Anda di halaman 1dari 35

BAB 1

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Dunia pendidikan mempunyai tantangan yang sangat berat karena
dituntut untuk dapat melahirkan manusia-manusia yang tidak hanya mampu
menguasai teknologi dan informasi agar dapat bersaing di dunia internasional
akan tetapi juga menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, berbudi pekerti yang luhur sebagaimana
tercantum dalam Undang-undang Sistim Pendidikan Nasional No 20 Tahun
2003. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Kurang kreatifnya guru agama dalam menggali metode yang biasa
dipakai untuk pendidikan agama menyebabkan pelaksanaan pembelajaran
cenderung monoton.
Amin Abdullah, seorang pakar keislaman menyoroti kegiatan
pendidikan agama yang selama ini berlangsung di sekolah. Ia mengatakan
bahwa pendidikan agama kurang consen terhadap persoalan bagaimana
mengubah pengetahuan agama yang kognitif menjadi makna dan nilai
yang perlu di internalisasikan dalam diri siswa lewat berbagai cara, media dan
forum. Pembelajaran lebih menitikberatkan pada aspek korespondensi tekstual
yang lebih menekankan hafalan teks-teks keagamaan. Sehingga cara-cara
seperti itu diakui atau tidak, membuat siswa tampak bosan, jenuh dan kurang
bersemangat dalam belajar, sehingga menyebabkan rendahnya minat dan hasil
belajar siswa disekolah. Sedangkan kemampuan siswa berbeda-beda. Jadi
disini siswa perlu mendapatkan perhatian dan perlakuan khusus, tentunya akan
menghasilkan atau menguasai yang berbeda pula dalam sebuah kelompok atau
kelas bahkan perlakuan individual sekaligus.

Oleh karenanya secara umum seluruh praktisi pendidikan, khususnya


pendidikan agama Islam perlu melakukan inovasi, kreatifitas sehingga tujuan
pendidikan Islam dapat tercapai. Bagi para pendidik strategi multiple
intelligence ini menjadi inspirasi dalam pengkayaan kurikulum pendidikan
sekolah, terutama dalam memperkaya metode penyampaikan materi pelajaran
dengan memanfaatkan ke-delapan potensi kecerdasan manusia ini.
Howard Gardner (1983) dalam terorinya tentang multiple intelegence
atau kecerdasan majemuk menjelaskan cakupan potensi manusia. Teori ini
telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi dunia pendidikan, yang
sebelumnya lebih banyak memberikan fokus perhatian hanya pada sisi
language dan mathematical intelligence. Menurut beliau IQ bukan satusatunya alat ukur untuk mengetahui kemampuan seseorang, tapi disana ada
kecerdasan-kecerdasan lain yang juga amat penting, yaitu: linguistik, logikamatematika, visual-spasial, musikal, fisik kinestesik, interpersonal (sosial),
intrapersonal, dan naturalis.
Melalui penelitian tindakan kelas ini diharapkan mampu menemukan
formula yang tepat untuk diterapkan sebagai metode atau strategi dalam
proses pembelajaran, dalam hal ini penulis merumuskan judul : Penggunaan
Strategi Multiple Intelligences Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar
Pendidikan Agama Islam Materi Iman Kepada Allah SWT. (Penelitian
Tindakan Kelas di Kelas X-09 R-SMA-BI SMA Negeri 2

Lumajang,

Semester ganjil Tahun Pelajaran 2010-2011).


B.

Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan
permasalahannya sebagi berikut:
1. Apakah penggunaan strategi multiple intelligences dapat meningkatkan
prestasi siswa terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam materi Iman
Kepada Allah SWT, pada siswa Kelas X-09 R-SMA-BI SMA Negeri 2
Lumajang, Tahun Pelajaran 2010-2011?
2. Bagaimanakah

penggunaan

strategi

multiple

intelligences

dalam

meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama Islam materi Iman

Kepada Allah SWT, pada siswa Kelas X-09 R-SMA-BI SMA Negeri 2
Lumajang, Tahun Pelajaran 2010-2011?
C.

Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Ingin mengetahui bagaimanakah peningkatan prestasi belajar pada
pelajaran Pendidikan Agama Islam, materi Iman Kepada Allah SWT
setelah diterapkannya strategi multiple intelligences pada siswa Kelas X09 R-SMA-BI SMA Negeri 2 Lumajang, Tahun Pelajaran 2010-2011.
2. Ingin mengetahui pengaruh strategi multiple intelligences dalam
meningkatkan prestasi belajar pada pelajaran Pendidikan Agama Islam,
materi Iman Kepada Allah SWT, setelah diterapkan strategi multiple
intelligences pada siswa Kelas X-09 R-SMA-BI SMA Negeri 2
Lumajang, Tahun Pelajaran 2010-2011.

D.

Manfaat Penelitian
Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat
berguna untuk:
1.

Bagi Peneliti
a.

Untuk meningkatkan ilmu pengetahuan yang di dapat di


Perguruan Tinggi sehingga di peroleh pengalaman baru bagi kemajuan
daya nalar.

b.

Sebagai bahan masukan yang sangat berharga bagi penulis


untuk memperluas wawasan sekaligus memperbanyak pengetahuan.

2.

Bagi Lembaga yang di teliti


a.

Bagi para guru, hasil penelitian dapat menjadi tolok ukur dan
bahan pertimbangan guna melakukan pembenahan serta koreksi diri
bagi pengembangan profesionalisme

dalam pelaksanaan tugas

profesinya
b. Dapat di gunakan sebagai evaluasi dalam meningkatkan prestasi
belajar siswa dan dapat menjadi acuan untuk mengadakan penelitian
lebih lanjut.

c. Dengan hasil PTK ini diharapkan dapat meningkatkan perstasi belajar


siswa lebih baik dan perlu dicoba untuk diterapkan pada pelajaran lain.
d. Memberikan informasi tentang strategi pembelajaran yang sesuai
dengan proses belajar-mengajar PAI.
3.

Bagi Lembaga STAIS


a.

Diharapkan

dapat

meningkatkan

efektifitas

kerja

dan

mengembangkan keterampilan metode mengajar Dosen terhadap


motivasi belajar Mahasiswa.
b.
E.

Upaya untuk membantu pemecahan masalah dalam pendidikan.

Definisi Konsep
Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka
perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut:
1. Strategi multiple intelligence adalah:
Upaya mengoptimalkan semua kecerdasan yang dimiliki siswa untuk
mencapai kompetensi tertentu yang terdapat dalam kurikulum.
2. Pendidikan Agama Islam adalah:
Suatu pendidikan yang bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan
keimanan, melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan,
pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga
menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan,
ketakwaannya kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan
pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

BAB II
KERANGKA TEORI
A. Definisi Strategi
Istilah strategi (strategy) berasal dari kata benda dan kata kerja dalam
bahasa Yunani. Sebagai kata benda, strategos, merupakan gabungan kata
stratos (militer) dengan ago (memimpin). Sebagai kata kerja, stratego
berarti merencanakan (to plan). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia strategi
adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran
khusus1. Menurut Sudjana (2000) strategi adalah suatu pola yang direncanakan
dan ditetapkan secara sengaja untuk melakukan kegiatan atau tindakan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat dikemukakan bahwa strategi
adalah kemampuan untuk merencanakan berupa tindakan secara sengaja untuk
mencapai

apa

yang

menjadi

tujuan

atau

sasaran.

Strategi yang diterapkan dalam proses pembelajaran disebut strategi


pembelajaran. Pembelajaran merupakan perubahan istilah, sebelumnya
dikenal dengan istilah proses belajar mengajar (PBM) dan kegiatan belajar
mengajar (KBM). Penting ditegaskan disini perbedaan antara belajar dan
pembelajaran, menurut Ismail (2008) Belajar merupakan aktifitas yang
dilakukan seseorang atau peserta didik secara pribadi dan sepihak. Sementara
pembelajaran itu melibatkan dua pihak, yaitu guru dan peserta didik yang di
dalamnya mengandung dua unsur sekaligus, yaitu mengajar dan belajar
(teaching and learning). Menurut M. Subana dan Sunarti (2000), kata belajar
berarti suatu proses perubahan tingkah laku pada siswa akibat adanya interaksi
antara individu dan lingkungannya melalui proses pengalaman dan latihan.
Belajar menurut Morris L. Bigge seperti yang dikutip Max Darsono
dkk. adalah dan perubahan yang menetap dalam diri seseorang yang tidak
dapat diwariskan secara genetis, Moriss menyatakan bahwa perubahan itu
terjadi pada pemahaman (insight), perilaku, persepsi, motivasi, atau campuran
dari semuanya secara sistematis sebagai akibat pengalaman dalam situasi
tertentu.

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta, 2003), 435

Sedangkan pembelajaran, seperti yang didefinisikan Oemar Hamalik


adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi,
internal

material

fasilitas

perlengkapan

dan

prosedur

yang

saling

mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran2. Menurut Mulyasa,


pembelajaran pada hakikatnya adalah interaksi antara peserta didik dengan
lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
Dalam pembelajaran tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya,
baik faktor internal yang datang dari diri individu, maupun faktor eksternal
yang datang dari lingkungan individu tersebut.
Dari beberapa pendapat di atas jelas terdapat perbedaan pengertian
antara belajar dengan pembelajaran, belajar lebih di titik beratkan pada proses
yang dilakukan oleh seseorang untuk dapat mempunyai kompetensi tertentu
yang dilakukan secara sepihak. Sedangkan pembelajaran adalah proses belajar
yang dilakukan melalui interaksi antara peserta didik dengan pendidik atau
lingkungannya.
B. Multiple Intelligences
1. Pengertian Multiple Intelligences
Multiple

Intelegence

adalah

kemampuan

seseorang

dalam

mengelolah kecerdasan dasar menjadi berbagai macam kecerdasan yang


lain3. Kecerdasan (Inteligensi) secara umum dipahami pada dua tingkat
yakni : Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi
yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai
kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang
kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian
pengetahuan pun bertambah. Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan
adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara
efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan
mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang
yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari
orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan
2

Omar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2004),

Thomas Hoerr, Buku Kerja Multiple Intelligences, (Bandung: Kaifa, 2007), 11

157

adanya orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian


tampil sukses, bahkan lebih sukses dari dari rekan-rekannya yang lebih
cerdas, dan sebaliknya.
Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut :
a)

Kemampuan untuk berpikir abstrak.

b)

Untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar.

c)

Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.


Perumusan pertama melihat inteligensi sebagai kemampuan

berpikir. Perumusan kedua sebagai kemampuan untuk belajar dan


perumusan ketiga sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri. Ketigatiganaya menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga
aspek tersebut saling berkaitan.
2. Konsep Multiple Intelegences
Konsep Multiple Intelegensi (MI), Dalam bukunya Frames of
Mind, tahun 1983 Gardner menampilkan Theory of Multiple Inteligence
yang memperkuat perspektifnya tentang kognisi manusia. Kecerdasan
adalah bahasa-bahasa yang dibicarakan oleh semua orang dan sebagian
dipengaruhi oleh kebudayaan dimana ia dilahirkan. Merupakan alat untuk
belajar, menyelesaikan masalah, dan menciptakan semua hal yang bisa
digunakan manusia. Ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki setiap
individu. Melalui delapan jenis kecerdasan ini, setiap individu mengakses
informasi yang akan masuk ke dalam dirinya. Karena itu Amstrong (2002)
menyebutkan, kecerdasan tersebut merupakan modalitas untuk melejitkan
kemampuan setiap siswa dan menjadikan mereka sebagai sang juara,
karena pada dasarnya setiap anak cerdas. Sebelum menerapkan MI sebagai
suatu strategi dalam pengembangan potensi seseorang, perlu kita kenali
atau pahami ciri-ciri yang dimiliki seseorang4.
a) Linguistic Intelligence (kecerdasan linguistic) adalah kemampuan
untuk berfikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk
mengekspresikan dan menghargai makna yang kompleks. Para

Iskandar, Psikologi Pendidikan, (Jambi: GP Press, 2009), 53

pengarang, penyair, jurnalis, pembicara, dan penyiar berita, memiliki


kecerdasan linguistic yang tinggi.
Ciri-cirinya antara lain (a) suka menulis kreatif, (b) suka mengarang
kisah khayal atau menceritakan lelucon, (c) sangat hafal nama, tempat,
tanggal atau hal-hal kecil, (d) membaca di waktu senggang, (e)
mengeja kata dengan tepat dan mudah, (f) suka mengisi teka-teki
silang, (f) menikmati dengan cara mendengarkan, (g) unggul dalam
mata pelajaran bahasa (membaca, menulis dan berkomunikasi).
b) logical-mathematical intelligence (kecerdasan logika-matematika)
merupakan

kemampuan

dalam

menghitung,

mengukur

dan

mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan


operasi-operasi matematis. Para ilmuwan, ahli matematika, akuntan,
insinyur, dan pemrogram computer, semua menunjukkan kecerdasan
logika-matematika yang kuat.
Cirinya antara lain: (a) menghitung problem aritmatika dengan cepat di
luar kepala, (b) suka mengajukan pertanyaan yang sifatnya analisis,
misalnya mengapa hujan turun?, (c) ahli dalam permainan catur, halma
dsb, (d) mampu menjelaskan masalah secara logis, (d) suka merancang
eksperimen untuk membuktikan sesuatu, (e) menghabiskan waktu
dengan permainan logika seperti teka-teki.
c) Spatial intelligence (kecerdasan spasial) membangkitkan kapasitas
untuk berfikir dalam tiga cara dimensi seperti yang dapat dilakukan
oleh pelaut, pilot, pemahat, pelukis, dan arsitek. Kecerdasan ini
memungkinkan seseorang untuk merasakan bayangan eksternal dan
internal, melukiskan kembali, merubah atau memodifikasi bayangan,
mengemudikan diri sendiri dan objek melalui ruangan, dan
menghasilkan atau menguraikan informasi grafis.
Dicirikan antara lain: (a) memberikan gambaran visual yang jelas
ketika menjelaskan sesuatu, (b) mudah membaca peta atau diagram, (c)
menggambar sosok orang atau benda persis aslinya, (d) senang melihat
film, slide, foto, atau karya seni lainnya, (e) sangat menikmati kegiatan
visual, seperti teka-teki atau sejenisnya, (f) suka melamun dan

berfantasi, (g) mencoret-coret di atas kertas atau buku tugas sekolah,


(h) lebih memahamai informasi lewat gambar daripada kata-kata atau
uraian, (i) menonjol dalam mata pelajaran seni.
d) Bodily-kinesthetic
memungkinkan

intelligence
seseorang

(kecerdasan

untuk

kinestik

menggerakkan

objek

tubuh)
dan

keterampilan-keterampilan fisik yang halus. Jelas kelihatan pada diri


atlet, penari, ahli bedah, dan seniman yang mempunyai keterampilan
teknik. Pada masyarakat Barat, keterampilan-keterampilan fisik tidak
di hargai sebesar keterampilan kognitif seseorang, tapi kemampuan ini
hanya digunakan untuk bertahan hidup dan sebagai ciri penting pada
peran-peran bergengsi.
Memiliki ciri: (a) banyak bergerak ketika duduk atau mendengarkan
sesuatu, (b) aktif dalam kegiatan fisik seperti berenang, bersepeda,
hiking atau skateboard, (c) perlu menyentuh sesuatu yang sedang
dipelajarinya, (d) menikmati kegiatan melompat, lari, gulat atau
kegiatan fisik lainnya, (e) memperlihatkan keterampilan dalam bidang
kerajinan tangan seperti mengukir, menjahit, memahat, (f) pandai
menirukan gerakan, kebiasaan atau prilaku orang lain, (g) bereaksi
secara fisik terhadap jawaban masalah yang dihadapinya, (h) suka
membongkar berbagai benda kemudian menyusunnya lagi, (i)
berprestasi dalam mata pelajaran olahraga dan yang bersifat
kompetitif.
e) Musical intelligence (kecerdasan musik) jelas kelihatan pada seseorang
yang memiliki sensitivitas pada pola titinada, melodi, ritme, dan nada.
Orang-orang yang memiliki kecerdasan ini antara lain: composer,
konduktor, musisi, kritikus, dan pembuat alat musik begitupun
pendengar yang sensitive.
Memiliki ciri antara lain: (a) suka memainkan alat musik di rumah atau
di sekolah, (b) mudah mengingat melodi suatu lagu, (c) lebih bisa
belajar dengan iringan musik, (d) bernyanyi atau bersenandung untuk
diri sendiri atau orang lain, (e) mudah mengikuti irama musik, (f)

mempunyai suara bagus untuk bernyanyi, (g) berprestasi bagus dalam


mata pelajaran musik
f) Interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal) merupakan
kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain
secara efektif. Hal ini terlihat pada guru, pekerja social, artis atau
poliisi yaag sukses. Sebagaimana budaya Barat mulai mengenalkan
hubungan akal dan tubuh, maka hal ini perlu disadari kembali
pentingnya nilai dari keahlian dalam perilaku interpersonal.
Memiliki ciri antara lain: (a) mempunyai banyak teman, (b) suka
bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan tempat tinggalnya, (c)
banyak terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam sekolah, (d)
berperan sebagai penengah ketika terjadi konflik antartemannya, (e)
berempati besar terhadap perasaan atau penderitaan orang lain, (f)
sangat menikmati pekerjaan mengajari orang lain, (g) berbakat
menjadi pemimpin
g) Intraparsonal intelligence (kecerdasan intrapersonal) merupakan
kemampuan untuk membuat persepsi yang akurat tentang diri sendiri
dan menggunakan pengetahuan semacam itu dalam merencanakan dan
mengarahkan kehidupan seseorang. Beberapa individu yang memiliki
kecerdasan semacam ini adalah ahli ilmu agama, ahli psikologi, dan
ahli filsafat.
Memiliki ciri antara lain: (a) memperlihatkan sikap independen dan
kemauan kuat, (b) bekerja atau belajar dengan baik seorang diri, (c)
memiliki rasa percaya diri yang tinggi, (d) banyak belajar dari
kesalahan masa lalu, (e) berpikir fokus dan terarah pada pencapaian
tujuan, (f) banyak terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan
sendiri.
h) Naturalis Intelegence (Kecerdasan Naturalis), yaitu kecerdasan yang
diungkapkan dalam bentuk kemampuan mengenal flora dan fauna,
hidup selaras dengan alam dan memanfaatkannaya secara produktif.
Petani, pakar biologi, pakar botani, dan lingkungan hidup adalah
orang-orang yang mempunyai kecerdasan ini.

10

Memiliki ciri antara lain: (a) suka dan akrab pada berbagai hewan
peliharaan, (b) sangat menikmati berjalan-jalan di alam terbuka, (c)
suka berkebun atau dekat dengan taman dan memelihara binatang, (d)
menghabiskan waktu di dekat akuarium atau sistem kehidupan alam,
(e) suka membawa pulang serangga, daun bunga atau benda alam
lainnya.
Dengan

teori

multiple

intelligences,

anak-anak

mendapat

kesempatan pengembangan diri yang luar biasa. Teori ini sejalan dengan
kecenderungan di masyarakat dan dunia pendidikan yang semakin
menghargai keunikan individual seorang manusia5.
Keunikan yang dikemukakan Gardner adalah, setiap kecerdasan
dalam upaya mengelola informasi bekerja secara spasial dalam sistem otak
manusia. Tetapi pada saat mengeluarkannya, ke delapan jenis kecerdasan
itu bekerjasama untuk menghasilkan informasi sesuai yang dibutuhkan.
Menurut teori Multiple Intelligences, setiap manusia memiliki satu
atau lebih jenis kecerdasan yang menonjol, dan kecerdasan-kecerdasan
lain yang biasa atau kurang. Jika tidak ada anak yang memiliki satu
kecerdasan, misalnya kecerdasan matematis-logis, tidak berarti bahwa
anak tersebut bodoh. Sangat di mungkinkan dia memiliki jenis-jenis
kecerdasan lain yang menonjol. Dalam teori ini setiap jenis kecerdasan
memiliki gaya belajar yang khas. Setiap jenis kecerdasan membutuhkan
stimulus yang tepat agar dapat berkembang. Jika seorang anak tidak
berhasil beradaptasi dengan sebuah gaya pembelajaran, belum tentu anak
tersebut adalah anak yang bodoh.
C. Al-Quran Hadist
Mata pelajaran Al-Quran-Hadits di Madrasah Aliyah adalah salah satu
mata pelajaran PAI yang merupakan peningkatan dari Al-Quran-Hadits yang
telah dipelajari oleh peserta didik di MTs/SMP. Peningkatan tersebut
dilakukan dengan cara mempelajari, memperdalam serta memperkaya kajian
al-Quran dan al-hadits terutama menyangkut dasar-dasar keilmuannya
sebagai persiapan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi, serta
5

Sumardiono, Home Shooling Lompatan Cara Belajar, (Jakarta: Gramedia, 2007), 11

11

memahami

dan

menerapkan

tema-tema

tentang

manusia

dan

tanggungjawabnya di muka bumi, demokrasi serta pengembangan ilmu


pengetahuan dan teknologi dalam perspektif al-Quran dan al-hadits sebagai
persiapan untuk hidup bermasyarakat. Secara substansial mata pelajaran AlQuran-Hadits memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada
peserta didik untuk mempelajari dan mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai
yang terkandung dalam Al-Quran-Hadits sebagai sumber utama ajaran Islam
dan sekaligus menjadi pegangan dan pedoman hidup dalam kehidupan seharihari.
Al-Quran-Hadits, menekankan pada kemampuan baca tulis yang baik
dan benar, memahami makna secara tekstual dan kontekstual, serta
mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.
1.

Pengertian Al-Quran
Al-Quaran didalam Islam adalah merupakan sumber dan dasar
hukum yang pertama dan utama6.
Al-Quran adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad yang dinukil secara mutawatir, dan dipandang beribadah
membacanya. Al-Quran memuat hukum-hukum yang mencakup hukum
keyakinan, hukum akhlak, dan hukum amaliah. Hukum yang terkandung
dalam Al-Quran dibedakan menjadi dua yaitu hukum ibadah dan hukum
muamalah7.
Sedangkan didalam bukunya Abudin Nata Al-Quran adalah kitab
suci yang isinya mengandung firman Allah, turunnya secara bertahap
melalui malaikat Jibril, pembawanya Nabi Muhammad, susunannya mulai
surat Al-Fatikhah dan diakhiri surat An-Nas, bagi yang membacanya
bernilai ibadah, fungsinya antara lain menjadi hujjah atau bukti yang kuat
atas kerasulan Nabi Muhammad, keberadaannya hingga kini masih tetap
terpelihara dengan baik, dan pemasyarakatannya dilakukan secara berantai
dari satu generasi ke generasi lain dengan tulisan maupun lisan8.

2.

Pengertian Hadist
6

Rahmad SyafiI, Ilmu Ushul Fiqih, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), 51


Supiana, Materi Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004), 276
8
Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), 68-69
7

12

Pada garis besarnya pengertian hadist dapat dilihat melalui dua


pendekatan, yaitu pendekatan kebahasaan dan istilah.
Dilihat dari kebahasaan hadist adalah yang bermacam-macam 9.
Sedangkan dilihat dari segi istilah adalah segala sesuatu yang disandarkan
kepada

Nabi

Muhammad

baik

perkataan,

perbuatan,

maupun

ketetapannya10.
D. Strategi Multiple Intelligences untuk Meningkatkan Pembelajaran AlQuran Hadist
Metode atau strategi pembelajaran mempunyai kedudukan yang sangat
signifikan untuk dapat mencapai tujuan. Selama ini, siswa kurang aktif dalam
kegiatan belajar mengajar. Anak cenderung tidak begitu tertarik, karena
metodologi

pembelajaran

Al-Quran

Hadist

yang

diterapkan

masih

mempertahankan cara-cara lama (tradisional) seperti: ceramah, menghafal dan


demonstrasi praktik-praktik abadah yang nampak kering. Sehingga cara-cara
seperti itu diakui atau tidak, membuat siswa tampak bosan, jenuh dan kurang
bersemangat dalam belajar, yang dampaknya akan menyebabkan rendahnya
hasil belajar siswa di sekolah.
Siswa perlu mendapatkan perhatian dan perlakuan khusus karena siswa
mempunyai kemampuan yang berbeda-beda, dan tentunya akan menghasilkan
atau menguasai yang berbeda pula dalam sebuah kelompok atau kelas bahkan
perlakuan individual sekaligus. Keberhasilan pengajaran Al-Quran Hadist juga
tergantung pada keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar, sedangkan
keberhasilan siswa tidak hanya tergantung pada sarana dan prasarana
pendidikan, kurikulum maupun metode. Akan tetapi guru mempunyai posisi
yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi siswa dalam dalam
penggunaan strategi pembelajaran yang tepat. Oleh karena itu penggunaan
strategi multiple intelligences di harapkan dapat meningkatkan pembelajaran
Al-Quran Hadist, karena strategi multiple intelligences ini adalah upaya
mengotimalkan semua kecerdasan yang dimiliki siswa untuk mencapai
kompetensi tertentu.

Ibid, 234
Rahmad Syafii, Loc cit, 60

10

13

E. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka tersebut di atas, maka hipotesis tindakan
dalam penelitian ini dapat dirumuskan, Dengan menerapkan strategi multiple
intelligences, prestasi belajar Al-Quran Hadist siswa kelas XI MA Miftahul
Ulum Pulosari Lumajang akan meningkat.

14

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Subyek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Madrasah Aliyah
Miftahul Ulum Pulosari Lumajang, dengan jumlah 25 siswa. Pertimbangan
penulis mengambil subjek penelitian tersebut adalah karena siswa-siswi
mampunyai karakteristak yang berbeda-beda. Karakteristik siswa adalah
bagian-bagian pengalaman siswa yang berpengaruh pada keefektifan belajar.
B. Setting Penelitian
1.

Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Madrasah Aliyah Miftahul Ulum
Pulosari Lumajang, yang berlokasi di Jalan Argopuro, Gang Pesantren,
kelurahan Citrodiwangsan.
Penulis mengambil lokasi atau tempat ini dengan pertimbangan
karena lokasi mudah dijangkau dari rumah peneliti, sehingga memudahkan
dalam mencari data dan peluang waktu yang luas.

2.

Waktu Penelitian
Dengan beberapa pertimbangan dan alasan penulis menentukan
menggunakan waktu penelitian selama 3 bulan, mulai bulan Juli sampai
September. Waktu dari perencanaan sampai penulisan laporan hasil
penelitian tersebut pada semester ganjil tahun pelajaran 2010/ 2011.

C. Sumber Data
Sumber data yang akan diperoleh oleh peneliti adalah:
1.

Data primer
Informan yaitu siswa sendiri, hasil ulangan harian siswa dan hasil
ulangan semester pada mata pelajaran Al-Quran Hadist.

15

2.

Data Sekunder
Pengamatan pada proses pembelajaran dan beberapa pendidik yang
memberikan informasi yang di butuhkan oleh peneliti.

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data


1.

Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan
oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Penelitian ini menggunakan
metode observasi, tes dan dolumentasi.
a.

Observasi
Metode observasi adalah suatu studi yang disengaja dan
sistematis tentang keadaan atau fenomena social dan gejala-gejala
psikis dengan jalan mengamati dan mencatat11.
Observasi meliputi observasi sistematis dan non sistematis.
Observasi sistematis adalah observasi yang dilakukan oleh peneliti
dengan menggunakan instrument pengamatan dan dilaksanakan pada
waktu kegiatan belajar berlangsung, sedangkan observasi non
sistematis adalah observasi yang dilakukan oleh peneliti tanpa
menggunakan instrument pengamatan.
Observasi ini dilakukan untuk melihat pelaksanaan apakah
semua rencana yang telah dibuat dengan baik tidak ada
penyimpangan-penyimpangan yang dapat memberikan hasil yang
kurang maksimal.

b.

Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang
digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi
kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok12.

11

Mardalis, Metode Penelitian, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2003), 63


Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Bumi
Aksara, 1996), 138
12

16

Menurut Suharsimi Arikunto, mengenai penyusunan tes


prestasi merumuskan beberapa prinsip dasar dalam pengukuran,
yaitu sebagai berikut13:
1)

Tes prestasi harus mengukur hasil belajar yang telah


dibatasi secara jelas sesuai dengan tujuan intruksional.

2)

Tes prestasi harus mengukur suatu sample yang


representative dari hasil belajar dan dari materi yang di cakup
oleh program intruksional atau pengajaran.

3)

Tes prestasi harus berisi aitem-aitem dengan tipe


yang paling cocok guna mengukur hasil belajar yang di inginkan.

4)

Tes prestasi harus dirancang sedemikian rupa agar


sesuai dengan tujuan penggunaan hasilnya.

5)

Tes

prestasi

harus

dapat

digunakan

untuk

meningkatkan belajar para peserta didik.


c.

Dokumentasi
Dokumentasi

adalah

metode

penelitian

ilmiah

yang

menggunakan dokumen-dokumen sebagai bahan acuan untuk


kepentingan penelitian. Dalam penelitian ini dokumen yang
digunakan adalah daftar laporan pendidikan untuk nilai Al-Quran
Hadist.
2. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpul data seperti, tes, kuesioner, observasi, skala sikap,
sosiometri, wawancara dan lain-lain.
Instrumen atau alat ukur dalam penelitian ini adalah berupa tes. Tes
adalah alat ukur yang diberikan kepada individu untuk mendapatkan
jawaban-jawaban yang diharapkan baik secara tertulis atau lisan atau
secara perbuatan.

13

Suharsimi Arikunto, Ibid, 140

17

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:


a.

Silabus
Yaitu seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan
pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian hasil belajar.

b.

Rencana Pembelajaran (RP)


Yaitu merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan
sebagai pedoman guru dalam mengajar dan disusun untuk tiap putaran.
Masing-masing RP berisi kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil
belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatan belajar mengajar.

c.

Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar


1)

Lembar observasi pengelolaan strategi multiple intelligences,


untuk

mengamati

kemampuan

guru

dalam

mengelola

pembelajaran.
2)

Lembar observasi aktivitas siswa dan guru, untuk mengamati


aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran.

d. Tes formatif
Tes ini disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai, digunakan untuk mengukur kemampuan pemahaman konsep
Pendidikan Agama Islam. Tes formatif ini diberikan setiap akhir
putaran.
E. Validasi Data
Untuk mendapatkan data yang akurat perlu disusun suatu instrument
yang valid. Instrument yang valid adalah instrument yang mampu dengan
tepat mengukur apa yang hendak diukur.

18

Berikut strategi untuk meningkatkan validasi menurut Lather adalah14.


1.

Face validity (validitas muka), setiap anggota kelompok peneliti


tindakan

saling

mengecek/

memutuskan/

menilai

validitas

suatu

instrument dan data dalam proses kolaborasi dalam penelitian.


2.

Triangulation (trianguulasi), menggunakan berbagai sumber data


untuk meningkatkan kualitas penilaian.

3.

Critical Reflection (refleksi kritis), setiap tahap siklus penelitian


tindakan dirancang untuk meningkatkan kualitas pemahaman. Apabila
pada setiap tahap siklus mutu refleksi dipertahankan, mutu pengambilan
keputusan akan dapat dijamin.

4.

Cataliytic Validity (validitas pengetahuan), yang dihasilkan oleh


peneliti tindakan bergantung pada kemampuan peneliti sendiri dalam
mendorong pada adanya perubahan.
Triangulasi merupakan proses memastikan sesuatu dari berbagai sudut

pandang. Istilah ini berkembang dengan fungsi utama untuk meningkatkan


ketajaman hasil pengamatan melalui berbagai cara dalam pengumpulan data.
Ada beberapa macam triangulasi yaitu:
a.

Triangulasi teori, menggunakan teori dalam upaya menelaah


sesuatu.

b.

Triangulasi data, mengambil data dari berbagai suasana, waktu,


tempat dan jenis.

c.

Triangulasi sumber, mengambil data dari berbagai nara sumber.

14

Supardi, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 128

19

d.

Triangulasi

metode,

menggunakan.berbagai

metode

pengumpulan data.
e.

Triangulasi instrument, dengan menggunakan berbagai jenis


alat

f.

Triangulasi analitik, menggunakan berbagai metode atau cara


analisis.

F. Analisi Data
Dalam menganalisis dan mengelola data yang diperoleh, peneliti
menggunakan teknik analisis deskriptif sebagaimana yang sering dilakukan
data peneliti kualitatif, karena dalam penelitian ini tidak menggunakan angkaangka, maka teknik yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif15.
Setelah semua data yang diperlukan terkumpul, maka selanjutnya data
tersebut diolah dan disajikan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif,
dengan melalui tahapan-tahapan tertentu yakni; identifikasi, klasifikasi, dan
selanjutnya diinterpretasikan melalui penjelasan deskriptif.
G. Indikator Kinerja
Bersumber pada hasil tes yang di peroleh dari tes prestasi yang
mencerminkan pemahaman siswa pada konsep yang dibelajarkan di harapkan
adanya peningkatan pemahaman sesuai nilai yang diperoleh oleh masingmasing siswa.
Minimal 75% dari jumlah siswa mencapai nilai hasil belajar tuntas
(KKM = 65). Minimal 75% dari jumlah siswa dapat meningkatkan belajar AlQuran Hadist melalui strategi multiple intelligences.
H. Prosedur Penelitian
Waktu untuk melaksanakan tindakan dimulai pada bulan Juli,
dilaksanakan dalam dua siklus. Pada setiap siklus meliputi dari:
1.

Perencanaan,
15

Lexi Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosda Karya, 2002), 6

20

2.

Tindakan,

3.

Pengamatan,

4.

Refleksi,

a. Rancangan Tindakan Siklus I


1)

Perencanaan: Identifikasi masalah dan penetapan


alternative pemecahan masalah.
-

Merencanakan

pembelajaran

yang

akan

diterapkan dalam PBM.


-

Menentukan pokok bahasan.

Mengembangkan sekenario pembelajaran.

Menyusun LKM

Menyiapkan sumber belajar.

Mengembangkan format evaluasi.

Mengembangkan

format

observasi

pembelajaran.
2)

Tindakan
-

Menerapkan tindakan mengacu pada scenario


dan LKM

3)

Pengamatan
-

Melakukan observasi dengan memakai format


observasi

Menilai hasil tindakan dengan menggunakan


format LKM

4)

Refleksi

21

Melakukan evaluasi tindakan yang telah


dilakukan yang meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari
setiap macam tindakan.

Melakukan pertemuan untuk membahas hasil


evaluasi tentang scenario, LKM, dan lain-lain.

Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai


hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.

Evaluasi tindakan I

b. Rancangan Tindakan Siklus II


1)

Perencanaan
-

Identifikasi masalah dan penetapan


alternative pemecahan masalah

Pengembangan program tindakan II

2)

Tindakan
-

Pelaksanaan program
tindakan II

3)

Pengamatan
-

Pengumpulan data tindakan


II

4)

Refleksi
-

Evaluasi tindakan II

Desain Penelitian Tindakan Kelas mengikuti desain Lewin yang


ditafsirkan oleh Kemmis (Rochiati Wiraatmadja):
Permasalahan

Siklus I

Permasalahan
baru hasil
refleksi

Perencanaan
tindakan I

Pelaksanaan
tindakan I

Refleksi I

Pengamatan/
pengumpulan
data I

Perencanaan
tindakan II

Pelaksanaan
tindakan II

22

Refleksi II

Pengamatan/
pengumpulan
data II

Siklus II
Dilanjutkan ke
siklus berikutnya

Apabila
permasalahan belum
terselesaikan

Berdasarkan desain di atas, tahapan penelitian dijelaskan sebagai


berikut:
a.

Permasalahan/ refleksi awal


Pada tahap ini dilakukan identifikasi kesulitan siswa dalam memahami
konsep.

b.

Perencanaan tindakan
Masalah yang ditemukan akan diatasi dengan melakukan langkah-langkah
perencanaan tindakan.

c.

Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini dilakukan tindakan berupa pelaksanaan program
pembelajaran, pengambilan atau pengumpulan data hasil angket, lembar
observasi dan hasil tes.

d.

Pengamatan, refleksi
Tahap ini dilakukan untuk mengumpulkan data-data dan menganalisisnya
untuk kemudian dapat diambil kesimpulan dari penelitian ini.

23

BIBLIOGRAFI
Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Bumi Aksara.
Depdiknas. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta.
Hamalik, Omar. 2004. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algensindo
Hoerr, Thomas. 2007. Buku Kerja Multiple Intelligences. Bandung: Kaifa
Mardalis.2003. Metode Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Moleong, Lexi. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya.
Nata, Abudin. 2006. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sumardiono. 2007. Home Shooling Lompatan Cara Belajar. Jakarta: Gramedia.
Supardi. 2009 Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Supiana. 2004. Materi Pendidikan Agama Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Syafii, Rahmad. 1999. Ilmu Ushul Fiqih. Bandung: Pustaka Setia.

24

JADWAL PENELITIAN
No
1

Waktu (minggu ke)

Rencana Kegiatan

XX

Persiapan
Menyusun konsep pelaksanaan

Menyepakati jadwal dan tugas

Menyusun instrument

Seminar konsep pelaksanaan

Pelaksanaan
Menyiapkan kelas dan alat

Melakukan Tindakan Siklus I

Melakukan Tindakan Siklus II


3

XX

Penyusunan Laporan
Menyusun konsep laporan

Seminar hasil penelitian

Perbaikan laporan

Penggandaan dan pengiriman hasil

25

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(RPP)
Sekolah

: MA Miftahul Ulum Pulosari Lumajang

Mata Pelajaran

: Al-Quran Hadis

Kelas / Semester

: XI / Ganjil

Tahun Pelajaran

: 2010 / 2011

Standar Kompetensi :1. Memahami, menghayati dan mengamalkan serta


mempedomaninya ajaran-ajaran Al-Quran dalam kehidupan
sehari-hari
Kompetensi Dasar

:1.1. Memahami dan mensyukuri nikmat Allah

Indikator

: 1.1.1. Membaca dengan benar Q.S. Al-Ankabut ayat 17


1.1.2. Menulis kembali Q.S. Al-Ankabut ayat 17
1.1.3. Menerjemahkan Q.S. Al-Ankabut ayat 17
1.1.4. Menyimpulkan isi kandungan Q.S. Al-Ankabut
ayat 17
1.1.5. Menjelaskan cara mensyukuri nikmat Allah

Alokasi Waktu: 2 x 45 Menit


A.

Tujuan Pembelajaran
Siswa Mampu:
1. Membaca Q.S. Al-Ankabut ayat 17 dengan benar.
2. Menulis kembali dan menerjemahkan Q.S. Al-Ankabut ayat 17.
3. Menyimpulkan isi kandungan Q.S. Al-Ankabut ayat 17.
4. Mensyukuri nikmat Allah dalam kehidupan sehari-hari.

B.

Materi Pokok
1.

Q.S. Al-Ankabut ayat 17




2.

Terjemah :

26

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu


adalah

berhala,

dan

kamu

membuat

dusta[1146].

Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak


mampu memberikan rezki kepadamu; Maka mintalah rezki
itu di sisi Allah, dan sembahlah dia dan bersyukurlah
kepada-Nya.

Hanya

kepada-

Nyalah

kamu

akan

dikembalikan.
[1146]

Maksudnya: mereka menyatakan bahwa berhala-

berhala itu dapat memberi syafaat kepada mereka disisi


Allah dan Ini adalah dusta.
3.

Penjelasan :
a. Sesuatu yang disembah selain Allah swt. di kategorikan
berhala.
b. Penyembahan berhala termasuk dosa besar.
c. Berhala-berhala yang disembah manusia pada dasarnya
sama sekali tidak bias memberi rizki dan tidak bisa
memberi manfaat.
d. Yang bisa memberi rizki hanyalah Allah swt. Dia adalah
tempat meminta rizki.
e. Manusia

diperintahkan

menyembah

Allah

swt

dan

bersyukur kepada-Nya.
f. Semua manusia akan kembali kepada Allah swt. Semua
yang

diberikan

kepada

manusia

akan

dimintai

pertanggung jawaban disaat manusia kembali kepadaNya di alam akhirat.


4. Cara Mensyukuri Nikmat Allah
a. Bersyukur dengan hati yaitu mengakui dan menyadari bahwa segala
nikmat yang diperoleh adalah datangnya dari Allah.
b. Bersyukur dengan lisan yaitu mengucapkan dengan jelas ungkapan
rasa syukur itu dengan kalimat alhamdulillah

27

c. Bersyukur dengan amal perbuatan yaitu menggunakan anggota tubuh


untuk hal-hal yang baik dan memanfaatkan nikmat sesuai dengan
ajaran agama yang diridhoi Allah swt.
C.

KEGIATAN PEMBELAJARAN
1. Pendahuluan
2. Kegiatan Inti
3. Penutup

D.

Metode Pembelajaran
Seminar, Multiple Intelligences dan pemberian tugas.

E.

Sekenario Pembelajaran :
1.

Kegiatan Awal
1. Linguistic Intelligence (kecerdasan linguistic)

a. Pembukaan
b. Guru melakukan apersepsi
c. Guru menyampaikan indikator-indikator yang akan dicapai.
d. Guru menyuruh siswa membaca Q.S. Al-Ankabut ayat 17, dengan
baik dan benar serta fasikh

e. Siswa mendeskripsikan isi kandungan Q.S. Al-Ankabut ayat 17.


f. Siswa dan Guru bertanya jawab tentang ayat-ayat Al-Quran yang
menjelaskan tentang cara mensyukuri nikmat Allah
2.

Kegiatan Inti
2. Musical intelligence (kecerdasan musik)
a. Siswa mendengarkan pembacaan Q.S. Al-Ankabut ayat 17 melalui
kaset yang diputar oleh guru.
b. Guru membagi siswa dikelas menjadi empat kelompok.
c. Guru mengundi materi pokok tersebut menjadi empat bagian.
d. Setiap kelompok diperintahkan untuk mengambil kertas undian.
3. Interpersonal intelligence (kecerdasan interpersonal)

a. Masing-masing kelompok berkewajiban mendiskusikan materi


yang telah diperoleh lewat undian tersebut

28

b. Masing-masing kelompok memberikan tanggapan atas presentasi


hasil kerja setiap kelompok dan berkewajiban menyampaikan hasil
kesimpulan dari diskusinya di depan kelas.
3.

Kegiatan Akhir
4. Intraparsonal intelligence (kecerdasan intrapersonal)
a.

Siswa mencatat hal-hal yang menggambarkan tentang


pengalaman yang berkaitan dengan isi kandungan Q.S. Al-Ankabut
ayat 17 tentang cara mensyukuri nikmat Allah, secara individu
serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

F.

Sumber dan Media Belajar


1. Buku Al-Quran Hadis kelas XI..
2. Lembar Kerja Siswa (LKS)
3. Al-Quran terjemah
4. Tape Recorder & Kaset
5. Buku lain yang menunjang.

G.

Penilaian
1. Tehnik
a.

Penugasan
Guru meminta siswa untuk mengerjakan tugas.

b.

Tes tulis.
Jenis tagihan berupa tugas individu maupun kelompok.

2. Bentuk Instrumen.
a.

Rubrik penilaian hasil diskusi.

b.

Rubrik penilaian hasil kerja.

c.

Lembar soal tulis.

Lumajang, 30 Juni 2010

Mengetahui:

29

Kepala MA Miftahul Ulum

Guru Mata Pelajaran

Dra. Nur Ducha

Dra. Nur Ducha

30

Lampiran: 1
Rubrik Penilaian Diskusi

No

Aspek Penilaian

Nama Siswa
Inisiatif

Kerja
Sama

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
dst

31

Kekompakan Presentasi

Jumlah
Skor

Lampiran 2
Rubrik Penilaian Hasil Kerja

No

Aspek Penilaian

Nama Siswa
Kerjasama

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
dst

32

Keaktifan

Hasil

Lampiran 3

Lembar Soal Formatif


Petunjuk Khusus:
Kerjakan soal dibawah ini dengan singkat dan benar..!
1. Tulis kembali Q.S Al-Ankabut ayat 17 !
2. Terjemahkan kedalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar?
3. Rumuskan tema dan sari tilawah Q.S Al-Ankabut ayat 17 ?
4. Apakah yang disebut berhala ?
5. Sebutkan cara bersyukur kapada Allah?
Kunci jawaban dan pensekoran.
No
Kunci Jawaban
Skor Maksimal
1

20

Nilai

20

Sesungguhnya apa yang kamu


sembah selain Allah itu adalah
berhala, dan kamu membuat dusta.
Sesungguhnya yang kamu sembah

20

selain Allah itu tidak mampu


memberikan rezki kepadamu; Maka
mintalah rezki itu di sisi Allah, dan
sembahlah dia dan bersyukurlah
kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah
3

kamu akan dikembalikan.


a.
Sesuatu
disembah

selain

yang
Allah

33

20

swt.

di

kategorikan

berhala.
b.

Penyembahan
berhala

termasuk

dosa

besar.
c.

Berhala-berhala
yang disembah manusia
pada

dasarnya

sama

sekali tidak bias memberi


rizki

dan

tidak

bisa

memberi manfaat.
d.

20

20

20

20

Yang bisa memberi


rizki hanyalah Allah swt.
Dia

adalah

tempat

meminta rizki.
e.

Manusia
diperintahkan
menyembah
dan

Allah

bersyukur

swt

kepada-

Nya.
f.

Semua manusia
akan kembali kepada
Allah swt. Semua yang
diberikan kepada
manusia akan dimintai
pertanggung jawaban
disaat manusia kembali
kepada-Nya di alam

akhirat.
Berhala adalah makhluk biasa yang
terbuat dari batu, kayu , besi, timah,
tanah liat, perunggu dan lain-lain. Ia

34

tidak berguna , tidak mempunyai


indera ia lebih lemah dari manusia

a.

Bersyukur dengan hati


yaitu mengakui dan menyadari
bahwa

segala

nikmat

yang

diperoleh adalah datangnya dari


Allah.
b.

Bersyukur dengan lisan


yaitu mengucapkan dengan jelas
ungkapan

rasa

syukur

20

20

100

100

itu

dengan kalimat alhamdulillah


c.

Bersyukur dengan amal


perbuatan yaitu menggunakan
anggota tubuh untuk hal-hal
yang

baik

dan

bermanfaat

nikmat sesuai dengan ajaran


agama yang diridhoi Allah swt.

Jumlah

35