Anda di halaman 1dari 42

3.

Perhitungan Gelagar

3.5.1

Gelagar memanjang
Direncanakan gelagar memanjang dari profil WF 450.200.9.14 dengan

mutu baja Fu 370 yang mempunyai tegangan ijin 240 Mpa. Jarak antar buhul
gelagar memanjang adalah 3 m.
Pelimpahan beban terhadap gelagar memanjang diperlihatkan pada gambar
dibawah ini:

Gelagar Utama

1,5 m

Gelagar Memanjang

1,5 m
1,5 m
1,5 m

Gelagar Melintang

3m

Gambar G.3.5.1 Sketsa Penempatan Gelagar

3m

1,5 m

1,5 m

1,5 m

1,5 m

Gambar G.3.5.2 Pelimpahan beban terhadap gelagar memanjang dan


melintang.

Beban yang bekerja pada gelagar memanjang adalah beban mati, beban
hidup, beban angin dan beban rem.
1. Beban mati
Beban mati pada gelagar memanjang terdiri dari :
1)

Berat lantai kendaraan

2)

Berat aspal

3)

Berat air hujan

= 0.2 m 2.4 t/m3 = 0.50 t/m2


= 0.05 m 2.2 t/m3
= 0.05 m 1 t/m3

= 0.11 t/m2

= 0.05 t/m2
q = 0.66 t/m2

4)

Berat profil

qp

= 0.0967 t/m

Besarnya beban terbagi rata q ekuivalen adalah:

0,75 m

0,687 m
3m

Qekiv = q . x
= 0,66 t/m2 0,687 m
= 0,453 t/m

Jadi total besarnya beban terbagi rata adalah:


q = 2 x (0,453 t/m ) + 0,0967 t/m = 0,98 t/m
Beban mati yang bekerja pada gelagar memajang dapat dilihat pada gambar
G.3.3 berikut ini :

0,98 t/m

3m

Gambar G.3.5.3 Beban mati bekerja pada gelagar memanjang


Reaksi yang timbul adalah :
V=0
RA = RB = q L
= 0,98 3
= 1,47 ton
Momen maksimum yang timbul pada gelagar memanjang akibat beban mati
adalah :
Mmaks = 1/8 q L2
= 1/8 0,98 32
= 1,10 t.m

2. Beban hidup
Beban hidup ini terdiri dari beban terbagi rata (q) dan beban garis (P)
a.

Beban terbagi rata


Jembatan yang direncanakan adalah dengan panjang bentang 36 m. Menurut

PPJJR 1987 besarnya beban terbagi rata untuk panjang jembatan L > 30 m
digunakan rumus :
q = 2.2 t/m
Untuk jembatan kelas B beban terbagi rata diambil sebesar 70 %, sehingga :
q = 2.2 x 70%

= 1,54 t/m

Beban terbagi rata dalam jalur (diambil 100%) adalah :


q1 = 1,54/2,75
= 0.84 t/m
Beban terbagi rata akibat beban hidup pada gelagar memanjang diperlihatkan
pada gambar G.3.4 berikut:
q = 0,84 t/ m

3m

Gambar G.3.5.4 Beban hidup bekerja pada gelagar memanjang


Reaksi yang terjadi adalah :
V=0
RA = RB = q L
= 0,84 3 = 1,26 ton

Momen maksimum yang timbul pada gelagar memanjang akibat beban hidup
adalah :
Mmaks = 1/8 q L2
= 1/8 0,84 32= 0,945 t.m

b.

Beban Garis (P)


Berdasarkan PPPJJR 1987 beban garis (P) sebesar 12 ton, dan untuk

jembatan kelas B diambil sebesar 70%, sehingga menjadi :


P = 100 % x 12 t

= 8,4 t

Dalam memperhitungkan beban garis harus dikalikan dengan koefisien kejut


sesuai dengan PPPJJR 1987.

K=1+

=1+
= 1,28
Besarnya muatan garis dalam jalur (diambil 100 %) adalah :

P=
= 5,86 ton

Jadi muatan garis yang bekerja pada gelagar melintang diperlihatkan pada gambar
G.3.5 dibawah ini :
P = 5,86 ton

3m

Gambar G.3.5.5 Beban garis yang bekerja pada gelagar memanjang


Reaksi yang terjadi adalah :
RA = RB = 1/2 P
= 1/2 5,86 = 2,93 ton
Momen maksimum yang timbul pada gelagar memanjang akibat beban garis
adalah :
Mmaks

=PL
= 5,86 3 = 4,395 t.m
Dengan demikian momen maksimum yang bekerja pada gelagar memanjang

akibat beban hidup (beban terbagi rata dan beban garis) adalah :
Mmaks

= Mmaks1 + Mmaks 2
= 0,945 t.m + 4,395 t.m
= 5,148 t.m

3. Beban angin
Tekanan angin yang bekerja pada kendaraan adalah 150 kg/m pada
ketinggian 2 m dari lantai kendaraan pada jarak 3 m, maka luas bidang yang

mengalami tekanan angin = 2 m x 1,5 m = 3 m. Jarak as roda kendaraan = 1,75 m


seperti yang dapat diperlihatkan pada gambar berikut ini:

150 kg/m2

2m

1m
1,75 m
Gambar G.3.5.6 Beban angin yang bekerja pada kendaraan
Maka gaya angin yang menekan lantai kendaraan adalah :
1,75 P

= A q 1 m

=
= 514,28 kg
= 0,514 ton

Beban angin yang bekerja pada gelagar memanjang diperlihatkan pada gambar
dibawah ini :
P = 0,514 ton

3 m

Gambar G.3.5.7 Beban angin yang bekerja pada gelagar memanjang

Reaksi yang terjadi adalah :


RA = RB = 1/2
= 1/2 0,514
= 0,257 t
Momen maksimum yang timbul pada gelagar memanjang akibat beban angin
adalah :
Mmaks

=PL
= 0,514 3
= 0,385 t.m

4. Beban akibat gaya rem


Berdasarkan PPPJJR 1987 besarnya beban rem yang diperhitungkan adalah
5% dari beban D tanpa koefisien kejut, dan gaya rem tersebut dianggap bekerja
horizontal dalam arah sumbu jembatan dengan titik tangkap setinggi 1,8 m diatas
permukaan lantai kendaraan. Beban yang terjadi akibat gaya rem adalah :
-

Beban garis tanpa koefesien kejut :

= 4,58 t
Beban terbagi rata :

=
= 0,355 ton

Mrem = 1.8 meter R


= 1.8 m 0.355 ton= 0,639 t.m
Maka momen momen yang bekerja pada gelagar memanjang adalah :
a.

Beban mati (M)

= 1,10 t.m

b.

Beban hidup (H + K)

= 5,34 t.m

c.

Beban angin (W)

= 0,385 t.m

d.

Beban rem (Rm)

= 0,639 t.m

Gaya lintang yang bekerja pada gelagar memanjang adalah :


a.

Beban mati (M)

= 1,47 ton

b.

Beban hidup (H + K)

= 2,93 ton

c.

Beban angin (W)

= 0,257 ton

d.

Beban rem (Rm)

= 0,355 ton

5. Kombinasi beban
No

Kombinasi

Momen (t.m)

Vu geser (t)

1,4DL

1,54

2,058

1,2DL + 1,6LL

9,864

6,452

0,75(1,2DL + 1,6LL + 1,6W)

7,68

5,14

1,2DL + 1,6LL + 0,5(W+Rm)

10,376

6,758

Dari beberapa kombinasi beban yang telah diperhitungkan, maka beban yang akan
dipakai adalah beban yang memiliki nilai yang paling besar yaitu dengan momen
sebesar 10,376 t.m dan gaya lintang sebesar 6,758 t.

Pengecekan terhadap kondisi momen dominan


Dari data kombinasi didapat :
Mumax

= 10,376 t.m

Vumax

= 6,758 t.m

Fy

= 240 Mpa

= 200000

o Pilih penampang balok yang dapat memikul momen sebesar Mu,


dengan mengasumsikan profil kompak :
Dari data profil tabel profil konstruksi baja didapat 450. 200. 9. 14 dengan
properties sbb:
B = 200 mm

Ix = 33500 cm4

tf = 14 mm

Iy = 1870 cm4

F = 96,76 cm2

ix = 18,61 cm

Sx = 1489 cm3

iy = 4,40 cm

Sy = 187 cm3

r = 18 mm

Tw = 9 mm

bf = 0,5 x B = 0,5 x 450 = 225 mm

A = 320 mm

Cek kelangsingan pelat badan dan pelat sayap


Menurut buku Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD yang

berdasarkan SNI 03-1729-2002 untuk mengecek kelangsingan pelat badan dan


sayap adalah :
a.

Sayap

p=
Karena
b.

< p , maka penampang sayap kompak

= h (2 x tf) (2 x r) = 450 (2 x 14) (2 x 18) = 386 mm

= 42,88

665 665
=
=49,92
F 240

Karena

=16,14 .(ok)

Badan
h

p=

= 7,14

< p , maka penampang badan kompak

Cek kapasitas penampang


Berdasarkan SNI 03-1729-2002 dalam buku Perencanaan Struktur Baja

dengan Metode LRFD.


Batas zona plastis :
L p=1,76 r y
= 2235,50 mm
Batas zona inelastik :

E
Fy

1,76 44

200000
240

Berdasarkan SNI 03-1729-2002 dalam buku Perencanaan Struktur Baja


dengan Metode LRFD.
Lr =r y

X1
fL

] 1+ 1+( X f
2

2
L

Dimana:
fL = fy fr = 240 70 = 170 MPa
G=

E
200000
=
=76923,08 MPa
2 (1+ ) 2 ( 1+ 0.3 )

J =

1 3
bt
3

X 1=

(Berdasarkan LRFD)

Sx

( 23 (200 x 14 ))+ 13 x 386 x 9


3

= 459.664,67 mm4

E .G . J . A
2

200000 76923,08 459.664,67 9676


3
2
1489 10
= 12.334,79 MPa
2

h
C w I y eff
2
2

1
(450 x 2 x 14)
2
1870 104
2
= 1,77 1012 mm6

2
Sx 2 Cw
1489 103
1,77 x 10 12
X 2=4

=4

GJ
Iy
76923,08 459.664,67
1870 x 10 4

( )

10-4

=6,71

Lr =r y

[ ]
X1
fL

44,0

1+ 1+ ( X 2 f 2L )

12.334,79
1+ 1+ ( 6,71104 1702 )
170

= 7497,86 mm
Berdasarkan SNI 03-1729-2002 dalam buku Perencanaan Struktur Baja
dengan Metode LRFD dengan Lp = 2235,50 mm < Lb = 3000 mm < Lr = 7497,86
mm maka balok tersebut berada pada zona bentang tengah(tekuk torsi-lateral
inelastik) dan Cb = 1,14, karena tidak ada sokongan.
Sehingga:

M n=C b M p ( M pM r )

)]

LrLb
M p
Lr L p

Mr = Sx ( fy fr ) = 1489 103 (240 - 70) = 253,1 kNm


= (1,2 x 1489 103 240) = 428,832 kNm

Mp = (Zx Fy)

M n=C b M p ( M pM r )

LrLb
Lr L p

)]

M n=1,14 428,832 ( 428,832253,1 )

7497,863000
( 7497,86
2235,50 )]

= 317,64 kNm
Mn = 0,9 317,64 kNm = 285,87 kNm = 28 t.m

Cek kelangsingan penampang terhadap geser

Berdasarkan SNI 03-1729-2002 dalam buku Perencanaan Struktur Baja


dengan Metode LRFD.
h 386
=
=42,88
tw
9

1100
1100
=
=71
Fy
240

Karena

h
1100
<
, Buku LRFD halaman 94 maka :
tw
fy

Vn = 0,6 fy Aw
= 0,6 240 (450 14)
= 90,72 kN = 9,072 t

Menentukan kuat geser rencana balok


V n=

V n

0,9 90,72 kN = 81,648 kN = 8,164 t Vu = 6,758 t

Kombinasi momen lentur dan geser

Mu
V
+0.625 u 1.375
Mn
Vn
10,376
9,072
+0.625
1.375
28
8,164
1,065<1,375 penampang kuat

Dari hasil-hasil pengecekan diatas semuanya telah memenuhi syaratsyarat, maka profil 450.200.9.14 dengan berat profil 75,96 kg/m dapat digunakan
untuk girder memanjang.

3.5.2

Gelagar Melintang
Gelagar melintang direncanakan menggunakan Profil WF 700 x 300 x 15

x 28 dalam jarak antara gelagar 1,5 m dan lebar jembatan 6 m, tebal lapisan aspal
5 cm. Berdasarkan lampiran tabel baja WF diperoleh :
q

= 285 kg/m

= 700 mm

= 300 mm

Ag

= 273,6cm2

Ix

= 237000 cm4

Iy

= 12900 cm4

Sx

= 6700 cm3

Sy

= 853 cm3

ix

= 29,4 cm

iy

= 6,86 cm

3m

1,5 m

1,5 m

1,5 m

1,5 m

Gambar Pelimpahan beban terhadap gelagar memanjang dan melintang

1. Beban mati
Beban terpusat: (P)
Berat gelagar memanjang (A)

Girder memanjang = 0,0797 t/m 3 m

= 0,2391 ton

Berat baut

= 0,20 Kg 0,2391 t

= 0,0478 ton

= 4 8,69 kg

= 0,035 ton

Berat pelat siku

= 0,322 ton

Berat plat lantai (B)


Berat lantai kendaraan

= 0.2 m 2.4 t/m3

= 0.50 t/m2

Berat aspal

= 0.05 m 2.2 t/m3

= 0.11 t/m2

Berat air hujan

= 0.05 m 1 t/m3

= 0.05 t/m2
qb = 0.66 t/m2

Berat trotoar

Trotoar

= 1,00 m 3 m 2,4 t/m3

= 7,2 t/m

Air hujan

= 0,050 m 3m 1 t/m2

= 0,15 t/m

Berat profil siku sama kaki 60.60.10

= 0,009 t/m
q2

= 7,359 t/m

Berat profil WF
Profil WF 700.300.15.28

= 0,215 t/m
q3

= 0,215 t/m

Analisa perhitungan beban terpusat (P1)


P1 ={ (Qekv.gel memanjang) x L} + P
P1 = (0,453 x 3) + 0,322
P1= 1,681 ton
Analisa perhitungan beban terpusat (P2)
P2 ={ (Qekv.gel memanjang) x L} + P
P2 = {2(0,453) x 3} + 0,322
P2= 3,04 ton

Besarnya beban terbagi rata q ekivalen adalah:

0,75 m
xm

1,5 m

x= 2/3 h

q1 ekv = qb x

= 2/3 0,75

= 0,66 0,5

= 0,5 m

= 0,33 t/m

qekv = 2 x (q1 ekv)


qekv = 2 x (0,33 ) = 0,66 t/m

Q1 = q2 x L = 0,66 t/m x 6 m = 3,96 ton


Q2 = q2 x L = 7,359 t/m x 1,0 m = 7,359 t/m
Q3 = q3 x L = 0,215 t/m x 8,2 m = 1,763 t/m
Beban mati akibat beban terbagi rata q yang bekerja pada girder melintang

dapat dilihat pada gambar berikut ini: P2


P1
P2
q2 x L = 7,359 ton

P1

P2

q1x L =3,96 t

q2 x L =7,359 ton
q3 x L = 1,763 t
q3 =1,763t ton

q3 x L = 1,763
1,5 m
0,1 m

1m

1,5 m

1,5 m

1,5 m

6m

1m

0,1 m

Reaksi pada titik A dan B adalah : V = 0


RA . L = (Q3 (1/2 x 8,2)) + (Q2 (1/2.1 + 7,1) + Q1 (1/2.6 + 1,1) +Q2 (1/2.1 + 0,1) +
P1. 7,1 + P2. 5,6 + P2 . 4,1 + P2 . 2,6 + P1 .1,1 = 0

1
RA . L = {1,763 ( 2

1
1
x 8,2)} + {7,359 ( 2 x 1 + 7,1)} +{ 3,96 ( 2

1
1,1)} + {7,359 ( 2

x6+

x 1 + 0,1)} + 1,681 (7,1) + 3,04 (5,6) + 3,04 (4,1)

+ 3,04 (2,6) + 1,681 (1,1) = 0


RA .8,2 = 7,23 + 55,93 + 16,24 + 4,41 + 11,93 + 17,02 +12,46 + 7,90 + 1,85

RA

= 16,46 ton

Momen maksimal yang timbul pada gelagar melintang akibat beban mati :
Mmax

= (RA 4,1) q1 .L/2(1/2.L/2) q2 .L(1/2.L1 + 3) q3 .L(1/2.L + L)


P x L - (P2 x L)
= (16,46 4,1) 0,66 . 3 (1/2 . 3) 7,359. 1 (1/2x1 +3) 0,215 . 4,1 (1/2 .
4,1) (1,681 x 3 ) ( 3,04 x 1,5 )
= 67,49 2,97 25,76 1,81 5,04 4,56
= 27,35 tm

2. Beban hidup
Beban hidup terdiri dari beban terbagi rata q dan garis P menurut
PPPJJR 1987, untuk menghitung pengaruh-pengaruh dinamis. Tegangan akibat
beban garis P harus dikalikan dengan koefisien kejut, untuk menghitung
koefisien kejut digunakan rumus:
K=1+

20
50+L

K=1+

20
=1,28
50+ 36

a. Beban terbagi rata


Menurut PPPJJR 1987 besarnya beban terbagi rata untuk panjang bentang
36 m digunakan rumus:
q = 2,2 t/m
Untuk jembatan kelas B beban terbagi rata diambil sebesar 70 %
q = 2,2 t/m x 70%
= 1,54 t/m
Beban kendaraan dalam jalur (100%)

q1 =

q
2,75

xs=

x 3 x100%

= 1,68 t/m
Beban terbagi rata diluar jalur (50%)

q2

q
2,75

xs=

x 3 x 50 %

= 0,84 t/m
Berdasarkan PPPJJR beban terbagi rata untuk trotoar diperhitungkan
terhadap beban hidup 500 kg/m2 dan beban diambil 60% dari beban hidup trotoar.
q3

= 0,5 t/m2 x 3 m x 60 % = 0,9 t/m

1,0 m

0,25 m

5,5 m

0,25 m

1,0 m

Gambar 3.5.4 Beban Hidup yang Bekerja Pada Gelagar Melintang

Q1 = q1x L = 1,68 x 5,5

= 9,24 t/m

Q2 = q2 x L =0,84 x 0,25

= 0,21 t/m

Q3 = q3 x L =0,9 x 1,0

= 0,90 t/m

Reaksi yang terjadi adalah:


RA = RB = 0,
MB = 0

R A=

8,2RA

= ( Q3 7,6 ) + ( Q2 6,975 ) + ( Q1 4,1 ) + ( Q2 1,225) + ( Q3 0,6 )

8,2RA

= ( 0,90 7,6) + 0,21 6,975) + ( 9,24 4,1) + (0,211,225) + ( 0,900,6 )

8,2RA

= 6,84 + 1,46 + 37,88 + 0.26 + 0,54

46,98
=5,73 ton
8,2

Momen maksimum yang bekerja pada girder melintang akibat beban hidup
adalah:
Mmaks1 = ( RA L ) ( Q3 3, 50 ) ( Q2 2,875 ) ( Q1 1,375 )
= ( RA L ) ( 0,9 x 0,1 3, 50 ) ( 0,84 x 0,25 2,875 )
( 1,68 x( x 5,5 ) x x 5,5 )
= (5,734,1) ( 0,90 3, 50) ( 0,21 2,875 ) (4,62 1,375)
= 6,76 t.m
b. Beban garis
Berdasarkan PPPJJR beban garis P diambil sebesar = 12 ton. Karena
kelas jembatan adalah kelas II, maka diambil 70 %

P = 12 ton x 70 % = 8,4 ton


K=1+

20
50+L

K=1+

20
=1,28
50+ 36

Untuk menghitung beban garis maka P harus dikalikan dengan koefisien kejut:
Beban garis didalam lajur diambil 100%:
P1=

P
8,4
x K x =
1,28 x 3 100
2,75
2,75

= 11,454 ton
Beban garis diluar lajur diambil 50%:
P2=

P
8,4
x K x =
,281 x 3 50
2,75
2,75

= 5,727 ton
P2

0,1 1,0

0,25

P1

5,5

P2

0,25

1,0

0,1

Gambar 3.5.5 Beban Garis yang Bekerja pada Gelagar Melintang


Reaksi yang terjadi adalah:
RA = RB = 1/2

= 1/2 (11,454 ton + (2 (5,727 ton))


= 1/2 22,908
= 11,454 ton

Momen maksimum yang timbul pada girder melintang akibat beban garis adalah:
Mmaks2 = ( RA L ) ( P2 ( . 0,25 + . 5,5) )

= (11,454 4,1 ) (5,727 ( . 0,25 + . 5,5))


= 46,961 16,465
= 30,496 t.m

Dengan demikian gaya lintang dan momen maksimum yang bekerja pada girder
melintang akibat beban hidup (beban terbagi rata dan beban garis) adalah:
Rt

= 5,73 ton + 11,454ton


= 17,184 ton

Mmaks = Mmaks1 + Mmaks 2


= 6,76 t.m + 30,496 t.m = 37,256 t.m

3. Beban angin
Menurut PPPJJR 1987 tekanan angin yang bekerja pada kendaraan adalah
150 kg/m2 pada ketinggian 2 meter dari lantai kendaraan pada jarak 3 meter, maka
luas bidang yang mengalami tekanan angin = 2 m 3 m = 6 m2. Jarak As roda
kendaraan = 1,75 m seperti yang diperlihatkan pada gambar berikut ini:

P
w = 150 kg/m2
2m

1m
1,75 m

Gambar 3.5.6 Gaya Angin yang Mempengaruhi pada Gelagar Memanjang


Maka gaya angin yang menekan lantai kendaraan adalah:
1,75 P = A q 1 m

P1 = P2=
= 514,26 kg
= 0,514 ton
P1= P2

L = 8,2 m
Reaksi yang terjadi adalah :
RA = RB

= 1/2
= 1/2 0,514
= 0,257 ton

Momen maksimum yang timbul pada girder melintang akibat beban angin adalah
Mmaks

=PL
= 0,514 8,2 = 1,053 t.m

4. Beban rem
Beban yang terjadi akibat gaya rem adalah :
Beban terbagi rata (Q)
Q

= ( q1 5,5 ) + ( 2 q2 0,25 )

= (1,68 x 5,5) + 2 (0,84 x 0,25)


= 9,66 ton
Beban garis tanpa koefisien kejut

Beban garis dalam jalur (diambil 100%)


P1=

8,4
3 100
2,75

= 9,16 ton

Beban garis diluar jalur (diambil 50%)


P2=

8,4
3 50
2,75

= 4,58 ton
Maka beban hidup D akibat gaya rem yang bekerja pada jembatan adalah:
Pt

= Q + P 1 + P2
= 9,66 + 9,16 + 4,58
= 23,40 t

Berdasarkan PPPJJR 1987 besarnya beban rem yang diperhitungkan adalah


5% dari beban D tanpa koefisien kejut, dan gaya rem tersebut dianggap bekerja
horizontal dalam arah sumbu jembatan dengan titik tangkap setinggi 1,80 m diatas
permukaan lantai kendaraan. Besarnya beban R adalah:

= 5% Pt
= 5% 23,40
= 1,17 ton

Berdasarkan PPPJJR 1987 momen yang timbul akibat gaya rem yang
bekerja horizontal dalam arah sumbu jembatan dengan titik tangkap setinggi 1,8
meter adalah:
Mrem = 1,8 m R= 1,8 m 1,17 t= 2,106 tm

5. Kombinasi beban
Maka momen momen yang bekerja pada girder melintang adalah :
Beban Primer

Beban mati (DL)

= 27,35 tm

Beban hidup (LL)

= 37,256 tm

Beban Sekunder

Beban angin (W)

= 1,053 tm

Beban rem (A)

= 2,106 tm

Sedangkan gaya lintang yang bekerja pada girder melintang adalah :


Beban Primer

Beban mati (DL)

= 16,46 t

Beban hidup (LL)

= 17,184 t

Beban Sekunder

Beban angin (W)

= 0,257 t

Beban rem (A)

= 1,17 t

Kombinasi

Mu (tm)

Vu (t)

1,4DL

38,290

23,044

1,2DL + 1,6LL

92,430

47,246

0,75x(1,2DL + 1,6LL + 1,6W)

71,849

36,839

1,2DL + 1,6LL + 0,5(W/A)

92,850

47,667

Dari kombinasi beban yang telah diperhitungkan, maka beban yang akan dipakai
adalah beban yang memiliki nilai yang paling besar yaitu dengan momen sebesar
92,850 t.m dan gaya lintang sebesar 47,667 t
o

Pengecekan terhadap kondisi momen dominan


Dari data kombinasi didapatkan:
Mumax = 92,850 t.m
Vumax = 47,667 ton
Fy

= 240 MPa

= 200000 Mpa

Penampang yang digunakan


Direncanakan girder memanjang dari profil WF 700.300.15.28 dengan mutu
baja Fu 370.
Dari tabel diperoleh :
B = 300 mm
Ag = 273,6 cm2

tf = 28 mm
tw= 15 mm

ix = 29,4 cm

iy = 6,86 cm

Iy = 12900 cm4

Ix = 237000 cm4

= 28 mm

Sy = 853 cm3

Sx = 6700 cm3
Cek kelangsingan pelat badan dan sayap

Menurut buku Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD yang


berdasarkan SNI 03-1729-2002 untuk mengecek kelangsingan pelat badan
dan sayap adalah :
a.

Sayap

p=
Karena
b.

= 5,35

=16,13 .(ok)

< p , maka penampang sayap kompak

Badan
h

= h (2 x tf) (2 x r)
= 700 (2 x 28) (2 x 28) = 588 mm

=
p=

= 32,9

665 665
=
=42,925
F 240

Karena

< p , maka penampang badan kompak

Cek pengaruh tekuk lateral


Menurut buku Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD yang
berdasarkan SNI 03-1729-2002.

Lp = 1,76 ry

E
Fy

= 1,76 x 68,6

[ ]

X1
r
y
Lr =
fL

= 3485,348 mm

1+ 1+ ( X 2 f 2L )

Dimana:
fL = fy fr = 240 70 = 170 Mpa (Berdasarkan LRFD)

G=

E
2 x 105
=
=76923,08 Mpa
2 (1+ ) 2(1+0,3)

J = x b x t 3=

{23 x 300 x 28 + 13 x ( 588) x 15 }


3

= 2.856.700 mm4 (Berdasarkan LRFD)

X 1=

E .G . J . A
Wx
2

X 1=

2.105 x 76923,08 x 2.856 .700 x 27360


2
6700 x 103

= 11.491,415 Mpa

Cw=Iy

heff 2
heff =700 28=672mm
2

Iw=(12900 10 4)

6722
=1,456 1013
2

W x 2 Cw
X 2=4

GJ
Iy

X 2=4

13

6700 10
1,456 10

76923 2.856.700
12900 10 4

X 2=4,197 104

Lr=ry

Lr=68,6 mm

{ }

X1
2
1+ 1+ X 2 f L
fL

{ 11.491,415
} 1+ 1+4,197 10
170

1702

Lr=9970,831 mm

Berdasarkan buku Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD yang


berdasarkan SNI 03-1729-2002 dengan Lp = 3485,348 < Lb = 8200 mm < Lr =
7321,514 mm, maka balok tersebut berada pada kasus 5 dan Cb = 1,14.
Sehingga:
M n=Cb

.E 2
E . I y .G . J +
. I y . Cw
L
L

{}

( )

I y =A .r 2y = 27360 x 68,62 = 128.755.065,6 mm4

C w =I y . h2 /2 = 128755065,6 x 5882 / 2 = 2,22 x 1013 mm6


Mn=Mcr=1,14

{ }

Mn=5.693.785 .226 Nmm=5693,785 kNm=569,378tm

Menentukan kuat lentur rencana balok Mn:


b Mn = 0,9 x 5693,785 kNm = 5124,40 kNm = 512,44 tm

Cek kelangsingan penampang terhadap geser


Berdasarkan SNI 03-1729-2002 dalam buku Perencanaan Struktur Baja dengan
Metode LRFD.
h 700
=
=46,67
t w 15

1100
1100
=
=71
fy
240

Karena

.2. 105
x 2. 105 x 128755065,6 x 76923,08 x 2.856 .700+
x 128755065
8200
8200

h
1100
<
, maka:
tw
fy

Vn = 0,6 fy Aw
= 0,6 240 (700 15)
= 1512 kN = 151,2 t

Menentukan kuat geser rencana balok


V n=

V n

0,9 1512 kN = 1360,8 kN = 136,08 t Vu = 47,667 ton

b Vn > Vu maka penampang kuat untuk menahan desain.

Kombinasi momen lentur dan geser

( MuMn +0,625 VuVn )< 1,375

(Berdasarkan LRFD)

47,339
+ 0,625
<1,375
( 92,640
512,44
136,08 )

0,400<1,375 Penampang kuat menahan beban

Cek lendutan
Berdasarkan SNI 03-1729-2002 dalam buku Perencanaan Struktur Baja dengan
Metode LRFD.
M u=928,50 kNm

5 M u L2
5 ( 928,5 106 ) 82002
=
=13,72 mm
48 E I x 48 200000 ( 237000 104 )

ijin=

L
300

8200
300

= 27,33 mm

=13,72< ijin=27,33 mm Syarat lendutan terpenuhi

Dari hasil-hasil pengecekan diatas semuanya telah memenuhi syaratsyarat, maka profil 700.300.15.28 dengan berat profil 215 kg/m dapat digunakan
untuk girder melintang.

3.5.3 Gelagar Utama


Beban-beban yang bekerja pada Gelagar Utama adalah
1. Berat Gelagar Utama Dan Sandaran
2. Berat Lantai Kendaraan dan lainya
3. Berat Beban Hidup
4. Berat Beban Angin
1.

Berat Gelagar Utama Dan Sandaran

Berat gelagar utama dan sandaran terdiri dari batang bawah dan batang
diagonal. Untuk menghitung berat gelagar utama digunakan persamaan :
a. Berat Gelagar Utama
G = (20 + 3L) kg/m2
Panjang bentang jembatan 12meter, maka :
G = (20 + 3 x 21) kg/m2
G = 83 kg/m2
Berat keseluruhan Gelagar Utama :
Pa = 83 kg/m2 x 21m x 10 m
= 17.430 kg
b.

Berat Sandaran
Beban-beban yang bekerja pada sandaran adalah:

Berat pipa

Berat clam pipa

= 4 21 m 5,57 kg/m

= 467,88 kg

= 7 4 1 kg

= 28
Pb

kg

= 495,88 kg

Berat total girder utama dan sandaran adalah:


Pt

= Pa + Pb
= 17.430 kg + 495,88 kg
= 17.925,88 kg

Berat untuk satu girder utama adalah:


P

= Pt

= 17.925,88 kg
= 8962,94 kg = 8,962 ton

Untuk tiap-tiap titik buhul menerima beban sebesar :

Titik buhul tengah (P1) = 1/3 8962,9kg

= 2987,65 kg
= 2,98 ton

Titik buhul tepi (1/2 P1) = 2987,65 kg

= 1.493,82 kg
= 1,493 ton

Reaksi tumpuan untuk satu girder utama adalah:


V = 0
RA = RB =

= 4,18 t
= 2,34 ton

1. Berat lantai kendaraan dan lainnya


Berat lantai kendaraan selebar 7 meter dan lebar trotoir 2 1,0 meter, serta
ruang bebas 2 0,5 meter. Diperhitungkan sepanjang 3 meter, dengan berat lantai
kendaraan dan lainnya adalah sebagai berikut:

Berat lantai

= 0,2m 7m 3m 2,40 t/m3

= 10,08 t

Berat aspal

= 0,05m 7m 3m 2,2t/m3

= 2,31 t

Berat air hujan

= 0,05m 7m 3m 1,00t/m3

= 1,05 t

Berat trotoar

= 2(0,5m1m3m2,4t/m3 )

= 7,2 t

Berat girder melintang

= 10m 0,215t/m

= 2,15 t

Berat profil siku 60.60.10

= 0,009t/m 3m 2

= 0,054 t

Berat girder memanjang

= 0,0797t/m 3m 5

= 1,195 t

Berat ikatan angin atas dan bawah= 0, 15 (10 3)

= 4,5 t
Pt

= 28,54 t

Untuk tiap-tiap titik buhul menerima gaya P sebesar:

Titik buhul tengah (P1)


Titik buhul tepi (1/2P1)

= 1/3 28,54t
= 9,513 t

= 9,513 t
= 4,76 t

Reaksi tumpuan pada girder utama akibat berat lantai kendaraan dan lain-lain
adalah:
V = 0
RA = RB = (

P1

= (38,052)
= 19,026t

2. Beban hidup
Menurut PPPJJR 1987 untuk jembatan lebar lantai 5,5 m, dengan beban
D diambil 100 % dan selebihnya 50 % seperti diperlihatkan pada gambar
dibawah ini:

Gambar 6.1 Ketentuan Beban D Menurut SNI 03-1725-1989


Sumber: Anonim (2002)
a

Beban terbagi rata (q)


Jembatan yang direncanakan adalah dengan panjang bentang 12 m.

Menurut PPPJJR 1987 besarnya beban terbagi rata untuk jembatan 12 m adalah
sebesar :
q

= 2,2 t/m

Untuk jembatan kelas A diambil beban terbagi rata 100%, sehingga:


q

= 2,2 t/m 100%


= 2,2 t/m

Beban terbagi rata dalam lajur diambil sebesar 100 %, sehingga:


q1 =

q
2,2
2,75 x s 100% = 2,75 1 x 5,5 100%

= 4,4 t/m

Beban terbagi rata diluar lajur diambil sebesar 50 %, sehingga:


q2 =

q
2,2

x
s

100%
=
2,75
2,75 1 x1,5 50%

= 0,6 t/m
Beban terbagi rata pada trotoar diambil 60%, sehingga:

q3 = 0,5 t/m2 1 m 60%


= 0,3 t/m
Beban terbagi rata (qt) pada satu gelagar utama adalah:
qt = ( q1 + q2 + q3 )
= ( 4,4 t/m + 0,6 t/m + 0,3 t/m )
= 2,65 t/m
Beban garis (P)
Berdasarkan PPPJJR 1987 beban garis P = 12 ton, untuk jembatan kelas
A beban garis diambil 100%
P = 12 ton 100%
= 12 ton
Untuk menghitung beban garis maka P harus dikali dengan koefisien kejut.
K =1+

=1+

20
50+ L
20
50+ 12

= 1,322

Beban garis untuk dalam lajur diambil 100%, sehingga:


P1 =

p
12

x
s

100%
=
2,75
2,75

1 x 5,5 100%

= 24 ton
Beban garis untuk diluar lajur diambil 50%, sehingga:

P2 =

p
12
2,75 x s 100% = 2,75

1 x1,5 50%

= 3,27 ton
Beban garis (Pt) pada satu gelagar utama adalah:
Pt = ( P1 + P2 )
= ( 24 + 3,27)
= 13,64 ton

Gaya batang akibat beban hidup D ( beban terbagi rata dan beban garis)
dihitung dengan menggunakan metode garis pengaruh dengan menganggap P = 1
ton bergerak sepanjang jembatan. Beban P tersebut ditentukan pada pusat momen
masing-masing ordinat, dengan menggunakan persamaan berikut ini:

Y=
Dimana :
Y = Ordinat garis pengaruh batang
x = Jarak tumpuan ke pusat momen ditinjau
L = Panjang bentangan jembatan
H = Tinggi rangka baja
Perhitungan garis pengaruh batang atas (A)
1

Garis pengaruh batang -A1 = -A2, beban P = 1 ton diletakkan pada titik 1
3 (12 3)
YA1 = YA2 =
= 0,375 (-)
12 6

Perhitungan garis pengaruh batang bawah (B)

1 Garis pengaruh batang B1 = B4, beban P = 1 ton diletakkan pada titik 1


YB1 = YB4 =

3 (12 3)
= 0,375( + )
12 6

2 Garis pengaruh batang B2 = B3, beban P = 1 ton diletakkan pada titik 2


YB2 = YB3 =

6 (12 6)
= 0,5( + )
12 6

Perhitungan Garis Pengaruh Batang Vertikal (V)


Untuk perhitungan garis pengaruh pada batang diagonal (V) dapat digunakan
persamaan :

YvA

RA1
sin

Yv1

RA
sin

Garis pengaruh pada V1=V3


P
= 1 ton diletakkan pada titik F

RA =

YVA =

12
12

11
sin 90

= 1,000 t , RB =

0
12

=0t

=0

= 1 ton diletakkan pada titik 1


9
3
12
12
RA = =
= 0,75 t , RB = =
= 0,25 t
0,75
YV1= YV3 = sin 90 = 0,75

Garis pengaruh pada batang V2


P
= 1 ton diletakkan pada titik 1

RA =

YV1=
P

x
L

9
12

0,751
sin 90

= 0,75 t ,RB = =

3
12

= 0,25 t

= 0,25 (-)

= 1 ton diletakkan pada titik 2

RA =
YV2 =

x
L

6
12

0,5
sin 90

= 0,5 t, RB =

6
12

= 0,5 t

= 0,5

Perhitungan Garis Pengaruh Batang Diagonal (D)


Untuk perhitungan garis pengaruh pada batang diagonal (D) dapat digunakan
persamaan :

YDF =

YD1

Sudut yang terbentuk oleh batang diagonal adalah

Tg-11

=
= 0,463

Sin 0,463 = 0,447

Tg-12

=
= 1,107

Sin 1,107 = 0,894


Garis pengaruh batang D1 =D4
P
= 1 ton diletakkan pada titik F

x
L

12
12

RA

YDA

= 1 ton diletakan pada titik 1

RA
YD1

11
0,447

x
L

=0t

=0

9
12

0,75
0,894

= 1 t ,RB = =

0
12

= 0,75 t ,RB =

3
12

= 0,25 t

= 0,839 (+)

Garis pengaruh batang D2 =D3


P
= 1 ton diletakan pada titik 1
x
L

RA

YD1

= 1 ton diletakan pada titik 2

RA

YD2

9
12

0,751
0,447

x
L

0,5
0,894

= 0,75 t , RB = =

3
12

= 0,25 t

= 0,559 (-)

6
12

= 0,5 t , RB = =

= 0,559 (+)

6
12

= 0, 5 t