Anda di halaman 1dari 17

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1

Pengertian Analisis
Pengertian analisis menurut Minto Rahayu (2007:165) menyatakan

bahwa :
Suatu cara membagi-bagi suatu subjek kedalam komponen-komponen berarti
melepaskan, menanggalkan, menguraikan sesuatu yang terkait padu.
Sementara itu menurut M. Subarna, Sunarti, (2012:23), menyatakan
bahwa :
Analisis adalah penyelidikan dan penguraian terhadap suatu masalah untuk
keadaan yang sebenar-benarnya. Proses pemecahan masalah yang dimulai
dengan dugaan akan kebenarannya.
Dari beberapa definisi di atas, maka penulis dapat menyimpulkan
bahwa analisis adalah suatu cara membagi-bagi penyelidikan dan penguraian suatu
subjek

kedalam

komponen-komponen;

berarti

melepaskan,

menanggalkan,

menguraikan sesuatu yang terkait padu terhadap suatu masalah untuk keadaan yang
sebenar-benarnrnya, guna memperoleh pemecahan masalah yang dimulai dengan
dugaan akan kebenarannya.
2.2

Pengertian Prosedur
Menurut Sedarmayanti dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar

Pengetahuan tentang Manajemen Perkantoran mengemukakan bahwa :

Prosedur adalah rangkaian tata kerja yang berkaitan satu sama lain sehingga
menunjukan adanya suatu urutan tahap demi tahap serta jalan yang harus
ditempuh dalam rangka penyelesaian sesuatu bidang tugas. ( 9 ,Hal. 134).
Sedangkan menurut The Liang Gie dalam bukunya Administrasi
Perkantoran Modern menyatakan bahwa :
Prosedur adalah suatu rangkaian langkah-langkah ketatausahaan yang
bertalian, biasanya dilaksanakan oleh lebih daripada satu orang, yang
membentuk suatu cara yang diterima dan menjadi tahap dalam menjalankan
suatu tahap aktivitas perkantoran yang penting dan menyeluruh (12,Hal. 27).
Berdasarkan kedua pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa
pengertian dari prosedur adalah rangkaian kerja yang berkaitan satu sama lain yang
dilaksanakan oleh lebih dari satu orang sehingga membentuk suatu urutan atau
tahapan yang harus ditempuh dalam meyelesaikan tugas kantor yang penting dan
menyeluruh.
2.2.1

Prosedur Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan


1. Tujuan, Ruang Lingkup dan Pengadaan Perumahan Melalui
Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan
Perumahan (KPR-FLPP)
1.1 Tujuan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan
Menteri Perumahan Rakyat Indonesia dalam buku
Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Indonesia Nomor 3 Tahun
2014 Tentang Fasilitas Likuiditas Pembiyaan Perumahan Dalam
Rangka

Pengadaan

Perumahan

Melalui

Kredit/Pembiayaan

Pemilikan Rumah Sejahtera pada BAB II Bagian Kesatu Pasal 2


(2014:6-7) menyatakan :

(1) FLPP bertujuan untuk menyediakan dana dalam mendukung


kredit/pembiayaan pemilikan rumah sederhana sehat (KPRSh)
bagi MBR.
(2) Rumah sederhana sehat (RSh) terdiri dari Rumah Sejahtera
Tapak dan Rumah Sejahtera Rusun.
Menurut Menteri Perumahan Rakyat Indonesia dalam
buku Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Indonesia Nomor 3
Tahun 2014 Tentang Fasilitas Likuiditas Pembiyaan Perumahan
Dalam Rangka Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan
Pemilikan Rumah Sejahtera pada Bagian Kesatu Pasal 3 (2014:7)
menyatakan :
(1) Penyaluran dana FLPP dari PPP kepada Kelompok Sasaran
KPR Sejahtera dilakukan melalui Bank Pelaksana.
(2) Dana FLPP yang disalurkan oleh Bank Pelaksana kepada
Kelompok Sasaran KPR Sejahtera dlam rangka kepemilikan
rumah dikenakan tarif KPR Sejahtera sesuai dengan ketentuan
Peraturan Menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang keuangan.
(3) Dana FLPP yang disalurkan oleh Bank Pelaksana kepada
Kelompok Sasaran KPR Sejahtera dalam rangka kepemilikan
rumah dikenakan tariff KPR Sejahtera sesuai dengan
ketentuan Menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang keuangan.

Gambar 2.1
NO.

NAMA BANK PELAKSANA


1.

BANK BTN

2.

BANK BTN SYARIAH

3.

BANK BNI

4.

BANK BUKOPIN

5.

BANK BRI SYARIAH

6.

BANK KALTIM

7.

BANK NTT

8.

BANK PAPUA

9.

BANK RIAU KEPRI

10.

BANK RIAU KEPRI SYARIAH

11.

BANK SUMSEL BABEL

12.

BANK SUMUT

13.

BANK SUMUT SYARIAH

14.

BANK JABAR BANTEN

15.

BANK BPD YOGYAKARTA

16.

BANK BPD JATENG

1.2 Lingkup Fasilitas Likuiditas Perumahan


Menurut Menteri Perumahan Rakyat Indonesia dalam
buku Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Indonesia Nomor 3
Tahun 2014 Tentang Fasilitas Likuiditas Pembiyaan Perumahan
Dalam Rangka Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan
Pemilikan Rumah Sejahtera pada Bagian Kedua Pasal 4 (2014:7)
menyatakan :
(1) Kredit/pembiayaan kepemilikan rumah sederhana sehat
(KPRSh) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) terdiri
:
a. Kredit Pemilikan Rumah Sejahtera (KPR Sejahtera);
b. Kredit Pemilikan Rumah Sejahtera Murah (KPR Sejahtera
Murah);
c. Kredit Pembangunan atau Perbaikan Rumah Swadaya
Sejahtera (KPRS Sejahtera);

d. Kredit Konstruksi Rumah Sejahtera


(KK Rumah
Sejahtera); dan
e. Kredit Konstruksi Rumah Sejahtera Murah (KK Rumah
Sejahtera Murah).
(2) KPR Sejahtera sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
dari :
a. KPR Sejahtera Tapak;
b. KPR Sejahtera Syariah Tapak;
c. KPR Sejahtera Susun;
d. KPR Sejahtera Syariah Susun.
(3) Ketentuan mengenai kredit kepemilikan rumah sederhana
sehat (KPRSh) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b,
huruf c, huruf d, dan huruf e diatur dengan Peraturan Menteri.
Menurut Menteri Perumahan Rakyat Indonesia dalam
buku Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Indonesia Nomor 3
Tahun 2014 Tentang Fasilitas Likuiditas Pembiyaan Perumahan
Dalam Rangka Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan
Pemilikan Rumah Sejahtera pada Bagian Kedua Pasal 5 (2014:7)
menyatakan :
(1) Dana KPR Sejahtera merupakan gabungan antara FLPP dan
dana Bank Pelaksana dengan proporsi tertentu.
(2) Gabungan antara FLPP dan Bank Pelaksana dengan proporsi
tertentu sebagimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk
menerbitkan KPR Sejahtera dengan tingkat suku bunga
kredit/marjin pembiayaan yang terjangkau dan bersifat tetap
selama jangka waktu kredit/pembiayaan.
(3) Proporsi tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditetapkan oleh Menteri berdasarkan tariff KPR Sejahtera dan
kondisi perekonomian.
(4) Proporsi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dicantumkan
dalam Perjanjian Kerjasama Operasional antara PPP dengan
Bank Pelaksana.
Gambar 2.2

1.3 Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan


Pemilikan Rumah Sejahtera
Menteri Perumahan Rakyat Indonesia dalam buku
Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Indonesia Nomor 3 Tahun
2014 Tentang Fasilitas Likuiditas Pembiyaan Perumahan Dalam
Rangka

Pengadaan

Perumahan

Melalui

Kredit/Pembiayaan

Pemilikan Rumah Sejahtera pada BAB III Bagian Kesatu Pasal 6


(2014:8) menyatakan :
(1) Kelompok sasaran KPR Sejahtera untuk KPR Sejahtera Tapak
dan KPR Sejahtera Syariah Tapak adalah MBR dengan
penghasilan tetap maupun tidak tetap paling banyak Rp.
4.000.000,00 (empat juta rupiah) per bulan
(2) Kelompok sasaran KPR Sejahtera untuk KPR Sejahtera
Rusun dan KPR Sejahtera bSyariah Rusun adalah MBR
dengan penghasilan tetap ataupun tidak tetap paling banyak
Rp. 7.000.000,00 (tujuh juta rupiah) per bulan.

(3) Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
untuk masyarakat berpenghasilan tetap merupakan gaji/upah
pokok pemohon per bulan.
(4) Penghasilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
untuk masyarakat berpenghasilan tidak tetap merupakan
pendapatan bersih atau upah rata-rata per bulan dalam setahun
yang diterima pemohon.
Menurut Menteri Perumahan Rakyat Indonesia dalam
buku Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Indonesia Nomor 3
Tahun 2014 Tentang Fasilitas Likuiditas Pembiyaan Perumahan
Dalam Rangka Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan
Pemilikan Rumah Sejahtera pada BAB III Bagian Kesatu Pasal 7
(2014:8-9) menyatakan :
(1) Kelompok Sasaran KPR Sejahtera sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
a. tidak memiliki rumah yang dibuktikan dengan surat
keterangan dari Kepala Desa/Lurah setempat/Instansi
tempat bekerja;
b. belum pernah menerima subsidi Pemerintah untuk
pemilikan rumah;
c. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); dan
d. menyerahkan fotocopy (SPT) Tahunan PPh Orang pribadi
atau surat pernyataan bahwa penghasilan yang
bersangkutan tidak melebihi batas penghasilan yang
diprasyaratkan dalam Peraturan Menteri ini.
(2) Dalam hal kelompok sasaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) pengahsilannya tidak melebihi batas penghasilan
kena pajak (PTKP) dikecualikan dari ketentuan memiliki
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan Surat Pemberitahuan
(SPT) Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi.
(3) Dalam hal Kelompok Sasaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) berstatus suami istri, dipersyaratkan keduanya tidak
memiliki rumah dan belum pernah menerima subsidi
Pemerintah untuk pemilikan rumah.

(4) Ketentuan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf a


dan huruf b dikecualikan untuk PNS/TNI/Polri yang pindah
domosili karena kepentingan dinas.
(5) Ketentuan pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
berlaku hanya untuk satu kali.
(6) Analisis kelayakan untuk mendapatkan KPR Sejahtera
dilksanakan oleh Bank Pelaksana.
Menurut Menteri Perumahan Rakyat Indonesia dalam
buku Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Indonesia Nomor 3
Tahun 2014 Tentang Fasilitas Likuiditas Pembiyaan Perumahan
Dalam Rangka Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan
Pemilikan Rumah Sejahtera pada BAB III Bagian Kesatu Pasal 8
(2014:9) menyatakan :
(1) MBR yang berpenghasilan tidak tetap sebagaimana
dimaksud dlam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) merupakan
orang perseorangan yang bekerja di sector formal atau
informal.
(2) MBR yang berpenghasilan tidak tetap yang bekerja di sector
formal sebagaimana dengan kategori pekerjaan sebagai
berikut :
a. Mempunyai usaha sendiri; dan
b. Mempunyai izin usaha.
(3) MBR yang berpenghasilan tidak tetap yang bekerja di sector
informal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
orang perseorangan yang belerja dengan kategori pekerjaan
berusaha sendiri, bekerja pada orang lain, ataui badan
hukum.
Menurut Menteri Perumahan Rakyat Indonesia dalam
buku Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Indonesia Nomor 3
Tahun 2014 Tentang Fasilitas Likuiditas Pembiyaan Perumahan
Dalam Rangka Pengadaan Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan

Pemilikan Rumah Sejahtera pada BAB III Bagian Kesatu Pasal 9


(2014:9) menyatakan :
(1) Masyarakat yang bekerja pada orang lain atau badan hukum
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3)
pengupahannya didasarkan pada :
a. Satuan waktu;
b. Satuan hasil
c. System borongan; atau
d. System bonus
(2) Nama pekerjaan masyarakat berpenghasilan tidak tetap
sebagiamana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) disepakati
dalam Perjanjian Kerjasama Operasional antara PPP dengan
Bank Pelaksana.

2.3

Pengertian Pembiayaan
Menurut Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah Abdullah (2013:22)
Pembiayaan (cost) adalah pengeluaran pengeluaran atau nilai pengorbanan
untuk memperoleh barang atau jasa yang berguna untuk masa yang akan
datang atau mempunyai manfaat melebihi suatu periode akuntansi.
Berdasarkan kedua pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa

pengertian dari pembiayaan adalah merupakan pengeluaran yang dikeluarkan oleh


perseorang, instansi atau lembaga lainnya untuk memperoleh suatu barang atau jasa
yang dipergunakan untuk suatu tujuan yang bermanfaat.

2.4

Pengertian KPR Fasilitas Likuidasi Pembiayaan Perumahan


1. Pengertian KPR

Menurut Menteri Perumahan Rakyat Indonesia dalam buku


Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Indonesia Nomor 3 Tahun 2014
Tentang Fasilitas Likuiditas Pembiyaan Perumahan Dalam Rangka Pengadaan
Perumahan Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera ( 2014:56) menyatakan :
Kredit Pemilikan Rumah Sejahtera, yang selanjutnya disebut KPR
Sejahtera adalah kredit atau pembiayaan pemilikan rumah yang
meliputi KPR Sejahtera dan KPR Sejahtera Susun yang diterbitkan
oleh Bank Pelaksana secara conventional maupun dengan prinsip
syariah.
Rumah Sejahtera Tapak adalah Rumah Umum yang dibangun oleh
orang perseorangan atau Badan Hukum dengan spesifikasi sama
dengan rumah sederhana sebagimana diatur dalam Keputusan Menteri
Permukiman dan Prasarana wilayah 403/KPTS/M/2002 tentang
pedoman Teknis Pembangunan Rumah Sederhana Sehat, Peraturan
Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor 25 Tahun 2011 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Perumahan Murah, dan/atau Peraturan
Perundang-undangan yang mengatur tentang pedoman teknis
pembangunan Rumah Sejahtera
Pemilikan Pemilikan Rumah Sejakhtera Syariah Tapak yang
selanjutnya disebut KPR Sejahtera Syariah Tapak adalah pembiayaan
berdasarkan prinsip syariah dengan dukungan FLPP yang diterbitkan
oleh Bank Pelaksana yang beroperasi secara syariah kepada MBR
dalam rangkan pemilikan Rumah Sejahtera Tapak yang dibeli oleh
perseorangan atau Badan Hukum.
Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan, yang selanjutnya
disebut FLPP adalah dukungan fasilitas likuiditas pembiyaan
perumahan kepada MBR yang pengelolaannya dilaksanakan oleh
Kementerian Perumahan Rakyat.
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan yaitu Kredit Kepemilikan
Rumah Sejahtera Tapak dan Rusun yang diterbitkan oleh bank pelaksana

melalui prinsip conventional maupun syariah

yang mana pembiyaannya

diperuntukkan bagi Masyarakan Berpenghasilan Rendah (MBR) dan


pengelolaannya dilaksanakan oleh Kementerian Perumahan Rakyat Indonesia.
2. Pelaksanaan Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera
Menurut Menteri Perumahan Rakyat Indonesia dalam buku
Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Indonesia Nomor 3 Tahun 2014
Tentang Fasilitas Likuiditas Pembiyaan Perumahan Dalam Rangka Pengadaan
Perumahan

Melalui

Kredit/Pembiayaan

Pemilikan

Rumah

Sejahtera

( 2014:11) Bagian Kesatu Penerbitan Kredit Pembilayaan Pemilikan Rumah


Sejahtera
1.1

Bagian Kesatu Paraghraf 1


Pengajuan Kredit Pembiayaan Oleh Kelompok Sasaran Pasal 8

sebagai berikut :
(1) Kelompok Sasaran KPR Sejahtera mengajukan KPR Sejahtera
ke Bank Pelaksa dengan melengkapo dokumen persyaratan
sebgai berikut :
a. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP);
b. Fotocopy Nomor Wajib Pajak (NPWP);
c. Fotocopy Surat Pemberitahuan (spt) Tahunan Pajak
Penghasilan (PPh) Orang Pribadi atau sSurat Pernyataan
Pemghasilan yang ditandatangani pemohon di atas materai
secukupnya dan diketahui oleh:
1). Pimpinan instansi tempat bekerja untuk masyarakat
berpenghasilan tetap; atau
2). Kepala Desa atau Lurah setempat untuk masyrakat
berpenghasilan tidak tetap.
d. surat keterangan penghasilan dari instansi tempat
bekerja/slip gaji untuk masyarakat berpenghasilan tetap;
e. surat keterangan tidak memiliki rumah dari kepala
desa/lurah setempat atau isntansi tempat bekerja.

f. surat pernyataan yang dutandatangani pemohon diaras


materai secukupnya yang mencakup:
1) Berpenghasilan tidak melebihi ketentuan batas
penghasilan Kelompok Sasaran KPR Sejahtera;
2) Tidak memiliki rumah
3) Menggunakan sendiri dan menghuni Rumah Sejahtera
Tapak atau satuan Rumah Sejahtera Susun sebagai
tempat tinggal dalam jangka waktu paling lambat 1
(satu) tahun setelah serah terima rumah atau BAST
( Berita Acara Serah Terima ).
4) Tidak
menyewakan
dan/atau
mengalihkan
Kepemilikan Rumah Sejahtera Susun dengan bentuk
perbuatan hukum apapun, kecuali :
a) debitur/nasanbah meninggal dunia (pewarisan);
b) penghuian telah melampaui 5 (lima) tahun untuk
Rumah Sejahtera Tapak;
c) penghunian telah melampaui 20 (dua puluh) tahun
untuk Satua Rumah Sejahtera Susun; atau
d) tempat tinggal sesuai dengan peraturan perundangundangan;
5) tidak pernah menerima subsidi kepemilikan rumah;
6)

hal ini memenuhi salah satu pernyataan dalam angka


1), angka 2), angka 3), angka 4) atau angka 5) dan/atau
salah satu pernyataan-pernyataan tersebut tidak benar,
maka berdasarkan pemeriksaan, kajian dan verifikasi
oleh pihak yang berwenang, bersedia mengembalikan
kemudahan dan/atau bantuan pembiayaan perumahan
yang telah diterima dari pemrintah, antara lain akan
tetapi tidak terbatas pada:
a)

pengembalian kemudahan dan/atau bantuan


pembiyaan perumahan yang telah diterima, yaitu:
i sejumlah dana yang merupakan selisih ntara
dana yang dihitung berdasarkan bunga pasar
dengan dana yang dihitung berdasarkan
bunga/margin/sewa KPR Sejahter;
ii dana sebagaimana dimaksud pada uruf i
dihitung sejak KPR Sejahtera dicairkan sampai
dengan penghentian KPR Sejahtera; dan

iii bunga pasar sebgaimana dimaksud pada huruf i


adalah suku bunga porsi dan Bank Pelaksana
yang digunakan dalam perhitungan penetapan
bunga KPR Sejhatera pada saat akad kredit
KPR Sejahtera.
b)

PPN atas pembelian rumah yang terutang yang


semula dibebaskan dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

(2) Kelompok Sasaran KPR Sejahtera bertanggung jawab atas


kebenaran dan keabsahan dokumen persyaratan yang
disampaikan kepada Bank Pelaksana.
(3) Dalam hal kelompok sasaran mmemeberikan pernyataan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, yang diketahui
kemudian tidak benar dan/atau tidak dilaksanakan maka:
a. Bank Pelaksanaan wajib menghentiakn fasilitas KPR
Sejahtera;
b. Bank pelaksana wajib mengembalikan sisa pokok dan
FLPP tersebut kepada PPP, selambat-selambatnya 1 (satu)
bulan sejak kelompok sasaran tidak memenuhi pernyataan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f;
c. Kelompok sasaran KPR Sejahtera wajib mengembalikan
kemudahan dan/atau bantuan pembiayaan perumahan
yang telah diterima berupa sejumlah dana yang dihitung
berdasarkan suku bunga pasar dikurangi jumlah
bunga/margin/sewa yang dihitung berdasarkan suku bunga
KPR Sejahtera yang terhitung sejak dicairkan sampai
dengan tanggal penghentian fasilitas KPR Sejahter;
d. Suku bunga pasar sebagaimana huruf c adalah suku bunga
porsi dan aBank Pelaksana yang digunajan dalam
perhitungan penetapan bunga KPR Sejahtera pada saat
akad kredit KPR Sejahtera; dan kelomok sasaran wajib
dengan peraturan perundang-undangan;
e. pegembalian kemudahan dan/atau bantuan pembiayaan
perumahan sebagimana dimaksud pada huruf e meliputi
perhitungan, penagihan
penerimaan dari kelompok
sasaran dan penyetoran kepada PPP.

(4) Kewajiban Bank Pelaksana sebagimana dimaksud pada ayat


(3) huruf a, huruf b dan huruf f dilaksanakan berdasarkan
permintaan tertulis PPP.

1.2

Bagian Kesatu Paragraf 2


Verifikasi Bank Pelaksana Pasal 9
(1)
(2)

(3)

(4)

Bank Pelaksana wajib melakukan verifikasi dan bertanggung


jawab atas ketepatan Kelompok Sasaran KPR Sejahtera.
Verifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurangkurangnya meliputi:
a. Pengecekan administrasi terhadap dokumen persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (1);kelayakan
dan kemampua mengangsur pemohon KPR Sejahtera;
b. Analisa kelayakan dan kemampuan mengangsur
pemohon KPR Sejahtera; dan
c. Pengecekan fisik bangunan rumah, praarana dan sarana,
serta utilitas umum (PSU).
Fisik bangunan rumah dan PSU sebagimana dimaksud pada
ayat (2) huruf c telah siap dihuni, berfungsi dan sekurangkurangnya harus dilengkapi dengan:
a.
Atap, lantai dan dinding yang memenuhi persyaratan
teknis keselamatan, keamanan dan kehandalan
bangunan;
b. Terdapat jaringan distribusi air bersih perpipaan dari
PDAM atau sumber air bersih lainnya;
c.
Utilitas jaringan listrik yang berfungsi;
d. Jalan lingkungan yang telah selesai dan berfungsi; dan
e.
Saluran/drainase lingkungan yang telah selesai dan
berfungsi;
Dalam hal persyaratan sebagimana dimaksud pada ayat (3)
huruf c, huruf d, huruf e belum terpenuhi, Bank Pelaksana
dapat melaksanakan Perjanjian Kredit KPR Sejahtera Tapak
atau Akad pembiyaan KPR Sejahtera Syariah Tapak apabila
telah memenuhi persyaratan:
a.
Orang perseorangan dan/atau Badan Hukum
menyerahkan keterangan kesediaan PLN untuk
menyediakan pasokan listrik atau bukti pembayaran

(5)

1.3

biaya penyambungan listrik dari PLN atau tersedianya


sumber listrik lainnya;
b. Badan jalan telah dilakukan pengerasan;
c.
Saluran/drainase lingkungan telah tergali;
d. Ada jaminan berupa dana yang ditahan atau bentuk
lainnya sebagai jaminan penyelesaian PSU sesuai
dengan ketentuan Bank Pelaksana; dan
e.
Ada surat pernyataan dari calon debitur/nasabah
menerima konsisi PSU sebagaimana semaksud pada
huruf a, huruf b dan/atau huruf c.
Bank Pelaksana membuat Daftar Rekapitulasi Kelompok
Sasaran yang lolos verifikasi dan menerbitkan Surat
Pernyataan Verifikasi.

Bagian Kesatu Paragraf 3


Perjanjian/Akad Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera

Pasal 10 yaitu :
(1)

(2)
(3)

2.5

Bank Pelaksana melakukan penandatanganan perjanjian


kredit/akad KPR Sejahtera dengan Kelompok Sasaran
dengan Kelompok Sasaran yang telah disetujui permohonan
kreditnya oleh Bank Pelaksana.
Perjanjian kredit/akad KPR Sejahtera sebagimana dimaksud
pada ayat (1) wajib mencantumkan secara tertulis bahwa
KPR Sejahtera didukung dana FLPP.
Kelompok Sasaran yang telah menandatangani Perjanjian
Kredit dan/atau Akad KPR Sejahtera sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), selanjutnya disebut debitur/nasabah.

Pengertian MBR ( Masyarakat Berpenghasilan Rendah )


Menurut Menteri Perumahan Rakyat Indonesia dalam buku Peraturan

Menteri Perumahan Rakyat Indonesia Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Fasilitas


Likuiditas Pembiyaan Perumahan Dalam Rangka Pengadaan Perumahan Melalui
Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera ( 2014:5) menyatakan :

Masyarakat Berpenghasilan Rendah, yang selanjutnya disebut MBR adalah


masyarakat yang mempunyai keterbatasan daya beli sehingga perlu mendapat
dukungan Pemerintah untuk memperoleh rumah.
Menurut Menteri Perumahan Rakyat Indonesia dalam buku Peraturan
Menteri Perumahan Rakyat Indonesia Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Fasilitas
Likuiditas Pembiyaan Perumahan Dalam Rangka Pengadaan Perumahan Melalui
Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera Mengenai Pengadaan Perumahan
Melalui Kredit/Pembiayaan Pemilikan Rumah Sejahtera pada Bagian Kesatu tentang
Kelompok Sasaran yang dijelasakan dalam BAB III Pasal 6 dan 8 sebagai berikut :
(1)

Kelompok sasaran KPR Sejahtera untuk KPR Sejahtera Tapak dan KPR
Sejahtera Syariah Tapak adalah MBR dengan penghasilan tetap maupun
tidak tetap paling banyak Rp. 4.000.000,00 (empat juta rupiah) per bulan

Pasal 8 :
(1)

MBR yang berpenghasilan tidak tetap sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 6 ayat (1) dan (2) merupakan orang perseorangan yang bekerja
disektor formal dan informal.

(2)

MBR berpenghasilan tidak tetap yang bekerja di sektor formal


sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) merupakan orang atau
perseorangan yang bekerja dengan kategori pekerjaan sebagai berikut:
a. mempunyai usaha sendiri; dan
b. mempunyai izin usaha

(3)

MBR yang berpenghasilan tidak tetap dan bekerja disektor informal


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan orang perseorangan
yang bekerja dengan kategori pekerjaan berusaha sendiri, bekerja pada
orang lain atau badan hukum.

Dari beberapa definisi di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa


Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) adalah masyarakat yang mempunyai
keterbatasan daya beli dikarenakan baik masyarakat yang bekerja di sektor formal

maupun informal sesuai dengan aturan yang diberlakukan oleh Kementerian


Perumahan Rakyat Indonesia.

Gambar 2.3

Anda mungkin juga menyukai