faktor
pendukung atau penghambat perilaku. Belief dapat bersifat rasional maupun irasional
(Humaidah,2013).
Theory of Reasoned Action (TRA) dan Theory of Planned Behavior (TPB) fokus terhadap
konstruksi teoritis yang menyangkut faktor motivasi suatu individu sebagai determinan dari
terjadinya suatu perilaku yang spesifik. TPB merupakan kelanjutan dari TRA dengan
menambahan perceived control pada faktor terjadinya perilaku. Beberapa tahun belakangan,
Fishbein dan peneliti lain memperluas teori TRA dan TPB dengan memasukkan komponen dai
teori perilaku utama lainnya dan mengusulkan penggunaan Integrated Behavioral Model (IBM)
(Glanz et al,2008).
TRA menegaskan bahwa determinan utama dari perilaku dalah behavioral intention (lihat
gambar yang tidak diarsir pada gambar 2). Determinan langsung pada intensi perilaku suatu
individu adalah sikap (attitude) terhadap perilaku dan norma (subjective norm) terhadap perilaku.
TPB menambahkan perceived control pada perilaku, dengan mempertimbangkan situasi dimana
satu mungkin tidak memiliki kontrol penuh atas kehendak perilaku (lihat gambar yang diarsir
pada gambar 2) (Glanz et al,2008).

External
variables
Demograph
ic variables
Attitudes
towards
targets
Personality
traits

behavioral
beliefs
attitude
Evaluations
of
behavioral
outcomes
Normative
beliefs

Subjective
norm

Motivation
to comply

Other
individual
difference
variables

Control
beliefs

Intention to
perform
the
behavior

behavior

Perceived
control

Perceived
power

Gambar 2. Theory of Reasoned Action (TRA) dan Theory of Planned Behavior (TPB)
Attitude ditentukan oleh belief pada individu tentang hasil yang akan didapat saat
melakukan suatu perilaku (behavioral beliefs), diikuti dengan evaluasi terhadap hasil tersebut.
Seseorang yang memiliki beliefs kuat bahwa hasil yang didapat dari perilaku adalah positif maka
seseorang itu akan memiliki nilai positif terhadap perilaku yang dilakukannya, begitu pula
sebaliknya (Glanz et al,2008). .
Subjective norm dari seseorang ditentukan oleh normative beliefs pada dirinya, apakah
orang orang disekitarnya setuju atau tidak setuju terhadap suatu perilaku disertai dengan adanya
motivasi untuk mengikuti rujukan dari orang lain. Seseorang yang percaya bahwa orang orang
yang dijadikan referensi ini berpikir akan menyetujui tindakan yang akan dilakukannya dan
termotivasi untuk memenuhi ekspektasi orang orang tersebut maka akan memiliki subjective
norm positif (Glanz et al,2008). .

Perceived control disertakan oleh Ajzen didasarkan dari ide bahwa suatu perilaku
ditentukan oleh gabungan dari motivasi (intention) dan kemampuan (behavioral control).
Persepsi seseorang pada kontrol terhadap perilaku bersama dengan intensi akan memeberikan
efek langsung terhadap perilaku, khususnya ketika perceived control merupakan pengukuran
akurat terhadap kontrol perilaku dan ketika kontrol kehendak tidak tinggi (Glanz et al,2008).
TPB juga mengemukakan bahwa perceived control merupakan determinan yang
independen dari intensi perilaku bersama dengan sikap terhadap perilaku dan norma subjektif.
Sikap dan subjective norm yang dianut seseorang akan merubah persepsi seseorang terhadap
mudah atau sulit suatu perilaku itu akan mempengaruhi intensi perilaku. Hal hal yang berkaitan
dengan tiga faktor ini dalam menentukan intensi akan bervariasi pada setiap perilaku dan
populasi yang berbeda (Glanz et al,2008).
TRA dan TPB mengasumsikan rantain penyebab yang menghubungkan behavioral beliefs,
normative beliefs dan control beliefs terhadap behavioral intentions dan behaviors melalui
attitudes, subjective norm dan perceived control. Hal ini merupaka salah satu kekuatan utama
dari pendekatan TRA/TPB. Faktor lain, termasuk demografik dan karakteristik lingkungan
diasumsikan beroperasi melalui konstriksi model dan tidak secara langsung berkontribusi untuk
menjelaskan kemungkinan melakukan perilaku (Glanz et al,2008).

Fishbein, M., & Ajzen, I. 1975. Belief, attitude, intention and behavior: an introduction to theory and
research. Addison-wesley publishing company inc, Menlo Park, California.
Latipun. 2006. Psikologi konseling. Malang: UMM Press.
Ajzen, I. 1991. The theory of planned behavior. Organizational behavior and human decision processes.
50,179-211.
Machrus, H. & Purwono, U. 2010. Pengukuran perilaku berdasarkan theory of planned behavior. INSAN
Vol. 12 No. 01, April 2010.
Humaidah, Zahrah Emqi. 2013. Belief Pada Remaja Penyalahguna Alkohol. Jurnal Online Psikologi Vol. 01
No. 02, Thn. 2013 Diakses dari http://ejournal.umm.ac.id.

Glanz, Karen. Rimer,Barbara K. Viswanath,K. 2008. Health Behavior and Health Education. Edisi Keempat.
USA: John Willey &Sons,inc.