Anda di halaman 1dari 10

REFLEKSI KASUS

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK


Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu THT-KL
Di RSUD Tugurejo Semarang

Disusun oleh :
Nurul Kafi Al Miladi
01.209.5974
Pembimbing :
dr. Dina Permatasari, Sp. THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2014

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2014

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. HR

Umur

: 45 tahun

Agama

: Islam

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Bringin Lestari Ngaliyan-Semarang

Tanggal Datang

: 23 Oktober 2014

No.RM

: 011977

II. ANAMNESIS
Anamnesis

: Autoanamnesis

Keluhan Utama

: Kontrol, telinga sebelah kiri terasa kemeng.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluh telinga sebelah kiri terasa kemeng, keluhan dirasa sejak kemarin.
Pasien juga mengalami penurunan pendengaran. Keluhan lain seperti keluar cairan dari
telinga, nyeri, dan demam disangkal. Tidak ada keluhan pada telinga kanan.
Pasien sebelumnya 1 bulan yang lalu mengeluh keluar cairan dari telinga kiri, cairan
berwarnya kekuningan, nyeri (+). Pasien rutin kontrol ke poli THT untuk memeriksakan
keluhannya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami keluhan ini sebelumnya. Pasien sering menderita
batuk dan pilek. Riwayat trauma, suka mengorek telinga, dan sering berenang disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengaku tidak ada keluarga yang sakit seperti ini.
Riwayat Alergi
Riwayat alergi seperti bersin-bersin dan gatal-gatal ketika terkena debu, atau setelah
memakan makanan tertentu disangkal. Riwayat asma juga disangkal.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status generalis

Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Vital Sign

:
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Suhu

: 36,5o C

Nafas

: 20 x/ menit

Nadi

: 88 x/ menit

Status lokalis
Telinga
Bagian

Kelainan

Sinistra
-

Radang dan tumor

Trauma
Kelainan kongenital

Radang dan tumor

Trauma
Edema

Hiperemis

Nyeri tekan

Sikatriks

Fistula

Fluktuasi
Nyeri
pergerakan

Kelainan kongenital
Preaurikula

Aurikula

Retroaurikula

Palpasi
Canalis

Auris
Dextra
-

aurikula
Nyeri tekan tragus
Kelainan kongenital

Acustikus

Kulit

Tenang

Tenang

Externa

Sekret

+ (putih)

Serumen

Edema

Jaringan granulasi

Massa

Cholesteatoma

Warna

putih keabu-

Hiperemis

abuan

Membrana
Timpani

Intak

(+)

(-)

Retraksi

(-)

(-)

Refleks cahaya

(+)

(-)

Perforasi

(-)

(+)

Hidung
Rhinoskopi anterior
Mukosa hidung

Cavum nasi kanan


Cavum nasi kiri
Hiperemis (-), sekret Hiperemis (-), sekret (-),

Septum nasi
Konka
inferior

(-), massa (-)


massa (-)
Deviasi (-), dislokasi (-) Deviasi (-), dislokasi (-)
dan Edema (-), hiperemis Edema (-), hiperemis (-)

media
Meatus

(-)
dan Polip (-)

inferior

Polip (-)

media

Mulut Dan Orofaring

Bagian

Kelainan

Keterangan

Mukosa mulut
Lidah

Tenang
Bersih, basah,gerakan normal kesegala
arah

Mulut

Palatum molle
Gigi geligi

Caries (-)

Uvula

Simetris

Halitosis
Mukosa

(-)
Tenang

Besar

T1 T1

Kripta :
Tonsil

Faring

Tenang, simetris

Normal - Normal

Detritus :

(-/-)

Perlengketan

(-/-)

Mukosa

Tenang

Granula

(-)

Post nasal drip

(-)

Maksilofasial
Bentuk

: Simetris

Nyeri tekan

:-

Leher
Kelenjar getah bening : Tidak teraba pembesaran KGB
Massa
: Tidak ada

IV. RESUME
Anamnesis :

Pasien mengeluh telinga sebelah kiri terasa kemeng, keluhan dirasa sejak kemarin,
penurunan pendengaran (+), keluar cairan dari telinga (-), nyeri (-), demam (-). Tidak ada
keluhan pada telinga kanan.
Pasien 2 bulan yang lalu mengeluarkan cairan dari telinga kiri, cairan berwarnya
kekuningan, nyeri (+). Pasien sering menderita batuk dan pilek. Riwayat trauma, suka
mengorek telinga, dan sering berenang disangkal.
Pemeriksaan Fisik :
Status generalis : normal
Status lokalis :
Telinga :
Kanan : normal
Kiri : sekret + (mukopurulen), MT hiperemis tampak perforasi sub total.
Hidung : kanan-kiri normal
Mulut dan Orofaring : normal
Maksilofasial : normal
Leher : normal
V. DIAGNOSIS BANDING
Otitis Media Supuratif Kronik tipe Benigna.
Otitis Media Supuratif Kronik tipe Maligna.
Otitis Media Supuratif Kronik tipe Aktif.
Otitis Media Supuratif Kronik tipe Tenang.
VI. DIAGNOSIS
Otitis Media Supuratif Kronik Sinistra tipe Maligna dan tipe Aktif.
VI. PENGELOLAAN DAN TERAPI

Pembersihan liang telinga dengan suction

Pemberian obat cuci telinga H2O2

Pemberian obat oral:


-

Levofloxacin 500 mg 1x1 tablet

- Metil prednisolon 4 mg 2x1 tablet


- Asam Mefenamat 500 mg 3x1 tablet
- Tarivid Otic 3x2 tetea AS
Bila sekret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 6 bulan
maka dilakukan timpanoplasti.

VII. EDUKASI

Hindari air masuk ke telinga ketika mandi


Hindari aktivitas yang berhubungan dengan air yang memungkinkan air masuk ke

telinga seperti berenang


Nutrisi yang cukup dan seimbang

VIII. PROGNOSIS
Quo ad vitam

ad bonam

Quo ad functionam

dubia ad bonam

Klasifikas Otitis Media Supuratif Kronik


OMSK dapat dibagi atas 2 tipe, yaitu :
a)

Tipe tubotimpani (tipe jinak/tipe aman/tipe rhinogen)

Proses peradangan pada OMSK tipe tubotimpani hanya terbatas pada mukosa saja dan
biasanya tidak mengenai tulang. Tipe tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau
pars tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Beberapa faktor
lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius, infeksi saluran nafas
atas, pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya tahan tubuh
yang rendah. Disamping itu campuran bakteri aerob dan anaerob, luas dan derajat perubahan
mukosa, serta migrasi sekunder dari epitel skuamosa juga berperan dalam perkembangan tipe
ini. Sekret mukoid kronis berhubungan dengan hiperplasia goblet sel, metaplasia dari mukosa
telinga tengah pada tipe respirasi dan mukosiliar yang jelek.
b) Tipe atikoantral (tipe ganas/tipe tidak aman/tipe tulang)
Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Perforasi tipe ini letaknya
marginal atau di atik yang lebih sering mengenai pars flaksida. Karakteristik utama dari tipe
ini adalah terbentuknya kantong retraksi yang berisi tumpukan keratin sampai menghasilkan
kolesteatom.
No
1.
2.

OMSK benigna
Tidak terdapat kolesteatom
Tidak Terdapat penurunan pendengaran yang berat

3.
4.
5.
6.
7.

Tidak terdapat jaringan granulasi


Otore tidak berbau
Otore tidak bercampur darah
Tidak terdapat komplikasi
Tidak terdapat destruksi tulang

c)

OMSK maligna
Terdapat kolesteatom
Terdapat penurunan
pendengaran yang berat
Terdapat jaringan granulasi
Otore berbau
Otore bercampur darah
Terdapat komplikasi
Terdapat destruksi tulang

Tipe aktif

Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh perluasan infeksi
saluran nafas atas melalui tuba eutachius, atau setelah berenang di mana kuman masuk
melalui liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai mukopurulen. Ukuran
perforasi bervariasi dan jarang ditemukan polip yang besar pada liang telinga luas. Perluasan
infeksi ke sel-sel mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas dan penyakit mukosa yang
menetap harus dicurigai bila tindakan konservatif gagal untuk mengontrol infeksi.
d)

Tipe tenang

Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga tengah
yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai
seperti vertigo, tinitus, and atau suatu rasa penuh dalam telinga.

Patogenesis Kolesteatoma
Banyak teori dikemukakan oleh para ahli tentang patogenesis kolesteatoma, antara lain
adalah: teori invaginasi, teori imigrasi, teori metaplasi dan teori implantasi. Teori tersebut
akan lebih mudah dipahami bila diperhatikan definisi kolesteatoma menurut Gray (1964)
yang mengatakan; kolesteatoma adalah epitel kulit yang berada pada tempat yang salah atau
menurut pemahaman Djaafar (2001) kolesteatoma dapat terjadi karena adanya epitel kulit
yang terperangkap. Sebagaimana diketahui bahwa seluruh epitel kulit (keratinizing stratified
squamosus epithelium) pada tubuh kita berada pada lokasi yang terbuka/ terpapar ke dunia
luar. Epitel kulit di liang telinga merupakan suatu daerah Cul-de-sac sehingga apabila
terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama maka dari epitel kulit yang
berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap sehingga membentuk
kolesteatoma.
1. Teori invaginasi
Kolesteatoma timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membrana timpani pars plasida
karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba.
2. Teori imigrasi
Kolesteatoma terbentuk akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari
pinggir perforasi membrana timpani ke telinga tengah4. Migrasi ini berperan penting dalam
akumulasi debris keratin dan sel skuamosa dalam retraksi kantong dan perluasan kulit ke
dalam telinga tengah melalui perforasi membran timpani.
3. Teori metaplasi
Terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung
lama.
4. Teori implantasi

Pada teori implantasi dikatakan bahwa kolesteatom terjadi akibat adanya implantasi
epitel kulit secara iatrogenik ke dalam telinga tengah waktu operasi, setelah blust injury,
pemasangan ventilasi tube atau setelah miringotomi.
Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman, yang paling sering
adalah Pseudomonas aerogenusa. Pembesaran kolesteatom menjadi lebih cepat apabila sudah
disertai infeksi, kolesteatom ini akan menekan dan mendesak organ di sekitarnya serta
menimbulkan nekrosis terhadap tulang. Terjadinya proses nekrosis terhadap tulang diperhebat
dengan adanya pembentukan reaksi asam oleh pembusukan bakteri. Proses nekrosis tulang ini
mempermudah timbulnya komplikasi seperti labirinitis, meningitis dan abses otak.