Anda di halaman 1dari 22

TUGAS KEPERAWATAN KOMUNITAS III

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA KELOMPOK ANAK USIA


SEKOLAH

Disusun Oleh :
Kelompok 1:

Auliani Annisa Febri


Aspri Mesfarika
Atikah Nurul Huda DV
Darliana
Emil Wahyu Andria
Diky Laksono Segoro
Feri Randani
Doni
Gina Zulfia Arni
Isra Aini

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERINTIS SUMBAR
KAMPUS II BUKITTINGGI
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr. Wb.


Puji syukur senangtiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
Memberikan pengetahuan kepada kita dan terus mencari nilai-nilai kehidupan yang
sejatinya adalah ridha Ilahi. Salawat dan salam kepada baginda Muhammad SAW
yang berjuang demi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan.
Mahasiswa adalah emban masyarakat, amanah dari Tuhan sehingga kita
perlu berakselerasi menuju nilai-nilai intelektualitas. Seorang mahsasiswa yang
kemudian mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab kepada masyarakat,
dengan harapan tercapainya kesejahteraan di bidang kesehatan.
Pada kesempatan ini secara khusus kami mengucapkan terima kasih kepada
dosen pembimbing teman-teman dan kerabat yang telah memberi petunjuk dan
dorongan untuk menyelesaikan makalah ini.
Akhirnya Kami mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kita semua. Oleh karena itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun tetap kami
nantikan demi kesempurnaan makalah ini ke depan. Amin
Terima Kasih

Bukittinggi, 30 Maret 2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan bagian integral dari kehidupan manusia, bertolak dari
latar belakang manusia yang berbeda-beda. Hal ini mengakibatkan banyak faktor
yang terjadi dan berhubungan dengan masalah kesehatan. Di dalam komunitas
masyarakat suatu daerah bila di klasifikasikan berdasarkan kelompok khusus, yang
sangat rentan terhadap kondisi kesehatan terganggu adalah kelompok khusus anak
usia sekolah. Salah satu upaya yang dilaksanakan adalah meningkatkan pola hidup
masyarakat yang sehat dengan melakukan kegiatan keperawatan pada komunitas
atau masyarakat yang didalamnya terdapat kelompok khusus anak sekolah.
Ditemukan sebagian besar anak SD yang memiliki masalah kebersihan diri
(personal hygiene), cukup banyak, antara lain murid yang bermasalah pada gigi,
murid yang tidak tidak mencuci tangan sebelum makan dengan persentase, murid
yang tidak mencuci kaki sebelum tidur dengan persentase, murid tidak biasa
memakai alas kaki, murid tidak biasa potong kuku, murid yang mempunyai
kebiasaan mandi 1 kali sehari. Dampak negatif dari perilaku tersebut adalah
menimbulkan berbagai penyakit yang terjadi seperti karies gigi, diare, cacingan,
dan gatal-gatal. Sehingga perlu untuk ditindak lanjuti dengan pemberian asuhan
keperawatan.
Melihat berbagai masalah kesehatan yang muncul pada kelompok usia anak
sekolah maka diperlukan adanya peran tenaga kesehatan dalam membantu
menangani masalah tersebut baik promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
B. Rumusan Masalah
1. Apa defenisi dari Sekolah dan Komunitas?
2. Bagaimana sejarah dari sekolah?
3. Apa saja ruang lingkup sekolah?
4. Bagaimana peran perawat dalam kmunitas anak usia sekolah?
5. Bagaimana model keperawatan usia sekolah?
6. Apa saja kebijakan dan program pemerintah terkait kesehatan anak usia
sekolah?

C. Tujuan
1. Menegetahui defenisi dari Sekolah dan Komunitas.
2. Mengetahui sejarah dari sekolah.
3. Mengetahui ruang lingkup sekolah.
4. Mengetahui peran perawat dalam kmunitas anak usia sekolah.
5. Mengetahui model keperawatan usia sekolah.
6. Mengetahui kebijakan dan program pemerintah terkait kesehatan anak usia
sekolah.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Definisi Sekolah dan Komunitas
1. Defenisi Sekolah

Kata sekolah berasal dari Bahasa Latin yaitu: skhole, scola, scolae atau
skhola yang memiliki arti: waktu luang atau waktu senggang, dimana ketika itu
sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah
kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk
menikmati masa anak-anak dan remaja. Kegiatan dalam waktu luang itu adalah
mempelajari cara berhitung, cara membaca huruf dan mengenal tentang moral
(budi pekerti) dan estetika (seni).
Pengertian sekolah sendiri adalah suatu lembaga yang memang dirancang
khusus untuk pengajaran para murid (siswa) di bawah pengawasan para guru.
Kebanyakan dalam sebuah negara mempunyai model sistem pendidikan formal
yang mana hal ini sifatnya wajib. Selain itu sistem ini jugalah yang membuat
para

siswa

bisa

mengalami

kemajuan

dengan

melalui

serangkaian sekolah tersebut.


1. Pengertian Anak Usia Sekolah
Anak usia sekolah adalah anak yang memiliki umur 6 sampai 12 tahun yang
masih duduk di sekolah dasar dari kelas 1 sampai kelas 6 dan perkembangan
sesuai usianya. Anak usia sekolah adalah anak denga usia 7 sampai 15 tahun
(termasuk anak cacat) yang menjadi sasaran program wajib belajar pendidikan
9 tahun.
2. Tahap perkembangan anak usia sekolah
a. Aspek fisik
Kecerdasan perkembangan secara pesat,berpikir makin logis dan kritis fantasis
semakin kuat sehingga sering kali terjadi konflik sendiri, penuh dengan cita

cita .
b. Aspek sosial
Mengejar tugas tugas sekolah bermotivasi untuk belajar, namun masih
memiliki kecenderungan untuk kurang hati hati dan berhati hati.
c. Aspek kognitif
Anak bermain dalam kelompok dengan aturan kelompok (kerja sama). Anak
termotivasi dan mengerti hal hal sistematik
3. Peran Dan Fungsi Keluarga Bagi Anak Usia Sekolah
Tugas perkembangan dalam anak usia sekolah menurut Duval dam Miller Carter
dan Mc Goldrik dalam Friedman (1980) :
1. Mensosialisasikan anak - anak termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan
mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sehat .
2. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan
3. Memenuhi kebutuhan fisik anggota keluarga
2. Defenisi Komunitas
Komunitas dapat diartikan kumpulan orang pada wilayah tertentu dengan
sistem sosial tertentu. Komunitas meliputi individu, keluarga, kelompok/agregat
dan masyarakat. Salah satu agregat di komunitas adalah kelompok anak usia
sekolah yang tergolong kelompok berisiko (at risk) terhadap timbulnya masalah
kesehatan yang terkait perilaku tidak sehat. Berdasarkan umur kronologis dan
berbagai kepentingan, terdapat berbagai definisi tentang anak usia sekolah
yaitu:
a. Menurut definisi WHO (World Health Organization) yaitu golongan anak yang
berusia antara 7-15 tahun , sedangkan di Indonesia lazimnya anak yang
berusia 7-12 tahun.
b. Menurut Wong (2009), usia sekolah adalah anak pada usia 6-12 tahun
B. Sejarah Sekolah
Sekolah adalah sebuah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa
(atau murid) di bawah pengawasan guru. Sebagian besar negara memiliki
sistem pendidikan formal, yang umumnya wajib. Dalam sistem ini, siswa
kemajuan melalui serangkaian sekolah. Nama-nama untuk sekolah-sekolah ini

bervariasi menurut negara (dibahas pada bagian Daerah di bawah), tetapi


umumnya termasuk sekolah dasar untuk anak-anak muda dan sekolah
menengah untuk remaja yang telah menyelesaikan pendidikan dasar.
Selain sekolah-sekolah inti, siswa di negara tertentu juga mungkin
memiliki akses dan mengikuti sekolah-sekolah baik sebelum dan sesudah
pendidikan dasar dan menengah. TK atau pra-sekolah menyediakan sekolah
beberapa anak-anak yang sangat muda (biasanya umur 3-5 tahun). Universitas,
sekolah kejuruan, perguruan tinggi atau seminari mungkin tersedia setelah
sekolah menengah. Sebuah sekolah mungkin juga didedikasikan untuk satu
bidang tertentu, seperti sekolah ekonomi atau sekolah tari. Alternatif sekolah
dapat menyediakan kurikulum dan metode non-tradisional.
Ada juga sekolah non-pemerintah, yang disebut sekolah swasta. Sekolah
swasta mungkin untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus ketika pemerintah
tidak bisa memberi sekolah khusus bagi mereka; keagamaan, seperti sekolah
Islam, sekolah Kristen, hawzas, yeshivas dan lain-lain, atau sekolah yang
memiliki

standar

pendidikan

yang

lebih

tinggi

atau

berusaha

untuk

mengembangkan prestasi pribadi lainnya. Sekolah untuk orang dewasa meliputi


lembaga-lembaga pelatihan perusahaan dan pendidikan dan pelatihan militer.
Dalam homeschooling dan sekolah online, pengajaran dan pembelajaran
berlangsung di luar gedung sekolah tradisional.
C. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup MP Menurut Objek Garapan adalah sebagai berikut:
1. Manajemen Peserta Didik (siswa) adalah seluruh proses kegiatan yang
direncanakan dan diusahakan secara sengaja serta pembinaan secara
kontinu terhadap seluruh peserta didik (dalam lembaga pendidikan yang
bersangkutan) agar dapat mengikuti proses belajar mengajar (PBM) secara
efektif

dan

efisien,

demi

tercapainya

tujuan

pendidikan

yang

telah

ditetapkan. Secara kronologis operasional, rentangan kegiatannya mulai dari


penerimaan peserta didik baru sampai mereka meninggalkan sekolah (eksit),
karena telah tamat, meninggal dunia, putus sekolah atau karena sebab-sebab
lain sehingga ia tidak terdaftar lagi sebagai peserta didik sekolah.
2. Manajemen Personel merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan
dan diuahakaan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta pembinaan
secara

kontinu

para

pegawai

di

sekolah,

sehinggga

mereka

dapat

memabntu/menunjang kegiaatan-kegiatan sekolah (khususnya PBM) secara


efektif dan eisien demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Para personel harus dikelola dengan baik agar mereka senantiasa aktif dan
bergairaah dalam menjalankan tugasnya sehari-hari.
3. Manajemen

kurikulum

merupakan

seluruh

proses

kegiatan

yang

direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta


pembinaan secara komntinu terhadap situasi belajar mengajar secara efektif
dan efisien demi membantu tercapainya tujuan pendidikan yang etalah
ditetapkan. Secara operasional kegiatan manajemen

kurikulum meiputi 3

pokok kegiatan, yakni kegiatan yang behubungan dengan guru, peserta didik,
dan seluruh civitas Akademika (warga sekolah).
4. Manajemen

Sarana

dan

prasarana

pendidikan

merupakan

seluruh

proseskegiatan yang direncanakan dn diusahakan secara sengaja dan


bersungguh-sungguh serta pembinaan secara kontinu tehadap benda-benda
pendidikan, agar senantiasa siap paki (ready or usea0 dalam PBM sehingga
PBM semakin efektif dan efisein guna membantu tercapainya tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan.
5. Manajemen biaya perndidikan merupakan seluruh proses kegiatan yang
direncanakan dan dilaksnakan/diusahakan secar sengaja dan besungguhsungguh,

serta

pembinaan

scar

kontinu

terhadap

beya

operasional

sekolah/pendidikan, sehingga kegiatan operasional pendidikan smakin efektif


dan efisien, demi membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah
ditetapkan. Kegiatannya meliputi pengumpulan/penerimaan dana yang sah
(dana utun, SPP, sumbangan BP3, donasi, dan usaha-usaha halal lainnya),
penggunaan dana, dan pertanggungjawaban dana kepada pihak-pihak
terkaityang berwenang.
6. Manajemen Tata laksana/Tata usaha sekolah/pendidikan merupakan seluruh
proses kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan secara sengaja dan
bersungguh-sungguh, serta membina kegiatan-kegiatan yang bersifat tulismenulis (clerical work) dis ekolah, agar PBM semakin efektif dan efisien untuk
membantu

tercapainya

tujuan

epndidikan

yang

tealah

ditetapkan.

Manajemen

tata

laksana

merupakan

serangakian

kegiatan

mencatat,

menyimpan, menggandakan, menghimpun, mengolah, dan mengirim bendabenda trertulis serta warkat yang pada hakikatnya menunjang seluruh
garapan manajemen sekolah.
7. Manajemen Organisasi Pendidikan merupakan seluruh proseskegitan yang
direncanakan dan dilaksanakan/diusahakan secara sengaja dan bersungguhsungguh serta pembinaan secara kontinu terhadap pembagian kerja dan tata
kerja sekolah, sehingga kegiatan operasional pendidikan semakin efektif dan
efisien demi membantu tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.

8. Manajemen Hubungan Masyarakat merupakan seluruh proses kegiatan yang


direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta
pembinaan secara kontinu untuk mendapatkan simapati dari masyarakat
pada

umumnya

serta

publiknya

pada

khususnya,

sehingga

kegiatan

operasional sekolah/pendidikan secara efektif dan efisien, demi membantu


tercapainya tujuah pendidikan yang telah ditetapkan.
D. Peranan sekolah dalam pendidikan
Peranan sekolah dalam pendidikan yang merupakan tingkatan kedua
setelah pendidikan dalam keluarga. Peranan sekolah yakni mendidik dan
mengajar serta memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak didik yang
dibawa dari keluarganya. Peran seorang guru yang sebagai pendidik harus
memikul pertanggungjawaban untuk mendidik.
Guru yang ada di sekolah merupakan pendidik formal secara langsung
menerima kepercayaan dari sekolah

maupun masyarakat untuk memangku

jabatan dan tanggungjawab pendidikan. Selain dari guru, sekolah juga butuh
adanya alat sebagai pelengkap berkembangnya pendidikan. Yang dimaksud alat
pendidikan disini yakni suatu tindakan atau situasi yang sengaja diadakan untuk
tercapainya suatu tujuan pendidikan tertentu atau yang ingin dicapainya. Antara
lain berupa hukuman dan ganjaran, perintah dan larangan, pujian dan celaan,
contoh serta kebiasaan.
Selain itu juga pada gedung sekolah, keadaan perlengkapan sekolah,
keadaan alat-alat pelajaran, dan fasilitas-fasilitas lainnya.

Perubahan perilaku

pada dasarnya dipengaruhi oleh pendidikan yang ia terima sepanjang hayatnya,


pendidikan ini bukan saja sebatas yang formal seperti sekolah atau kursuskursus namun dalam arti luas artinya segala sesuatu yang diterima manusia
melalui panca indera itu menjadi bagain dari pendidikan. Melihat, mendengar,
merasa, dan meraba merupakan komponen penting dalam pendidikan, dan itu
sangat-sangat mudah ia dapatkan dari lingkungan, baik lingkungan pendidikan
formal atau non formal.
E. Peran Perawat Komunitas Terkait Anak Usia Sekolah
1. Praktik Keperawatan Kesehatan Komunitas.
Keperawatan kesehatan komunitas (CHN) merupakan spesialis pelayanan
keperawatan yang berbasiskan pada masyarakat dimana perawat mengambil
tanggung jawab untuk berkontribusi meningkatkan derajad kesehatan
masyarakat.

Fokus

utama

upaya

CHN

adalah

pencegahan

penyakit,

peningkatan dan mempertahankan kesehatan dengan tanggung jawab


utama perawat CHN pada keseluruhan populasi dengan penekanan pada
kesehatan kelompok populasi daripada individu dan keluarga.
2. Fungsi dan Peran Perawat CHN Pada Agregat Anak Usia Sekolah
Fungsi dan peran perawat kesehatan komunitas terkait agregat anak usia
sekolah antara lain :
a. Kolaborator
Perawat bekerjasama dengan lintas program dan

lintas

sektoral

dalam

membuat keputusan dan melaksanakan tindakan untuk menyelesaikan


masalah anak sekolah. Seperti halnya perawat melakukan kemitraan dengan
tokoh masyarakat, tokoh agama, keluarga, guru, kepolisian, psikolog,
dokter,LSM, dan sebagainya.
b. Koordinator
Mengkoordinir pelaksanaan konferensi kasus sesuai kebutuhan anak sekolah,
menetapkan penyedia pelayanan untuk anak usia sekolah.
c. Case finder
Mengembangkan tanda dan gejala kesehatan yang terjadi pada agregat anak
usia

sekolah,

menggunakan

proses

diagnostik

untuk

potensial kasus penyakit dan risiko pada anak usia sekolah.


d. Case manager

mengidentifikasi

Mengidentifikasi

kebutuhan

anak

usia

sekolah,

merancang

rencana

perawatan untuk memenuhi kebutuhan anak usia sekolah, mengawasi


pelaksanaan pelayanan dan mengevaluasi dampak pelayanan.
e. Pendidik
Mengembangkan rencana pendidikan kepada keluarga dengan anak usia
sekolah

di masyarakat dan anak usia sekolah di institusi formal,

memberikan pendidikan kesehatan sesuai kebutuhan, mengevaluasi dampak


f.

pendidikan kesehatan.
Konselor
Membantu anak usia sekolah mengidentifikasi masalah dan alternatif solusi,
membantu anak usia sekolah mengevaluasi efek solusi dan pemecahan

masalah.
g. Peneliti
Merancang riset terkait anak usia sekolah, mengaplikasikan hasil riset pada
anak usia sekolah, mendesiminasikan hasil riset.
h. Care giver
Mengkaji status kesehatan komunitas anak usia sekolah, menetapkan
diagnosa
i.

keperawatan,

merencanakan

intervensi

keperawatan,

melaksanakan rencana tindakan dan mengevaluasi hasil intervensi.


Pembela
Memperoleh fakta terkait situasi yang dihadapi anak usia

sekolah,

menentukan kebutuhan advokasi, menyampaikan kasus anak usia sekolah


terhadap pengambil keputusan, mempersiapkan anak usia sekolah untuk
mandiri.
F. Model keperawatan sekolah
Framework/ Model yang Digunakan Untuk Pengkajian Komunitas
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada agregat anak usia sekolah
menggunakan pendekatan Community as partner model.

Klien (anak usia

sekolah) digambarkan sebagai inti (core) mencakup sejarah, demografi, suku


bangsa, nilai dan keyakinan dengan 8 (delapan) subsistem yang saling
mempengaruhi meliputi lingkungan fisik, pelayanan kesehatan dan sosial,
ekonomi, keamanan dan transportasi, politik dan pemerintahan, komunikasi,
pendidikan dan rekreasi (Anderson, Mc Farlane, 2000 dalam Ervin, 2002).
Delapan subsistem yang dikaji seperti berikut:

A. Data inti komunitas, terdiri dari:


1.

Demografi : Jumlah anak usia sekolah keseluruhan, jumlah anak usia sekolah
menurut jenis kelamin, golongan umur.

2.

Etnis : suku bangsa, budaya, tipe keluarga.

3.

Nilai, kepercayaan dan agama : nilai dan kepercayaan yang dianut oleh anak
usia sekolah berkaitan dengan pergaulan, agama yang dianut, fasilitas
ibadah

yang

ada,

adanya

organisasi

keagamaan,

kegiatan-kegiatan

keagamaan yang dikerjakan oleh anak usia sekolah.


B.

Data sub system


Delapan subsitem yang dikaji sebagai berikut :

1.

Lingkungan Fisik
Inspeksi
: Lingkungan sekolah anak usia sekolah, kebersihan lingkungan,
aktifitas anak usia sekolah di lingkungannya, data dikumpulkan dengan
winshield survey dan observasi.
Auskultasi : Mendengarkan aktifitas yang dilakukan anak usia sekolah dari
guru kelas, kader UKS, dan kepala sekolah melalui wawancara.
Angket : Adanya kebiasaan pada lingkungan anak usia sekolah yang kurang

2.

baik bagi perkembangan anak usia sekolah.


Pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial
Ketersediaan pelayanan kesehatan khusus anak usia sekolah, bentuk
pelayanan kesehatan bila ada, apakah terdapat pelayanan konseling bagi

3.

anak usia sekolah melalui wawancara.


Ekonomi :Jumlah pendapatan orang tua siswa, jenis pekerjaan orang tua
siswa, jumlah uang jajan para siswa melalui wawancara dan melihat data di

4.

5.
6.

staff tata usaha sekolah.


Keamanan dan transportasi.
a. Keamanan : adanya satpam sekolah, petugas penyebarang jalan.
b. Transportasi
Jenis transportasi yang dapat digunakan anak usia sekolah, adanya bis
sekolah untuk layanan antar jemput siswa
Politik dan pemerintahan : Kebijakan pemerintah tentang anak usia
sekolah, dan tata tertib sekolah yang harus dipatuhi seluruh siswa.
Komunikasi
a. Komunikasi formal

Media komunikasi yang digunakan oleh anak usia sekolah untuk


memperoleh informasi pengetahuan tentang kesehatan melalui buku
dan sosialisasi dari pendidik.
b. Komunikasi informal
Komunikasi/diskusi yang dilakukan anak usia sekolah dengan guru dan
orang tua, peran guru dan orang tua dalam menyelesaikan dan
mencegah masalah anak sekolah, keterlibatan guru dan orang tua dan
7.

lingkungan dalam menyelesaikan masalah anak usia sekolah.


Pendidikan : Terdapat pembelajaran tentang kesehatan, jenis kurikulum yang

8.

digunakan sekolah, dan tingkat pendidikan tenaga pengajar di sekolah.


Rekreasi : Tempat rekreasi yang digunakan anak usia sekolah, tempat sarana
penyaluran

bakat

anak

usia

sekolah

seperti

olahraga

dan

seni,

INDONESIA

SEHAT

telah

kesehatan.

Dimulai

pemanfaatannya, kapan waktu penggunaan.


G. Program pemerintah berkaitan kesehatan anak sekolah
Pemerintah
melakukan

dalam

berbagai

amandemen

rangka

perubahan

undang-undang,

mewujudkan
dalam

sector

pembentukan

undang-undang perlindungan anak dan

undang-undang
undang-undang

baru

dari

seperti

pornografi jika

ditinjau dari kesehatan jiwa masyarakat.


Pada awalnya pemerintah telah membentuk undang-undang kesehatan.
Namun secara lebih khusus lagi pemerintah membentuk undang-undang
perlindungan anak yang mencakup segala hal tentang anak atau seseorang
yang belum berusia 18 tahun termasuk yang masih dalam kandungan. Semua
hal mengenai anak dimuat dalam undang-undang ini, termasuk juga didalamnya
mengenai kesehatan anak.
Dalam undang undang pokok kesehatan no.9 tahun 1960 pasal 3 ayat
(1) disebutkan bahwa Pertumbuhan anak
yang sempurna dalam lingkungan hidup yang
sehat adalah penting untuk mencapai generasi
yang sehat dan bangsa yang kuat. Dengan
disebutkannya

hal

tersebut,

secara

tidak

langsung menandakan bahwa pemerintah sangat memperhatikan anak sebagai

tunas-tunas

bangsa

dalam

hal

pertumbuhan

dan

perkembangannya

(kesehatannya).
Pemerintah juga memandang anak sebagai manusia seutuhnya yang juga
termasuk makhluk holistic. Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan berbagai
undang-undang yang melindungi rakyat pada umumnya dan anak-anak pada
khususnya.
Undang undang yang dikeluarkan pemerintah tersebut antara lain :
1. UU PERLINDUNGAN ANAK no.23 tahun 2002 pasal 44 47 Pasal 44
(1) Pemerintah wajib menyediakan fasilitas dan menyeleng-garakan upaya
kesehatan yang komprehensif bagi anak, agar setiap anak memperoleh
derajat kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan.
(2)

Penyediaan

fasilitas

dan

penyelenggaraan

upaya

kesehatan

secara

komprehensif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didukung oleh peran


serta masyarakat.
(3) Upaya kesehatan yang komprehensif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, baik untuk
pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan.
(4) Upaya kesehatan yang komprehensif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
diselenggarakan secara cuma-cuma bagi keluarga yang tidak mampu.
(5) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat
(3), dan ayat (4) disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.
Pasal 45
(1) Orang tua dan keluarga bertanggung jawab menjaga kesehatan anak dan
merawat anak sejak dalam kandungan.

(2) Dalam hal orang tua dan keluarga yang tidak mampu melaksanakan
tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka pemerintah
wajib memenuhinya.
(3) Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), pelaksanaannya dilakukan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 46
Negara, pemerintah, keluarga, dan orang tua wajib mengusahakan agar
anak yang lahir terhindar dari penyakit yang mengancam kelangsungan hidup
dan/atau menimbulkan kecacatan.
Dalam UU Kesehatan no.23 tahun 1992 pasal 21 disebutkan bahwa :
Pasal 21
(1) Pengamanan makanan dan minuman diselenggarakan untuk melindungi
masyarakat dan makanan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan
mengenai standar dan atau persyaratan kesehatan.
(2) Setiap makanan dan minuman yang dikemas wajib diberi tanda atau label
yang berisi :
a. bahan yang dipakai;
b. komposisi setiap bahan;
c. tanggal, bulan, dan tahun kadaluwarsa;
d. ketentuan lainnya.
(3) Makanan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan standar dan atau
persyaratan kesehatan dan atau membahayakan kesehatan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dilarang untuk diedarkan, ditarik dan peredaran,
dan

disita

untuk

dimusnahkan

perundang-undangan yang berlaku.

sesuai

dengan

ketentuan

peraturan

(4) Ketentuan mengenai pengamanan makanan dan minuman sebagaimana


dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah.
H.

Kebijakan Pemerintah terhadap Kesehatan Anak


Strategi

mengisyaratkan

Pembangunan
bahwa

Kesehatan

pembangunan

menuju

indonesia

sehat

kesehatan

ditujukan

pada

2010
upaya

menyehatkan bangsa. Indikator keberhasilannya antara lain ditentukan oleh angka


mortalitas dan morbiditas, angka kematian ibu dan angka kematian bayi.
Program kesehatan ibu dan anak (KIA) merupakan salah satu prioritas utama
pembangunan kesehatan di Indonesia. Program ini bertanggung jawab terhadap
pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu melahirkan dan bayi neonatal. Salah satu
tujuan program ini adalah menurunkan kematian dan kejadian sakit di kalangan ibu.
Komplikasi dalam kehamilan dan persalinan tidak selalu dapat diduga atau
diramalkan sebelumnya sehingga ibu hamil harus sedekat mungkin pada sarana
pelayanan ndicator emergency dasar. Penyebab utama kematian Ibu adalah
Perdarahan, Infeksi, Eklampsi, Partus lama dan Komplikasi Abortus. Perdarahan
merupakan

sebab

kematian

utama.

Dengan

demikian

sangat

pentingnya

pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan karena sebagian besar komplikasi


terjadi pada saat sekitar persalinan, sedang sebab utama kematian bayi baru lahir
adalah Asfiksia, Infeksi dan Hipotermi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
Upaya peningkatan derajat kesehatan keluarga dilakukan melalui program
pembinaan kesehatan keluarga yang meliputi upaya peningkatan kesehatan Ibu dan
Bayi, Anak Pra Sekolah dan Anak Usia Sekolah, Kesehatan Reproduksi Remaja, dan
Kesehatan Usia Subur.
Era Desentralisasi menurut pengelola program di Kabupaten / Kota untuk
lebih proaktif didalam mengembangkan program yang mempunyai daya ungkit
dalam akselerasi penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) sesuai situasi dan kemampuan daerah masing-masing mengingat AKI dan

AKB merupakan salah satu indicator penting keberhasilan program kesehatan


Indonesia.
PROGRAM POKOK KIA
1. Program ANC
2. Deteksi risti ibu hamil
3. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
4. Rujukan kasus risti ibu hamil
5. Pemeriksaan BBL (Neonatus), bayi dan balita
6.

Penanganan neonatal yang berisiko

7.

Pelayanan kesehatan bayi umur 1 bulan sampai 1 tahun

8.

Pelayanan kesehatan balita

9.

Pelayanan kesehatan pra school

Salah satu kebijakan pemerintah yang lainnya adalah dengan membentuk


Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Yang dalam salah satu pemenuhan
tugasnya mengajukan berbagai upaya melindungi anak dalam bidang kesehatan.
Diantaranya adalah dengan menjauhkan anak usia dini dari merokok. Yang dengan
cara Pengendalian yang efektif dan pemihakan pemerintah yang lebih tegas. Untuk
itu yang harus dilakukan adalah membuat peraturan perundang-undangan untuk
mencegah bahaya rokok pada anak berupa :
1. Anak tidak boleh merokok
2. Anak tidak boleh membeli rokok
3. Orang dewasa tidak boleh menjual rokok pada anak
4. Orang tua tidak boleh merokok di depan anak.
5. Orang dewasa tidak boleh merokok di depan ibu yang sedang hamil.
6. Ibu yang sedang hamil tidak boleh merokok.

7. Iklan rokok tidak boleh mengambil sasaran anak-anak.


Tujuan Pemerintah memilihkan kualitas kesehatan untuk anak
Menciptakan Generasi penerus bangsa yang sehat dan bangsa yang kuat.
Mensejahterakan kehidupan semua penduduk.
Menciptakan kehidupan yang layak pada setiap anak, serta persiapan
untuknya dimasa depan.
Sebagai alat pencegahan dan pengobatan terhadap kesehatan anak.
Sebagai Proteksi kesehatan anak terhadap jajanan dan makanan yang
berbahaya
Program Peningkatan Kesehatan dan Kesejahteraan
Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan gaya hidup yang tidak
sehat menjadi tantangan utama dan penyebab tingginya angka kesakitan dan
kematian anak.
Untuk

menyelesaikan

masalah

ini,

Unilever

Indonesia

berkomitmen

untuk

meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan


keunggulan brand dan misi sosialnya.
Komitmen ini diwujudkan melalui program Pendidikan Kesehatan Masyarakat yang
dibentuk oleh Unilever Indonesia sejak hampir 8 tahun yang lalu. Program
pendidikan kesehatan ini ditujukan untuk anak dibawah lima tahun (balita), siswa
sekolah dasar, kelompok pemuda di sekolah tingkat menengah maupun atas serta
untuk ibu hamil dan menyusui. Kelompok ini akan mendapatkan edukasi agar
terjadi peningkatan pemahaman dan praktik gaya hidup sehat yang berkelanjutan.
Yayasan Unilever Indonesia sudah melalukan edukasi kepada 2 juta orang, dan telah
mencetak tidak kurang dari 50.000 agen perubahan.
Program Pendidikan Kesehatan Masyarakat dilaksanakan selaras dengan bisnis
korporasi; dalam model yang berskala kecil, melalui kemitraan dengan para
pemangku kepentingan yang relevan, dan dapat direplikasi segera setelah program
sukses dilaksanakan.

Sejak berdiri tahun 2005, Program Pendidikan Kesehatan Masyarakat, dilaksanakan


melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Program Promosi Kesehatan Terpadu
Tujuan dari program ini adalah untuk mendukung masyarakat Indonesia
menjadi lebih sehat melalui pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat
dikalangan sekolah dasar serta para ibu. Sampai saat ini, program ini telah
mencapai lebih dari 2 juta penerima manfaat dan sebagian besar dilakukan
melalui kerja sama dengan pemerintah yang relevan dan mitra LSM lokal
bersama dengan masyarakat setempat, seperti rincian berikut;
a. Program Sekolah
Melalui program ini, Yayasan Unilever Indonesia memperkuat UKS (Usaha
Kesehatan Sekolah) dan merevitalisasi keberadaan Dokter Kecil sebagai agen
perubahan. Melalui program ini juga, siswa yang mendapatkan prestasi
tingkat 1 sampai dengan 6 akan didorong untuk lebih sering mempraktekan
kebiasaan cuci tangan dengan sabun serta menggosok gigi sesudah sarapan
dan sebelum tidur malam.
Pesan tentang kesehatan juga terus diberikan kepada ibu-ibu disekitar
posyandu karena ibu akan menyampaikan pesan kesehatan ini ke anak-anak
mereka.
Program ini dilaksanakan di 40 kota dan kabupaten di 6 provinsi; Sumatera
Utara, Jawa Barat, DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Program ini memperkuat keberadaan dan kemampuan dokter kecil sebagai
agen perubahan di tingkat sekolah dasar.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Tujuan dari program ini adalah untuk menjadikan setiap anak balita usia prasekolah dan taman kanak-kanak untuk menjadi lebih sehat, cerdas dan
bahagia dengan mempraktekkan pola hidup bersih dan sehat sejak usia dini.
Yayasan Unilever Indonesia mempromosikan dua praktek dasar yaitu mencuci
tangan pakai sabun serta sikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur
malam. Pembelajaran yang kreatif, diet seimbang dan perawatan yang baik
dipromosikan melalui orang tua dari anak-anak yang berpartisipasi di
program ini.
Program ini dilaksanakan di Jawa Timur dan mendorong para ibu serta
pengasuh anak untuk memperhatikan tumbuh kembang anak di bawah usia 5
tahun.
b. Desa Sehat
Program ini memberdayakan

semua sumber daya

masyarakat untuk

menciptakan keluarga dan lingkungan masyarakat yang sehat melalui


peningkatan

praktek

gaya

hidup

bersih

dan

sehat,

diet

seimbang,

pengelolaan sampah agar tercipta lingkungan yang sehat.


Program ini dilaksanakan di 25 desa yang tersebar di dua provinsi
(Yogyakarta dan Jawa Timur).
c. Pasar Sehat
Program ini bertujuan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat
diantara para pelaku ekonomi di pasar, sehingga pada akhirnya akan
menciptakan pasar yang dapat menarik lebih banyak pengunjung.
Program ini dilaksanakan di dua provinsi (Yogyakarta dan Jawa Timur) dan
mencakup 10 pasar tradisional dan memberdayakan kemampuan sekitar
4000 pedagang.
2. HIV-AIDS Prevention Campaign Program
Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia dengan 30% dari
penduduknya adalah kelompok usia 10-24 tahun. Sebuah survei perilaku di
ibu kota Jakarta dan Surabaya menunjukkan adanya peningkatan jumlah
siswa pria dan wanita yang aktif melakukan kegiatan seksual dari tahun ke
tahun. Namun, pengetahuan tentang HIV / AIDS masih rendah dan
menyebabkan tingginya faktor perserbaran infeksi di Indonesia.
Sejak tahun 2006, Yayasan telah mulai melakukan program pencegahan
persebaran HIV/AIDS yang menargetkan siswa SMP dan SMA. Tujuan program
ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang HIV / AIDS dan bagaimana

mencegahnya. Lebih dari 50.000 siswa telah mendapatkan manfaat melalui


program ini.
3. Program Nutrisi
Dari tahun 2007 sampai 2010, program ini dilaksanakan melalui kemitraan
dengan United Nations World Food Programme (PBB) yang dinamakan
Together for Child Vitality. Tujuan utama dari program ini adalah untuk
meningkatkan status kesehatan dan gizi di kalangan siswa sekolah dasar.
Melalui program ini, Yayasan Unilever Indonesia melengkapi program School
Feeding Program (Program Penyediaan Makanan Tambahan Anak Sekolah PMTAS) dengan menyelenggarakan pendidikan kesehatan dan gizi. Sekitar 75
sekolah dasar dan 37.500 anak-anak di Kabupaten Lombok Timur Nusa
Tenggara Barat telah mendapatkan manfaat dari kerjasama ini.
Pada tahun 2009, Unilever turut menjadi penggagas Project Laser Beam,
suatu kemitraan publik-swasta internasional yang melibatkan UN-World Food
Programme dan organisasi sektor swasta. Kerjasama ini bertujuan untuk
mempercepat pemberantasan masalah gizi anak, khususnya anak usia
bawah lima tahun (Balita) dan juga faktor-faktor penyebab masalah
kesehatan dan kebersihan, ketersediaan air dan mata pencaharian di Nusa
Tenggara Timur. Pada tahun 2011, Unilever Indonesia mengembangkan
serangkaian alat bantu edukasi yang bahan bahannya telah diuji untuk
memastikan bahwa media tersebut dapat diterima dengan baik oleh
penerima manfaat, dan mengembangkan strategi untuk meningkatkan
kegiatan pendidikan kesehatan dan kebersihan di sekolah dasar terpilih pada
tahun 2012. Sementara itu, tidak kurang dari 9.500 siswa akan memiliki
akses ke program PMT-AS.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Komunitas dapat diartikan kumpulan orang pada wilayah tertentu dengan
sistem sosial tertentu. Komunitas meliputi individu, keluarga, kelompok/agregat dan
masyarakat. Salah satu agregat di komunitas adalah kelompok anak usia sekolah
yang tergolong kelompok berisiko (at risk) terhadap timbulnya masalah kesehatan
yang terkait perilaku tidak sehat. Yang menjadi sasaran pengkajian adalah anak usia
sekolah.
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada agregat anak usia sekolah
menggunakan pendekatan Community as partner model. Klien (anak usia sekolah)
digambarkan sebagai inti (core) mencakup sejarah, demografi, suku bangsa, nilai
dan keyakinan dengan 8 (delapan) subsistem yang saling mempengaruhi meliputi
lingkungan fisik, pelayanan kesehatan dan sosial, ekonomi, keamanan dan
transportasi, politik dan pemerintahan, komunikasi, pendidikan dan rekreasi
B. Saran
Mahasiswa telah mengupayakan menyelesaikan makalah ini, tentunya dengan
semangat dan kerja keras dari kami. Kami sangat senang jika makalah ini dibaca
dan dikoreksi bila ada kekeliruan di dalamnya. Sebagai mahasiswa yang
mengharapkan transfer ilmu dari para staf pengajar.