Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

TUBERCULOSIS PARU (TB)

A.

PENGERTIAN
1.

Tubercolis paru adalah penyakit menular yang dapat menyerang

siapapun (laki-laki, wanita, tua atau anak-anak). Penyakit infeksi yang


disebabkan

oleh

bakteri

Mycobakterium

tuberculosis.

TBC

terutama

menyerang paru-paru sebagai tempat infeksi primer, selain itu TBC dapat
juga menyerang kulit, kelenjar limfe, tulang dan selaput otak.
2.

Tuberculosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh

basil mikrobacterium. Tuberculosis yang merupakan salah satu penyakit


saluran pernapasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberculosis
masuk kedalam jaringan paru melalui airbone dan selanjutnya mengalami
proses yang dikenal sebagai focus primer dan ghon.
B

C.

ETIOLOGI
1.

Microbacterium Tuberculose

2.

Microbakterium bovis

PATOFISIOLOGI
Penyebaran kuman microbacterium Tuberculosis bias masuk melalui
tiga tempat yaitu saluran pernafasan, pencernaan dan adanya luka pada kulit.
Infeksi kuman ini sering terjadi melalui air bone (udara) yang cara
penularanya dengan droplet yang mengandung kuman dari orang yang
terinfeksi sebelumnya.
Penularan Tuberculosis paru terjadi karena penderita TBC membuang
ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan
keluar lalu diterbangkan angin kemana-mana dan jatuh ketanah maupun
kelantai rumah yang kemudian dihirup oleh manusia melalui paru-paru dan
bersarang serta berkembang biak di paru-paru.

PATOFISIO;OGI
Microbacterium TB

Masuk jalan nafas

Tinggal di Alveoli

Tanpa infeksi - - - - - - - - - Sifat :


- Batuk
- Sputum
purulen
- Hemoptisis
- BB turun

Inflamasi

-------

disebar oleh limfe

Fibrosis

Timbul jaringan ikat

Klasifikasi

Elastisitas dan tebal

Eksudasi
Alveolus tdk kembali
Saat ekspirasi

Nekrosis

Sekret yang menetap

Batuk

Gas tdk dapat berdifusi


Dengan baik

Gangguan pertukaran
gas

Daya tahan menurun

Kelelahan

Terkontaminasi oleh
lingkungan

Anoreksis
Resiko tinggi infeksi
Perubahan kebutuhan
nutrisi

D.

KLASIFIKASI
1.

Tuberculosis Paru
Tuberculosis paru adalah tuberculosis yang menyerang jaringan paru
tidak termasuk pleura (selaput paru).
Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB paru dibagi menjadi dua yaitu :
a. Tuberculosis paru BTA positif.
b. Tuberculosis paru BTA negative

2.

Tuberculosis Ekstra paru


Tuberculosis ekstra paru adalah tuberculosis yang menyerang organ
tubuh selain jaringan paru, misalnya pleura (selaput paru), selaput
otak, selaput jantung, kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus,
ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain.
Berdasarkan tingkat keparahanya, TB ekstra paru dibagi menjadi dua
yaitu :
a. Tuberculosis ekstra paru ringan
Misal ; TB kelenjar limfe, pleuritis

eksudasi unilateral, tulang

(kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.


b. Tuberculosis ekstra paru berat
Misal : Meningitis, milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis, eksudatif
dupleks, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing
dan alat kelamin.
E.

TIPE PENDERITA
1.
Kasus baru
Penderita yang belum pernah diobati dengan OAT / sudah pernah
menelan OAT kurang dari 1 bulan (30 dosis harian).

2.

Kambuh (Relaps)
Penderita TB yang sebelumnya pernah mendapatkan terapi TB dan
setelah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan BTA positif.

3.

Pindah (Transferin)

Penderita

TB

yang

sedang

mendapatkan

pengobatan

disuatu

kabupaten lain dan kemudian pindah berobat ke kabupaten ini,


penderita harus membawa surat rujukan/pindahan (FORM TB 09).
4.

Kasus berobat setelah lalai (pengobatan setelah default/drop out).


Adalah penderita TB yang kembali berobat dengan hasil pemeriksaan
dahak BTA positif setelah putus berobat 2 bulan/lebih.

5.

Gagal
Adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali
menjadi positif pada akhir bulan ke 5 atau lebih.
Adalah penderita BTA negative, rontgen positif yang menjadi BTA
Positif pada akhir bulan ke 2 pengobatan.

6.

Lain lain
Semua penderita lain yang tidak memnuhi persyaratan tersebut di
atas. Termasuk dalam kelompok ini adalah kasus kronik adalah
penderita yang masih BTA positif setelah menyelesaikan pengobatan
ulang dengan kategori 2.

F.

TANDA DAN GEJALA


1.

2.

Gejala Umum
-

Demam, sering kali suhu meningkat pada siang dan malam hari.

Menggigil

Keringat malam akan timbul bila proses akan terjadi

Anoreksis

Lemah badan

Tanda fisik
-

Kelainan parenkim yaitu konsolidasi, fibrosis atelektasis.

Kelainan saluran nafas berupa radang dan mukoss disertai dengan


penyempitan, terjadi reaksi pleura berupa penebalan atau nyeri
pleura.

G.

GAMBARAN KLINIS
Gejala Klinis :
Tidak ada khas dan sangat bervariasi
4

1.

Batuk.
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan paling sering.

2.

Dahak
Awalnya bersifat mukosit kemudian mukopurulen sampai purulen dan
berubah menjadi kental.

3.

Batuk rejan
Batuk yang diderita pasien yakni batuk rejan yang terjadi lebih dari 2
minggu.

H.

DIAGNOSA TUBERCULOSIS PADA ANAK


Diagnosis paling tepat adalah dengan ditemukannya kuman TB dari bahan
yang diambil dari penderita, misalnya dahak, sehingga besar diagnosis TB
anak didasarkan atas gambaran klinis.

I.

J.

KOMPLIKASI
1.

Meningitis

2.

Spondelitis

3.

Plerubitis

4.

Bronkopneumonis

5.

Atelektasis

PENATALAKSANAAN
Program DOTS (Directly Observed Treatment Short Come)
Terapi Medik
1.

Isoniazid
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisit dapat membunuh 90% popuksi
kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Obat ini sangat aktif
terhadap kuman dalam metabolic aktif, yaitu kuman yang sedang
5

berkembang. Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kg BB, sedangkan


pengobatan intermitten 3x seminggu diberikandalam dosis 10 mg/kg
BB.
2.

Rifampisin
Dosisnya 10 15 mg/kg BB per hari diberikan 1x sehari per oral
diminum dalam keadaan lambung kosong selama 16 19 jam.

3.

INH
Dosisnya 10 20 mg/kg BB / hariselama 18 -24 bulan.

4.

Streptomicin
Bekerja dalam IM dosisnya 30 50 mg / kg BB / hari.

5.

Pirazinamid
Dosisnya 30 -35 mg / kg BB / hari, per oral 2x sehari selama 4-6 jam.

6.

Etambuthal
Dosisnya 30 mg /kg BB / hari dalam keadaan kosong 1x sehari selama
1 tahun.

7.

Para Animo Salasilat


Dosisnya 200 300 mg / kg BB / hari dalam keadaan lambung kosong
secara oral 2 3 x / hari.

K.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.

Tes / uji tuberculin


Pada anak, uji tuberculin merupakan pemeriksaan paling
bermanfaat

untuk

menunjukan

sedang/pernah

terinfeksi

mikro

bacterium tuberculosis dan sering disunakan dalam Screening TBC


ada beberapa cara melakukan uji tuberculin, namun sampai sekarang
cara mantoux lebih sering digunakan.
Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada setengah bagian atas
lengan bawah kiri bagian depan, disuntikan intrakutan (ke dalam kulit).
6

Penilaian uji tuberculin dilakukan 48 72 jam setelah penyuntikan dan


diukur diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi :
a) Pembengkakan (indurasi) 0 4 mm, uji mantoux negative arti klinis
tidak ada infeksi mikrobacterium tuberculose.
b) Pembengkakan (indurasi) 3 9 mm, uji mantoux meragukan, hal ini
bias

karena

kesalahan

teknik.

Reaksi

silang

dengan

mikrobacterium otipik atau setelah vaksinasi BCG.


c) Pembengkakan (indurasi) 10 mm, uji mantoux positif arti klinis
sedang / pernah terinfeksi mikrobacterium tuberculose.
2.

Foto Rontgen
Pada foto thorax terdapat bayangan terletak dilapangan atas paru atau

segmen apical lotus bawah, bayangan berawan / bercak.


3.

Tes reaksi cepat BCG.


Bila dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat berupa kemerahan

dan (indurasi) 5 mm, maka bias dicurigai telah terinfeksi mikrobakterium


tuberculose.
L.

PENANGANAN
1.
Farmakologi / Farmakoterapi.
Pengobatan diberikan setelah penderita dinyatakan positif menderita
TBC oleh dokter / petugas kesehatan dari hasil ditemukan kuman
mikrobacterium TBC (BTA +) atau (BTA -) dengan rontgen positif. Penderita
TBC paru (BTA +) yang tidak mampu akan paket obat secara gratis dengan
syarat harus ada seorang PMO (Pengawas Minum Obat) yakni petugas
kesehatan atau orang yang dipercaya dan dekat dengan penderita, minum
obat sebelum dianjurkan oleh doternya.
Orang di lingkungan penderita TBC (terutama dengan BTA +) disarankan
untuk memeriksakan diri.
Penderita dinyatakan sembuh setelah pengobatan berjalan selama 6 bulan
secara teratur dan bulan terakhir dilakukan pemeriksaan ulang dahak 2 kali.
Apabila hasil pemeriksaan kedua (BTA -) maka penderita dintakan sembuh.
Obat yang digunakan untuk TBC dibagi menjadi 2 yaitu :
a) Obat Primer
: Ischnisaid (INH), Rifamisin,
Parazinamid, Steptomisin, Ethambutol
b) Obat sekunder
; Exionamid, para
salisilat,

sikloserin,

kapreomisin.
7

amikasin,

animo

kanomisin,

Jenis jenis obat-obatan yang sering digunakan dalam pengobatan TBC


yaitu :
a) Rimfamisin (R) dengan dosis 10 15 mg / kg BB / hari, diberikan
1 kali sehari per oral diberikan selama 6 9 bulan, diminum
sebelum makan.
b) INH (H) / Isoniazid, bekerja bakterisidol terhadap basil yang
berkembang aktif ekstraseluler dan basil di dalam makrofog.
Dosis 10 20 mg / kg BB / hari per oral, lama pemberian 18 24
bulan.
c) Streptomisin, bekerja bakterisidol hanya terhadap basil yang
tumbuh aktif ekstraseluler, cara memberikanya IM dengan dosis
30 50 mg / kg BB / hari maksimum 750 mg / hari, diberikan
setiap hari selama 1 3 bulan, dilanjutkan 2 3 kali seminggu
selama 1 3 bulan lagi.
d) Pirazinamid (2), bekerja bakterisidol terhadap basil intraseluler,
dosis 30 -35 mg / kg BB / hari per oral 2 kali selama 4 6 bulan.
e) Etambutol bekerja bakterisidol dosis 20 mg / kg BB / hari 2 kali
selama 1 tahun.
f) Kortikosteroid dapat diberikan pada meningitis, TB, pleuritis TB,
perikarditis TB.

Untuk dosis anak pada pemberian obat antituberculosis (OAT) dalam jangka
pendek 6 9 bulan.
a) 2 HR / 7 H2R2 = INH + Rifamisin setiap hari selama 2 hari bulan
pertama, kemudian INH + Rifamisin setiap hari / 2 x seminggu
selama 6 bulan (ditambah etambutol jika terdapat resisten
terhadap INH).
b) 2 HR2 / 4 H2R2 = INH + Rifamisin setiap hari selama 2 bulan
pertama, kemudian INH + Rifamisin setiap hari / 2 minggu selama
4 bulan.
Pengobatan TBC pada anak jika INH dan Rifamisin diberikan bersamaan,
dosis maksimum perhari INH 10 mg / kg BB, dan Rifamisin 15 mg / kg BB.
Dosis anak jika INH dan Rifamisin yang diberikan :
a) TBC tidak berat
8

INH
= 5 mg / kg BB / hari
Rifamisin
= 10 mg / kg BB / hari
b) TBC berat (meningitis TB)
INH
= 10 mg / kg BB / hari
Rifamisin
= 15 mg / kg BB / hari
Prednison
= 1 2 mg / kg BB / hari (max 60 mg)
2.

Pencegahan penularan TBC


Mencegah penularan TBC memng cukup sulit tapi pada dasarnya bias
kita mulai melalui Hidup sehat dengan cara :
a) Jika batuk tutuplah mulut dengan saputangan / tissue.
b) Jika batuk berdahak agar dahaknya ditampung dalam pot berisi
lisol 5 % atau dahak ditimbun dengan tanah.
c) Jika sudah jelas dalam pemeriksaan laboratorium BTA (Bakteri
Tahan Asam) positif, maka segeralah berobat secara teratur selama
6 bulan.
d) Penderita TB paru dianjurkan tidak tidur satu kamar dengan
keluarga, terutama selama 2 bulan pengobatan pertama.
e) Keluarga penderita sebaiknya memriksakan diri ke Puskesmas.
f) Bila ada bayi harus mendapat imunisasi BCG, setelah dites
tuberculosis.
g) Untuk mempertinggi daya tahan tubuh, makanlah makanan bergizi
yang terjangkau, misalnya tahu, tempe, ikan asin, sayur sdayuran
dan buah-buahan.
h) Istirahat yang cukup.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1.

Identitas klien

2.

Keluhan utama

3.

Riwayat penyakit sekarang

4.

Riwayat penyakit dahulu

5.

Riwayat social ekonomi dan lingkungan

6.

pola fungsi kesehatan


a)

Pola persepsi sehat : alergi, kebiasaan, imunisasi.

b)

Pola Nutrisi

: anoreksia, mual, tidak enak di perut, BB


menurun,

turgor

kulit

kering

dan

kehilangan lemak subkutan.


c)

Pola eliminasi

- Perubahan karakteristik feses dan urine


- Nyeri tekan pada kuadran kanan atas hepatomegali
- Nyeri tekan pada splenomegali.
d)

Pola aktivitas dan istirahat :


- Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul, sesak (nafas
pendek), sulit tidur, demam, menggigil, berkeringat pada
malam hari.
10

- Takikardi, takipnea / dipsnea saat kerja, irritable, sesak (tahap


lanjut, infitrasi radang sampai setengah paru), demam
subfebris (40 410 c) hilang timbul.
e)

Respinasi
- Batuk produktif / non produktif sesak nafas, sakit dada.
- Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau /
purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan
kelenjar limfe, terdengar bunyi rontchi basah, kasar didaerah
apeks paru tokrpneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim
paru dan pleural), perkusi pekak dan penurunan fremitus
(cairan pleural) devrasi frakeal (penyebaran gronkogenik).

f)

Rasa nyaman / nyeri


- Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
- Berhari hari pada area yang sakit, perilaku distratesi,
gelisah, nyeri bias timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura
sehingga timbul pleuritis.

g)

Integritas ego
- Faktor Stres lama, masalah

keuangan,

perasaan tidak

berdaya / tidak ada harapan, menyangkal, ansietas, ketakutan,


mudah tersinggung.
B.

PEMERIKSAAN FISIK
1.

Demam

: subfibril, fibril (40 41c) hilang timbul.

Batuk

: Ronchi basah, kasar dan nyaring.

Sesak nafas : Hipersanor / tympani


Nyeri dada

: Atropi dan retraksi intercostae pada keadaan lanjut.

Malaise

: Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura.

2.

Pembesaran kelenjar biasanya multiple.

3.

Benjolan

pembesaran

kelenjar

submandibola.
4.

Kadang terjadi abses.

11

pada

leher

(servikal)

axilla,

C.

D.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.

Uji tuberculin

2.

Foto rontgen

3.

Pemeriksaan mikrobiologis

4.

Pemeriksaan darah tepi.

5.

Pemeriksaan analogik anatomi.

6.

Sumber infeksi.

PENGOBATAN
1.

Penyuluhan

2.

Pencegahan.

3.

Pemberian obat-obatan.
- OAT (Obat Anti Tuberculosis).
- Broncodilator.
- Exspektoran
- OBH
- Vitamin
- Antibiotik

4.
E.

Operasi untuk mengeluarkan kelenjar yang besar.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya factor resiko


yang ditandai dengan :
- Berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis.
- Kerusakanya membrane alveolar kapiler.
- Sekret yang kental
- Edema bronchial.
Tujuan : pertukaran gas efektif.
Kreteria hasil :
-

Memperlihatkan frekwensi pernafasan yang efektif.


Mengalami perbaikan pertukaran gas pada paru.
Adaptive mengatasi factor-faktor penyebab.
Intervensi :
a) Berikan posisi yang nyaman pada pasien, peninggian kepala
tempat tidur.
12

R / Meningkatkan inspirasi maksimal, ekspansi paru dan vertilasi


pada sisi yang sakit.
b) Observasi fungsi pernafasan, catat frekwensi pernafasan, dispnea.
R / dapat mengetahui dan mengantisipasi apabila ada tanda-tanda
yang menunjukan terjadinya syock sehubungan dengan hypoxia.
c) Jelaskan pada pasien penyebab /pencetus adanya sesak / kolaps
pada paru.
R / Agar pasien dapat mengetahui penyebab sesak yang
dideritanya.
d) Bantu pasien

untuk

tenang

dan

mengontrol

diri

dengan

menggunakan pernafasan lebih lambat dan dalam.


R / Membantu pasien mengalami efek hipoksia yang dapat
dimanifestasikan sebagai ketakutan / ansietas.
e) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain.
R / Pemberian terapi untuk kesembuhan penyakit pasien.
2.

Perubahan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan peningkatan


produksi sputum / batuk, dypsnea / anoreksia.
Tujuan
: Kebutuhan nutrisi adekuat.
Kriteria hasil :
- Menyebutkan makanan yang tinggi protein dan kalori.
- Menu makanan yang disajikan habis.
- Peningkatan berat badan tanpa peningkatan edema.
Intervensi

a) Kaji dan komunikasikan status nutrisi klien dan keluarga seperti


-

yang dianjurkan
Catat turgor kulit
Timbang berat badan
Integritas mukosa mulut, kemampuan dan ketidakmampuan menelan,

adanya bising usus, riwayat nausea, vomiting / diare.


R / digunakan untuk mendefinisikan tingkat masalah dan intervensi.
b) Mengkaji pola diet klien yang disukai / tidak disukai.
R / Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan
intake diet klien.
c) Memonitor intake dan output secara periodic.
R / Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan.
d) Cata adanya anoreksia, nausea, vomiting dan tetapkan jika ada
hubungannya

dengan

medikasi,

monitor

volume,

frekwensi,

konsisten BAB.
R / dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan
masalah untuk meningkatkan intake nutrisi.
e) Anjurkan bedrest
13

R / Membantu menghemat energy khusunya terjadinya metabolic


saat demam.
f) Lakukan perawatan oral sebelum dan sesudah terapi respirasi.
R / mengurangi rasa yang tidak enak dari sputum atau obat-obat
yang digunakan untuk pengobatan yang dapat merangsang
vomiting.
3.

Resiko tinggi infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan ;


- daya tahan tubuh menurun, fungsi saliva menurun, secret yang
menetap.
- Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar.
- Malnutrisi
Tujuan
: Daya tahan tubuh meningkat, resti infeksi menurun.
Kriteria hasik :
- Daya tahan tubuh meningkat, fungsi saliva meningkat, tidak ada
-

secret.
Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar.
Tidak terjadi gangguan nutrisi.

Intervensi

a) Jelaskan pada pasien penyebab terjadinya infeksi.


R / Agar pasien mengerti penyebab terjadinya infeksi.
b) Anjurkan klien untuk menampung dahak saat batuk.
R / Anjurkan klien kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya
penularan infeksi.
c) Gunakan masker setiap melakukan tindakan.
R / Untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi.
d) Observasi suhu klien bila terjadi febris.
R / Karena febris merupakan indikasi infeksi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Markam, A.H, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid I, Balai Penerbit
FKUI, Jakarta, 1991.
2. Mansjoer, arief, dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Medis
Aesculaptus, Jakarta.
14

3. Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta, 1997.


4. Nelson 2000, Ilmu Kesehatan Anak, volume 2, Edisi 15, EGC, Jakarta.
5. http /www mediastore.com

ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN TB PARU
DI POLI ANAK

Nama

: Dwi Sriandayani

NIM

Ruangan

: Poli Anak
15

Pengkajian

: 02 Agustus 2011

Jam

: 10.00 WIB

A.

PENGKAJIAN
1.

2.

3.

Biodata anak
Nama

: An. Maulana

Umur

: 10 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pendidikan

: Sekolah Dasar

Alamat

: Magersari Sidoarjo

No. Reg

: 1068589

Biodata Orang tua


Nama Ayah

: Tn A

Umur

: 39 Tahun

Suku bangsa

: Jawa Indonesia

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMK

Pekerjaan

: Swasta

Alamat

: Magersari Sidoarjo

Keluhan Utama
Ibu pasien mengatakan ingin control TB bulan ke 5 dan pasien masih
batuk dan kadang sesak.

4.

Riwayat penyakit sekarang


Ibu pasien mengatakan pasien tidak ada keluhan lain selain batuk,
pasien hanya ingin control TB bulan ke 6, Ibu pasien mengatakan
bahwa pasien sudah mengalami kenaikan berat badan sebanyak 1 kg
selama 1 bulan.

5.

Riwayat penyakit masa lampau

16

a)

Ibu pasien mengatakan pasien tidak pernah mengalami penyakit

TB sebelumnya.
b)

Riwayat kehamilan dan kelahiran.


- Riwayat Ante natal
Selama hamil ibu pasienrutin memeriksakan kehamilanya ke
bidan terdekat. Pada waktu hamil ibu pasien tidak pernah
menderita penyakit apapun dan tidak mempunyai penyakit
keturunan.
- Riwayat Natal
- Umur kelahiran

: 38 minggu

- Cara kelahiran

: Normal

- Lama kelahiran

: 35 menit

- BB pada waktu lahir

: 3.250 gram

- Apgar score

:79

- Riwayat prenatal
Ibu mengatakan pasien diberi ASI dan diselingi susu formula
6.

Riwayat keluarga
Ibu pasien mengatakan tidak mempunyai penyakit menular dan
menurun.

7.

8.

Riwayat tumbuh kembang


a)

Mengangkat kepala

:+

b)

Tengkurap

:+

c)

Duduk

:+

d)

Merangkak

:+

e)

Berdiri

:+

f)

Berjalan

:+

g)

Tidur mengompol

:+

h)

Pertumbuhan gigi

:+

i)

Gangguan yang dialami tidak ada.

Pola sehari hari


a)

Pola Nutrisi

:
17

- Pasien makan nasi


- BB meningkat 1 kg
- Komposisi : nasi, lauk pauk, sayur, buah, air putih, terkadang
snack, es dll.
b)

Pola eliminasi

- BAB 1x / hari, konsistensi : lembek, kuning kecoklatan.


- BAK 5 6 x / hari, konsistensi : kuning jernih, bau khas.
c)

Pola istirahat

- Tidur siang 13.00 16.30 WIB


- Malam 20.00 05.00
d)

Pola aktivitas

: Pasien beraktivitas seperti biasa.

e)

Pola personal hygiene

Mandi 2x / hari, ganti baju 2x / hari, gosok gigi 2x / hari, keramas


3x 4x / minggu.
B.

DATA OBYEKTIF
1.

2.

Tanda vital

: 36 c

: 72 x / menit

RR

: 22 x / menit

Pemeriksaan fisik
a)

BB

: 20 kg

b)

TB

: tidak terkaji

c)

Keadaan umum

: cukup baik

d)

Postur tubuh

: Tegak

e)

Kepala dan rambut : Rambut tidak rontok, tidak ada benjolan

f)

Mata

: Isokor, konjongtiva tdk anemis, sclera tdkichterus

g)

Hidung

: Simetris, fungsi penciuman baik.

h)

Mulut

: Tidak stomatitis.

i)

Telinga

: Simetris, tdk ada serumen, fungsi pendengaran


baik

j)

Dada

: simetris, tdk ada lesi, bunyi jantung normal, suara


paru ronchi

18

k)

Perut/abdomen

: Tidak ada pembesaran organ, nyeri tekan


( - ), bruit usus 10 x / menit.

l)
3.

Alat kelamin

: tidak terkaji

Pemeriksaan penunjang 5 bulan yang lalu


a)

Laboratorium

: LED 85 100 mm

b)

Foto thorax

; Terdapat bercak-bercak putih

c)

Uji tuberculin

: mantoux test ( + ) dgn indurasi 10 mm

d)

Terapi

: - INH 100 mg
- Rifampisin 1 x 100 mg.

C.

ANALISA DATA

DATA

ETIOLOGI

O
1

19

MASALAH